cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Palawija
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palawija merupakan publikasi yang memuat makalah review (tinjauan) hasil penelitian tanaman kacang-kacangan dan umbi umbian. Buletin ini diterbitkan secara periodik dua kali dalam setahun (Mei dan Oktober) oleh Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
Keunggulan Kompetitif Agronomis dan Ekonomis Lima Belas Genotipe Kedelai pada Tumpangsari dengan Jagung Titik Sundari; Siti Mutmaidah
Buletin Palawija Vol 17, No 1 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 1, 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v17n1.2019.p46-56

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat keunggulan kompetitif agronomis dan ekonomis 15 genotipe kedelai pada tumpangsari jagung dengan kedelai. Penelitian dilaksanakan di KP Kendalpayak Malang pada Maret-Juli 2018, menggunakan 12 galur harapan kedelai dan tiga varietas pembanding, yaitu Dena 1 dan Dena 2 (toleran naungan) serta Grobogan (ukuran biji besar dan umur genjah). Perlakuan disusun berdasarkan rancangan petak terbagi, empat ulangan. Petak utama adalah pola tanam (monokultur dan tumpangsari jagung dengan kedelai), sedangkan anak petak adalah 15 genotipe kedelai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumpangsari menurunkan hasil kedelai dan jagung masing-masing 61,53% dan 31,05% dibandingkan monokultur. Pada pola tanam tumpangsari, hasil jagung tertinggi dicapai pada tumpangsari jagung dengan genotipe Grob/Pander-395-2, dan hasil kedelai tertinggi dicapai pada tumpangsari jagung dengan genotipe Grob/IT-7-2. Genotipe kedelai berpengaruh nyata terhadap nilai koefisien kepadatan relatif (K), nilai agresivitas (A), nisbah kesetaraan lahan (NKL), nisbah kompetitif (NK), dan kehilangan hasil aktual (KHA) pada tumpangsari jagung dengan kedelai. Genotipe Grob/IT-7-2 merupakan kompetitor terkuat, dan memiliki dominasi terbesar bagi tanaman jagung dalam tumpangsari jagung dengan kedelai. Namun, berdasarkan nisbah R/C, indeks keuntungan finansial (IKF), nisbah kesetaraan pendapatan (NKP), dan nisbah kesetaraan lahan (NKL), keuntungan terbesar dicapai pada tumpangsari jagung dengan kedelai genotipe Grob/IT-7-7.
Keragaman Genetik Klon Ubi Jalar Ungu Berdasarkan Karakter Morfologi dan Agronomi Harlino Nandha Prayudha; Amalia Murnihati Noerrizki; Haris Maulana; Debby Ustari; Neni Rostini; Agung Karuniawan
Buletin Palawija Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v17n2.2019.p94-101

Abstract

Keragaman genetik ubi jalar dapat dinilai berdasarkan analisis terhadap karakter-karakter tertentu. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pendugaan keragaman klon ubi jalar ungu berdasarkan karakter agronomi dan morfologi tanaman. Percobaan dilaksanakan selama musim hujan di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Sumedang, Jawa Barat mulai November 2018 sampai April 2019. Perlakuan adalah 11 klon ubi jalar ungu yang berasal dari Indonesia, Peru, dan Jepang. Pengamatan terdiri atas karakter agronomi dan morfologi, serta komponen hasil. Pendugaan keragaman genetik menggunakan analisis klaster, analisis komponen utama, uji mantel, dan perhitungan ragam genotipik dan fenotipik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan keragaman genetik berdasarkan karakter agronomi dan karakter morfologi. Jarak genetik berdasarkan analisis klaster dan analisis komponen utama pada karakter agronomi dan morfologi masing- masing adalah 0,31–5,18 Euclidean dan 1,73–4,55 Euclidean. Korelasi keragaman agronomi dengan keragaman morfologi sangat lemah (r=0,096). Perhitungan ragam genotipik dan fenotipik juga menunjukkan bahwa keragaman karakter agronomi cenderung luas. 
Important Weeds and Their Control in Soybean Production under Rice-Soybean Cropping Pattern Arief Harsono; Suryantini Suryantini; Siti Muzaiyanah
Buletin Palawija Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v17n2.2019.p66-72

Abstract

Weed control is one of technology components in soybean production that needs high labor and cost. The objective of this study was to determine the major weeds and their controls for soybean grown after rice in lowland. The study was conducted in two stages. The first stage was a survey to observe the major weeds in soybean crops grown after rice in the farmers’ fields at three central soybean production areas in Banyuwangi, namely Gambiran, Purwoharjo, and Tegal Dlimo subdistricts. The second stage was a trial conducted in lowland after rice in Genteng Research station, Banyuwangi during the dry season of 2013. The treatments were arranged in a randomized completely block design with three replications. The treatments consisted of: 1) without weed control, 2) weeding twice, 3) preemergence herbicide oxyfluorfen,(4) oxyfluorfen + postemergence 2,4-D dimethylamide, (5) oxyfluorfen + once hand weeding, and (6) once hand weeding. The results indicated that the major weeds were Oryza sativa, Cyperus rotundus, Ageratum sp., Echinochloa crusgalli, and Pilantus niruri consecutively. The weeds were effectively controlled by applying preemergence herbicide oxyfluorfen. This control method reduced the major weeds significantly and showed the same increase in seed yield as in other treatments (one and twice hand weeding) compared to the control treatment (without weeding).The soybean yield obtained from the treatment of without weeding,one hand weeding,and using oxyfluorfen herbicide was 0.60 t/ ha, 1.87 t/ha, and 1.93 t/ha, respectively.The use of oxyfluorfen herbicide is more efficient in terms of labor use than that of hand weeding.  
Produktivitas Beberapa Genotipe Kacang Tanah dan Ketahanannya terhadap Penyakit Layu Bakteri Ralstonia Solanacearum Joko Purnomo; Novita Nugrahaeni; Yuliantoro Baliadi
Buletin Palawija Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v17n2.2019.p102-111

Abstract

Di Indonesia, kacang tanah ditanam pada beragam tipe lahan yaitu lahan sawah pada musim kemarau, sawah tadah hujan pada awal atau pertengahan musim kemarau, dan lahan kering pada awal musim hujan. Pada lahan-lahan tersebut, penyakit layu bakteri menjadi kendala biotik utama dalam budi daya kacang tanah sehingga produktivitasnya rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat hasil galur-galur harapan kacang tanah dan ketahanannya terhadap serangan penyakit layu bakteri Ralstonia solanacearum. Penelitian dilaksanakan pada sembilan lokasi di enam daerah sentra produksi kacang tanah pada musim kemarau dan musim hujan mulai tahun 2014 hingga 2016, menggunakan rancangan acak kelompok, tiga ulangan. Perlakuan adalah 14 galur harapan dan dua varietas pembanding. Uji ketahanan terhadap serangan penyakit layu bakteri dilaksanakan di rumah kaca dan di Pati, Jepara, dan Wonogiri yang endemik layu bakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mutan 6 (tipe Spanish) dan BM/ IC//IC-172-1 (tipe Valencia) mempunyai potensi hasil tertinggi di sembilan lokasi, masing-masing 3,48 t/ha dan 3,44 t/ha polong kering. Hasil polong genotipe Mutan 6 unggul di dua lokasi, dan BM/IC//IC-172-1 unggul di tiga lokasi. Mutan 3, Mutan 5, BM/IC-154-2, Bm/IC/ /IC-170-8, dan BM/IC//IC-164-1 memberikan hasil polong tertinggi di satu lokasi, dan genotipe lainnya tidak unggul di semua lokasi uji. Genotipe Mutan 6 mempunyai daya adaptasi umum yang baik dan mampu beradaptasi di banyak ragam lingkungan. BM/IC//IC-172-1 mempunyai daya adaptasi yang baik di sembilan lokasi. Hampir semua genotipe yang diuji menunjukkan status rentan hingga agak rentan, sedangkan BM/IC-154-2 dan BM/ IC//IC-172-1 mempunyai status agak tahan ketika ditanam di tiga daerah endemik penyakit layu bakteri R. solanacearum. 
Pengaruh Pupuk Kandang dan Pupuk Anorganik terhadap Berbagai Varietas Kacang Hijau di Tanah Masam Sri Ayu Dwi Lestari; Henny Kuntyastuti
Buletin Palawija Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v14n2.2016.p55-62

Abstract

Kacang hijau dipandang sebagai komoditas alternatif untuk dikembangkan di tanah masam. Identifikasi untuk mendapatkan teknologi budidaya yang sesuai, perlu dilakukan guna meningkatkan produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi varietas dan pupuk yang efektif, guna meningkatkan produktivitas kacang hijau di tanah masam. Penelitian dilaksanakan di rumah kasa Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Malang, Jawa Timur mulai bulan November 2014-Januari 2015. Penelitian ini menggunakan Rancangan Split Plot dengan tiga ulangan. Petak utama adalah empat macam varietas kacang hijau, yaitu: Kenari (V1), Murai (V2), Kutilang (V3), dan Vima 1 (V4). Anak petak adalah lima macam pemupukan, yaitu: tanpa pemupukan (P0), Phonska 300 kg/ha (P1), pupuk kandang sapi 1.500 kg/ha (P2), pupuk kandang sapi 3.000 kg/ha (P3), dan pupuk kandang sapi 5.000 kg/ha (P4). Dengan demikian, terdapat 20 perlakuan dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan varietas Kenari atau Vima 1 dan aplikasi 300 kg pupuk Phonska memberikan bobot biji kacang hijau tertinggi. Hasil tertinggi terdapat pada varietas Kenari dengan aplikasi 300 kg Phonska, yaitu sebesar 6,52 g.
Serangga Hama Kedelai dan Musuh Alami di Lahan Pasang Surut Kalimantan Selatan Sri Wahyuni Indiati
Buletin Palawija Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v17n2.2019.p58-65

Abstract

 Kerusakan tanaman akibat serangan hama merupakan salah satu kendala pengembangan kedelai di lahan pasang surut. Informasi tentang komposisi spesies hama kedelai dan musuh alaminya merupakan kebijakan dasar pengelolaan hama terpadu di suatu lokasi, sehingga survei perlu dilakukan, untuk mengetahui dominasi dan status hama kedelai serta musuh alaminya di lahan pasang surut. Survei dilakukan pada bulan Juni sampai dengan November 2016 di Kalimantan Selatan. Serangga hama yang ditemukan di lokasi survei sangat tergantung dari umur/fase pertumbuhan tanaman saat dilakukan pencatatan. Komposisi jenis hama kedelai yang ditemukan di Provinsi Kalimantan Selatan adalah kutu kebul (Bemisia tabaci Gennadius), wereng daun (Empoasca kerri Pruthi), lalat kacang (Ophiomyia phaseoli Tryon), ulat grayak (Spodoptera litura Fabricius), belalang (Attractomorpha crenulata), perusak polong (Piezodorus hybneri Gmelin, Riptortus linearis Fabricius, Nezara viridula Linnaeus dan Etiella zinckenella Treitsche), dengan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H) 1,655 dan indeks dominansi Simpson (c) 0,214. Di antara hama-hama tersebut, S. litura, P. hybneri, R. linearis, N. viridula dan E. zinckenella merupakan hama penting di semua lokasi survei. Jenis musuh alami yang banyak ditemukan ada tiga jenis, yaitu Oxyopes sp., parasitoid dan Coccinella sp. dengan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H) 1,088 dan indeks dominansi Simpson (c) 0,415. Pengendalian hama pada tanaman kedelai di lahan pasang surut harus mempertimbangkan hama-hama utama dan musuh alaminya.   
Changes of Chemical Composition and Aflatoxin Content of Peanut Products as Affected by Processing Methods Erliana Ginting; Agustina Asri Rahmianna; Eriyanto Yusnawan
Buletin Palawija Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v17n2.2019.p73-82

Abstract

Peanut production in Indonesia is predominantly used for food, thus information on nutritional aspects and aflatoxin contamination in peanuts is essential in terms of food security and safety. As changes may occur during processing, the effects of processing methods on chemical composition and aflatoxin content in selected peanut products were studied. The dried peanut pods collected from a farmer in Ponorogo, East Java were stored for one month, and then the kernels were prepared into fried peanut (kacang goreng), peanut sauce (sambel pecel), peanut press cake (bungkil kacang), fried-pressed peanut (bungkil kacang goreng), fermented peanut press cake (tempe bungkil kacang), and fried peanut tempe (tempe bungkil kacang goreng). The trial was arranged in a randomized complete design with three replicates. ELISA method was applied for aflatoxin B1 analysis. The results showed that peanut kernels contained 26.3% protein (dw) and 50.4% fat (dw) with relatively low aflatoxin B1 content (9.1 ppb) due to low moisture level (5.6%), no Aspergillus flavus infection and high sound/intact kernels (73.1%). Peanuts processed into tempe bungkil kacang showed the highest increase in protein content, followed by tempe bungkil kacang goreng, bungkil kacang, and bungkil kacang goreng, while fat contents decreased in all products. Processing into kacang goreng and bungkil kacang goreng decreased aflatoxin B1 by 26.4% and 41.8%, respectively, while no significant differences were noted in sambal pecel and bungkil kacang. Aflatoxin B1 increased two-fold during the preparation of tempe bungkil kacang, however it significantly decreased by 38.9% after deep-fried. Excluding peanut tempe, all peanut products contained aflatoxin B1 below the permitted level (15 ppb), therefore they are safe for consumption.
Back matter Buletin Palawija Volume 17 No 2 Abi Supiyandi
Buletin Palawija Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v17n2.2019.p112

Abstract

Pengelolaan Pola Tanam Berbasis Kedelai dan Jagung di Lahan Kering Zainal Arifin; Chendy Tafakresnanto
Buletin Palawija Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v17n2.2019.p83-93

Abstract

Penelitian bertujuan memperoleh teknologi pola tanam berbasis kedelai dan jagung yang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan usahatani di lahan kering. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo dan di Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep pada musim kemarau (MK 1 dan MK 2 tahun 2018) dengan luasan 1 ha. Di masing-masing lokasi, penelitian dimulai dengan melakukan pengamatan pada pertanaman petani yang ditanam pada awal musim hujan (MH), dilanjutkan dengan menanam jagung dan kedelai sesuai penelitian pola tanam yang dirancang. Di Situbondo, pada awal MH petani menanam padi tanam pindah (tapin) varietas Ciherang, dan di Sumenep petani menanam jagung varietas BISI 18. Setelah tanaman di MH dipanen di masing-masing lokasi, penelitian dilaksanakan mengikuti pola tanam jagung dan kedelai menggunakan rancangan acak kelompok, 4 perlakuan diulang 6 kali. Pola tanam yang diteliti terdiri atas : a) jagung (75 cm x 20 cm) / / jagung (75 cm x 20 cm), b) jagung double row (100 cmx50cmx20cm)//kedelai(40cmx15cm),c) jagung (160 cm x 40 cm) / kedelai (40 cm x 15 cm), dand)kedelai(40cmx15cm)–jagung(75cmx20 cm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Situbondo pola tanam padi tapin-jagung//jagung mampu memberikan hasil tertinggi, yakni setara dengan hasil kedelai 12,7 t/ha dengan nilai IIT 0,82. Pada MK 1, sistem tanam jagung double row memperoleh hasil 7,542 t/ha pipilan dan pangkasan daun jagung 7,894 t/ha dengan pendapatan Rp27.581.100/ha dan R/C 2,97. Di Sumenep hasil terbaik diperoleh pada pola tanam jagung-kedelai-jagung, yakni setara dengan hasil kedelai 9,3 t/ha dengan nilai IIT 0,76. Pada MK I sistem tanam tumpangsari kedelai (2,385 t/ha biji) dan jagung (2,775 t/ha pipilan), ditambah hasil pangkasan daun jagung (2,025 t/ha) menghasilkan pendapatan Rp24.326.200 dengan nilai R/C 2,06. 
Identifikasi Ketahanan terhadap Pecah Polong dan Keragaan Karakter Agronomi Genotipe Kedelai Ayda Krisnawati; Moch Muchlish Adie; I Made Jana Mejaya
Buletin Palawija Vol 18, No 1 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 1, 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v18n1.2020.p1-10

Abstract

Kehilangan hasil akibat pecah polong merupakan masalah serius pada budi daya kedelai di daerah tropis, termasuk di Indonesia. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi ketahanan genotipe kedelai terhadap pecah polong dan mengkarakterisasi karakter agronomi masing-masing genotipe. Sebanyak 24 genotipe kedelai diuji lapang di Kabupaten Nganjuk dan Mojokerto pada bulan Februari-Mei 2017. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 24 perlakuan dan diulang tiga kali. Pengujian ketahanan terhadap pecah polong menggunakan metode oven. Ragam ketahanan terhadap pecah polong 24 genotipe kedelai terjadi pada suhu 50 °C dan 60 °C. Diperoleh satu genotipe sangat tahan terhadap pecah polong dari penelitian di Nganjuk, yakni G511H/Anj//Anj///Anj////Anjs-4, dua genotipe tahan (varietas Anjasmoro dan Detap 1), dan satu genotipe moderat (G 511 H/Anj//Anj///Anj////Anjs-8-5). Pada penelitian di Mojokerto, tidak diperoleh genotipe kedelai yang tergolong sangat tahan, namun diperoleh empat genotipe (G 511 H/Anj//Anj///Anj////Anjs-8-5, G 511 H/Anj//Anj///Anj////Anjs-4, varietas Anjasmoro, dan Detap 1) tahan pecah polong. Pengelompokan ketahanan berdasarkan  rata-rata dari dua lokasi memperoleh satu genotipe tahan pecah polong, yaitu G511H/Anj//Anj///Anj////Anj-4, sama tahan dengan varietas pembanding tahan yaitu varietas Detap 1. Genotipe G511H/Anj//Anj///Anj////Anj-4 berumur genjah (masak pada 79 hst), ukuran biji besar (16,16 g/100 biji), dan hasil biji mencapai 3,08 t/ha. Karakteristik genotipe kedelai yang demikian diperlukan untuk peningkatan produksi kedelai di Indonesia yang beriklim tropis.

Filter by Year

2001 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021 Vol 19, No 1 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 1, 2021 Vol 18, No 2 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 2, 2020 Vol 18, No 1 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 1, 2020 Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019 Vol 17, No 1 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 1, 2019 Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018 Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018 Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017 Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017 Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016 Vol 14, No 1 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 1, 2016 Vol 14, No 2 (2016) Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015 No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015 No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014 No 27 (2014): Buletin Palawija No 27, 2014 No 28 (2014) No 27 (2014) No 26 (2013): Buletin Palawija No 26, 2013 No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012 No 26 (2013) No 25 (2013) No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012 No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012 No 23 (2012): BULETIN PALAWIJA Mei 2012 No 24 (2012) No 23 (2012) No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011 No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011 No 22 (2011) No 21 (2011) No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010 No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010 No 20 (2010) No 19 (2010) No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010 No 17 (2009): Buletin Palawija No 17, 2009 No 18 (2009) No 17 (2009) No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008 No 15 (2008): Buletin Palawija No 15, 2008 No 16 (2008) No 15 (2008) No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007 No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007 No 14 (2007) No 13 (2007) No 12 (2006): Buletin Palawija No 12, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 10 (2005): Buletin Palawija No 10, 2005 No 9 (2005): Buletin Palawija No 9, 2005 No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004 No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003 No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002 No 3 (2002): Buletin Palawija No 3, 2002 No 2 (2001): Buletin Palawija No 2, 2001 No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001 More Issue