cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Iptek Tanaman Pangan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
Populasi dan Jarak Tanam Ubi Kayu dan Aneka Tanaman Kacang dalam Pola Tumpangsari Astanto Kasno
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aneka tanaman kacang tidak memiliki wilayah atau lahan khusus dan sulit dikembangkan pada kawasan yang didominasi oleh komoditas tertentu, misalnya tanaman ubi kayu.Agar aneka kacang dapat ditanam dan berkembang di kawasan tersebut, maka teknik tanam ganda, baik tumpangsari, tumpangurut, maupun tumpang gilir merupakan pilihan strategis. Tanaman ubi kayu dan aneka kacang yang tergolong tanaman C3 yang lebih toleran terhadap intensitas cahaya rendah dan kedua jenis tanaman tersebut memiliki umur panen yang berbeda dapat menjadi kombinasi yang serasi dan menguntungkan asal pemilihan varietas diikuti oleh rekayasa lingkungan yang sesuai (ruang, waktu, dan teknik produksi). Ubi kayu yang tumbuh tegak, tidak bercabang/lambat bercabang dan tumbuh agak vigorus merupakan karakteristik penting dalam sistem tanam ganda. Tipe tegak, umur genjah, dan toleran naungan merupakan karakteristik penting aneka tanaman kacang dalam sistem tanam ganda. Ubi kayu varietas Malang 4 dan Adira 4; kedelai varietas Argopuro dan Wilis; kacang tanah varietas Bison dan kacang hijau varietas Kutilang memiliki karakterstik demikian. Dengan penataan tanaman ubi kayu baris tunggal atau baris ganda dengan populasi yang sama dengan tanaman tunggal (10.000 tanaman/ha) tersedia lorong tanaman yang dapat ditanami aneka tanaman kacang dua hingga tiga kali, bergantung pada pola hujan/tipe iklim. Bila diikuti dengan teknologi produksi yang intensif, hasil ubi kayu dan aneka kacang mencapai sekitar 90% dari hasil yang dicapai oleh masing-masing.
Silikon: Hara Penting pada Sistem Produksi Padi A. K. Makarim; E. Suhartatik; A. Kartohardjono
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 2 (2007): September 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Silikon (Si) banyak terkandung pada tanaman graminae, seperti padi, jagung, dan tebu, terutama di permukaan daun, batang, dan gabah (padi). Tanaman kahat Si menyebabkan ketiga organ tanaman di atas kurang terlindungi oleh lapisan silikat yang kuat, akibatnya: (1) daun tanaman lemah terkulai, tidak efektif menangkap sinar matahari, sehingga produktivitas tanaman rendah/tidak optimal; (2) penguapan air dari permukaan daun dan batang tanaman dipercepat, sehingga tanaman mudah layu atau peka terhadap kekeringan; (3) daun dan batang menjadi peka terhadap serangan penyakit dan hama; (4) tanaman mudah rebah; dan (5) kualitas gabah (padi) berkurang karena mudah terkena hama dan penyakit. Akibatnya, hasil optimal tanaman tidak tercapai, kestabilan hasil rendah (fluktuatif) dan mutu produk rendah. Penggunaan kembali Si yang dahulu selalu diperhatikan pada budi daya padi, baik di luar negeri maupun di dalam negeri, hampir dapat dipastikan akan meningkatkan produktivitas, kestabilan dan kualitas hasil padi. Memopulerkan kembali penggunaan pupuk silikat pada tanaman padi saat ini sangat tepat, seiring dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan produksi padi nasional sebesar 5%, dimana pemanfaatan lahan-lahan suboptimal, lahanlahan endemik hama dan penyakit, serta lahan optimal dengan penggunaan pupuk N dosis tinggi semakin meluas dan intensif. Lahan-lahan tersebut memerlukan tambahan silikat.
Interaksi Nitrogen dengan Insidensi Penyakit Tungro dan Pengedaliannya Secara Terpadu pada Tanaman Padi Wasis Senoaji; R. Heru Praptana
Iptek Tanaman Pangan Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nitrogen (N) is a major nutrient for rice plant growth. To increase rice productivity, the use of superior variety is a key factor on rice production in Indonesia. The superior rice variety generally has a high response to N fertilizer, therefore deficiency of N becomes the limiting factor for the rice growth and yield. The problem arises when the application of N nutrient to achieve high productivity was only based on the recommended fertilizer dosage or yield target without considering the safety of rice from pests and diseases. Tungro is an important disease in rice which is affected by the rate of N. Tungro is caused by the interaction between two different viruses, namely Rice tungro bachiliform virus (RTBV) and Rice tungro spherical virus (RTSV), both are transmitted by green leafhopper. The tungro disease incidence is the result of interaction between plants, tungro virus, vector and environment, where the use of N fertilizer influences the dynamics of viral tungro disease. Interaction of plant N with green leafhoppers affects the increased fitness of insects. Interaction of plant N with viruses changes the cell metabolism, resulting in the changing of chloroplast morphology and an increased rate of respiration, which stimulates absorption of nutrients as the material for synthesis of protein. Fertilizer management should be part of the synergy between soil fertility management and integrated pest management (IPM) to create a healthy crop and environment. Fertilizer management should be synergistically integrated with other crop management components to support the defense mechanism of plants against pests and diseases. Three N management strategies to control tungro disease, including: 1) suitability of N type; 2) accuracy of N quantity based on the diagnosis and 3) the timeliness of application. These strategies should be considered, especially in the endemic tungro area.
Cendawan Tular Tanah (Rhizoctonia solani) Penyebab Penyakit Busuk Pelepah pada Tanaman Jagung dan Sorgum dengan Komponen Pengendaliannya Soenartiningsih, Soenartiningsih; Akil, M.; Andayani, N. N.
Buletin Iptek Tanaman Pangan Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sheath blight is an important disease of maize and sorghum. Yield decrease on susceptible varieties of both commodities due to the disease is high. The fungus survives in the form of sclerotia or hyphae in the soil or remains on infected plants. The pathogen has a wide range of host plants including members of the families Leguminosae, Solanaceae, Cucurbitaceae, and Gramineae, hence causes the fungi difficult to control. Control of the disease could be done biologically using antagoistic microorganisms such as Trichoderma spp., Gliocladium spp., and vesicular arbuscular mycorrhizae, planting resistant varieties, as well as mechanically, physically, and chemically.
Revitalisasi Sistem Perbenihan Tanaman Pangan: Sebuah Pemikiran Suyamto Suyamto
Iptek Tanaman Pangan Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Revitalisasi perbenihan merupakan salah satu dari tujuh revitalisasi yang digunakan untuk mencapai empat target utama pembangunan pertanian 2010-2014 yang meliputi pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan; peningkatan diversifikasi pangan; peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor; serta peningkatan kesejahteraan petani. Upaya yang dilakukan untuk melakukan revitalisasi perbenihan dan perbibitan telah dicantumkan dalam Renstra Kementerian Pertanian 2010-2014, namun masih perlu penjabaran dan perumusan yang lebih operasional sehingga mampu mendorong industri perbenihan nasional untuk maju dan berdaya saing. Perbenihan harus dilihat sebagai suatu sistem yang terdiri dari paling tidak empat subsistem yang saling berhubungan mulai dari hulu hingga hilir, yaitu pengelolaan sumber daya genetik (SDG); perakitan dan pelepasan varietas unggul; produksi, distribusi/pemasaran dan pengendalian mutu benih; serta jaringan informasi perbenihan. Melakukan revitalisasi perbenihan berarti harus melakukan revitalisasi pada semua subsistem perbenihan tersebut. Pemikiran tentang revitalisasi pada masingmasing subsistem perbenihan disampaikan pada tulisan ini, dengan harapan dapat dijadikan masukan untuk perumusan upaya-upaya konkrit dalam melakukan revitalisasi perbenihan, utamanya tanaman pangan. Kebijakankebijakan di bidang perbenihan masih perlu diharmonisasi dan diarahkan untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya industri perbenihan nasional. Kebijakan bantuan langsung benih unggul (BLBU) yang sudah dilaksanakan selama empat tahun terakhir ini perlu dievaluasi efektivitasnya. BLBU perlu direvitalisasi agar mampu meningkatkan produktivitas dan pergiliran varietas melalui penggantian varietas, mampu meningkatkan indeks pertanaman melalui penggunaan varietas unggul umur genjah, mampu mendorong industri/penangkar benih setempat sehingga mandiri benih, tidak menjadikan petani bergantung pada bantuan benih, dan khusus untuk padi hibrida diutamakan benih yang diproduksi di dalam negeri. Reformasi dan revitalisasi juga harus dilakukan pada kelembagaan perbenihan nasional, utamanya Badan Benih Nasional (BBN) yang struktur, keanggotaan, tugas, dan perannya, yang saat ini tidak lagi sesuai.
Pencegahan Infeksi A. flavus dan Kontaminasi Aflatoksin pada Kacang Tanah Astanto Kasno
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jamur A. flavus sebagai penghasil aflatoksin yang berbahaya bagi kesehatan manusia, mamalia, unggas, dan menjadi penghambat nontarif dalam perdagangan kacang tanah di pasar internasional perlu dicegah. Gangguan jamur ini pada kesehatan manusia biasanya dengan gejala mual dan pusing, dan pada tahap lanjut berupa kanker hati. Pencegahan infeksi jamur dan produksi aflatoksin perlu dimulai sejak kegiatan prapanen mengingat penggunaan varietas tahan belum dapat dilakukan. Oleh karena itu, hal yang perlu dilakukan adalah mengendalikan penyakit daun, pemberian hara yang cukup, terutama Ca, menghindari tanaman kacang tanah tercekam kekeringan pada umur 3-6 minggu sebelum panen. Pencegahan infeksi jamur pada kegiatan pascapanen dilakukan adalah panen pada kondisi cuaca baik, polong segera dipetik, menyingkirkan polong muda dan polong rusak, dan polong segar siap dipasarkan maksimal 24 jam setelah dipanen. Jika penjualan kacang tanah terpaksa ditunda, maka polong segera dikeringkan hingga kadar air biji kurang dari 9%, disimpan pada wadah kedap udara dalam ruangan bersih dengan ventilisi baik.
Pencitraan Ubikayu sebagai Sumber Karbohidrat untuk Diversifikasi Pangan Nani Zuraida
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 1 (2010): Juli 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahan pangan pokok bangsa Indonesia yang terdominasi oleh satu komoditas utama beras, dinilai kurang menjamin keberlanjutan ketahanan pangan nasional, karena produksi beras nasional tidak selalu terus dapat ditingkatkan. Ketersediaan ubikayu yang kaya energi dan lebih mudah diproduksi dibandingkan beras perlu digalakkan pemanfaatannya sebagai bahan pangan pokok alternatif, sehingga bersifat substitutif terhadap konsumsi beras. Produk olahan kue basah, mie, kue kering, biskuit, kerupuk dan sejenisnya menggunakan bahan berasal dari ubikayu yang jumlahnya cukup besar, tetapi tidak dapat secara nyata menjadi substitusi terhadap konsumsi beras. Oleh karena itu, usahatani ubikayu harus dibagi menjadi dua fungsi, yaitu menyediakan bahan baku industri, termasuk industri pakan ternak, dan menyediakan bahan pangan pokok berasal dari umbi segar. Agar ubikayu diterima sebagai bahan pangan pokok altenatif, perlu peningkatan citra olahan ubikayu menjadi makanan yang modern dan bergengsi tinggi. Contoh produk olahan bercitra tinggi antara lain adalah mashed cassava atau kasava tumbuk mentega (kastumen), singkong goreng keju (singgorju) dan singkong kukus berbumbu (singkubu). Jenis olahan ubikayu tersebut perlu diperkenalkan melalui restoran, pesta diner formal, restoran-hotel, restoran cepat saji, dan masyarakat kelas atas, agar ditiru oleh masyarakat menengah ke bawah.Penyediaan varietas unggul ubikayu yang bermutu olah tinggi perlu digalakkan agar pilihan varietas lebih banyak. Pada waktu sekarang tersedia varietas Valenca, Adira 1, Malang 1, dan Malang 2, yang dapat dianjurkan sebagai food cassava atau ubikayu untuk pangan. Citra ubikayu perlu disejajarkan dengan kentang, gandum, beras, jagung, dan semua jenis tanaman, karena kedudukannya sama dihadapkan Sang Maha Pencipta.
Perbaikan Ketahanan Kedelai terhadap Hama Ulat Grayak Titik Sundari; Paramita Sari
Iptek Tanaman Pangan Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Armyworm (Spodoptera litura) is a major pest on soybean. Severe attack of this pest could cause 100% leaf defoliation and harvest failure. Soybean resistant to armyworm follows antibiosis and antixenosis mechanism. Antibiosis resistance was induced by certain chemical substances in the parts of plant that disturbed the physiological and biological processes of pest. Antixenosis resistance was a mechanism by plant morphological barrier that could affect the behavior of pests, such as leaf morphology, especially related to the pubescense density. The availability of soybean variety resistant to armyworm was expected to reduce the use of insecticides and to minimize the harvest failure. Soybean variety resistant to armyworm would be possible to be developed considering the source of genes for resistance had been identified, such as variety Sodendaizu, Himeshirazu, IAC-100, IAC-80-596-2, Bay, and W / 80-2-4- 20. An effective and efficient breeding method had also been available, through repeated backcrosses assisted by DNA markers as selection indicator. IAC-100/Kaba-G-80, IAC-100/Kaba-G-67, IAC-100/Burangrang-P-95, IAC-100/Kaba-G-47, and IAC-100/Burangrang-G-119 were reported as promising lines, having moderately resistance to resistance to the pest, each line derived from the progenies of crossbreeding using IAC 100 as parent.
Anomali Iklim: Faktor Penyebab, Karakteristik, dan Antisipasinya Gatot Irianto; Suciantini Suciantini
Iptek Tanaman Pangan Vol 1, No 2 (2006): November 2006
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara harafiah, anomali iklim adalah pergeseran musim dari rata-rata normalnya. Empat faktor dominan penyebab anomali iklim adalah SST NINO, arah angin, beda tekanan udara permukaan di Darwin dan Tahiti, serta Indian Ocean Dipole. Ada tiga pola hujan di Indonesia, yaitu pola monsunal, pola ekuatorial, dan pola lokal. Wilayah dengan pola monsunal paling terpengaruh anomali iklim dan sebagian besar sentra padi di Indonesia berada di wilayah ini. Dengan demikian, kejadian ini perlu diprediksi untuk menekan kerugian. Dalam antisipasi anomali iklim, diperlukan langkah-langkah strategis seperti: mengefektifkan informasi prakiraan iklim dan teknik menghadapinya, memanfaatkan peta wilayah rawan kekeringan, menganalisis pergeseran musim, menganalisis neraca air wilayah dan indeks kecukupan air dan saat tanam yang tepat, menampung air hujan untuk mengisi cadangan air tanah, membudidayakan komoditas berumur pendek dan tahan kekeringan, mempercepat tanam, memanfaatkan sistem gogorancah, pompanisasi di daerah-daerah dengan cadangan air tanah, memperbaiki efektivitas saluran irigasi dan embung/bendungan, meningkatkan daya dukung daerah hulu aliran sungai, memantau dan mengevaluasi daya tampung waduk, memanfaatkan mulsa in-situ untuk menekan evaporasi. Antisipasi lebih diperlukan untuk menghadapi El-NiÒo karena bencana yang ditimbulkannya lebih serius daripada La-NiÒa. Penurunan hujan akibat El-NiÒo dapat mencapai 80 mm/bulan; sementara peningkatan hujan akibat La-NiÒa tidak lebih dari 40 mm/bulan, itu pun dapat untuk perluasan areal tanam. Langkah-langkah operasional kelembagaan yang dapat dilakukan antara lain: (1) kebijakan pembagian tugas lintas instansi yang terkait dengan efektivitas organisasi, pendanaan, prioritas penanggulangan, perbaikan, dan pemilihan teknologi penanggulangan, (2) intensifikasi koordinasi dan meningkatkan kemampuan tim penanggulangan di beberapa propinsi yang rawan kekeringan, (3) penyebarluasan informasi prakiraan iklim dalam periode tertentu, dan (4) perluasan kawasan konservasi air di tiap kecamatan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota.
Konsep Pelestarian Sumber Daya Lahan Pertanian dan Kebutuhan Teknologi Sumarno Sumarno
Iptek Tanaman Pangan Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Agricultural lands in Indonesia mostly consist of sloping lands, which succumb to rapid degradation. Agricultural land conservation is defined as: “A total land management system, including a productive and profitable farming operation, integrated with all actions of conservation, preservation and improvement the quality of agricultural lands, coupled with the ecological quality maintenance, to obtain a sustainable production system (TAC 1988). Conservation of agricultural land should meet the following criteria (TAC 1988, Havener 1989): (1) As an integral part of crop production technology and farming system; (2) building farmers’ awareness based on the knowledge, usefulness and advantages of the conservation; (3) applying proper and effective technology in a continuous manner; (4) involving soil-water conservation extension personel; (5) providing a technology demonstration in a form of conservation model; (6) avaiable a reliable handbook easily read by extension workers and by farmers. Extension program for soil and water conservation on agricultural lands becomes an important need in Indonesia, due to the following reasons: (1) degradation of the agricultural lands had occured in all agroecological system; (2) high monsoon rainfall damaging the agricultural resources; (3) agricultural lands mostly situated on the sloping and hilly areas; (4) rapid water flow and relatively short rivers affected high degree of soil erosion; (5) intensive cropping in all year round renders soil susceptible to surface erosion; (6) water absorbtion capacity in the upper water catchment area is low and the top soil is shallow, resulting in erosion and flood; (7) proportion of permanent forest to total land area is small due to the high population density; (8) proportion of poor farmers is high, affecting on exploitative farming practices. The main actors on soil and water conservation are farmers, therefore conservation must be integrated into farming operations. Training on social and technical aspects of soil conservation must be given to the extension agents, so that they are able to develop material for the extension to farmers based on the local needs. Neglecting the extension program on agricultural land-conservation, implying that the government has intentionaly abandon the need on sustainable agriculture for the future generations.