Claim Missing Document
Check
Articles

FORMULASI SEDIAAN LOSION ANTIOKSIDAN EKSTRAK AIR DAUN TEH HIJAU (Camellia sinensis L.) Faramayuda, Fahrauk; Alatas, Fikri; Desmiaty, Yesi
Majalah Obat Tradisional Vol 15, No 3 (2010)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.308 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ15iss3pp105 – 111

Abstract

Penelitian tentang formulasi dosis ekstrak air daun teh hijau dengan konsentrasi 0,0002%, 0,002%, 0,02% dan 8,6% telah dilakukan. Penetapan nilai EC50 dilakukan berdasarkan perhitungan persamaan regresi linier antara larutan uji dan persentase peredamanl. Formulasi losion dimulai berdasarkan orientasi basis dengan parameter organoleptik, homogenitas, pH dan viskositas. Diketahui bahwa losion dengan5,5% glyceryl monostearate mempunyai stabilitas pH, viskositas dan konsistensi yang terbaik. Evaluasi formulasi termasuk evaluasi fisik (organoleptis, homogenitas, viskositas dan stabilitas) dan evaluasi kimia (pH dan stabilitas aktivitas anti oksidan). Evaluasi aktivitas antioksidan formula yang mengandung larutan 1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl menggunakan spektrofotometri UV-Vis menunjukkan bahwa formula yang mengandung 0.02% dan 8,6% ektrak air daun teh memberikan aktivitas anti oksidan terbaik dan stabilitas selama penyimpanan.
Identification of the Secondary Metabolites and Characterization of Lagerstroemia Loudonii T. & B. Faramayuda, Fahrauk; Hermanto, Faizal; Windyaswari, Ari Sri; Riyanti, Soraya; Nurhayati, Viola Aditya
Journal of Islamic Pharmacy Vol 6, No 1 (2021): J. Islamic Pharm.
Publisher : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jip.v6i1.11351

Abstract

Bungur  (Lagerstroemia loudonii T. B) is a type of plant widely grown in Indonesia and can be found in teak forests, mixed forests, and is found as ornamental plants or protective trees on the roadside. In the fruit section, Lagerstroemia loudonii is used as antituberculous and antimalarial. On the bark, the part is used as antidiarrheal. Based on some parts of the Lagerstroemia loudonii  plants' activity data, this plant has the potential to be developed into traditional medicine. Standardized traditional medicine material is necessary to identify efficacious compounds and characterization in some parts of Lagerstroemia loudonii. The purpose of this research is to develop Lagerstroemia loudonii into traditional herbal medicine or standardized herbal medicine. Identification of efficacious compounds and characterization of crude leaf drugs, bark, stems, and fruit of Lagerstroemia loudonii. The phytochemical screening phase of the crude drugs of leaves, bark, stems, and fruit ofLagerstroemia loudonii against includes examining alkaloids, flavonoids,  quinones, tannins, polyphenols, saponins, steroids and triterpenes, monoterpenoids and sesquiterpenoids. The determination of the characteristics of raw material carried out includes nonspecific parameters. Nonspecific parameters are the determination of total ash content, water-soluble ash content, acid insoluble ash content. each experiment was carried out three times and calculated the average yield and deviation.  Identification results of the class of efficacious compounds in some parts of the Lagerstroemia loudonii  plant are on the leaves and fruits containing alkaloids, flavonoids, saponins, quinones, tannins, polyphenols, monoterpenoids, and sesquiterpenoids as well as steroids and triterpenoids. At the bark and stem, the bark contains alkaloids, flavonoids, saponins, quinones, tannins, polyphenols, monoterpenoids, and sesquiterpenoids. Characterization results of Lagerstroemia loudonii  leaf extract total ash content 4.45 ± 0.30% w/w, water-soluble ash content 4.08 ± 0.27% w/w, acid insoluble ash content 0.59 ± 0.06% w/w, the extract specific gravity was 0.59 ± 0.063. Lagerstroemia loudonii  stem bark extract, total ash content 1.94 ± 0.12% w/w, water-soluble ash content 1.47 ± 0.03% w/w, acid insoluble ash content 0.24 ± 0.02% w/w, the extract specific gravity is 0.82 ± 0.01. Lagerstroemia loudonii  stem extract, total ash content3.18 ± 0.16% w/w, water-soluble ash content 2.36 ± 0.38% w/w, acid insoluble ash content 0.43 ± 0.07% w/w, extract specific grafity 0.81 ± 0.01. Lagerstroemia loudonii  fruit extract, total ash content 11.45 ± 1.16%w/w, water-soluble ash content 10.1 ± 1.49% w/w, acid insoluble ash content 1.46 ± 0.88% w/w,extract specific grafity 0.81 ± 0.01. Based on phytochemical screening data and the characterization of bungur plants potential to be developed into raw materials for traditional medicineKeywords: Lagerstroemia loudonii, secondary metabolite, raw material characterization
Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl.) : PENGGUNAAN TRADISIONAL, FITOKIMIA dan AKTIVITAS FARMAKOLOGI Piper retrofractum Vahl. : Traditional Uses, Phytochemical and Pharmacological Activities Fahrauk Faramayuda; Sufyan Zainul Arifin; Akhirul Kahfi Syam; Elfahmi Elfahmi
Perspektif Vol 20, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v20n1.2021.26-34

Abstract

 ABSTRAK Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) adalah tanaman daerah tropis asli Indonesia yang dijumpai juga di negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Malaysia, dan sejak dahulu telah digunakan secara turun-temurun sebagai bahan tambahan makanan ataupun obat tradisional. Secara tradisional di masyarakat, buah cabe jawa dapat digunakan dalam ramuan untuk mengobati demam, perut kembung, mulas, muntah, mengatasi gangguan pencernaan, merangsang nafsu makan, dan lemah syahwat. Akarnya sering digunakan untuk mengobati sakit gigi, luka dan kejang, serta bagian daunnya digunakan juga untuk obat kumur. Beberapa penelitian menyebutkan aktivitas farmakologi cabe Jawa memiliki efek afrodisiaka, antipiretik, antihiperurisemia, antikanker, dan antimikroba. Pengujian klinis terhadap cabe jawa telah dilakukan dan potensial dikembangkan menjadi obat tradisional golongan fitofarmaka. Cabe jawa memiliki aktivitas sebagai imunostimulan, lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok imunostimulan fitofarmaka. Cabe jawa mempunyai potensi sebagai anti-photoaging, aktivitas antituberkular, antiproliferasi, aktivitas larvasida, dan aktivitas sitotoksik. Studi fitokimia senyawa metabolit sekunder utama yang terkandung dalam cabe jawa antara lain beberapa jenis alkaloid seperti piperine, pipernonaline, guineensine, piperoctadecalidine, minyak atsiri buah cabe jawa mengandung tiga komponen utama yaitu yaitu β-caryophyllene (17%), pentadecane (17,8%) dan β- bisabollene (11,2%) . Selain senyawa utama tersebut,  terdapat senyawa baru pada buah cabe jawa, diantaranya; senyawa amida, amida glikosida, fenilpropanoid glikosida, dan alkaloid. Sebagai afrodisiaka bagian yang digunakan adalah buahnya dan senyawa piperin yang diduga bertanggung jawab terhadap aktivitas tersebut. Piperin merupakan senyawa utama dan zat berkhasiat yang terkandung dalam buah cabe jawa dan berfungsi sebagai penurun demam, mengurangi rasa sakit, antioksidan, mengurangi peradangan, antitumor, dan sebagai imunomodulator. Berdasarkan aktifitas farmakologi yang baik dari cabe jawa maka studi atau penelitian-penelitian pada tanaman ini harus terus dilakukan seperti pengembangan formulasi dan upaya perbanyakan tanaman karena populasi cabe jawa jumlahnya terbatas. Media terbaik dalam induksi kalus tanaman cabe jawa adalah Murrashige Skoog (MS) yang ditambah 6-Benzil Amino Purin (BAP) dan Naphtalene Acetic Acid (NAA).ABSTRACT Piper retrofractum vahl. is a tropical plant native to Indonesia which is also found in Southeast Asian countries such as Thailand and Malaysia, and has been used for generations as a food additive or traditional medicine. Traditionally in the community, P. retrofractum  fruit can be used in potions to treat fever, flatulence, heartburn, vomiting, overcome digestive disorders, stimulate appetite, and impotence. The roots are often used to treat toothaches, wounds, and seizures, and the leaves are also used for mouthwash. Several studies have stated that the pharmacological activity of P. retrofractum  has aphrodisiac, antipyretic, anticancer, and antimicrobial effects. Clinical testing on P. retrofractum  has been carried out and has the potential to be developed into a traditional medicine of the phytopharmaceutical class. P. retrofractum  has activity as an immunostimulant, which is higher than the phytopharmaceutical immunostimulant group. P. retrofractum has potential as anti-photoaging, antitubercular, antiproliferative, larvicidal activity, and cytotoxic activity. Phytochemical studies of the main secondary metabolites contained in P. rectofractum include several types of alkaloids such as piperine, pipernonaline, guineensine, piperoctadecalidine, fruit essential oils. Javanese chili contains three main components, namely-caryophyllene (17%), pentadecane (17.8%) and -bisabollene (11.2%). In addition to these main compounds, there are new compounds in P. retrofractum  fruit, including; amide compounds, amide glucosides, phenylpropanoid glucosides, and alkaloids. As an aphrodisiac, the part used is the fruit and the piperine compound which is thought to be responsible for this activity. Piperine is the main compound and efficacious substance contained in P. retrofractum  fruit and functions as a fever reducer, pain reliever, antioxidant, reducing inflammation, antitumor, and immunomodulator. Based on the good pharmacological activity of P. retrofractum , studies or researches on this plant must continue to be carried out such as formulation development and plant propagation efforts because the population of P. retrofractum  is limited. The best medium for callus induction of cabe jawa was Murashige Skoog (MS) with 6-Benzyl Amino Purine (BAP) and Naphtalene acetic (NAA) added. 
Identification Secondary Metabolites From Callus Piper retrofractum Vahl Fahrauk Faramayuda; Jaka Permana; Akhirul Kahfi Syam; Elfahmi Elfahmi
Elkawnie: Journal of Islamic Science and Technology Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v7i1.8630

Abstract

Abstract: Javanese chili (Piper retrofractum Vahl) is a traditional medicinal plant originating from Indonesia and has many pharmacological activities, one of which is often used as a base for aphrodisiac herbal medicine. The population of P. retrofractum is limited, so it is necessary to design secondary metabolite production and propagation efforts using plant tissue culture techniques. The materials used in this study were explants of P. retrofractum leaves that were induced in Murashige and Skoog (MS) media and the ratio of growth regulators 2.4-dichlorophenoxyacetis acid (2,4-D): Benzyl Amino Purine (BAP) 0.5: 0.5. The results showed that the callus of P. retrofractum was formed in the growth regulator 2.4D: BAP (0.5: 0.5). TLC and spectrophotometry identified the secondary metabolite content of callus. Secondary metabolite analysis using the thin layer chromatography (TLC) method using the mobile phase ethyl acetate: n-hexane (7: 3) showed a terpenoid compound indicated by purple spots on the visual appearance after spraying 10% spotting vanillin. Identification using infrared spectrophotometry shows functional groups -CH, C = O, C = C, -CH2, and -CH3, characteristic of terpenoid compounds. Based on TLC data and spectrophotometry, callus P. retrofractum is thought to contain terpenoid compounds. This study's results are expected to be the basis for developing secondary metabolite production in P. retrofractum with cell suspension culture and P. retrofractum propagation by micropropagation.Abstrak: Cabai Jawa (Piper retrofractum  Vahl) merupakan tanaman obat tradisional yang berasal dari Indonesia dan banyak memiliki aktivitas farmakologis salah satunya sering digunakan sebagai bahan dasar jamu afrodisiaka. Populasi tanaman cabai Jawa terbatas maka perlu dirancang upaya produksi metabolit sekunder dan upaya perbanyakan tanaman cabai Jawa salah satunya menggunakan teknik kultur jaringan tanaman. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah eksplan daun tanaman cabai Jawa yang diinduksi pada media Murashige and Skoog (MS) dan perbandingan zat pengatur tumbuh 2.4-dichlorophenoxyacetis acid (2,4-D) : Benzyl Amino Purine (BAP) 0,5 : 0,5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalus cabai Jawa terbentuk dalam zat pengatur tumbuh 2,4D: BAP (0,5: 0,5). Kandungan metabolit sekunder dari kalus diidentifikasi dengan KLT dan spektrofotometri. Analisis metabolit sekunder menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan fasa gerak etil asetat: n-heksana (7: 3) menunjukkan adanya senyawa terpenoid yang ditunjukkan dengan adanya bercak ungu pada penampakan visual setelah disemprotkan spotting vanilin 10%. Hasil Identifikasi menggunakan spektrofotometri UV-Vis  menunjukkan isolat mempunyai panjang gelombang maksimum 272,6 nm. Identifikasi menggunakan spektrofotometri inframerah menunjukkan adanya gugus fungsi -CH, C = O, C = C, -CH2, dan -CH3 yang merupakan ciri khas senyawa terpenoid . Berdasarkan data KLT dan spektrofotometri kalus cabai Jawa diduga mengandung senyawa terpenoid. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pemgembangan produksi metabolit sekunder dalam tanaman cabai Jawa dengan kultur suspensi sel dan perbanyakan tanaman cabai Jawa dengan mikropropagasi.
FORMULASI SEDIAAN LOSION ANTIOKSIDAN EKSTRAK AIR DAUN TEH HIJAU (Camellia sinensis L.) Fahrauk Faramayuda; Fikri Alatas; Yesi Desmiaty
Majalah Obat Tradisional Vol 15, No 3 (2010)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.308 KB) | DOI: 10.22146/tradmedj.8134

Abstract

The research about lotion dosage formulation that contain green tea leaf water extract with concentration 0.0002%, 0.002%, 0,02%, and 8.6% had been done. The basic of the EC50 value. Which calculated from linierity regression equation between tested solution concentration and scavenging percent. The lotion formulation began with lotion base orientation included organoleptic, homogeinity, pH, and viscosity. It showed that lotion base with glyceryl monostearate 5.5% have the best pH stability, viscosity, and consistency. Evaluation of lotion dosage include physical evaluation (organoleptic, homogeinity, viscosity and stability) and chemical evalution (pH and the stability of lotion antioxidant activity. Antioxidant activity stability evaluation of lotion with 1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl solution using spectrophotometri UV-Visible showed, that formula which contain 0.02% and 8.6% green tea leaf water extract gave the best radical scavenging activity and stable during storage. 
PENENTUAN KANDUNGAN POLIFENOL TOTAL EKSTRAK METANOL KULIT BUAH RAMBUTAN RAPIAH (Nephelium lappaceum L.): DETERMINATION OF TOTAL POLYPHENOL CONTENT OF METHANOL EXTRACT RAMBUTAN RAPIAH FRUIT RIND (Nephelium lappaceum L.) Fahrauk Faramayuda; Oktovia El Shara; Julia Ratnawati
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 7 No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.726 KB) | DOI: 10.37874/ms.v7i1.262

Abstract

Tanaman rambutan rapiah (Nephelium lappaceum L.) merupakan tanaman yang tersebar luas di Indonesia. Konsumsi buah rambutan rapiah dapat meninggalkan limbah kulitnya yang cukup banyak. Kulit buah rambutan rapiah telah digunakan secara tradisional sebagai obat demam dan disentri. Kulit buah rambutan rapiah diketahui mengandung metabolit sekunder seperti polifenol, flavonoid, saponin, dan tanin. Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa ekstrak metanol kulit buah rambutan memiliki aktivitas antioksidan yang kuat. Metabolit sekunder yang diduga memiliki aktivitas antioksidan adalah polifenol. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan, mengingat potensi kulit buah rambutan rapiah sebagai antioksidan kuat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar polifenol total ekstrak metanol kulit buah rambutan rapiah (Nephelium lappaceum L.). Penetapan kadar polifenol total dilakukan dengan menggunakan metode Folin Ciocalteu. Pereaksi Folin Ciocalteu akan bereaksi dengan gugus fenolik-hidroksil dan membentuk kompleks fosfotungstat-fosfomolibdat berwarna biru yang dapat dideteksi dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 743,5 nm. Dari penelitian ini kadar polifenol total yang diperoleh adalah 0,2482±0,0401%.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PELATIHAN BUDIDAYA DAN PENINGKATAN POTENSI AGRIBISNIS CABE JAWA Fahrauk Faramayuda; Jovie Mien Dumanauw; Siti Muslichah; Suwidjiyo Pramono; Sugiyanto
Jurnal Abditani Vol. 4 No. 2 (2021): Oktober
Publisher : FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ALKHAIRAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/abditani.v4i2.71

Abstract

Tanaman cabe jawa memiliki beberapa aktivitas farmakologis salah satunya meningkatkan libido dan mengatasi gangguan kesuburan pada pria (infertilitas). Cabe jawa di Indonesia banyak diproduksi dari Jawa Timur terutama daerah Madura, namun masih banyak daerah lain yang secara ekologis cocok untuk pengembangan budidaya tanaman obat cabe jawa, termasuk di daerah Gunung Kidul. Permintaan pengiriman cabe jawa baik skala nasional maupun internasional dari tahun ke tahun semakin meningkat sedangkan sentra produksi cabe jawa di Indonesia masih sedikit, oleh karena itu perlu dibuat sentra produksi baru di berbagai wilayah salah satunya di daerah Yogyakarta. Program budidaya cabe jawa di Desa Kemadang, Tanjung Sari, Kabupaten Gunung Kidul. Yogyakarta melalui penyuluhan budidaya dan pemanfaatan tanaman cabe jawa, sosialisasi dan praktek langsung teknik pembibitan tanaman cabe jawa serta monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan.
Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl.) : PENGGUNAAN TRADISIONAL, FITOKIMIA dan AKTIVITAS FARMAKOLOGI Piper retrofractum Vahl. : Traditional Uses, Phytochemical and Pharmacological Activities Fahrauk Faramayuda; Sufyan Zainul Arifin; Akhirul Kahfi Syam; Elfahmi Elfahmi
Perspektif Vol 20, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v20n1.2021.26-34

Abstract

 ABSTRAK Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) adalah tanaman daerah tropis asli Indonesia yang dijumpai juga di negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Malaysia, dan sejak dahulu telah digunakan secara turun-temurun sebagai bahan tambahan makanan ataupun obat tradisional. Secara tradisional di masyarakat, buah cabe jawa dapat digunakan dalam ramuan untuk mengobati demam, perut kembung, mulas, muntah, mengatasi gangguan pencernaan, merangsang nafsu makan, dan lemah syahwat. Akarnya sering digunakan untuk mengobati sakit gigi, luka dan kejang, serta bagian daunnya digunakan juga untuk obat kumur. Beberapa penelitian menyebutkan aktivitas farmakologi cabe Jawa memiliki efek afrodisiaka, antipiretik, antihiperurisemia, antikanker, dan antimikroba. Pengujian klinis terhadap cabe jawa telah dilakukan dan potensial dikembangkan menjadi obat tradisional golongan fitofarmaka. Cabe jawa memiliki aktivitas sebagai imunostimulan, lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok imunostimulan fitofarmaka. Cabe jawa mempunyai potensi sebagai anti-photoaging, aktivitas antituberkular, antiproliferasi, aktivitas larvasida, dan aktivitas sitotoksik. Studi fitokimia senyawa metabolit sekunder utama yang terkandung dalam cabe jawa antara lain beberapa jenis alkaloid seperti piperine, pipernonaline, guineensine, piperoctadecalidine, minyak atsiri buah cabe jawa mengandung tiga komponen utama yaitu yaitu β-caryophyllene (17%), pentadecane (17,8%) dan β- bisabollene (11,2%) . Selain senyawa utama tersebut,  terdapat senyawa baru pada buah cabe jawa, diantaranya; senyawa amida, amida glikosida, fenilpropanoid glikosida, dan alkaloid. Sebagai afrodisiaka bagian yang digunakan adalah buahnya dan senyawa piperin yang diduga bertanggung jawab terhadap aktivitas tersebut. Piperin merupakan senyawa utama dan zat berkhasiat yang terkandung dalam buah cabe jawa dan berfungsi sebagai penurun demam, mengurangi rasa sakit, antioksidan, mengurangi peradangan, antitumor, dan sebagai imunomodulator. Berdasarkan aktifitas farmakologi yang baik dari cabe jawa maka studi atau penelitian-penelitian pada tanaman ini harus terus dilakukan seperti pengembangan formulasi dan upaya perbanyakan tanaman karena populasi cabe jawa jumlahnya terbatas. Media terbaik dalam induksi kalus tanaman cabe jawa adalah Murrashige Skoog (MS) yang ditambah 6-Benzil Amino Purin (BAP) dan Naphtalene Acetic Acid (NAA).ABSTRACT Piper retrofractum vahl. is a tropical plant native to Indonesia which is also found in Southeast Asian countries such as Thailand and Malaysia, and has been used for generations as a food additive or traditional medicine. Traditionally in the community, P. retrofractum  fruit can be used in potions to treat fever, flatulence, heartburn, vomiting, overcome digestive disorders, stimulate appetite, and impotence. The roots are often used to treat toothaches, wounds, and seizures, and the leaves are also used for mouthwash. Several studies have stated that the pharmacological activity of P. retrofractum  has aphrodisiac, antipyretic, anticancer, and antimicrobial effects. Clinical testing on P. retrofractum  has been carried out and has the potential to be developed into a traditional medicine of the phytopharmaceutical class. P. retrofractum  has activity as an immunostimulant, which is higher than the phytopharmaceutical immunostimulant group. P. retrofractum has potential as anti-photoaging, antitubercular, antiproliferative, larvicidal activity, and cytotoxic activity. Phytochemical studies of the main secondary metabolites contained in P. rectofractum include several types of alkaloids such as piperine, pipernonaline, guineensine, piperoctadecalidine, fruit essential oils. Javanese chili contains three main components, namely-caryophyllene (17%), pentadecane (17.8%) and -bisabollene (11.2%). In addition to these main compounds, there are new compounds in P. retrofractum  fruit, including; amide compounds, amide glucosides, phenylpropanoid glucosides, and alkaloids. As an aphrodisiac, the part used is the fruit and the piperine compound which is thought to be responsible for this activity. Piperine is the main compound and efficacious substance contained in P. retrofractum  fruit and functions as a fever reducer, pain reliever, antioxidant, reducing inflammation, antitumor, and immunomodulator. Based on the good pharmacological activity of P. retrofractum , studies or researches on this plant must continue to be carried out such as formulation development and plant propagation efforts because the population of P. retrofractum  is limited. The best medium for callus induction of cabe jawa was Murashige Skoog (MS) with 6-Benzyl Amino Purine (BAP) and Naphtalene acetic (NAA) added. 
KARAKTERISASI FARMAKOGNOSI DAUN FALOAK (Sterculia quadrifida R.Br): CHARACTERIZATION OF PHARMACOGNOSY OF FALOAC LEAVES (Sterculia quadrifida R.Br) Fahrauk Faramayuda; Julia Ratnawati; Akhirul Kahfi Syam
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 7 No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v7i2.322

Abstract

Faloak secara empiris digunakan sebagai antimikroba, megobati penyakit tifus, mengatasi gangguan pada hati, laksatif, dan antimalaria. Faloak merupakan salah satu tumbuhan yang secara empiris digunakan sebagai obat tradisional di Nusa Tenggara Timur. Selanjutnya dari hasil penelitian ini dapat digunakan untuk studi dan pengembangan aktivitas biologi ekstrak daun faloak menjadi produk farmasi. Ekstraksi menggunakan cara maserasi dengan pelarut etanol dan menghasilkan rendemen 8,84% b/b. Parameter standarisasi ekstrak menunjukkan bobot jenis ekstrak 0,7543 ± 0,0060 g/mL, kadar sari larut air 54 ± 1,15% b/b, sari larut etanol 88,48 ± 1,05% b/b, kadar abu total 10,47 ± 0,16% b / b, abu larut air 8,01 ± 0,99% b / b, abu tidak larut asam 0,39 ± 0,03% b/b. Ekstrak etanol daun faloak mengandung flavonoid, kuinon, polifenol, steroid-triterpenoid, dan monoterpen-sesquiterpen. Ekstrak dianalisis kandungan kimianya menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dengan fase diam silica F254 dan menggunakan fasa gerak n-heksana: etil asetat (1:1), hasilnya terdapat bercak dengan Rf 0,21 memberi warna biru pada UV 365 nm dan bercak hitam berlatar hijau pada UV 254 nm. Total kandungan flavonoid pada ekstrak etanol daun faloak 5,31 ± 0,29% b / b dan total kandungan polifenol 1,79 ± 0,03% b / b. Dari hasil karakterisasi ini bisa menjadi dasar pemgembangan tanaman faloak menjadi bahan baku obat tradisional terstandar dan acuan untuk melakukan uji aktivitas farmakologi.
Review: Flavonoid pada Tanaman Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus Benth.): Review: Flavonoid Compounds in Orthosiphon stamineus Fahrauk Faramayuda; Silvy Julian; Ari Sr Windyaswari; Totik Sri Mariani; Elfahmi Elfahmi; Sukrasno Sukrasno
Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences Vol. 13 (2021): Proc. Mul. Pharm. Conf.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.862 KB) | DOI: 10.25026/mpc.v13i1.478

Abstract

Orthosiphon stamineus has long been used in traditional medicine in East India, Indo China, Southeast Asia, and tropical Australia, where this plant is usually found. Based on the color of the flowers and petals, Orthosiphon stamineus is classified into two varieties: white flowers (white varieties) and purple flowers (purple varieties). Orthosiphon stamineus has traditionally been used to treat hypertension, diabetes, bladder and kidney disorders, gallstones, gout, and rheumatism. The leaves of Orthosiphon stamineus were introduced to Europe and Japan as tea for health. The main compounds possessed by Orthosiphon stamineus are rosmarinic acid, eupatorium, and sinensetin. In addition, several studies have isolated the plant of Orthosiphon stamineus. This journal review aims to review studies related to the content of secondary metabolites, traditional uses, pharmacological activities, and levels of flavonoids contained in plants.
Co-Authors Adella Shindy Pratiwi Adely, Alyaa Muliahati Adinda Fitriani Adriana, Reyhan Akbar, Tzazkia Febriyana Akhirul Kahfi Syam Amedea, Esanda Zulfi Ami Soega Dwigantina Ananda Tunjung Pertiwi Anggita Esa Putri Fitrichia Aprilia, Trialisa Ari Sr Windyaswari Ari Sri Widyaswari Ari Sri Windyaswari Ari Sri Windyaswari Ari Sri Windyaswari, Ari Sri Ayu, Inna Puspa Bambang WIJIANTO Chandani Nurul Hafizah Citra Permata Sari dessy ratnasari Dewi, Renti Mutiara Dhimas Ariya Wibiksana Dinda Choirunnisa Dwi Ayu Pratiwi Dwi Nurahmanto Dwigantina, Ami Soega Dyah Nur Azizah, Dyah Nur Elfahmi Elfahmi Elfahmi Elfahmi Elfahmi Elfahmi, Elfahmi Ema Mutya Endang Kumolowati Esanda Zulfi Amedea Euis Reni Yuslianti Evi Umayah Ulfa Faizal Hermanto Farhan Fikri Alatas Fitriani, Adinda Fitrichia, Anggita Esa Putri Gazzali, Amirah Mohd Iis Inayati Rakhmat Ismail, Nursafira Khairunnisa Jaka Permana Jovie Mien Dumanauw Julia Ratnawati Julia Ratnawati Khairunisa Harizqi Nurul Husna Limbong, Remare Halomoan Lina Winarti Liza Pratiwi Melani, Putri Dwi Mufidah, Fania Mufti Muhamad Raihan Maulana Muhammad Irwan Mutya, Ema Niken Tunjung Murti Pratiwi Nira Purnamasari, Nira Nur Achsan Al-Hakim Nur Fauziyyah, Salma Alifia Nurhalizah, Dinda Siti Nurhayati, Viola Aditya Nursafira Khairunnisa Ismail Oktiyas Muzaky Luthfi Oktovia El Shara Paramita, Veronika Santi Pertiwi, Ananda Tunjung Pratiwi, Dwi Ayu Purnama, Uwan Purwoko, Agus Putri, Dhiffa Namira Alifia Ramelan, Riska Sigit Remare Halomoan Limbong Renti Mutiara Dewi Reyhan Adriana Deris Ridwan Ilyas Ridzka Magfirah Rifaz Muhammad Sukma Riska Sigit Ramelan Rizka Khoirunnisa Guntina Rizka Khoirunnisa Guntina RIZKA KHOIRUNNISA GUNTINA, RIZKA KHOIRUNNISA Safrudin, Nurul Safirah Septiani, Usi Sigid Pamungkas Wicaksono Silvy Julian Siti Muslichah Soraya Riyanti Soraya Riyanti Soraya Riyanti, Soraya Sufyan Zainul Arifin Sugiyanto Sukrasno Sukrasno Sukrasno Sukrasno Sukrasno Sukrasno Sultan Salahudin Jamal Sundani Nurono Soewandhi SURYANI Susi Sunarty Sigalingging Suwidjiyo Pramono Totik Sri Mariani Totik Sri Mariani Totik Sri Mariani Totik Sri Mariani Tresa Tri Rayani Tresa Tri Rayani, Tresa Tri Trialisa Aprilia Tzazkia Febriyana Akbar Usi Septiani Viola Aditya Nurhayati Weni Widy Astuti Winda Nur Halimah Windyaswari , Ari Sri Wulandari, Yesi Yeni Karlina Yeni Karlina Yeni Karlina, Yeni Yenni Karlina Yesi Desmiaty, Yesi Yesi Wulandari Yuslianti, Euis Reni Zaini Alfahmi