cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 41 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2016)" : 41 Documents clear
Kriteria Desain Fasade Pembentuk Karakter Visual Bangunan Universitas Tanjungpura Mariyah Nurul Fikroh; Rinawati P Handajani; Haru Agus Razziati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fasade bangunan merupakan elemen penting dalam penyampaian dari fungsi, makna serta suatu masa dari kebudayaan saat bangunan itu berdiri. Ketidakseragaman fasade bangunan dapat menyebabkan memburuknya kualitas visual kawasan dan lunturnya identitas suatu kelompok bangunan. Sebagai Universitas Negeri yang terbesar di Kalimantan Barat dan mengusung tema sebagai “public university”, komposisi visual dari fasade bangunan di Universitas Tanjungpura perlu diperhatikan untuk meningkatkan identitas kawasan kampus, yang diidentifikasi memiliki karakteristik bangunan Melayu. Dengan menggunakan metode tipologi dan deskriptif-analitis, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik fasade pada sampel bangunan eksisting sesuai dengan masing-masing fungsi, yaitu fungsi non-akademik manajemen dan akademik umum. Dari kedua karakteristik tersebut, diambil karakter pengikat yang dapat dijadikan kriteria desain fasade agar bangunan baru dapat dibangun selaras dengan bangunan lama dan dapat memperkuat identitas kawasan. Beberapa elemen fasade yang dapat digunakan sebagai karakter pengikat adalah komponen atap bangunan, ornament, komposisi simetri, irama, geometri serta unsur warna dan material.Kata Kunci: fasade, identitas kawasan, kriteria desain
Bangunan Pusat Konvensi sebagai Landmark Kawasan Tenggara Kota Malang Daniel Tria Pramono; Triandriani Mustikawati; Sigmawan Tri Pamungkas
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaaan landmark sebagai titik acuan pengamat terhadap suatu lokasi spasial telah dipertimbangkan Karsten dalam perencanaan Malang pada masa kolonial (Handinoto,1996). Kepadatan kota saat ini menuntut adanya perkembangan ke arah Malang Tenggara, sebuah kawasan luas yang masih minim keistimewaan. Berdasar pada RDTR Kota Sub Pusat Malang Tenggara 2012-2032, kawasan tersebut direncanakan untuk pembangunan sebuah Pusat Konvensi yang saat ini menjadi fasilitas paling dibutuhkan untuk memajukan sektor pariwisata kota. Kepentingan sebuah pusat konvensi ini dapat menjadikannya sebuah titik acuan baru Malang, khususnya kawasan Malang Tenggara. Dalam pencapaiannya membentuk sebuah ciri khas landmark pada bangunan pusat konvensi, cara utama adalah dengan menyesuaikan aspek-aspek pembentuk landmark pada tipologi bangunan pada konteks kawasan terkait. Kepentingan sudut pandang dan kepentingan bentuk (Appleyard dalam Broadbent, 1980) merupakan aspek utama yang harus diolah untuk membentuk sebuah keistimewaan yang menonjol. Kepentingan sudut pandang membentuk sebuah keistimewaan lokasi dimana bangunan dapat terlihat dengan jelas. Pada kasus konteks kawasan ini, bentuk dan tekstur pada kepentingan bentuk merupakan aspek utama yang dapat menguatkan keberadaan landmark.Kata kunci: landmark, keistimewaan, bentuk, sudut pandang
Laboratorium Alam SMA Trensains Tebuireng dengan Pendekatan Arsitektur Berkelanjutan Fatma Zahrotun Nisa'; Abraham Mohammad Ridjal; Subhan Ramdlani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan kurikulum 2013 dilatarbelakangi fakta pada sebagian besar sekolahdi Indonesia yang lebih mengedepankan sistem pembelajaran dalam ruangan yangcenderung statis, khususnya pada mata pelajaran sains kealaman. Untuk itu,pengembangan kurikulum ditekankan pada relevansi dengan kebutuhan kehidupan,artinya tidak memisahkan peserta didik dengan lingkungan alam. SMA Trensains(pesantren sains) memiliki rencana pengembangan laboratorium hidup untukmempelajari ayat-ayat semesta, sehingga dibutuhkan wadah untukmengintegrasikan pembelajaran dengan lingkungan alam berupa laboratoriumalam. Perancangan laboratorium yang terintegrasi dengan alam dapat menghasilkandesain yang optimal dengan mengimplementasikan gagasan desain arsitekturberkelanjutan yang terbebas dari label tertentu. Pragmatik kontekstual merupakanmetode perancangan yang digunakan untuk menerapkan parameter desainarsitektur berkelanjutan, metode tersebut bersifat deduktif dan induktif yang dapatkontekstualkan dengan lingkungan alam yang lebih fleksibel. Hasil rancanganlaboratorium alam menerapkan pendekatan arsitektur berkelanjutan berdasarkanparameter pendekatan eco-technic, eco-centric, eco-aesthetic, eco-cultural, ecomedical,dan eco-social. Perancangan laboratorium alam melalui pendekatan desainberkelanjutan bertujuan mewadahi aktivitas pembelajaran SMA Trensains dalammata pelajaran sains kealaman. Selain itu, pemahaman dan sikap peduli terhadaplingkungan merupakan pesan yang dapat tersampaikan melalui perancanganlaboratorium alam kepada masyarakat pelajar.Kata kunci: sains; laboratorium alam; arsitektur berkelanjutan
Evaluasi Penghawaan Alami Ruang Kelas di Sekolah dengan Menggunakan Teknik Simulasi CFD Mahizar Mandika Muhammad; Heru Sufianto; Beta Suryokusumo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sekolah merupakan salah satu fasilitas yang digunakan untuk menerapkan pendidikan sebagai proses aktivitas edukasional. Ketidaknyamanan suasana ruang kelas dapat menimbulkan efek negatif yang mempengaruhi efektifitas kegiatan belajar mengajar. Salah satu faktor yang mempengaruhi efektivitas penghawaan alami yakni kesesuaian penggunaan sistem penghawaannya. Sistem penghawaan alami yang tidak sesuai dengan kondisi ruangan akan mengakibatkan sirkulasi udara dalam ruangan tidak berjalan dengan optimal. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kecepatan dan persebaran angin di dalam ruang kelas di SMA Negeri 4 Malang, yang nantinya diberikan rekomendasi jendela agar memenuhi standar angin dalam ruang yang telah ditetapkan oleh SNI 03-6572-2001 dan juga meninjau dari literatur – literatur yang terkait dengan penghawaan alami bangunan.Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu simulasi digital, menggunakan software Autodesk Flow Design 2015. Software dapat menunjukkan kecepatan, arah, dan persebaran angin dalam bentuk grafis - kuantitatif. Hasil dari evaluasi dan rekomendasi jendela yang kemudian dibuktikan dengan simulasi, menunjukkan adanya perubahan pada persebaran dan kecepatan angin. Penghawaan alami bangunan pada tiap tipe ruang kelas menjadi lebih optimal.Kata kunci: sekolah, ruang kelas, penghawaan alami, buk
Konsep Arsitektur Ramah Lingkungan pada Fasilitas Pelelangan Ikan di PPN Pondokdadap Sendangbiru Agus Sulistio; Heru Sufianto; Ali Soekirno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fasilitas pelelangan ikan di pelabuhan perikanan Sendangbiru berada di KecamatanSumbermajing Wetan Kabupaten Malang yang berhadapan langsung dengan SamuderaHindia. Potensi perikanan di perairan ini belum termanfaatkan secara optimal. Denganadanya potensi tersebut, pemerintah meningkatkan status pelabuhan perikananSendangbiru dari pelabuhan perikanan pantai menjadi pelabuhan perikanan nusantara.Aktivitas di pelabuhan perikanan berdampak pada lingkungan pelabuhan, berupapencemaran udara, air, konsumsi energi dan kenyamanan beraktivitas di dalamnya,sehingga dibutuhkan konsep arsitektur ramah lingkungan dalam perancangan pelabuhanperikanan khususnya fasilitas pelelangan ikan. Konsep arsitektur ramah lingkungan yangada di Indonesia telah dikembangkan oleh Lembaga Green Building Council Indonesia(GBCI). Oleh karena itu, perancangan fasilitas pelelangan ikan di pelabuhan perikanannusantara Sendangbiru didasarkan pada kriteria green building dari GBCI. Penerapankriteria green building dari GBCI meliputi aspek tata guna lahan, efisiensi dan konservasienergi, konservasi air, sumber siklus material, kesehatan dan kenyamanan ruang dalam,dan manajemen lingkungan bangunan. Hasil rancangan fasilitas pelelangan ikan dengankonsep arsitektur ramah lingkungan telah memenuhi kriteria GBCI setidaknya 43 poindari 77 poin untuk capaian peringkat bronze.Kata Kunci: Tempat pelelangan ikan, arsitektur ramah lingkungan, GBCI
Aspek Tanggap Iklim pada Perancangan SMK Multimedia di Kota Yogyakarta Irawan Sandi Dana Ramadhan; Agung Murti Nugroho; Beta Suryokusumo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan aspek tanggap iklim pada perancangan SMK Multimedia ini dilatarbelakangi oleh permasalahan kebutuhan sarana pendidikan yang ada di KotaYogyakarta yang saat ini tengah berkembang dan tanggapan bangunan SMKMultimedia terhadap iklim. Penerapan green building pada SMK masih jarangditerapkan di Yogyakarta yang memiliki iklim tropis. Metode penelitian ini diawalidengan memaparkan masalah‐masalah iklim, masalah yang terkait pada tapak sertalingkungan sekitar, pola aktivitas pelaku dan kendala‐kendala yang terjadi padaSMK Multimedia. Selanjutnya hasil tersebut akan digunakan pada tahapperancangan SMK Multimedia. Terdapat standar khusus yang digunakan untukruangan laboratorium tanggap lingkungan, dimana laboratorium ini harus kedapdengan udara luar terutama debu yang nanti dapat merusak perangkat elektronikyang ada di dalam ruangan laboratorium. Dari lima unsur iklim, unsur yang dapatdimanfaatkan untuk desain tanggap iklim adalah dari unsur matahari. Unsurmatahari digunakan untuk pencahayaan ke dalam ruangan namun denganmasuknya pencahayaan alami, radiasi matahari pun juga akan masuk ke dalamnya,sehingga perlu penanganan khusus dalam mendesain selubung bangunannya.Penekanan desain sekolah yang mampu berperan aktif dalam perbaikan lingkunganini, diharapkan dapat meningkatkan efektivitas keadaan lingkungan sekaliguspembentuk rasa nyaman pengguna dalam proses belajar‐mengajar.Kata kunci: sekolah, multimedia, tanggap iklim
Kualitas Kawasan Wisata Bunga Sidomulyo Kota Batu Berdasarkan Preferensi Masyarakat Adelia Ayu Astrini; Jenny Ernawati; Sigmawan Tri Pamungkas
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak dicanangkan sebagai kota wisata, Kota Batu terus mengembangkan potensiwisatanya terutama pada aspek agrowisata. Subsektor pertanian seperti bunga potongdan bunga hias menjadi potensi wisata yang kini mulai dimanfaatkan oleh petanisetempat. Melihat fenomena ini, Pemerintah Kota Batu menyusun Rencana IndukPengembangan Desa Wisata yang memuat rencana pengembangan desa-desa denganpotensi wisata tinggi di Kota Batu menjadi desa wisata. Hal ini dijadikan sebagai bahanpenelitian mengenai preferensi masyarakat akan pengembangan desa wisata kedepannya. Penelitian ini berlokasi di Desa Sidomulyo, yang telah dikenal sebagaikawasan wisata bunga namun belum banyak dikenal oleh wisatawan. Dengan menelitikualitas kawasan sesuai preferensi masyarakat, yang meliputi petani lokal danpengunjung lokasi studi, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan dankeinginan masyarakat mengenai desa wisata. Pengukuran preferensi dilakukan denganalat kuesioner menggunakan Skala Likert, dan dianalisis menggunakan weighted meanscore. Pernyataan kuesioner berdasarkan aspek pembentuk pariwisata yaitu attraction,facilities, transportation, infrastructure dan hospitality. Hasil pengukuran preferensimenunjukkan penilaian kualitas yang berbeda-beda menurut tiap kelompok responden,yang kemudian dikelompokkan menjadi nilai positif dan negatif, sehingga dapatdiketahui aspek mana yang paling membutuhkan perbaikan sesuai kebutuhankelompok pengguna kawasannya.Kata kunci: preferensi, wisata bunga, kualitas kawasan
Redesain Museum Airlangga dengan Pendekatan Simbolik Kerajaan Kediri Muhammad Syafrudin Hilal; Herry Santosa; Bambang Yatnawijaya
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Museum Airlangga merupakan museum yang mengelola benda peninggalan masa lalu di Kota Kediri. Museum ini mengelola benda peninggalan dari Kerajaan Kediri mulai awal masa berdiri hingga berakhir pemerintahan Kerajaan Kediri. Museum Airlangga termasuk jenis museum arkeologi karena jenis peninggalan yang termasuk peninggalan sejarah masa lampau. Museum Airlangga yang sekarang dijadikan satu-satunya fasilitas pemerintah kota untuk menampung, memelihara dan menjaga barang arkeologi peninggalan Kerajaan Kediri. Museum Airlangga keadaannya memprihatikan. Kondisi Museum Airlangga memprihatinkan, sebab bagian bangunan di museum tersebut roboh dan tidak kunjung diperbaiki. Museum Airlangga kurang mencerminkan museum kekinian jika ditinjau dari teori seven trend museum. Menjawab permasalahan tersebut, perancangan ulang merupakan salah satu pemecahan yang solutif untuk memecahkan masalah dalam museum. Pengkajian yang mendalam dan hasil evaluasi yang selektif mampu memberikan jawaban sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan museum zaman sekarang. Museum Airlangga yang akan dirancang ulang merupakan salah satu ikon Kota Kediri karena merupakan salah satu museum arkeologi terbesar kedua di jawa timur. Peninggalan Kerajaan Kediri yang kental di dalam museum membawa filosofi yang kuat sehingga mampu menjadi materi yang kuat dalam merancang ulang museum. Sejarah Kerajaan Kediri merupakan interpretasi dari keberadaaan Kerajaan Kediri sehingga mampu dijadikan simbol yang tepat dalam merancang ulang dengan pendekatan simbolik.Kata Kunci: museum, sejarah, perancangan ulang, simbolik,
Pola Ruang Dalam Banua Tongkonan dan Banua Barung-Barung di Dusun Tonga, Kelurahan Panta'nakan Lolo, Toraja Utara Christabel Annora P. Parung; Antariksa Antariksa; Noviani Suryasari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah Tradisional Toraja merupakan salah satu rumah tradisional yang terdapat di Indonesia, dan letaknya di Toraja, Sulawesi Selatan. Rumah tradisional Toraja ini sendiri dibagi menjadi dua jenis yaitu Banua Tongkonan dan Banua Barung-barung. Banua Tongkonan adalah rumah tradisional asli Toraja, dan Barung-barung merupakan rumah tambahan di samping Tongkonan yang dapat diperhitungkan sebagai rumah tradisional pula karena pola ruang dalamnya yang mengikuti pola ruang rumah Toraja. Dewasa ini sudah banyak rumah-rumah tradisional Toraja baik di kota maupun di desa yang rusak, tidak terawat, bahkan beberapa sudah tidak dihuni dan tidak berupa sebuah kesatuan yang utuh. Dusun Tonga merupakan dusun di mana rumah-rumah tradisional Toraja masih dihuni dan dirawat oleh para penghuninya dan dusun ini terletak di Kecamatan Kesu, sebuah kawasan yang rumah tradisionalnya masih dilestarikan dan dihuni oleh penghuninya. Penelitian yang dilakukan di Dusun Tonga ini terfokus pada pola ruang dalam yang meliputi susunan ruang, hirarki, transisi, simbol, dan aktivitas ruang di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan survei langsung ke lapangan, dengan objek penelitian yaitu banua Tongkonan dan banua Barung-barung yang terletak di kawasan ini. Hasil studi yang didapatkan menunjukkan susunan ruang dalam pada Banua Tongkonan dan Banua Barung-barung dari beberapa jenis klasifikasi yang telah dibagi berdasarkan pola ruang dalamnya.Kata kunci: Rumah Toraja, banua tongkonan, barung-barung, rumah tradisional, pola ruang dalam
Karakter Spasial Bangunan Utama Kompleks Asrama Korem 081/DSJ Madiun (EKS MIDDELBARE BOSCHBOUWSCHOOL TE MADIOEN) Rizki Nimas Exacti; Antariksa Antariksa; Noviani Suryasari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang masih ada saat ini banyak mengalami kemunduran. Kurangnya kepedulian dan rasa memiliki dari masyarakat adalah penyebab utama tidak terpelihara bahkan kerusakan bangunan bersejarah. Kompleks Asrama Korem 081/DSJ terdiri dari bangunan- bangunan yang sudah mengalami banyak perubahan akibat dari berubahnya fungsi utama dari kompleks bangunan itu sendiri. Tujuan studi ini mengetahui karakter spasial bangunan utama kompleks Asrama Korem 081/DSJ Madiun. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan mendeskripsikan dan menganalisis elemen-elemen pembentuk karakter spasial bangunan. Pada awalnya bangunan utama pada kompleks Asrama Korem memiliki denah yang simetris, seimbang antara sisi barat dan timur bangunan. Berorganisasi ruang linier dan bersirkulasi grid. Bangunan berorientasi menghadap ke arah Utara dan Jalan Raya Diponegoro, dan mempunyai teras bangunan keliling dan selasar yang menghubungkan bangunan utama dengan bangunan lainnya.Kata Kunci : Karakter spasial, bangunan kolonial Belanda