cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Perspektif : Review Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Education,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan yang memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Arjuna Subject : -
Articles 203 Documents
BUDIDAYA TANAMAN KOPI UNTUK ADAPTASI DAN MITIGASI PERUBAHAN IKLIM SUPRIADI, HANDI
Perspektif Vol 13, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v13n1.2014.%p

Abstract

ABSTRAKPerubahan  iklim  yang  ditandai  dengan  berubahnya musim dan pola hujan, meningkatnya intensitas anomali iklim  El­Nino  dan  La­Nina  serta  meningkatnya  suhu udara  mengakibatkan  kerusakan  pada  tanaman  kopi, sehingga  produksi  menurun.    Akibat  EL­Nino  terjadi bulan kering (curah hujan di bawah 60 mm per bulan) yang  berkepanjangan  mengakibatkan  produksi  kopi menurun sebesar 34  79%, begitu juga bulan basah (curah hujan di atas 100 mm per bulan) yang merata sepanjang tahun  akibat  La­Nina  mengakibatkan  produksi  kopi menurun 98,5%.  Bulan kering yang berkepanjangan (di atas 3 bulan) akibat dari kejadian El­Nino menyebabkan kualitas biji kopi menurun. Setiap kenaikan suhu 1C, maka  akan  menurunkan  produksi  biji  kopi  sebesar 30,04%.  Namun  suhu  udara  yang  sangat  rendah  (­3 0 sampai ­5         C) dapat mematikan daun kopi. Upaya untuk mengatasi  perubahan  iklim  pada  tanaman  kopi  dapat dilakukan melalui penerapan teknologi budidaya yang bersifat adaptif dan mitigatif terhadap perubahan iklim yaitu penerapan tanpa olah tanah, penggunaan mulsa, pembuatan  rorak,  penanaman  dan  peramajaan  kopi dengan  bahan  tanam  unggul,  penanaman  penaung, pemangkasan,  penanaman  tanaman  penutup  tanah, penggunaan  pupuk  organik,  pembuatan  embung, irigasi dan sistem drainase.Kata kunci:  Tanaman  kopi,  perubahan  iklim,  dampak, mengatasi, budidaya Cultivation of Coffee plant for Adaptation and Mitigation of Climate ChangeABSTRACTClimate change marked by the shift in rainfall patterns and  season  as  well  as,  increasing  intensity  of  climate  anomaly  El­Nino  and  La­Nina  and  the  rising temperatures are causing damage to the coffee plant so that production is declining. As a result of the EL­Nino occurs  Months  dry  (rainfall  below  60  mm  per  month) prolonged resulted in coffee production declined by 34­ 79%, as well as in wet (rainfall above 100 mm per month) are evenly distributed throughout the year due to the La­ Nina in production of coffee dropped 98,5%. Besides the dry months of prolonged (over 3 months) as a result of the  El­Nino  events  lead  to  decreased  quality  of  coffee beans.  Every  1 0 c  temperature  rise  then  it  will  lose production of coffee beans by 30,04%. However at very low temperatures (­3 to­5 0 c) can turn off coffee leaves. Efforts to address climate change on coffee plants can be done through the application of cultivation technology both  are  adaptation  as  well  as  mitigation  to  climate  change, namely the application of no­tillage, mulching, making  rorak,  planting  and  rejuvenating  coffee  with superior planting material, shade tree planting, pruning, feeding  ground  cover  plants,  fertilizing  the  organic fertilizers,  the  making  of  dam,  irrigation  and  drinase system.Keyword :  Coffea sp., climate change, impact, overcome, cultivation
Peranan Morfologi Tanaman untuk Mengendalikan Pengisap Daun, Amrasca biguttula (Ishida) pada Tanaman Kapas INDRAYANI, I G.A.A.
Perspektif Vol 7, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v7n1.2008.%p

Abstract

ABSTRAKVarietas  tahan  merupakan  salah  satu  komponen penting  dalam  pengendalian  hama  terpadu (PHT). Mekanisme   ketahanan   tanaman   terhadap   hama meliputi:    antibiosis,    antixenosis,    dan    toleran. Ketahanan  melalui  faktor  fisik/morfologi  tanaman merupakan  bagian  dari  ketahanan  antixenosis  dan digunakan untuk mendeterminasi tingkat ketahanan atau  kepekaan  varietas    kapas  terhadap  Amrasca biguttula.   Bulu   daun   sebagai   salah   satu   sifat fisik/morfologi tanaman kapas mempunyai hubungan erat   dengan   ketahanan   terhadap   A.   biguttula. Kerapatan   bulu   daun   berperan   penting   pada ketahanan kapas terhadap A. biguttula, terbukti adanya korelasi  negatif  antara  kerapatan  bulu  daun  dan tingkat   kerusakan   tanaman.   Varietas   kapas   yang berbulu cenderung lebih tahan terhadap serangan A. biguttula   dibanding   varietas   yang   tidak   berbulu. Penggunaan varietas kapas tahan terhadap A. biguttula dapat mengurangi penggunaan insektisida kimia dan berpotensi    meningkatkan    keanekaragam    hayati, sehingga mempertinggi peran musuh alami.Kata  kunci:    Kapas,  morfologi  tanaman,  Amrasca biguttula, pengendalian hama terpadu ABSTRACTRole of plant morphological characteristics for controlling sucking insect pest, amrasca biguttula (ishida) on cottonThe use of resistant variety is one of the important component  of  Integrated  Pest  Management (IPM). Plant resistance against insect pests consists of three different mechanisms, e.g. antibiosis, antixenosis, and tolerance.    Resistance  to  insect  pests  that  involves physical/morphological characters of plant, is part of antixenosis, which is used to determine the resistance or  susceptibility  of  cotton  varieties  against  sucking insect pest, Amrasca biguttula.  Leaf hairs (trichomes) as a  physical/morphological characters  of  cotton plant have  a  close  relationship  to  jassid  (A.   biguttula) resistance. Leaf hair density has an important role in the resistance of A. Biguttula. It is showed by negative correlation   between   leaf   hair   density   and   jassid damage.  The hairy variety of cotton is more resistant to A. biguttula than those of glabrous (smooth leaf). The use   of      resistant   varieties   lead   to   reduction   in insecticide application in pest control and increase the biodiversity in order to enhance the role of natural enemies.Key words: Cotton, morphological characters, Amrasca biguttula, integrated pest management
Prospek Pengolahan Hasil Samping Buah Kelapa ZAINAL MAHMUD; YULIUS FERRY
Perspektif Vol 4, No 2 (2005): Desember 2005
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v4n2.2005.%p

Abstract

ABSTRAKDaging buah adalah komponen utama dari buah kelapa; sedangkan sabut, tempurung, dan air buah merupakan  hasil samping (by-product). Dengan produksi buah kelapa di Indonesia rata-rata 15,5 milyar butir/tahun, total bahan ikutan yang dapat diperoleh 3,75 juta ton air, 0,75 juta ton arang tempurung, 1,8 juta ton serat sabut, dan 3,3 juta ton debu sabut sebagai hasil samping. Kelayakan usaha pengolahan hasil samping  buah kelapa sangat menjanjikan bila direncanakan dan dikelola dengan baik. Berdasarkan analisis finansial tahun 2004, B/C dan IRR pengolahan sabut menjadi serat dan debu sabut selama 10 tahun adalah 3,58 dan 76%; tempurung menjadi arang selama 5 tahun 1,11 dan 23%; dan air kelapa menjadi nata de coco selama 5 tahun 1,32 dan 32%. Pengembangan industri pengolahan hasil samping harus ditunjang oleh kelayakan teknis terutama ketersediaan pasokan bahan baku dan pemasaran, serta alat pengolahan yang sesuai untuk pengolahan sabut. Untuk mendapatkan bahan baku yang cukup bagi pengolahan sabut diperlukan areal kelapa seluas 300 ha. Pengolahan sabut ini harus dipadukan dengan pengolahan debu sabut menjadi kompos sehingga diperoleh pendapatan tambahan. Untuk memproduksi 1 ton serat sabut diperoleh sekitar 5 ton debu sabut. Lokasi pengolahan hasil samping sebaiknya di sekitar sumber bahan baku dan untuk menjamin kontinuitas pengadaan dan pemasaran produk disarankan usaha-usaha tersebut dalam bentuk usaha bersama.Kata kunci: Kelapa, Cocos nucifera L., pengolahan, hasil samping ABSTRACTProspect of Coconut By-Product ProcessingCoconut meat is the main component of coconut, while the coconut husk, shell, and water are considered as by-product. With the coconut production in Indonesia at average of 15.5 billion coconuts per year, the total by-product is accumulated to 3.75 million tons coconut water, 0.75 million tons shell charcoal, 1.8 million tons coconut fiber, and 3.3 million tons coir dust. Business in coconut by-product processing is condidered to be prospective as long as it is planned and managed properly. Based on the financial analysis in 2004, the B/C and IRR of coconut husk processing into coconut fiber and coir dust for 10 years were 3.58 and 76%, coconut shell into shell charcoal for 5 years was 1.11  and 23%; and coconut water into nata de coco for 5 years was 1.32 and 32%. The industry of coconut by-product processing should be supported by technical feasibilty, mainly the raw material availability, market, and appropriate coconut husk machinery. To provide sufficient raw material for coconut husk processing, it needs about 300 ha of coconut plantation. Furthermore, to abtain additional farmer’s income the coconut husk processing should be integrated with coir dust processing into compost, so that it can earn additional income. To produce one ton  of coconut fiber will produce  5  tons  of  coir dust.  It  suggested  that  the location of coconut by-product processing is better closed to the raw material source, and to secure the continuity of rawmaterial supply and product marketing the business should be run in the form of cooperation.Key words: Coconut, Cocos nucifera L., processing, by product
Strategi Pengembangan Bio-etanol Berbasis Sagu di Maluku BUSTAMAN, SJAHRUL
Perspektif Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v7n2.2008.%p

Abstract

ABSTRAKBio-etanol  adalah  cairan  biokimia  dari  proses fermentasi  karbohidrat  dengan  bantuan  mikro-organisme, dan dilanjutkan dengan proses distilasi. Upaya   pengembangan   bio-etanol   sudah   begitu mendesak,  terutama  bertujuan mengurangi  beban penderitaan  masyarakat  akibat  kenaikan  BBM  dan pasokan yang tidak menentu pada masyarakat yang tinggal  di  pulau  kecil  dan  terpencil.   Tulisan  ini memberikan gambaran tentang bio-etanol yang dapat diproduksi di Maluku. Hasil analisis faktor kekuatan, kelemahan,  kesempatan  dan  ancaman  pada pengembangan industri  bio-etanol  di Maluku, memberikan   prospek yang  baik. Strategi pengembangan bio-etanol dikelompokan atas beberapa pola skala usaha seperti skala rumah tangga, UMKM, komersial  dan  pola  plasma-inti.  Kebijakan  Pemda Maluku diperlukan untuk mendukung pembangunan bio-etanol   dalam   usaha   meningkatan   pendapatan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja.Kata kunci: Metroxylon spp., pengembangan bio-etanol, Maluku. ABSTRACTStrategy of Bio-ethanol Development Base on Sago in MoluccasBio-ethanol   is   biochemical liquid  produced by fermentation of carbohydrate with microorganism and followed by distillation. The development of the bio-ethanol is urgently needed as to help reducing the public burden due to the increasing of oil price and uncertainly oil supply especially for Moluccas society in small island. This paper shows that bio-ethanol can be  produced  in  Moluccas.  SWOT  analysis  results showed that bio-ethanol industry development gave good prospect. Strategy of bio-ethanol development can be recommended by some pattern such as house hold scale, small-micro scale, commercial scale and nucleus-plasm pattern. The regional authority should be convinced about the necessity of supporting bio-ethanol production in order to increasing community income and absorbing labor.Key words: Bio-ethanol development, moluccas.
Diversifikasi Usahatani Kelapa Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Pendapatan Petani TARIGANS, DOAH DEKOK
Perspektif Vol 4, No 2 (2005): Desember 2005
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v4n2.2005.%p

Abstract

ABSTRAKKomoditas kelapa bagi masyarakat Indonesia memiliki peranan multiguna dan strategis, karena terkait dengan berbagai segi kehidupan. Dari segi peranan ekonomi tanaman kelapa secara nasional belum mencapai tingkat yang optimal terutama apabila dilihat dari segi pendapatan petani, pemenuhan kebutuhan bahan baku industri dalam negeri dan pendapatan devisa negara. Pendapatan usahatani kelapa yang  dikelola petani, belum mampu menunjang kehidupan keluarga petani secara layak sehingga  petani kelapa secara nasional masih hidup di bawah garis kemiskinan.  Suatu kenyataan dimana proporsi pendapatan petani hanya 20%  dari  total pendapatan keluarga. Diversifikasi usahatani secara horizontal merupakan salah satu bentuk usahatani kelapa dimana tanaman sela semusim dan tanaman tahunan atau keduanya dirakit menjadi pola usahatani campuran sehingga dalam usahatani dikembangkan  beberapa tanaman yang prospektif sebagai sumber pendapatan. Tanaman sela yang diintrodusi diseleksi berdasarkan pada peluang pasar sehingga mampu berperan sebagai sumber pendapatan yang potensial. Diversifikasi usahatani secara vertikal berarti menganeka ragamkan produk usahatani secara efisien  disertai  dengan  peningkatan  mutu  sehingga produk lebih kompetitif dan memberikan nilai tambah. Penganeka ragaman produk olahan usahatani yang berpeluang  memberikan  tambahan pendapatan antaranya pengolahan air kelapa menjadi nata de coco, pengolahan tempurung, pengolahan sabut kelapa menjadi berbagai bentuk produk seperti tali, karpet, jok mobil, kursi atau geotextile, pembuatan berbagai kerajinan tangan berbahan baku tempurung, pengolahan minyak kelapa murni (virgin coconut oil) dan pengolahan gula kelapa. Pada tingkat petani yang memiliki produk olahan yang prospektif untuk dikembangkan adalah minyak kelapa murni (VCO) dan gula kelapa. Namun demikian, pengembangan produk olahan minyak kelapa murni terbatas dapat diterapkan pada daerah-daerah sentra produksi yang mampu mendukung tersedianya fasilitas pengolahan yang sederhana, terjangkau dan peluang pemasaran produk yang dihasilkan, sedangkan produk gula kelapa mudah diproses pada tingkat petani karena tekhnik pengolahannya sederhana serta pemasaran dan harganya yang mendukung disemua sentra produksi kelapa. Pengembangan  produk  olahan gula kelapa pada tingkat petani mampu memberikan kontribusi pendapatan 69-96% terhadap total pendapatan usahatani, dan lebih kompetetif dibandingkan dengan produk olahan kopra. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan di negara-negara produsen kelapa dunia (India, Filipina, Sri Langka) termasuk Indonesia menunjukkan bahwa penerapan diversifikasi usahatani kelapa mampu meningkatkan produktifitas usahatani dan pendapatan petani secara signifikan.Kata kunci  : Kelapa, Cocos  nucifera,  diversifikasi usahatani, peningkatan pendapatan ABSTRACTCoconut Farm Diversification As Attempt to Increase Farmers IncomeThe coconut commodity in Indonesia has multiple roles and strategic because it is closely related  to the human life nation wide. Considering the current farmer income level, the lack of fulfillment  for the demand of industry row material and the foreign exchange, it can be said that the economic role of coconut in national scale has not yet reached the optimum  level. The income  from the coconut farm are not able to support properly their family income. Diversification of farming system horizontally mean an introduction annual or perennial intercrop or both which are arranged in the same farming systems. The introduced intercrop are able to play a roles a potential  income resource. Meanwhile, the application of diversification of farming systems vertically means to broader the farm product efficiently, followed by the quality enhancement, hence, ultimately it produces more competitive product and give the value added. Furthermore, diversification  of coconut processed product that has opportunity  to give addition income, among other things, are processing of coconut water become nata de coco, processing of coconut-shell char cool, processing of the fibre for rope, carpet, car set, geotextile, handy-craft, processing of virgin coconut oil (VCO), and processing of brown sugar. At the farmers level the promising processing product to develop in Indonesia are virgin coconut oil and brown sugar. However, the development  of  virgin  coconut  oil  is  only  can be applied in the production centre area which may be able to support the availability of the simple, inexpensive processing facility and the product marketing. Whereas, the brown sugar basically is easy to make at the farmer level as the processing technique is simple, and so for the marketing  as well as the price are favorable  at all coconut production centre. Other study reported that contribution of brown sugar product was higher compared with that of copra to farmers  income.  The  development  of  brown  sugar product at farmer level was able to contribute 69-96% of the total farm income. Furthermore, the results of the research activities  in most of the coconut producing country such as India, Philippines, Sri Lanka including Indonesia showed that adoption farm diversification not only affected to the increment  farm productivity but also to the increment  of coconut farmers income.Key words :  Coconut, Cocos nucifera, farming system diversification, income increase
Peluang Pengembangan Agave Sebagai Sumber Serat Alam SANTOSO, BUDI
Perspektif Vol 8, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v8n2.2009.%p

Abstract

ABSTRAKAgave   merupakan   tanaman   penghasil   serat  alam potensial   dengan   keunggulan   serat   kuat,   tahan terhadap kadar garam tinggi, dapat diperbaharui dan ramah   lingkungan.   Serat   alam   agave   banyak dimanfaatkan   antara   lain   dalam   industri   rumah tangga, bahan interior mobil dan tali-temali. Produksi serat agave dunia pernah mencapai 300.000 ton yang dihasilkan dari Brazil, China, Kenya, Tanzania, Mada-gaskar,  Indonesia  dan  Thailand.  Agave  masuk  di Indonesia pada awal abad ke-19, yaitu sebelum perang dunia ke II.  Pada tahun 1939, salah satu perkebunan besar di Indonesia telah menanam agave seluas 10.000 hektar dengan produksi serat sebesar 23.000 ton, dan Indonesia pernah menghasilkan serat agave sebanyak 80.000 ton. Namun, dalam perkembangan selanjutnya pertanaman agave  semakin menurun.    Pada  tahun 2007 kebutuhan serat agave internasional 319.000 ton, namun produksi serat hanya mencapai 281.800 ton sehingga masih kekurangan pasokan sebanyak 37.200 ton.  Kebutuhan serat agave dalam  negeri periode 2006-2009 mencapai 1.982 ton/tahun; sebagian besar, yaitu 1.340 ton dipasok dari luar negeri, sisanya 642 ton diperoleh dari dalam negeri.  Rendahnya harga serat    agave    merupakan    salah    satu    kendala pengembangan  di  dalam  negeri; harga  serat agave dalam   negeri   hanya   Rp. 5.000,-/kg   dibandingkan dengan harga serat impor mencapai Rp. 9.000,-/kg. Input teknologi untuk mengembangkan industri serat agave sebenarnya sudah cukup memadai dan apabila tanaman  ini  diusahakan  dengan  asupan  teknologi yang   ada   maka   usahatani   agave memberikan keuntungan yang cukup signifikan dengan B/C ratio 1,29.  Dengan demikian pengembangan tanaman agave di dalam negeri masih prospektif, terutama di daerah yang secara tradisional sudah mengembangkan agave, seperti  di  Jawa  Timur  yang  memiliki    agroklimat, kesuburan tanah dan jenis tanah yang sesuai, seperti di Kabupaten Pamekasan, Sumenep, Sampang, Banyu-wangi,  Jember,  Lumajang,  Malang,  Blitar,  Tulung-agung, Trenggalek, Pacitan, Ngawi, Tuban, Bojonegoro dan Lamongan.Kata kunci: Agave cantala, A. sisalana, serat alam, lahan batu kapur, industri kelengkapan mobil.ABSTRACT Prospect of Agave Development as A Source of Natural FiberAgave is a prospective natural fiber-producing crop with superior fiber strength, resistant to high salinity, can   be   renewable,   and   environmentally   friendly. Agave natural fiber is widely used among others in household industry, interior materials and rigging. The world production of agave fiber had reached 300,000 tons  produced  by  Brazil,  China,  Kenya,  Tanzania, Madagaskar, Indonesia, and Thailand.  Agave was first introduced to Indonesia in the early 19th century that is before the World War II.  In 1939, one of the big estates in Indonesia planted 10,000 acres of agave with fiber production of 23,000 tons, and Indonesia had produced agave fiber as much as 80,000 tons. However, in the further  development  the  cultivation  of  agave  was declined. In 2007, the international demand of agave fiber   was            319,000   tons;   nevertheless,   the   fiber production  was  only  reached  281,800  tons,  so  still shortages of 37,200 tons.  In 2006-2009, the domestic demand of agave fiber reached 1,982 tons/year; most of 1,340 tons were supplied from abroad, the rest (642 tons)  was  supplied  from  the  country.  One  of  the constraints in the national development of agave fiber was the low of price. The domestic price of agave fiber was only Rp. 5,000/kg compared to the price of fiber import (Rp. 9, 000,-/kg). In fact, technological input to improve  the  fiber  industry  of  agave  was  quite sufficient,  if  this  crop  is  cultivated  with  existing technology  input;  thus,  the  agave  farming  system provides significant benefit with the B/C ratio of 1:29. Hence,  the  domestic  development  of  agave  is  still prospective especially in areas that traditionally had developed agave as in East Java that has suitable agro-climate,   soil   fertility,   and   soil   type   such   as   in Pamekasan, Sumenep, Sampang, Banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Pacitan, Ngawi, Tuban, Bojonegoro, and Lamongan districts.Key word: Agave cantala, A. sisalana, natural fiber, lime  stones area, car assesories industries.
Pengelolaan Ekosistem Untuk Pengendalian Hama Lada LABA, I WAYAN; TRISAWA, IWA MARA
Perspektif Vol 5, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v5n2.2006.%p

Abstract

ABSTRAKHama merupakan salah satu kendala produksi lada di Indonesia.  Serangan hama terjadi sejak tanaman masih di pembibitan hingga produktif di lapangan.  Hama menyerang   berbagai   bagian   tanaman   antara   lain bunga, buah, pucuk, cabang, dan batang. Di Indonesia dikenal tiga hama yang menyerang pertanaman lada yaitu  penggerek batang (Lophobaris piperis Marsh.), pengisap buah (Dasynus piperis China) dan pengisap bunga (Diconocoris hewetti (Dist.)).  Populasi penggerek batang selalu ada di lapangan pada berbagai stadia (telur, larva, pupa, dan dewasa), sedangkan pengisap bunga dan buah populasinya  ditemukan pada musim bunga  dan  buah.  Pengendalian  hama  lada  pada umumnya petani menggunakan insektisida sintetik. Alternatif   lain   yang   dapat   digunakan   untuk mengendalikan   hama   lada   adalah   pengelolaan ekosistem, sehingga dapat meningkatkan pemanfaatan musuh alami antara lain parasitoid. Untuk meningkatkan  populasi  parasitoid  dapat  dilakukan konservasi   musuh   alami   melalui   tanaman   sela, tanaman  penutup  tanah  atau  penyiangan  terbatas. Tanaman  sela  yang  dapat  digunakan  antara  lain Arachis sp.,  Orthosiphon sp. Ocimum sp. dan  Coffea sp.Kata kunci: Lada, Piper nigrum, hama, bioekologi, pengendalian, ekosistem ABSTRACTEcosystem Management for Controlling Black Pepper PestPest is one of the obstacles of black pepper production in Indonesia.  The pest attacks all parts of the plant such as inflorescens, fruits, shoots, branches and stems at nursery as well as in the field. In Indonesia black pepper was infested by 3 species of pests, namely stem borer,  Lophobaris  piperis  Marsh,  pepper  berry  bug, Dasynus piperis China and lace bug, Diconocoris hewetti (Dist.).  The population of stem borers always presents in the field with different stages (egg, larvae, pupa and adult), while lace bug and pepper berry bug are found in the field during flowering and fruit stages. Control of black pepper pests by farmers is usually using syntetic pesticide. Other alternative to manage black pepper  pest  namely  ecosystem  management  and natural enemy such as parasitoid.  To increase the natural enemy population can be done by natural enemie   conservation   through   cover   crops,   mix cropping and limited weeding. Arachis sp., Orthosiphon sp., Ocimum sp. and Coffea sp. plants can be used in cropping system with black pepper.Key Words: Black pepper, Piper nigrum, pest, bioecology, management, ecosystem
Prospek dan Strategi Pengembangan Perkebunan Kakao Berkelanjutan di Sumatera Barat DAMANIK, SABARMAN; HERMAN, HERMAN
Perspektif Vol 9, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v9n2.2010.%p

Abstract

ABSTRAKBeberapa tahun terakhir, perkebunan kakao (Theobroma cacao L.) Indonesia menghadapi permasalahan yang serius  dengan  mengganasnya  serangan  hama  dan penyakit  tanaman  kakao.  Produktivitas  perkebunan kakao  di  beberapa  sentra produksi  utama kakao Indonesia mengalami penurunan yang cukup tajam. Oleh karena itu pemerintah berupaya untuk mengurangi  dampak penurunan  produksi  dengan memacu peningkatan produksi di daerah yang potensial seperti  Sumatera  Barat  melalui  program revitalisasi. Namun program tersebut tidak berjalan lancar karena berbagai kendala antara lain: terbatasnya ketersediaan bahan tanam, terbatasnya tenaga pembina dan masih belum  memadainya  dukungan perbankan.   Untuk   membantu   mengatasi   masalah tersebut maka  kajian tentang prospek dan strategi pengembangan perkebunan kakao di Sumatera Barat, dengan   mengunakan   analisis   prospektif,   dapat memberikan beberapa alternatif solusi yang terbaik di dalam pengembangan kakao di Sumatera Barat. Hasil kajian menunjukkan bahwa perkebunan kakao  cukup penting bagi perekonomian regional Sumatera Barat dan prospektif untuk terus dikembangkan. Adapun faktor strategis yang mempengaruhi pengembangan dan  keberlanjutan  perkebunan  kakao  di  Sumatera Barat yaitu: ketersediaan teknologi, tenaga pembina, pelatihan petani, dukungan kebijakan, luas perkebunan kakao, produktivitas, keterampilan petani dan kelembagaan ekonomi petani. Kedelapan faktor-faktor strategis tersebut umumnya berada pada kondisi moderat dan mengarah ke kondisi optimistik karena pencanangan revitalisasi pengembangan perkebunan kakao di Sumatera Barat. Dukungan pendanaan dari perbankan dan  tenaga pembina baik dari segi jumlah maupun kualitasnya sangat diperlukan. Prospek dan strategi pengembangan kakao akan  bermanfaat  untuk  menilai  efisiensi  kegiatan agribisnis kakao dari segi peningkatan produktivitas dan pelestarian lingkungan sehingga terjadi pengembangan    komoditas    yang    berkelanjutan. Perkebunan    kakao    di    Sumatera    Barat    telah memberikan    peranan    penting    dan    mampu menyediakan kesempatan kerja kepada sekitar 60.000 kepala keluarga petani dan nilai rata-rata pendapatan petani   sekitar   Rp    10.790.000 /KK/tahun.   Untuk menjamin  keberlanjutan  pengembangan  perkebunan kakao diperlukan dukungan dan konsistensi kebijakan pemerintah serta komitmen perbankan dalam mendukung program revitalisasi perkebunan.Kata  kunci:  Theobroma  cacao  L.,  prospek,  stategi,     keberlanjutan, Sumatera Barat  ABSTRACTSProspect and Development Strategy of Sustainable Cocoa Plantation in West SumateraIn recent years, Indonesian cocoa (Theobroma cacao L.) plantation faces serious problems related to pests and diseases.  Cocoa  production  in  some  central  cocoa plantations decreased sharply. Therefore, Indonesian government  is  attempting  to  eliminate  impact  of reduction  of  plant  production  by  enhancing  cocoa production in some new potential planting areas such as  West  Sumatera  through  revitalization  program. However, this program does not run smoothly due to various constraints i.e. limited availability of planting materials,  limited  staff  and  supervisors  as  well  as support from the bank. In order to overcome these problems, prospect and strategy studies to develop cocoa plantations in West Sumatera using prospective analysis offer some prospective alternative solutions. The   study   shows   that  cocoa   plantation  is   quite important for the regional economy of West Sumatera and  prospective  to  be  developed  for  the  future economic. The strategic factors influencing the development and sustainability of cocoa plantations in West  Sumatera  are  the  availability  of  technology, supervisors,  trainers,  policy  support,  availability  of cocoa plantation, productivity, skill of farmers and institutional of farmer net work. These eight factors are generally positioned in moderate condition and lead to optimistic condition since launching revitalization of cocoa   plantation   development   in   West  Sumatera. Quantity and quality of funding and supervisors is needed. Prospects and development strategies of cocoa will be useful to assess the efficiency of agribusiness activities in terms of increasing of cocoa production and   sustainability   of   the   environment   resulting sustainable cocoa development. Cocoa plantations in West Sumatera have important roles and absorbed 60,000 workers/farmers with the average income of about  USD 1.198/year.  To  ensure  the  sustainable development of cocoa plantations support and consistency of government policy as well as bank's commitment are needed, especially to support revitalization plantation program.Keywords:  Theobroma  cacao  L,  prospect,  strategies, sustainability, West Sumatera
Varietas Unggul Wijen Sumberrejo 1 dan 4 untuk Pengembangan di Lahan Sawah sesudah Padi MARDJONO, RUSIM
Perspektif Vol 6, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v6n1.2007.%p

Abstract

ABSTRAKPengembangan wijen di Indonesia banyak dilakukan di lahan kering pada musim hujan. Saat ini pengembangan  wijen  banyak  dilakukan di lahan sawah sesudah padi atau sesudah tembakau di musim kering. Biji wijen banyak  digunakan dalam berbagai industri, baik untuk minyak maupun aneka industri makanan, seperti kecap, kue dan makanan  ringan lainnya. Varietas unggul wijen Sumberrejo 1 (Sbr 1) dan Sumberrejo (Sbr 4) sangat sesuai untuk ditanam di lahan sawah sesudah padi di musim kering. Sbr. 1 karena umur lebih panjang bisa ditanam pada MK-1 sedangkan Sbr. 4 karena umurnya lebih genjah dapat ditanam pada MK-2. Teknologi budidaya yang perlu dikembangkan antara lain : Pola tanam yang sesuai, pengolahan tanah yang baik, jarak tanam dan waktu tanam yang tepat, penggunaan benih bermutu, serta pemupukan yang sesuai. Pengendalian gulma dan penggemburan tanah, pengendalian hama dan penyakit, panen dan pasca panen yang tepat.Kata kunci: Wijen, Sesamum indicum, varietas unggul Sumberrejo 1,            Sumberrejo 4, pengembangan,   lahan   sawah,   Jawa Timur. ABSTRACTSesame Superior Varieties Sumberrejo 1 and 4 for Development in Rice Field after PaddySesame in Indonesia is mostly grown in dry area at rainy season. This time  it is also grown in wet rice field at dry season after paddy or tobacco. Sesame seeds are used for industrial purposes, including sesame oil and various food industry  such as soy-souce, cookies and snacks. Superior varieties Sbr 1 and Sbr 4 are suitable for sesame development in rice field after paddy. Sbr 1 with a longer period of culture age is suitable for planting at dry season-1, whereas Sbr 4, a shorter one is suitable for dry season-2. Package of technology need to be developed including appropriate cropping pattern and soil management, proper plants spacing and sowing using superior seeds, proper fertilizer, weeding and thinning, pest and disease control, proper harvest and post harvest management.Key  words  :  Semame,  Sesamum  indicum,  variety, Sumberrejo 1, Sumberrejo 4,  development, rice field after paddy, East Java.
Strategi Peningkatan Produktivitas Lada dengan Tajar Tinggi dan Pemangkasan Intensif serta Kemungkinan Adopsinya di Indonesia DARAS, USMAN
Perspektif Vol 14, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v14n2.2015.113-124

Abstract

RINGKASANLada merupakan salah satu komoditas ekspor tradisional penting Indonesia. Capaian produktivitasnya secara nasional masih rendah (< 1.0 ton/ha), di bawah produktivitas negara penghasil utama lada lain seperti Vietnam, Brazil dan Malaysia. Banyak faktor yang diperkirakan berkontribusi terhadap rendahnya produktivitas. Faktor tersebut dapat berupa kendala teknis maupun non teknis. Di antara sejumlah kendala teknis, aspek agronomi seperti kebiasaan petani menggunakan tajar pendek (+3.0 m), pemupukan dan pemangkasan yang tidak optimal diduga kuat berkontribusi terhadap masih rendahnya capaian tersebut. Penggunaan tajar tinggi (> 5 m) disertai pemangkasan optimal, baik terhadap tanaman pokok lada maupun tajar hidupnya sangat berpotensi meningkatkan produktivtas rata-rata lada nasional lebih dari 1,5 ton/ha/th. Produksi dan produktivitas lada nasional diharapkan dapat lebih besar lagi apabila disertai penerapan aspek budidaya menanam lada lebih dari satu pohon per tajar. Sosialisasi dan penerapan ketiga aspek budidaya lada tersebut pada tingkat lapang secara terencana dan berkesinabungan diharapkan dapat meningkatkan produksi dan produktivitas lada nasional.Kata kunci: Lada, produktivitas, tajar hidup, pemang-kasanABSTRACTStrategy in Increase Productivity of Black Pepper With High Supports, Intensified Pruning and Its Adoption Possibility in IndonesiaBlack pepper is an important and traditional export commodity of Indonesia. The mean productivity of Indonesian black pepper is low (< 1 ton/ha) which is much lower than those of other producing countries such as Vietnam, Brazil and Malaysia. There are number factors influencing the low productivity of black pepper vines in the country, both technical and non-technical constraints. Among them, agronomic aspects such as the use of short supports or standards of about + 3.0 m in height, and unintensified pruning of both black pepper vines and its live supports are believed to contributing low in yields of the crop. In other words, the use of live supports with height of more than 5.0 m, followed by intensified pruning of black pepper vines and its live supports are able to increase the mean national productivity of the crop of higher than of 1,5 tons ha/year. Higher in yields or productivity of black pepper vine may be achieved if farmers not only adopt the two agronomic aspects but also other recommended cultural practices do. Hence, socialization and implementation of the improved cultural practice technologies for the crop is needed in the future, in turn, higher in yield or productivity of the crop as well as income of farmers be achieved.Keywords: Black pepper, productivity, live supports, pruning

Page 7 of 21 | Total Record : 203