cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Perspektif : Review Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Education,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan yang memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Arjuna Subject : -
Articles 203 Documents
STRATEGI PRODUKSI BENIH TEBU DALAM MENDUKUNG SWASEMBADA GULA Strategy Of Sugar Cane Seed Production In Supporting Self Sufficiency Parnidi Parnidi; Mastur Mastur
Perspektif Vol 19, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v19n2.2020.122-135

Abstract

AbstrakTebu merupakan penghasil gula yang utama serta merupakan komoditas strategis di Indonesia.Benih bermutu merupakan faktor penting untuk meningkatkan produktivitas dan rendemen Salah satu upaya penting yang menentukan keberhasilan budidaya tebu adalah ketersediaan benih berkualitas. Tinjauan ini dimaksudkan untuk mengkaji aspek perbenihan tebu dan strategi untuk memperoleh benih dalam jumlah banyak, seragam, sehat, waktu sesuai, distribusi dan aspek ekonominya. Perbanyakan benih tebu umumnya dilakukan dengan pendekatan konvensional. Beberapa kendala yang dihadapi dalam upaya perbanyakan benih tebu konvensional adalah faktor perbanyakan benih hanya 5-8. (?) Metode alternatif kultur in vitro mampu menghasilkan benih dalam jumlah banyak, seragam, sehat, dan waktu sesuai jadwal.Namun pengembangan kultur in vitro memerlukan fasilitas laboratorium, sumber daya manusia dan anggaran memadai.  Perbanyakan benih selanjutnya dilakukan berjenjang dengan bagal atau benih tumbuh satu mata.Metodebenih tumbuh satu mata(bud chips ataupun single bud sett) meskipun lebih mahal, mampu memperbanyak benih lebih cepat, sehat, dan seragam karena dapat diberikan perlakuan benih dengan pestisida dan zat pengatur tumbuh, memiliki multiplikasi lebih banyak karena banyaknya anakan, serta dapat melakukan seleksi untuk memilih benih yang tumbuh seragam dan sehat yang akan ditanam. Pengembangan sistem perbenihan tebu harus didukung faktor sosial ekonomi terutama aspek kelayakan finansial, kelembagaan dan sistem permodalan serta dukungan program dan kebijakan pemerintah. Abstracts Sugarcane is dominant to provide sweetener crop and its a strategic commodity in Indonesia.Qualified seeds are important factor increasing yield and sugar content of sugarcane.This review is purposed to discuss sugarcane seeds aspects and solution get seeds in more, hogenous, healthy, and proper shedule. Generally, source of KBPU multiplication seeds is conducted by breeder. Alternative method of tissue culture can produce much, homogenous, healty, and proper timetable. However, tissue culture development requires enough laboratory facillities, human resources, and budget.Following seeds mult. Fllowing multiplication are conducted hierracy through billets and bud chip.Eventhough bud chips or single bud sett are expencive, but it can produce seeds more quicly, helsty, and hommogenous due to able to threath of pesticide and plant growth regulator, higher multiplication due to many tillering, and selection of healthy and homogenous seeds.Sugarcane seeds system development has to be supported by socio-economic factors, particularly financial, institutional, and capital system. 
STRATEGI PENINGKATAN PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK PADA SISTEM INTEGRASI SAWIT SAPI Strategies for Increasing the Use of Organic Fertilizers in the Palm Cattle Integration System Suci Wulandari; Deciyanto Soetopo
Perspektif Vol 19, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v19n2.2020.136-148

Abstract

AbstrakABSTRAKSistem integrasi sawit sapi merupakan salah satu model penerapan teknologi yang memiliki potensi untuk meningkatkan produktivitas sawit. Pola manajemen ternak (intensif, semi intensif, dan ekstensif) memberikan potensi dan permasalahan yang berbeda terhadap penggunaan pupuk organik yang bersumber dari ternak sapi. Tulisan ini bertujuan untuk menelaah penyediaan dan pemanfaatan pupuk organik pada berbagai pola manajemen ternak, serta pemetaan kendala dan strategi dalam penerapannya. Manajemen ternak memberikan pengaruh yang berbeda dalam pengelolaan dan pemanfaatan pupuk organik ditinjau dari jumlah bahan baku, kemudahan pengelolaan bahan baku, efektivitas pemanfaatan pupuk organik, komponen biaya, dan aplikasi pupuk organik. Pola intensif memberikan peluang pengelolaan pupuk organik yang lebih baik. Dari sisi pengolahan dan aplikasi pada perkebunan sawit, pola intensif juga relatif lebih baik.  Pemanfaatan pupuk organik dari sistem integrasi sawit sapi masih dihadapkan pada berbagai kendala terkait dengan ketersediaan bahan baku, ketersediaan peralatan pengolahan dan bahan pembantu, ketersediaan modal, ketersediaan tenaga kerja, pemasaran dan distribusi, serta minat dan pengetahuan petani. Berdasarkan kendala yang dihadapi, maka strategi mendorong pemanfaatan pupuk organik bertujuan untuk membangun sistem produksi yang menjamin ketersediaan bahan baku, ketersediaan peralatan pengolahan dan bahan pembantu, ketersediaan modal, dan ketersediaan tenaga kerja. Selainuntuk meningkatkan minat petani, strategi juga bertujuan untuk menjamin distribusi dan pemasaran produk,sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani. Berdasarkan kendala dan tujuan yang ingin dicapai, maka strategi untuk meningkatkan pemanfaatan pupuk organik pada sistem integrasi sawit sapi terdiri dari: penguatan kelembagaan petani, pengembangan aspek kewirausahaan, percepatan alih teknologi melalui diseminasi partisipatif, pengembangan unit pengolahan pupuk organik berbasis agribisnis, pendirian unit percontohan, penguatan dukungan lembaga penelitian, peningkatan akses permodalan, serta  formulasi kebijakan mendukung sistem produksi dan pemanfaatan pupuk organik. Strategi dibangun dengan tujuan untuk mengatasi permasalahan internal petani atau kelompok tani dan untuk memanfaatkan dukungan dari pihak lain.AbstractThe palm cattle integration system is a model for applying technology that can increase oil palm productivity. The cattle management model (intensive, semi-intensive, and extensive) provides different potentials and problems to organic fertilizers usage. This paper aims to examine the supply and use of organic fertilizers in various cattle management mode,also mapping constraints and application strategies. Livestock management has different effects in the management and utilization of organic fertilizers in terms of the number of raw materials, ease of management of raw materials, the effectiveness of organic fertilizers, cost components, and the application of organic fertilizers.The intensive system provides opportunities for better organic fertilizer management. In terms of processing and application in oil palm plantations, the intensive system is also relatively better. The use of organic fertilizers from the palm cattle integration system is still faced various obstacles related to the availability of raw materials, availability of processing equipment and supporting materials, availability of capital, availability of labor, marketing and distribution, and farmers’ interests and knowledge. Based on the constraints faced, the strategy aims to build a production system that ensures the availability of raw materials, the availability of processing equipment and supporting materials, availability of capital, and labor availability. The strategy also aims to provide product distribution and marketing, increase farmers’ interest, and increase farmers’ income. Based on the constraints and objectives,the strategies include strengthening farmer institutions, developing entrepreneurial aspects, accelerating technology transfer through participatory dissemination, developing agribusiness-based organic fertilizer processing units, establishing pilot units, enhancing the support of research institutions, increasing access to capital, and formulating policies to support the production and use of organic fertilizers. The strategy  is built to overcome farmers or farmer groups’ internal problems and take advantage of support from other parties.
PELUANG PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN DAYA SAING LADA Opportunity For Increasing Productivity And Competitiveness Of Pepper Siswanto, Siswanto; Ardana, I Ketut; Karmawati, Elna
Perspektif Vol 19, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v19n2.2020.149-160

Abstract

Pepper is a spice commodity that plays an important role in the Indonesian economy, and occupies the first position as an export commodity for the spice plant commodity. In the last few decades the volume and value of exports of pepper has decreased, so that Indonesia's position as the world's largest producer and exporter was shifted by Vietnam. In addition to a decrease in area, the national average productivity of pepper is still low (<1000 kg / ha / year) compared to other world pepper producing countries. Pepper cultivation technology innovation is needed to increase the productivity and competitiveness of Indonesian pepper in the world. Three main components that affect the increase in productivity and competitiveness of pepper, namely the use of seed technology, cultivation efficiency, and efficiency of pepper processing. Pepper seed technology includes the use of superior varieties and preparation of superior quality and healthy seeds. Until now, 10 high-yielding varieties have been produced with an average productivity of> 3.0 tonnes / ha and quality seed propagation technology, but the performance of seedlings has not been running well, due to limited information and adequate number of seeds. Pepper cultivation technology that is environmentally friendly and efficient starting from seed preparation, land, planting, maintenance, pruning, fertilization, pest control and harvesting has been produced. Likewise, more efficient yield processing technology using appropriate equipment and certain enzymes for soaking, threshing, stripping, drying and sorting has been produced. However, in the field there are still many farmers who have not applied them or are not consistent in fully applying existing technology so that the results obtained are not optimal. Therefore it is necessary to encourage efforts to develop and supervise the implementation of SOPs appropriately and consistently so that the productivity, quality and competitiveness of pepper can be improved.ABSTRAKLada merupakan komoditas rempah yang berperan penting dalam perekonomian Indonesia, dan menduduki posisi pertama sebagai komoditas ekspor komoditas tanaman rempah. Dalam beberapa dasawarsa terakhir volume dan nilai ekspor lada mengalami penurunan, sehingga posisi Indonesia sebagai produsen dan exportir terbesar dunia sempat tergeser oleh Vietnam.  Selain terjadinya penurunan luas areal, produktivitas rata-rata nasional lada tergolong masih rendah (<1000 kg/ha/th) dibandingkan negara produsen lada dunia lainnya. Inovasi teknologi budidaya lada sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing lada Indonesia di dunia. Tiga komponen utama yang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas dan daya saing lada, yaitu pemanfaatan teknologi perbenihan, efisiensi budidaya, dan efisiensi pengolahan lada. Teknologi perbenihan lada meliputi penggunaan varietas unggul dan penyiapan benih unggul bermutu dan sehat. Hingga saat ini telah dihasilkan 10 varietas unggul dengan produktivitas rata-rata > 3,0 t/ha serta teknologi perbanyakan benih bermutu, namun kinerja perbenihan belum berjalan baik, karena keterbatasan informasi dan jumlah benih bina. Teknologi budidaya lada yang ramah lingkungan dan efisien mulai dari persiapan benih, lahan, penanaman, pemeliharaan, pemangkasan, pemupukan, pengendalian hama penyakit hingga panen sudah dihasilkan. Teknologi pengolahan hasil yang lebih efisien menggunakan peralatan yang tepat guna dan pemanfaatan enzim tertentu untuk perendaman, perontokan, pengupasan, pengeringan dan sortasi telah dihasilkan. Namun di lapangan masih banyak ditemukan petani yang belum mengaplikasikannya atau tidak konsisten mengaplikasikan teknologi yang ada secara penuh sehingga hasil yang diperoleh kurang baik.  Oleh karena itu perlu didorong upaya pembinaan dan pengawasan terhadap penerapan SOP secara tepat dan konsisten agar produktivitas, mutu dan daya saing lada dapat ditingkatkan.
POTENSI DAGING KELAPA KOPYOR SEBAGAI BAHAN PANGAN SEHAT / Potency of Kopyor Coconut Meat as an Ingredient of Healthy Food Muhammad Yusuf Antu; Ismail Maskromo; Barlina Rindengan
Perspektif Vol 19, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v19n2.2020.95-104

Abstract

ABSTRAKSumber pangan sehat saat ini telah menjadi kebutuhan utama masyarakat menengah atas, karena dapat dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan dalam kehidupan manusia dan memperpanjang usia. Potensi sumber pangan tersebut terdapat pada salah satu komoditas perkebunan yaitu  kelapa kopyor. Tujuan dari penulisan adalah menelaah potensi kelapa kopyor sebagai pangan fungsional yang bergizi dan berguna untuk kesehatan. Kelapa kopyor daging buahnya mempunyai komposisi kimia yang baik untuk kesehatan. Daging buah kelapa opyor mengandung senyawa antioksidan dan asam laurat sebesar 37,93% - 51%. Asam laurat adalah komponen yang mudah dicerna dan diserap oleh tubuh, berfungsi sebagai anti bakteri, anti kanker, dan meningkatkan energi. Selain itu terdapat pemanfaatan daging buah kelapa kopyor untuk dijadikan makanan sehat, namun belum populer, karena masyarakat hanya mengetahui bahwa kelapa kopyor sebagai minuman pemenuh dahaga yakni es kopyor. Beberapa penelitian yang telah dihasilkan diantaranya oleh Balai Penelitian Tanaman Palma terkait dengan komposisi kimia daging kelapa kopyor, namun perlu secara spesifik didiseminasikan manfaatnya untuk kesehatan, sehingga masyarakat maupun konsumen akan lebih mengetahui khasiatnya, dan petani akan lebih giat dalam memproduksi kelapa kopyor secara massal. Pengembangan produksi dan pemanfaatan kelapa kopyor cukup prospektif karena sejalan dengan program diversifikasi pangan lokal serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan pangan sehat dan pengembangan industrial petanian. ABSTRACTHealthy food resources currently has been a major need for people the middle upper class, because can be used to maintain the health in human life. The potential of food is on one of the kopyor coconut plantation commodities. The purpose is to review the potential of Kopyor coconut as a functional food that is nutritious and useful for health. Kopyor coconut meat has its chemical cmposition is good for the health. Kopyor coconut meat compounds containing antioxidants and lauric acid of 37,93% - 51%. Lauric acid is a component being easy to digest and absorbed the body, serves as anti bacterials, anti cancer, and increases energy. Moreover,can be used kopyor coconut meat as healthy foods, however has not been popular,  because the public only knows that  kopyor coconut as a thirst-replenishing drink namely kopyor ice. Several studies have been produced, among others by Indonesia Palmae Crops Research Institute related to the chemical composition of kopyor coconut meat, however must be specifically disseminated for health benefits, so that the community as well as consumers will be more aware of its benefits, and farmers will be more active in producing the cocoanut kopyor en masse. The development and use of kopyor coconut enough prospective because in line with the local food diversification and the increased awareness about healthy food and development of the agricultural industry. 
POTENSI DAN PEMANFAATAN LIMBAH DEKORTIKASI TANAMAN SISAL (Agave sisalana) Potential Use of Waste Plant Decortication of Sisal(Agave sisalana) Yoga Angangga Yogi; Garusti Garusti; Budi Santoso
Perspektif Vol 20, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v20n1.2021.01-10

Abstract

Sisal (Agave sisalana) merupakan tanaman mempunyai produk utama berupa serat alami dengan rendemen rata – rata 5%. Limbah sisal mencapai hingga sekitar 95% biasanya terbuang dan dapat menjadi masalah lingkungan. Tujuan dari ulasan ini untuk menjelaskan potensi pemanfaatan limbah sisal. Produk samping yang sedang dikembangkan dapat meningkatkan nilai tambah limbah dekortikasi sisal. Dapat disimpulkan bahwa limbah dekortikasi sisal masih mengandung senyawa biokimia aktif yang berpotensi dimanfaatkan dalam berbagai bidang. Limbah dekortikasi sisal dalam bidang farmakologi bersifat sitotoksik, antineoplastik, antifungal, anthelmintik, pelembab dalam bahan kosmetik, dan saponin yang terdapat dalam limbah dapat bersifat antioksidan, antimikrobia, antikanker. Limbah sisal juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan dan biogas. Selain itu dalam bidang makanan dan minuman limbah sisal mengandung senyawa penstabil/pengemulsi dan bahan kemasan biodegradable.
Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl.) : PENGGUNAAN TRADISIONAL, FITOKIMIA dan AKTIVITAS FARMAKOLOGI Piper retrofractum Vahl. : Traditional Uses, Phytochemical and Pharmacological Activities Fahrauk Faramayuda; Sufyan Zainul Arifin; Akhirul Kahfi Syam; Elfahmi Elfahmi
Perspektif Vol 20, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v20n1.2021.26-34

Abstract

 ABSTRAK Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) adalah tanaman daerah tropis asli Indonesia yang dijumpai juga di negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Malaysia, dan sejak dahulu telah digunakan secara turun-temurun sebagai bahan tambahan makanan ataupun obat tradisional. Secara tradisional di masyarakat, buah cabe jawa dapat digunakan dalam ramuan untuk mengobati demam, perut kembung, mulas, muntah, mengatasi gangguan pencernaan, merangsang nafsu makan, dan lemah syahwat. Akarnya sering digunakan untuk mengobati sakit gigi, luka dan kejang, serta bagian daunnya digunakan juga untuk obat kumur. Beberapa penelitian menyebutkan aktivitas farmakologi cabe Jawa memiliki efek afrodisiaka, antipiretik, antihiperurisemia, antikanker, dan antimikroba. Pengujian klinis terhadap cabe jawa telah dilakukan dan potensial dikembangkan menjadi obat tradisional golongan fitofarmaka. Cabe jawa memiliki aktivitas sebagai imunostimulan, lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok imunostimulan fitofarmaka. Cabe jawa mempunyai potensi sebagai anti-photoaging, aktivitas antituberkular, antiproliferasi, aktivitas larvasida, dan aktivitas sitotoksik. Studi fitokimia senyawa metabolit sekunder utama yang terkandung dalam cabe jawa antara lain beberapa jenis alkaloid seperti piperine, pipernonaline, guineensine, piperoctadecalidine, minyak atsiri buah cabe jawa mengandung tiga komponen utama yaitu yaitu β-caryophyllene (17%), pentadecane (17,8%) dan β- bisabollene (11,2%) . Selain senyawa utama tersebut,  terdapat senyawa baru pada buah cabe jawa, diantaranya; senyawa amida, amida glikosida, fenilpropanoid glikosida, dan alkaloid. Sebagai afrodisiaka bagian yang digunakan adalah buahnya dan senyawa piperin yang diduga bertanggung jawab terhadap aktivitas tersebut. Piperin merupakan senyawa utama dan zat berkhasiat yang terkandung dalam buah cabe jawa dan berfungsi sebagai penurun demam, mengurangi rasa sakit, antioksidan, mengurangi peradangan, antitumor, dan sebagai imunomodulator. Berdasarkan aktifitas farmakologi yang baik dari cabe jawa maka studi atau penelitian-penelitian pada tanaman ini harus terus dilakukan seperti pengembangan formulasi dan upaya perbanyakan tanaman karena populasi cabe jawa jumlahnya terbatas. Media terbaik dalam induksi kalus tanaman cabe jawa adalah Murrashige Skoog (MS) yang ditambah 6-Benzil Amino Purin (BAP) dan Naphtalene Acetic Acid (NAA).ABSTRACT Piper retrofractum vahl. is a tropical plant native to Indonesia which is also found in Southeast Asian countries such as Thailand and Malaysia, and has been used for generations as a food additive or traditional medicine. Traditionally in the community, P. retrofractum  fruit can be used in potions to treat fever, flatulence, heartburn, vomiting, overcome digestive disorders, stimulate appetite, and impotence. The roots are often used to treat toothaches, wounds, and seizures, and the leaves are also used for mouthwash. Several studies have stated that the pharmacological activity of P. retrofractum  has aphrodisiac, antipyretic, anticancer, and antimicrobial effects. Clinical testing on P. retrofractum  has been carried out and has the potential to be developed into a traditional medicine of the phytopharmaceutical class. P. retrofractum  has activity as an immunostimulant, which is higher than the phytopharmaceutical immunostimulant group. P. retrofractum has potential as anti-photoaging, antitubercular, antiproliferative, larvicidal activity, and cytotoxic activity. Phytochemical studies of the main secondary metabolites contained in P. rectofractum include several types of alkaloids such as piperine, pipernonaline, guineensine, piperoctadecalidine, fruit essential oils. Javanese chili contains three main components, namely-caryophyllene (17%), pentadecane (17.8%) and -bisabollene (11.2%). In addition to these main compounds, there are new compounds in P. retrofractum  fruit, including; amide compounds, amide glucosides, phenylpropanoid glucosides, and alkaloids. As an aphrodisiac, the part used is the fruit and the piperine compound which is thought to be responsible for this activity. Piperine is the main compound and efficacious substance contained in P. retrofractum  fruit and functions as a fever reducer, pain reliever, antioxidant, reducing inflammation, antitumor, and immunomodulator. Based on the good pharmacological activity of P. retrofractum , studies or researches on this plant must continue to be carried out such as formulation development and plant propagation efforts because the population of P. retrofractum  is limited. The best medium for callus induction of cabe jawa was Murashige Skoog (MS) with 6-Benzyl Amino Purine (BAP) and Naphtalene acetic (NAA) added. 
PENINGKATAN DAYA SAING USAHA PERKEBUNAN TEBU RAKYAT DI JAWA: TANTANGAN DARI PERSPEKTIF KEBIJAKAN / Improving the Competitiveness of Sugarcane Farming in Java: Challenges from Policy Perspectives Agus Wahyudi
Perspektif Vol 20, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v20n1.2021.35-49

Abstract

ABSTRAK Produksi gula dari usaha perkebunan tebu rakyat di Jawa hingga saat ini masih menjadi andalan produksi gula nasional, tetapi dalam lima tahun terakhir kontribusinya menurun sejalan dengan semakin menurunnya areal tebu. Kondisi ini menunjukkan bahwa daya saing usaha tebu rakyat semakin menurun yang diindikasikan oleh tingkat keuntungan yang terus menurun dan lebih rendah daripada usaha tani lainnya. Untuk meningkatkan daya saing usaha tebu rakyat diperlukan kebijakan pemerintah dalam rangka membantu memecahkan masalah atau mengatasi kendala-kendala, baik yang bersifat teknis maupun ekonomi. Tulisan ini bertujuan untuk mempelajari alternatif kebijakan teknis yang diperkirakan dapat membantu mengatasi kelangkaan sumber daya yang kemungkinan terjadi; serta mempelajari kemungkinan diperlukannya kebijakan pemberian insentif agar kebijakan teknis secara efektif dapat berjalan, melalui simulasi penetapan harga jual tebu dan gula. Alternatif kebijakan teknis yang bisa diterapkan untuk membantu mengatasi kelangkaan sumber daya yang terjadi pada sumber daya lahan, tenaga kerja, pupuk, benih tebu dan modal. Kelangkaan lahan mendorong terjadinya pergeseran budidaya tebu ke lahan kering, dengan potensi produktivitas lebih rendah, sehingga perlu pengembangan infrastruktur irigasi sederhana.  Kelangkaan tenaga kerja terjadi berulang pada saat kegiatan puncak, sehingga perlu pola tanam tebu yang memungkinkan penerapan mekanisasi. Kelangkaan pupuk sering terjadi karena kegiatan pemupukan tebu bersamaan dengan usaha tani lainnya, sehingga perlu koordinasi antar lembaga terkait untuk menyediakan pupuk khusus untuk usaha tebu. Benih tebu bermutu sangat langka, sehingga perlu penyederhanaan peraturan penjenjangan kebun benih tebu, agar produksi benih dapat berjalan. Modal usaha tebu rakyat masih langka dan belum sepenuhnya dapat dipenuhi dengan penyaluran KUR Khusus Tebu, sehingga perlu kebijakan operasional untuk meningkatkan akses terhadap KUR. Selain itu masalah ketidakpastian harga tebu juga harus diatasi, melalui kebijakan penetapan harga jual tebu, yang sekaligus sebagai insentif bagi pekebun untuk meningkatkan produktivitas tebu.ABSTRACT Sugar production from smallholder farming in Java still has significant contribution to the national sugar production, however, in the last five years the contribution has decreased in line with the decreasing sugar cane area. This condition indicates that the competitiveness or profitability rate is decreasing and lower than other farmings. To improve the competitiveness, government policies are needed in order to assist in relaxing the constraints, both technical and economic constraints.  This paper aims to study the technical policies that are expected to overcome the scarcity of resources that are likely to occur; as well as to study the possible incentive policies applied to support the technical policies, through simulations of the pricing of sugar cane and sugar.  Alternative technical policies are applied to overcome resource scarcity in land resources, labor, fertilizer, sugar cane seeds and capital. Land scarcity has encouraged the shift of sugarcane cultivation to dry land, with lower productivity potential, so it needs the development of simple irrigation infrastructure.  Labor scarcity occurs repeatedly during peak activities hence it is necessary to cultivate sugarcane patterns that allow the application of mechanization. Fertilizer scarcity often occurs because of sugarcane fertilization activities in concurrence with other farmings, so it is necessary to coordinate between related institutions to provide special fertilizer for sugar cane farms. Quality sugar cane seeds are very rare, so it is necessary to simplify the regulation of the classifications of sugarcane seeds, in order the seed production can run. The capital is still scarce and can not be fully fulfilled with the KUR (small scale credit program), so it needs operational policies to improve the access to KUR. In addition, the problem of sugarcane price uncertainty must also be addressed, through the policy of pricing of sugarcane, which also as an incentive for farmers to increase the productivity.
TEKNIK PEMODELAN BERDASARKAN VISUALISASI WARNA UNTUK TRANSPARANSI GRADING DAN SORTASI TEMBAKAU VIRGINIA / Modelling Techniques Based on Colour Visualization for Transparency Grading and Sorting of Virginian Tobacco Nunik Eka Diana; Joko Hartono
Perspektif Vol 20, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v20n1.2021.50-62

Abstract

ABSTRAKTembakau Virginia memerlukan beberapa tahapan proses sebelum memasuki proses tataniaga, diantaranya yang memegang peranan penting adalah grading (penilaian) dan sortasi. Kedua proses ini sangat menentukan tingkatan mutu dan harga jual daun tembakau yang dihasilkan oleh petani. Dengan proses grading dan sortasi yang tertata, maka penjual (dalam hal ini petani) dan pembeli dapat mengklasifikasikan tembakau sesuai dengan mutu yang dikehendaki. Proses sortasi lebih menekankan pada keseragaman berdasarkan pada posisi daun pada tanaman dan ketampakan secara visual termasuk warna, cacat, kerusakan, panjang daun serta tingkat kemasakan daun. Berdasarkan hasil sortasi diperoleh beberapa tingkatan mutu yang tergantung pada tipe dan jenis tembakau serta berdasar pada permintaan pasar. Sementara proses grading adalah tindakan pengklasifikasian mutu dari hasil sortasi yang didasarkan pada posisi daun atau letak daun pada batang dan unsur-unsur luar lainnya (external appreciation), sehingga dihasilkan mutu paling seragam. Secara konvensional, proses grading dilakukan secara kualitatif, namun saat ini sudah terdapat beberapa metode yang dapat mengklasifikasikan tingkatan mutu tembakau berdasarkan kuantifikasi dengan metode pemodelan. Metode ini mengacu pada penampakan visual, yaitu berdasarkan pada warna daun tembakau serta posisi daun pada batang. Namun, metode-metode ini masih banyak dilakukan di luar negeri yang sudah maju kegiatan pengembangan dan penelitiannya. Hasil penelitian tentang teknik pemodelan proses grading tembakau jika dibandingkan dengan secara manual memiliki nilai keakuratan berkisar antara 64-87,18%, bahkan sudah dicoba ulang dengan tingkat akurasi 81-93% dengan teknik pemodelan CNN yang perlu disempurnakan, namun teknik pemodelan masih didahului dengan proses sortasi daun tembakau berdasarkan kelas mutunya. Diharapkan penulisan naskah ini dapat memberikan pemahaman yang bermanfaat dalam pengelolaan tembakau terutama proses sortasi dan grading sehingga diperoleh kelas mutu sesuai dengan harapan. ABSTRACTAs a commodity with a high economic value, tobacco requires several stages before entering the process of trading. Among the processes that important role is the process of grading and sorting. These two processes will greatly determine the level of quality and at the same time determine the selling price of tobacco leaves produced by farmers. With the process of grading and sorting arranged then the seller (the farmer) and the buyer can classify tobacco in accordance with the desired quality. Sorting process is more emphasis on uniformity based on leaf position on plants and visually visible including color, defect, damage, leaf length and maturity level of leaves. Based on the sorting results obtained several levels of quality depending on the type and kind of tobacco and based on market demand. While the grading process on tobacco is the action of classifying the quality of the sorting results based on the leaves position on the stem and other external elements that are considered important and affect the quality, resulting quality until the most uniform conditions. In this way the process of marketing tobacco can be more transparent because the quality becomes more orderly. Grading process is always done qualitatively, but now there are several methods that can classify the level of tobacco quality based on quantification by modeling method. This method refers to visual appearance based on the color of tobacco leaves and the position of leaves on the stem. However, these methods are still widely practiced abroad with advanced development and research activities. The results of research on tobacco grading process modeling techniques when compared to manually have an accuracy value ranging from 64-87.18%, it has even been retried with an accuracy rate of 81-93% with CNN modeling techniques that need to be refined but the modeling technique is still preceded by the tobacco leaf sorting process based on its quality. It is hoped that the writing of this manuscript can provide a useful understanding in tobacco management, especially the sorting and grading process in order to obtain a quality class as expected. 
STRATEGI MENINGKATKAN EKSPOR KOPI INDONESIA KE PASAR UNI EROPA / Strategy for Developing Indonesian Coffee Export to the European Union Market Bedy Sudjarmoko; Abdul Muis Hasibuan; Risfaheri Risfaheri
Perspektif Vol 20, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v20n2.2021.63-79

Abstract

ABSTRAK Uni Eropa merupakan importir kopi terbesar di dunia yang menyerap hampir setengah produksi kopi dunia, dan menjadi pasar global terbesar untuk kopi berbasis keberlanjutan yang bernilai tinggi. Namun sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia yang mengekspor produk kopi ke lebih dari 60 negara, pangsa Indonesia di pasar Uni Eropa masih sangat kecil jika dibandingkan dengan negara produsen kopi lainnya seperti Brazil dan Vietnam. Faktor yang menjadi penyebabnya adalah standar pasar Uni Eropa dikenal sangat tinggi terhadap mutu dan keamanan kopi, bahkan seringkali melebihi standar internasional pada umumnya. Di sisi lain, kemampuan Indonesia untuk memproduksi kopi yang sesuai standar tersebut relatif masih kecil yang diakibatkan oleh produsen kopi yang didominasi oleh petani kecil dengan kapasitas dan kapabilitas yang terbatas untuk memenuhi standar keberlanjutan yang menjadi tuntutan pasar, sehingga perlu upaya khusus untuk meningkatkan pangsa ekspor kopi Indonesia ke wilayah tersebut. Untuk itu, Indonesia membutuhkan beberapa terobosan yang perlu didukung oleh semua pemangku kepentingan di dalam negeri, mulai dari level usahatani hingga strategi ekspor. Pada level usahatani, peningkatan produktivitas dan efisiensi usahatani, kualitas produk dan resiliensi petani perlu diperkuat, khususnya terkait dengan sistem produksi kopi yang berkelanjutan. Untuk meningkatkan ekspor kopi Indonesia di pasar Uni Eropa, langkah utama yang harus dilakukan adalah memperhatikan aspek keberlanjutan. Sedangkan strategi ekspor yang harus dilakukan sesuai dengan prioritasnya adalah: pemilihan saluran distribusi dan penetapan harga produk, pemilihan pedagang dan rekanan dagang, mengoptimalkan peran industri pengolahan dan asosiasi kopi, layanan daring, mengikuti pameran dagang dan pelatihan ekspor yang sering diselenggarakan oleh negara-negara Uni Eropa.ABSTRACT European Union (EU) is the world's largest coffee importer that takes up more than half of global coffee production, as well as the largest global market for high value and sustainability-based coffee products. However, as one of the main coffee producers which supply coffee products to more than 60 countries, Indonesian share to the EU coffee market was relatively low, compared to other main producing countries (i.e. Brazil and Vietnam). It is caused by the very high and strict standard for coffee quality and safety in EU market which often exceeds the international standards in general. On the other hand, Indonesian coffee production that meet the EU standard relatively low as the result of the domination of small-scale coffee producers in Indonesia which have low capacity and capability in fulfilling the sustainability and export standard so that it needs to reformulate the strategies to expand the Indonesian coffee market in the EU region. Therefore, strategic and action plans are needed and supported by policy makers and stake holders (i.e. on-farm level through increasing productivity, efficiency, quality and farmers resiliency in order to meet the sustainability and export quality standard), the selection of distribution channels and product pricing, the selection of traders and trading partners, empowering specialty roasters, small-scale roasters, coffee associations, online services, as well as coffee trade exhibition and exports training which often organized by European Union countries.
BIOLOGICAL AGENTS AND THEIR ROLE TO INCREASE PLANT ESSENTIAL OIL UNDER WATER STRESS Agen Hayati dan Peranannya dalam Meningkatkan Minyak Atsiri Tanaman pada Kondisi Cekaman Air Agus Prayitno Kurniawan; Nurul Aini Aini; Moch Dawam Maghfoer; Wiwin Sumiya Dwi Yamika; Restu Rizkyta Kusuma
Perspektif Vol 20, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v20n2.2021.80-93

Abstract

Essential oils are plant natural products resulting from secondary metabolites used for raw materials of various industries such as perfumery, preservative, cosmetics, and pesticide. The major problem of essential oil plants cultivation is the low essential oil content. Enhancing essential oil content is one of the main focuses in developing essential oil plants which can be reached by water management. Growth and yield reduction and changes in some physiological reactions are the responses of a plant toward water supply shortage (water stress). Water stress triggers elicitors and some signal molecules produced for secondary metabolites resulting in higher essential oil percentages. However, it would also decrease essential oil yield following lower biomass production. Some microorganisms can produce phytohormone and enhance nutrient uptake allowing the plant to cope under water stress condition.  Understanding how the environment affected plant secondary metabolite (especially essential oil), as well as microorganism roles for crop production, will provide proper cultivation technology to increase plant essential oil content and oil yield. This review aimed to analyze the potential use of some biological agents to alleviate the negative effect of water stress on essential oil plants.ABSTRAKMinyak atsiri merupakan produk alami tanaman dari hasil metabolisme sekunder yang digunakan sebagai bahan baku berbagai industri seperti parfum, antiseptik, kosmetik, dan pestisida. Budidaya tanaman  minyak atsiri menghadapi kendala seperti rendahnya kandungan minyak yang dihasilkan. Pertumbuhan dan penurunan hasil serta perubahan pada beberapa reaksi fisiologis merupakan respon tanaman terhadap cekaman air. Cekaman air memicu produksi elisitor dan beberapa molekul sinyal pada metabolit sekunder sehingga dapat menghasilkan minyak atsiri yang lebih tinggi, akan tetapi tidak diikuti dengan peningkatan produksi biomassa sehingga produksi minyak atsiri tidak cukup tinggi. Beberapa mikroorganisme mampu menghasilkan fitohormon dan meningkatkan serapan hara yang memungkinkan tanaman dapat bertahan pada kondisi cekaman air. Pemahaman bagaimana lingkungan dapat mempengaruhi metabolit sekunder dari tanaman (khususnya minyak atsiri), serta peran mikroorganisme terhadap produksi tanaman, akan menghasilkan teknologi budidaya yang sesuai untuk meningkatkan kandungan dan hasil minyak atsiri suatu tanaman.  Review ini bertujuan menganalisa potensi penggunaan beberapa jenis agens hayati untuk mengurangi dampak negatif dari cekaman air pada tanaman penghasil minyak atsiri.