cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Iptek Tanaman Pangan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
Senjang Adopsi Teknologi dan Senjang Hasil Padi Sawah Sumarno Sumarno; Unang G. Kartasasmita; Zulkifli Zaini; Lukman Hakim
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keragaman produktivitas padi sawah dalam satu hamparan diduga disebabkan oleh senjang adopsi teknologi budi daya. Untuk mengetahui penyebab senjang adopsi teknologi dan senjang hasil padi sawah dilakukan studi dengan pendekatan participatory rural appraisal (PRA) di Kabupaten Ciamis, Tasikmalaya, Purwakarta, dan Majalengka, Jawa Barat, pada tahun 2008. Hasil studi menunjukkan komponen teknologi budi daya padi yang sudah diadopsi secara mantap oleh petani adalah (a) varietas unggul baru adaptif, (b) tanam bibit umur muda (15-20 hari), (c) penyiapan lahan secara optimal, dan (d) pengendalian gulma. Komponen teknologi yang belum diadopsi secara optimal adalah (a) penggunaan benih berlabel, (b) pengayaan kandungan bahan organik tanah, (c) dosis pupuk berdasarkan status hara tanah, (d) pengendalian OPT berdasarkan prinsip PHT, dan (e) panen-pascapanen mencegah kehilangan hasil kurang dari 10%. Komponen teknologi yang hanya diadopsi oleh sebagian kecil petani adalah (a) persemaian hemat waktu dan hemat benih (25 kg/ha), (b) tanam bibit jajar legowo, (c) tanam bibit dua batang per rumpun, dan (d) pengairan berselang (intermittent irrigation). Efisiensi penggunaan waktu juga masih rendah, sehingga menghambat peningkatan intensitas tanam, disebabkan oleh keterbatasan jumlah traktor. Tingkat adopsi teknologi adalah sbb.: Kabupaten Ciamis 66,4%, Tasikmalaya 70,7%, Purwakarta 65,7%, dan Majalengka 75,7%. Belum optimalnya adopsi teknologi menunjukkan adanya peluang untuk memperbaiki tingkat adopsi, guna mengurangi senjang adopsi teknologi. Senjang hasil padi antarpetani, antarmusim, dan antarkabupaten masih cukup besar, berkisar antara 1-3 t/ha. Perbaikan senjang adopsi teknologi disarankan untuk dijadikan program strategis Pemerintah dalam upaya peningkatan produksi padi di tingkat daerah dan nasional. Peran Pemerintah dalam program perbaikan senjang adopsi teknologi antara lain dalam (1) penyediaan kredit modal usaha/modal kerja kepada individu petani, (2) penyediaan kredit untuk pembelian/pengadaan traktor, (3) penyediaan kredit pembuatan dam dan embung air perdesaan, dan (4) peningkatan kualitas dan intensitas penyuluhan dalam hal PHT, pengayaan bahan organik tanah atau pengomposan, efisiensi penggunaan air, dan efisiensi penggunaan waktu dalam pengolahan tanah. Pengurangan senjang adopsi teknologi diharapkan akan mengurangi senjang hasil, yang berarti meningkatkan produksi padi petani, produksi padi di tingkat kabupaten dan provinsi, yang akan berdampak terhadap peningkatan produksi beras nasional dalam waktu cepat dengan biaya yang relatif murah.
Anomali Iklim 2006/2007 dan Saran Kebijakan Teknis Pencapaian Target Produksi Padi Sumarno Sumarno; J. Wargiono; Unang G. Kartasasmita; Andi Hasanuddin; J. Soejitno; Inu G. Ismail
Iptek Tanaman Pangan Vol 3, No 1 (2008): April 2008
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi analisis dampak anomali iklim dilaksanakan di enam kabupaten sentra produksi padi, Karawang dan Indramayu (Jawa Barat), Sragen dan Grobogan (Jawa Tengah), Lamongan dan Ngawi (Jawa Timur). Anomali iklim 2006/2007 dicirikan oleh terlambatnya awal musim hujan selama 1-2 bulan, yang berakibat mundurnya waktu tanam padi rendengan (MH 2006/2007) 1-2 bulan. Mundur masa tanam padi di Karawang mencapai 64%, Indramayu 61%, dan rata-rata Jawa Barat 41%. Mundur masa tanam padi di Jawa Tengah dan Jawa Timur masing-masing 28%. Masa tanam padi rendengan berlangsung dari Oktober 2006 sampai Maret 2007 secara tidak serempak, bergantung pada kemampuan kelompok tani dalam mengakses sumber air secara swadaya dari sumber air yang ada. Panen padi MH 2006/2007 terjadi secara kontinu, hampir merata dari bulan Februari sampai bulan Juli 2007, puncak panen terjadi pada bulan Maret dan April 2007, tetapi areal panen tidak terlalu luas dibandingkan dengan panen raya pada kondisi iklim normal. Tanam padi gadu MK 2007 mengalami ke- munduran dari normalnya, Maret-Mei, bergeser ke bulan Maret-Juli 2007, dan tanam tidak serempak. Saran kebijakan teknis untuk menyelamatkan produksi padi MK 2007 antara lain: (1) dibentuk Tim Pencukupan Kebutuhan Air di tingkat pusat, propinsi, kabupaten, dan kecamatan; (2) perbaikan prasarana irigasi; (3) penyediaan benih, pupuk, dan obat-obatan sampai di kios tani pedesaan; dan (4) pengamanan alokasi air irigasi secara adil dan merata. Teknologi untuk mengatasi permasalahan akibat terlambat tanam padi gadu adalah: (1) pengolahan tanah minimal untuk mempercepat tanam; (2) memperpendek waktu balik tanam dengan cara penyiapan pesemaian lebih awal; dan (3) penanaman benih langsung (direct seeding). Anomali iklim tahun 2006/2007 tidak berdampak negatif terhadap produksi padi secara keseluruhan karena produktivitas yang tinggi dari padi rendengan dan padi gadu akibat musim kemarau 2006 yang panjang dan curah hujan 2007 yang normal. Produksi padi di sentra produksi Jawa masih bergantung pada air hujan, bendungan yang ada belum mampu mengatasi kerentanan produksi akibat anomali iklim. Ketahanan pangan nasional masih sangat ditentukan oleh pola dan jumlah hujan serta kondisi iklim alamiah. Menghadapi anomali iklim, kesadaran pemakaian air secara hemat, efektif, dan efisien harus disosialisasikan kepada petani.
Determinan Agronomis Produktivitas Jagung Sutoro Sutoro
Iptek Tanaman Pangan Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The national maize productivity is lower than its genetic potential of the variety. Maize yields varied among regions, due to differences of the technological practices, which mainly included seed quality and variety planted by farmers, rate of fertilizers and the availability of soil moisture. Productivity could be optimized by planting hybrid variety and supplying nutrients through fertilization and providing adequate soil moisture. Open pollinated variety was reported as more suitable for the suboptimum environment. To mitigate the climatic changes which were difficult to predict, proper cultivation techniques and water conservation were the determinant keys for increasing maize productivity. General climatic condition was not a limiting factor for producing maize in Indonesia. Expansion of planted area could be carried out on almost all kinds of farm-lands, provided the three determinant yield factors were implemented. When those program was implemented, it was suggested that Indonesia would reach self sufficiency in maize production.
Konsepsi Revitalisasi Sistem Perbenihan Tanaman Jan Rachman Hidajat
Iptek Tanaman Pangan Vol 1, No 2 (2006): November 2006
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan permasalahan dan adanya perubahan lingkungan strategis yang terjadi, arah ke depan sistem perbenihan nasional adalah membangun industri benih dengan mendorong peran dominan swasta/privatisasi (BUMN/BUMD) dalam produksi dan peredaran skala komersial untuk benih komersial dan penguatan peran BUMN/D dalam produksi dan peredaran benih untuk benih strategis dengan berbasis sumber daya lokal. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan revitalisasi sistem perbenihan, yang mencakup: (a) Penyusunan dan penyempurnaan tatanan atau mekanisme, (b) Penyempurnaan beberapa peraturan Menteri Pertanian tentang perbenihan, dalam jangka pendek antara lain (1) Peraturan Menteri Pertanian tentang Pengujian, Penilaian dan Pelepasan Varietas Tanaman yang merupakan penyempurnaan dari Kepmentan No. 902/1996 dan No. 737/1998, (2) Peraturan Menteri Pertanian tentang Produksi, Pemasukan, Peredaran, Pengeluaran dan Pengawasan Benih Bina yang merupa- kan penyempurnaan Kepmentan No. 803/1997 tentang Sertifikasi dan Pengawasan Mutu Benih Bina dan Peraturan Menteri Pertanian tentang perubahan Kepmentan No. 1017/1998 tentang Izin Produksi Benih Bina, Izin Pemasukan dan Pengeluaran Benih Bina, (3) Penyiapan Rancangan Peraturan Menteri Pertanian tentang Komisi Nasional Plasma Nutfah dan Rancangan Permentan tentang Pencarian, Pengumpulan, Pelestarian, Pemanfaatan serta Pengeluaran dan Pemasukan Plasma Nutfah, (c) Penyempurnaan dan penyusunan kelembagaan perbenihan (jangka menengah), dan (d) Dalam jangka panjang perlu dilakukan penyempurnaan UU No.12/1992 tentang Sistem Budi Daya Tanaman dan PP No.44/1995 tentang Perbenihan Tanaman.
Pembentukan Varietas Jagung Komposit Kaya Vitamin Provit A1 dan Provit A2 M. Yasin H.G.; Syahrir Mas'ud; Faesal Faesal
Iptek Tanaman Pangan Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Open pollinated varieties could be developed through intra and inter population improvement. High yielding variety could be obtained by repetitive cycles of selection to generate families, to be evaluated and to be recombined. Provit-A maize variety has a high vitamin-A (beta-Carotene), up to 8-15 µg/g where normal maize contains 1.0 µg/g. Provit-A maize was developed from population Obatanpa(Pro-A)BC1C2-F2 and KUI Carotenoid Syn, which contains beta-carotene 4.1 and 8.0 µg/g, compared to normal maize variety Sukmaraga and Srikandi Kuning-1 of only 2.40 and 1.90 µg/g. Yield potential of Provit A variety is 6.0-7.0 t/ha, 17.1-22.0% more compared to normal maize. Beta carotene is recommended to overcome blindness in child age. Provit-A variety is recommended to be grown in the eastern part of Indonesia to be used as foods supplement or subtituting wheat. Isolated farm is needed to produce seed as well as for the location of training for farmers and extention workers.
Peluang Pengembangan IP Padi 400 di Lahan Sawah Irigasi Erythrina Erythrina
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 1 (2010): Juli 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengan menerapkan IP Padi 400 berarti petani dapat menanam dan memanen padi empat kali dalam setahun pada hamparan lahan sawah yang sama. Studi IP Padi 400 di tingkat petani dilaksanakan di Desa Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, pada kelompok “Tani Jaya” sebagai responden, diikuti dengan focus group discussion (FGD) pada bulan Juli 2009. Kelompok Tani Jaya menggunakan varietas Srijaya, berumur 76 hari pada MK dan 80 hari setelah tanam pada MH (15 hari di pesemaian) atau berumur 91 hari pada MK dan 95 hari pada MH dari biji ke biji. Bila menggunakan varietas Memberamo dan IR64, petani memerlukan waktu 13 bulan, sedangkan dengan varietas Srijaya bisa empat kali tanam dalam 12 bulan. Total hasil panen yang diperoleh 23,4 t GKP/ha/tahun, hasil gabah lebih tinggi pada MK dibanding MH. Hasil panen bersih 18,7 t GKP/ha/tahun (setelah dipotong bawon 20% untuk biaya tanam dan panen) dan harga jual gabah di sawah Rp 2.000.000/ton, petani memperoleh pendapatan kotor Rp 37,376 juta/ha/tahun. Dengan biaya usahatani berkisar antara Rp 2,5-3 juta/musim tanam, petani memperoleh keuntungan bersih yang cukup tinggi. Rancangbangun peningkatan produksi untuk mencapai IP Padi 400 harus mempertimbangkan: (1) aspek budaya masyarakat seperti tenaga kerja yang “industrius” (bekerja cepat, efisien, tidak santai), (2) ketersediaan air minimal 11 bulan dalam setahun, (3) ketersediaan alsintan pendukung yang cukup, (4) varietas padi berumur sangat genjah sampai ultra genjah, dan (5) ketersediaan modal-sarana produksi pada waktu diperlukan. Untuk pengembangan IP Padi 400 diperlukan: (a) inventarisasi wilayah pengembangan, (b) perbaikan prasarana irigasi, (c) mempertahankan produktivitas lahan tetap tinggi, dan (d) sosialisasi program berkaitan dengan budaya masyarakat. Disarankan Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, digunakan sebagai laboratorium lapang untuk penelitian IP Padi 400 yang lebih komprehensif, mencakup aspek kimia tanah, lingkungan, hama dan penyakit, serta sosial dan budaya masyarakat.
Perbaikan Ketahanan Varietas Padi terhadap Penyakit Tungro Andi Hasanuddin
Iptek Tanaman Pangan Vol 3, No 2 (2008): Oktober 2008
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Varietas padi yang terinfeksi virus tunggro, RTBV, RTSV atau kedua-duanya (RTBV/RTSV), menunjukkan variasi gejala yang ditimbulkan, bergantung pada varietas dan jenis partikel virus tungro. Infeksi RTBV/RTSV, secara umum memperlihatkan gejala tungro sangat jelas, termasuk infeksi RTBV pada varietas tertentu. Infeksi RTSV pada dasarnya tidak memperlihatkan gejala tungro yang jelas. Varietas padi tahan tungromemiliki mekanisme ketahanan toleran dan avoidan.Mekanisme toleran dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu symptomless, disease tolerant, dan true tolerant. Varietas toleran virus tungro merupakan salah satu komponen pengendalian tungro secara terpadu. Keberhasilan penggunaan varietas toleran dalam pengendalian beberapa jenis penyakit yang disebabkan oleh virus pada beberapa komoditas pertanian telah banyak dilaporkan. Perbaikan ketahanan varietas terhadap virus tungro dewasa ini telah menggunakan beberapa sumber gen ketahanan dari beberapa varietas lokal antara lain, Utri Merah, Balimau Putih, dan Utri Rajapan. Di masa yang akan datang, sumber ketahanan perlu dieksplorasi dari padi liar. Beberapa varietas padi liar memilki gen ketahanan yang bersifat super sensitif terhadap infeksi RTBV dan RTSV serta tahan terhadap kedua partikel virus tungro (RTBV dan RTSV). Analisis genetik dan durasi ketahanan varietas yang durable langgeng terjadi akibat kerja sama antara ketahanan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Masalah utama program ketahanan varietas yang durable adalah durasi ketahanan varietas yang dikendalikan oleh gen tunggal utama sangat bervariasi. Oleh karena itu, identifikasi pemanfaatan karakter tersebut secara efisien dan efektif merupakan cara tersendiri, yaitu identifikasi gen utama yang mampu secara kolektif membentuk ketahanan yang bersifat kuantitatif. Perbaikan ketahanan varietas terhadap virus tungro diarahkan kepada empat sasaran: (1) perbaikan ketahanan varietas terhadap RTBV; (2) perbaikan ketahanan varietas terhadap RTSV; (3) perbaikan ketahanan varietas terhadap RTBV/RTSV; dan (4) perbaikan ketahanan varietas terhadap serangga vektornya (N.virescens) yang memiliki sumber gen ketahanan yang beragam.
Sistem Produksi Kacang-kacangan untuk Menghasilkan Benih Bebas Virus Nasir Saleh
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu penyebab rendahnya produktivitas kacang-kacangan (kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau) di Indonesia adalah karena sebagian besar petani masih menggunakan benih yang tidak terjamin kualitas dari kesehatannya. Kesehatan benih dari infeksi patogen (khususnya patogen virus) sejauh ini belum dimasukkan ke dalam program sertifikasi benih, meskipun telah diketahui banyak virus menginfeksi tanaman kacang-kacangan. Di Indonesia, tujuh di antara lebih dari 15 jenis patogen virus yang menginfeksi tanaman kacang-kacangan ditularkan melalui biji. Penularan virus dari induk tanaman sakit terjadi melalui infeksi sel telur dan atau tepungsari. Dalam biji terinfeksi, virus terdapat di dalam jaringan kulit biji atau embrio (kotiledon dan lembaga). Sejauh ini belum ada usaha perawatan benih secara fisik maupun kimiawi yang secara ekonomis dan praktis dapat menginaktifkan virus dalam embrio tanpa mempengaruhi viabilitas benih tersebut. Penularan virus melalui biji terbukti memegang peranan penting dalam penyebarluasan dan perkembangan epidemi penyakit virus pada tanaman kacang-kacangan. Benih yang bebas virus dapat diproduksi dengan cara menghindari sumber infeksi, awal dengan mulai menanam stok benih sehat, menghilangkan tanaman terinfeksi dan sumber infeksi lain di lapang, mencegah masuk dan tersebarnya virus ke pertanaman dengan cara melakukan isolasi tempat dan waktu, mengendalikan vektor serta menanam varietas tahan atau yang tidak menularkan virus lewat biji.
Epidemiologi, Patotipe, dan Strategi Pengendalian Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Tanaman Padi Sudir Sudir; B. Nuryanto; Triny S. Kadir
Iptek Tanaman Pangan Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bacterial leaf blight (BLB) in rice is an important disease on rice in rice-producing countries, including in Indonesia. The disease is caused by the bacterium of Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Pathogen infected leaf of rice plants in all plant growth stages, from nursery to harvest. Symptom on the vegetative phase of plant is called kresek and that at the generative phase is called as blight. When the attack occurred in the generative phase, grain filling process was halted, resulting in less than perfect kernels. Yield losses due to the bacterial blight disease varied between 15 to 80%, depending on the crop stadia when the diseases occurred. BLB disease development is strongly influenced by environmental factors, especially moisture, temperature, method of cultivation, varieties and rate of nitrogen fertilization. It is therefore recommended that BLB control is integrated with other methods that would suppress the progress of the disease. Resistant varieties are considered as a key component in an integrated disease control of BLB. But this technology is hampered by the ability of the pathogen to adapt and to form new pathotipes which are more virulent, so that varietal resistance is easily broken. BLB disease control by planting resistant varieties must be adapted to the existing pathotipe. Monitoring and mapping the composition and distribution of bacterial Xoo pathotipe are indispensable as basic recommendation of BLB control. Planting resistant varieties according to the presence pathotipe occurrence could minimize the disease severity.
Potensi Ubijalar Ungu sebagai Pangan Fungsional Erliana Ginting; Joko S. Utomo; Rahmi Yulifianti; M. Jusuf
Iptek Tanaman Pangan Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ubijalar ungu potensial dimanfaatkan sebagai bahan pangan fungsional karena memiliki antosianin, pigmen yang menyebabkan daging umbi berwarna ungu, yang mempunyai aktivitas antioksidan. Keberadaan senyawa fenol selain antosianin juga penting karena bersinergi dengan antosianin dalam menentukan aktivitas antioksidan ubijalar. Hasil pengujian ekstrak delapan klon ubijalar ungu yang bervariasi intensitasnya, menunjukkan bahwa antosianin dan senyawa fenol berkorelasi positif dengan aktivitas antioksidan. Kandungan serat pangan yang bermanfaat untuk pencernaan dan indeks glikemiknya yang rendah sampai medium, juga merupakan nilai tambah ubijalar sebagai pangan fungsional. Varietas Ayamurasaki merupakan varietas ubijalar ungu yang mulai banyak ditanam petani di daerah Malang dan digunakan sebagai pembanding dalam program pemuliaan ubijalar ungu. Kandungan antosianinnya cukup tinggi (282 mg/100 g bb) dengan potensi hasil 15-20 t/ha. Balitkabi telah melepas varietas Antin 1 ubijalar ungu kombinasi putih, yang sesuai untuk bahan baku keripik. Beberapa klon harapan juga siap dilepas, di antaranya JP 23, RIS 03063-05, dan MSU 03028-10 yang memiliki kandungan antosianin lebih tinggi dibanding Ayamurasaki dengan potensi hasil 25-30 t/ha. Pemanfaatan ubijalar ungu masih terbatas, oleh karena itu sosialisasi varietas unggul ubijalar ungu harus diikuti dengan teknik olahan yang sesuai dan menarik. Produk olahan dari ubijalar segar maupun produk antara (tepung) berpeluang mensubstitusi penggunaan terigu 10-100%. Ubijalar ungu juga potensial digunakan sebagai bahan pewarna alami untuk makanan dan minuman. Pengembangan produksi dan pemanfaatan ubijalar ungu cukup prospektif karena sejalan dengan program percepatan diversifikasi pangan dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pangan sehat serta pengembangan agroindustri berbahan baku lokal.