cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 3 (2016)" : 17 Documents clear
Convention Center dalam Konteks Semiotika Reizal Adi Siswoyo; Chairil Budiarto Amiuza; Tito Haripradianto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1109.852 KB)

Abstract

Convention Center merupakan sebuah aset berharga bagi sebuah kota atau negara yang menjadikan MICE sebagai salah satu daya tarik wisatanya. Melalui tampilan visual bangunan, orang awam akan mampu mengidentifikasi apa makna yang terdapat pada desain bangunan tersebut, dan fungsi dari bangunan tersebut. Jika kita memaknai arsitektur sebagai sebuah bahasa yang digunakan para perancang untuk bekomunikasi dengan masyarakat awam, maka tampilan visual bangunan itulah yang menjadi media pertama perancang dalam berkomunikasi. Semiotika merupakan ilmu yang mempelajari tentang bagaimana mengidentifikasi sebuah tanda. Di dalam semiotika arsitektur terdapat tiga unsur yaitu sintaksis, pragmatik, dan semantik. Untuk menelusuri makna dalam sebuah desain arsitektur maka digunakan pendekatan melalui unsur semiotika semantik. Melalui pendekatan semiotika semantik arsitektur terhadap tanda – tanda visual pada sebuah desain Convention Center, diketahui bahwa desain sebuah Convention Center merupakan gambaran dari nilai – nilai lokal dan gambaran bentang alam dari lokasi bangunan tersebut berada yang terwujud dalam pengaplikasian desain, terutama pada struktur bangunan tersebut.Kata Kunci: Convention Center, Semiotika Arsitektur, Semiotika Semantik
Rancangan Gedung Pertunjukan Kesenian Tradisional di Jombang dengan Pemanfaatan Bambu sebagai Unsur Dekoratif Domita Endar Setyanti; Triandriani Mustikawati; Bambang Yatnawijaya
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.808 KB)

Abstract

Kesenian adalah salah satu diantara tujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal. Kesenian yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat bersifat sosio religious. Seni pertunjukan dibagi menjadi dua yaitu seni pertunjukan tradisional dan modern. Ciri Seni pertunjukan tradisional penyajian terkait dengan acara dalam upacara keagaamaan. Dalam perkembangannya seni pertunjukan tradisional dimiliki oleh setiap daerah, salah satunya daerah Jombang mempunyai seni pertunjukan Lerok, Besutan dan Ludruk. Seni pertunjukan tradisional ini perlu diwadahi untuk mengangkat nilai-nilai dari kesenian karena dalam kenyataannya baik sarana dan prasarananya kurang terpenuhi karena tergerus jaman yang modern ini. Oleh karena itu perlu rancangan gedung pertunjukan. Rancangan ini harus sesuai dengan standar dan dapat memvisualkan unsur tradisional sehingga harus dilengkapi unsur dekoratif. Unsur dekoratif ini menggunakan material yang bisa diterapkan di dinding, plafond dan lantai, tentunya mudah didapat, efisien dan mengangkat lokalitas bahan yaitu Bambu. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif analisis yaitu diawali dengan mengidentifikasi masalah yang ada pada lokasi, mengidentifikasi isu tentang kesenian tradisional di Jombang, isu tentang tidak adanya gedung kesenian, isu tentang penggunaan material dan pengaplikasian dekoratif. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis melalui pendekatan perancangan untuk ruang yang berkaitan dengan dekoratif bambu.Kata kunci: kesenian tradisional, dekoratif, bambu
Pola Tata Letak Masjid Pondok Pesantren Muhammad Faisol; Antariksa Antariksa; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1165.288 KB)

Abstract

Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Ia lahir dari suatu kearifan lokal Genius Loci Nusantara yang bertahan secara eksistensial selama berabad-abad. Tidak heran jika umat Islam Indonesia sudah faham jika pondok pesantren khususnya di pulau Jawa banyak melahirkan ulama terkemuka, salah satunya dari Jawa Timur. Penelitian dilakukan pada 3 Pondok Pesantren Salaf yang berumur lebih dari 50 tahun yang tersebar di 2 Kecamatan dari 18 Kecamatan di Kabupaten Sidoarjo, sehingga diharapkan pondok pesantren salaf yang terdapat pada 2 kecamatan ini dapat mewakili karakter pesantren di Kabupaten Sidoarjo. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pada pola tata massa Masjid pada pondok pesantren salaf. Dari hasil identifikasi tersebut, pada akhirnya akan didapatkan pola tata letak bangunan masjid yang terdapat pada pondok pesantren salaf serta faktor-faktor yang mempengaruhi peletakan tersebut. Bentuk penelitian ini merupakan penelitian deduktif-kualitatif yang menggambarkan dan menganalisis dengan lebih jelas menegenai pola tata letak Masjid pada pondok pesantren salaf di 2 Kecamatan di Kabupaten Sidoarjo. Hasil temuan yang diperoleh menunjukkan bahwa peletakan lokasi pondok pesantren salaf berada di bantaran anak sungai Brantas. Masjid yang berada di tengah pondok pesantren menjadi pusat orientasi dilihat dari adanya pola tata bangunan yang saling membentuk konfigurasi saling berhadapan, dengan ruang luar sebagai penyatu.Kata kunci: Pola Tata Letak, Masjid, Pondok Pesantren Salaf
Karakter Visual Fasade Bangunan Kolonial Belanda SDN Ditrotunon 1 Lumajang Anisa Riyanto; Antariksa Antariksa; Noviani Suryasari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1460.575 KB)

Abstract

Gaya arsitektur kolonial di Indonesia sangat erat kaitanya dengan sejarah perkembangan pembangunan negara ini. Bangunan-bangunan bergaya kolonial banyak tersebar diberbagai kota di tanah air. Salah satunya yang masih bertahan sampai saat ini yaitu SDN Ditotrunan 1 Lumajang. Namun seiring dengan berkembangnya jaman dan kebutuhan pengguna yang mulai bertambah fasade bangunan juga ikut mengalami perubahan yang menyesuaikan kebutuhan pengguna. Tujuan dilakukan studi ini adalah untuk mengetahui karakter visual dari fasade bangunan kolonial Belanda SDN Ditotrunan 1 Lumajang. Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dengan langkah mendekripsikan elemen-elemen visual bangunan dan kemudian dianalisis. Hasil dari analisis tersebut diharapkan dapat menyimpulkan karakter visual bangunan.Kata kunci: elemen visual, karakter visual, bangunan kolonial Belanda
Adaptasi Fisik Bangunan Rumah Tinggal di Permukiman Rawan Banjir (Studi Kasus: Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara) Dewi Widya Ariandini; Sri Utami; Bambang Yatnawijaya
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1012.079 KB)

Abstract

Kota Semarang menjadi unik memiliki pembagian wilayah Kota Atas dengan pembatasan pemanfaatan ruang bertopografi 359 - 90 mdpl dan Kota Bawah dengan ketinggian 3.5 – 0 mdpl merupakan pusat kota dan kawasan stategis. Semarang Utara menjadi Kecamatan terpadat ke empat dengan fungsi kawasan campuran berupa permukiman, daerah industry dan transportasi. Berbatasan langsung dengan Laut Jawa dan berada pada topografi rendah menjadi penyebab seringnya terjadi banjir di wilayah Semarang Utara terutama di daerah ujung laut Kelurahan Bandarharjo RW I. Kondisi permukiman padat dan daerah stategis pusat industry menjadi salah satu penyebab masyarakat menetap di permukiman rawan banjir tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi bentuk adaptasi fisik bangunan rumah tinggal di permukiman rawan banjir Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menganalisa faktor ekternal dan internal yang mempengaruhi bentuk adaptasi bangunan rumah tinggal penduduk. Hasil penelitian yang didapatkan berupa bentuk adaptasi bangunan rumah tinggal dalam kurun waktu 35 tahun yang terbagi menjadi 4 periode.Kata kunci: bentuk adaptasi fisik, rumah tinggal, permukiman banjir
Konsep Tanggap Lingkungan pada Rancangan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tambaklorok Semarang Valent Poetra Arroyan; Subhan Ramdlani; Sigmawan Tri Pamungkas
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1952.149 KB)

Abstract

Pemerintah Kota Semarang menetapkan kebijakan yang menempatkan Semarang Utara sebagai kawasan pengembangan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), merupakan fasilitas utama perikanan tangkap, berada di kawasan Tambaklorok, kelurahan Tanjung Emas. Permasalahan yang terdapat pada tapak adalah kondisi lingkungan tapak yang relatif kurang baik, seperti terjadinya penurunan muka tanah (amblesan) 11 cm/tahun dan menyebabkan kawasan tersebut nyaris berada di bawah permukaan air laut (+0,50 mdpl) sehingga rentan terhadap banjir dan rob. Kondisi iklim dan cuaca yang memiliki karakteristik, seperti angin kencang, panas matahari menyengat, dan curah hujan yang relatif tinggi juga perlu ditanggapi agar tidak memberikan dampak negatif pada bangunan. Pendekatan rancangan bangunan tanggap lingkungan digunakan sebagai metode analisis, sesuai dengan parameter perancangan aspek bangunan, terutama pada aspek bentuk ruang, massa, dan tampilan, serta aspek struktur, konstruksi, dan material. Hasil rancangan bentuk ruang, massa, dan tampilan diharapkan tanggap terhadap kondisi angin, matahari, dan hujan, serta rancangan struktur, konstruksi, dan material diharapkan tanggap terhadap kondisi tanah yang rentan terhadap amblesan dan banjir, serta stabil dan tahan terhadap angin, matahari, dan kelembaban.Kata kunci: Tempat Pelelangan Ikan (TPI), tanggap lingkungan, Tambaklorok
Bentukan Visual Arsitektur Rumah Sinom di Kelurahan Kertosari - Ponorogo Wahyuni Eka Sari; Antariksa Antariksa; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.204 KB)

Abstract

Kerajinan batik yang berkembang pada tahun 1955 menjadikan Kelurahan Kertosari sebagai kelurahan yang banyak menghasilkan batik Ponorogo. Rumah Sinom Ponorogo dijadikan sebagai rumah pembatik menjadi suatu bangunan yang banyak difungsikan. Rumah Sinom yang berada di Kabupaten Ponorogo merupakan rumah Limasan. Rumah Sinom tak lepas dari elemen – elemen pembentuk bangunan yaitu elemen visual. Karakter visual dapat mendukung karakter spasial dalam bangunan. Karakter visual dalam rumah Sinom tak hanya sebagai nilai arsitektural semata namun juga menghasilkan nilai fungsional. Rumah Sinom Ponorogo dengan berbagai elemen bangunan kini mulai ditinggalkan dan diabaikan oleh pemiliknya. Orang mulai senang dengan bangunan modern yang lebih minimalis yang mengakibatkan rumah lama mulai dilupakan dan akan kehilangan makna yang terkandung di dalamnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi bentukan visual arsitektur rumah Sinom di Kelurahan Kertosari - Ponorogo. Bentukan visual merupakan karakteristik bangunan rumah Sinom Ponorogo sehingga akan didapatkan suatu karakteristik berupa karakter fisik dalam bangunan. Studi ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif analisis atau pemaparan kondisi. Metode analisis kualitatif dilakukan dengan observasi lapangan. Metode deskriptif analisis dilakukan dengan pendekatan historis.Kata kunci: karakter visual, rumah Sinom

Page 2 of 2 | Total Record : 17