cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Iptek Tanaman Pangan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
Kajian Sumber Bahan Bakar Nabati Berbasis Sorgum Manis Marcia B. Pabendon; M. Aqil; S. Mas'ud
Iptek Tanaman Pangan Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sweet sorghum has potential as a crop for producing energy to substitute fossil fuel through the production of ethanol, extracted from the biomass. To produce ethanol not only the stalks of sweet sorghum that can be used, the baggase and the grains are also readily to be processed into ethanol. Sweet sorghum could be grown on the existing dry lands so there is no need for clearing the rainforests. Sweet sorghum is considered easier and cheaper to grow than are other biofuel crops, and it does not require irrigation, so it could be planted in dry areas.
Lecanicillium lecanii sebagai Bioinsektisida untuk Pengendalian Telur Hama Kepik Coklat pada Kedelai Yusmani Prayogo
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepik coklat (Riptortus linearis) merupakan salah satu hama pengisap polong kedelai yang sangat penting karena mampu menurunkan hasil hingga 80%. Aplikasi pestisida hanya dapat membunuh stadia nimfa dan imago, sedangkan stadia telur masih bertahan dan berkembang sehingga populasi kepik coklat di lapangan masih sulit dikendalikan. Lecanicillium lecanii merupakan salah satu jenis cendawan entomopatogen yang bersifat ovisidal terhadap telur kepik coklat dan cukup efektif untuk mengendalikan hama ini pada stadia telur. Kelebihan cendawan tersebut adalah mampu menginfeksi seluruh stadia kepik coklat, mulai dari telur, nimfa, hingga imago. Telur kepik coklat merupakan stadia yang prospektif jika dikendalikan dengan cendawan L. lecanii dibandingkan dengan stadia nimfa maupun imago, karena telur tidak bergerak sehingga suspensi konidia yang diaplikasikan mudah mengenai sasaran. Cara memperoleh isolat L. lecanii virulen dapat dilakukan melalui isolasi dari serangga yang terinfeksi, dari dalam tanah, dan menggunakan metode pengumpanan serangga (insect baiting). Efikasi L. lecanii dipengaruhi oleh virulensi isolat, kerapatan konidia yang diaplikasikan, umur telur setelah diletakkan imago, dan sumber isolat cendawan. Cendawan L. lecanii mudah ditumbuhkan pada berbagai jenis media alami seperti beras, jagung, biji kacang-kacangan termasuk kedelai, kacang hijau, dan kacang tanah. Pada umur 21 hari setelah ditumbuhkan pada media alami, koloni cendawan sudah cukup untuk memproduksi konidia yang dapat digunakan sebagai organ infektif pengendalian hama sasaran. Biakan cendawan harus dicampur dengan air untuk merontokkan konidia yang terbentuk, selanjutnya ditambahkan bahan perekat untuk melindungi viabilitas cendawan di lapangan. Pengendalian telur kepik coklat dianjurkan pada telur yang baru diletakkan imago (0-2 hari) menggunakan kerapatan konidia L. lecanii 108/ml. Pada varietas Wilis, kondisi tersebut di lapangan umumnya terjadi pada tanaman yang berumur di atas 35 hari setelah tanam (HST). Aplikasi cendawan L. lecanii tidak berdampak negatif terhadap kelangsungan hidup serangga predator di pertanaman kedelai, khususnya Oxyopes javanus Thorell. Fakta ini ditunjukkan oleh aplikasi suspensi konidia L. lecanii yang diaplikasikan tidak mematikan imago predator hingga 30 hari setelah aplikasi. O. javanus merupakan salah satu predator yang mempunyai kemampuan predasi cukup tinggi dalam memangsa beberapa jenis hama utama kedelai, terutama kepik coklat. Ditinjau dari beberapa kelebihan dan keunggulan, L. lecanii prospektif dikembangkan sebagai bioinsektisida dalam komponen pengelolaan hama terpadu (PHT), khususnya kepik coklat pada kedelai.
Potensi Penerapan dan Pengembangan PTT dalam Upaya Peningkatan Produksi Padi Hasil Sembiring; Sarlan Abdulrachman
Iptek Tanaman Pangan Vol 3, No 2 (2008): Oktober 2008
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan sumber daya dan tanaman terpadu (PTT) pada padi sawah ditujukan untuk memanfaatkan sumber daya secara optimal guna mendapatkan produktivitas optimal, efisien, menguntungkan secara ekonomis dan sistem produksi berkelanjutan. Perumusan teknologi dalam PTT mendasarkan pada kesesuaian terhadap agroekologi dan sosial-ekonomi petani, yang disusun secara partisipatif antara petani-penyuluh dan pengkaji/peneliti. Sebagai bahan untuk penyusunan rakitan teknologi ditawarkan komponen teknologi yang bersifat umum dan pilihan, namun pemilihan teknologi adaptif tetap berdasarkan hasil keputusan yang dibangun secara partisipatif tersebut. Penerapan PTT di kebun percobaan meningkatkan produktivitas dan efisiensi penggunaan sarana produksi, namun di lahan petani secara luas terdapat keragaman penampilan. Secara keseluruhan produktivitas padi dengan teknik PTT meningkat dan penggunaan masukan sarana produksi dapat dihemat. Pada tahun 2008 PTT akan diimplementasikan pada areal seluas 1,59 juta ha dengan melibatkan 60.000 kelompok tani di 32 propinsi. Keberhasilan PTT ditentukan oleh ketepatan pemilihan teknologi dan kualitas penerapannya di lapang. Bimbingan dari penyuluh lapang sangat diperlukan guna mencapai pesyaratan tersebut. Sekolah Lapang di areal penerapan PTT diharapkan dapat mendidik petani menjadi lebih mandiri dalam menentukan teknologi yang paling optimal dan lebih bertanggung jawab atas penerapan teknologi yang dipilih. Teknologi PTT secara tidak langsung berfungsi memberdayakan petani untuk lebih produktif, efisien, berdaya saing, memperoleh keuntungan optimal, dan sadar akan pentingnya usaha pertanian yang berkelanjutan.
Menyiasati Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Pertanian Masa Depan Achmad M. Fagi
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percepatan laju pembangunan di segala sektor telah menyebabkan pergeseran paradigma pengelolaan sumber daya air. Sistem Subak, suatu kearifan lokal masyarakat Bali dalam pengelolaan sumber daya air dan tataguna air untuk pertanian, yang telah dikenal di dunia, terancam oleh modernisasi pembangunan sistem irigasi dan pengembangan pariwisata. Dewasa ini sikap antroposentrik lebih dominan, diindikasikan oleh fokus pembangunan ke pertumbuhan ekonomi, dan mengabaikan kearifan lokal yang ternyata sangat relevan dengan prinsip- prinsip pembangunan berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. Penyertaan masyarakat dalam pengoperasian dan pemeliharaan sistem irigasi diperkuat oleh UU No. 7 Tahun 2004. Tetapi pelaksanaannya supaya mempertimbangkan distribusi dan kecukupan air irigasi yang menentukan produktivitas lahan dan tanaman. Partisipasi masyarakat dalam pembiayaan operasional dan pemeliharaan sistem irigasi bergantung kepada keyakinan mereka bahwa teknologi benar-benar bermanfaat. Lembaga di pedesaan yang bertanggung jawab dalam persuasi keunggulan teknologi adalah kelompok tani dan Perhimpunan Petani Pemakai Air (P3A). Ke depan perlu dipertimbangkan penyatuan kelompok tani dan P3A. Langkah-langkah ke depan untuk mengonservasi sumber daya air dan meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan air harus bersifat komprehensif, mulai dari strategi pengelolaan daerah aliran sungai, operasional dan pemeliharaan sistem pengairan, serta teknik irigasi.
Durabilitas Ketahanan Varietas Padi terhadap Penyakit Tungro R. Heru Praptana; Ahmad Muliadi
Iptek Tanaman Pangan Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tungro is a damaging rice disease, especially in endemic area. Infection of tungro is caused by the infection of two different viruses, namely RTSV and RTBV, both can only be transmitted by green leafhopper. Tungro epidemic is influenced by the variety planted, tungro virus, green leafhopper, environmental conditions and cultivation practices. Resistant varieties play an important role in controlling tungro epidemic. The use of resistant varieties is an effective control component and environmentally friendly. Planting a resistant variety with different sources of genes for resistance prevent the build up of tungro epidemic. The availability of several resistant varieties is the main requirement for the sustainable management of tungro disease control. Durable resistant variety is important to be maintained, so that a comprehensive control management system based on the biology and epidemiology of tungro can be applied. Resistant variety could be developed through the incorporation of multiple genes for resistance to viruses and to vectors. The resistant varieties should be widely adopted by farmers in the endemic area. Mapping of the distribution of tungro resistant variety is required to facilitate the monitoring of varietal resistance durability to support the future resistance breeding program.
Efektivitas Multi-isolat Rhizobium dalam Pengembangan Kedelai di Lahan Kering Masam A. Harsono; Prihastuti Prihastuti; Subandi Subandi
Iptek Tanaman Pangan Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan areal kedelai di lingkungan suboptimal lahan masam akan semakin penting seiring dengan makin sempitnya lahan optimal yang dapat ditanami kedelai. Pengembangan kedelai pada lahan masam menghadapi banyak masalah, di antaranya keracunan Al, kahat hara N, P, K dan Ca, sehingga produktivitasnya sangat rendah (<0,5 t/ha) jika tidak ada perbaikan kesuburan lahan melalui ameliorasi dan pemupukan. Pada tanah masam Ultisol Lampung (pH + 4,2 berkejenuhan Al>50%) yang terus menerus ditanami ubikayu, apabila tidak dikapur meskipun dipupuk 300 kg phonska/ha (setara 100 kg urea + 100 kg SP36 + 100 kg KCl/ha), kedelai hanya memberikan hasil 0,35 t/ha. Pada tanah yang telah dikelola intensif dengan polatanam bervariasi, pH-nya di bawah 5,0, kejenuhan Al <30% dengan pemupukan 75 kg urea + 100 kg SP36 + 75 kg KCl + 500 kg dolomit/ha, hasil kedelai dapat mencapai 2,3 t/ha. Kondisi tersebut memberi gambaran bahwa lahan masam mempunyai prospek yang baik untuk pengembangan kedelai. Untuk mencapai hasil optimal tanaman kedelai memerlukan pemupukan spesifik lokasi. Kebutuhan pupuk di tanah masam dapat ditekan dengan aplikasi multiisolat rhizobium Iletrisoy-1, 2, 3, dan 4 yang mampu membentuk bintil akar 45-66 bintil/tanaman dan meningkatkan hasil biji hingga 21,2%. Di tanah Ultisol yang belum pernah ditanami kedelai (pH 4,2 dan kejenuhan Al diturunkan hingga 20%), aplikasi Iletrisoy-2 yang dikemas dalam bentuk pelet dapat merangsang pembentukan bintil akar dan meningkatkan hasil dari 0,50-0,90 t/ha (tanpa inokulasi) menjadi 1,10-1,51 t/ha serta menekan kebutuhan pupuk N setara 50-75 kg urea/ha. Multi-isolat rhizobium Iletrisoy-2 dan Iletrisoy-4 yang dikemas dalam bahan pembawa utama gambut dapat meningkatkan pembentukan bintil akar hingga 40 bintil akar efektif/tanaman bila kejenuhan Al diturunkan menjadi 10-20%. Pada kejenuhan Al 20%, aplikasi Iletrisoy-2 dan iletrisoy-4 masing-masing meningkatkan hasil dari 1,43 t/ha menjadi 1,73 t/ha (21%) dan 1,71 t/ha (20%). Pada kejenuhan Al 10% Iletrisoy-2 dan Iletrisoy-4 meningkatkan hasil dari 1,10 t/ha menjadi 2,14 t/ha (94%) dan 1,82 t/ha (56%), lebih tinggi dibanding jika tanaman hanya dipupuk urea 100-200 kg/ha. Penggunaan inokulasi rhizobium yang efektif merupakan faktor penting untuk budi daya kedelai pada lahan masam.
Pengayaan Kandungan Bahan Organik Tanah Mendukung Keberlanjutan Sistem Produksi Padi Sawah Sumarno Sumarno; Unang G. Kartasasmita; Djuber Pasaribu
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi budi daya padi, yang berlaku sejak tahun 1970-an mengabaikan penggunaan bahan organik sebagai pembentuk kesuburan tanah sawah dan petani menjadi bergantung sepenuhnya pada pupuk anorganik. Kandungan bahan organik tanah sawah menurun hingga mencapai batas kritis, yang oleh segolongan masyarakat direspon dengan teknologi hanya menggunakan masukan organik dan menolak digunakannya pupuk anorganik. Pada sistem ekologi alamiah yang seimbang dan berkelanjutan, daur ulang unsur karbon dan hara tanah lainnya terjadi secara tertutup in situ. Namun hal ini tidak sepenuhnya dapat dijadikan acuan sistem produksi pertanian berkelanjutan. Dalam sistem produksi pertanian berkelanjutan, selain aspek kelestarian dan mutu sumber daya dan lingkungan, mempersyaratkan aspek ekonomi, sosial dan kecukupan pangan keluarga, masyarakat dan seluruh warga bangsa, sehingga mengharuskan diperolehnya hasil panen yang optimal, yang berakibat terjadinya ekspor (pengeluaran) senyawa karbon dan hara lain dari ekologi lahan sawah. Sistem produksi berkelanjutan pada lahan sawah, diperoleh dengan menyediakan hara tanaman secara optimal yang berasal dari bahan organik dan pupuk anorganik. Bahan organik dalam tanah membangun kesuburan tanah secara fisik, kimiawi dan biologis, yang tidak dapat digantikan oleh sarana produksi lain. Saran kebijakan untuk meningkatkan kandungan bahan organik tanah meliputi memasukkan bahan organik sebagai bagian integral anjuran dosis pupuk; penggalakan kegiatan penyuluhan untuk pemahaman dan penyadaran petani akan pentingnya bahan organik sebagai pembentuk dan pemelihara kesuburan tanah, pembuatan peraturan daerah tentang larangan pembakaran jerami; pemberian insentif industri pengolahan limbah organik menjadi kompos; pembuatan ketentuan baku-mutu produk kompos; pengaitan tindakan pengayaan kandungan bahan organik tanah dengan kesempatan petani untuk dapat membeli pupuk anorganik bersubsidi; dan perlombaan antarhamparan lahan sawah dengan insentif hadiah. Disarankan untuk dicanangkan Gerakan Nasional Pengayaan Kandungan Bahan Organik Tanah Sawah (PBOT) selama lima tahun (2010-2015) guna mencapai kandungan bahan organik tanah lebih dari 1,5% dan tidak perlu mempermasalahkan kontroversi teknologi pertanian non-organik atau organik, karena pengembalian bahan organik ke dalam tanah memang merupakan bagian integral dari teknologi maju. Sumber hara berasal dari bahan organik bersifat komplementer dengan pupuk anorganik dalam penyediaan hara tanaman secara optimal bagi diperolehnya produksi padi yang optimal-ekonomis dan berkelanjutan.
Perakitan dan Pengembangan Varietas Unggul Sorgum untuk Pangan, Pakan, dan Bioenergi Herman Subagio; Muh Aqil
Iptek Tanaman Pangan Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sorghum crop has a potential to support the food-energy program in Indonesia.Sorghum contains high carbohydrate, antioxidants, minerals, protein and fiber. As a source of bioenergy, sorghum has the potential for substituting fossil fuel. High demand for sorghum in the international market gives an opportunity for Indonesia to produce the grain more, for domestic and export markets. To date, thirteen sorghum varieties had been released, each with specific characteristics, such as high-yielding, early maturing and wide adaptability. Sweet sorghum varieties (i.e. Super-1 and Super-2) are designated for producing ethanol to develop bioindustry in Indonesia. Optimizing the sorghum production is needed to provide material for the upstream and downstream industries. To avoid the landuse competition among crop commodities, sorghum production should be expanded to the marginal lands and the non-productive lands in central and eastern part of Indonesia. Strong government support is needed to establish the seed production subsystem, followed by seed procurement for the crop expansion program. To improve the germplasm background on the varietal development, local strains as genetic resources should be explored to be used on the development of sorghum varieties for specific environment.
Kandungan Mineral Padi Varietas Unggul dan Kaitannya dengan Kesehatan Siti Dewi Indrasari
Iptek Tanaman Pangan Vol 1, No 1 (2006): Juli 2006
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mineral mempunyai fungsi penting bagi kesehatan manusia, seperti membentuk jaringan tubuh, menggiatkan, mengatur, dan mengendalikan proses metabolisme, serta mengalihkan pesan-pesan syaraf. Mineral dapat dikelompokkan menjadi mineral makro ( Ca, P, Mg, Na, K, Cl, S) serta mineral mikro (Fe, I, Zn, Cu, Mn, Cr, Co, Se, Mo, F). Kebutuhan akan mineral-mineral itu dapat dipenuhi melalui pangan. Di Indonesia, beras menyumbang 63% terhadap total kecukupan energi, 38% protein, dan 21,5% zat besi. Para pemulia tanaman Indonesia telah merakit sejumlah varietas unggul padi yang masing-masing mempunyai keunggulan dalam hal kandungan mineralnya. Varietas Bengawan Solo (Ca tinggi) atau Limboto (P tinggi) baik dikonsumsi untuk mencegah pengeroposan tulang (osteoporosis). IR42 dan Cimelati cocok dikonsumsi anak-anak penderita autis serta diolah menjadi tepung pengganti tepung terigu. Cimelati (besi tinggi) atau Bengawan Solo (tembaga tinggi) sesuai bagi wanita hamil, pekerja keras, ana-anak di bawah lima tahun, serta anak-anak penderita anemia gizi besi.
Percepatan Pengembangan Varietas Unggul Baru Padi melalui Unit Pengelola Benih Sumber Ade Supriatna; Joko Mulyono; Zakiah Zakiah
Iptek Tanaman Pangan Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Previous study was conducted in 2008 in Central Java, in order to identify the following items: (i) the development of seed production in the area and its distribution; (ii) the model of seed industry; and (iii) to analyze the economic visibility of seed industry. Data were collected from 15 seed grower farmers and 25 rice farmers. Secondary data were collected from the Assessment Institute for Agriculture Technology (BPTP)-Central Java, the Office of Agriculture, the Institute for Seed Inspection and Certification (BPSB), the Seed Farm of Food and Horticulture Crops (KBPH), the Central Agency of Statistics (BPS), and the Institute of Agricultural Research. During 2007 BPTP produced 17,454 kg rice seed consisted of SS seed (88.1%) and FS seed (11.9%). The varietal reference test indicated that farmers prefer more of three varieties, namely Mekongga, Cibogo, and Cigeulis. Seed distribution from UPBS to farmers was channeled through the seed dissemination program, the cooperative of seed growers, free seed assistance to support the National Program for Rice Production (P2BN), and through public sales. Model of Seed Industry in the BPTP-Central Java was acting as the Units of Seed Source Development (UPBS). This Institution purchases BS seed from the Indonesian Center for Rice Research (ICRR) and produced FS and SS seeds. Its products were distributed to the KBPH and other local seed growers to produce SS or ES seed that will be planted by farmers. Seed production of rice obtained benefit of Rp 5.5 million/ha/season or 25 present more than that of the rice for consumption, with R/C 1.53. If farmers produced and processed the seed, they would obtain benefit of Rp 19.7 million/ha/season derived from the producing seed (28.1%) and the processing seed (71.9%). The economic performance of seed industry is profitable to farmers, and it supports the shortage of seed supply in Central Java. It needs some cooperation from other institutions, including the supply of BS and FS seeds from ICCR, and cooperation with the existing seed industries for seed distribution.