cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT adalah publikasi ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Buletin ini memuat hasil penelitian terkait komoditas rempah dan obat yang belum diterbitkan pada media lain.
Arjuna Subject : -
Articles 544 Documents
PENGARUH POLA TANAM DAN DOSIS PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN TEMPUYUNG (Sonchus arvensis L.) Hera Nurhayati; Ireng Darwati; Rosita SMD
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 24, No 1 (2013): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v24n1.2013.%p

Abstract

Simplisia tempuyung (Sonchus arvensis) mengandung silika, kalium, flavonoid, taraksasterol, inositol, oe-laktuserol, p-laktuserol, manitol, dan inositol yang bermanfaat sebagai pelancar keluarnya air seni, antiurolitiosis, serta mempunyai daya melarutkan batu ginjal, kolesterol, Ca-Oxalat, dan asam urat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pola tanam dan dosis pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan produksi simplisia tempuyung. Kegiatan penelitian dilaksanakan di KP Cimanggu, Bogor, Jawa Barat dari sejak April sampai Juli 2012. Metode penelitian dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan ulangan sebanyak lima kali. Perlakuan pertama adalah pola tanam, yakni (K1) monokultur, (K2) tumpangsari dengan jagung, jarak tanam jagung satu meter, dan (K3) tumpangsari dengan jagung, jarak tanam jagung dua meter. Jarak tanam jagung dalam baris adalah 20 cm. Perlakuan kedua adalah dosis pemupukan, terdiri dari (P1) 50% SOP (50 kg Urea + 50 kg SP36 + 50 kg KCl ha-1); (P2) 100% SOP (100 kg Urea + 100 kg SP36 + 100 kg KCl ha-1); dan (P3) 150% SOP (150 kg Urea + 150 kg SP36 + 150 kg KCl ha-1). Pengamatan meliputi parameter pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun) dan produksi. Panen dilakukan pada umur tiga bulan setelah tanam (BST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola tanam dan pemupukan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Penanaman secara monokultur, maupun dengan jagung pada jarak tanam antar baris dua meter, dapat dilakukan dalam budidaya tempuyung. Pemupukan sesuai SOP dapat dijadikan rekomendasi pemupukan mendukung teknologi budidaya tempuyung. 
EFEKTIVITAS EKSTRAK TANAMAN OBAT TERHADAP CENDAWAN PENYEBAB MASTITIS DAN PENCEMAR PAKAN SAPI Riza Zainuddin Ahmad
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 26, No 1 (2015): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v26n1.2015.47-54

Abstract

Tanaman obat berpotensi sebagai alternatif untuk menekan cemaran cendawan pada pakan sapi dan pengobatan mastitis. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan tanaman obat yang berkhasiat sebagai anti cendawan untuk mengendalikan penyakit mastitis dan pencemar pakan sapi. Penelitian dilakukan di Balai Besar Penelitian Veteriner, tahun 2013. Skrining dilakukan pada 10 jenis tanaman obat dengan membuat ekstrak etanol dari daun, umbi, rimpang dan buah.  Uji daya hambat pertumbuhan cendawan dilakukan secara in vitro dalam cawan petri yang diinkubasi untuk diamati diameter daya hambatnya. Pengujian dilanjutkan dengan pengukuran kadar hambat minimal ekstrak dengan pengenceran 50; 25; 12,5; 6,25; 5; dan 2,5%, lalu dicampurkan dengan media agar dan cendawan uji, diinkubasi pada suhu 25dan 37oC selama 3-5 hari untuk diamati pertumbuhannya. Hasil skrining menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih dan daun cengkeh mempunyai kemampuan daya hambat yang terbaik dibanding ekstrak tanaman lainnya. Daya hambat daun sirih terhadap pertumbuhan Aspergillus flavus, Fusarium solani dan Penicillium sp secara berurutan adalah 11,3; 11,3 dan 20,7 mm; sedangkan daun cengkeh adalah 29,3; 29,0 dan 37,3 mm. Daya hambat daun sirih terhadap pertumbuhan Candida albicans, C. krusei, C. parapsilosis, C. guilliermondii dan Trichosporon sp adalah 25,7; 17,0; 21,0; 26,3 dan 25,7 mm; sedangkan daun cengkeh adalah 19,3; 18,3; 27,5; 29,3 dan 26,3 mm. Daun sirih lebih mudah didapat dan diaplikasikan dibandingkan dengan daun cengkeh, sehingga dipilih untuk uji lanjut. Hasil uji kadar hambat minimum ekstrak daun sirih adalah 2,5%, sehingga dapat digunakan sebagai pengendali cemaran cendawan pada pakan sapi dan mastitis mikotik.
PENGARUH PERLAKUAN BENIH DAN APLIKASI PESTISIDA SINTETIK DAN NABATI TERHADAP PRODUKSI RIMPANG BENIH JAHE Mono Rahardjo
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 22, No 2 (2011): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v22n2.2011.%p

Abstract

Benih merupakan salah satu faktor pro-duksi yang mempunyai kontribusi lebih ku-rang 40% terhadap keberhasilan budida-ya jahe. Penyediaan benih jahe bermutu masih terkendala oleh tingginya kontami-nasi OPT tular benih. Minyak atsiri serai wangi, cengkeh, dan kayu manis, berpo-tensi digunakan untuk mengurangi serang-an OPT. Tujuan penelitian adalah untuk menguji perlakuan benih dan penyemprot-an tanaman jahe dengan formula minyak atsiri dan karbosulfan  + mancozeb terha-dap produksi jahe. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Cicurug sejak Nopember 2009 sampai Desember 2010. Perlakuan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Faktorial dan setiap perlakuan diulang 6 kali. Faktor pertama adalah perlakuan be-nih (seed treatment); A1) karbosulfan + mancozeb, A2) minyak daun cengkeh + kayu manis, dan A3) minyak daun cengkeh dan serai wangi, dosis masing-masing per-lakuan adalah 0,2% diberikan secara coa-ting sebelum benih disemaikan. Faktor ke-dua adalah aplikasi pestisida pada tanam-an; B1) kontrol tanpa perlakuan, B2) mi-nyak daun cengkeh + kayu manis, B3) minyak daun cengkeh + serai wangi, dan B4) karbosulfan. Dosis masing-masing per-lakuan adalah 0,4%, diaplikasikan setiap minggu terhadap tanaman pada fase vege-tatif sampai tanaman umur 6 bulan setelah tanam. Pengamatan dilakukan terhadap produksi benih, persentase benih rusak, kadar serat, kadar pati benih, dan persen-tase daya tumbuh benih. Hasil penelitian menunjukkan produksi rimpang tertinggi (11,56 t/ha), hasil benih tertinggi (10,21 t/ha) dan daya tumbuh benih jahe ter-tinggi (99,79%) dicapai pada perlakuan benih menggunakan campuran karbosul-fan + mankozeb sehingga perlakuan ter-sebut dapat dijadikan standar dalam pe-nyiapan benih jahe. Perlakuan tersebut ti-dak mempengaruhi mutu jahe. Kerusakan rimpang, kadar serat dan pati rimpang tidak dipengaruhi oleh perlakuan benih dan penyemprotan pestisida pada ta-naman.
POTENSI ADAS (Foeniculum vulgare) SEBAGAI BAHAN AKTIF LOTION ANTI NYAMUK DEMAM BERDARAH(Aedes aegypti) Agus Kardinan; Azmi Dhalimi
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 21, No 1 (2010): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v21n1.2010.%p

Abstract

Penelitian dilakukan pada tahun 2007-2008 di Laboratorium Entomologi, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aro-matik. Penelitian disusun dengan rancang-an acak lengkap, terdiri dari 5 taraf per-lakuan konsentrasi minyak adas (0; 1,25; 2,5; 5; dan 10%), dan diulang sebanyak sepuluh kali. Pengamatan dilakukan terha-dap uji organoleptik, yaitu meliputi homo-genitas formula, warna, aroma, uji iritasi, pH, viskositas, serta uji daya proteksi. Pengujian dilakukan selama enam jam, sedangkan pengolesan lotion hanya dila-kukan satu kali, pada saat awal pengujian untuk melihat daya tahan lotion. Hasil menunjukkan bahwa formula lotion anti nyamuk bercampur secara homogen yang dilihat pada bulan pertama hingga bulan ketiga. Lotion berwarna agak kekuningan, sebagai akibat dari warna minyak atsiri adas yang berwarna kekuningan. Aroma formula berbau khas seperti minyak telon dengan aroma yang stabil sampai penga-matan bulan ke tiga. Lotion tidak menye-babkan iritasi atau ketidak-nyamanan pada pengguna selama pemakaian enam jam. pH formula lotion hampir merata yaitu sekitar 8,6 lebih, dimana pH ideal sebagai lotion adalah mendekati netral (7). Oleh karena itu perlu pengurangan kadar tri-etanolamin pada formula untuk menu-runkan pH. Terdapat korelasi positif antara konsentrasi minyak atsiri adas dengan viskositas formula, yaitu semakin tinggi kandungan minyak atsiri adas, semakin tinggi viskositasnya. Minyak atsiri adas bersifat repellent (menolak) nyamuk A. aegypti, namun demikian pada konsen-trasi 1,25 dan 2,5% hanya menampakkan efektifitasnya pada jam pertama pengu-jian. Sedangkan pada konsentrasi 5 dan 10%, efektifitasnya dapat bertahan sela-ma dua jam dengan menunjukkan daya proteksi di atas 50%, setelah itu daya proteksi mulai menurun. 
ANALISIS PENDAPATAN DAN DAYA SAING USAHATANI AKAR WANGI DI KABUPATEN GARUT JT. Yuhono
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 19, No 2 (2008): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v19n2.2008.%p

Abstract

Penelitian mengenai analisis penda-patan usahatani dan daya saing pengolahan minyak akar wangi telah dilakukan di Garut sejak Juli sampai dengan Agustus 2007. Tujuan penelitian untuk mengetahui pendapatan petani akar wangi, keunggulan komparatif dan kom-petitifnya di pasar internasional. Penelitian menggunakan metode survey. Untuk meng-analisis keunggulan komparatif digunakan har-ga bayangan (pseudo price), sedangkan untuk menganalisis keunggulan komparatif diguna-kan harga aktual yang terjadi. Data dianalisis dengan analisis input - output, benefit cost ratio dan analisis biaya sumber daya domestik (BSD) atau domestic resource cost (DRC). Di-tentukan dua desa sentra tanaman dan sentra industri penyulingan minyak akar wangi yaitu di desa Sukamukti dan Sukakarya. Hasil yang diperoleh adalah keuntungan bersih di desa Sukamukti Rp 12.417.500,-/ha/tahun dan          Rp 11.047.500,-/ha/tahun bila ditanam secara monokultur dengan B/C ratio 1,8. Hasil analisis BSD menunjukkan bahwa industri pengolah minyak akar wangi di desa Sukamukti dan Sukakarya mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif. Data tersebut menunjukkan bahwa industri penyulingan minyak akar wangi yang produknya ditujukan untuk eskspor mem-butuhkan biaya sumberdaya domestik lebih ke-cil dibandingkan dengan harga ekspornya. BSD yang diperlukan untuk menghasilkan devisa negara sebesar 1 US dolar dibutuhkan sumber-daya dalam negeri sebesar Rp 6.257,77 di desa Sukamukti dan Rp 7.616,36 di desa Sukakarya. Koefisien biaya sumberdaya domestik (KBSD) kurang dari 1, yaitu sebesar 0,6987 untuk desa Sukamukti dan 0,8344 untuk desa Sukakarya. 
PENGARUH GIBERELIN TERHADAP PERTUMBUHAN BEBERAPA VARIETAS LADA UNTUK PENYEDIAAN BENIH SECARA CEPAT Setiawan Setiawan; Agus Wahyudi
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 25, No 2 (2014): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v25n2.2014.111-118

Abstract

Tanaman lada (Piper nigrum) dapat diperbanyak dengan biji, setek, layering dan grafting, maupun kultur jaringan. Metode perbanyakan untuk menghasilkan benih secara cepat (rapid multiplication method) telah dikembangkan untuk memperoleh benih dalam waktu singkat.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian GA3 terhadap pertumbuhan lada dengan rapid multiplication method. Penelitian dilaksanakan Mei sampai Desember 2013 di KP. Cimanggu.. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok yang disusun secara faktorial tiga  ulangan. Faktor  pertama  adalah  bahan  tanaman  yaitu  tujuh  varietas  lada  yaitu  Natar-1,  Natar-2,  Petaling-1,  Petaling-2, Lampung Daun Lebar, Bengkayang dan Chunuk. Faktor kedua adalah dosis GA3 yaitu 0, 50, dan 100 ppm. Pengamatan dilakukan terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun, jumlah buku berakar, jumlah dan panjang akar primer, jumlah dan panjang akar adventif, luas daun dan bobot kering biomas. Hasil menunjukkan bahwa tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun, luas daun, jumlah buku berakar, jumlah akar adventif, panjang akar adventif, jumlah akar primer dan panjang akar primer dipengaruhi oleh interaksi varietas dan GA3. Bobot kering akar, bobot kering daun, bobot kering batang dan bobot kering akar adventif dipengaruhi oleh fakt or tunggal varietas dan GA3. Varietas Petaling-2 dan LDL pada aplikasi GA3 100 ppm menghasilkan buku berakar tertinggi masing-masing 11 dan 10 buku.
POTENSI EKSTRAK TANAMAN OBAT DAN AROMATIK SEBAGAI PENGENDALI KEONG MAS Wiratno Wiratno; Molide Rizal; I Wayan Laba
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 22, No 1 (2011): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v22n1.2011.%p

Abstract

Potency of Medicinal and Aromatic Crop Extracts to control Golden SnailResearch aimed to evaluate potency of some medicinal and aromatic plants as raw materials of molluscicides to control the golden snail has been done in the En-tomological Laboratory of Medicinal and Aromatic Crops Research Institute, Bogor, Indonesia from February to October 2008. The study used factorial ith rando-mized block design basis. The first factor is three levels dipping time of 5, 10, and 20 hours. The second factor is 14 kinds of extracts to be tested i.e. extracts of clove, the crown of god, seraiwangi, turmeric, physic nut, pig nut, legundi, chili java, ba-badotan, brotowali, bitter, kenikir, noni, and rerak. Research initially conducted by dissolving 5% tween 80 in water. After that into the 1 l of solution is placed 5 g of extract to be tested so that the concen-tration of extract in the solution to be tested is 0.5%. After that the snails were put into the solution and were fed with ta-ro leaf (Colocasia giganteum). In the con-trol treatment the snail only be soaked in water containing 5% tween 80. Soaking performed for 5, 10, and 20 hours in glass jars 9 x 15 cm2 diameter. After soaking snails then were transferred into the bottle containing clean water and then given a taro leaf size ~100 cm2 as food. Each tre-atment used 10 snails and repeated 3 times. Observations were made at 1, 2, and 3 days after application of the golden snail mortality by counting the number of snails that died after treatment and of inhibition of eating by noting the eaten leaf area. The results showed that the clove, the crown of god, Cintronella oil, and tur-meric are the most effective extract with 100% mortality rate and percentage of >90% inhibition of eating. Among the plants tested, clove most prospective to be developed as a controlling golden snail due to its high yield and the most immediate cause of death of the snail test. 
PENGARUH MINYAK ATSIRI TERHADAP MORTALITAS DAN PENGHAMBATAN PENELURAN Crocidolomia Pavonana F Rodiah Balfas; Tri Lestari Mardiningsih
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 27, No 1 (2016): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v27n1.2016.85-92

Abstract

Kubis, brokoli, dan bunga kol merupakan tanaman sayuran yang cukup penting, termasuk dalam famili Brassicaceae. Kendala utama dalam budidaya tanaman tersebut adalah serangan hama Crocidolomia pavonana. Minyak atsiri merupakan salah satu produk tanaman yang dapat digunakan sebagai alternatif pengendalian organisme pengganggu tumbuhan. Penelitian telah dilakukan di Rumah Kaca Kelompok Peneliti Proteksi Tanaman Balittro, sejak Maret sampai Desember 2014. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh minyak atsiri terhadap mortalitas telur, larva dan imago C. pavonana. Minyak atsiri yang diuji adalah minyak babadotan, cengkeh, laja gowah, seraidapur, seraiwangi, dan temulawak, masing-masing pada konsentrasi 0,5%. Selain itu, digunakan mimba sebagai pembanding. Pengujian ovisidal dilakukan dengan mencelupkan telur dalam masing-masing larutan uji. Untuk mengetahui pengaruhnya terhadap larva (larvasidal) telah dilakukan aplikasi bahan-bahan tersebut pada larva dan daun brokoli. Penelitian penghambatan peneluran dilakukan dengan menyemprotkan larutan ini pada tanaman, dikeringanginkan kemudian tanaman dikurung, dan serangga dewasa dimasukkan ke dalam kurungan. Pengamatan dilakukan terhadap penetasan telur dan mortalitas larva serta jumlah kelompok telur yang diletakkan. Hasil penelitian menunjukkan minyak seraidapur dan temulawak bersifat toksik terhadap telur. Minyak babadotan, mimba, dan seraiwangi yang diaplikasikan pada daun, mengakibatkan mortalitas larva lebih dari 90% tetapi, pada aplikasi langsung pada larva, mortalitas tertinggi berkisar antara 28% pada perlakuan mimba dan seraiwangi. Minyak babadotan, seraidapur, dan seraiwangi serta mimba memberikan pengaruh yang sama terhadap penghambatan peneluran pada 96 jam setelah aplikasi. Pengaruh terhadap peneluran juga terlihat pada perlakuan minyak temulawak yang telah diformulasikan. Minyak seraiwangi, seraidapur, babadotan, dan mimba serta temulawak berpotensi untuk digunakan sebagai insektisida nabati untuk mengendalikan  C. pavonana.
ASPEK BIOLOGIS HAMA Aspidomorpha milliaris F. (Coleoptera : Crysomelidae) PADA TANAMAN YLANG-YLANG Adria Adria; Sondang Suriati
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 21, No 2 (2010): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v21n2.2010.%p

Abstract

Aspidomorpha milliaris (Coleoptera : Crysomelidae) adalah salah satu hama pada tanaman ylang-ylang (Canangium odoratum forma guneina) di Kebun Per-cobaan Laing Solok. Sehubungan dengan itu telah dilakukan studi aspek biologis A. milliaris sejak Januari sampai Desember 2008 dalam skala rumah kaca dan obser-vasi lapangan. Penelitian rumah kaca dilak-sanakan dengan metode rearing pada April dan Oktober 2008. Pada setiap tahapan telur A. milliaris dikoleksi dari lapangan, dipelihara dalam kotak transparan Æ 25 cm, dan diamati perkembangannya sampai jadi imago. Pengamatan dilakukan setiap hari, meliputi persentase ekslosi telur, mortalitas larva tiap instar, lama periode larva, lama periode pupa, persentase emergensi pupa menjadi imago, konsumsi makan larva dan imago. Observasi lapang dilaksanakan terhadap 15 tanaman contoh yang ditentukan secara sistematik random sampling. Pengamatan dilakukan setiap bulan dan parameter yang diamati : kera-patan populasi (larva, pupa, dan imago) dan intensitas serangan. Hasil penelitian diketahui aspek biologis, khususnya siklus hidup, A. milliaris pada tanaman ylang-ylang dari telur sampai imago berlangsung 63,35 hari, terdiri atas stadium telur, larva, dan pupa masing-masing selama 6,56; 45,31; dan 11,48 hari. Lama siklus pada musim hujan lebih panjang 3,09 hari dibanding musim kemarau. Tingkat ekslosi telur mencapai 88,67%, pupasi 67,30%, dan emergensi pupa 70,65% masing-masing dalam waktu 5-8; 8-12; dan 10-14 hari. Volume makan larva instar VI dan imago paling tinggi mencapai 0,503 dan 0,449 g/ekor/hari. Padat populasi men-capai 43,72 ekor/tanaman, terdiri dari larva, pupa, dan imago masing-masing 27,48; 8,97; dan 7,27 ekor/tanaman. Intensitas serangan mencapai 36,55%, yang meliputi 18,90% pada daun muda dan 17,65% pada daun tua. 
KARAKTERISTIK MORFOLOGI BUNGA KENCUR (Kaempferia galanga L.) Wawan Haryudin; Otih Rostiana
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 19, No 2 (2008): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v19n2.2008.%p

Abstract

Bunga kencur tergolong bunga sempurna yaitu memiliki benang sari dan putik. Penelitian bertujuan untuk mempelajari biologi bunga tanaman kencur yang dilaksanakan di Rumah Kaca Pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) Bogor sejak Januari – Desember 2007. Parameter yang diamati adalah jumlah kelopak, warna kelopak, panjang dan lebar kelopak, warna mahkota, jumlah mahkota, panjang dan lebar mahkota, panjang kotak sari, lebar kotak sari, panjang tangkai putik, lebar kepala putik, panjang bunga, panjang tabung bunga, dia-meter tabung bunga, jumlah tepung sari (Pollen) fertil, jumlah tepung sari steril, per-sentase fertilitas dan sterilitas tepung sari. Data dianalisis dengan menggunakan Anova. Jika terdapat beda nyata pada setiap perlakuan di-lanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil analisis menunjukkan morfologi kelopak bunga terpanjang pada V1 (2,30 cm) berbeda nyata dengan V5 tetapi tidak berbeda nyata dengan nomor lainnya. Sedangkan panjang mahkota bunga terdapat pada V4 (1,61 cm) berbeda nyata dengan V5 tetapi tidak berbeda nyata dengan nomor lainnya. Lebar kelopak, lebar mahkota, jumlah kelopak dan jumlah mahkota tidak berbeda nyata dari masing-masing nomor. Morfologi bunga jantan dan bunga betina dari masing-masing parameter yang dianalisis tidak berbeda nyata. Warna bunga kencur putih pada nomor V2 dan ungu terdapat pada nomor V1, V3, V4 dan V5. Bunga kencur merupakan jenis bunga yang termasuk kedalam bunga majemuk yang sem-purna (lengkap) karena terdapat bunga jantan dan bunga betina dalam satu anak bunga. Bunga jantan dan bunga betina matang bersamaan pada saat kuntum mekar penuh dengan masa reseftifitas 5 jam. Reseftifitas bunga jantan ditandai adanya warna kuning pada kotak sari sedangkan reseftifitas bunga betina ditandai ligula pada kepala putik sudah rontok dan terdapat lubang menganga di kepala putik. Fertilitas tepung sari sangat tinggi berkisar antara 97,20-99,14 %. 

Filter by Year

1986 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 2 (2021): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 32, No 1 (2021): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 31, No 2 (2020): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 31, No 1 (2020): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 30, No 2 (2019): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 30, No 1 (2019): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 29, No 2 (2018): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 29, No 1 (2018): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 28, No 2 (2017): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 28, No 1 (2017): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 27, No 2 (2016): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 27, No 1 (2016): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 26, No 2 (2015): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 26, No 1 (2015): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 25, No 2 (2014): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 25, No 1 (2014): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 24, No 2 (2013): Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 24, No 2 (2013): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 24, No 1 (2013): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 24, No 1 (2013): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 23, No 2 (2012): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 23, No 1 (2012): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 22, No 2 (2011): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 22, No 1 (2011): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 21, No 2 (2010): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 21, No 1 (2010): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 20, No 2 (2009): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 20, No 1 (2009): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 19, No 2 (2008): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 19, No 1 (2008): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 18, No 2 (2007): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 18, No 1 (2007): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 17, No 2 (2006): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 17, No 1 (2006): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 16, No 2 (2005): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 16, No 1 (2005): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 15, No 2 (2004): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 15, No 1 (2004): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 14, No 2 (2003): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 14, No 2 (2003): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 14, No 1 (2003): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 13, No 2 (2002): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 13, No 1 (2002): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 12, No 1 (2001): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 11, No 2 (2000): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 10, No 1 (1999): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 9, No 2 (1994): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 9, No 1 (1994): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 8, No 2 (1993): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 8, No 1 (1993): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 7, No 2 (1992): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 7, No 1 (1992): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 6, No 2 (1991): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 6, No 1 (1991): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 5, No 2 (1990): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 5, No 1 (1990): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 4, No 2 (1989): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 4, No 1 (1989): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 3, No 2 (1988): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 3, No 1 (1988): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 2, No 2 (1987): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 2, No 1 (1987): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 1, No 2 (1986): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 1, No 1 (1986): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat More Issue