cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Iptek Tanaman Pangan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
Patosistem, Strategi, dan Komponen Teknologi Pengendalian Tungro pada Tanaman Padi Muhsin, Muhammad; Widiarta, I Nyoman
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tungro merupakan penyakit padi yang kompleks ditinjau dari segi virus penyebabnya, hubungan virus-vektor-inang, maupun timbul atau kejadian penularan di lapang. Penyakit ini merupakan hasil interaksi virus batang tungro padi (VBTP) dan virus sferikal tungro padi (VSTP). Sinergi kedua virus itu menghasilkan gejala penyakit tungro yang lebih parah jika dibandingkan dengan infeksi tunggal VBTP yang menginduksi gejala tungro yang lebih ringan atau infeksi VSTP yang tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman inangnya. Penularan VBTP dan VSTP oleh wereng hijau, Nephotettix virescens, dengan cara yang semi-persisten memberikan indikasi bahwa keberadaan kedua virus itu hanya menempel pada kutikula dari alat mulut vektornya. Virus-virus tersebut bersifat eksternal dan nonsirkulatif. Interaksi kedua jenis virus berlanjut dalam bentuk bantuan penularan vektor oleh VSTP untuk VBTP, karena VBTP sendiri tidak dapat secara langsung ditularkan oleh vektor. Berdasarkan pemahaman patosistem, dinamika populasi wereng hijau dan epidemiologi dapat disusun strategi pengendalian meliputi: (1) menghindari infeksi berdasarkan periode peka tanaman padi, (2) eliminasi peran virus helper, dan (3) menekan pemencaran vektor untuk menekan penyebaran virus. Beberapa teknik pengendalian selain penggunaan varietas tahan virus juga telah dikembangkan, di beberapa daerah telah berhasil diimplementasikan, seperti waktu tanam serempak, tanam sebelum puncak populasi vektor yang dapat dibaca berkaitan dengan puncak curah hujan, dan pergiliran tanam beberapa tipe varietas tahan vektor. Pengembangan teknik pengendalian ke depan perlu lebih memperhatikan dinamika populasi strain virus dan biotipe vektor tungro.
Karakteristik Varietas Unggul Kacang Tanah dan Adopsinya oleh Petani Kasno, Astanto; Harnowo, Didik
Iptek Tanaman Pangan Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Improved variety of peanut has an important role as a component technology in the production improvement program. However, the adoption of improved varieties of peanuts is still lack behind, when to be compared with those of rice or hybrid maize. Adaptive local varieties of peanut are still dominating the crop area, although improved varieties have higher productivity, mature earlier, and tolerant to some biotic and abiotic stresses. Out of 34 officially released varieties, consisting of 26 spanish type and 8 valencia type, only a few are popular to peanut farmers. Relatively old varieties, namely Gajah (released in 1950) and Kelinci (released in 1986) are more accepted by farmers compare to the newly released varieties. Approximately 50 percent of the peanut crop area are planted with local varieties. Seed unavailability and high seed price during the planting time seems to be the factors causing the slow of new variety adoption, coupled with the lack of information regarding new varieties from the extension agent to farmers. Very low seed multiplication rate (10 kg of seed obtained from 1 kg seed planted) and rapid loss of seed germination, has discouraged seed producers from providing peanut seed to farmers. Preference for kernel characteristics among user (industries, consumers, traders, farmers) need to be elucidated to match the characters of improved varieties to be developed through the breeding program. The capacity of providing breeder seed (BS) by the Indonesian Legumes and Tuber Crops Research Institute (ILETRI) was only about 15% of the total required, needs to be improved. To back up the existing seed movement among fields and seasons, peanut estate needs to be developed, especially in the peanut production centres. Concerted efforts involving farmers group, agricultural services, extension agent and traders, are required to push peanut productivity.
Analisis Sosial-Budaya Pengembangan Padi di Merauke Widjono, Adi
Iptek Tanaman Pangan Vol 1, No 1 (2006): Juli 2006
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Merauke mempunyai potensi alam dan ekonomi amat besar untuk dikembangkan sebagai salah satu sentra produksi beras nasional. Tetapi karena padi bukan komoditas asli Merauke, pengembangan itu menghadapi risiko sosial budaya.Budaya asli Papua, termasuk Merauke, sangat kompleks, masih sangat kuat, dan umumnya kurang difahami para pembuat kebijakan dan penduduk pendatang.Saat ini masyarakat asli Papua tertarik untuk ikut membudidayakan padi, mungkin disebabkan karena padi tidak terikat oleh adat dan secara ekonomis lebih menguntungkan daripada komoditas tradisional. Tetapi, dalam jangka panjang, pengabaian komoditas tradisional mungkin akan dipersepsikan sebagai perusakan identitas budaya asli. Hal itu dapat menimbulkan beban psikis budaya padamasyarakat asli dan beban politik nasional pada pemerintah. Pengembangan komoditas tradisional bersama dengan padi akan memperkuat diversifikasi pangan dan daya saing pertanian Merauke. Padi layak dikembangkan secara optimal di Merauke dengan memperhatikan budaya asli. Berbagai komoditas tradisional dan komoditas berpotensi lain perlu ikut dikembangkan secara seimbang. Untuk pengembangan daya saing masyarakat asli, mendatangkan tenaga terampil dari luar Merauke untuk sementara sebaiknya dihindarkan. Sistem penyuluhan yang besar, sistematis, dan terencana diperlukan terutama untuk kulturasi masyarakat asli pada budidaya padi. Penyuluhan harus berfungsi sebagai jembatan informasi dua-arah, sebagai katalisator kesaling-mengertian antara masyarakat tani dan, khususnya, pemerintah. Sejumlah besar penyuluh bermutu tinggi akan diperlukan. Di samping untuk meningkatkan produktivitas petani padi yang telah ada, penyuluhan harus mampu menyadarkan dan memberdayakan masyarakat asli. Di fihak lain, sosialisasi kepada masyarakat pendatang diperlukan untuk lebih memahami dan menghargai budaya asli. Berbagai sektor dan subsektor harus dikembangkan secara simultan, seperti sarana transportasi, sistem tata niaga, industri pasca panen, dsb.
Transformasi Sistem Produksi Tanaman Pangan Menjadi Tanaman Tahunan di Lahan Kering: Ancaman bagi Keamanan Pangan Sudaryono, Sudaryono; Hastuti, P. C.
Iptek Tanaman Pangan Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformation of annual to perennial crop production system in sub optimal dry land. Agricultural land resources as media for annual-perennial crops production system are the main backbone of the biological industry. Proportion and management of annual-perennial crops to be part of integrated system can not be separated in the system of food crop production supply. All crop products are useful to consumers and market segments. In other word, all harvested produces have economic values. In a high productive farm lands with small erosion and less land degradation, the sustainability of such land is maintained. However, on sub-optimum dry lands the degree of erosion tends to be higher and land degradation accours rapidly, if it is not properly managed. Intensive crop rotation of annual crops may result in nutrient depletion, soil erosion and unsustainability of crop production. Planting perennial crop in a mixture with annual crop produces better canopy coverage to the soil surface which leads to the reducing of soil erosion, and hence, better soil conservation for sustainable production. The proper portion of perennial to annual crops on such land should be considered, so as to maintain the sufficient food crop production for the people in the area. Thus, farm management on a fragile lands should considered both food sufficiency and production sustainability.
Pengembangan Agroindustri Bahan Pangan untuk Peningkatan Nilai Tambah melalui Transformasi Kelembagaan di Pedesaan Elizabeth, Roosganda
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 1 (2010): Juli 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tepung merupakan salah satu bentuk hasil olahan primer yang dibutuhkan oleh industri berbagai jenis makanan. Tepung kasava berpeluang memiliki daya saing tinggi sebagai bahan substitusi tepung terigu. Pengembangan teknologi pengolahan tepung merupakan penunjang pengembangan agroindustri bahan pangan di pedesaan, yang memerlukan teknologi inovatif pascapanen. Berbagai aspek dan simpul kritis kelembagaan perlu diperhatikan dalam proses transformasi kelembagaan tradisional, dalam rangka mendukung pengembangan agroindustri bahan pangan di pedesaan dan meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Pengembangan agroindustri perlu terkait dengan keberhasilan produksi pertanian, keragaman dan tingkat permintaan pasar, disertai oleh kelengkapan regulasi dan peraturan yang berpihak pada petani produsen bahan baku. Dengan perbaikan dan pengembangan teknologi pengolahan, kualitas tepung yang komparatif dan berdaya saing tinggi dapat dicapai. Di samping perbandingan harga yang relatif lebih rendah, berbagai aspek terkait dengan kualitas tepung kasava sebagai substitusi tepung terigu perlu distandardisasi. Pengembangan kelembagaan ketenagakerjaan dalam bentuk pembinaan dan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan SDM dalam pembuatan produk olahan sangat dibutuhkan dalam mendukung pengembangan agroindustri di pedesaan.
Teknologi Revolusi Hijau Lestari untuk Ketahanan Pangan Nasional di Masa Depan Sumarno, Sumarno
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 2 (2007): September 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertanian tanaman pangan di Indonesia sampai dengan tahun 1960 praktis menggunakan teknologi dengan masukan organik berasal dari sumber daya setempat. Varietas lokal dan varietas unggul tipe lama seluas 6,5-7,0 juta ha hanya mampu memroduksi beras antara 7,5-8,0 juta ton per tahun. Impor beras sudah terjadi sejak awal kemerdekaan yang pada tahun 1961 mencapai satu juta ton lebih dan tendensinya terus meningkat. Pertanian sejak tahun 1970 menerapkan teknologi îRevolusi Hijauî, dengan komponen utamanya varietas unggul tipe baru, pupuk dan pestisida sintetis, serta didukung oleh ketersediaan air irigasi yang cukup. Produksi beras sejak 1970 naik secara linier, sehingga dapat menembus 30 juta ton mulai tahun 1995, dan masih terus meningkat hingga kini. Kekhawatiran akan terjadinya kemunduran mutu lingkungan, kelestarian keragaman hayati dan keberlanjutan sistem produksi ditanggapi oleh segolongan masyarakat dengan mengadvokasi kembali ke teknik pertanian masukan organik dan menanam varietas lokal. Apabila gerakan ini menjadi trend nasional, diperkirakan akan mengancam ketahanan pangan nasional di masa depan. Teknologi Revolusi Hijau Lestari (TRHL) merupakan penyempurnaan teknologi revolusi hijau tahun 1970-2000, memperhatikan sembilan komponen sebagai berikut: (1) penataan pola dan pergiliran tanam, (2) penanaman multi varietas adaptif spesifik lokasi dan musim, (3) penyiapan lahan secara optimal, (4) pengayaan bahan organik dan mikroba dalam tanah, (5) penyehatan ekologi dan wilayah hidrologi alamiah setempat, (6) penyediaan hara optimal bagi tanaman berdasarkan status hara dalam tanah dan target produksi, (7) pengendalian OPT secara ekologis-efektif, (8) penyediaan, pemeliharaan, dan pemanfaatan sumber air secara efektif- efisien, dan (9) peningkatan pengetahuan dan kesadaran petani terhadap kelestarian sumber daya, lingkungan, dan keberlanjutan produksi pertanian. Dengan semakin bertambahnya penduduk Indonesia, tidak ada pilihan lain kecuali menjadikan teknologi Revolusi Hijau lebih ramah lingkungan dengan menerapkan Teknologi Revolusi Hijau Lestariî dalam sistem produksi padi.
Revitalisasi Pemupukan Padi Sawah Berbasis Lingkungan Erythrina, Erythrina; Zaini, Zulkifli
Iptek Tanaman Pangan Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

IAARD in the Ministry of Agriculture has produced a wide range of technology for site specific nutrient management (SSNM), in form of soil-test kit equipment and software. This paper presents the concept of revitalization the system and direction for an efficient fertilization usage. A more rational use of fertilizers based on a specific locational need is expected in the long term to reduce the amount of fertilizer subsidies, without reducing the rice production. The effect of SSNM had been shown to give opportunities for yield increases per unit of fertilizer, to reduce loss of fertilizer, to improve agronomic efficiency and at the same time had positive influence on the environment. SSNM could be used to develop plan for fertilizer requirement per farmers’ group (RDKK) which in reality was often not compiled by field extension in accordance with the area of land and fertilizer needs. Inaccurate RDKK preparation had been causing problem on the distribution of subsidized fertilizer, because it was often showing an overestimate of the amount of fertilizer needed, as compared with the availability of fertilizer. Funds allocated for the preparation of RDKK could be routed to the procurement of hardware such as computers and to train the agricultural extension workers in each Agricultural Extension Center in Indonesia, to be able to access the website-specific nutrient fertilization through the internet. Assessment Institute of Agricultural Technology located in every province could facilitate this technology transfer process. 
Potensi Padi Liar sebagai Sumber Genetik dalam Pemuliaan Padi Abdullah, Buang
Iptek Tanaman Pangan Vol 1, No 2 (2006): November 2006
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketersediaan dan keragaman sumber daya genetik merupakan faktor penting dalam perakitan varietas unggul dengan sifat-sifat yang diinginkan. Sumber genetik padi dapat digolongkan menjadi tiga: (1) sumber gen utama (primary gene pool), yang terdiri atas varietas unggul, lokal, dan keturunannya, (2) sumber gen kedua (secondary gene pool), terdiri atas spesies liar dari genom yang sama; dan (3) sumber gen ketiga (tertiary gene pool) teridiri dari spesies liar dengan genom yang berbeda. Dalam perakitan varietas unggul selama ini baru memanfaatkan sumber gen utama. Sumber gen kedua dan ketiga yang merupakan spesies liar belum digunakan dengan baik. Padi liar (Oryza spp.) mempunyai 21 spesies berupa tanaman diploid (2n = 24) dan tetraploid (2n = 48) dengan 10 macam genom (AA, BB, CC, EE, FF, BBCC, CCDD, GG, HHJJ, HHKK), yang merupakan sumber gen yang potensial untuk digunakan dalam program pemuliaan padi. Beberapa spesies telah diketahui mempunyai sifat gen tahan terhadap cekaman biotik dan abiotik. Namun persilangan antara spesies padi liar dengan padi budi daya mempunyai banyak hambatan, seperti aborsi embrio, sterilitas, tidak berpasangannya kromosom dari kedua spesies, dan lethalitas. Oleh karena itu diperlukan teknik khusus untuk mentransfer atau mengintrogresi gen-gen yang diinginkan dari spesies liar. Kemajuan bioteknologi menghasilkan inovasi teknologi yang dapat mempermudah introgresi gen spesies liar ke dalam padi budi daya. Dengan mengkombinasikan teknik bioteknologi dengan cara konvensional, seperti kultur embrio, silang balik, dan teknik deteksi dengan citologi, markah isozim, dan molekuler; pelaksanaan introgresi dan deteksi gen-gen tersebut dapat lebih mudah, cepat, dan akurat. Beberapa gen tahan telah berhasil diintrogresikan ke dalam padi budi daya, antara lain gen tahan penyakit virus kerdil rumput (grassystunt virus) dari O. nivara; tahan hawar daun bakteri dari O. longistaminata dan O. minuta, dan tahan blas dari O. rufipogon dan O. minuta; gen tahan wereng coklat ditransfer dari O. officinalis dan O. australiensis. Beberapa gen introgresi yang telah diketahui markah molekuler dan sekuen basanya dipetakan dalam kromosom, dan digabungkan dalam satu ketahanan (pyramiding genes), sebagai contoh Xa21 dari O. longistaminata. Gen introgresi yang sangat fenomenal dampaknya adalah gen tahan penyakit kerdil rumput dari O. nivara. Setelah dilepas, varietas IR32 yang mengandung gen-gen tersebut belum pernah dilaporkan tertular penyakit tersebut.
Varietas Unggul Baru Padi untuk Mengantisipasi Ledakan Penyakit Tungro Ladja, Fausiah T.; Widiarta, I Nyoman
Iptek Tanaman Pangan Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rice tungro disease is an important disease of rice, caused by viruses, transmitted by green leafhopper. Tungro virus infection reduces rice yield up to 90%. If the plants were infected in the vegetative stage it might caused total loss. Tungro is endemic in South Sulawesi, Bali, West Java and Central Java. The outbreak might occur due to the effect of climate changes, either directly or indirectly. Higher temperatures shortens the life cycles of the insect vector and also fastens virus development. Presently, the chances of tungro disease spread to become an outbreaks are increasing. The use of resistant varieties is an alternative to control tungro disease. Resistant varieties can be categorized into green leafhoppers resistant, and virus resistant. In Indonesia, four green leafhoppers resistance genes had been used in breeding for green leafhoppers resistance, namely Glh 1, glh 4, Glh 5, and Glh 6, while recently virus resistant parent such Balimau Putih, Utri Merah, and TKM6 had been used to breed virus resistant varieties to anticipate the outbreaks of tungro disease as a result of climate changes. The newly released tungro virus resistant varieties, were: Tukad Unda, Tukad Balian, Tukad Petanu, Kalimas, Bondoyudo, Inpari 7 Lanrang, Inpari 8, and 9 Inpari Elo. Hybrid rice varieties named HiPa-3 and HiPa-4 were also reported as resistant to tungro virus. Rotational planting of green leafhopper resistant varieties could no longer be recommended in areas where green leafhopper populations had adapted to all classes of varities. Therefore the recommendation of the use of resistant varieties should be based on the varietal suitability map to the green leafhopper biotype, as well as to the virus strain.
Penyediaan Ubijalar yang Sesuai untuk Diversifikasi Pangan Pokok Zuraida, Nani
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ubijalar sebagai bahan pangan pokok alternatif relatif mudah diproduksi. Penggunaannya sebagai bahan divertifikasi pangan pokok di masyarakat terhambat oleh faktor psikologis, yang memposisikan ubijalar sebagai pangan murah bagi masyarakat lapisan bawah. Di negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat, ubijalar memiliki status yang tinggi sebagai alternatif pangan pokok menggantikan kentang. Pemasyarakatan ubijalar sebagai pengganti nasi (beras) di Indonesia harus dilakukan dengan menaikkan citra dan gengsi ubijalar di masyarakat. Makanan olahan seperti mashed sweetpotato, baked sweetpotato, fried sweet potato with sesame seed and honey, sweet potato pie dessert, dan vacuum fried sweet potato snack sangat mungkin dipromosikan kepada masyarakat lapisan atas dan menengah, yang berfungsi menggantikan pangan nasi (beras). Varietas dan klon ubijalar yang sesuai untuk produk pengolahan tersebut telah tersedia. Diperlukan sosialisasi dan contoh tindakan oleh pejabat secara konsisten, agar divertifikasi pangan menggunakan ubijalar dapat terlaksana, dan dimulai dari masyarakat lapisan atas dan menengah.

Page 7 of 19 | Total Record : 189