cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Iptek Tanaman Pangan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
Penyakit Blas Pyricularia grisea pada Tanaman Padi dan Strategi Pengendaliannya Sudir Sudir; A. Nasution; Santoso Santoso; B. Nuryanto
Iptek Tanaman Pangan Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Blast disease caused by Pyricularia grisea, is one of the major rice disease constraining rice productivity in Indonesia. The disease formerly was found on the upland rice, but lately it became an important disease on the wetland rice in West Java, Central Java, and East Java. The shift of disease ecology was possibly due to the emergence of new races of the fungus, which became adaptive to the wetland, coupled with the high rate of N fertilizer and the non-resistance varieties planted by farmers. The disease epidemic is influenced by many factors, including macro and micro climates (season, temperature and humidity), cultivation technique, and rice varieties. Yield reduction due to the disease varied from light to heavy (100%), depending on the disease intensity. The recommended control technique is by way of integrated disease control, integrating cultivation techniques, resistant varieties, and fungicide sprays when necessary. Planting resistant varieties is the most economic, but the resistance is fastly broken over seasons and areas due to the existence of many races. Planting resistant varieties, therefore, should be supported by other control techniques. Choice of varieties containing resistant gene(s) matches with the pathogen race in the field is recommended. It is important, therefore, to monitor the composition of races in the area.
Sistem Produksi Padi Berkelanjutan dengan Penerapan Revolusi Hijau Lestari Sumarno Sumarno
Iptek Tanaman Pangan Vol 1, No 1 (2006): Juli 2006
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi kekurangan pangan secara kronis yang terjadi di Indonesia hingga tahun 1960-an telah berhasil diatasi dengan penerapan teknologi revolusi hijau, yang didukung oleh penggunaan varietas unggul, pemberian pupuk sintetis takaran tinggi, dan ketersediaan pengairan yang cukup. Penanaman padi secara intensif dalam skala luas sering menimbulkan endemi hama penyakit yang mengharuskan petani mengaplikasikan pestisida secara liberal. Segolongan masyarakat mengkhawatirkan penerapan revolusi hijau sebagai praktek pertanian yang tidak ramah lingkungan, tidak berkelanjutan, dan mempersempit keanekaragaman hayati. Sebagai tandingan, mereka menganjurkan untuk kembali kepada pertanian yang lebih ramah lingkungan dengan menggunakan masukkan organik. Lahan sawah sebenarnya memiliki kemampuan alamiah untuk meremajakan diri (self renewal) jika dikelola secara baik dan benar. Untuk mencapai keberlanjutan sistem produksi padi sawah perlu dipraktekkan teknologi revolusi hijau lestari yang merupakan operasionalisasi dari ìAgroeko-teknologiî, ìUsaha Pertanian Ramah Lingkunganî dan ìPengelolaan Sumber Daya dan Tanaman Terpaduî. Komponen utama teknologi revolusi hijau lestari adalah (1) pengkayaan kandungan bahan organik tanah, (2) rotasi tanaman dengan menyertakan tanaman leguminosa, (3) sanitasi lahan dari tumbuhan inang hama-penyakit dan sumber penularan gulma, (4) penanaman multivarietas unggul adaptif pada setiap hamparan, (5) penerapan pola tanam multispesies untuk memperbesar keanekaragaman hayati, (6) penggunaan pupuk anorganik untuk menyediakan kecukupan hara secara optimal, (7) pengelolaan hama penyakit secara terpadu dalam prinsip pengelolaan lingkungan secara ekologis, (8) mencegah terjadinya cemaran limbah fisik dan kimiawi dari luar ekologi sawah, (9) pengolahan tanah secara baik untuk memperoleh pelumpuran yang cukup dalam, dan (10) memelihara sumber pengairan agar tetap berfungsi. Konsep revolusi hijau lestari dimaksudkan untuk menjadikan pemeliharaan kesuburan tanah dan kelestarian sumber daya lahan pertanian sebagai bagian tak terpisahkan dari kegiatan usaha produksi pertanian secara modern dan maju. Dengan menerapkan teknologi revolusi hijau lestari diharapkan tujuan pencukupan pangan nasional dan pemeliharaan keberlanjutan produksi padi dapat dicapai secara bersamaan.
Potensi Sorgum sebagai Bahan Pangan Fungsional Suarni Suarni
Iptek Tanaman Pangan Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The advantage of sorghum as food is that it has rich in functional food components. Various antioxidants, trace elements especially iron, dietary fiber, oligosaccharides, -glucans, including non-starch polysaccharide carbohydrate components (NSP) is contained in the sorghum grain, making potential as a source of functional food. The uniqueness of sorghum is that tannin and phytic acid each has characteristics of negative and positive impact on health. The antioxidant property of tannins is higher than vitamin E and C, and the antioxidant anthocyanin in sorghum is more stable. Functional food elements that contain bioactive components give physiological effects including strengthening the bodys immune system, regulate the rhythm of physical conditions, slow down aging, and help prevent degenerative disease. Utilization of sorghum in diversified processed products requires proper processing technology so the functional food components remain in the ready to consume food product. Thus, sorghum is not an inferior food, but actually a superior ones. Increasing the societys knowledge and awareness on the maintaining of health is an important step for choosing a diet. Sorghum-based product not only contains functional food components but also is suitable to people with gluten allergies. The availability of good local and improved varieties of sorghum needs to be utilized more intensively on food processing.
Strategi Pengembangan Produksi Menuju Swasembada Kedelai Berkelanjutan Sumarno Sumarno; M. Muchlish Adie
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 1 (2010): Juli 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencukupan kebutuhan produksi kedelai nasional telah diprogramkan sejak tahun1963, diteruskan dalam beberapa tahapan PELITA periode 1983-1998. Pada tahun 2000an diprogramkan swasembada melalui Gema Palagung dan Gerakan Kedelai Bangkit, dan pada tahun 2009 dicanangkan swasembada kedelai pada 2014. Program tersebut nampaknya sukar berhasil karena peningkatan luas areal panen kurang nyata dan tidak permanen. Untuk mencapai produksi kedelai pada tingkat swasembada perlu penambahan luas areal tanam dua juta ha, padalahan kering bukaan baru, yang secara khusus diperuntukkan bagi pengembangan kedelai. Lahan sesuai untuk tanaman semusim menurut BBSDLP tersedia 7,1 juta ha, perlu direklamasi dan dilakukan ameliorasi untuk budi daya kedelai. Keuntungan perluasan areal tanam kedelai di lahan kering adalah: (1) tidak terjadi persaingan antarkomoditas, (2) penambahan areal tanam bersifat berkelanjutan, (3) skala usaha petani dapat dioptimalkan, dan (4) kenaikan produksi kedelai lebih nyata. Usahatani kedelai komersial (soybean farming) skala 8-10 ha setiap petani merupakan langkah rintisan dalam membangun pertanian maju yang berdaya saing secara internasional, dan memberikan kehidupan yang layak bagi petani. Teknologi produksi kedelai pada lahan kering yang mampu menghasilkan hingga 2 t/ha telah tersedia dan siap diaplikasikan pada skala luas. Teknik produksi kedelai perlu memasukkan mekanisasi terpilih, termasuk untuk penyiapan lahan, penanaman, penyiangan, dan pembijian. Peralatan mesin pertanian untuk kegiatan tersebut telah tersedia dan tidak memerlukan perawatan yang sulit. Insentif ekonomi berupa tingkat harga yang tinggi dan stabil, melalui proteksi dari persaingan produk impor yang berlebihan, perlu diberlakukan. Tanpa adanya alokasi peruntukan lahan yang definitif dan permanen untuk berproduksi kedelai, sangat sulit bagi Indonesia berswasembada produksi kedelai.
Padi Organik dan Tuntutan Peningkatan Produksi Beras Mahyuddin Syam
Iptek Tanaman Pangan Vol 3, No 1 (2008): April 2008
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gerakan Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) yang dicanangkan pemerintah akhir-akhir ini dihadapkan kepada berbagai tantangan yang bersifat teknis maupun nonteknis seperti penurunan kesuburan tanah, ketersediaan sarana teknologi, dan beralihnya fungsi lahan padi. Sebagian kalangan meyakini bahwa budi daya padi organik dapat menjawab tantangan peningkatan produksi beras nasional, karena mampu memberikan hasil panen yang tinggi dan ramah lingkungan. Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, kedua aspek itu - padi organik dan peningkatan produksi beras - perlu dicermati secara jernih. Pupuk kimia, bila digunakan secara tepat, tidak akan menyebabkan polusi dan menurunkan kualitas tanah seperti yang sering diutarakan berbagai kalangan. Di sisi lain, pupuk organik tak dapat dipungkiri pengaruh positifnya bagi produksi tanaman. Akan tetapi upaya peningkatan produksi padi nasional tidak dapat hanya mengandalkan bahan organik karena kandungan haranya rendah, bersifat ruah (bulky) dan cenderung menurunkan produksi pada tahap awal implementasi. Padi organik yang sama sekali tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia seyogianya diarahkan untuk memenuhi permintaan pasar internasional yang terus meningkat.
Pupuk Majemuk dan Pemupukan Hara Spesifik Lokasi pada Padi Sawah Zulkifli Zaini
Iptek Tanaman Pangan Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The government had reduced fertilizer subsidy since 1st April 2010, which increased fertilizer price by 25-40%. Fertilizer price is predicted to further increasing, thus farmers must be more efficient in using fertilizer for their rice field. Landholding for rice farmers in Indonesia is mostly small and varying. Farming practices vary among farmers and among fields, therefore crop needs for nutrient inputs vary greatly among fields. For this reason we are suggesting the need for the formulation of up to three types of NPK fertilizers for rice in Indonesia: (a) NPK source with ratio about 1:1:1 as in Phonska, (b) NK source for application as topdressing to obtain high yield on land without application of crop residues and organic matter, or K soil is deficient, and (c) NP source with 1:1 ratio for N:P, for use in situation where yield was low and high application of crop residues or organic matter, or high soil supply of K. IAARD in collaboration with IRRI had developed the Nutrient Manager for Rice, an interactive computer-based decision tool, which provides fertilizer guideline for a rice field, based on the response to “easy-to-answer multiple choice questions”. The web application of Nutrient Manager for Rice for Indonesia was released by Minister of Agriculture and could be accessed through http://webapps.irri.org/nm/id. It became evident that extension workers could be reached faster through internet to improve their knowledge for fertilizer management in Indonesia. The target users are (a) AIAT extensionist, (b) field extension, and (c) progress farmers. With SSNM technology, it is expected that the use of fertilizer by farmers it more rational, and at the same time increase rice production as well as farmers’ incomes.
Peningkatan Daya Guna dan Nilai Tambah Ubi Jalar Berukuran Kecil melalui Pengolahan Menjadi Saos dan Selai Erliana Ginting; Nila Prasetiaswati; Yudi Widodo
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ubi jalar berukuran kecil seringkali tidak laku dijual dan hanya dimanfaatkan untuk pakan ternak atau dibiarkan di lapang. Kualitas saos dan selai yang dihasilkan dari beberapa proporsi penggunaan ubi jalar berukuran kecil dan besar diteliti di Laboratorium Pengolahan dan Kimia Pangan Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang, pada bulan Oktober-Desember 2004. Ubi jalar varietas Sari diolah menjadi saos dengan empat tingkat campuran umbi berukuran kecil dan besar (100:0, 75:25, 50:50, dan 0:100). Pengolahan selai menggunakan 50% ubi jalar dan 50% nanas dengan tingkat proporsi umbi besar dan kecil sama seperti pada saos. Saos dan selai ubi jalar yang dihasilkan dari umbi berukuran kecil menunjukkan sifat fisik, kimia, dan penerimaan sensoris yang sama dengan produk yang berasal dari umbi berukuran besar. Perkiraan nilai tambah dari saos dan selai yang menggunakan umbi kecil masing-masing Rp 1.800 dan Rp 1.090/kg umbi segar, hampir 10 kali lipat harga jual umbi kecil. Kualitas produknya tidak kalah dengan sampel produk sama yang terdapat di pasar. Hal ini memberi peluang bagi pengembangan pemanfaatan umbi berukuran kecil untuk meningkatkan daya guna dan nilai tambahnya.
Model Penangkaran Benih Jagung Berbasis Komunitas Ramlah Arief; Zubachtirodin Zubachtirodin
Iptek Tanaman Pangan Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The model of maize seed production based on community in farmers’ fields was aimed to meet the demand of high quality of maize seed at the right time. As in many African countries, maize seed production by farmers was the solution for the timely seed demand. A model of seed production to supply maize seed by community had been carried out in some provinces of Indonesia, i.e. NTT, NTB, South Sulawesi, Central Sulawesi, and South Kalimantan. Most of the maize seed production model were collaboration between group of farmers and local seed company. Maize seed produced by farmers were depending on the seed company demand. The sustainability of the community based maize seed productions is depending on the availability of source seeds, market demand and processing facilities. Collaboration between farmers’ seed growers with private and public sectors is the key for the success of community based seed production.
Evaluasi Penerapan Sistem Pengelolaan Tanaman Jagung secara Terpadu pada Lahan Sawah Tadah Hujan Margaretha Sadipun Lalu; Zubachtirodin Zubachtirodin
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Evaluasi penerapan sistem pengelolaan tanaman jagung secara terpadu pada lahan sawah tadah hujan dilaksanakan di Desa Mandalle, Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Penanaman pertama pada tahun 2005 seluas 3 ha, bertambah masing-masing menjadi 10 ha,15 ha, dan 20 ha pada tahun 2006, 2007 dan 2008. Pengambilan sampel dilakukan secara sengaja (purposive sampling) pada 25 orang petani yang terlibat dalam penelitian PTT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pendapatan petani setelah menerapkan teknologi produksi jagung melalui sistem pengelolaan tanaman jagung secara terpadu (PTT Jagung) pada lahan sawah tadah hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan PTT jagung pada lahan sawah tadah hujan, petani dapat meningkatkan penerimaan usahataninya sebesar 213%. Komponen teknologi PTT yang secara nyata teradopsi adalah varietas, penyiapan lahan (TOT + herbisida), pembuatan drainase, pengairan, penyiangan (herbisida) dan alat pemipil jagung. Teknologi jarak tanam (75 cm x 40 cm, dua biji/lubang atau 75 cm x 20 cm, satu biji/lubang tidak teradopsi. Sistem kelembagaan sosial-ekonomi jagung telah terbentuk seperti sistem sewa lahan, kelompok tani jagung, sistem sewa alat pemipil dan pemasaran jagung.
Senjang Hasil Tanaman Padi dan Implikasinya terhadap P2BN Achmad M. Fagi; Hasil Sembiring; Suyamto Suyamto
Iptek Tanaman Pangan Vol 3, No 2 (2008): Oktober 2008
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode penelitian kendala dan senjang hasil padi dikembangkan oleh IRRI (International Rice Research Institute) secara komprehensif yang dikelompokkan menjadi masalah biofisik, teknik, sosial-ekonomi dan kelembagaan. Metode yang sama digunakan untuk mengevaluasi efektivitas dari 10 jurus komponen teknologi paket-D yang digunakan dalam program Supra Insus. Petani pembandingnya adalah mereka yang sebelumnya peserta program intensifikasi Bimas. Komponen teknologi yang diverifikasi adalah pengolahan tanah sempurna, pemupukan berimbang, pemberian PPC (pupuk pelengkap cair), cara pengendalian hama dengan prinsip PHT, dan jarak tanam untuk mencapai populasi sebanyak 200.000 rumpun per ha. Hasil verifikasi menunjukkan bahwa pengolahan tanah sempurna merupakan komponen teknologi 10 jurus paket-D yang paling efektifmeningkatkan hasil. Pemupukan lengkap (NPK) ditambah PPC plus ZA atau Zn atau ZA dan Zn tidak efektif meningkatkan hasil kalau tanaman padi ditanam pada tanah yang tidak melumpur sempurna. Jarak tanam dan cara pengendalian hama menjadi penentu kenaikan hasil, kalau tanah melumpur sempurna. Jadi, tidak semua komponen 10 jurus paket-D perlu dianjurkan pada lokasi-lokasi Supra Insus. SUTPA (sistem usahatani padi berorientasi agribisnis) yang dipandu oleh peneliti dalam penerapan teknologi, ketepatan waktu ketersediaan pupuk dan kredit, meningkatkan hasil padi di areal Supra Insus. Hal ini mengindikasikan bahwa sistem penyuluhan seperti yang berlaku pada saat program Bimas berlangsung diperlukan lagi. P2BN dicanangkan pada pasca-Supra Insus, pada saat petani telah terbiasa mengelola tanaman padinya secara intensif. Dapat diperkirakan bahwa kasus pelandaian produksi padi nasional terjadi akibat faktor sosialekonomi dan kelembagaan yang tidak kondusif bagi petani untuk menerapkan teknologi. Upaya untuk memacu laju kenaikan produksi padi sebesar 6,4% pada tahun 2007 melalui penerapan teknologi PTT pada padi sawah seluas 2,0 juta ha menghadapi tantangan faktor biofisik dan sosial-ekonomi yang lebih kompleks. Sebab itu anjuran teknologi PTT harus lebih cerdas yang dilandasi oleh nalar ilmiah, jangan sampai penerapan 12 jurus teknologi PTT justru menurunkan efisiensi. Efektivitas komponen teknologi PTT yang perlu dikaji dan merupakan isu terkini adalah penanaman varietas padi (varietas unggul biasa vs varietas hibrida), pemupukan (pemupukan lengkap vs site spesific nutrient management), dan tata tanam (jajar tegel vs jajar legowo). Metode pengkajian (perlakuan, rancangan percobaan, data yang dikumpulkan, metode analisis, dan sebagainya) dikemukakan dalam artikel ini.

Page 9 of 19 | Total Record : 189