cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Palawija
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palawija merupakan publikasi yang memuat makalah review (tinjauan) hasil penelitian tanaman kacang-kacangan dan umbi umbian. Buletin ini diterbitkan secara periodik dua kali dalam setahun (Mei dan Oktober) oleh Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
Front Matter Buletin Palawija Volume 19 No 1 Abi Supiyandi
Buletin Palawija Vol 19, No 1 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 1, 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v19n1.2021.p%p

Abstract

Analisis Keragaman Genetik dan Kekerabatan Genotipe Ubi Jalar Berdasarkan Karakter Morfologi Sri Umi Lestari; Reza Prakoso Dwi Julianto
Buletin Palawija Vol 18, No 2 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 2, 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v18n2.2020.p113-122

Abstract

Ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.) merupakan komoditas sumber karbohidrat setelah padi, jagung dan ubi kayu. Saat ini produktivitas ubi jalar nasional hanya sebesar 13,51 t/ha, lebih rendah dibandingkan  hasil penelitian yang mencapai 35 t/ha. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakter morfologi beberapa genotipe ubi jalar dan menganalisis jarak genetik genotipe-genotipe berdasarkan karakter kuantitatif. Hasil analisis kekerabatan dari 13 genotipe ubi jalar berkelompok pada 2 klaster (A dan B). Kemiripan antargenotipe didasarkan pada jarak Euclidean; terdapat dua kelompok genotipe yang memiliki nilai kemiripan tertinggi yaitu Beta 2--22 dengan Jago-OP-28, dan Beta 2--12 dengan Beta 2--15. Sepuluh variabel pengamatan yang mempengaruhi keragaman 13 genotipe tereduksi ke dalam empat komponen utama dengan nilai keragaman kumulatif sebesar 91,1%. Hasil analisis biplot dari 10 variabel pengamatan dengan menghilangkan empat variabel yang mempunyai vektor pendek mampu meningkatkan keragaman dari 59,7% menjadi 92,1%.
Serapan Nitrogen dan Fosfor serta Hasil Kedelai Edamame (Glycine max (L.) Merrill) pada Tanah Alfisol akibat Aplikasi Biochar dan Vermikompos Allaganur Rochman; Joko Maryanto; Okti Herliana
Buletin Palawija Vol 19, No 1 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 1, 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v19n1.2021.p22-30

Abstract

Alfisol merupakan jenis tanah dengan kesuburan rendah, namun memiliki potensi untuk perluasan lahan bagi budidaya tanaman kedelai edamame. Aplikasi biochar dan vermikompos digunakan untuk memperbaiki nutrisi tanah dan mensuplai unsur hara pada tanah Alfisol. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi biochar dan vermikompos terhadap serapan nitrogen dan fosfor, serta hasil tanaman kedelai edamame (Glycine max (L.) Merrill) pada tanah Alfisol. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus  sampai Desember 2019 di kebun percobaan dan Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian menggunakan rancangan faktorial terdiri dari 2 faktor. Faktor I adalah aplikasi biochar, terdiri dari empat taraf yaitu B0: tanpa biochar, B1: 10 t/ha, B2: 20 t/ha, B3: 30 t/ha. Faktor II adalah aplikasi vermikompos, terdiri dari 3 taraf yaitu V0: tanpa vermikompos, V1: 10 t/ha, V2: 20 t/ha. Variabel yang diamati adalah sifat kimia tanah awal, kadar N dan P tersedia, laju pertumbuhan tanaman (LPT), laju asimilasi bersih (LAB), bobot polong segar per tanaman, jumlah polong per tanaman, serta analisis kadar N dan P jaringan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis biochar hingga 30 t/ha tidak meningkatkan serapan nitrogen, fosfor, dan hasil tanaman, sedangkan vermikompos hingga 20 t/ha meningkatkan kadar P jaringan, P tersedia, dan hasil tanaman, tetapi tidak meningkatkan kadar N jaringan, N tersedia, LPT, dan LAB. Hasil tertinggi diperoleh pada aplikasi biochar 30 t/ha dan 20 t/ha vermikompos. Tidak terdapat interaksi antara vermikompos dengan biochar terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman, sehingga dapat diaplikasikan secara secara tunggal.
Ketahanan Beberapa Genotipe Kacang Tanah terhadap Penyakit Karat (Puccinia arachidis) dan Bercak Daun (Cercosporidium personatum) Emerensiana Uge; Joko Purnomo; Eriyanto Yusnawan
Buletin Palawija Vol 18, No 2 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 2, 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v18n2.2020.p74-82

Abstract

Pertumbuhan tanaman kacang tanah seringkali menghadapi kendala  biotik antara lain infeksi karat dan bercak daun akhir yang disebabkan oleh jamur Puccinia arachidis dan Cercosporidium personatum. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi ketahanan 24 genotipe kacang tanah terhadap penyakit karat dan bercak daun dengan cara inokulasi kedua patogen tersebut. Penelitian disusun berdasar rancangan acak kelompok, tiga ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman, perkembangan penyakit, jumlah pustul, jumlah dan diameter uredospora. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala penyakit karat ditemukan pada minggu pertama setelah inokulasi, sedangkan gejala bercak daun pada minggu ke enam setelah inokulasi. Satu genotipe bereaksi agak tahan dan genotipe lainnya agak rentan hingga rentan terhadap karat daun, sedangkan terhadap bercak daun, semua genotipe bereaksi agak tahan dan tahan pada 10 minggu setelah inokulasi (MSI). Jumlah pustul dan bercak tertinggi terdapat pada kelompok genotipe agak rentan hingga rentan dan jumlah daun berkurang sejalan dengan peningkatan intensitas penyakit. Genotipe LG5/BK10)-89-68 memiliki respons agak tahan terhadap infeksi karat dan bercak daun, sedangkan varietas Takar 1 dan Hypoma 3 memiliki respons agak rentan, dan agak tahan terhadap karat daun pada 10 MSI. Oleh karena itu, genotipe LG5/BK10)-89-68, varietas Takar 1 dan Hypoma 3 dapat digunakan menjadi tetua untuk perakitan varietas tahan karat dan bercak daun.
Korelasi Antar Karakter Pertumbuhan Dan Hasil Sepuluh Genotipe Talas Jepang pada Tiga Agroekologi Berbeda Delvi Maretta; Sobir Sobir; Is Helianti; Purwono Purwono; Edi Santosa
Buletin Palawija Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v19n2.2021.p82-92

Abstract

Talas eddoe (Colocasia esculenta var antiquorum) atau talas Jepang merupakan tanaman yang prospektif dikembangkan di Indonesia. Informasi karakter tanaman talas pada berbagai agroekologi sangat penting sebagai dasar seleksi dan pemilihan lokasi dalam program pemuliaan tanaman. Penelitian bertujuan untuk mengetahui korelasi antar karakter pertumbuhan dan hasil tanaman talas Jepang yang ditanam pada tiga agroekologi yang berbeda. Percobaan dilaksanakan pada tahun 2018 sampai 2019 di Tangerang Selatan, Bogor dan Subang menggunakan sepuluh genotipe talas eddoe. Hasil penelitan menunjukkan bahwa panjang daun, panjang petiol dan panjang pelepah antargenotipe memiliki perbedaan yang nyata. Lokasi penanaman juga berpengaruh nyata terhadap semua karakter pertumbuhan dan hasil. Genotipe dan lokasi berinteraksi nyata terhadap panjang daun, petiol total, rentang tanaman, tinggi tanaman, panjang dan berat cormus. Karakter pertumbuhan dan hasil selalu berkorelasi erat di tiga lokasi, sedangkan korelasi karakter pertumbuhan dengan karakter hasil talas berbeda di tiap agroekologi (r=0,05). Perbedaan lingkungan tumbuh sangat berpengaruh terhadap nilai dan keeratan korelasi karakter pertumbuhan dengan hasil, sehingga upaya peningkatan hasil perlu memperhatikan agroekologi yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman talas.
Kemampuan Daya Saing Kacang Hijau di Tingkat Usahatani pada Lahan Salin (Studi Kasus di Desa Gesik Harjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban) Dian Adi Anggraeni Elisabeth; Sutrisno Sutrisno; Salam Agus Riyanto; Henny Kuntyastuti; Fachrur Rozi
Buletin Palawija Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v19n2.2021.p93-102

Abstract

Di Indonesia, kacang hijau umumnya dibudidayakan setelah kedelai dan kacang tanah. Kacang hijau memiliki peran strategis karena memiliki keunggulan agronomis dan ekonomis. Budidaya kacang hijau di lahan salin dengan karakteristik salinitas tinggi dapat berpengaruh  terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi kacang hijau serta pendapatan usahatani. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan daya saing dan dampak ekonomi usahatani kacang hijau di lahan salin. Penelitian dilaksanakan di Desa Gesik Harjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban pada bulan Maret 2020. Data yang dikumpulkan meliputi deskripsi usahatani kacang hijau, pendapatan serta daya saing usahatani kacang hijau dan tanaman pangan lain di lokasi penelitian. Salinitas lahan di Desa Gesik Harjo berdampak terhadap produktivitas lahan sehingga menyebabkan penurunan hasil panen kacang hijau sebesar 55-61%. Hal ini berakibat pada penurunan pendapatan usahatani kacang hijau sampai 50% bila dibandingkan dengan usahatani kacang tanah, dengan B/C ratio 0,9 dan daya saing lebih rendah. Namun, dengan B/C ratio mendekati 1 dan harga kacang hijau di pasaran cukup tinggi, daya saing kacang hijau di Gesik Harjo berpeluang untuk ditingkatkan apabila produksinya meningkat. Beberapa upaya yang dapat dilakukan, antara lain peningkatan kapasitas petani dalam pengelolaan lahan salin, penggunaan varietas unggul toleran salin dan penerapan perbaikan teknik budidaya kacang hijau.
Keragaan Fisiologis dan Morfologis Dua Kultivar Kedelai Asal Subtropis dan Tropis Akibat Cekaman Kekeringan Mochamad Arief Soleh; Ranu Manggala; Muhamad Kadapi
Buletin Palawija Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v19n2.2021.p111-116

Abstract

Strategi untuk memperbaiki sifat pertumbuhan tanaman budidaya adalah dengan melakukan penelusuran sifat tumbuh tanaman baik secara morfologi dan fisiologi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keragaan  pertumbuhan kultivar  kedelai asal subtropis yaitu Tambaguro dengan kedelai asal tropis yaitu Anjasmoro yang diberi cekaman kekeringan. Penelitian di lakukan di daerah tropis yaitu di Kelurahan Pasirwangi, Ujung Berung, Bandung menggunakan pot. Pertumbuhan tinggi tanaman kedelai kultivar Tambaguro berkisar 12 cm pada umur 2 MST (minggu setelah tanam) sampai 29 cm pada umur 6 MST, sedangkan tinggi tanaman kultivar Anjasmoro berkisar 10  cm pada 2 MST sampai 32 cm pada 6 MST. Tampilan konduktasi stomata untuk kedua kultivar menunjukkan penurunan seiring umur tanaman (2-6 MST) yaitu berkisar 1094 - 1042 mmol/m²•s untuk Tambaguro, dan 892-1319 mmol/m²•s untuk Anjasmoro. Kultivar Tambaguro memperlihatkan pertumbuhan tinggi tanaman lebih baik dari kultivar Anjasmoro pada awal tumbuh, namun tidak pada pertumbuhan umur lanjut, sedangkan Kultivar Anjasmoro memiliki keunggulan dalam pertumbuhan tinggi pada umur lanjut. Tampilan fisiologis berupa respons konduktansi stomata dan fluoresensi klorofil kultivar Tambaguro lebih baik dari Anjasmoro disemua umur pengamatan, sedangkan dalam kodisi cekaman kekeringan, tampilan fisiologis kedua kultivar  cenderung sama menunjukkan ada potensi keunggulan genetik yang perlu dipertimbangkan, terlebih kultivar Tambaguro ini merupakan jenis kedelai berbiji besar sehingga memiliki keungulan secara ekonomis.Kata Kunci: 
Adaptasi Beberapa Varietas Kedelai di Bawah Tegakan Tanaman Sawit Muda Zainudin Zainudin; Eries Dyah Mustikarini; Sitti Nurul Aini
Buletin Palawija Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v19n2.2021.p126-133

Abstract

Kedelai merupakan salah satu komoditas yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman sela pada perkebunan tanaman kelapa sawit muda. Namun, rendahnya intensitas cahaya akibat naungan sering menjadi kendala untuk mencapai hasil tinggi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui varietas kedelai yang toleran dan memiliki daya hasil tinggi bila dibudidayakan di bawah naungan tegakan tanaman sawit muda (umur ± 2,5 tahun). Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga April 2020 di Desa Petaling, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka menggunakan rancangan petak terpisah, tiga ulangan. Petak utama adalah kondisi lahan ternaungi dan tidak ternaungi. Anak petak terdiri atas lima varietas kedelai yaitu: Argomulyo, Anjasmoro, Grobogan, Burangrang, dan Demas 1.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat naungan ±38%, varietas Demas 1 dan Anjasmoro lebih toleran dibandingkan varietas Argomulyo, Burangrang dan Grobongan. Varietas kedelai toleran terhadap naungan menghasilkan jumlah polong, jumlah biji, dan bobot biji per tanaman lebih tinggi dibandingkan varietas yang tidak toleran naungan.   
The Effect of Steaming Time on the Textural Characteristics of Two Sweet Potatoes with Different Flesh Colors Joko Susilo Utomo; Erliana Ginting
Buletin Palawija Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v19n2.2021.p103-110

Abstract

Sweet potatoes have varied physical characteristics based on their flesh colors. Two selected sweet potato (SP) with white (WF) and yellow-fleshed (YF) colors were collected from local market and analyzed their textural characteristics using a Uniaxial compression and Texture Profile Analysis (TPA) test. The study was conducted in the Food Processing Technology Laboratory, Faculty of Food Science Technology, University of Putra Malaysia. All textural attributes were collected from the samples treated with steaming for 5, 10, 15 and 20 min. The moisture content of the samples were determined before and after steaming. The results showed that the moisture content of WF was lower than YF both before and after steaming, which could be declared as a typical moisture content for each flesh color. This resulted in a greater peak deformation or firmness of the fresh tuber found in WF relative to YF.  Steaming SP for 5 min exhibited the “raw” properties tissue, whereas steaming for more than 10 min would generate the “cooked” tissue that significantly affected the textural characteristics. The hardness level decreased considerably along with the time of steaming and was similar for both flesh colors after 15-min steaming. The WF was less adhesive and less elastic; however, it had less chewiness than that of YF. This suggests that the use of WF as a raw material for mashed products would have advantages, such as easiness to mash, less tendency to stick with the cooking tools, and less elastic.
Genetic Variability, Heritability, and Genotypic Correlation of Soybean Agronomic Characters Heru Kuswantoro; Moch Muchlish Adie; Pratanti Haksiwi Putri
Buletin Palawija Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v19n2.2021.p117-125

Abstract

Genetic parameters are important in genetic improvement and variety development. This study aimed to determine the effective characters that can be applied as selection criterion in soybean breeding using genetic parameters. About 100 soybean genotypes were grown in the Muneng Agricultural Technology Research and Assessment Installation from April to July 2020. The trial was conducted using a randomized complete block design. The results showed that high genetic variability was found on days to maturity, number of branches per plant, number of productive nodes per plant, 100-seed weight, and seed yield. The high heritability was shown by days to maturity, plant height, number of branches per plant, and 100-seed weight. All phenotypic correlations were significant, except for the correlation between seed yield and days to maturity, plant height, number of branches, and number of productive nodes. The seed yield had no genotypic correlation with all agronomic characters observed. The genotypic correlation was only significant for plant height and number of productive nodes, number of branches and number of filled pods, as well as number of productive nodes and 100-seed weight. Therefore, the improvement of seed yield can be conducted through direct selection using the seed yield parameter or indirectly using the 100-seed weight.

Filter by Year

2001 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021 Vol 19, No 1 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 1, 2021 Vol 18, No 2 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 2, 2020 Vol 18, No 1 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 1, 2020 Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019 Vol 17, No 1 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 1, 2019 Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018 Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018 Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017 Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017 Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016 Vol 14, No 1 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 1, 2016 Vol 14, No 2 (2016) Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015 No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015 No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014 No 27 (2014): Buletin Palawija No 27, 2014 No 28 (2014) No 27 (2014) No 26 (2013): Buletin Palawija No 26, 2013 No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012 No 26 (2013) No 25 (2013) No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012 No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012 No 23 (2012): BULETIN PALAWIJA Mei 2012 No 24 (2012) No 23 (2012) No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011 No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011 No 22 (2011) No 21 (2011) No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010 No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010 No 20 (2010) No 19 (2010) No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010 No 17 (2009): Buletin Palawija No 17, 2009 No 18 (2009) No 17 (2009) No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008 No 15 (2008): Buletin Palawija No 15, 2008 No 16 (2008) No 15 (2008) No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007 No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007 No 14 (2007) No 13 (2007) No 12 (2006): Buletin Palawija No 12, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 10 (2005): Buletin Palawija No 10, 2005 No 9 (2005): Buletin Palawija No 9, 2005 No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004 No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003 No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002 No 3 (2002): Buletin Palawija No 3, 2002 No 2 (2001): Buletin Palawija No 2, 2001 No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001 More Issue