cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 41 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2016)" : 41 Documents clear
Optimasi Pemerataan Tingkat Terang Cahaya pada Rancangan Ruang Kelas Bangunan Pendidikan Nonformal di Kota Malang Danis Tria Kurnia; Beta Suryokusumo; Sigmawan Tri Pamungkas
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan dunia pendidikan nonformal di Kota Malang hingga tahun 2014 tercatat terdapat 225 Lembaga Pendidikan nonformal yang berdiri. Berdasarkan hasil analisa data dari instansi-instansi terkait, 68% lembaga pendidikan nonformal menempati bangunan yang belum memenuhi standar. Hal ini dikarenakan belum adanya bangunan pendidikan terencana khusus untuk pendidikan nonformal di Kota Malang. Rancangan bangunan pusat pendidikan nonformal merupakan solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam bangunan pendidikan, pencahayaan ruang kelas merupakan faktor penting, karena dapat mempengaruhi efektifitas dan efisiensi kegiatan belajar. Kegiatan belajar-mengajar yang berlangsung di ruang kelas tidak tergantung cuaca, sehingga membutuhkan bantuan pencahayaan buatan untuk memenuhi kenyamanan kebutuhan visual. Dibutuhkan perencanaan kondisi pencahayaan yang tepat antara pencahayaan alami dan buatan, agar keberadaan cahaya buatan bersinergi dengan kondisi cahaya alami. Kajian perancangan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan dalam proses evaluasi pencahayaan ruang kelas dengan metode simulasi menggunakan software DIALux 4.12. Hasilnya untuk menghadirkan kondisi pencahayaan yang optimal pemerataan tingkat terang/illuminance setiap waktu, diwujudkan dengan perencanaan sistem kontrol cahaya pasif dan aktif.Kata kunci: Optimasi pencahayaan, ruang kelas, bangunan pendidikan nonformal
Semiotika Arsitektur Masjid Jamik Sumenep-Madura Femy Andromedha Atthalibi; Chairil Budiarto Amiuza; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masjid Jamik Sumenep merupakan bangunan prasejarah dan wujud produk karya seni arsitektur dengan perpaduan kebudayaan dan kepercayaan. Masjid Jamik Sumenep, gapura dan menara memiliki bentuk yang khas tampilan visual fasad bangunan yang dimana terdapat tanda atau simbol arsitektur dalam bentuk ragam hias maupun elemen arsitektur bangunan yang perlu dikaji. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali dan memaparkan obyek studi yang kemudian hasil pemaparan tersebut dianalisa dengan menggunakan teori semiotika arsitektur sintaksis, pragmatik dan semantik. Hasil penelitian ini dapat mengetahui relasi tanda dalam bentuk visual fasad bangunan dan fungsi karya arsitektur dalam membentuk bahasa tanda dan makna yang terdapat pada Masjid Jamik Sumenep, gapura dan menara.Kata Kunci : Semiotika, Masjid Jamik Sumenep, sintaksis, pragmatik, semantik
Kriteria Desain Hospice Untuk Pasien Anak Penderita Kanker Insani Aulia Qisti; Rinawati P Handajani; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hospice merupakan tempat perawatan untuk pasien yang kehilangan kemampuan diri dalam pemenuhan kebutuhan fisik, emosional dan spiritual guna peningkatan kualitas hidup pasien maupun keluarga. Pasien kanker dikategorikan menjadi penyakit kronis yang memerlukan hospice sebagai tempat perawatan mereka. Pasien anak penderita kanker memiliki karakteristik khusus yang berbeda perawatannya dengan pasien kanker dewasa. Perkembangan anak seiring usianya harus tetap berjalan meskipun mereka sedang mengidap penyakit kronis. Keterbatasan kemampuan diri mereka dalam beraktivitas membutuhkan ruang yang dapat membantu aktivitas mereka di kehidupan sehari-hari, setelah pengobatan sampai mereka kembali pulih. Oleh karena itu dibutuhkan kriteria desain hospice untuk memenuhi kebutuhan arsitektural ruang dalam pemenuhan kebutuhan aktivitas pasien anak penderita kanker. Hasil akhir dari penelitian ini adalah keluarnya kriteria desain dalam mendesain hospice yang dikumpulkan dari analisis isi dari beberapa literatur. Kriteria desain tersebut antara lain organisasi ruang, sirkulasi, tata dan dimensi perabot, material/finishing, warna, pencahayaan, penghawaan, akustik, dan desain ruang luar.Kata kunci: hospice, pasien anak, kanker
Penerapan Tata Massa Kampung Sunda Pada Rancangan Resort di Sentul Bogor Yunita Paskaria; Noviani Suryasari; Rinawati P Handajani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada kajian ini, arsitektur tradisonal yang ingin diterapkan dalam resort yaitu karakterhunian dalam Kampung Adat Sunda, hal ini dilakukan untuk memperkenalkan kembalibudaya Sunda yang mulai hilang di wilayah Bogor sebagai destinasi tujuan wisata. Prosespenyetaraan elemen dalam kampung adat kedalam resort dilakukan dengan menganalisamasing-masing variabel yang diperoleh dari studi komparasi standar resort pada elemenfungsional dan studi komparasi resort berkonsep arsitektur lokal pada masing-masingelemen arsitekturalnya. Metode yang digunakan yaitu deskriptif-analitik denganmenjelaskan masing-masing elemen terkait, kemudian dianalisa menggunakan teori-teoriyang relevan. Hasil dari kajian berupa rancangan resort berkarakter kampung adat Sundayang telah mengalami penyetaraan pada tata massa ruang luar berupa penyusunanzonifikasi, organisasi dan sirkulasi ruang, penyetaraan fungsi bangunan dalam kampungadat sebagai fasilitas penunjang resort, serta penyetaraan tampilan bangunanmenggunakan material alam sesuai dengan karakter bangunan kampung adat Sunda.Kata kunci: arsitektur tradisional, Kampung Adat Sunda, resort, Kota Bogor.
Perancangan Malang Convention Centre dengan Penerapan Struktur Cangkang Toni Yosua Gunawan; Tito Haripradianto; Rinawati P Handajani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan perekonomian Kota Malang sebagian besar digerakan oleh sektor tersier yang salah satu pendapatan terbesarnya terletak pada bidang persewaan dan jasa perusahaan. Kerjasama sinergis antara pemerintah daerah, pihak swasta, dan masyarakat dalam mengembangkan sektor perekonomian di daerah dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan perekonomian. Dengan peran pemerintah dalam penyediaan infrastruktur berupa convention centre dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan dapat memenuhi harapan luas dari seluruh komponen masyarakat. Salah satu faktor yang mendorong penggunaan convention centre adalah adanya pertemuan-pertemuan antara para profesional, negarawan, cendikiawan ataupun usahawan beserta tenaga kerja untuk meningkatkan hasil produksi. Bangunan yang melibatkan banyak orang bahkan ratusan disetiap acara sebagai wadah kegiatan pertemuan, pertunjukan hingga pameran yang melibatkan banyak orang bahkan ratusan disetiap acara memerlukan penerapan teknologi struktur bentang lebar. Penerapan teknologi struktur cangkang dapat mengatasi kebutuhan ruang, ketersediaan fasilitas pada convention centre seperti convention hall, exhibition hall, dan auditorium hall dengan kualitas ruang bebas kolom.Kata kunci: convention centre, teknologi bangunan, struktur cangkang
Sekolah Fotografi di Kota Malang Dengan Pendekatan Analisa Space Syntax Bayu Setyanugraha Rushadi; Tito Haripradianto; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019 merupakan rencana untuk mengembangkan aspek sumber daya manusia dalam bidang fotografi dengan cara menciptakan lembaga pendidikan fotografi. Kota Malang telah memiliki lembaga pendidikan fotografi, namun jumlahnya tidak sebanding dengan banyaknya kegiatan dari komunitas fotografi. Maka dari itu, kota Malang memerlukan tambahan lembaga pendidikan fotografi, serta menjadi pusat kegiatan fotografi dalam bentuk sekolah fotografi. Permasalahan yang akan dihadapi dalam perancangan sekolah fotografi ini adalah permasalahan kejelasan ruang, karena pada umumnya bangunan dengan fungsi pendidikan memiliki fasilitas dan ruang yang kompleks. Kompleksnya fasilitas dan ruang tersebut, menyebabkan pengguna ruang kesulitan dalam menemukan ruang utama. Oleh karena itu, space syntax dirasa sesuai untuk fokus dan pemecah permasalahan umum bangunan dengan fungsi pendidikan, karena kejelasan ruang dapat diukur dengan menggunakan space syntax. Metode yang digunakan dalam perancangan sekolah fotografi ini adalah metode pragmatis dan metode simulasi. Metode pragmatis digunakan untuk menentukan bentuk ruang, sedangkan metode simulasi digunakan untuk mengukur tingkat kejelasan ruang.Kata kunci: sekolah fotografi, kejelasan ruang, space syntax
Resort Dengan Pendekatan Lansekap di Kawasan Pantai Selatan Balekambang Kabupaten Malang Mey Puspita Sari; Subhan Ramdlani; Nurachmad Sujudwijono
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Balekambang termasuk dalam Kawasan Pariwisata Pantai Selatan Pulau Jawa yang terus dikembangkan oleh pemerintahan. Didukung dengan adanya rencana pembangunan akomodasi dan pembangunan insfrastruktur jalan yaitu Jalur Lintas Selatan agar lebih mudah dalam mengakses kawasan pariwisata ini. Diharapkan pembangunan akomodasi dapat memenuhi kebutuhan para pengunjung dan dapat menambah jumlah kunjungan wisatawan dalam maupun luar negeri. Pembangunan akomodasi pada daerah Pantai Selatan Pulau Jawa harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan, karena berbatasan langsung dengan Samudra Hindia yang tak jarang terjadi gelombang tinggi dan abrasi yang dapat mengakibatkan kerusakan. Oleh karena itu diperlukan konsep pendekatan lansekap untuk mengetahui kondisi, potensi, dan menambah daya tarik pada Kawasan Pantai Balekambang agar pembangunan akomodasi memiliki ciri khas tersendiri. Metode yang dipilih dalam penelitian ini adalah metode analisis dan deskriptif yaitu dengan cara memahami fenomena dan kondisi pada tapak. Penelitian ini diawali dengan survey lokasi, pencarian studi komparasi, pemilihan teori dan menetapkan kriteria perancangan yang sesuai dengan kondisi di Kawasan Pantai Balekambang. Kriteria perancangan tersebut kemudian dianalisa dan dijadikan sebuah konsep desain resort pantai yang diwujudkan dengan memperhatikan lokasi, program ruang, degradasi lahan, tanah, kualitas pemandangan, orientasi massa bangun, sirkulasi, bentuk dan tampilan bangunan, struktur, utilitas, dan lansekap mikro.Kata kunci : resort pantai, lansekap, pariwisata
Pola Aktivitas Pengunjung dalam Ruang Penghubung Kawasan Stasiun Depok Baru dan Terminal Margonda Widya Agatha Putri; Jenny Ernawati; Chairil Budiarto Amiuza
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stasiun Depok Baru dan Terminal Margonda berperan dalam memberikan akses bagi masyarakat komuter melalui penyediaan moda kereta api, bus, serta angkot sebagai layanan transportasi publik Kota Depok. Terdapat kebijakan pemerintah mewujudkan keduanya sebagai pusat transportasi terpadu dengan penyediaan hubungan ruang berdasar pada pola yang terbentuk dari pergerakan serta aktivitas. Studi bertujuan untuk mengetahui pola yang terbentuk sebagai pertimbangan menghasilkan wujud ruang penghubung yang sesuai. Environment behavior menjadi pendekatan studi melihat adanya keterkaitan antara pelaku, ruang, serta aktivitas membentuk kecenderungan perilaku pemanfaatan ruang. Penjelasan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan variabel berupa aspek perilaku dan arsitektural. Teknik behavioral mapping merekam kecenderungan pola yang terbentuk selama jangka waktu observasi. Hasil yang diperoleh menunjukkan antara aktivitas dengan ruang, serta aktivitas lainnya saling mempengaruhi. Perilaku awal yang terbentuk mempengaruhi munculnya perilaku pengunjung lainnya. Perlunya batasan dalam mengarahkan dan membatasi teritori ruang aktivitas pengunjung sehingga terwujud ruang penghubung sesuai fungsi peruntukkan melalui penyediaan ruang peralihan tansportasi yang strategis dengan memperhatikan ketersediaan elemen fisik, dimensi, serta konfigurasi ruang, serta penataan perabot antara dua kawasan.Kata kunci: ruang penghubung, pola aktivitas, environment behavior
Pelestarian Bangunan Gedung Pelayanan Perizinan Terpadu JATIM (EKS SOERABAIASCH HANDELSBLAD) Lina Mardiani; Antariksa Antariksa; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu bangunan peninggalan masa kolonial Belanda di Surabaya adalah Gedung Pelayanan Perizinan Terpadu Jatim (P2T). Pada beberapa bagian bangunan terdapat beberapa perubahan akibat dari pergantian fungsi yang dilakukan pada bangunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakter spasial, visual, dan struktural bangunan dan menentukan strategi pelestarian yang tepat. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis, evaluatif, dan developmen. Hasil studi menunjukkan bahwa bangunan memiliki pola yang simetris yang terdiri dari ruang-ruang yang tersusun dengan pola grid dan linier. Pada segi visual, fasade bangunan memiiki pengaruh dari aliran arsitektur Art Nouveau dan Art and Craft. Hal tersebut salah satunya ditunjukkan pada banyaknya elemen-elemen yang menggunakan ornamen stained glass seperti pada pintu, jendela, dan gevel. Percampuran dengan budaya lokal juga ditunjukkan pada bentuk pintu dan atap yang menyesuaikan iklim tropis serta adanya tambahan ornamen pada lisplang atap yang dipengaruhi budaya Melayu. Struktur bangunan yang masih dipertahankan adalah struktur dinding penopang dan struktur kolom. Terdapat 22 elemen dengan kategori potensial tinggi, 7 elemen potensial sedang, dan 5 elemen potensial rendah.Kata kunci: Pelestarian, bangunan kolonial, karakter spasial, karakter visual, karakter struktural
Aktivitas Ritual Pembentuk Teritori Ruang pada Pura Lingsar Lombok Mustivia Mustivia; Antariksa Antariksa; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pura Lingsar merupakan pura tertua dan terbesar yang ada di Pulau Lombok. Puraini merupakan bangunan peribadatan yang dikeramatkan atau digunakan oleh duasuku adat terbesar di Lombok, yaitu masyarakat Hindu (mayoritas beragama Hindu)dan Suku Sasak (Sasak Islam Watu Telu). Pengguna bangunan yang beragammenyebabkan jenis aktivitas ritual pada bangunan ini lebih banyak dibandingkanbangunan pura lain pada umumnya.Keharmonisan pengguna dalam penggunaanruang pada bangunan untuk melaksanakan aktivitas ritual masing-masingmenyebabkan teritori ruang yang terbentuk juga beragam. Tujuan dari studi iniadalah untuk mengetahui teritori ruang yang terbentuk oleh aktivitas ritual yang adapada Pura Lingsar Lombok. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalahmetode desktiptif kualitatif. Hasil studi ini menunjukkan teritori yang terbentuk padabangunan ini ditentukan oleh kelompok masyarakat yang terlibat di dalam sebuahritual. Teritori ruang yang terbentuk pada Pura Lingsar Ulon adalah teritori primerdan tersier,sedangkan teritori ruang yang terbentuk pada Pura Lingsar Gaduh adalahteritori primer, sekunder, dan tersier.Kata kunci: aktivitas ritual, teritori ruang, Pura Lingsar Lombok