cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
protanbp@ub.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Produksi Tanaman
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23383976     EISSN : 25278452     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Produksi Tanaman adalah Jurnal Pertanian yang diterbitkan oleh Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya berisi hasil penelitian yang disusun oleh mahasiswa setelah menyelesaikan tugas akhir berupa skripsi.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 10 (2021)" : 8 Documents clear
Pengaruh Komposisi Media Tanam dan Dosis Pupuk NPK Majemuk Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) Varietas Permata Yuniandhari, Neni; Barunawati, Nunun
Produksi Tanaman Vol. 9 No. 10 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman tomat adalah salah satu jenis sayuran buah yang digemari masyarakat Indonesia. Produktivitas tomat di Indonesia tahun 2017 adalah 18,04 ton/ha sedangkan tahun 2018 produktivitas 17,31 ton/ha. Berdasarkan data tersebut terjadi penurunan produktivitas dari tahun 2017 sampai tahun 2018. Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan produksi tomat adalah ketersediaan unsur hara yang rendah pada media tanam. Peningkatan produksi tomat dapat dilakukan dengan menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dengan penambahan bahan organik melalui komposisi media tanam dan aplikasi pupuk NPK majemuk dengan dosis tepat dan sesuai. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan kombinasi antara komposisi media tanam dan dosis pupuk NPK majemuk yang tepat bagi pertumbuhan dan hasil tanaman tomat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2021 hingga Juni 2021 di Green House Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik. Penelitian ini merupakan percobaan non faktorial dengan Rancangan Acak Kelompok terdiri dari 9 perlakuan yaitu: P1 = T : PK (1:1) + NPK 150 kg/ha, P2 = T : PK (1:1) + NPK 300 kg/ha, P3 = T : PK (1:1) + NPK 450 kg/ha, P4 = T : AS (1:1) + NPK 150 kg/ha, P5 = T : AS (1:1) + NPK 300 kg/ha, P6 = T : AS (1:1) + NPK 450 kg/ha, P7 = T : AS : PK (1:1:1) + NPK 150 kg/ha, P8 = T : AS : PK (1:1:1) + NPK 300 kg/ha dan P9 = T : AS : PK (1:1:1) + NPK 450 kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P2 dapat memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman tomat yang lebih baik.
Pengaruh Dosis Pupuk Bekas Cacing dan Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung (Zea Mays L.) Pratama, Al Ghazali Putra; Sugito, Yogi
Produksi Tanaman Vol. 9 No. 10 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penambahan bahan organik sangat diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat tanah, baik secara fisik, kimia maupun biologi tanah. Salah satu pupuk organik yang dapat digunakan yaitu pupuk bekas cacing (kascing). Di Indonesia, jagung merupakan komoditi pangan yang penting setelah padi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengaruh dosis pupuk kascing dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung, serta mengetahui kombinasi perlakuan yang optimal. Penelitian ini dilaksanakan di desa Modong, Tulangan, Kabupaten Sidoarjo pada tanggal 25 September 2020. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial diulang sebanyak tiga kali. Parameter pengamatan pertumbuhan terdiri dari berat kering total (g) dan luas daun (cm2). Sedangkan parameter komponen hasil meliputi berat tongkol berkelobot (g) dan berat tongkol tanpa kelobot (g). Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (uji F) dengan taraf 5%. Jika hasil berbeda nyata, maka dilakukan uji lanjut dengan beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara perlakuan dosis pupuk kascing dan jarak tanam terhadap indeks luas daun dan hasil panen jagung berkelobot. Pemberian dosis pupuk kascing 10 t ha-1 dan 20 t ha-1 dengan jarak tanam 75 cm x 30 cm dan 75 cm x 35 cm mampu meningkatkan nilai indeks luas daun dan laju pertumbuhan tanaman jagung. Pemberian dosis pupuk kascing 20 t ha-1 mampu meningkatkan hasil panen jagung berkelobot dan tanpa kelobot. Perlakuan jarak tanam 75 cm x 25 cm, 75 cm x 30 cm dan 75 cm x 35 cm mampu aatmeningkatkan hasil panen jagung berkelobot dan hasil panen jagung tanpa kelobot.
Pengaruh Aplikasi Pupuk Kalium pada Tanaman Kencur yang ditanam di Berbagai Tingkat Naungan Mustika, Della Maya; Saitama, Akbar; Zaini, Akbar Hidayatullah; Widaryanto, Eko
Produksi Tanaman Vol. 9 No. 10 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kencur (Kaempferia galangal L) merupakan tanaman obat yang cocok dibudidayakan diberbagai daerah tropis di Indonesia. Kencur memiliki kegunaan yang sudah dikenal masyarakat sebagai salah satu bumbu masak, ataupun sebagai pengobatan. Pemberian naungan merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman dan untuk penggunaan pupuk kalium berfungsi untuk memacu translokasi asimilat dari sumber (daun) ke bagian organ penyimpanan (sink), selain terlibat dalam proses membuka dan menutupnya stomata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya interaksi antara pengaplikasian dosis pupuk kalium dengan berbagai tingkat naungan tanaman kencur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2020 hingga Mei 2021 yang bertempat di ATP Jatikerto, Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Rancangan uang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan rancangan petak terbagi (RPT) dengan tiga ulangan pada setiap perlakuan sesuai denah penelitian. Petak utama (main plot) merupakan dua tingkat naungan yaitu naungan 25% (N25) dan naungan 50% (N50). Anak petak (sub plot) berupa empat dosis pupuk kalium yaitu 0 kg ha-1 K2O, 120 kg ha-1 K2O, 180 kg ha-1 K2O dan 240 kg ha-1 K2O. berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa kencur dapat beradaptasi dengan adanya naungan 25% dan naungan 50%, secara umum pada fase pertumbuhan tanaman, naungan memberikan respon terhadap jumlah daun, luas daun dan volume akar. Sedangkan selama pengamatan pertumbuhan dosis pupuk tidak memberikan respon terhadap pertumbuhan tanaman. Selain itu berdasarkan hasil panen tanaman kencur produktivitas tanaman kencur pada naungan 25% dan naungan 50% memiliki nilai tertinggi pada pemberian dosis pupuk 120 kg ha-1.
Keragaan Karakter Kualitatif Dan Kuantitatif 8 Genotip Cabai Rawit (Capsicum frutescens) Pharawesti, Irlanty; Sandrakirana, Ratih; Adiredjo, Afifuddin Latif
Produksi Tanaman Vol. 9 No. 10 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cabai rawit (Capsicum frutescens) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang penting dan banyak dibudidayakan, terutama di pulau Jawa. Salah satu alternatif dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas cabai rawit di Indonesia yakni dengan perakitan varietas unggul. Kegiatan perakitan varietas cabai rawit memerlukan dukungan populasi bahan genetik yang beragam untuk menghasilkan karakter-karakter yang unggul. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keragaan karakter kualitatif dan kuantitatif delapan genotip dan empat varietas cabai rawit serta mengetahui karakter unggul pada masing-masing genotip. Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Balai Pengkajian Teknologi Pertaian (BPTP) pada bulan Juni 2020-Oktober 2020. Penelitian dilakukan dengan mengamati setiap individu pada tiap sampel dari 12 perlakuan yakni 8 genotipe cabai rawit (A03, A04, A05, A06, A07, A08, A09, dan C04) dan 4 varietas pembanding (Cakra Putih, Pelita, Prima Agrihorti, dan Pelita). Analisa data menggunakan deskripsi data rerata dan diagram boxplot untuk deskripsi sebaran data. Pada pengamatan kualitatif data dianalisis berdasarkan deskriptor dari IPGRI deskriptor dan pantone colour chart. Hasil penelitian menunjukan bahwa 8 genotip cabai rawit memiliki karakter kualitatif pada posisi bunga yang sama,, sedangkan pada hasil pengamatan karakter tipe pertumbuhan, bentuk pangkal buah, bentuk buah maupun warna buah muda dan matang terdapat beberapa perbedaan karakter. Genotip A04, A06, A07, dan A08 memiliki beberapa karakter kuantitatif yang unggul. Genotip A04 memiliki umur berbunga dan umur panen yang paling cepat. Genotip A07 memiliki bobot per buah tertinggi, tebal daging dan diameter buah terlebar serta pada genotip A08 memiliki keunggulan pada panjang buah.
Uji Ketahanan Galur Buncis Tipe Rambat (Phaseolus vulgaris L.) Berpolong Kuning Terhadap Penyakit Layu Fusarium ( Fusarium Oxysporum ) Putri, Ken Ufi Balya; Soegianto, Andy
Produksi Tanaman Vol. 9 No. 10 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan salah satu sayuran dengan jenis polong-polongan yang mempunyai peluang pasar yang cukup menjanjikan di Indonesia. Produktivitas tanaman buncis setiap tahun mengalami perubahan, berdasarkan Badan Pusat Statistik (2019). Produksi buncis di Indonesia pada tahun dari 304,431/Ha ton pada tahun 2018 menjadi 299,310 ton/Ha pada tahun 2019. Untuk meningkatkan produktivitas tanaman buncis, perlu adanya teknik pemuliaan tanaman buncis yang sesuai dengan permintaan konsumen serta tanaman buncis yang tahan terhadap serangan hama ataupun penyakit tanaman. Alternatif yang dilakukan salah satunya adalah perakitan buncis berpolong kuning yang berdaya hasil tinggi.Tujuan dari penelitian ini yaitu mendapatkan galur buncis yang tahan terhadap serangan layu fusarium oxysporum.. Penelitian ini dilaksanakan di di Jl. Patimura Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu. Pada bulan April hingga Juni 2020. Penelitian menggunkan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan galur buncis CS-GK-50-0-24 tergolong dengan tanaman agak tahan dibandingkan CS-GI-63-0-24 yang tergolong agak rentan terhadap serangan penyakit fusarium oxysporum
Potensi Produksi 8 Aksesi Tanaman Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) pada Lahan Percobaan Jatikerto Rabbani, Muhammad Taufiq; Roviq, Mochammad; Maghfoer, Mochammad Dawam
Produksi Tanaman Vol. 9 No. 10 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman kecipir merupakan tanaman yang dapat tumbuh di daerah tropis, dikenal masyarakat karena buah mudanya sering dimanfaatkan sebagai sayur. Keistimewaan kecipir dibanding sayuran lainnya adalah seluruh bagian tanaman dapat dikonsumsi dan kaya akan protein. Potensi hasil kecipir diperlukan untuk mendukung pengembangan kecipir untuk masa depan.  Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan mempelajari potensi hasil 8 aksesi kecipir yang diambil dari beberapa daerah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2018 hingga bulan Desember 2018. Lokasi Penelitian bertempat di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Penelitian ini disusun menggunakan Rancangan Baris Tunggal, yakni seluruh aksesi kecipir ditanam bersamaan dalam satu lokasi  tanpa ulangan dan ditanam dalam baris tunggal. Analisis Data menggunakan uji F pada taraf 5% menggunakan tabel analisis ragam (ANOVA) untuk mengetahui ada tidaknya interaksi maupun pengaruh nyata dari perlakuan. Jika terdapat interaksi atau pengaruh nyata maka diuji lanjut dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf  5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 8 aksesi kecipir yang ditanam memiliki potensi hasil yang beragam, dimana potensi hasil tertinggi ditunjukkan oleh aksesi Malang (KC1), sedangkan potensi hasil terendah ditunjukkan oleh aksesi Sidoarjo (KC7). Sementara itu, aksesi Malang (KC1) merupakan aksesi terbaik yang dapat dikembangkan pada lahan percobaan Jatikerto.
Produksi Dan Efisiensi Konversi Energi Matahari Tanaman Kentang (Solanum Tuberosum L.) Kultivar Mc. Russet Pada Berbagai Macam Mulsa Aji, Mukhammad Wildan; Suryanto, Agus
Produksi Tanaman Vol. 9 No. 10 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan salah satu jenis umbi yang banyak digunakan sebagai makanan pokok bagi masyarakat Indonesia. Dalam proses budidaya kentang di dataran tinggi hingga saat ini masih terdapat kendala, yakni intensitas matahari yang rendah. Memodifikasi lingkungan dengan menggunakan mulsa dapat mengoptimalkan intensitas cahaya matahari yang diterima oleh kentang. Cahaya yang mengenai permukaan mulsa dapat diteruskan, diserap dan dipantulkan kembali. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni hingga September 2019 di Dusun Puncak Brakseng, Desa Sumber Brantas, Kota Batu. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan tujuh perlakuan dan empat kali ulangan. Variabel pengamatan dalam penelitian ini yaitu luas daun, Laju pertumbuhan tanaman, Berat kering tanaman, Jumlah daun pertanaman, kadar klorofil, berat segar umbi pertanaman, jumlah umbi pertanaman, Bobot umbi panen, produksi per ha-, pengamatan effisiensi konversi energi matahari dan pengamatan cahaya pantul. Data yang diperoleh dianalisis ragam dengan taraf 5%. Apabila terdapat beda nyata, maka dilakukan uji beda nyata jujur dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunukan pertumbuhan dan hasil tanaman yang relatif sama pada parameter pengamatan luas daun, jumlah daun dan laju pertumbuhan tanaman, efisiensi konversi energi dan albedo dimana perlakuan mulsa plastik perak menghasilkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Perlakuan mulsa plastik perak meningkatkan bobot segar umbi panen hingga 70 % lebih besar dibandingkan dengan perlakuan kontrol dan 11,11 % lebih besar dibandingkan mulsa plastik hitam. Jadi secara keseluruhan mulsa plastik perak mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tertinggi dibandingkan semua perlakuan pada tanaman kentang.
Lobster Air Tawar Australia Datang Pasokan Bibit Terjamin Anto, Yudi
Produksi Tanaman Vol. 9 No. 10 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa bongkah es batu itu segera dimasukkan dalam kolam berukuran 1 m x2,5 m. Setelah yakin air kolam itu bersuhu 20°C, sang empunya mencemplungkan sekitar 330 set lobster walkamin berukuran 12,5—20 cm. Semua diimpor langsung dari Australia. Tak sampai 3 hari lobster walkamin itu sudah berpindah ke tangan peternak.Dari sebuah kolam sang empunya, Sugiono, memperoleh pendapatan Rp4,5-juta.Sebagai importir, sejak 3 bulan silam Sugiyono memang getol untuk mengatasi kekurangan bibit. Bayangkan seekor lobster walkamin bisa memproduksi 700— 800 telur,” ujar pemilik TO Yabby Farm di Jakarta Timur itu.Sampai pertengahan Agustus 2006, ayah 1 putri itu sudah mengimpor 1.540 lobster walkamin. Memang sebagian besar pembelinya plasma binaan. Mereka mendapat prioritas karena farm mitra usaha tani sendiri mendapat order pasokan bibit hingga 50.000 ekor ukuran 2 inci per bulan. “Sampai sekarang belum terlayani,” ujarnya. Itu berarti 2— 3 kali lipat daripada produksi indukan lobster lokal yang cuma 300—400 butir.Boyong indukanIndukan lobster walkamin memang spesial. Menurut Freshwater Fisheriesh and Aquaculture Center (FFCA) di Queensland, Australia, strain silangan redclaw dari Sungai Flinders dan Gilbert itu memiliki pertumbuhan 37% lebih cepat daripada semua strain terbaik yang ada seperti strain flinders dan gilbert.Padahal, strain flinders bila dibandingkan lobster lokal (tanpa inbreeding) lebih cepat sekitar 10—20%. Dalam waktu 1 bulan starin flinders bisa menembus ukuran 5 cm; lokal butuh 2 bulan. lobster walkamin lebih singkat lagi, kurang dari sebulan untuk ukuran yang sama. Cepatnya pertumbuhan lobster lobster walkamin diharapkan bisa memenuhi permintaan pasar lobster ukuran konsumsi.Keunggulan lobster walkamin membuat Ir Cuncun Setiawan di Bintaro, Tangerang, ikut membeli 60 set berukuran 12 cm. “lobster walkamin bisa menutupi kekurangan bibit untuk mencetak lobster konsumsi,” ujar pemilik Bintaro Fish Farm itu.Pun Bernard Raharjo di Meruya, Jakarta Barat. Ia sengaja memesan 50 indukan lobster walkamin untuk mendongkrak produksi bibit. Maklum ia hanya mampu menghasilkan 10.000 bibit per bulan dari total permintaan 12.000—15.000 bibit/bulan.“Sudah banyak yang minta, tapi tidak bisa dipenuhi. Tidak ada barang,” ujar Bejo. Begitu juga dengan Rico, peternak di Yogyakarta.Margin tinggiHarga lobster walkamin sebetulnya cukup mahal. Di tangan peternak, ukuran 12,5 cm dibandrol Rp1,5-juta/set. Ukuran 15 cm ke atas mencapai Rp2,l-juta/set. Satu set terdiri dari 5 jantan dan 3 betina. Namun meski harga relatif mahal, tidak menyurutkan peminat untuk membeli lobster walkamin. Agung Lukito di Jakarta Timur misalnya. Untuk mendapatkan 8 set indukan ia rela merogoh '<ocek Rpl2-juta. “Harus adu cepat dengan peternak lain. Kalau tidak, ya kehabisan barang,” ujar Agung.Tingginya harga sebanding tingginya produksi telur. Umumnya indukan siap produksi sekitar 3—4 bulan ke depan. Setiap siklus kawin betina sepanjang 12,5 cm bisa menggendong hingga 700 telur. Dengan asumsi tingkat kelulusan hidup dari telur sampai ukuran 5 cm sebesar 90%, diperoleh 630 bibit siap jual.Berdasarkan lacakan Trubus, harga bibit 5 cm berkisar Rp2.500—Rp3.000 per ekor. Pendapatan yang diperoleh dari setiap .nduk betina Rp 1,58-juta per siklus. Angka itu jauh lebih tinggi ketimbang memakai induk lokal yang hanya menghasilkan Rp900.000/siklus.Atasi inbreedingMenurut FX Santoso Produktivitas indukan lokal juga sebetulnya bisa setara lobster walkamin, Misal ukurannya minimal 12,5 cm. berkurangnya produksi bibit yang Terjadi sekarang ini lantaran indukan yang dipakai belum mencapai ukuran ideal. Indukan ideal minimal berukuran 12,5 cm. “Kurang dari itu pasti produksinya sedikit,” ujar pemilik Santoso Farm di Surabaya itu.Hal lain yang menyebabkan produksi bibit melorot adalah inbreeding. Indukan lokal inbreeding berukuran 14 cm maksimal hanya menghasilkan 300 burayak. Padahal, sebelum kasus perkawinan sedarah itu, betina lokal dapat menghasilkan 500 telur. “Akibat inbreeding anakan menjadi kuntet. Kalau kuntet produksi bisa turun hingga 80%,” ujar Santoso.Inbreeding dapat dicegah dengan seleksi bibit dan indukan. Itu pula yang dilakukan Iwan Wibowo, peternak di Yogyakarta. Ia sengaja membeli induk jantan dan betina dari tempat berbeda. Di setiap kolam pemijahan tertera asal-usul induk. Anakan yang dihasilkan pun diletakkan dalam kolam terpisah dan ditandai. “Dengan cara itu sampai sekarang saya belum alami inbreeding" ujar Iwan.Cara serupa dijalani Agung. Menurutnya, indukan lobster walkamin pun sebaiknya tidak dikawinkan dengan sesama lobster walkamin. “Malah bisa inbreeding juga,” tuturnya. Solusinya, indukan lobster walkamin betina yang didatangkan dikawinkan dengan jantan lokal. Keunggulan lobster walkamin jantan dan betina sama-sama menurunkan anakan kualitas baik. Karena itu janji manis lobster walkamin dapat memenuhi harapan peternak seperti Sugiono bukan lagi sebuah impian.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2021 2021


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 08 (2025): Agustus Vol. 13 No. 07 (2025): Juli Vol. 13 No. 06 (2025): Juni Vol. 13 No. 05 (2025): Mei Vol. 13 No. 04 (2025): April Vol. 13 No. 9 (2025): September Vol. 13 No. 3 (2025): Maret Vol. 13 No. 2 (2025): Februari Vol. 13 No. 1 (2025): Januari Vol. 12 No. 12 (2024): Desember Vol. 12 No. 11 (2024): November Vol. 12 No. 10 (2024): Oktober Vol. 12 No. 09 (2024): September Vol. 12 No. 05 (2024): Mei Vol. 12 No. 04 (2024): April Vol. 12 No. 8 (2024): Agustus Vol. 12 No. 7 (2024): Juli Vol. 12 No. 6 (2024): Juni Vol. 12 No. 3 (2024): Maret Vol. 12 No. 2 (2024): Februari Vol. 12 No. 1 (2024): Januari Vol. 11 No. 12 (2023): Desember Vol. 11 No. 11 (2023): November Vol. 11 No. 10 (2023): Oktober Vol. 11 No. 9 (2023): September Vol. 11 No. 8 (2023): Agustus Vol. 11 No. 7 (2023): Juli Vol. 11 No. 6 (2023): Juni Vol. 11 No. 5 (2023): Mei Vol. 11 No. 4 (2023): April Vol. 11 No. 3 (2023): Maret Vol. 11 No. 2 (2023): Februari Vol. 11 No. 1 (2023): Januari Vol. 10 No. 12 (2022): Terbitan Bulan Desember Vol. 10 No. 11 (2022): Terbitan Bulan November Vol. 10 No. 10 (2022): Terbitan Bulan Oktober Vol. 10 No. 9 (2022): Terbitan Bulan September Vol. 10 No. 8 (2022): Terbitan Bulan Agustus Vol. 10 No. 7 (2022) Vol 10, No 7 (2022) Vol. 10 No. 6 (2022) Vol 10, No 5 (2022) Vol. 10 No. 5 (2022) Vol. 10 No. 4 (2022) Vol 10, No 4 (2022) Vol. 10 No. 3 (2022) Vol 10, No 3 (2022) Vol. 10 No. 2 (2022) Vol 10, No 2 (2022) Vol. 10 No. 1 (2022) Vol 10, No 1 (2022) Vol 9, No 12 (2021) Vol. 9 No. 12 (2021) Vol. 9 No. 11 (2021) Vol 9, No 11 (2021) Vol. 9 No. 10 (2021) Vol 9, No 10 (2021) Vol 9, No 9 (2021) Vol. 9 No. 9 (2021) Vol. 9 No. 8 (2021) Vol 9, No 8 (2021) Vol. 9 No. 7 (2021) Vol 9, No 7 (2021) Vol. 9 No. 6 (2021) Vol 9, No 6 (2021) Vol. 9 No. 5 (2021) Vol 9, No 5 (2021) Vol 9, No 4 (2021) Vol. 9 No. 4 (2021) Vol 9, No 3 (2021) Vol. 9 No. 3 (2021) Vol. 9 No. 2 (2021) Vol 9, No 2 (2021) Vol. 9 No. 1 (2021) Vol 9, No 1 (2021) Vol 8, No 12 (2020) Vol. 8 No. 12 (2020) Vol. 8 No. 11 (2020) Vol 8, No 11 (2020) Vol 8, No 10 (2020) Vol. 8 No. 10 (2020) Vol. 8 No. 9 (2020) Vol 8, No 9 (2020) Vol 8, No 8 (2020) Vol. 8 No. 8 (2020) Vol 8, No 7 (2020) Vol. 8 No. 7 (2020) Vol. 8 No. 6 (2020) Vol 8, No 6 (2020) Vol 8, No 5 (2020) Vol. 8 No. 5 (2020) Vol. 8 No. 4 (2020) Vol 8, No 4 (2020) Vol. 8 No. 3 (2020) Vol 8, No 3 (2020) Vol 8, No 2 (2020) Vol. 8 No. 2 (2020) Vol. 8 No. 1 (2020) Vol 8, No 1 (2020) Vol 7, No 12 (2019) Vol. 7 No. 12 (2019) Vol 7, No 11 (2019) Vol. 7 No. 11 (2019) Vol. 7 No. 10 (2019) Vol 7, No 10 (2019) Vol 7, No 9 (2019) Vol. 7 No. 9 (2019) Vol. 7 No. 8 (2019) Vol 7, No 8 (2019) Vol. 7 No. 7 (2019) Vol 7, No 7 (2019) Vol 7, No 6 (2019) Vol. 7 No. 6 (2019) Vol. 7 No. 5 (2019) Vol 7, No 5 (2019) Vol 7, No 4 (2019) Vol. 7 No. 4 (2019) Vol 7, No 3 (2019) Vol. 7 No. 3 (2019) Vol 7, No 2 (2019) Vol. 7 No. 2 (2019) Vol. 7 No. 1 (2019) Vol 7, No 1 (2019) Vol. 6 No. 12 (2018) Vol 6, No 12 (2018) Vol. 6 No. 11 (2018) Vol 6, No 11 (2018) Vol 6, No 10 (2018) Vol 6, No 10 (2018) Vol. 6 No. 10 (2018) Vol. 6 No. 9 (2018) Vol 6, No 9 (2018) Vol 6, No 8 (2018) Vol. 6 No. 8 (2018) Vol 6, No 8 (2018) Vol 6, No 7 (2018) Vol 6, No 7 (2018) Vol. 6 No. 7 (2018) Vol. 6 No. 6 (2018) Vol 6, No 6 (2018) Vol 6, No 5 (2018) Vol. 6 No. 5 (2018) Vol 6, No 4 (2018) Vol. 6 No. 4 (2018) Vol. 6 No. 3 (2018) Vol 6, No 3 (2018) Vol 6, No 2 (2018) Vol 6, No 2 (2018) Vol. 6 No. 2 (2018) Vol 6, No 1 (2018) Vol. 6 No. 1 (2018) Vol 5, No 12 (2017) Vol. 5 No. 12 (2017) Vol 5, No 12 (2017) Vol 5, No 11 (2017) Vol. 5 No. 11 (2017) Vol. 5 No. 10 (2017) Vol 5, No 10 (2017) Vol. 5 No. 9 (2017) Vol 5, No 9 (2017) Vol 5, No 8 (2017) Vol. 5 No. 8 (2017) Vol. 5 No. 7 (2017) Vol 5, No 7 (2017) Vol 5, No 6 (2017) Vol. 5 No. 6 (2017) Vol. 5 No. 5 (2017) Vol 5, No 5 (2017) Vol. 5 No. 4 (2017) Vol 5, No 4 (2017) Vol 5, No 3 (2017) Vol. 5 No. 3 (2017) Vol. 5 No. 2 (2017) Vol 5, No 2 (2017) Vol. 5 No. 1 (2017) Vol 5, No 1 (2017) Vol 4, No 8 (2016) Vol. 4 No. 8 (2016) Vol. 4 No. 7 (2016) Vol 4, No 7 (2016) Vol 4, No 6 (2016) Vol. 4 No. 6 (2016) Vol. 4 No. 5 (2016) Vol 4, No 5 (2016) Vol. 4 No. 4 (2016) Vol 4, No 4 (2016) Vol 4, No 3 (2016) Vol. 4 No. 3 (2016) Vol. 4 No. 2 (2016) Vol 4, No 2 (2016) Vol 4, No 1 (2016) Vol. 4 No. 1 (2016) Vol 3, No 8 (2015) Vol. 3 No. 8 (2015) Vol 3, No 7 (2015) Vol. 3 No. 7 (2015) Vol 3, No 6 (2015) Vol. 3 No. 6 (2015) Vol. 3 No. 5 (2015) Vol 3, No 5 (2015) Vol. 3 No. 4 (2015) Vol 3, No 4 (2015) Vol 3, No 3 (2015) Vol. 3 No. 3 (2015) Vol. 3 No. 2 (2015) Vol 3, No 2 (2015) Vol 3, No 1 (2015) Vol. 3 No. 1 (2015) Vol 2, No 8 (2014) Vol. 2 No. 8 (2014) Vol. 2 No. 7 (2014) Vol 2, No 7 (2014) Vol 2, No 6 (2014) Vol. 2 No. 6 (2014) Vol. 2 No. 5 (2014) Vol 2, No 5 (2014) Vol. 2 No. 4 (2014) Vol 2, No 4 (2014) Vol 2, No 3 (2014) Vol. 2 No. 3 (2014) Vol. 2 No. 2 (2014) Vol 2, No 2 (2014) Vol 2, No 1 (2014) Vol. 2 No. 1 (2014) Vol 1, No 6 (2013) Vol. 1 No. 6 (2013) Vol. 1 No. 5 (2013) Vol 1, No 5 (2013) Vol 1, No 4 (2013) Vol. 1 No. 4 (2013) Vol. 1 No. 3 (2013) Vol 1, No 3 (2013) Vol. 1 No. 2 (2013) Vol 1, No 2 (2013) Vol 1, No 1 (2013) Vol. 1 No. 1 (2013) More Issue