cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Iptek Tanaman Pangan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
Sistem Integrasi Padi-Sapi Potong di Lahan Sawah Ruli Basuni; Muladno Muladno; Cecep Kusmana; Suryahadi Suryahadi
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 1 (2010): Juli 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem integrasi padi-ternak merupakan salah satu upaya meningkatkan pendapatan petani, melalui peningkatan produksi padi yang diintegrasikan secara sinergis dengan pemeliharaan ternak sapi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan usahatani sapi yang diintegrasikan dengan tanaman padi berbasis inovasi teknologi terhadap pendapatan petani. Pola integrasinya adalah memanfaatkan jerami padi untuk pakan sapi dan kotoran sapi untuk pupuk tanaman. Paket teknologi yang diintroduksikan yaitu: budi daya padi anjuran, penggemukan sapi, pengolahan kotoran ternak untuk pupuk organik, dan jerami fermentasi untuk pakan. Materi yang digunakan yaitu sapi dan luasan padi sawah 5 ha. Petani dibedakan atas 2 kelompok yaitu 20 petani peserta pola integrasi dan 10 petani reguler (tradisional). Dari penelitian dihasilkan kenaikkan produksi menjadi 5,34 t/ha GKG, meningkat 16% dibandingkan pola petani tradisional, yang hanya 4,60 t/ha GKG. Penggunaan pupuk urea menurun menjadi 100 kg/ha (71%), pupuk SP36 menurun 50 kg/ha (50%) dan KCl menjadi 50 kg/ha (50%). Tambahan bobot hidup sapi rata-rata 0,89 kg/ekor/hari dan C/N ratio jerami yang dikomposkan 19%. Pendapatan usahatani integrasi padi per hektar dan 2 ekor sapi mencapai Rp 9.417.907 dengan R/C ratio 1,61. Pupuk organik yang dihasilkan rata-rata 5 kg/ekor/hari serta jerami padi 13 t/ha/musim, C/N ratio pupuk organik 19%. Kontribusi tambahan penerimaan dari fine compost selama setahun sebesar 9,7% dari total pendapatan usahatani. Pendapatan dari usahatani padi (5 ha) dan sapi (20 ekor) dengan cara integrasi masing-masing sebesar Rp 24.867.500 dan Rp 60.675.333 per musim. Nilai R/C yang dihasilkan sistem integrasi sebesar 1,44 sedang dari petani tradisional 1,33. Sistem usahatani integrasi dengan skala padi seluas 5 ha dan sapi 20 ekor meningkatkan pendapatan sebesar 69% per musim, dibanding usahatani tradisional. Sistem usahatani integrasi-padi-ternak perlu dikembangkan pada usahatani skala kecil untuk meningkatkan pendapatan petani.
Strategi Pencapaian Swasembada Kedelai melalui Perluasan Areal Tanam di Lahan Kering Masam Harsono, Arief
Iptek Tanaman Pangan Vol 3, No 2 (2008): Oktober 2008
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produksi kedelai di Indonesia mencapai puncaknya pada tahun 1995 dengan luas panen 1,48 juta ha dan produksi 1,52 juta ton. Setelah itu luas panen terus menurun dan pada tahun 2007 tinggal 31% dengan produksi hanya 592 ribu ton.Kebutuhan kedelai untuk konsumsi dalam negeri pada tahun 2007 mencapai 1,94 juta ton, sehingga kekurangannya harus dipenuhi melalui impor cukup banyak. Pada tahun 2020, penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 278 juta jiwa dan konsumsi kedelai per kapita 9,46 kg/tahun, sehingga dibutuhkan 2,6 juta ton kedelai. Apabila produktivitas nasional kedelai 1,3 t/ha, untuk memenuhi kebutuhan kedelai pada tahun 2020 diperlukan areal tanam 2,0 juta ha. Areal panen kedelai di Indonesia pada tahun tersebut apabila tidak ada program khusus yang direspon petani hanya akan mencapai 500 ribu ha. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri diperlukan perluasan areal tanam yang cukup besar. Di Indonesia terdapat lahan kering masam yang cukup luas dan potensial dikembangkan untuk usahatani kedelai. Di Lampung, misalnya, tersedia lahan sekitar 164 ribu ha, namun kedelai harus bersaing dengan ubi kayu yang pangsa pasarnya sudah terjamin atau bersaing dengan jagung atau padi gogo. Untuk itu, agar kedelai dapat berkembang dan tidak terjadi kompetisi penggunaan lahan, sebaiknya diterapkan pola tanam tumpang sari ubi kayu baris ganda jagung atau padi gogo-kedelai, jagung-kedelai monokultur atau padi gogokedelai monokultur. Agar kedelai dapat memberikan hasil yang memadai di lahan masam perlu digunakan varietas toleran tanah masam, pemberian amelioran berupa dolomit dan pupuk kandang serta pemupukan NPK. Dengan teknologi tersebut, kedelai yang ditanam secara monokultur di lahan kering masam dapat memberi hasil sekitar 2,0 t/ha dan yang diusahakan secara tumpangasari 1,0 t/ha. Untuk dapat berkembang baik di lahan kering masam, kedelai juga memerlukan perbaikan harga dan sistem agribisnis kedelai, mulai dari hulu (penyediaan sarana produksi dan alsintan) hingga hilir (pengelolaan pascapanen dan tata niaga kedelai).
Pengendalian Hama Terpadu: Pendekatan dalam Mewujudkan Pertanian Organik Rasional Arifin, Muhammad
Iptek Tanaman Pangan Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In a strict organic farming, cultivation techniques rely on natural organic inputs, avoiding the use of synthetic chemicals, such as inorganic fertilizers and chemical pesticides. To implement such farming techniques many problems are faced by farmers such as in obtaining land which had not been contaminated by chemicals. Newly opened lands which are isolated from intensively cultivated area are very vulnerable to pests and diseases. Therefore, to attain food self-sufficiency, the right choice could be a rational organic farming applying Integrated Pest Management (IPM) approach. The rational organic farming allows the use of inorganic fertilizers along with the organic fertilizers in a balanced manner, and rational use of synthetic chemical pesticides as needed, based on food safety and ecology. The challenge is how to motivate farmers to produce organic fertilizers, biopesticides, and then to apply it in a system of rational organic farming.
Status Hama Kedelai dan Musuh Alami pada Agroekosistem Lahan Kering Masam Lampung Tengkano, Wedanimbi; Supriyatin, Supriyatin; Suharsono, Suharsono; Bedjo, Bedjo; Prayogo, Yusmani; Purwantoro, Purwantoro
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Usaha peningkatan produksi kedelai melalui perluasan areal tanam pada lahan kering masam dinilai cukup prospektif. Untuk menunjang pengembangan kedelai pada lahan kering masam, telah dilakukan survei hama kedelai dan musuh alaminya di beberapa daerah di Propinsi Lampung pada tahun 2003. Hasil survei menunjukkan bahwa semua jenis hama utama kedelai, kecuali kumbang daun, ditemukan di Lampung dengan status kelimpahan populasi dengan daerah penyebaran yang berbeda. Hama kedelai yang berstatus sangat penting adalah Riptortus linearis, Nezara viridula, dan Piezodorus hybneri. Hama kedelai yang berstatus penting adalah Etiella zinckenella, Helicoverpa armigera, Spodoptera litura, Bemisia tabaci, Aphis glycines, dan Ophiomyia phaseoli. Hama kedelai lainnya adalah Aphis craccivora, Chrysodeixis chalcites, Lamprosema indicata, Riptortus sp., dan Plautia affinis. Ditemukan dua jenis serangga vektor virus, yaitu A. glycines dan B. tabaci. Hama yang memiliki daerah penyebaran yang sangat luas adalah R. linearis, kemudian diikuti oleh S. litura, N. viridula, L. indicata, B.tabaci, dan E. zinckenella. Musuh alami yang ditemukan adalah predator, parasitoid, dan patogen. Predator ditemukan 24 jenis, parasitoid teridentifikasi 14 jenis, dan patogen dua jenis yaitu NPV dan cendawan entomopatogen. Untuk pengembangan kedelai di Propinsi Lampung perlu tindakan pengelolaan lingkungan secara ekologis, agar hama-hama kedelai tidak menjadi penghambat produktivitas tanaman.
Kajian Penyediaan Varietas Jagung untuk Lahan Suboptimal Sutoro, Sutoro
Iptek Tanaman Pangan Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hybrid and composite maize varieties are cultivated under different soil types in uplands and lowlands, as well as under suboptimum condition. Drought stress, acidic soil, and low fertility could be overcome by using adaptive cultural techniques coupled with planting of maize varieties which adaptive to abiotic stress. The number of maize varieties adaptive to abiotic stress was still limited, therefore development of corn hybrid and composite varieties should be done under specific environment. Maize hybrids produce more yield than do composite varieties, but composite varieties are more adaptive to less productive environments. Composite (synthetic or open pollinated) varieties are needed to increase maize production under suboptimum condition and to increase farmer’s income. Seeds of maize varieties adaptive to suboptimum condition need to be produced and distributed to farmers by involving seed growers and farmers groups.
Varietas Unggul Jagung Bermutu Protein Tinggi H.G., M. Yasin; Syuryawati, Syuryawati; Kasim, Firdaus
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jagung berkualitas protein tinggi (QPM: Quality Protein Maize) adalah jenis jagung khusus yang mengandung dua asam amino penting yakni lisin dan triptofan yang lebih tinggi sekitar dua kali jagung biasa. Ditemukan oleh Linn Bates pada tahun 1962, kini jagung QPM dimanfaatkan meningkatkan kesehatan tubuh dan kualitas pakan. Varietas QPM yang pertama kali dilepas di Indonesia adalah Srikandi Kuning-1 dan Srikandi Putih-1 dengan produktivitas 7,0 t/ha. Lisin dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, membantu serapan kalsium dan keseimbangan tubuh agar tidak berlemak, dapat menghasilkan antibodi, hormon, enzim, dan dapat mencegah penyakit cold sore dari virus herpes. Triptofan berperan dalam perkembangan otak anak balita, membantu proses autostimulasi pada perkembangan anak agar menjadi cerdas. Lisin dan triptofan tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga harus disuplai dalam bentuk makanan. Balitsereal telah menyebarkan benih jagung QPM kelas BS (breeder seeds) untuk luasan 718 ha sejak pelepasan Srikandi Kuning-1 dan Srikandi Putih-1. Pemulia jagung Balitserteal kini dapat mengkonversi jagung biasa (non-QPM) menjadi jagung QPM dengan metode silang balik (back cross), melalui introgresi gen o-2 dari materi jagung QPM ke jagung biasa sebagai penerima gen o-2. Setelah tiga generasi silang balik (BC3F2)dapat dihasilkan varietas QPM. Balai Besar Penelitian Pascapanen Pertanian disarankan membantu pengembangan dan penyebaran jagung QPM, dengan cara diolah agar menarik dan disenangi dalam bentuk seperti roti, biskuit atau sereal. Di Meksiko jagung QPM biji putih dibuat sebagai makanan khas yang disebut tortila, chips, dan chitos. Program perakitan hibrida Balitsereal telah menghasilkan calon hibrida silang tunggal yakni (1) Mr4QxMr14Q, (2) MSQ.K1C0.14-4-2-1xMr14Q, dan (3) CML161xCML165. Ketiga hibrida silang tunggal tersebut mempunyai produktivitas 10 t/ha dengan kandungan lisin dan triptofan lebih tinggi dibanding hibrida biasa Bima-1 dan Bisi-2, kenaikan lisin mencapai 86,2% dan triptofan 140%. Target pengembangan jagung QPM diarahkan pada wilayah teridentifikasi rawan (defisiensi) protein seperti Timor, Flores, dan Sumba di NTT, Sumbawa di NTB, serta Kalimantan Tengah, Maluku, dan sebagian besar Sulawesi, termasuk Sulawesi Selatan bagian selatan (Selayar, Sinjai, dan Gowa). Manfaat lain dari jagung QPM adalah untuk meningkatkan kualitas pakan.
Penentuan Model Usahatani Tanaman Pangan pada Lahan Sawah berdasarkan Evaluasi Lahan Djaenudin, D.
Iptek Tanaman Pangan Vol 3, No 2 (2008): Oktober 2008
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan komoditas pertanian bertujuan untuk memperoleh produksi optimal secara fisik dan secara ekonomi menguntungkan. Oleh karena itu perlu diusahakan di lahan yang paling sesuai dan memiliki peluang pasar. Evaluasi lahan secara ekonomi dilakukan setelah didahului oleh evaluasi lahan secara fisik, yang dilengkapi oleh data agronomi dan sosial-ekonomi dari petani responden melalui pendekatan PRA dan RRA. Dalam melaksanakan evaluasi lahan secara fisik dan ekonomi, skala usaha dan sistem produksi harus dipertimbangkan. Hasil panen yang diperhitungkan tidak hanya produk utama, tetapi juga hasil ikutannya selama masih laku dijual. Hasil evaluasi lahan secara ekonomi bersifat kondisional, karena bergantung pada situasi dan peluang pasar yang sewaktu-waktu dapat berubah. Sistem pertanian padi sawah dua kali tanam, dilanjutkan dengan satu kali tanam palawija, jagung atau kedelai, lebih menguntungkan dibandingkan dengan pola tanam padi tiga kali, tanpa ada waktu untuk tanam palawija, karena tanah mempunyai kesempatan untuk disegarkan dan menghindari pengurasan unsur hara tertentu.
Karakteristik Sifat Kimia dan Fisika Tanah Alfisol di Jawa Timur dan Jawa Tengah Wijanarko, Andy; Sudaryono, Sudaryono; Sutarno, Sutarno
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 2 (2007): September 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan tanah dalam jangka waktu yang lama tanpa teknik pengawetan, dapat menyebabkan penurunan kesuburan kimiawi dan fisik tanah, sehingga produktivitasnya rendah. Alfisol umumnya berada pada kondisi geografis dan agroklimat yang mendorong untuk menjadi tanah marjinal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sifat kimia dan fisika tanah Alfisol di tujuh lokasi di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH tanah Alfisol yang diamati bereaksi dari masam hingga netral, dengan kandungan C- organik rendah, P-tersedia dari sangat rendah hingga sedang, K-dd dari rendah hingga tinggi, Ca-dd dari sedang hingga sangat tinggi, Mg-dd dari sedang hingga tinggi, KTK dari sedang hingga sangat tinggi dan unsur mikro (Fe dan Zn) yang tinggi. Warna tanah Alfisol yang diamati adalah coklat kemerahan hingga merah gelap, kekuatan tanah yang relatif rendah yaitu kurang dari 3,75 kg F/cm2, struktur tanah dari butir hingga tiang dan tekstur tanah dari lempung liat berpasir hingga liat.
Perkembangan Pemuliaan Gandum di Indonesia Nur, Amin; Azrai, Muh.; Subagio, Herman; Soeranto, Soeranto; Ragapadmi, Ragapadmi; Sustiprajitno, Sustiprajitno; Trikoesoemaningtyas, Trikoesoemaningtyas
Iptek Tanaman Pangan Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

As a tropical country, Indonesia certainly is not the most suitable place for producing wheat. Wheat flour consumption however, had increased tremendously during the last three decades, that import of wheat grain in 2012 reached 7.2 million ton. Producing wheat had been attempted since 1990’s, utilizing lands at high elevation with drier climate. However, crops competition, especially with the high land vegetables, had put wheat cropping become prohibitive. As early as in 1880, G Wallace experimented of growing wheat in the high land of Timor island. However the crop was never economically established. Selection for genotypes and varieties of wheat for the tropical area had been attempted since 1980’s, and adaptable varieties to the high land had been released, but farmers did not adopt the crop on their cropping system. Breeding research to develop tropical wheat varieties was revived in 2009. By using the modern breeding techniques, including biotechnology, cellular somatic mutation, as well as applying the conventional breeding techniques, varieties adaptable to the lowland tropics are expected to be identified.
Efektivitas Penerapan Kebijakan Harga Eceran Tertinggi Urea dan Harga Gabah Pembelian Pemerintah di Beberapa Sentra Produksi Padi Sudana, Wayan
Iptek Tanaman Pangan Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Efisiensi pemasaran sarana produksi dan hasil pertanian merupakan syarat utama dalam pembangunan pertanian. Sehubungan dengan hal ini, analisis perkembangan harga pupuk, gabah, dan barang konsumsi di tingkat petani menjadi sangat penting. Pengkajian ini merupakan kerja sama antara BBP2TP dengan BPTP di 12 provinsi, meliputi 37 kabupaten dan 74 desa contoh di sentra produksi padi. Pengumpulan data dilakukan secara berkala setiap dua minggu, waktu pengumpulan data dan responden ditetapkan secara sengaja. Responden adalah petani atau pemilik kios, yang ditetapkan tidak berubah sepanjang kegiatan pengkajian. Hasil kajian menunjukkan bahwa harga eceran tertinggi (HET) pupuk urea yang ditetapkan pemerintah tidak efektif berlaku di setiap wilayah kajian, selama tahun 2007 harga yang dibayar petani di atas HET. Kebijakan harga gabah pembelian pemerintah (HPP), di beberapa wilayah penerapannya cukup efektif, dan tidak efektif di wilayah lain pada saat panen. Marjin pemasaran dari gabah ke beras cukup tinggi, berkisar antara Rp 1.500-2.500/kg atau 31-52% dari rata-rata harga tertinggi beras kelas medium. Besarnya marjin tersebut kurang menguntungkan petani padi, karena di samping sebagai produsen, mereka juga sebagai pembeli beras. Marjin harga beras lebih menguntungkan penggiling dan pedagang beras. Diperlukan regulasi harga yang mampu mendistribusikan marjin tersebut lebih adil dan wajar, sehingga petani sebagai produsen dan sekaligus sebagai konsumen beras tidak dirugikan.

Page 6 of 19 | Total Record : 189