cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Iptek Tanaman Pangan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
Pemupukan sebagai Penentu Produktivitas Ubi Jalar Paturohman, Eman; Sumarno, Sumarno
Buletin Iptek Tanaman Pangan Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sweet potato (Ipomoea batatas L.) is a cosmopolitan crop, grown on 116 countries in the world. A total of 34 countries harvested 200,000 tons or more fresh tuber annually, and 82 countries with a national production less than 200,000 tons per year. China accounted for 68% of the world’s sweet potato production or 90% of the Asian fresh tuber production. The sweet potato productivity varies among countries in the world, from less than 5 t/ha to 24 t/ha, mainly related to the amount use of inorganic fertilizers of N, K, and organic fertilizer. The recommended use of fertilizers for sweet potato is as follow: low to moderate dosage of N (40 to 75 kg N/ha), low dossage of P (20-50 kg P2O5 /ha), and medium to high dosage of K (75-100 kg K2O/ha), combined with organic manure (3-10 t/ha). Indonesian sweet potato productivity is relatively high as compared to that in other countries in the world with an average of 14.75 t/ha. In the provincial production center, sweet potato productivity ranges from 18 to 22.7 t/ha fresh tuber except in Nusa Tenggara Timur (7.5 t/ha) and Papua (10.9 t/ha). In other provinces, the productivities range from 7.1 to 15.5 t/ha fresh tubers. Commercial sweet potato farming is always carried out under an optimum agroecology condition; however farmers do not always obtain optimum yield due to inoptimum application of fertilizer. Application of the recommended dosage of inorganic fertilizers with the addition of 3 to 5 t/ha organic manure is expected to improve sweet potato productivity to 24-25 t/ha fresh tubers. Improvement on sweet potato productivity will increase the supply of fresh tubers to the markets and thus, increases the sweet potato consumption as a rice substitute.
Prospek Pengembangan Sorgum untuk Ketahanan Pangan dan Energi M. Arsyad Biba
Iptek Tanaman Pangan Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sorghum can be planted in dryer climate area and requires less inputs compare with other food crops. Grain sorghum as food has better nutrient content than that of maize or rice. Its biomass can be used as animal feed, and the sugar content on the stem can be processed to produce bioethanol. From one kg of grain sorghum can be converted into one liter of ethanol. Suitable sorghum variety may produce 2,577 l of ethanol per ha of crop. Ever increasing demand for oil as source of energy is estimated to reach 62.11 million KL in 2025, and about 6.2% is expected to be substituted by gasohol. To supply the 621 thousand kl of gasohol, it needs 18,633 ton grain sorghum to be harvested from aound 9,317 ha of sorghum crop.
Potensi Tepung Jagung dan Sorgum sebagai Substitusi Terigu dalam Produk Olahan Suarni Suarni
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jagung dan sorgum dapat dimanfaatkan lebih beragam lagi sebagai bahan pangan olahan tradisional maupun industri. Kelebihan jagung sebagai pangan fungsional mengandung serat, karbohidrat, antioksidan, mineral Fe dan nutrisi lainnya, yang kurang dimiliki oleh terigu. Kelemahan sorgum adalah adanya tanin pada bagian aleuron, yang merupakan antinutrisi dan memberi rasa sepat pada produk olahan. Pada proses penyosohan, konsentrasi tanin dapat dikurangi/dihilangkan tetapi sebagian nutrisi akan hilang. Tepung sorgum mempunyai tekstur yang lebih halus dan asam amino penyusun proteinnya mampu membentuk gluten yang lebih baik dibanding tepung jagung, walaupun secara kuantitatif dan kualitatif lebih rendah dibanding terigu. Karakterisasi sifat fisikokimia, fungsional tepung sorgum dan jagung berperan penting dalam pemanfaatan kedua bahan tersebut. Terigu sudah menjadi bagian pangan dalam pola konsumsi masyarakat, produk olahan tertentu dapat disubstitusi oleh tepung jagung dan sorgum dengan taraf yang berbeda, bergantung pada jenis olahan yang diinginkan. Sifat fisikokimia bahan setengah jadi substitusi tepung jagung dan sorgum pada produk olahan pangan dari terigu dapat memenuhi selera panelis. Pemanfaatan tepung jagung dan sorgum sebagai bahan pangan sehat diharapkan dapat mengurangi pemakaian terigu dan sekaligus meningkatkan kemandirian pangan menuju hidup sehat.
Peningkatan Produktivitas Kacang Tanah Melalui Penerapan Komponen Teknologi Kunci Eman Paturohman; Sumarno Sumarno
Iptek Tanaman Pangan Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Groundnut is a legume crop which is widely distributed in the tropical countries. Of the total world harvested area of 29.4 million ha, tropical countries in Asia and Africa accounted for 92%, while in North America, Central and South America only 5.6%. The productivities of groundnut in the world vary greatly, from 0.5 t/ha to 3.5 t/ha dry pod. The main limiting factors for groundnut productivity are drought stress and diseases incidences, especially leaf spot (Cercospora sp). Critical stage for water shortages which greatly reduces productivity is during the generative stadia, which starts from flowering to pod filling. For spanish type varieties which are widely planted in Indonesia, critical phase occurs at age from 35 to 80 days. The productivity of groundnut in Indonesia is low, similar to that in India, Ghana and Nigeria, the major groundnut producers in the world. Although many factors account for the low groundnut yield in Indonesia, the inadequate soil moisture and leaf diseases are considered as the two main causes. To improve the productivity of groundnut at the existing production centers, the provision of supplemental irrigation or by way of planting time adjustment so that the rainfalls supply sufficient soil moisture during the generative phase, followed by leaf disease control, are the two keys technology components that need to be adopted. Appropriate planting time and applying fungicide to control leaf diseases at about 50 and 65 days after planting, produced yield up to 2 t/ha dry pods or 1.5 t/ha of dry kernel. Advanced technology consisted of deep soil tillage, planting seeds on the ridges, mulching (covering the ridges) with polyethen plastic and supplementing irrigation, as is done in China, could obtain maximum productivity of 6 t to 8 t/ha dry pods. This technology needs to be tested in Indonesia to overcome the present groundnut stagnant low productivity.
Budi Daya Padi dengan Masukan In Situ Menuju Perpadian Masa Depan A. Karim Makarim; Endang Suhartatik
Iptek Tanaman Pangan Vol 1, No 1 (2006): Juli 2006
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lingkungan pertanian terus mengalami perubahan akibat kurang tepatnya penerapan teknologi (varietas unggul, sarana produksi, alsintan), berkurangnya lahan pertanian, ketidakcukupan input (pupuk kimia anorganik dan pestisida) dan air. Kekhawatiran pencemaran dan degradasi lingkungan hidup, dampak perekonomian global, dan kebutuhan pangan yang terus meningkat, mengakibatkan lingkungan pertanian terus mengalami perubahan pada masa mendatang, dengan ciri berikut: (1) ketersediaan air semakin terbatas, padahal padi sawah memerlukan banyak air; (2) laju pertumbuhan penduduk yang pesat (1,49%) memerlukan beras yang terus meningkat dengan laju 1,1%/tahun, mencapai 35,17 juta ton beras (55,83 juta ton GKG) pada tahun 2010; (3) keharusan untuk efisien menggunakan input agar usahatani padi menguntungkan dan menang bersaing dengan komoditas lainnya; (4) iklim, terutama curah hujan yang semakin tidak menentu dan erratik, suhu udara akan lebih sering ekstrim panas; (5) penggunaan lahan banyak mengarah ke lahan suboptimal dengan permasalahan abiotik dan biotik yang lebih kompleks dan intens. Oleh karena cara budi daya yang optimal selalu berdasarkan kondisi lingkungan, maka untuk masa mendatang diperkirakan (1) penggunaan bahan organik bermutu (rantai C pendek, kandungan hara tinggi) secara in situ (di lokasi setempat) makin diperlukan, dari sisa-sisa pertanian (jerami, pupuk kandang), vegetasi alami menjadi populer kembali; (2) pemanfaatan mikroorganisme penambat N (Azospirillum sp., Anabaena, Clostridium dsb.), pelarut P, mikoriza dan sebagainya akan meningkat jumlah dan kualitasnya; (3) penggunaan PPC/ZPT yang berkualitas akan prospektif mengingat dengan cara ini efisiensi penyerapan hara oleh tanaman tinggi; (4) pemanfaatan hara-mineral in situ yang tersedia di tanah mulai berkembang. Pertanian yang memanfaatkan sumber daya setempat (organik dan anorganik) dapat dikembangkan seraya mempertahankan hasil padi yang tinggi. Recycling hara dalam sistem pertanian mutlak diperlukan untuk meningkatkan efisiensi sistem produksi dan penggunaan masukan.
Perkembangan Teknologi Budi Daya Kedelai di Lahan Sawah Sumarno Sumarno
Iptek Tanaman Pangan Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Soybean Production Technology Development on Wet Land. Soybean has been grown in Indonesia since 1746, as a component of rice crop rotation on wet land, by applying indigenous technology. Until 1960 Indonesia was the third largest soybean producer in the world. However, the planted area is relatively stagnant until now. Based on its development, there are eight alternative technologies available for producing soybean on wet land, varying from a very simple method requiring minimum input and man power, to very intensive technique. To attain soybean self-sufficiency, it is suggested that the expansion of soybean area to be carried out on fallow wet land during the dry season, applying one of the most suitable cultural technique among the eight available alternatives. National campaign for practicing rice-rice-soybean crop rotation on wet land is expected to improve soil fertility, farmer’s income and increase soybean production toward attaining self sufficiency.
Peningkatan Produksi Jagung melalui Penerapan Inovasi Pengelolaan Tanaman Terpadu Hadijah A. D.
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 1 (2010): Juli 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jagung di Sulawesi Selatan merupakan tanaman pangan penting kedua setelah padi. Secara tradisional jagung dibudidayakan di lahan kering pada musim hujan, jarang ditanam pada lahan sawah berpengairan terbatas. Rotasi tanaman pada lahan sawah berpengairan terbatas adalah padi-bera. Pada saat harga jagung rendah sebelum tahun 2000, pada lahan sawah yang biasanya diberakan setelah panen padi sehingga tidak memberikan insentif ekonomi bagi petani. Dengan semakin meningkatnya permintaan jagung untuk industri makanan, minyak, dan pakan ternak serta untuk ekspor, harga jagung meningkat dan dapat memberi keuntungan bagi petani jika menanam jagung. Di Sulawesi Selatan sebagian besar petani membiarkan lahan sawah bera setelah panen padi. Penelitian dengan pendekatan pengelolahan tanaman terpadu (PTT) pada jagung dilaksanakan di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, pada musim kemarau 2006, pada lahan sawah berpengairan terbatas setelah panen padi sawah. Luas areal penelitian 3 ha, melibatkan sepuluh petani. Komponen teknologi PTT yang diterapkan adalah varietas Lamuru dengan benih 20 kg/ha, dosis pupuk 250 kg urea + 100 kg SP36 + 50 kg KCl/ha. Lahan tidak diolah, disemprot herbisida, dan suplementasi air irigasi pompa diberikan empat kali. Total biaya produksi Rp 2,5 juta/ha. Produksi jagung bervariasi antara 2,8-6,0 t/ha, rata-rata 4,5 t/ha biji kering. Dari hasil jagung 4,5 t/ha diperoleh nilai jual Rp 7,2 juta/ha, sehingga pendapatan rata-rata Rp 4,7 juta/ha, dan B/C ratio 1,88. Pendapatan padi pada musim tanam utama Rp 4,1 juta/ha, sehingga petani memperoleh pendapatan dua kali lipat dari biasanya, bila menanam jagung setelah padi sawah. Lahan sawah berpengairan terbatas dan sawah tadah hujan yang diberakan di Sulawesi Selatan sangat luas. Pemanfaatan lahan bera tersebut untuk budi daya jagung akan meningkatkan produksi jagung regional dan nasional, serta meningkatkan pendapatan petani, yang akan berdampak terhadap ekonomi pedesaan. Penanaman jagung pada lahan sawah, yang biasanya diberakan di Sulawesi Selatan memerlukan penyuluhan dan bimbingan teknis dalam model penelitian PTT, guna meningkatkan kesadaran dan partisipasi petani dalam proses adopsi teknologi.
Alternatif Teknologi Peningkatan Produksi Beras Nasional Achmad M. Fagi
Iptek Tanaman Pangan Vol 3, No 1 (2008): April 2008
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk meningkatkan produksi padi 6,4% pada tahun 2007, Pemerintah menginisiasi P2BN (Proyek Peningkatan Beras Nasional). Teknologi PTT (pengelolaan tanaman terpadu) diagendakan untuk digunakan dalam intensifikasi tanaman padi pada lahan baku sawah irigasi seluas 2,0 juta ha atau luas panen 4,0 juta ha. Varietas unggul hibrida (VUH) akan ditanam di lahan sawah irigasi seluas 160.000 ha. Sebelum teknologi PTT dikembangkan, teknologi PMI (perbaikan mutu intensifikasi) diterapkan di seluruh sentra produksi padi yang masuk dalam program Supra Insus. Status teknologi PMI dievaluasi di Jawa Barat. Komponen teknologi PMI adalah modifikasi dari 10 jurus paket-D (Supra Insus). Penerapan teknologi PMI mampu meningkatkan hasil padi sawah irigasi. Petani pemilik dan petani penggarap lebih diuntungkan oleh penerapan teknologi PMI dibanding petani penyewa. Komponen teknologi PMI yang dianjurkan kepada petani padi sawah di Jawa Barat tidak berbeda dengan komponen teknologi PTT, karena adanya interaksi antara peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Padi (Balitpa) sekarang Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) dan pengkaji dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat dengan penyuluh dari Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat. Paket teknologi dengan pendekatan PMI masih berlaku umum, sedangkan paket teknologi dengan pendekatan PTT bersifat spesifik lokasi. Komponen teknologi PTT atau kombinasinya dapat berbeda antara sentra produksi padi yang kondisi biofisik dan sosial-ekonomi petaninya berbeda. Kurva kisaran tingkat kenaikan hasil gabah dengan penerapan teknologi PTT di beberapa sentra produksi di Indonesia selaras dengan kurva penerapan teknologi PMI di Jawa Barat. Teknologi PMI dapat sebagai alternatif yang dapat diterapkan pada 7,5 juta ha luas panen padi sawah. Teknologi PTT atau teknologi PMI dapat digunakan pada pertanaman VUH. Anjuran teknologi PTT atau PMI yang top- down, instruktif dan vertikal dapat mempercepat adopsi dan diseminasinya, tetapi rawan terhadap perubahan lingkungan strategis. Adopsi teknologi PTT atau teknologi PMI bisa tidak berlanjut kalau perubahan lingkungan strategis tidak kondusif bagi petani.
Kontaminasi Aflatoxin dalam Rantai Distribusi Kacang Tanah di Indonesia A. A. Rahmianna; Joko Purnomo
Iptek Tanaman Pangan Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The substance is very toxic, which may cause health problem when consumed by human or by animal. of the twelve aflatoxin members, the B1-aflatoxin was reported as the most prevalence in Indonesia, and it was also the most toxic. Therefore, B1-aflatoxin was used as a criterion for the maximum tolerable limit of aflatoxin content in food and feed stuff. Aflatoxin B1 contamination was reported on groundnut grains sold in the retail traditional markets throughout Indonesia. The contaminated grains were noted derived from the nationally produced as well as from the imported ones. The aflatoxin contamination increased as the grain of groundnut reached the final retail markets destination. Contaminated grain processed into various food retained the aflatoxin in a toxic form. The negative effect on health from consuming food contaminated by aflatoxin must be minimized. The government of Indonesia had established food safety regulation regarding aflatoxin contamination, but prevention through the proper cultural practices and post harvest handling of groundnut, were equally important measure.
Preferensi Industri Tahu dan Tempe terhadap Ukuran dan Warna Biji Kedelai Rully Krisdiana
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ukuran dan warna biji kedelai varietas unggul yang telah dilepas sangat beragam, sedangkan penggunaan terbanyak dalam industri olahan adalah untuk tahu dan tempe yang proses pengolahannya relatif sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi preferensi pengguna (permintaan pasar) dan respon industri tahu dan tempe terhadap beberapa varietas unggul kedelai. Penelitian dilaksanakan di sentra produksi dan industri olahan kedelai di Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Klaten, Wonogiri, Sragen, Sukoharjo, Solo, Karanganyar, Boyolali, Grobogan, Blora, dan Pati. Pada setiap kabupaten diambil lima industri tahu dan tempe. Penelitian menggunakan metode survei dan sampel biji kedelai dibuat tahu dan tempe. Pada masing-masing industri tersebut ditunjukkan beberapa contoh varietas unggul kedelai dengan karakteristik biji sedang dan biji besar untuk dikaji dan dipilih sebagai bahan baku industri berdasarkan preferensi produk olahan. Untuk industri tahu, kedelai yang diinginkan sebagian besar berwarna kuning dan sebagian kecil berwarna hijau, ukuran biji baik besar, sedang maupun kecil, dan berkulit tipis. Varietas unggul yang dipilih adalah Argomulyo. Untuk industri tempe, kedelai yang lebih disukai adalah yang berwarna kuning, ukuran biji besar dan berkulit tipis, varietas unggul yang dipilih adalah Burangrang. Varietas unggul kedelai dengan kualitas biji bagus, dapat diterima oleh industri tahu dan tempe.