Articles
302 Documents
Bioekologi dan Pengendalian Penyakit Bercak Daun Pada Kacang Tanah
., Sumartini
Buletin Palawija No 16 (2008)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penyakit bercak daun merupakan penyakit utama pada kacang tanah di negara-negara penghasil kacang tanah di dunia. Di Indonesia, kehilangan hasil dapat mencapai 50% dan 12â22% masing-masing pada varietas lokal dan varietas unggul. Gejala bercak muncul pada daun-daun bagian bawah dengan bercak kecil berwarna coklat. Bercak yang disebabkan oleh Cercospora arachidicola dicirikan dengan bercak yang berwarna coklat muda dengan cincin kuning di sekitar bercak sedangkan bercak yang disebabkan oleh Phaeoisariopsis personata berwarna coklat gelap hampir hitam tanpa cincin kuning. Perkembangan penyakit bercak daun sangat didukung oleh kelembaban udara yang tinggi 95%, dengan kisaran suhu 12â33 oC. Beberapa varietas kacang tanah yang sampai saat ini tahan adalah varietas Panter dan Domba. Jenis fungisida yang masih dapat dianjurkan untuk pengendalian penyakit bercak daun adalah fungisida dengan bahan aktif tiofanat metil, binomil, bitertanol, mancozeb, atau carbendazim
Komponen Teknologi Budidaya Kedelai di Lahan Kering
Kuntyastuti, Henny;
Taufiq, Abdullah
Buletin Palawija No 16 (2008)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sebagian besar kedelai di Indonesia diusahakan di lahan sawah. Hingga saat ini produksi kedelai belum bisa mencukupi kebutuhan domestik sehingga diperlukan peningkatan produksi. Perluasan areal ke lahan kering merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan produksi kedelai. Tingkat kesuburan dan karakteristik lahan kering sangat beragam, dan oleh karenanya pengembangan kedelai ke lahan kering dihadapkan pada beragam masalah. Penelitian komponen teknologi budidaya kedelai di lahan kering masih belum seintensif di lahan sawah. Dalam makalah ini dibahas beberapa alternatif peningkatan produktivitas kedelai pada lahan kering dari aspek varietas, pengaturan jarak tanam, dan pengelolaan pemupukan. Informasi tersebut diharapkan dapat dijadikan acuan penelitian lebih lanjut dan pengelolaan kedelai di lahan kering.
Teknologi Budidaya Praktis Ubi Jalar Mendukung Ketahanan Pangan Dan Usaha Agroindustri
Widodo, Yudi;
Rahayuningsih, St. A.
Buletin Palawija No 17 (2009)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Teknologi budidaya praktis ubi jalar mendukung ketahanan pangan dan usaha agroindustri. Ubi jalar telah sejak lama dikenal dan dibudidayakan masyarakat Indonesia. Meskipun demikian ubi jalar masih merupakan tanaman pangan sekunder dan selama lima tahun terakhir luas areal tanam ubi jalar cenderung turun meskipun produktivitasnya sedikit meningkat. Penurunan luas areal ini seiring dengan alih fungsi lahan-lahan sawah menjadi lahan industri, pemukiman atau komoditas lain yang lebih prospektif. Untuk mengimbangi penurunan luas panen dapat ditempuh dengan meningkatkan produksi per satuan luas atau menggunakan lahan-lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Pada tahun 2008, rata-rata produktivitas ubi jalar mencapai 10,8 t/ha, masih jauh lebih rendah dibanding potensi hasil beberapa varietas unggul yang mencapai 35 t/ha. Masih rendahnya produktivitas ubi jalar di tingkat petani disebabkan oleh teknologi budidaya yang digunakan masih sederhana dan menggunakan varietas lokal yang pada umumnya potensi produksinya rendah serta rentan terhadap serangan hama. dan penyakit tanaman. Oleh karena itu teknologi budidaya ubi jalar baku untuk mencapai produktivitas tinggi yang meliputi pengolahan tanah, penyiapan bibit dan penanamannya, pemupukan, pengendalian hama penyakit, panen dan penanganan pascapanen yang mampu mempertahankan kualitas ubi jalar perlu diketengahkan.
Sweetpotato As A Food Crop
Utomo, Joko Susilo
Buletin Palawija No 17 (2009)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sweetpotato as a food crop. Sweetpotato is among the world most important, versatile and under exploited crop in many part of the world, with more than 133 million tons in world annual production and being cultivated in more than 100 countries and it ranks ninth from the viewpoint of total production as a world crops. Sweetpotato contains approximately 30% dry matter and about 80â90% is made of carbohydrate and the rest are composed by protein, lipids, minerals, fibre and vitamins. Sweetpotato is also well-known as a source of minerals and vitamin. Regardless of these general nutritional excellences, sweetpotato is underexploited food item. In attempt to enhance the utilization as food, several food items was produced. The development of ready to serve products includes candied, canned, frozen, restructured products, etc.
Ubi Kayu Sebagai Bahan Baku Industri Bioetanol
Ginting, Erliana;
Sundari, Titik;
Saleh, Nasir
Buletin Palawija No 17 (2009)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Ubi kayu sebagai bahan baku industri bioetanol. Penggunaan sumber energi alternatif terbarukan yang berasal dari hasil pertanian seperti bioetanol perlu dilakukan karena meningkatnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di pasaran dunia dan menipisnya cadangan fosil. Ubi kayu cukup berpotensi sebagai bahan baku industri etanol karena mampu memproduksi etanol sebanyak 2.000â7.000 l/ha/th. Kandungan pati yang tinggi pada ubi kayu merupakan substrat yang baik untuk menghasilkan glukosa sebagai produk antara pada pembuatan etanol. Proses pengolahan ubi kayu menjadi etanol meliputi gelatinisasi pati, diikuti hidrolisis pati secara enzimatis menjadi glukosa dengan menggunakan enzim amilase dan glukoamilase (likuifikasi dan sakarifikasi), lalu difermentasi menjadi etanol dan dilanjutkan dengan distilasi dan dehidrasi untuk mendapatkan bioetanol dengan kadar 99,5% (fuel grade). Berdasarkan kadar gula total, pati dan ratio fermentasinya, beberapa varietas/klon ubi kayu, di antaranya CMM 99008-3, MLG 0311, OMM 9908-4 dan UJ-5 sesuai untuk bahan baku industri etanol dengan nilai konversi 4â4,5 kg umbi kupas segar/liter etanol 96%. Departemen Pertanian melalui program Peningkatan Mutu Intensisifikasi (PMI) dan perluasan areal tanam, telah memproyeksikan secara bertahap pengembangan ubi kayu untuk mendukung industri bioetanol. Program tersebut perlu mendapat dukungan semua stake holder, termasuk pengusaha/industri serta kebijakan serius dari Pemerintah untuk mendorong realisasi substitusi 10% premium dengan bioetanol (Gasohol E-10).
VARIETAS SPESIFIK LOKASI UNTUK MAKSIMALISASI PRODUKTIVITAS KACANG TANAH
Kasno, Astanto
Buletin Palawija No 18 (2009)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Varietas spesifik lokasi merupakan salah satu aspek dalam memanfaatkan adanya interaksi genotipe kacang tanah dengan lingkungan untuk maksimasi hasil, karena varietas yang ditanam akan berinteraksi positif dengan lingkungan yang sesuai. Varietas dibedakan menjadi varietas spesifik lokasi dan varietas stabil dinamis. Varietas spesifik lokasi hanya produktif pada lingkungan yang mampu berinteraksi positif dengan lingkungan dan varietas stabil dinamis memberikan tingkat hasil sesuai dengan tingkat produktivitas lingkungan. Lingkungan yang mempengaruhi hasil kacang tanah dibedakan ke dalam lingkungan biotik dan lingkungan abiotik. Sebanyak 31 varietas kacang tanah yang telah dilepas, 21 varietas mempunyai hubungan dengan faktor lingkungan biotik, berupa ketahanan terhadap penyakit layu bakteri, penyakit karat, dan bercak daun. Sisanya berhubungan dengan faktor lingkungan abiotik berupa toleransi kekeringan, naungan, toleran klorosis, dan toleran pH masam. Varietas kacang tanah yang memiliki toleransi terhadap cekaman lingkungan abiotik dianggap sebagi variets spesifik. Varietas Tuban, Bison, dan Kancil dianggap spesifik untuk Alfisol alkalis; varietas Singa dan Jerapah dianggap spesifik untuk lahan kering masam, dan kacang tanah varietas Bison dianggap spesifik untuk toleransi terhadap naungan 30%. Peningkatan hasil yang dicapai dengan menggunakan varietas spesifik berkisar 52â121%. Dengan demikian perluasan penanaman kacang tanah dengan karakteristik lingkungan demikian dapat menggunakan varietas yang sesuai/adaptif.
Perbaikan Perbenihan Guna Mendukung Peningkatan Produksi Ubi Jalar
Widodo, Yudi;
Rahayuningsih, St. A.;
Saleh, Nasir
Buletin Palawija No 18 (2009)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Perbaikan perbenihan guna mendukung peningkaan produksi ubi jalar. Ubi jalar (Ipomoea batatas) merupakan tanaman yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Sebagai sumber karbohidrat, ubi jalar banyak dimanfaatkan untuk bahan pangan dan bahan baku industri. Sejalan dengan program diversifikasi pangan yang menjadikan sumber karbohidrat sebagai alternatif selain beras, perkembangan industri kimia berbasis ubi jalar, dan berkembangnya industri pakan ternak, kebutuhan ubi jalar dipastikan akan meningkat tajam sehingga diperlukan peningkatan produksi baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan areal tanaman komoditas tersebut. Teknologi budidaya untuk peningkatan produktivitas maupun lahan untuk pengembangan ubi jalar telah tersedia. Namun masih diperlukan sistem perbenihan yang mampu menjamin tersedianya benih bermutu secara memadai dan berkesinambungan. Sistem perbenihan ubi jalar yang perbanyakannya menggunakan bagian vegetatif berupa stek batang atau stek pucuk dan secara genetis tidak berbeda dengan induknya perlu diatur tersendiri agak berbeda dengan tanaman yang diperbanyak melalui biji. Hubungan, keterkaitan dan koordinasi antara produsen benih/benih terutama penyedia benih sumber, penangkar benih, distributor/penyalur benih yang selama ini masih dirasa kurang harmonis masih perlu ditingkatkan. Untuk mencapai pertumbuhan industri benihan yang berkelanjutan, diperlukan peran sinergi sektor swasta, institusi riset pemerintah dan institusi yang menangani regulasi serta fasilitasi perbenihan.
Plasma Nutfah Kacang Tanah: Keragaman dan Potensinya Untuk Perbaikan Sifat-sifat Kacang Tanah
., Trustinah
Buletin Palawija No 18 (2009)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Plasma nutfah atau bahan genetik tanaman yang beragam untuk sifat-sifat penting, hidup, dan teridentifikasi dengan baik dapat dipandang sebagai cadangan varietas yang memiliki arti strategis yang sewaktu-waktu dapat digunakan. Guna memenuhi kebutuhan yang beragam dan dinamis dalam pembentukan varietas unggul baru, diperlukan sumber gen yang mempunyai keragaman karakter yang luas. Dalam kaitan itulah pengelolaan semakin dituntut untuk memenuhi beragam kebutuhan tersebut. Musnahnya aksesi plasma nutfah akan diikuti oleh hilangnya gen-gen berguna yang terkandung di dalamnya. Sehubungan dengan itu pengkayaan, pencirian, dan penilaian bahan genetik dari suatu plasma nutfah diperlukan guna menopang kegiatan pemuliaan. Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) di Jawa sebagian besar ditanam pada lahan kering. Di luar Jawa, terutama di Sumatera, kacang tanah ditanam di lahan kering masam Ultisol. Konsekuensi budidaya kacang tanah pada musim kemarau adalah cekaman kekeringan akibat ketersediaan air yang terbatas dan rentan terhadap serangan hama maupun penyakit. Karakterisasi dan evaluasi plasma nutfah kacang tanah ditujukan terhadap cekaman biotik (ketahanan terhadap penyakit layu, karat, dan bercak daun) dan abiotik (toleransi terhadap kekeringan, dan kemasaman lahan), umur genjah dan mutu hasil dalam rangka menunjang percepatan program pemuliaan kacang tanah dalam menghasilkan varietas unggul yang bernilai ekonomi.
Prospek Kedelai Hitam Varietas Detam-1 dan Detam-2
Adie, M. Muchlish;
., Suharsono;
., Sudaryono
Buletin Palawija No 18 (2009)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Jawa Timur merupakan provinsi terbesar penghasil kedelai Glycine soya Merr. di Indonesia, karena memiliki luas tanam relatif tinggi sehingga menjadi penyumbang terbesar kebutuhan kedelai nasional. Dengan makin pentingnya posisi kedelai sebagai pangan fungsional, maka varietas kedelai unggul tidak semata-mata berdaya hasil tinggi, namun juga harus memenuhi pra-syarat kedelai sebagai pangan sehat dan menyehatkan, sesuai dengan kebutuhan pengguna serta berdaya saing tinggi. Selama 89 tahun (1918â2007) pemerintah Indonesia baru berhasil melepas lima varietas kedelai hitam dan pada umumnya merupakan hasil seleksi terhadap varietas lokal dan galur introduksi, kecuali Cikuray diperoleh dari seleksi terhadap persilangan antara galur No 630 dan Orba. Varietas kedelai hitam Detam-1 dan Detam-2 dilepas tahun 2008, hasil persilangan antara kedelai introduksi dengan varietas Wilis dan Kawi. Keunggulan Detam-l adalah berdaya hasil 2,51 t/ha, berukuran biji besar (14,84 g/100 biji), dan merupakan kedelai hitam pertama yang berukuran biji besar. Detam-2, berdaya hasil 2,46 t/ha dan menjadi varietas kedelai berkandungan protein paling tinggi di Indonesia (45,58 % berat kering) dan tergolong toleran kekeringan pada fase reproduktif.
STRATEGI PEMBENTUKAN VARIETAS UNGGUL KEDELAI ADAPTIF LAHAN PASANG SURUT
Kuswantoro, Heru
Buletin Palawija No 19 (2010)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Ekstensifikasi ke luar pulau Jawa merupakan salah satu cara dalam usaha peningkatan produksi kedelai di Indonesia, karena masih terdapat banyak lahan yang belum termanfaatkan secara optimal. Salah satu lahan tersebut adalah lahan pasang surut yang mencapai 20,192 juta hektar. Dalam pengembangan kedelai di wilayah ini, diperlukan suatu varietas adaptif lahan pasang surut karena habitat kedelai sebenarnya adalah di lahan yang bebas dari genangan air. Strategi pembentukan kedelai adaptif lahan pasang surut mengacu pada pemecahan masalah utama, yaitu genangan diikuti dengan pemecahan masalah lainnya seperti kemasaman tanah serta defisiensi unsur hara makro dan toksisitas unsur hara mikro. Oleh karena itu lingkungan seleksi memegang peranan utama dalam pembentukan varietas adaptif ini. Selain itu, kriteria seleksi juga sangat penting karena menentukan pemilihan galur-galur adaptif. Metode identifikasi juga penting karena menentukan mekanisme ketahanan yang dimiliki oleh genotipe terpilih, dan dapat dilakukan berdasarkan pada karakter fisiologis, morfologis, dan agronomis. Pada dasarnya arah pengembangan merupakan faktor utama strategi pembentukan varietas adaptif ditetapkan.