cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Iptek Tanaman Pangan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
Prospek Pengembangan Teknologi Budi Daya Kedelai di Lahan Kering Sumatera Selatan Darman M. Arsyad
Iptek Tanaman Pangan Vol 1, No 2 (2006): November 2006
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya peningkatan produksi kedelai di dalam negeri perlu dilakukan untuk menekan ketergantungan terhadap kedelai impor. Selain untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat, pengembangan kedelai memberikan peluang bagi penambahan sumber pendapatan petani. Di Sumatera Selatan terdapat beberapa daerah yang sesuai untuk pengembangan kedelai ditinjau dari ketersediaan lahan kering dan kondisi iklim, terutama di zona IVax.2 dengan karakter biofisik: elevasi <700 m dml, lereng <8%, drainase baik, tanah termasuk grup hapludex, hapludults, dan dystrudepts. Luas lahan kering yang sesuai untuk pengembangan kedelai di zona IVax.2 diperkirakan 1,1 juta ha, 15,2% di antaranya terdapat di Kabupaten MUBA, 18,3% di Kabupaten OKI, 14,8% di Kabupaten Muara Enim, 8,8% di Kabupaten OKU, 3,2% di Kabupaten Lahat, dan 15,5% di Kabupaten Musi Rawas. Penelitian di beberapa lokasi di Sumatera Selatan pada MH II 2004, MH I 2004/05, dan MH II 2005 menunjukkan bahwa pengaruh pemupukan dan pengapuran bersifat spesifik lokasi. Di OKI dan Muara Enim, pemupukan dan pengapuran berdampak positif terhadap peningkatan hasil kedelai. Adaptasi varietas kedelai yang diuji juga bersifat spesifik lokasi. Penerapan teknologi budi daya dengan varietas unggul yang sesuai memberikan hasil 1,8-2,5 t/ha, bergantung pada kondisi lingkungan di daerah setempat. Data ini menunjukkan bahwa teknologi budi daya kedelai spesifik lokasi prospektif dikembangkan di lahan kering Sumatera Selatan. Keberhasilan pengembangan kedelai tidak hanya ditentukan oleh penerapan teknologi budi daya tetapi juga bergantung kepada kebijakan yang mendukung yang mencakup pemberdayaan penyuluh pertanian, penyelenggaraan penerapan teknologi pada petak-petak percontohan dengan melibatkan petani, penyelenggaraan sekolah lapang, pembentukan kelompok dan penumbuhan aktivitas kelompok tani, pembinaan penangkaran benih, penjalinan kemitraan untuk pemasaran produksi, pembentukan klinik agribisnis, dan pelatihan pengolahan hasil.
Posisi Varietas Bersari Bebas dalam Usahatani Jagung di Indonesia Zubachtirodin Zubachtirodin; Firdaus Kasim
Iptek Tanaman Pangan Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

High yielding maize varieties had contributed significant yield increase in the national maize production. High yielding varieties were established from series of activities on germplasm improvement. The products of maize germplasm improvement are classified into open pollinated variety and hybrid variety. In Indonesia, before the year of 2000 germplasm improvement were focussed on open pollinated variety development, due to its low cost, and the seed can be produced easily, when commercial maize seed industries had not developed. During this period, several open pollinated varieties were released (i.e. Harapan, Arjuna, Kalingga, and Bisma) possesing high yield potential, mid-early maturity, resistance to downy mildew disease, and adaptative to various environments. The OP varieties during those period dominated farmers’ maize planting area. In the last 10-years, hybrid varieties were developed by commercial maize seed industries, therefore, the use of open pollinated varieties were decreasing. Farmers shifted their interest to high yielding varieties. The OP varieties were less supported by government, and seed production subsystem was weakened. However for the less developed farming interprises, open pollinated varieties are still needed, thus the seeds are distributed in sufficient quantities to the local seed growers. The flow of seeds from the foundation seed, stock seed, to the extension seed, however, is unreliable due to the uncertainty of the markets. In eastern part of Indonesia open pollinated varieties are still played its importance, especially variety Lamuru, Sukmaraga, Srikandi Kuning and Anoman. Strong support from the goverment is needed to establish and develop the seed supply system, including the seed procurement for the seed assistance program.
Sukun sebagai Sumber Pangan Alternatif Substitusi Beras Yati Supriati
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produksi pangan ke depan, khususnya beras, diperkirakan menurun akibat degradasi kualitas lingkungan, termasuk berkurangnya sumber daya air dan lahan subur. Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat menyadari pentingnya pengembangan tanaman selain padi sebagai sumber pangan yang andal dan berkesinambungan demi terjaminnya ketersediaan pangan nasional. Sukun (Astocarpus astilis) merupakan tanaman tahunan yang secara historis tersebar di Polinesia, Pasifik, dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sebagai sumber pangan. Mudah beradaptasi pada agroekositem dataran rendah dan tinggi, sukun juga mudah dikembangkan dalam skala luas tanpa membangun jaringan irigasi yang sangat mahal, sehingga biaya produksinya lebih murah. Karbohidrat yang terkandung dalam 100 g tepung sukun setara dengan 100 g beras. Oleh karena itu, sukun sebagai substitusi beras yang saat ini sudah mencapai 130 kg/kapita/tahun dapat diatasi dengan memproduksi 108 kg tepung sukun/kapita/tahun. Mengingat ketersediaan lahan yang makin terbatas maka tingkat substitusi disarankan pada taraf 10% dengan melakukan penanaman sukun secara polikultur yang disisipkan pada kebun buah-buahan atau lahan pekarangan. Bibit sukun dalam jumlah banyak untuk pengembangan skala luas di berbagai wilayah, dapat disediakan melalui perbanyakan dengan teknik kultur jaringan. Sinkronisasi antara kebutuhan dan kapasitas produksi bibit secara massal melalui teknik kultur jaringan menjadi prasyarat tercapainya komitmen, dan konsistensi program pengembangan sukun sebagai sumber pangan alterntif pengganti beras. Investasi penanaman sukun sebagai sumber pangan, selain biayanya relatif murah, caranya juga sederhana dan memiliki nilai efisiensi yang tinggi mengingat tanaman ini dapat memberikan hasil dalam jangka panjang, tanpa memerlukan perawatan khusus dan intensif. Untuk mendorong minat masyarakat meng-konsumsi produk sukun diperlukan sosialisasi secara terus-menerus tentang manfaat, kegunaan, dan teknologi pengolahan sukun menjadi bentuk pangan yang lebih modern dan menarik. Tanaman sukun juga memberikan kontribusi penting dalam pelestarian fungsi hutan rakyat dan memperbaiki iklim mikro di sekitarnya.
Teknologi Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca dari Lahan Sawah Prihasto Setyanto
Iptek Tanaman Pangan Vol 3, No 2 (2008): Oktober 2008
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Senyawa karbon diperlukan makhluk hidup sebagai sumber energi. Manusia menggunakan karbon sebagai bahan pangan dalam bentuk senyawa karbohidrat, lemak, protein dan senyawa lain. Unsur karbon (C) dalam bentuk senyawa gas rumah kaca (GRK) seperti gas metana (CH4) dan karbondioksida (CO2) dilepas ke atmosfer melalui proses biologis dan aktivitas manusia sehingga terbentuknya lapisan di stratosfer yang berakibat dipantulnya kembali radiasi gelombang infra merah yang seharusnya dilepas ke atmosfer bumi. Tulisan ini berisikan informasi teknologi yang dapat mengurangi emisi C dan gambaran bagaimana kompensasi pengurangan karbon diterapkan di lahan sawah. Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) telah melakukan penelitian guna mendukung upaya ini, antara lain mengganti cara pengairan sawah secara terus-menerus dengan pengairan berselang (intermittent), yang dapat menurunkan emisi CH4 sebesar 78%. Penggunaan varietas padi rendah emisi CH4 seperti Maros, Muncul, Way Apoburu, dan Fatmawati mampu menekan emisi CH4 hingga 66-10%, sedangkan pemakaian herbisida dengan bahan aktif paraquat dan glifosat menurunkan emisi CH4 sampai 60% dibanding tanpa herbisida. Teknologi yang dapat menurunkan emisi GRK dari lahan sawah seyogianya diterapkan. Insentif bagi petani yang terlibat dalam mengurangi emisi GRK perlu diperhatikan oleh pengambil kebijakan pertanian. Perdagangan karbon dari lahan sawah atau upaya menurunkan emisi karbon dari lahan sawah dapat menjadi alternatif pemberian insentif bagi pelaku usahatani padi sawah. Konsep tersebut, walaupun masih bersifat pilot study, diatur dalam Clean Development Mechanism (CDM) yang ditawarkan dalam Protocol Kyoto. Dengan integrasi yang sinergis dan terpadu antara pengambil kebijakan pertanian dengan pelaku usahatani, perdagangan karbon dari lahan sawah bukan hal yang mustahil, seperti halnya REDD (reduction emission from deforestation and degradation) yang sebelumnya hanya sekadar konsep, saat ini mulai dibicarakan dan dibahas untuk diratifikasi oleh negara-negara industri.
Sagu: Potensi Besar Pertanian Indonesia F. S. Jong; Adi Widjono
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sagu telah lama menjadi sumber utama karbohidrat masyarakat di beberapa wilayah nusantara. Bila dikembangkan pemanfaatannya sebagai bahan pangan pokok, komoditas ini dapat mengatasi masalah ketahanan pangan nasional. Namun arti penting sagu lebih pada potensinya yang besar sebagai penghasil pati untuk industri. Kebutuhan pati bagi industri dunia saat ini sekitar 50 juta t/tahun dengan laju pertumbuhan 7,7%/tahun. Dalam kondisi harga minyak bumi yang terus melambung serta tekanan pelestarian lingkungan, pati semakin diperlukan untuk menghasilkan produk ramah lingkungan seperti plastik organik dan ethanol. Sagu merupakan penghasil pati yang jauh lebih efisien dibanding komoditas penghasil pati lain, dan dengan kelimpahannya, pemanfaatannya untuk industri tidak mengancam ketersediaannya sebagai pangan. Sekitar 50% potensi sagu dunia ada di Indonesia, dan sekitar 90% potensi sagu Indonesia ada di Papua, termasuk Papua Barat. Karena itu Indonesia mempunyai peluang amat besar untuk menjadi pelopor dalam modernisasi industri pengolahan sagu. Pemanfaatan potensi sagu yang begitu besar di Indonesia akan menguntungkan secara ekonomis, budaya, lingkungan, dan politik. Untuk mengembangkan sagu nasional, dukungan dan kerja sama pemerintah, swasta, dan masyarakat setempat amat diperlukan.
Pengelolaan Tanaman Terpadu dan Teknologi Pilihan Petani: Kasus Sulawesi Selatan Maintang Maintang
Iptek Tanaman Pangan Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Integrated Crop Management (ICM) is an approach in managing land, water, plant and pest in an integrated manner. The ICM had been implemented as a pilot model by the government to increase national rice production. To encourage further for its adoption by farmers, the Government launched the Integrated Crop Management Field School (ICMFS) since 2009. ICM emphasizing on farmers’ participation, site-specific technology, integration, synergy dynamic values and offers technology options as basic components and optional choices. In most areas generally ICM was reported as successful in increasing productivity of rice and more efficient in using production inputs. In South Sulawesi, field studies showed that farmers did not implement all components technology that was introduced as a whole. They had discretion in applying the technology, especially those which had impact on high productivity and easy to apply. For example, the application of organic fertilizer and planting using legowo pattern fell dramatically after farmers were no longer involved in the ICMFS. The unavailability of organic fertilizer and no apparent improvement in productivity from the use of organic fertilizer and the difficulty in applying a legowo pattern were the reasons that farmers were no longer apply the two components. Similarly with the intermittent irrigation, the use of LCC, and the planting young seedlings. This conditions need to be considered in the development of next ICM. Emphasizing two or three most effective components of technology on crop yields and easiness of its adoption seemed to have a greater attention than to encourage farmers to implement all components technology. The success of ICM was determined by the appropriateness of the technology selection and its application quality in the field.
Persepsi Petani dan Identifikasi Faktor Penentu Pengembangan dan Adopsi Varietas Padi Hibrida Ade Ruskandar
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Padi hibrida potensial dikembangkan untuk mendukung upaya peningkatan dan pemantapan produksi padi nasional yang sudah levelling off. Namun pengembangan dan adopsi inovasi teknologi padi hibrida oleh petani tidak mudah dan hingga saat ini masih lambat. Pada umumnya petani selalu ingin melihat, mengetahui, dan membuktikan sendiri keunggulan varietas padi hibrida dibandingkan dengan varietas inbrida yang mereka tanam. Untuk itu dilakukan telaahan dan penelitian di Jawa Barat dan Jawa Tengah pada MT 2008. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui persepsi petani dan mengidentifikasi faktor penentu yang berperan dalam adopsi dan keberhasilan usahatani padi hibrida.Beberapa hasil penting dari penelitian ini adalah: (a) responden di kedua wilayah umumnya menyatakan padi hibrida hingga saat ini belum berkembang karena petani belum yakin dan belum melihat secara nyata kelebihan padi hibrida, (b) tingkat adopsi padi hibrida ditentukan oleh produktivitas, harga benih, ketahanan terhadap hama dan penyakit, pemasaran, dan kualitas giling, (c) kenyataan di lapangan belum menunjukkan keunggulan padi hibrida yang sesungguhnya dan bahkan padi hibrida mempunyai beberapa kelemahan seperti lebih rentan terhadap beberapa OPT, mutu giling yang kurang bagus, dan (d) di lain pihak, pengetahuan responden terhadap padi hibrida cukup memadai dan merupakan salah satu faktor pendukung untuk proses adopsi padi hibrida di masa yang akan datang.
Status Ubi Jalar sebagai Bahan Diversifikasi Pangan Sumber Karbohidrat Nani Zuraida
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ubi jalar menghasilkan karbohidrat yang lebih efisien dibandingkan dengan padi, dengan biaya produksi yang lebih murah, lebih mudah, dan risiko kegagalan panen yang lebih kecil. Produktivitas nasional ubi jalar hingga saat ini masih rendah, 10-11 t/ha umbi segar. Di sentra produksi, petani mampu memanen ubi jalar 35 t/ha umbi segar. Rendahnya produktivitas nasional ubi jalar diperkirakan karena rendahnya estimasi (under estimate) dan disarankan untuk dilakukan verifikasi dan validasi data. Usaha produksi ubi jalar pada umumnya dilakukan secara komersial. Areal dan wilayah produksi yang relatif rendah tanpa fasilitasi dan bantuan Pemerintah, mengindikasikan bahwa usahatani ubi jalar cukup kompetitif terhadap palawija lain dan menguntungkan secara ekonomis. Ubi jalar sebagai bahan pangan mengandung kalori, vitamin, dan mineral cukup tinggi. Produk olahan ubi jalar sebagai pangan sangat beragam, memungkinkan untuk memperbesar porsi penggunaannya sebagai pangan substitusi. Diperlukan peningkatan citra ubi jalar ssebagai makanan bermartabat tinggi, tidak lagi diposisikan sebagai makanan lapisan masyarakat bawah. Di Amerika Serikat, Eropa, dan Asutralia, ubi jalar justru menjadi makanan istimewa. Ekspor ubi jalar goreng ke Jepang dari Indonesia secara kontinu dalam jumlah yang besar menunjukkan bahwa masyarakat Jepang mengapresiasi ubi jalar sebagai makanan yang layak.Adanya kesadaran masyarakat Indonesia untuk tidak merasa malu mengonsumsi ubi jalar dipastikan akan meningkatkan permintaan ubi jalar dan diversifikasi bahan pangan nasional.
Aspek Budaya dalam Adopsi Inovasi: Antisipasi Kasus Pengembangan Padi di Merauke Adi Widjono
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 2 (2007): September 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keputusan petani untuk mengadopsi atau menolak suatu inovasi (teknis atau kelembagaan) selalu didasarkan pada pertimbangan yang lebih luas daripada sekedar aspek teknis dan finansial bidang pertanian. Mereka juga mempertimbangkan budaya, nilai-nilai pribadi dan sosial, yang tidak selalu mudah dinalar dan karenanya kerap diabaikan para agen pembangunan. Pengabaian budaya petani dalam pembangunan pertanian bukan hanya dapat menggagalkan adopsi suatu inovasi, tetapi juga dapat mengakibatkan konflik yang kontra produktif dan tidak perlu. Program pengembangan Kabupaten Merauke sebagai lumbung pangan nasional perlu diselenggarakan secara hati-hati dengan mempertimbang- kan aspek budaya masyarakat adat setempat yang merasa makin terdesak di lahan leluhur mereka sendiri. Dengan demikian program tersebut akan mem- berikan dampak nasional secara nyata, sekaligus meningkatkan kesejahteraan yang adil bagi masyarakat adat setempat.
Peningkatan Produktivitas Padi Melalui Penerapan Jarak Tanam Jajar Legowo Ikhwani Ikhwani; Gagad Restu Pratiwi; Eman Paturrohman; A. K. Makarim
Iptek Tanaman Pangan Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rice productivity in the irrigated wet land could be increased by applying the best cultivation practices. Pair rows vis a vis square plant spacing is capable of increasing rice productivity, due to higher plant population and better plant orientation to utilize the solar radiation. Rice yield could be further improved through the varietal selection among the Inpari series (Inpari-14, 15, 18 and 19) to identify which one is the most adaptable to higher plant density. The minimum grain yield per hill of the pair rows was determined in order to identify rice variety or fertilizer rate which could yield more compare to that of square plant spacing. Plant hill with smaller number of tillers is expected to be suitable for pair rows planting. When plant hill has many tillers due to the varietal type or fertile soil, wider spacing of double pair rows, such as 4:1 (25-50 cm) x 12.5 cm is suggested. The introduction of pair rows or double pair rows initially was not well accepted by farmers due to the higher seed requirement and higher labor cost when compared to that of the square plant spacing. However, the pair-rows spacing has been accepted now due to a better and easier in crop protection and fertilizer application. In a large farming scale, pair rows planting requires the support of machines as the a planting tool which is adjustable to desired plant spacing, durable and easy to operate. Rapid varietal identification to select suitable varieties for pair rows planting is needed in order to provide advice to farmers of the optimum plant spacing for each particular variety.

Page 11 of 19 | Total Record : 189