cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Iptek Tanaman Pangan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
Epidemiologi dan Strategi Pengendalian Penyakit Tungro Praptana, R. Heru; Yasin, M.
Iptek Tanaman Pangan Vol 3, No 2 (2008): Oktober 2008
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tungro merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman padi yang menjadi permasalahan dalam usaha peningkatan produksi padi nasional. Penyakit yang disebabkan oleh dua jenis virus (RTSV dan RTBV) yang ditularkan oleh wereng hijau Nephotettix virescens telah menyebar dan menyebabkan kehilangan hasil di beberapa sentra produksi padi. Tiga penyebab utama terjadinya penularan tungro adalah ketersediaan sumber inokulum virus, adanya serangga penular, dan tanaman peka. Epidemi penyakit tungro dipengaruhi oleh tanaman, virus tungro, wereng hijau sebagai vektor, kondisi lingkungan dan praktik budi daya. Penerapan pengendalian terpadu tungro yang bertujuan untuk menghindarkan pertanaman dari infeksi virus yang meliputi beberapa komponen yaitu waktu tanam tepat, penggunaan varietas tahan, pergiliran varietas, kultur teknis (pemilihan waktu tanam, pemilihan varietas, eradikasi sumber inokulum pada tahap pratanam, pengelolaan persemaian, cara dan pengaturan jarak tanam, penggunaan pupuk N tidak berlebihan, pengaturan ketersediaan air, eradikasi sumber inokulum pada saat pascapanen dan pergiliran varietas), penggunaan pestisida sesuai dengan kondisi tertentu dan pegelolaan penyakit tungro melalui pendekatan bioteknologi telah berhasil mengurangi intensitas penyakit tungro.
Perluasan Areal Padi Gogo sebagai Pilihan untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional Sumarno Sumarno; Jan Rachman Hidayat
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Usaha pertanian padi gogo memiliki nilai positif dalam mendukung ketahanan pangan nasional karena musim panennya lebih awal, pada waktu cadangan beras di pasar sedang menipis. Pandangan bahwa padi gogo kurang bersifat ramah lingkungan, dapat dikoreksi dengan penerapan pola tanam lanskap hijau lestari (permanent green landscape) berbasis padi gogo. Dengan pola tersebut upaya pelestarian lingkungan dan sumber daya menjadi bagian integral dari usahatani padi gogo, dan petani dapat memperoleh tambahan pendapatan tunai dari tanaman tahunan. Upaya peningkatan produksi beras guna memperkuat ketahanan pangan nasional akan lebih berkesinambungan apabila dilakukan melalui program perluasan areal tanam padi gogo di lahan bukaan baru. Lahan kering berupa padang alang-alang dan hutan sekunder tersedia 2,1 juta ha di Sumatera dan 1,3 juta ha di Sulawesi dan NTB, yang tidak memerlukan investasi terlalu besar untuk usaha produksi padi gogo. Penambahan luas areal padi gogo dari kini 1,125 juta ha menjadi 3,5 juta ha masih sangat memungkinkan, dan dapat menambah produksi beras sekitar 3 juta ton setiap tahun secara berkelanjutan. Penambahan areal pertanian untuk padi gogo tersebut dapat menyediakan lapangan kerja bagi minimal satu juta KK petani, yang berasal dari petani setempat yang tidak memiliki lahan atau petani berlahan skala kecil dan petani muda dari luar daerah yang berpendidikan pertanian. Program perluasan areal tanam padi gogo di lahan baru perlu mendapat dukungan dan kemauan politik pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten. Dibandingkan dengan pencetakan lahan sawah, pembukaan lahan baru untuk padi gogo relatif lebih murah dan lebih mudah. Upaya peningkatan produksi beras nasional melalui perluasan areal tanam padi gogo dinilai lebih pasti, memihak rakyat miskin, dan menciptakan lapangan pekerjaan baru, serta memberikan tambahan produksi beras yang lebih berkelanjutan. Upaya ini dapat dijadikan program jangka pendek pemerintah untuk mencapai ketahanan pangan nasional dan swasembada beras secara berkelanjutan.
Pengembangan Pangan Tradisional Berbasis Jagung Mendukung Diversifikasi Pangan Suarni Suarni
Iptek Tanaman Pangan Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Various corn-based traditional food in Indonesia representing a wealth ethnic food in every regions that needs to be preserved. In every region there is a specific corn based food, differ in processing methods. This paper discusses various traditional food products based on fresh corn and dried grain. Nutritional components of local corn variety were also reviewed. To improve the image of traditional corn based food an intensive promotion of the functional food contained in the simple corn food preparation is suggested. It requires that corn food be sold in food stalls and restaurants. Corn based food is considered healthier, low in cholesterol and suitable for the old people diet. Traditional food preparation based on corn could be modified using the international recipes, so that it could enter the home industries. Corn variety suitable for food industries is needed, especially those with good eating quality, high productivity and contain high nutritions. Corn based food should be promoted to broaden the food diversification program.
Pengendalian Dini Hama Kepik Coklat pada Kedelai dengan Pemanfaatan Cendawan Entomopatogen Lecanicillium lecanii Yusmani Prayogo
Iptek Tanaman Pangan Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepik coklat (Riptortus linearis) merupakan salah satu hama pengisap polong kedelai yang sangat penting karena serangannya dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 80%. Pengendalian kepik coklat menggunakan insektisida kimia kurang efektif karena hanya mampu membunuh stadia nimfa dan imago. Lecanicillium lecanii merupakan cendawan entomopatogen yang cukup potensial digunakan sebagai agens pengendalian telur kepik coklat karena mampu menggagalkan penetasan telur (ovicidal). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kerentanan berbagai umur telur kepik coklat terhadap infeksi cendawan L. lecanii. Penelitian dilakukan di laboratorium patologi serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor dan laboratorium biologi LIPI (Cibinong) dari bulan Juli sampai September 2008. Perlakuan adalah perbedaan umur telur kepik coklat setelah diletakkan imago, yaitu: (1) < 1 hari (baru diletakkan), (2) 1 hari, (3) 2 hari, (4) 3 hari, (5) 4 hari, (6) 5 hari, dan (7) 6 hari. Setiap unit perlakuan adalah 100 butir telur kepik coklat diletakkan di dalam cawan Petri yang berdiameter 18 cm kemudian disemprot dengan suspensi konidia L. lecanii menggunakan kerapatan konidia 107/ml. Dosis aplikasi adalah 2 ml per 100 butir telur per perlakuan per ulangan. Hasil penelitian menunjukkan, semakin tua umur telur kepik coklat semakin tahan terhadap infeksi L. lecanii. Telur yang baru diletakkan imago (umur 1 hari) sangat rentan terhadap infeksi L. lecanii, sedangkan telur yang berumur empat, lima, dan enam hari sangat tahan. Telur kepik coklat yang terinfeksi cendawan L. lecanii menjadi terlambat menetas hampir enam hari. Jika kejadian ini berlangsung di lapangan maka sangat menguntungkan bagi keselamatan polong dan biji kedelai dari serangan kepik coklat. Setiap telur kepik coklat yang tidak menetas akibat infeksi L. lecanii mampu memproduksi konidia hingga mencapai di atas 7,25 x 106/ml, yang merupakan sumber inokulum potensial untuk transmisi dan diseminasi patogen ke inang yang baru sehingga menciptakan epizooti di lapangan. Untuk menekan populasi kepik coklat hingga di bawah nilai ambang kendali dianjurkan aplikasi cendawan L. lecanii mulai umur 35 hari setelah tanam (HST) pada saat imago datang pertama kali untuk meletakkan telurnya.
Karakter Padi sebagai Penciri Varietas dan Hubungannya dengan Sertifikasi Benih Mohamad Yamin Samaullah; Aan A. Darajat
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan varietas yang memiliki sifat-sifat unggul sesuai target pengembangan produk merupakan teknologi andalan yang secara luas digunakan oleh petani. Penggunaan varietas yang demikian relatif murah dan memiliki kompatibilitas yang tinggi dengan teknologi maju lainnya. Saat ini program perbaikan varietas padi diarahkan untuk menghasilkan varietas yang berdaya hasil lebih tinggi, tahan hama dan penyakit, bermutu giling dan mutu tanak yang baik, serta beradaptasi baik pada agroekosistem tertentu. Proses pembentukan galur calon varietas unggul membutuhkan waktu paling sedikit lima tahun. Dalam pengembangannya, suatu calon varietas unggul harapan dapat dibedakan dari varietas unggul lainnya. Oleh sebab itu, sejumlah karakter agromorfologi tanaman perlu dipilih sebagai pembeda satu varietas dengan varietas lainnya, termasuk aspek produktivitas. Penciri tersebut sangat penting untuk diidentifikasi karena terkait dengan perbanyakan benih bersertifikat yang memerlukan kriteria pembeda antara varietas yang penampilannya hampir mirip.
Strategi Pembangunan Pertanian pada Lahan Terlantar Achmad M. Fagi
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 2 (2007): September 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semangat untuk merehabilitasi dan memanfaatkan lahan alang-alang (Imperata cylindrica) dilandasi oleh TAP MPR-RI No. IX/MPR/2001. Pokok-pokok arahan dalam TAP MPR-RI tersebut yang berkenaan dengan pengelolaan sumber daya alam (SDA), adalah: (1) memulihkan ekosistem yang telah rusak akibat eksploitasi SDA secara berlebihan tanpa perhatian terhadap kelestariannya, (2) menyusun strategi pemanfaatan SDA yang berlandaskan kepada optimalisasi manfaat dengan memperhatikan potensi dan kontribusinya kepada kepentingan masyarakat, daerah dan nasional. Lahan alang-alang dengan topografi datar sampai bergelombang dalam hamparan luas dijumpai di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, di daerah yang beriklim tropik basah. Sebelumnya lahan tersebut berupa lahan hutan hujan tropik dengan kesuburan rendah, kecuali di bagian aluvial. Lahan alang-alang dapat ditanami karet, kelapa sawit, tebu, kakao, dan kopi, dengan investasi tinggi. Sistem usahatani berbasis tanaman pangan dengan teknik konservasi berupa tanaman lorong, dapat dikembangkan di bagian aluvial. Dari luas lahan alang-alang di Indonesia sekitar 8,5 juta ha, rehabilitasi dan pemanfaatan lahan alang-alang di dataran rendah dengan ketinggian <350 m dpl. dan kemiringan 15%, yang tergolong lahan padang rumput skala mega, skala makro, atau skala meso diprioritaskan. Sistem usahatani dengan teknik tanaman lorong, efektif dalam pengendalian erosi dan eradikasi alang-alang dalam jangka panjang, karena alang-alang tidak tahan naungan dan terhambat perkembangan rizomnya oleh pengolahan dan pertanaman terus menerus. Teknologi usahatani berbasis padi gogo atau jagung yang dikembangkan di Lampung Tengah dan Lampung Utara dapat diterapkan dalam langkah awal pemberantasan alang-alang, dan dalam pengembangan sistem usahatani pada bidang olah di antara tanaman lorong. Pembakaran alang-alang oleh masyarakat petani baik yang kurang modal atau yang bermodal dalam konversi lahan alang-alang menjadi lahan pertanian atau perkebunan harus dicegah.
Produktivitas Varietas Padi dari Kelas Benih Berbeda Sri Wahyuni; Indria W. Mulsanti; Satoto Satoto
Iptek Tanaman Pangan Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seed certification system in Indonesia applies the four seed classes, i.e. Breeder Seeds (BS), Foundation Seeds (FS), Stock Seeds (SS) and Extension Seeds (ES). Farmers should plant the Extension Seeds for producing rice grain. However, farmers in some provinces prefer to use the Stock Seeds to produce rice grain, due to false information that higherseed-class will produce higher grain yield. The purpose of seed certification is to ascertain genetic identity and genetic purity, so as the potential genetic of the variety could be expressed maximally in rice field. Moreover, grain yield is influenced by the genetic factor and the environment condition. Previous research had indicated that the seed quality of higher seed classes was not always better than that of the lower seed class. Furthermore, rice crop planted from higher seed class of the same variety did not showed any differences in appearances of its agronomic characters (plant height, number of tillers) and yield components (grain weight, panicle length, filled grains per panicle), nor the grain yield. The notation that higher seed class produces higher grain yield, as was commodity believed by farmers and other stake holders, was incorrect. Seed certification is designed to ascertain the genetic purity of variety, but not to increase the productivity of the respective variety.
Prospek Varietas Toleran dalam Pengendalian Hama Kutu Kebul pada Kacang Tanah Kasno, Astanto; Suharsono, Suharsono; Trustinah, Trustinah
Buletin Iptek Tanaman Pangan Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The status of whitefly (Bemisia tabaci Genn.) as a major pest of groundnut had increased in the past few years. Severe pest attacks occurred in the hot and dry season caused significant groundnut yield loss. An effective component of whitefly control is the use of resistant varieties since it has a wide host range. Evaluation of groundnut for resistant germplasms had been carried out with resistant criteria as a basis for the assesment. So far there has been no resistant groundnut genotypes identified as indicated by the number of whiteflies observed on each of groundnut genotype (256 whiteflies per accession). The resistance was defined as the ability of plants to grow under the pest infestation and produce acceptable yield. In this study, the pod yield criteria for resistance to whitefly were set up as follow: &gt;1.2 t/ha = resistant (R); 1.0 to 1.2 t/ha = moderately resistant (MR), and &lt;1.0 t/ha = susceptible (S). Based on these criteria and selection limit of 50% pod yield, 15 groundnut genotypes were found resistant to whitefly with pod yields ranging from 1.2-2.0 t/ha dry pods. Three groundnut varieties that resistant to whitefly were Takar 1, Talam 1, and Landak. Among these varieties, Takar 1 was the most resistant variety to whitefly. In order to maintain the resistance and to avoid the development of new strains of whiteflies, it is suggested that the planting of resistant groundnut should be integrated with selective use of insecticides.
Optimasi Hasil Ubikayu Menggunakan Teknologi Adaptif Budhi Santoso Radjit; Nila Prasetiaswati
Iptek Tanaman Pangan Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cassava is an alternative crop for food and for energy, due to its high productivity. Of the harvested area of about 1.2 million ha, the national average yield of cassava is only about 18 t/ha, with the highest productivity of 24.6 t/ha obtained from Lampung Province. The high need for food and industrial raw materials for domestic and export, requires for identifying technologies that can increase productivity of cassava. Based on studies conducted in Malang, Banyuwangi, South Lampung, and Central Lampung, the application of proper crop management was able to increase yields. In southern Malang, used input of 10 t/ha manure, 300 kg/ha urea and 300 kg Phonska/ha on varieties Cecek Hijau, Sembung, and Malang-6 was able to obtain fresh tuber yield between 80-87 t/ha with a profit between Rp 37,610,000/ha to Rp 41,810,000/ha. In KP Genteng, Banyuwangi district, applying fertilizers at rate of 300 kg/ha urea, 100 kg/ha of SP36, 100 kg/ha of KCl and 5 t/ha manure, produced fresh tuber yield between 54-62 t/ha with a profit between Rp 19-23 million/ha, and B/C ratio between 2.5 to 3.0. In Natar (South Lampung) and Sulusuban (Central Lampung), applying 300 kg urea/ha, 200 kg SP36/ha, 200 kg KCl/ha, and 500 kg dolomite/ha, plus 5 t manure/ha produced between 46-60 t/ha of fresh tubers with Rp 26 to Rp 31 million profit. The apparent high yields and profits from cassava farming were obtained from the application of high inputs in combination with deep soil tillage. Reasonable good cassava price ranged between Rp 550-650/kg, had contributed to high profit earned by farmers. Although cassava yield obtained from the use of high input seems quite profitable, however its adoption and its yield sustainability need to be studied further, mainly relates to sustainable soil fertility. Price stability for fresh tubers, inorganic fertilizers and manure availability, and access to capital, need to be supported by the local government in order that farmers adopt the technology.
Prospek Ubijalar sebagai Bahan Baku Minuman Probiotik Suhartini Suhartini
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alternatif pemanfaatan ubijalar mulai diperkenalkan berdasarkan keunggulan kandungan senyawa yang berfungsi sebagai antioksidan (-karoten dan antosianin) pada daging umbinya. Antioksidan adalah senyawa yang penting bagi kesehatan karena dapat mengurangi risiko terkena berbagai penyakit. Penggunaan ubijalar sebagai bahan baku pangan fungsional dapat diperkaya dengan penambahan fungsinya sebagai minuman berprobiotik. Probiotik merupakan suplemen pangan berupa mikrobia hidup yang berfungsi menyeimbangkan komposisi mikrobia pada usus, sehingga menguntungkan dari segi kesehatan. Sari ubijalar yang mengandung senyawa antioksidan dan ditambahkan kultur bakteri probiotik menghasilkan produk pangan fungsional yang andal. Dengan semakin meningkatnya ketertarikan konsumen terhadap pangan fungsional untuk menjaga kesehatan, peluang pengembangan produk ini cukup menjanjikan. Tulisan ini membahas beberapa penelitian tentang pemanfaatan ubijalar sebagai bahan minuman yang mengandung kultur probiotik.

Page 8 of 19 | Total Record : 189