cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Perspektif : Review Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Education,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan yang memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Arjuna Subject : -
Articles 203 Documents
Sifat-Sifat Tanah yang Mempengaruhi Perkembangan Patogen Tular Tanah pada Tanaman Tembakau NURUL HIDAYAH; DJAJADI DJAJADI
Perspektif Vol 8, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v8n2.2009.%p

Abstract

ABSTRAKTanah secara alami banyak dihuni oleh berbagai jenis mikroba,   baik   patogen   maupun   tidak   patogen. Informasi tentang sifat-sifat tanah yang mempengaruhi perkembangan  patogen  tular  tanah  pada  tanaman tembakau masih sedikit, padahal informasi itu sangat bermanfaat untuk menentukan strategi pengendalian patogen.  Dalam makalah ini diulas tentang besarnya kerugian serangan patogen tular tanah pada tanaman tembakau, sifat-sifat tanah yang berpengaruh terhadap perkembangan patogen, dan strategi pengendaliannya.Kerugian hasil akibat serangan patogen tular tanah pada  tanaman  tembakau  mencapai  lebih  dari 50% senilai Rp 11,1 M per hektar.  Tiga jenis patogen tular tanah   paling   berbahaya   pada   tembakau   adalah Ralstonia   solanacearum,   Phytophthora   nicotianae,   dan Meloidogyne spp. Ketiga patogen tersebut dapat saling bersinergi  sehingga  menyebabkan  kerusakan  yang lebih parah.  Faktor-faktor tanah yang mempengaruhi perkembangan patogen tular tanah adalah pH, tekstur, bahan organik, suhu, dan unsur hara tanah.  Di antara faktor tersebut, rendahnya bahan organik dan hara merupakan  faktor  pemicu  paling  dominan  dalam perkembangan  patogen.    Oleh  karena  itu,  strategi pengendaliannya adalah dengan penambahan bahan organik sebanyak 22,5 ton/ha dan peningkatan serapan P oleh tanaman tembakau.  Kedua strategi itu dapat menekan kompleks patogen tular tanah pada tanaman tembakau  di  Temanggung  sekaligus  meningkatkan produksi sebesar 40%.Kata  kunci:  Patogen  tular  tanah,  tembakau,  faktor tanah, strategi pengendalian ABSTRACTSoil Characteristics which Induce Soil-Borne Pathogens of TobaccoSoil   is   naturally   inhibited   by   many   types   of microorganisms, either pathogenic or non pathogenic. Information   about   soil   factors   that   induce   the development of soil-borne pathogens on tobacco plant is still limited.  This paper describes various types of soil-borne pathogens, soil factors affecting pathogens, and strategy to control them.  Soil-borne pathogens cause significantly loss on tobacco yield.  The loss of tobacco yield due to soil-borne pathogens is about 50% (equal to 11.1 billion rupiahs per hectare).  Three most important   soil-borne   pathogens   on   tobacco   are Ralstonia   solanacearum,   Phytophthora   nicotianae,   and Meloidogyne spp.  They may synergistically cause more severe lost on tobacco plants.  Soil factors affecting development of these pathogens are pH, temperature, and soil texture, as well as soil organic matter and soil nutrients.  Two of these, i.e. organic matters and soil nutritions, are the most important factors determining development   of   soil-borne   pathogens   on   tobacco plantation.  Therefore, the strategy to control soil-borne pathogens is by increasing organic matters up to 22.5 tons/ha and soil nutrition such as P uptake.  Both factors are effective in reducing soil-borne incidence as well as increasing tobacco yield up to 40%.Key words: Soil-borne pathogens, tobacco, soil factors, control strategy
Pengelolaan Agroekosistem dalam Pengendalian Hama NURINDAH NURINDAH
Perspektif Vol 5, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v5n2.2006.%p

Abstract

ABSTRAKPengelolaan agroekosistem dalam pengendalian hama, merupakan salah satu metode dalam Pengendalian Hama   Terpadu (PHT)   yang   diterapkan   dengan pendekatan ekologi.  Penerapan metode ini dilakukan setelah   dipahami   faktor-faktor   penyebab   suatu agroekosistem menjadi rentan terhadap eksplosi hama, dan   dikembangkan   metode-metode   yang   dapat meningkatkan   ketahanan   agroekosistem   tersebut terhadap   eksplosi   hama.   Prinsip   utama   dalam pengelolaan agroekosistem untuk pengendalian hama adalah menciptakan keseimbangan antara herbivora dan musuh alaminya melalui peningkatan keragaman hayati. Peningkatan keragaman vegetasi dan penambahan biomassa, dapat meningkatkan keragam-an hayati dalam suatu agroekosistem.  Peningkatan keragaman  vegetasi  dilakukan  melalui  pola  tanam polikultur   dengan   pengaturan   agronomis   yang optimal.  Penambahan  biomassa  dilakukan  dengan mengaplikasikan mulsa, penambahan pupuk hijau dan pupuk kandang.  Kedua metode ini ditujukan untuk mendapatkan produktivitas lahan yang optimal dan berkelanjutan.Kata kunci: Kapas, Gossypium hyrsutum, Pengendalian Hama Terpadu, pengelolaan agro-ekosistem, keragaman hayati. ABSTRACTAgroecosystem management for Pest ControlAgroecosystem  management  is  an  Integrated  Pest Management (IPM) with ecological approaches.  This method can be applied when the factors that make the agro ecosystem become vulnerable to pest outbreak are known. The main  agroecosystem management for pest management is to create the balance between herbivores and their natural enemies by increasing biodiversity, enhancing vegetations and biomasses. Increasing  vegetation diversity can be done by adopting poly culture systems, optimizing agronomic arrangements.  Increasing biomasses can be done by applying mulch, green manures, and cattle manures. Both  methods  are  aimed  to  obtain  optimal  land productivity and sustainability.Key words: Cotton,  Gossypium hirsutum, Integrated Pest Management, agroecosystem management,  biodiversity
Penerapan SOP Budidaya Untuk Mendukung Temulawak Sebagai Bahan Baku Obat Potensial MONO RAHARDJO
Perspektif Vol 9, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v9n2.2010.%p

Abstract

ABSTRAKTemulawak  (Curcuma xanthorrhiza  Roxb)  merupakan tanaman asli  Indonesia, banyak ditemukan terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Jakarta, Yogyakarta, Bali, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Kalimantan  Barat  dan  Kalimantan  Timur,  Sulawesi Utara  dan Sulawesi Selatan. Rimpang temulawak mengandung bahan aktif yang potensial untuk kesehatan antara lain xanthorrizol, kurkuminoid dan minyak atsiri. Rimpang temulawak banyak dipergunakan  sebagai  bahan  baku  obat  tradisional sebagai jamu, herbal terstandar dan obat fitofarmaka. Teknologi yang mengacu pada SOP budidaya dengan penggunaan  varietas  unggul,    lingkungan  tumbuh yang  cocok,  benih  bermutu,  persiapan  lahan,  cara tanam dan pasca panen yang tepat akan menghasilkan produksi dan mutu rimpang yang tinggi. Pada umumnya  temulawak diperbanyak dengan menggunakan  stek  rimpang    berasal  dari  rimpang induk dan rimpang cabang.  Benih harus berasal dari tanaman yang sehat berumur 10 - 12 bulan, bersih, kulitnya licin   mengkilap, bebas  dari hama dan  penyakit.  Rimpang induk untuk benih dapat dibagi menjadi 2 - 4 bagian,  ukurannya sekitar 20 - 40 g/benih yang mempunyai 2 -3 mata tunas.  Tingkat pemupukan pupuk organik dan anorganik (N, P dan K)   mempengaruhi   produksi   rimpang   dan   mutu. Kebutuhan pupuk N (Urea), P (SP36) dan K (KCl) harus disesuaikan dengan kondisi kesuburan tanah. Pada status kesuburan tanah  dengan kandungan N rendah, P  cukup dan K cukup pada iklim tipe B, produksi rimpang tertinggi (25,46 t/ha) dicapai pada pemupukan pupuk kandang 20 t/ha, urea 300 kg/ha, SP36 200   kg/ha, dan KCl 200 kg/ha. Tanaman temulawak siap dipanen pada umur 10 12 bulan, dengan dicirikan tanaman sudah senescen (mengering batang dan daunnya). Temulawak berkhasiat untuk meningkatkan nafsu makan, memperbaiki fungsi pencernaan, fungsi hati, pereda nyeri sendi dan tulang, menurunkan lemak darah, antioksidan dan menghambat penggumpalan darah.Kata kunci : Curcuma xanthorrhiza  Roxb,  teknologi budidaya, khasiat ABSTRACTApplication of Standard Operational Procedure to Support Java Turmeric as Potential Drug IngredientsJava turmeric (Curcuma xanthorrhiza  Roxb) is one of Indonesian native plants  cultivated  in West, Central and, East Java, Yogyakarta, Bali, North Sumatera, Riau, Jambi,  West  and  East  Kalimantan,  and  North  and South Sulawesi. Since rhizomes contain xanthorrizol, curcuminoid and essential oils, this plant has been widely   used   as   traditional   medicine                                                                                       (jamu), standardized  herbal  and  phytopharmaca  medicines. Applying standard operational procedure consisting of the  usage  of  a  good  variety,  selection  of  suitable environmental  condition,  soil  preparation,  seedling and planting techniques, and post harvest technology will produce high both yield and quality of rhizomes. Turmeric propagates via main or branch rhizomes. Seed should be chosen from the healthy plants age 10-12 months after planting. Rhizomes should have shiny skin and free from pests and diseases. Rhizomes may be divided into 2 - 4 pieces, which is 20-40 g/slice and have 2-3  shoots.  Organic  and  inorganic  fertilizers  ascertain quantity and quality of rhizomes. The need of inorganic  fertilizers  such  as  Urea,  SP36  and  KCl depends on soil fertility condition. Field in Type B climate having low N status, enough P and K status will produce 25.46 tones/ha rhizomes since it is applied with 20 ton/ha of dung manure, 300 kg/ha of Urea, 200 kg/ha of SP36 and 200 kg/ha of KCL.  Plant will ready to be harvested on 10 to 12 months after planting, indicated by senescent condition. Java turmeric can be used to enhance eating appetite, cure digesting and liver malfunctions, lower blood fat, antioxidants and inhibit blood clotting.Key words: Curcuma xanthorrhiza  Roxb,  cultivation tecnology,  medicinal uses
Potensi Sektor Pertanian Sebagai Penghasil dan Pengguna Energi Terbarukan BAMBANG PRASTOWO
Perspektif Vol 6, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v6n2.2007.%p

Abstract

RINGKASANPerkembangan kebutuhan energi dunia yang dinamis di tengah semakin terbatasnya cadangan energi fosil serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup, menyebabkan perhatian terhadap energi terbarukan semakin meningkat, terutama pada sumber-sumber energi terbarukan di sektor pertanian seperti komoditi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan. Secara lebih sempit lagi, diungkapkan komoditas-komoditas utamanya,  yaitu padi, jagung, ubikayu, kelapa, kelapa sawit, tebu, jarak pagar, sagu serta ternak besar (sapi/kotoran  sapi). Potensi bioenergi asal residu biomassa tanaman dari sektor  pertanian (tanpa  industri  kayu  kehutanan, jagung) adalah sekitar 441,1 juta GJ. Pada kondisi sama pada tahun 2000 diperhitungan sekitar 430 juta GJ, atau  sekitar 470 juta  GJ jika residu industri kayu dimasukkan.  Jika  diperhitungkan  tersedianya  bio-energi dari hasil pokok komoditas pertanian (nira, gula, minyaknya dll), maka diperkirakan Indonesia dapat menyediakan bioenergi secara potensial sejumlah 360,99 juta GJ, sehingga jumlah totalnya sekitar 802,09 juta GJ. Sebagai perbandingan,  nilai tersebut kira-kira setara dengan pengoperasian terus menerus lebih dari 25 ribu unit pembangkit listrik tenaga energi terbarukan skala menengah ukuran 10 MW yang saat ini sedang dikampanyekan. Sektor pertanian selain sebagai penghasil energi terbarukan sekaligus merupakan pengguna potensial. Perhitungan keseimbangan antara produksi dan penggunaan energi terbarukan di sektor pertanian,  perlu dikaji secara terus menerus, seiring dengan perkembangan teknologi di bidang energi dan pertanian. Evaluasi ini akan  bermanfaat  untuk  menilai efisiensi kegiatan agribisnis di Indonesia dari segi peningkatan produktivitas pertanian nasional dan pelestarian lingkungan melalui energi terbarukan.Kata kunci: Pertanian, potensi, energi terbarukan, bio-energi. ABSTRACTPotency of Agrriculture Sector as the Producer and the User of Renewble EnergyDevelopment of a dynamic world energy consumption within the limitation of fossil energy reserve as well as the  awareness  on  the  environmental  conservation evoke the increase of interest on a renewable energy, especially   a   renewable   energy   resources   from agriculture sector such as food crops, horticulture, estate commodities and animal husbandry. To be more specific,  the  main  commodities  are  paddy,  maize, cassava, coconut, palm oil, sugarcane, Jatropha curcas, sago, and large livestock (Cow/Cow  waste). The potency of bio-energy derived from plant biomass residue of agriculture sector (without wood industry, maize) is around 441.1 GJ.  At the same condition, in 2000, it is estimated roughly 430 million GJ or just about 470 million GJ if the residue of wood industry is included.  Estimated that if the availability of bio-energy derived from the main production of agriculture commodity is calculated, so that Indonesia could  provide  bio-energy  potentially  amounted  to 360.99 million GJ, therefore, the total amount would be around 802.09 million GJ. In contrast, the value is approximately equal to the continuous operating of more than 25 thousand units of electric power of renewable energy power for middle scale of 10 MW which is now being campaign. Agriculture sector is not only plays the role as the producer of a renewable energy, but also forms as a potential user. Alongside technology development of energy and agriculture sectors, the equivalent estimation between the production and the usage of renewable energy in agricultural sector need to be studied continuously. This evaluation is useful to analyze the efficiency of agribusiness activities in Indonesia based on the improvement of national agriculture productivity and environmental conservation through renewable energy.Key words: Agriculture, potency, renewable energy, bioenergy
STATUS PEMULIAAN TANAMAN KELAPA DALAM PENYEDIAAN BENIH UNGGUL DI INDONESIA BUDI SANTOSA
Perspektif Vol 13, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v13n2.2014.%p

Abstract

ABSTRAKTanaman  kelapa  merupakan  tanaman  yang  sangat bermanfaat  bagi  manusia  dan  tersebar  di  seluruh propinsi di Indonesia dengan banyak aksesi sehingga keragaman genetik tinggi. Hal tersebut menyebabkan produktivitas kelapa secara nasional  masih  rendah yaitu sekitar 1 ton kopra/ha/tahun. Pemerintah melalui Balitka yang sekarang telah berganti nama menjadi Balit    Palma    telah    melakukan    penelitian    dan mendapatkan  varietas  kelapa  unggul  yang  potensi produktivitas berkisar 2,5 - 3,5 ton kopra/ha/tahun. Varietas  Kelapa  Unggul  yang  telah  dilepas  adalah Kelapa Dalam, Kelapa Genjah, Kelapa Hibrida, dan Kelapa Kopyor. Varietas Kelapa Unggul sebagian besar merupakan hasil seleksi dari eksplorasi aksesi-aksesi kelapa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang   telah   ditanam   di   dalam   kebun   percobaan maupun areal Blok Penghasil Tinggi (BPT). Pengadaan benih kelapa unggul yang diperlukan oleh para petani atau  perusahaan  perkebunan  kelapa  dapat  diambil dari kebun percobaan maupun area BPT. Pengadaan benih   kelapa   kopyor   telah   dilakukan   dengan memanfaatkan   teknik   bioteknologi   yaitu   kultur jaringan,  karena  bibit  kelapa  kopyor  sangat  sulit bahkan   tidak   mungkin   diusahakan   dengan   cara konvensional.    Teknik    kultur    jaringan    dengan menggunakan  metode  penyelamatan  embrio  pada kelapa kopyor telah berhasil menghasilkan tanaman kelapa kopyor.  Pada saat ini tanaman kelapa kopyor yang berasal dari kultur jaringan telah  ditanam di kebun percobaan Balit Palma dan telah menghasilkan buah kelapa kopyor sekitar 90 persen per tandan.Kata kunci: pemuliaan, kelapa, benih unggul, kultur jaringan The Status of Coconut Plant Breeding to Support  Providing of Superior Seed  in Indonesia  ABSTRACTCoconut is an estate crop that give many advantages to human being and  distributed in all of provinces in Indonesia  with  a  lot  of  accessions  that  have  high genetic   diversity.   These   causes   coconut   national productivity is still low that is 1 ton of copra/ha /year.  The  Government  through  Indonesian  Coconut  and Other Palmae Research Institute present has renamed to  Indonesian  Palmae  Research  Institute (IPRI)  has conducted research and obtain some superior coconut varieties that potential productivity around 2.5 - 3.5 tons of copra/ha/year. Superior coconut varieties that have been released are tall Coconut Dwarf, Coconut, Hybrid   Coconut,   and   Kopyor   Coconut.   Coconut varieties of superior largely are result of selection of the  exploration    coconut  accessions  derived  from various regions in Indonesia, which has been planted in the experimental garden or high yield block (HYB) area. The procurement of superior coconut seedlings needed by farmers or coconut plantation companies can be taken from an experimental garden or HYB areas.  The procurement of Kopyor coconut seed has been doing by biotechnology techniques such as tissue culture, due to kopyor coconut seedlings could not be cultivated by conventional technique. Tissue culture techniques by using the embryo rescue method on kopyor  coconut  has  managed  to  generate  kopyor coconut plants. Recently the kopyor coconut obtained through   tissue   culture   have   planted   in   IPRI experimental  garden  and  fruit  is  kopyor  coconuts reach to 90 % /bunches.Keywords: breeding, coconut, superior seeds, tissue culture.
Inventarisasi Hama dan Penyakit Penting Pada Tanaman Kelapa MARHAENI, LULUK SUTJI
Perspektif Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKHama  dan  penyakit  (OPT)  merupakan  salah  satu faktor   penghambat   dalam   peningkatan   produksi kelapa  bahkan  berbagai  OPT  dapat  menimbulkan kerugian   yang   cukup   besar   antara   lain   Oryctes rhinoceros;  Sexava  sp.,  Artona  catoxantha,  Bronstispa longissima sedangkan penyakit yang sangat merugikan adalah penyakit busuk pucuk (PBP), penyakit gugur buak (PGB)  yang  disebabkan  Phytophthora  sp  dan penyakit layu kelapa (PLK) serta penyakit layu natuna. Beberapa  OPT  telah    luas  penyebaran  hampir  di seluruh   wilayah   Indonesia,   namun   ada   juga penyebaran hanya di daerah tertentu seperti Sexava dan penyakit layu natuna, oleh karena itu inventarisasi OPT  kelapa  dapat  memberikan  gambaran  tentang penyebarannya  sehingga  dapat  mengantisipasi  bagi wilayah tertentu yang rentan terhadap OPT tersebut sehingga dapat mengambil tindakan prefentif untuk mencegah  keluar  masuknya  bahan  tanaman  atau media lainnya yang berpotensi menyebarkan OPT ke daerah yang baru.Kata kunci: Kelapa, hama, penyakit, inventarisasi ABSTRACTInventarization of important pest and diseases on coconut treePest  and disease ( OPT) is known as  a limiting factor in increase coconut production. Even though several pest and diseases like: Oryctes rhinoceros, Sexava sp., Artona catoxantha, Brostispa longissima  participate in a large scale in destroy coconut palm. In term of disease several names recognized attack the coconut because of phytophthora sp and unknown disease by mycoplasm. Several pest and diseases have been widely spreading throughout The country, but another only in certain region like Sexava and natuna disease.  It  is  suggested for   inventarization   programmed   to   know   the spreading   of   pest   and   diseases   throughout.   The country   base   an   level   of   incident.   Preventive curements  for crops material should be determine an priority number one especially from abroad.Key word: Cocos nucivera, pest, disease, inventarization
Pengendalian Terpadu Busuk Pangkal Batang Lada WAHYUNO, DONO
Perspektif Vol 8, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v8n1.2009.%p

Abstract

ABSTRAKLada (Piper nigrum L) merupakan komoditi rempah yang penting untuk meningkatkan pendapatan petani di  Indonesia.    Daerah  pusat  pengembangan  lada, banyak terdapat di Lampung, Bangka dan akhir-akhir ini berkembang di Kalimantan. Penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora capsici merupakan kendala dalam budidaya lada di Indonesia. Penyakit ini telah tersebar luas hampir di semua pertanaman lada di Indonesia. Naskah  ini  menguraikan  kemajuan  penelitian  dan pengalaman di lapang terhadap usaha pengendalian BPB.  Pengendalian yang lazim dilakukan oleh petani adalah menggunakan fungisida sintetik.  Pengendalian dengan cara kimia sering dilakukan saat harga lada tinggi, dan sebaliknya petani tidak memelihara kebunnya dengan baik saat harga lada turun. Akibatnya, BPB menjadi masalah yang serius pada banyak  pertanaman  lada  untuk  saat  ini.  P.  capsici mempunyai spora yang dapat bergerak dan berenang secara aktif pada lapisan air yang terdapat pada tanah. Hal tersebut membuat Phytophthora mudah tersebar melalui tanah yang terkontaminasi, bagian tanaman yang terserang atau terbawa oleh aliran air yang ada dipermukaan tanah. Phytophthora asal lada mempunyai dua tipe kawin, yaitu A1 dan A2 yang memungkinkan mereka untuk melakukan reproduksi secara seksual di daerah-daerah dimana kedua tipe kawin tersebut ada. Hasil perkawinan seksual memungkinkan Phytophthora lada menghasilkan turunan yang lebih ganas daripada induknya  yang  sudah  ada.  Usaha  untuk  mengembangkan   komponen   teknologi   pengendalian   telah dilakukan dengan mengedepankan pengendalian BPB yang ramah lingkungan, murah dan dapat dilakukan oleh  petani  lada. Komponen teknologi yang telah dikembangkan meliputi kultur teknis, aplikasi agen hayati  dan  kimia apabila  terjadi ledakan serangan, serta usaha untuk menciptakan tanaman tahan. Memadukan komponen teknologi  tersebut tidak dapat memusnahkan semua P. capsici yang ada di dalam tanah,  tetapi  mampu  menekan  perkembangan  dan penyebarannya  apabila  dilakukan secara baik dan benar, sehingga kehilangan hasil dapat ditekan dan penggunaan fungisida   dapat diminimalkan. Saran implementasi  IPM meliputi peningkatan keragaan vigor tanaman dengan menerapkan budidaya anjuran,menekan  perkembangan  populasi  P.  capsici melalui aplikasi agen hayati, seperti Trichoderma; sedangkan pemakaian fungisida hanya dilakukan sebagai pilihan terakhir kalau perkembangan penyakit semakin serius, serta peningkatan pengetahuan petani melalui berbagai  pelatihan teknis,  Untuk memaksimalkan implementasi  IPM  memerlukan  keterlibatan  secara aktif semua pihak terkait, termasuk petani, departemen terkait, dan peneliti.Kata kunci: Busuk pangkal  batang, lada, IPM, Phytophthora, Piper nigrum ABSTRACTIntegrated  Control  of  Foot  Rot  Disease  of Black PepperBlack  pepper  (Piper  nigrum)  is  important  crop  for increasing  farmer  income  in  Indonesia.  Traditional pepper  planting  areas  are  Lampung  and  Bangka-Belitung provinces, as well as new planting areas in Kalimantan  provinces.  Foot  rot  disease  caused  by Phytophthora capsici is the main constraint in pepper cultivations  in  these  areas.  The  disease  is  widely distributed  in  almost  all  pepper  cultivations.  This paper describes information on the research progresses on   foot   rot   disease   control   methods   and   field experiences on controlling the disease on black pepper. Control method of the foot rot disease by farmers is commonly using synthetic fungicides.  This practice was only applied when the price of pepper is high. Otherwise, farmers only applied minimal cultivation practices.  As the result, the foot rot disease becomes more   serious   problem   on   pepper   plantations throughout Indonesia. Spores of P. capsici is actively swiming on water film, therefore, the fungus is easily disseminates   through   contaminated   soil,   diseased planting materials or running water of soil surface. The fungus has two mating types, A1 and A2 that makes  sexual  reproduction  possible  in  some  areas where   both   mating   types   exist.   The   sexual reproduction may produce progenies that are more virulent than their parents. Therefore, it is important to minimize    distribution    of    planting    materials contaminated with the different matting types into a certain location to prevent new strain of P. capsici. Attempts to control the disease have been conducted with  focusing  on  technologies  that  is  eco-friendly, cheap and simple (easy to be handled and adopted by farmers).   The   eco-friendly   technologies   included improving cultural practices, application of biological control   agents,   and   fungicide   is   applied   when necessary.  An initial effort to find resistant or tolerant black   pepper   varieties   had   also   been   studied. Integrated pest management (IPM) by combining those available  technologies  will  not  eradicate  P.  capsici totally, but it will reduce the population of the fungus to a certain level that lessens the damage or yield lost. Implementation of the IPM includes increasing plants vigor through conducting proper planting activities followed by suppressing of fungal population through incorporating  of  biological  control  agent,  such  as Trichoderma;  while  fungicide  application  is  the  last resort,  as  well  as  improving  farmers  knowledge various  technical  trainings.  To  maximize  the  IPM implementation   by   farmers,   it   requires   active participation    from    all    involved    stakeholders, government official services and researchers.Keywords: Foot rot disease, black pepper, Phytophthora, Piper nigrum, IPM
Perbaikan Mutu Lada Dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing di Pasar Dunia NURDJANNAH, NANAN
Perspektif Vol 5, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v5n1.2006.%p

Abstract

ABSTRAKIndonesia   merupakan   salah   satu   produsen   lada terbesar di dunia, dimana sebagian besar produknya diekspor dalam bentuk lada hitam dan lada putih serta dalam jumlah kecil dalam bentuk lada bubuk dan minyak  lada.  Persaingan  komoditas  lada  di  pasar dunia  pada  saat ini semakin kompetitif karena besarnya penawaran relative seimbang dengan permintaan.  Selain  itu,  persyaratan  yang  diminta negara-negara   konsumen   semakin   ketat   terutama dalam  hal  jaminan  mutu,  aspek  kebersihan  dan kesehatan. Disamping itu, muncul  negara-negara penghasil lada baru yang menaikkan produksi dengan cepat. Untuk memperbaiki mutu lada, Indonesia telah melakukan beberapa usaha di antaranya menghasilkan teknologi yang lebih baik dalam aspek penanganan bahan dan cara  pengolahannya.  Sebagian dari teknologi tersebut sudah dicoba diterapkan, namun belum  dilakukan  dan  diterapkan  secara  baik  dan terintegrasi   sehingga  hasilnya  tidak memuaskan. Beberapa negara produsen lada telah mengantisipasi keadaan ini di antaranya dengan menaikkan mutu produk  sejak  di  tingkat petani. Keberhasilan memperbaiki mutu di negara-negara tersebut  tercapai karena  dilakukan  dari  segala  aspek, dari  mulai budidaya,  pengolahan   sampai   pemasaran   dan kelembagaannya. Meskipun teknologinya tersedia, perbaikan  mutu lada di  Indonesia, tidak dapat diwujudkan  tanpa  dukungan  aspek-aspek  lainnya. Karena itu perbaikan mutu lada harus dilakukan dari tingkat petani, mulai dari aspek budidaya, pengolahan, distribusi dan pemasarannya secara terintegrasi. Selain itu  perlu  dibenahi  faktor  kelembagaannya  supaya dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.Kata kunci : Lada, Pepper nigrum, lada putih, lada hitam, mutu, pengolahan ABSTRACTImprovement  of  Pepper  Quality  to  Increase  The Competitiveness In The World MarketIndonesia is  one of the biggest  pepper producing countries. Most of the products are exported in the form of black and white pepper, and only a small amount in the form of ground pepper and pepper oil. The competition of pepper commodity in the world market becomes more stringent because the demand is relatively balanced with the supply. Moreover, the consumers   ask   for   more   stringent   condition   of products, especially quality assurance, hygienic and healthy  aspects.  Besides,  there  are  new  producing countries which increase the pepper production very fast. Indonesia has conducted some efforts to improve the  quality  of  pepper,  such  as  good  processing technology. The improved processing technology has been implemented, but it has not done correctly and integratedly with other aspects, so that the results are unsatisfactory. Some producing countries have already anticipated this condition by improving the quality of pepper products from the farmer level. The succeess in improving quality in these countries has been achieved because the improvement is done at all levels, from pepper berries production, processing until marketing and  its  organization.  The  improvement  of  pepper quality  cannot  be  done  only   by  improving   the processing technology, but it should also include other aspects, from pre harvest, postharvest to marketing, and distribution. Moreover, an organization is needed to organize all aspects involved in order to maintain the  consistency  and  sustainability  of pepper production and quality.Key words : Pepper, Piper nigrum L., white pepper, black pepper, quality, processing
Penanda DNA Untuk Pemuliaan Tanaman Kelapa (Cocos nucifera L.) PANDIN, DONATA S.
Perspektif Vol 9, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v9n1.2010.%p

Abstract

ABSTRAKKegiatan pemuliaan pada tanaman kelapa merupakan proses   yang   sangat   lama   dan   mahal.   Pemuliaan tanaman kelapa di Indonesia telah dilakukan melalui eksplorasi,   koleksi,   dan   hibridisasi.   Inventarisasi populasi kelapa yang dilakukan oleh COGENT, CGR (The  International  Coconut  Genetic  Resources  Network, Coconut Genetic Resources) dari 17 negara, dilaporkan sebanyak 936 populasi dan 105 populasi diantaranya berasal dari Indonesia atau setara dengan 11.22% dari seluruh   populasi   kelapa   di   dunia   yang   telah dilaporkan.   Beberapa   dari   koleksi   yang   ada   di BALITKA telah digunakan sebagai materi persilangan baik antara kelapa Genjah dengan Dalam, maupun kelapa  Dalam  dengan  Dalam.  Dari  koleksi  plasma nutfah kelapa tersebut, telah berhasil dilepas sebagai Kelapa unggul sebanyak 15 varietas kelapa Dalam, 4 varietas kelapa Genjah, dan 5 varietas kelapa Hibrida. Kemajuan dibidang genetika terutama pada penanda DNA  telah  banyak  merubah  pola  penelitian  pada disiplin   ilmu   genetika   dan   pemuliaan   tanaman. Ditemukan banyak penggunaan penanda DNA dalam pemuliaan  tanaman.  Beberapa  penanda  DNA  yang telah digunakan pada tanaman kelapa adalah  analisis variasi   genetik,   evolusi/migrasi   tanaman   kelapa, keterpautan gen tertentu terhadap karakter spesifik, penelusuran tetua, dan analisis lokus-lokus karakter kuantitatif dengan menggunakan Restriction Fragment Length   Polymorphism                  (RFLP),   Random   Amplified Polymorphic DNA (RAPD), Amplified Fragment Length Polymorphism (AFLP),  dan  mikrosatelit  atau  Simple Sequence   Repeat (SSR).  Saat  ini   BALITKA   sedang melakukan penelitian untuk mengidentifikasi fragmen DNA   sebagai   penanda   sifat   kopyor,   klarifikasi kandidat penanda sifat produksi buah pada kelapa Dalam Mapanget, dan identifikasi penanda tanaman tahan terhadap P. palmivora.   Pemanfaatan penanda DNA akan menghemat waktu dan tenaga kerja karena pengujian yang dilakukan pada tingkat DNA tidak dopengaruhi  oleh lingkungan  tumbuh.  Keuntungan lainnya adalah jumlah benih, bibit, atau galur yang dibutuhkan untuk pengujian dapat dikurangi, karena banyak  yang  sudah  tidak  terpilih  setelah  seleksi dengan  penanda  DNA  pada  tahap  awal  generasi, sehingga  desain  pemuliaan  lebih  efektif.  Efisiensi paling  besar  adalah  seleksi  terhadap  sifat  spesifik (target) akan lebih cepat karena seleksi berdasarkan genotif   spesifik   lebih   mudah   diidentifikasi   dan diseleksi.Kata kunci : Cocos nucifera, pemuliaan, RFLP, RAPD,   mikrosatelit (SSR) ABSTRACTDNA Marker in Coconut Breeding ProgrammCoconut plant breeding activities in Tall coconut is a very  long  and   expensive   process.   Coconut  plant breeding  in  Indonesia  has  been  done  through  the exploration,                 collection,             and         hybridization. Inventarization of coconut populations conducted by the COGENT, CGR (The International Coconut Genetic Resources Network, the Coconut Genetic Resources) from 17 countries, reported as many as 936  population and 105 of the population of which originated from Indonesia or equal to 11:22% of the entire population of the  world's  coconut  has  been  reported  .  Some  of existing  collections  in  BALITKA  has  used  as  the material crosses between dwarf and tall coconut. From the   collection   of   coconut   germplasm,   we   have successfully  released  as  much  as 15   varieties  of superior Tall coconut palm, 4 Dwarf coconut varieties, and five varieties of hybrid coconuts. Progress in the genetics  field,  especially  on  the  DNA  marker  has changed  the  pattern  of  research  in  disciplines  of genetics and plant breeding. A lot of DNA markers in plant breeding had found and used. Several DNA markers that have been used on the coconut crop are to analyze genetic variation, the evolution / migration of coconut plantations, mapping of specific genes related to specific characters, parental analysis, and analysis of quantitative trait loci using Restriction Fragment Length polymorphism (RFLP), the Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD), Amplified Fragment Length polymorphism (AFLP), and of micro-satellite or Simple Sequence Repeat (SSR). BALITKA currently doing research to identify DNA   fragments   as   a   marker   kopyor   properties, clarification of the nature of the candidate marker of fruit   production   in   coconut   In   Mapanget,   and identification  markers  P.  palmivora  resistant  plants. Utilization of DNA markers will save time and labour because the tests conducted at the DNA level is not influenced by environmental. Another advantage is the number  of  seeds,  seedlings,  or  strain  required  for testing can be reduced, because many of them had not elected after selection by DNA marker generation in the  early  stages,  so  the  breeding  design  is  more effective. Greatest efficiency is the selection of specific characters will be faster because the selection based on specific genotype is more easily identified and selected.Keywords:  Cocos  nucifera,  breeding,  RFLP,  RAPD, micro-satellite (SSR)
Status Teknologi dan Prospek Beauveria bassiana Untuk Pengendalian Serangga Hama Tanaman Perkebunan SOETOPO, DECIYANTO; INDRAYANI, INDRAYANI
Perspektif Vol 6, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v6n1.2007.%p

Abstract

ABSTRAKPengendalian hama dengan insektisida kimia telah menimbulkan banyak masalah lingkungan, terutama rendahnya  kepekaan  serangga  terhadap  insektisida kimia, munculnya hama sekunder yang lebih berbahaya, tercemarnya tanah dan air, dan bahaya keracunan  pada  manusia yang melakukan kontak langsung dengan insektisida kimia. Salah satu alternatif pengendalian yang cukup potensial adalah penggunaan patogen serangga, khususnya cendawan B. bassiana.  Mekanisme infeksinya yang secara kontak melalui kutikula dan tidak perlu tertelan oleh serangga menyebabkan  B.  bassiana  menjadi  kandidat  utama untuk digunakan sebagai agen pengendalian berbagai spesies serangga hama, baik yang hidup pada kanopi tanaman maupun yang di dalam tanah.  Rata-rata patogenisitasnya terhadap hama sasaran cukup tinggi, sehingga pemanfaatannya dalam pengendalian serangga  hama  perkebunan,  seperti  kapas,  kelapa sawit, lada, kelapa dan teh memiliki prospek sangat baik. Untuk pengendalian ulat penggerek buah kapas, Helicoverpa armigera telah ditemukan dua strain isolat, yaitu Bb4a dan BbEd10 yang efektif membunuh 80-87,5% ulat H. armigera hasil uji di laboratorium, dengan masing-masing LT50 mencapai 8,96-9,62 hari dan 19,69-22,27 hari dibanding strain B. bassiana yang lain (19-48 hari).  B. bassiana juga efektif untukm pengendalian serangga   hama kelapa sawit(Darna  catenata), penggerek batang lada (Lophobaris piperis), dan ulat pemakan tanaman teh (Ectropis bhurmitra). Konidia B. bassiana dapat diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada kanopi tanaman, ditaburkan pada permukaan tanah, atau dicampur dengan tanah atau kompos. Temperatur dan kelembaban adalah faktor abiotik yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan konidia B. bassiana, tetapi cahaya melalui panjang gelombang sinar ultraviolet juga berpotensi merusak konidia sehingga aplikasi pada pagi (< pkl. 08.00) atau sore hari (> pkl. 15.00) dapat menghindari kerusakan. B. bassiana aman bagi serangga bukan sasaran, terutama serangga berguna dan musuh alami. Temperatur dan kelembapan yang lebih stabil pada ekosistem tanaman perkebunan akan sangat mendukung peran B. bassiana dalam pengendalian hama utama tanaman perkebunan sehingga prospek pengembangannya sangat baik.Kata   kunci:   Beauveria   bassiana,   status   teknologi, prospek, hama perkebunan.  ABSTRACTStatus, technology and prospect of ecofriendly entomopathogenic fungus B. bassiana against insect pests of estate cropsChemical insecticides for pests control are causing environmental    problems,    such    as    reducing susceptibility of insect pests to a number of chemical insecticides, outbreaks of secondary pest, air and soil pollution, and human poisoned due to directly contact with the pesticides. Insect pathogen, a pest control bioagent, can be used as an alternative component control for reducing of chemical insecticide usage.  The entomopathogenic fungi, B. bassiana (Bals.) Vuill. is currently being developed as a potential of alternative bioinsecticide. Mode of action of the fungi is initially started  by  adhesion  and  penetrating  of  the  spore through insect cuticule, and its mycelium then develop inside the insect body prior the insect death. Its conidia will grow soon after the insect die. High pathogenicity will show when B.  bassiana expose to appropriate target pests.  Several Indonesian strains and isolates of B. bassiana have been proven to be pathogenic against several major insect pests of cotton, oil palm, pepper, coconut and tea. Two B. bassiana isolates, viz. Bb4a and BbEd10  were  found  to  be  effective  against  cotton bollworm, H. armigera with the average percentage of mortality by 80-87.5% based on laboratory study.  Both the LT50  and LT90 of the two isolates were 8.96-9.62 days and 19.69-22.27 days, respectively and these LT were shorter than that of other isolate, Fb4 (19-48 days).  B. bassiana  was also effective for control of the oil palm larvae (D. catenata), pepper stem borer (L. piperis),  and  tea  leaf  caterpillar (E.  bhurmitra).    B. Status, Teknologi, dan Prospek B. Bassiana  Untuk Pengendalian Serangga Hama (D.Soetopo dan IGAA Indrayani) bassiana can be applied by spraying method over the plant canopy, applied as soil treatment, or by mixing the conidia with compost. Temperature and humidity are the abiotic factors that able to influence the growth of conidia. B. bassiana spore is less active or even inactive when directly exposed to ultraviolet, therefore spraying conidia in the early morning (< 08.00 a.m) or in the evening (> 15.00 p.m) may avoid the reduction of conidia activity. B. bassiana is also safe to non-target insect including beneficial insect and natural enemies. Temperature  and  humidity  are  more  stabil  within estate plantation ecosystem and both will support the fungus  epizootic  development.  Therefore  using  B. bassiana seems to hold great promise in controlling the major insect pests of estate crops.Key words: Beauveria bassiana, status of technology, prospect, insect pest, estate crops.

Page 6 of 21 | Total Record : 203