cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Perspektif : Review Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Education,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan yang memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Arjuna Subject : -
Articles 203 Documents
Processing and Development of Frying Oil from Fruit of Some Varieties of Dwarf Coconut Steivie Karouw; Chandra Indrawanto
Perspektif Vol 14, No 1 (2015): Juni, 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v14n1.2015.01-13

Abstract

ABSTRACTFruits of Dwarft coconut commonly are used as young tender (8 months of fruit) for fresh coconut water and raw materials in processing of some conventional products such as klapeertart and coconut jam. Recently, the mature fruit (11-12 months of fruit) are not utilized yet. It could be used as raw materials for making frying oil through heating method. It is estimated about 7.1-8.4 L of frying coconut oil can be obtained from 200 nuts of Dwarf coconut fruit. If 1.0 ha of coconut area could be planted with 200 trees of Dwarft coconut and it produced 17,500-20,500 nuts/ha/year, local price of coconut frying oil at farmer level is Rp 20,000/L, so the farmer earning could reach Rp 14,000,000-Rp 16,400,000. The oil from coconut is the healthiest oil in the world, due to its unique properties. Lauric acid, the main fatty acid in coconut oil, was proven for its beneficial effect for human health. The fruit of Dwarft coconut is easier to be harvested compared to Tall coconut, because its tree is shorter. Processing of healthy frying oil from fruit of Dwarft coconut through heating method could be apllicated in small or farmers group level.Keywords: Healthy frying oil, dwarf coconut, lauric acidPengolahan dan Peluang Pengembangan Minyak Goreng Berbagai Jenis Kelapa GenjahABSTRAKBuah kelapa genjah umumnya hanya dimanfaatkan dalam bentuk kelapa muda (umur buah 8 bulan) untuk dikonsumsi sebagai kelapa segar dan bahan baku untuk pembuatan klapertaart dan selai kelapa. Bahkan buah kelapa genjah tua (umur buah 11-12 bulan) tidak memiliki nilai ekonomi, karena tidak dapat dijual dalam bentuk kelapa butiran dan diolah lanjut menjadi kopra. Salah satu usaha diversifikasi yang dapat dilakukan, yaitu mengolah buah kelapa genjah menjadi minyak melalui pengolahan cara basah dengan metode pemanasan. Sebanyak 7,1-8,4 liter minyak kelapa dapat dihasilkan dari pengolahan 200 butir buah kelapa genjah. Diperkirakan pada lahan seluas satu ha dapat diperoleh sekitar 700-820 liter minyak kelapa. Hasil ini diperoleh dengan asumsi pada lahan seluas satu ha ditanami 200 pohon kelapa dapat memproduksi 17.500-20.500 butir/ha/tahun. Diperkirakan apabila harga jual minyak kelapa Rp 20.000/liter, maka pendapatan bruto yang diperoleh sebesar Rp 14.000.000 - Rp 16.400.000. Minyak yang diperoleh dapat digunakan sebagai minyak goreng. Minyak goreng kelapa bukanlah sekedar minyak goreng biasa, karena mengandung asam laurat yang tinggi (48-50%). Asam laurat merupakan asam lemak utama yang terdapat pada daging buah kelapa. Keunggulan pengolahan minyak kelapa berbahan baku buah kelapa Genjah yaitu tidak memerlukan tenaga pemanjat pada saat panen karena pohonnya yang pendek. Pengolahan minyak goreng sehat cara basah dengan metode pemanasan sangat sesuai dilakukan pada skala petani/kelompok tani.Kata kunci: Minyak goreng sehat, kelapa genjah, asam laurat
Organik Matter: It’s Role in Sustainable Farming of Sugarcane Djajadi Djajadi
Perspektif Vol 14, No 1 (2015): Juni, 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v14n1.2015.61-71

Abstract

ABSTRACTOrganik matter has an important role in determining soil health of sugarcane, i.e. soil capacity to support sugarcane to produce sustainable high yield. Soil organic matter influences soil physical, chemical, and biological properties, so that a consequence of declining soil organic matter is poorer soil fertility and lower yield. This paper has an objective to elucidate the important role of organic matter on sustainable farming of sugarcane. The important role of organic matter in soil fertility has been known for a long time before Green Revolution concept was introduced. With more intensity in sugarcane farming and more increasing of sugar demand, application of organic fertilizer started to be substituted by chemical fertilizer. Using green manure and/or biofertilizer has a chance to be spread out to the farmers due to more practical and more efficient than solid organik fertilizer, such as dung manure or compost. Future research should be focusing on the efectivity of green manure and or biofertilzer sources in improving soil fertility and cane yield, minimizing soil pathogen, reducing soil erosion of sugar cane land monoculture, and improving awareness of farmers about soil degradation as consequences of sugarcane monoculture planting for years.Keywords: Organic matter, sugarcane, soil health sustainable farming Bahan Organik: Peranannya dalam Budidaya Tebu BerkelanjutanABSTRAKBahan organik tanah berperan penting dalam menentukan kesehatan tanah tebu, yaitu kapasitas tanah yang dapat mendukung produksi tebu yang tinggi secara berkelanjutan. Kadar bahan organik tanah mempengaruhi sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Paper ini bertujuan untuk menguraikan tentang peranan bahan organik dalam memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah pertanaman tebu. Pentingnya peran bahan oganik tersebut sudah disadari dari dulu, sehingga sebelum revolusi hijau penggunaan pupuk organik sudah umum dilakukan petani. Dengan semakin intensifnya budidaya tebu dan semakin meningkatnya kebutuhan gula, pemanfaatan pupuk organik sudah jarang dilakukan. Diperlukan usaha untuk meningkatkan dan mempertahankan kadar bahan organik pada lahan tebu, antara lain berupa gerakan masal dalam bentuk gerakan nasional melalui program aplikasi bahan organik. Pemanfaatan pupuk hijau dan/atau pupuk hayati berpeluang untuk diterapkan karena lebih praktis dan efisien daripada penambahan pupuk organik padat. Penelitian ke depan perlu difokuskan untuk mengkaji jenis-jenis pupuk organik dan pupuk hayati yang efektif memperbaiki kesuburan, dalam menekan serangan penyakit, meminimalkan erosi pada lahan-lahan tebu monokultur, dan meningkatkan kesadaran petani tebu tentang terjadinya degradasi lahan akibat penanaman tebu yang terus menerus.Kata kunci: Bahan organik, tebu, kesehatan tanah, budidaya berkelanjutan 
Manfaat Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) dalam Penyerapan Karbondioksida (CO2) BUDI SANTOSO; ARINI HIDAYATI JAMIL; MOCH. MACHFUD
Perspektif Vol 14, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v14n2.2015.125-133

Abstract

ABSTRAKKenaf merupakan tanaman penghasil serat alam yang memiliki banyak produk diversifikasi dengan nilai ekonomi tinggi dan ramah lingkungan. Kontribusi kenaf terhadap lingkungan juga dikenal melalui kemampuannya yang tinggi dalam menyerap karbondioksida. Karbondioksida (CO2) adalah gas penyumbang efek rumah kaca utama yang sebagiannya dihasilkan secara antropogenik. Penyimpanan karbon oleh tanaman menjadi salah satu langkah paling penting dalam mitigasi gas rumah kaca. Tingginya absorbsi karbondioksida oleh kenaf dipengaruhi oleh laju fotosintesis yang tinggi, meskipun kenaf termasuk dalam tumbuhan C3. Laju fotosintesis kenaf didukung oleh aktivitas RuBP karboksilase, konduktansi stomata, dan hasil biomasa tanaman yang tinggi. Laju fotosintesis kenaf mencapai 3-8 kali lebih tinggi dibandingkan pohon dan tanaman C3 lainnya. Berdasarkan biomasa yang dihasilkan, kenaf siap panen umur 4-5 bulan menyimpan 2,9-12,1 ton C/ha atau menyerap 21-89 ton CO2/ha/tahun tergantung pada manajemen agronomi dan kondisi lingkungannya. Dengan luas lahan kenaf di Indonesia saat ini kurang lebih 3000 ha, maka serapan CO2 per tahun mencapai 63-267 ribu ton. Selain sebagai penyimpan karbon dalam waktu lama, beberapa produk diversifikasi kenaf seperti interior dan komponen mobil, peredam suara, serta pulp dan kertas juga turut berkontribusi mengurangi emisi CO2 melalui penghematan energi, serta mengurangi laju deforestasi dan emisi gas berbahaya lainnya. Pengembangan kenaf diharapkan mampu membantu pemerintah Indonesia dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca serta menyediakan bahan baku serat alam untuk kebutuhan industri yang ramah lingkungan.Kata kunci: Kenaf, absorbsi karbondioksidaABSTRACTKenaf (Hibiscus cannabinus L.) Benefits in Carbon Dioxide (CO2) SequestrationKenaf is a natural fiber crop that have a lot of diversified products with high economic value and environmental functions. Kenaf contribution to the environment is also known through a high ability to absorb carbon dioxide. Carbon dioxide (CO2) gas is the main anthropogenic contributor to the greenhouse effect. Carbon sequestration by plants became one of the most important steps to greenhouse gases mitigation. The high absorption of carbon dioxide by kenaf affected by the high photosynthetic rate, although kenaf belongs to the group of C3 plants. Kenaf photosynthetic rate supported by high RuBP carboxilase activity, high stomatal conductance, and high plant biomass production. Kenaf photosynthetic rate reaches 3-8 times higher than trees and other C3 plants. Based on biomass produced, kenaf ready for harvest on 4-5 months plant age saved 2,9-12,1 tonnes C/ha or absorb 21-89 tonnes CO2/ha/year depending on the agronomic management and environmental conditions. Nowadays, land area of kenaf in Indonesia is approximately 3000 ha, therefore the absorption of CO2 reaches about 63-267 million tonnes/year. As well as carbon sink in long time, some kenaf diversified products such as car interior and automobile components, sound absorber, and pulp and paper also contribute to reducing CO2 emissions through savings of energy and decreasing deforestation rate and other harmful gas emissions. Development of kenaf plantation is expected to help the Indonesian government in an effort to reducing greenhouse gas emissions as well as providing the raw materials of natural fiber for environmentally friendly industrial raw materials.Keywords : Hibiscus cannabinus L., carbon dioxide sequestration
Research Innovation to Support the Commersialization of Biopesticides in Indonesia Supriadi Supriadi
Perspektif Vol 14, No 1 (2015): Juni, 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v14n1.2015.15-25

Abstract

ABSTRACTThe economic value of biological pesticides outside Indonesia is quite high, reaching US $ 1.8 billion, however, in Indonesia, the value is insignificant. The paper was aimed to discuss the commercialization of biological pesticides and research innovation to support its development. The biological pesticide formulation in Indonesia is limited; only 30 formulas (0.6%) are registered of the total 2475 registered pesticide formulations in 2012. The Ministry of Agriculture has produced 39 biological pesticide formulations that could be developed by pesticide companies for commercialization. The limited number of the registered biological pesticides shows serious constraints on their commercialization. One of the important constraint is lacking of standardization of the active ingredients and the formulations are short life. The Government, through The Ministry of Agriculture, emposes the Permentan no.39/ Permentan/SR.330/7/2015 in effort to encourage the commercialization of biological pesticides. The registrartion of biological pesticide do not require acute oral and dermal toxict data as that applied to synthetic pesticides. In addition, any government agency that has the duty and function of plant protection can apply for registration of biological pesticide. To improve the quality of biological pesticides that will attract investors, the role of research programs related to improving the quality of the biological pesticide formulation is needed.Keywords: Biological pesticides, innovation, research innovation 16 Volume 14 Nomor 1, Juni 2015 : 15 -25 Inovasi Hasil Penelitian untuk Mendukung Komersialisasi Pestisida Biologi di IndonesiaABSTRAKNilai ekonomi pestisida biologi di luar negeri cukup tinggi, yaitu mencapai US$ 1,8 milyar, tetapi di Indonesia nilainya belum memadai. Makalah ini membahas kendala komersialisasi pestsida biologi dan dukungan inovasi penelitian untuk pengem-bangannya. Jumlah formulasi pestisida biologi di Indonesia masih terbatas; hanya 30 (0,6%) dari total 2475 formulasi pestisida yang terdaftar pada tahun 2012. Kementerian Pertanian telah menghasilkan 39 inovasi formulasi pestisida biologi yang siap dikembangkan oleh perusahaan pestisida untuk komersialisasi. Terbatasnya formula pestisida biologi yang diperdagangkan menunjukkan adanya kendala dalam komersialisasinya. Kendala utamanya adalah belum adanya standardisasi mutu bahan aktif dan masa simpan bahan aktif sangat pendek (short life). Upaya Pemerintah untuk mendorong komersialisasi pestisida biologi ditunjukkan dengan terbitnya Permentan No.39/Permentan/SR.330/7/2015. Dalam Permentan tersebut, pendaftaran pestisida biologi tidak mensyaratkan data hasil uji toksisitas akut oral dan akut dermal sebagaimana diberlakukan untuk pestisida sintetis. Di samping itu, instansi Pemerintah yang mempunyai tugas dan fungsi perlindungan tanaman dapat mengusulkan pendaftaran untuk pestisida biologi. Untuk meningkatkan mutu pestisida biologi yang masih beragam perlu dibuat standar bakunya sehingga keefektifannya bisa terjamin sehingga akan menarik investor untuk mengembangkannya. Oleh karena itu, peran penelitian berkaitan dengan peningkatan mutu formulasi pestisida biologi sangat diperlukan.Kata kunci: Pestisida biologi, inovasi, dukungan penelitian
Peran dan Pengelolaan Hara Nitrogen pada Tanaman Tebu Untuk Peningkatan Produktivitas Tebu . MASTUR; . SYAFARUDDIN; M. SYAKIR
Perspektif Vol 14, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v14n2.2015.73-86

Abstract

ABSTRAKUsaha peningkatan produktivitas tebu memerlukan varietas unggul baru (VUB) tebu berpotensi rendemen tinggi didukung teknologi budidaya yang tepat. Pengelolaan hara nitrogen (N) yang efektif dan efisien membutuhkan pemahaman peran fisiologis N dan responnya. Tinjauan ini dimaksudkan untuk membahas hasil-hasil penelitian dan implikasinya tentang penyerapan N, reduksi, biosintesis asam amino, respon dan pengaruh N dan interaksi dengan hara lain, serta aspek penyediaan hara N meliputi dosis, dan cara pemberian hara N dalam hubungannya dengan produktivitas dan rendemen pada tanaman tebu. Melalui tinjauan ini diharapkan dapat diperoleh rekomendasi pengelolaan hara N yang tepat untuk peningkatan produktivitas gula. Penyerapan N dalam bentuk nitrat membutuhkan energi dan peran enzim nitrat reduktase. Hal tersebut tidak berlaku untuk serapan N dalam bentuk amonium, namun ketersediaan yang terlalu tinggi dapat beresiko keracunan. Dalam akar atau daun, nitrat akan mengalami reduksi hingga terbentuk amonium, untuk selanjutnya dimanfaatkan dalam biosintesis asam amino. Nitrogen dibawa masuk ke tanaman umumnya melalui pupuk dalam bentuk amonium atau nitrat, dengan ion lain yang menyertai seperti pupuk amonium sulfat, amonium klorida, amonium nitrat, kalsium nitrat, dan juga urea. Nitrogen yang tepat dapat meningkatan pertumbuhan vegetatif (LAI dan anakan), laju fotosintesis, tertekannya pembungaan, kerebahan, dan kenaikan produktivitas tebu. Respon pemupukan N berbeda tergantung bentuk N dan ion pasangannya. Aplikasi dosis pupuk N kurang dari 150 kg N/ha disarankan satu kali yaitu pada fase awal pertumbuhan, namun bila dosis lebih tinggi aplikasi sebaiknya secara split dengan pemberian pupuk susulan pada umur tiga bulan. Dosis optimal umumnya berkisar antara 125 hingga 250 kg N/ha. Pemupukan N pada dosis tepat nyata meningkatkan produktivitas tebu, namun pengaruhnya pada rendemen umumnya tidak nyata.Kata-kata kunci: Tebu, nitrogen, gula sukrosa, produktivitas gulaABSTRACTRole and Management of Sugarcane Nitrogen Nutrient to Increase ProductivityEfforts to increase sugarcane productivity requires sugarcane with high sucrose yielding potency completed by proper cultivation method. Effective and efficient N management require on understanding physiological role and its responses. This review is aimed to discuss research findings and its implication on nutrient absorption and uptake, reduction, and amino acid biosynthesis, responses and N effects and its interaction, and supply aspect such as dossage, application method in relation to productivity and sucrose content to increase sugarcane productivity and its sucrose content. Through this review will be gotten proper N management to increase sugar productivity. Nitrate uptake needs energy and nitrate reductase. It is not for ammonium, but it need excess availability promoted toxicity., Nitrate will be reduced in roots or leaves to be ammonium, and then utilize for amino acid synthesis. Nitrogen enters to plants through fertilizer as nitrate or ammonium with other ion in fertilizer such as sulphate ammonium, chlorida ammonium, nitrate ammonium, nitrate calsium, and also urea. Proper N application wiil raise vegetative growth (LAI and tillering), photoshynthetic rate, flowering delay, lodging, and productivity rise. Response on N depend on N form and its pairs. N fertilizer dosage lower than 150 kg N/ha recomended once, at early growth phase, but dossage the higher one, supplemental application at 3 months. Right N dossage is significantly increasing sugarcane productivity, but its effect on sucrose content generally is not significantly.Keywords: Sugarcane, nitrogen, sucrose, sugar productivity
Prospek Pengembangan Agroforestri Berbasis Kopi di Indonesia HANDI SUPRIADI; DIBYO PRANOWO
Perspektif Vol 14, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v14n2.2015.135-150

Abstract

ABSTRAKKeterbatasan lahan pertanian mendorong masyarakat/ petani membuka lahan baru di kawasan hutan, dengan cara menebang dan membongkar tanaman hutan serta membakar sisa-sisa tanaman dan semak belukar, akibatnya lahan menjadi kritis. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah melalui penerapan sistem agroforestri berbasis kopi. Agroforestri berbasis kopi yang sudah dikembangkan petani berperan dalam : (1) Konservasi lahan, air dan keanekaragaman hayati, (2) Penambahan unsur hara lahan, (3) Pengendalian iklim mikro, (4) Penambahan cadangan karbon (5) Menekan serangan hama dan penyakit dan (6) Peningkatan pendapatan petani. Agroforestri berbasis kopi telah dipraktekkan oleh petani pada berbagai wilayah di Indonesia, diantaranya di Lampung Barat (pola hutan kemasyarakatan dan hutan desa), Jawa Barat dan Jawa Tengah (pola pengelolaan hutan bersama masyarakat). Tantangan/masalah yang dijumpai pada agroforestri berbasis kopi diantaranya (1) Tingkat pengetahun petani tentang budidaya agroforestri berbasis kopi yang masih rendah, (2) Terbatasnya modal usaha dan (3) Ketidakpastian status lahan usaha. Upaya untuk mengatasi masalah tersebut dapat dilalukan melalui pelatihan dan pendampingan teknologi budidaya, bantuan modal usaha dan kepastian hukum status lahan. Pengembangan agroforesti berbasis kopi diarahkan pada dikawasan hutan milik Perum Perhutani, hutan kemasyarakan (HKm) dan hutan desa (HD) yang luasnya masing-masing 2.250.172; 2.500.000 dan 500.000 ha. Makalah ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran agroforestri berbasis kopi terhadap lingkungan, dan ekonomi petani serta prospek pengembangannya di Indonesia.Kata kunci: Tanaman kopi, agroforestri, tanaman penaung, lingkungan, pendapatan, pengembanganABSTRACTProspects of Agroforestry Development Based on Coffee in IndonesiaLimitations of agricultural land to encourage people/ farmers open up new land in forest areas, by felling tree forests and forcing open plants and burning the remains of plants and shrubs as a result of land being serious critical. One effort to over come the problem is through the implementation of a coffee-based agroforestry systems. Role-based on agroforestry coffee farmers that have been developed, by farmers involve on (1) Conserve land, water and biodiversity, (2) Add of nutrients lands, (3) Control of microclimate, (4) Add of carbon stocks (5) Suppress pests and diseases, and (6) Enhancement to the income of farmers. Coffee-based agroforestry has been practiced by farmers in various regions in Indonesia, including in West Lampung (patterns of community forestry and forest villages), West Java and Central Java (forest management with communities). Challenge/problems encountered in the coffee-based agroforestry include (1) The level of knowledge of farmers on the cultivation of coffee-based agroforestry still low, (2) Lack of venture capital and (3) The uncertainty of the status of business land. Efforts to overcome these problems can through training and mentoring cultivation technology, venture capital assistance and legal certainty of land status. Development direction of coffee-based agroforestry can be done conduct of region-owned Perum Perhutani, community forestry (CF) and village forest (VF) which covers each 2.250.172; 2.500.000 and 500.000 ha. This paper aims to identify the role of coffee-based agroforestry on the environment, and the economy of farmers and development prospect in Indonesia.Keywords: Coffee sp., agroforestry, shade plants, environment, income, development
Research Status of Clove, Application of Technology and Development Strategy with Ecological Basic Setiawan Setiawan; Rosihan Rosman
Perspektif Vol 14, No 1 (2015): Juni, 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v14n1.2015.27-35

Abstract

ABSTRACTClove (Syzygium aromaticum L.Marr and Perr) is a native spice crop of Indonesia. Development of clove estate areas has experienced up and downs fluctuation doe to desease and price fluctuation that cause farmers do not maintenat plant. Hence, it is necessary to perform extensification and intensification. Extensification means development through the expansion, while the intensification means development through the improvement of technology. Results of previous studies include land suitability maps and climate, fertilization technology, cropping pattern, maintenance, nurseries and the search for improved varieties have been done. But has not answered the problems of cloves, especially fluctuations in the yield. Extensification efforts require land suitabilityand climate maps, while intensification requires land/environment based technology. Ecology-based cultivation technologies including varieties, planting, fertilizer, maintenance, cropping pattern, harvest and post harvest should be given attention in order to archive effectively, efficiently and high productivity. The criteria of land and climate suitability, and cultivation technology can be used as guidelines for the development of cloves and as a basis for making a map at operational scale and for determining the appropriate technological package. This paper aims to examine the technological research that has been done and integrate into a form more efficient cultivation technology-based ecology (soil and climate) for use as the direction and strategy of the development of clove in the future.Keywords : Clove, technology, ecology, land suitability 28 Volume 14 Nomor 1, Juni 2015 : 27 -36 Status Penelitian, Penerapan Teknologi dan Strategi Pengembangan Tanaman Cengkeh Berbasis Ekologi ABSTRAKCengkeh (Syzygium aromaticum L. Marr. and Perr.) merupakan tanaman rempah asli Indonesia. Perkembangan perkebunan cengkeh mengalami pasang surut akibat adanya serangan penyakit dan fluktuasi harga cengkeh yang menyebabkan petani tidak mau memelihara tanaman. Oleh karena itu diperlukan upaya ekstensifikasi dan intensifikasi. Ekstensifikasi berarti pengembangan melalui perluasan areal sedangkan intensifikasi berarti pengembangan melalui peningkatan teknologi tanaman cengkeh. Hasil penelitian terdahulu antara lain peta kesesuaian lahan dan iklim, teknologi pemupukan, pola tanam, pemeliharaan, pembibitan dan pencarian varietas unggul telah dilakukan. Namun belum menjawab permasalahan cengkeh terutama fluktuasi hasil. Upaya ekstensifikasi diperlukan peta kesesuaian lahan dan iklim sedangkan intensifikasi diperlukan teknologi berbasis kondisi lahan/lingkungan. Teknologi budidaya berbasis ekologi mulai dari varietas, penanaman, pemupukan, pemeliharaan, pola tanam hingga panen dan pasca panen harus mendapat perhatian, karena selain mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi, juga efektif dan efisien. Kriteria kesesuaian lahan, iklim dan teknologi budidaya dapat dijadikan pedoman pengembangan tanaman cengkeh dan sebagai dasar pembuatan peta skala operasional dan menentukan paket teknologi yang tepat. Makalah ini bertujuan untuk menelaah teknologi hasil penelitian yang telah dilakukan dan mengintegrasikan ke dalam bentuk teknologi budidaya yang efisien berbasis ekologi (lahan dan iklim) untuk digunakan sebagai arah dan strategi pengembangan cengkeh dimasa yang akan datang.Kata kunci : Cengkeh, teknologi, ekologi, kesesuaian lahan 
Potensi Pengembangan Kemiri Sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw)di Lahan Terdegradasi DIBYO PRANOWO; MAMAN HERMAN; . SYAFARUDDIN
Perspektif Vol 14, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v14n2.2015.87-101

Abstract

ABSTRAKKemiri sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw) merupakan salah satu jenis tanaman penghasil minyak nabati yang memiliki potensi besar sebagai sumber bahan baku untuk biodiesel. Tingkat produktivitas yang dapat mencapai 8-9 ton minyak kasar atau setara dengan 6-8 ton biodiesel/ha/tahun memiliki nilai strategis terkait dengan program pemerintah dalam mencari alternatif sumber energi baru yang terbarukan. Pengembangan sumber energi terbarukan seperti yang berasal dari minyak nabati kemiri sunan merupakan salah satu alternatif dalam upaya memenuhi defisit energi untuk keperluan domestik sehingga Indonesia dapat keluar dari himpitan krisis energi. Lahan-lahan yang telah terdegradasi di Indonesia dari tahun ke tahun luasnya semakin bertambah baik karena faktor alam maupun karena eksploitasi yang tidak terkendali. Disisi lain pengembangan tanaman sumber BBN terkendala karena keterbatasan lahan. Kajian yang telah dilakukan secara intensif terhadap karakteristik tanaman, minyak dan biodiesel yang dihasilkannya, serta daya adaptasinya yang sangat luas terhadap beragam agroekosistem yang ada di Indonesia, tanaman kemiri sunan memberikan harapan yang baik disamping sebagai sumber bahan baku biodiesel, juga dapat berfungsi sebagai tanaman konservasi untuk mereklamasi lahan-lahan marginal yang telah terdegradasi. Disamping itu, pengembangan tanaman kemiri sunan di lahan yang telah terdegradasi tidak hanya akan dapat meningkatkan nilai ekonomi lahan tersebut, tetapi juga dapat dijadikan tanaman yang bernilai ekonomi tinggi, serta mampu menyediakan kebutuhan energi bagi masyarakat sekitar maupun ke wilayah yang lebih luas. Kata kunci: Kemiri sunan, biodiesel, energi baru terbarukan, lahan terdegradasi, lahan bekas tambang.ABSTRACTThe Multiple Benefits of Developing Kemiri Sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw) In Degraded LandKemiri sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw) is one kind of vegetable oil crops that have great potential as a source of raw material for biodiesel. The productivity level that can reach 8-9 tons of crude oil, equivalent to 6-8 tons of biodiesel/ha/year make as a strategic commodity associated with government programs to find alternative sources of renewable energy. Development of renewable energy such as from vegetable oils of kemiri sunan is one of the alternatives in an effort to solve the deficit of energy for domestic use so that Indonesia can way out of the crush of the energy crisis. Lands that have been degraded in Indonesia continuously increasing both cause of the extent of natural factors and uncontrolled exploitation. On the other hand the development of this plants retricted by aviability of land. The research88 Volume 14 Nomor 2, Des 2015 : 87 - 101 studies have been conducted on the characteristics of plants, oil and biodiesel production, and adaptability in very broadly of Indonesian agro-ecosystem, this plant show well hopes besides as a source of raw material for biodiesel, it can also function as a conservation plant to reclaim marginal lands that have been degraded. In addition, the development of kemiri sunan on degraded land will not only be able to increase the economic value of the land, but also can be used as crops of high economic value, and able to provide for the energy needs of the surrounding communities and to the wider region.Keywords: Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw, biodiesel, renewable energy, degraded land, post mained land.
Extraction of Galactomannan on the Coconut Meat, “Sapal”, and Function for Food Rindengan Barlina
Perspektif Vol 14, No 1 (2015): Juni, 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v14n1.2015.37-49

Abstract

ABSTRACTGalactomannan is a polymer containing units mannopiranosa with βeta-(1-4) and unit galactopiranosa with bonding αlfa-(1-6). Galactomannan source that has been developed is of plant seeds Leguminoceae, the fenugreek (Trigonellafoenum graecum). The price of 250 mg extract of fenugreek yield 85% galactomannan reach to US $ 26.75 (Rp.250,000). Galactomannan compound also contained in the coconut meat. The more mature of coconuts fruit, galactomannan compounds will increase. Coconut pulp that has been processed into flour can be substituted on the processing of snacks so that the product has Glykemik index (GI) is low. Isolation galactomannan using 4% of furnace ash solution and coconut pulp 400 g obtained galactomannan isolates 134,4g. The use of coconut galactomannan isolates for 52 days in the rabbit (hypercholesterolemia), can prevent the increase in total cholesterol levels of 24 mg / dl, cholesterol- drugs only 16 mg /dl, preventing the increase in LDL of 15 mg /dl together with cholesterol- drugs, increase HDL 1 mg /dl, while the drug to increase HDL 2 mg /dl, and prevent the increase in triglycerides (TG) 18 mg /dl. By looking at the benefits galactomannan in the food industry, health, environmental and economic value, this potential needs to develope.Keywords: Coconut, sapal, galactomannan, isolation, food, health Ekstrak Galaktomanan pada Daging Buah Kelapa dan Ampasnya serta Manfaatnya untuk Pangan RINGKASANGalaktomanan adalah polimer yang mengandung unit mannopiranosa dengan ikatan βeta– (1– 4) dan unit galaktopiranosa dengan ikatan αlfa – (1– 6). Sumber galaktomanan yang telah dikembangkan adalah dari biji tanaman Leguminoceae, yaitu fenugreek (Trigonellafoenum graecum). Harga 250 mg ekstrak fenugreek berkadar 85% galaktomanan mencapai US$ 26,75 atau Rp.250.000.- Senyawa galaktomanan terkandung juga pada daging buah kelapa. Semakin matang buah kelapa berat galaktomanan akan meningkat dan terbukti pada ampas kelapa terkandung kadar galaktomanan yang tinggi. Galaktomanan memiliki banyak manfaat dalam industri pangan, kesehatan dan lingkungan hidup. Ampas kelapa yang telah diolah menjadi tepung dapat disubstitusi pada pengolahan makanan ringan sehingga produk memiliki Indeks Glykemik (IG) rendah. Isolasi galaktomanan menggunakan larutan isolat abu tungku 4% pada ampas kelapa 400 g diperoleh berat kering isolat galaktomanan 134,4g. Penggunaan isolat galaktomanan kelapa selama 52 hari pada kelinci percobaan (hiperkolesterol), dapat mencegah kenaikan kadar total kolesterol 24 mg/dl, obat penurun kolesterol hanya 16 mg/dl, mencegah kenaikan LDL 15 mg/dl sama dengan obat penurun kolesterol, meningkatkan HDL 1 mg/dl, sedangkan yang diberi obat meningkatkan HDL 2 mg/dl dan mencegah kenaikan trigliserida (TG) 18 mg/dl. Dengan melihat manfaat galaktomanan dalam industri pangan, kesehatan, lingkungan hidup dan nilai ekonomi yang cukup baik, maka potensi ini perlu dikembangkan.Kata kunci: Kelapa, ampas, galaktomanan, isolasi, pangan, kesehatan
Potensi In-Vivo Selulosa Bakterial Sebagai Nano-Filler Karet Elastomer Thermoplastics NENDYO ADHI WIBOWO; . ISROI
Perspektif Vol 14, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v14n2.2015.103-112

Abstract

ABSTRAKSelulosa bakteri merupakan salah satu biopolimer yang berbentuk pita-pita berukuran nano dengan panjang kurang dari 100 nm dan lebar 2-4 nm. Beberapa bakteri yang diketahui bisa memproduksi selulosa antara lain Acetobacter, Agrobacterium, Alcaligenes, Pseudomonas, Rhizobium, dan Sarcina. Sintesis selulosa bacterial membentuk bundle mikrofibril yang sangat kristalin dengan elastisitas modulus sebesar 78 GPa sama seperti elastisitas modulus dari fiber glass 70 GPa. Selulosa bakteri memiliki kapasitas simpan air, derajat polimerisasi, dan struktur jaringan yang lebih baik daripada selulosa dari tanaman. Produksi nanofibril selulosa dari selulosa bakteri tidak memerlukan proses penghilangan hemiselulosa dan lignin seperti pada selulosa dari tanaman sehingga nano selulosa bakterial dapat menjadi salah satu bahan baku nano komposit yang potensial bagi pengembangan karet alam atau natural rubber (NR). Nano selulosa bakterial bisa menjadi bahan baku nano komposit yang sangat kuat, lebih kuat daripada nano selulosa yang berasal dari tanaman. Pengembangan karet alam atau natural rubber (NR) mengarah pada pengembangan karet untuk tujuan-tujuan khusus, salah satunya adalah elastomer thermoplastics (ETPs) yang merupakan kelompok material yang menggabungkan karakteristik karet dengan bahan termoplastik yang mudah diproses. Konsep penguatan bahan polimer, seperti NR, dengan nano-filler selulosa melalui mekanisme ikatan karet-bahan pengisi akibat peningkatan interaksi karet-bahan pengisi berukuran nano yang memiliki luas permukaan yang besar. Selulosa bakterial seperti Acetobacter xylinum yang ditumbuhkan dalam medium lateks karet alam, akan mengakibatkan partikel latek yang berukuran 5 nm terperangkap pada matrik selulosa ataupun sebaliknya partikel selulosa bakterial yang terperangkap pada matrik karet alam. Manfaat dari adanya mekanisme ikatan in vivo selulosa bakterial dan matrik karet alam adalah dalam rangka mengembangkan industri karet pada sintesis paduan nano-komposit karet dengan selulosa bakterial guna meningkatkan diversifikasi produk pada komoditas karet alam. Produk yang dihasilkan dapat berupa termoplastik elastomer (karet alam termoplastik) yang memiliki prospek untuk digunakan pada komponen otomotif dan produk-produk khusus lainnya.Kata kunci : Bakteri selulosa, Acetobacter xylinum, elastomer thermoplastics (ETPs), lateksABSTRACTIn-Vivo Potency of Bacterial Cellulose As Nano-Filler Elastomer Thermoplastics Rubber (ETPS)Microbial cellulose is one of the biopolymer in the form of nano-sized ribbons with a length of less than 100 nm and a width of 2-4 nm. Some bacteria are known to produce cellulose namely Acetobacter, Agrobacterium, Alcaligenes, Pseudomonas, Rhizobium, and Sarcina. Synthesis of bacterial cellulose forming microfibril bundle highly crystalline with elasticity modulus of 78 GPa as of 70 GPa fiber glass. Microbial cellulose has water storage capacity, degree of polymerization, and the network structure is better than cellulose from plants. Nanofibril cellulose production of bacterial cellulose does not require the removal of hemicellulose 104 Volume 14 Nomor 2, Des 2015 : 103 - 112 and lignin as of plants so that the nano bacterial cellulose is a potential raw materials of nano composites in developing natural rubber (NR). Nano bacterial cellulose is potentially a strong raw material for nano composites, stronger than nano cellulose from plants. Development of natural rubber or natural rubber (NR) led to the development of rubber for specific purposes, one of which is elastomeric thermoplastics (ETPs), a group combining the characteristics of rubber material with thermoplastic material that is easily processed. Strengthening The concept to improve the strength of polymer materials, such as NA, with nano-filler bonding cellulose through the mechanism of rubber-filler-rubber is due to an increased interaction of nano-sized filler that has a large surface area. Bacterial cellulose such as Acetobacter xylinum grown in natural rubber latex medium, may result in 5 nm latex particle trapped in the cellulose matrix or vice versa, bacterial cellulose particles trapped in the matrix of natural rubber. Benefits of the bonding mechanism of in vivo bacterial cellulose and natural rubber matrix is develop rubber industry synthesizing nano-composite alloy rubber with bacterial cellulose for natural rubber diversification. The products resulted in the form of thermoplastic elastomer (natural rubber thermoplastic) is potentially to be used in automotive components and other specialty products.Keywords: Bacterial cellulose, Acetobacter xylinum, elastomer thermoplastics (ETPs), latex

Page 8 of 21 | Total Record : 203