cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2014)" : 12 Documents clear
PERANCANGAN RESORT HOTEL PADA LERENG GUNUNG PANDERMAN KOTA BATU Irwansyah Digma Pratama; subhan ramdlani; Bambang Yatnawijaya S
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1032.293 KB)

Abstract

Kota Batu merupakan kota Pariwisata unggulan di JawaTimur yang banyak di kunjungi wisatawan lokal dan asing beragam tempat wisata baik yang mengandalkan alam seperti pendakian Gunung Panderman, Wisata Songgoriti, Wisata Desa Bunga, Wisata sayur, Wisata Agro dan juga wisata edukasi seperti Musium Satwa. Jatim Park, Pasar Malam yang berdekatan denganalun – alun, BNS ( Batu Night Spectacular ) dan lain sebagainya. Mengingat Kota Batu sebagai kunjungan kota wisatawan di Jawa Timur ini, sarana penunjang yang dibutuhkan bagi wisatawan yang berkunjung adalah fasilitas akomodasi, Menurut data dinas pariwisata dan kebudayaan kota Batu, wisatawan yang berkunjung ke kota ini rata – rata 10 % individual, 40 % pasangan, 50 % keluarga. Sementara jumlah semua kamar hotel yang tersedia saat ini di Batu secara keseluruhan menyediakan 2.326 kamar. Jumlah tersebut hanya mampu menampung pengunjung sebesar 6.984 orang, dan di tahun 2018, jumlah wisatawan yang berkunjung ke kota batu dan hadir untuk di akomodasi membutuhkan kamar sebesar 2.523 kamar, jumlah tersebut memiliki selisih 197 kamar yang di butuhkan untuk dapat menampung 7.441 wisatawan yang hadir di tahun 2018 ini. Dalam RDTRK ( Rencana Detail Tata Ruang Kota ), Pemerintah Kota Batu juga mengatur untuk pengembangan fasilitas akomodasi, yaitu yang berlokasi di Dusun Toyomerto, Oro – Oro Ombo ( Kawasan Villa Panderman Hill ) dan Gangsiran Putuk di Desa Tlekung. Pada Kawasan tersebut saat ini lokasinya di manfaatkan oleh warga untuk kegiatan pertanian sayur dan buah –buahan. Berbagai fasilitas yang sesuai untuk area yang bertopografi seperti di Kota Batu ini adalah Resort dan menurut pengertian dari ( Nyoman S. Pendit. Ilmu Pariwisata. Jakarta ;AkademiPariwisataTrisakti, 1999 ), Sebuah Resort Hotel sebaiknya mempunyai lahan yang ada kaitannya dengan obyek wisata, dan berada pada perbukitan, pegunungan, lembah, pulung kecil atau juga di pinggir pantai.Kata Kunci : Resort Hotel, Penerapan, Struktur Dinding Penahan Tanah
RUMAH SUSUN NELAYAN DENGAN KONSEP TANGGAP IKLIM DI ROMOKALISARI SURABAYA Faizatul Ummah; Agung Murti Nugroho; Damayanti Asikin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.652 KB)

Abstract

Ketersediaan lahan di kota Surabaya semakin menipis sehingga perlu adanya pembangunan secara vertikal yakni dengan rumah susun. Rumah susun yang akan dibangun tletak dipesisir pantai dekat dengan Tempat Pelelangan Ikan dan mayoritas penduduknya adalah nelayan. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk menerapkan rumah susun yang akan dihuni oleh Nelayan dengan konsep tanggap iklim sebagai solusi dari masalah iklim dan bau dari hasil pengolahan ikan. Metode yang digunakan adalah konten analisis dan sintesis yang kemudian akan dikembangkan selama proses desain menghasilkan desain skematik, kemudian desain skematik akhir, sesuai dengan metodologi perancangan yang digunakan. Hasil yang diharapkan adalah desain yang mampu menerapkan konsep tanggap iklim pada tapak dan bangunan melalui orientasi bangunan, bukaan, shading devices, material dan vegetasi.Kata kunci : rumah susun. Tanggap iklim , nelayan.
PERKEMBANGAN POLA PERMUKIMAN PEMBUDIDAYA IKAN DESA BLAYU SEBAGAI KAWASAN MINAPOLITAN DI WAJAK H.D. Khamim Binanda; Lisa Dwi Wulandari; Damayanti Asikin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.262 KB)

Abstract

Desa Blayu merupakan salah satu desa yang dicanangkan untuk kawasan minapolitan di Kecamatan Wajak.  Potensi Sumber daya alam Desa Blayu yang melimpah salah satu alasan dijadikannya Desa Blayu sebagai  kawasan minapolitan. Di Desa Blayu juga banyak terdapat banyak tanaman mendong, potensi ini juga yang  dimanfaatkan pemerintah Kabupatan Malang untuk mengembangkan cara budidaya ikan dengan  minamendong. Minamendong adalah budidaya ikan dengan cara menempatkan ikan di ladang mendong.  Penelitian ini mengkaji bagaimana perkembangan pola permukiman di Desa Blayu ini sebagau dampak dari  kawasan minapolitan.. karakteristik pembudidaya ikan yang berkembang di Desa Blayu dilihat berdasarkan  cara pembudidayaan yang berkembang, yaitu dengan cara kolam ikan, minamendong, karamba, dan minapadi.  Pendekatan fenomenologi akan digunakan dalam mengkaji daerah minapolitan ini. Analsa potensi masalah  akan digunakan dalam menentukan arah perkembangan permukiman ke depan dan sebagai dasar untuk  rekomendasi perkembangan permukiman ke depan.Kata kunci : Desa Blayu, Pola Permukiman, minapolitan, minapadi, minamendong
TRANSFORMASI BAHASA RUPA WAYANG KULIT PURWA PADA PERANCANGAN MUSEUM WAYANG KEKAYON BANTUL YOGYAKARTA Ardhi Ismana; Chairil Budiarto Amiuza; Nurachmad Sujudwijono A. S.
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.393 KB)

Abstract

Arsitektur merupakan media komunikasi pesan visual yang diungkapkan melalui simbol dari arsitek atau perancang kepada para pengguna atau pengamat bangunan. Begitu pula peran visual sangat berpengaruh pada perancangan arsitektur museum. Dewasa ini gagasan perancangan museum modern dalam dalam kaitan visual arsitektur sangat berperan penting, dimana desain visual arsitektur museum sebagai interpretasi isi museum agar masyarakat lebih mudah mengingat. Selain itu visual arsitektur museum sebagai ungkapan simbol berupa skulpture penanda suatu potensi kawasan. Ada beberapa metode untuk terwujudnya perancangan visual arsitektur sebagai media komunikasi simbolik, metode yang pertama adalah pengkajian terlebih dahulu tentang objek karakter visual yang akan disampaikan dalam ranah arsitektur. Dalam perkembangannya metode yang sering digunakan berkaitan dengan kajian visual adalah teori kajian semiotika. Tahap kedua adalah kajian perancangan yang digunakan untuk memindah objek karakter visual yang dikaji keranah arsitektur. Tahap yang kedua ini dalam ranah arsitektur sering disebut metode perancangan transformasi.Kata Kunci: Arsitektur, Museum, Metode, Transformasi, Semiotika
RUMAH SUSUN DENGAN KONSEP BIOKLIMATIK DI KOTA MALANG Delfta Yugaswara; Beta Suryokusumo; Subhan Ramdlani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (751.568 KB)

Abstract

Kota Malang merupakan salah satu kota terpadat penduduknya di Jawa Timur. Bertambahnya penduduk yang tidak diimbangi dengan bertambahnya lahan, membuat harga properti menjadi mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat yang berpenghasilan rendah. Solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah menyediakan permukiman vertikal dengan harga sewa/beli terjangkau yang biasa disebut rumah susun (untuk selanjutnya disingkat rusun). Untuk itu pemerintah kota Malang merencanakan membuat rusun di kawasan Kedung kandang Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dan programatik. Analisa dilakukan berdasarkan survey lokasi dan hasil pencarian data berupa data fisik tapak, kependudukan, dan klimatologi. Sedangkan, studi komparasi dilakukan terhadap Rumah Susun yang memakai respon terhadap ikim sebagai referensi. Kajian yang dilakukan antara lain mengenai aspek tanggap iklim. Kajian dilakukan untuk membantu dalam memahami karakteristik bangunan terhadap iklim. Dengan kajian ini diharapkan dengan konsep arsitektur bioklmatik yang merupakan konsep desain bangunan tanggap iklim terhadap tempat bangunan itu berada, tidak terkecuali penerapannya pada rusun. Kata kunci : rumah susun, tanggap Iklim, bioklimatik
KARAKTER SPASIAL BANGUNAN KOLONIAL RUMAH DINAS BAKORWIL KOTA MADIUN Pipiet Gayatri Sukarno; Antariksa Antariksa; Noviani Suryasari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.569 KB)

Abstract

Eksistensi bangunan kolonial Belanda semakin mengalami kemunduran di Indonesia khususnya kota-kota kecil karena kurangnya kepedulian akan bangunan bersejarah. Bangunan rumah dinas Bakorwil adalah salah satu bangunan kolonial Belanda yang masih bertahan di Kota Madiun namun telah mengalami perubahan yang telah menyesuaikan kebutuhan dari pengguna bangunan. Tujuan penelitian mengkaji pola ruang dari rumah dinas Bakorwil untuk mengetahui karakter spasial dari bangunan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif yaitu metode dengan cara menganalisis dan mendeskripsikan pola ruang dari bangunan yang kemudian dapat disimpulkan karakter spasial bangunan. Pada awalnya ruang dalam bangunan rumah dinas Bakorwil menggambarkan langgam Indische Empire Style, hal tersebut terlihat dari denah bangunan yang simetris seimbang antara sisi utara dan selatan bangunan. Terdapat pusat ruang atau Centre Room yang menjadi orientasi ruang dan sirkulasi bangunan. Selain itu serambi bangunan yang mengelilingi sisi utara hingga selatan bangunan dan teras depan bangunan yang terhubung dengan teras belakang bangunan melalui ruang tengah bangunan.Kata kunci : Pola ruang, karakter spasial, bangunan kolonial Belanda
TRANSFORMASI DAMAR KURUNG SEBAGAI PENDEKATAN PERANCANGAN PUSAT SENI RUPA TRADISI GRESIK Demmy Septya Basuki; Indyah Martiningrum; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1787.127 KB)

Abstract

Arsitektur memiliki wujud yang kian beragam dari masa ke masa, dengan karakternya yang khas yang dimunculkan oleh perancang. Karakter ini muncul dari proses yang dilalui arsitek dengan berbagai macam cara, salah satunya transformasi. Transformasi tidak hanya sekedar pada bentuk, tetapi mencakup 3 aspek pembentuk arsitektur yaitu form (bentuk) – meaning (makna) – function (fungsi). Dalam arsitektur, transformasi tidak hanya berangkat dari hal arsitektural, namun bisa dari non-arsitektural, contohnya seni rupa.Salah satu seni rupa tradisi yang dimiliki Indonesia adalah seni Damar Kurung asal Gresik, yang merupakan simbol warisan budaya yang turun-temurun. Dalam konteks melestarikan simbol budaya ini, disediakan sebuah wadah untuk memperkenalkan lebih dalam kepada masyarakat, yaitu pusat seni yang mencirikan lingkungan. Karakter bangunan yang diambil berasal dari Damar Kurung itu sendiri, yang merupakan simbol budaya Gresik. Pada kasus ini bertujuan menjelaskan tahapan proses transformasi dari Damar Kurung ke dalam wujud arsitektural. Dalam metode ini, digunakan dua aspek, yaitu aspek pengamatan dan aspek desain. Aspek pengamatan mencakup prinsip-prinsip Damar Kurung yang dapat membentuk ide arsitektural, sedangkan aspek desain digunakan sebagai dasar untuk tahapan eksplorasi dalam mendesain. Tahapan eksplorasi yang dilakukan berdasarkan aspek pembentuk arsitektur, yaitu berawal dari form (bentuk) yang diambil dari segi visual Damar Kurung untuk diperoleh wujud dasarnya, kemudian dikembangkan pada tahap meaning (makna) yang memasukkan unsur makna dari Damar Kurung ke dalam arsitektur, dan tahap terakhir function (fungsi), yaitu memasukkan unsur-unsur site dan program ruang yang berpengaruh terhadap wujud transformasi akhir dari pusat seni.Kata Kunci : transformasi arsitektur, aspek arsitektur, damar kurung, seni tradisi, pusat seni
OPTIMALISASI KINERJA PENCAHAYAAN ALAMI PADA INTERIOR KANTOR JASA DI JAKARTA SELATAN Rizky Amalia Achsani; Jusuf Thojib; Rinawati Puji Handajani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.908 KB)

Abstract

Kenyamanan visual adalah salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam perancangan interior kantor. Dengan kondisi Kota Jakarta yang memiliki potensi pencahayaan alami sepanjang tahun, maka diharapkan pencahayaan alami dapat dijadikan sumber pencahayaan pada interior. Kenyamanan visual dipengaruhi oleh kinerja pencahayaan alami pada interior. Metode yang digunakan adalah melalui pendekatan kuantitatif pada proses evaluasi pasca huni serta pengujian variabel-variabel melalui eksperimen desain. Untuk mendapatkan kinerja pencahayaan yang optimal, maka kinerja pencahayaan alami pada tapak dan bangunan juga harus optimal. Kinerja pencahayaan alami pada tapak yang ditentukan oleh kondisi iklim dan pola pembayangan bangunan sekitar tapak menunjukkan hasil yang optimal. Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, perlu adanya kinerja pencahayaan alami pada bangunan dengan penggunaan pencahayaan alami dan perancangan shading device. Optimalnya kinerja pencahayaan alami pada bangunan, penggunaan jenis workstation untuk job leader dan perubahan bahan sekat workstation menjadi kaca sandblast mempengaruhi kenaikan intensitas pencahayaan di interior. Perubahan penataan workstation yang mengikuti arah datang cahaya dan perubahan pada lapisan furnishing elemen ruang berpengaruh terhadap terpenuhinya indeks kesilauan dan distribusi pencahayaan yang merata.Kata kunci: kinerja, pencahayaan alami, kantor
Interior Ruang Kelas pada Taman Kanak-Kanak Luar Biasa Tunanetra Di Malang Berdasarkan Pedoman Mobilitas dan Orientasi Itroty hadi; Rinawati Puji Handajani; Triandi Laksmiwati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (805.333 KB)

Abstract

Perkembangan fisik yang menyimpang pada anak tunanetra akan menghambat penyesuaian diri pada anak tersebut. Gangguan yang ada menyebabkan anak tunanetra memiliki keterbatasan dalam mobilitas dan orientasi. Mobilitas dan orientasi menjadi kebutuhan utama anak tunanetra karena berkaitan dengan kemampuan bergerak anak dari satu tempat ke tempat lain. Mobilitas dan orientasi sebaiknya ditangani sejak dini dan didapatkan melalui pendidikan di taman kanak-kanak. Sebagai tempat belajar utama siswa, ruang kelas dapat berperan sebagai media latih mobilitas dan orientasi. Perancangan ruang kelas didasari analisa anak tunanetra pada masing-masing klasifikasi serta analisa mobilitas dan orientasi, sehingga didapatkan kriteria perancangan ruang kelas. Penerapan kriteria perancangan ruang kelas berdasarkan hasil analisa anak tunanetra terkait mobilitas dan orientasi, dilakukan untuk mendapatkan perancangan ruang kelas yang dapat mendukung mobilitas dan orientasi siswa.Kata kunci: ruang kelas, anak tunanetra, mobilitas dan orientasi
POSISI WANITA PADA RUMAH TRADISIONAL BAANJUNGAN DI BANJARMASIN Muhammad Rifqi; Antariksa Antariksa; Noviani Suryasari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.156 KB)

Abstract

Arsitektur merupakan hasil kebudayaan manusia. Masyarakat Banjar memposisikan wanita dalam posisi yang sangat penting. Posisi wanita sebagai pengguna dari ruang sosial dalam masyarakat Banjar memegang peranan penting dalam keluarga, hal ini dibuktikan dengan beberapa aktivitas utama yang hanya dikerjakan oleh wanita dalam kehidupan sehari-hari. Bahasan ini menggunakan metode penelitian deksriptif kualitatif yang didapat dari data primer dan sekunder. Bahasan ini memfokuskan pada Rumah Tradisional Banjar Baanjungan yang merupakan arsitektur klasik Banjar yang tidak banyak dibuat lagi dalam bentuk aslinya. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa peran wanita dalam masyarakat Banjar sangat penting yang dibuktikan dengan penempatan posisi wanita dalam rumah Baanjungan yang sangat terlindung. Posisi wanita berada pada ruang Palidangan dan Padapuran yang berada setelah ruang paling depan yaitu ruang Palataran dan Panampik Basar.Kata kunci: posisi wanita, rumah Baanjungan

Page 1 of 2 | Total Record : 12