cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 45 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2017)" : 45 Documents clear
Pemilihan Material Fasad pada Malang Convention and Exhibition Centre Sesuai Standar GBCI dengan Perhitungan OTTV Nugraha Putra Hutama; Heru Sufianto; Ary Deddy Putranto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1008.892 KB)

Abstract

Penggunaan energi pendingin pada bangunan komersial meningkat pesat setiap tahunnya, baik di dunia maupun di Indonesia, sedangkan sumber energi yang ada di Indonesia diperkirakan usia cadangannya tidak lebih dari 30 tahun. Selaras dengan hal tersebut, Pemerintah Kota Malang melalui Peraturan Daerah nomor 4 tahun 2011 berencana mengembangkan sektor komersialnya dengan pembangunan gedung Convention Centre dalam kurun tahun 2010-2030. Sebagai upaya mereduksi penggunaan energi pada rancangan bangunan Malang Convention and Exhibition Centre, maka diperlukan pemilihan material fasad yang tepat. Diharapkan melalui pemilihan material fasad pada rancangan bangunan Malang Convention and Exhibition Centre , penggunaan energi akibat beban pendingin bangunan dapat tereduksi secara maksimal.Kata kunci: energi, fasad, material, convention
Tipologi Fasade Bangunan Komersial dI Kawasan Koridor Jalan Soekarno-Hatta Malang Cyndhi Dewi Rukmana; Herry Santosa; Lisa Dwi Wulandari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1346.576 KB)

Abstract

Bangunan komersial pada Jalan Soekarno-Hatta semakin berkembang beriringan dengan meningkatnya aktivitas pendidikan. Perkembangan tersebut memicu keberagaman desain fasade pada bangunan komersial. Desain fasade berpengaruh terhadap kualitas visual kawasan. Penelitian bertujuan untuk memahami tipologi fasade serta karakter fasade pada kawasan tersebut. Bangunan komersial mendominasi seluruh fungsi pada kawasan sebesar 63% atau sebanyak 144 bangunan. Analisa dilakukan berdasarkan tipologi fasade, tipologi bentuk, serta tipologi profil fasade. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan tipologi. Analisis dilakukan dengan variabel penelitian berupa elemen pembentuk fasade meliputi atap, lisplang, pintu, jendela, pembayang, ventilasi dan elemen penanda. Pada penelitian ditemukan sejumlah 22 tipe fasade berdasarkan elemen pembentuk fasade. Tipe tersebut meliputi 5 tipe atap, 2 tipe lisplang, 3 tipe pembayang, 3 tipe pintu, 3 tipe jendela, 2 tipe lubang ventilasi, serta 4 tipe elemen penanda. Selain itu ditemukan sejumlah 12 tipe profil fasade yang terbentuk dari elemen atap, ketinggian bangunan serta elemen pembayang. Berdasarkan peraturan setempat maka garis sempadan bangunan serta ketinggian lantai bangunan telah sesuai. Walaupun masih terdapat beberapa fasade yang memiliki ketinggian lantai bangunan melebihin peraturan. Secara keseluruhan karakter fasade pada lokasi didominasi oleh atap datar, tanpa lisplang dan ventilasi, pembayang vertikal, pintu lipat, jendela pasif dan penanda menyatu dengan fasade.Kata Kunci: Tipologi, Fasade, Bangunan komersial
Strategi Desain Pencahayaan Alami dan Buatan pada Alih Fungsi Gedung Astaka Kota Batam menjadi Museum Wayu L Syuhaya; Herry Santosa; Wasiska Iyati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.76 KB)

Abstract

Gedung Astaka Kota Batammerupakan alih fungsi bangunan dari tempatdiselenggarakannya MTQ Nasional XXV menjadi sebuah museum sejarah Melayu. KegiatanMTQ yang selesai diselenggarakan pada tahun 2014 menggunakan 7 ruang eksistingGedung Astaka namun pada rencana alih fungsi museum terdapat 14 ruang pamer.Permasalahan Gedung Astaka ini adalah strategi desain untuk 14 rencana ruang pamerdalam aspek sistem pencahayaan alami dan buatan sehingga tiap ruang dapat mencapaistandar tingkat pencahayaan ruang pamer. Metode yang digunakan pada penelitian iniadalah metode eksperimental dengan menggunakan software DIALux 4.12 untukmensimulasikan strategi desain tiap ruang. Pada ruang eksisting dilakukan pengukuranlangsung terhadap tingkat pencahayaan ruang untuk mengetahui kondisi eksistingGedung Astaka sebelum dijadikan alih fungsi museum. Strategi desain yang dilakukanadalah dengan mengoptimalkan bukaan pencahayaan alami, menambah pembayangmatahari internal (light shelves), dan memodifikasi sistem pencahayaan buatan.Rekomendasi desain diambil dari strategi terbaik dari strategi desain yang telah dilakukandan sesuai dengan standar tingkat pencahayaan ruang pamer pada SNI 6197:2011.Dengan lebar bukaan pencahayaan alami 0,50 dan 1,00 m, lebar light shelves0,50 dan 0,75m, serta menggunakan jenis lampu TC-TEL 42W,Spotone 20W, dan 18 W ruang pamerpada rencana alih fungsi Gedung Astaka dapat mencapai standar tingkat pencahayaanruang dengan tingkat pencahayaan300 – 500 lux.Kata kunci: sistem pencahayaan alami, sistem pencahayaan buatan, ruang pamer
Penerapan Konsep Fleksibilitas Ruang pada Interior Butik Muslim Safira Rizki Damayanti; Rinawati P Handajani; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1259.476 KB)

Abstract

Butik merupakan salah satu bangunan komersil yang juga kerap mengalami perubahan khususnya pada bagian interiornya. Adanya perkembangan tren busana muslim yang terus berkembang berkaitan dengan ruang yang dibutuhkan untuk memperjualbelikan busana tersebut, seperti halnya yang terjadi pada butik muslim. Permasalahan desain interior butik sendiri adalah selalu berlomba-lomba menciptakan konsep ruang butik yang mampu menghadirkan nuansa baru serta estetika yang menarik bagi pelanggan. Hampir semua butik khususnya untuk butik muslim yang memiliki karakter ruang yang tetap, sedangkan perubahan tren kerap terjadi pada busana muslim tersebut, maka show room butik tersebut tidak dapat menyesuaikan dengan perubahan tren busana muslim. Fleksibilitas ruang penting untuk diterapkan pada ruangan yang cenderung mengalami perubahan suasana, sehingga desain pada ruang penjualan butik muslim dapat didesain fleksibel dan adaptif terhadap perubahan tren busana yang terjadi. Oleh sebab itu, kajian ini bertujuan untuk mencoba menerapkan konsep desain interior fleksibel pada salah satu butik muslim di Malang yaitu butik Shafira. Interior butik Shafira didesain fleksibel dengan menerapkan konsep fleksibilitas pada beberapa elemen pelingkup ruang. Konsep fleksibilitas yang diterapkan adalah konsep Konvertibilitas dan versalitilitas yang diterapkan pada elemen pelingkup ruang.Kata Kunci: fleksibilitas ruang, desain interior, butik muslim
Semantik Ragam Hias pada Gedung PT. Perkebunan Nusantara XI di Surabaya Bahtiar Rah Adi; Chairil Budiarto Amiuza; Joko Tri Winarto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1336.57 KB)

Abstract

Gedung PT. Perkebunan Nusantara XI merupakan bekas gedung HVA (Handelsvereeniging Amsterdam) yang memiliki ragam hias di bagian fasad dan interiornya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, karakteristik, dan denotasi-konotasi ragam hias. Kajian ragam hias ini dapat mengetahui karakteristik dan langgam gedung sesuai masa periode berdirinya. Ragam hias yang memiliki makna dapat memperkuat nilai sejarah gedung. Metode penelitian yang digunakan berupa deskriptif-kualitatif dengan pendekatan semantik. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa ragam hias terletak pada bagian fasad lobi, selasar, dan ruang kerja. Pada fasad dan lobi memiliki ragam hias utama, sedangkan pada selasar dan ruang kerja tidak memiliki ragam hias utama karena jumlah ragam hias sedikit dan diulang. Ragam hias merupakan percampuran antara ragam hias tradisional Jawa dengan langgam kolonial. Motif ragam hias berupa geometris, stilasi flora, fauna, alami, dan kombinasi geometris-stilasi flora. Ragam hias gedung memiliki denotasi-konotasi yang berkaitan dengan aspek kebudayaan dan sejarah gedung HVA. Contohnya, denotasi ragam hias utama pada fasad berupa ukiran motif stilasi flora khas Jawa. Konotasi ukiran tersebut adalah kemakmuran dan keindahan.Kata Kunci: semantik, ragam hias, gedung PT. Perkebunan Nusantara XI Surabaya
Integrasi Fungsi Wisata pada Fasilitas Agroindustri (Studi Kasus : Kusuma Agrowisata, Batu dan Taman Buah Mekarsari, Kab. Bogor) Knasatra Saraswati; Herry Santosa; Subhan Ramdlani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1456.744 KB)

Abstract

Perkembangan sektor pertanian di Indonesia saat ini menjadi pertanian yang multifungsi sehingga dapat disinergikan atau bergabung dengan sektor lainnya, salah satunya adalah sektor wisata atau disebut sebagai agrowisata, Namun keadaan agrowisata belum berkembang secara optimal dengan berjalannya dua fungsi yang berbeda, berdasarkan aspek aktivitas, zonasi, dan sirkulasi dengan studi kasus di Kusuma Agrowisata, Batu, dan Taman Buah Mekarsari, Kab. Bogor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-kualitatif melalui studi kasus. Integrasi fungsi wisata dan agroindustri pada Kusuma Agrowisata dan Taman Buah Mekarsari berdasarkan aspek aktivitas, zonasi, dan sirkulasi berjalan dengan baik dan saling bersinergi antara kedua fungsinya karena terdapatnya pemisah yang baik, yaitu perbedaan waktu pada aktivitas wisata dan agroindustri. Integrasi dibatasi oleh pembatas fisik berupa sirkulasi di dalam perkebunan yang berbeda dan batas – batas pepohonan yang membatasi ruang aktivitas keduanya, aktivitas wisata, dan agroindustri tidak saling mengganggu karena aktivitas agroindustri lebih banyak di perkebunan atau pabrik, di dalam perkebunan pun dibedakan antara zona wisata dan agroindustri.Kata kunci : Integrasi, wisata, agroindustri, aktivitas, zonasi dan sirkulasi.
Toleransi Pedagang Lokal Dalam Aktivitas Perdagangan di Pasar Tradisional Youtefa, Abepura Viva Virginia Suhartawan; Abraham Mohammad Ridjal; Indyah Martiningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1090.471 KB)

Abstract

Pasar Youtefa memiliki jumlah pedagang ±2.821 pedagang yang berasal dari berbagai suku asal, dengan persentase 24% pedagang lokal (masyarakat asli), dan 76% pedagang pendatang. Walaupun berbeda, keduanya dapat berjualan pada satu lokasi yang sama, yaitu kondisi dimana pedagang masyarakat asli berjualan didekat area berjualan pedagang pendatang. Pada kondisi ini terdapat persinggungan antara kedua jenis pedagang dengan perbedaan seting ruang pedagang yang dibentuk oleh masing-masing pedagang. Oleh sebab itu, studi ini bertujuan untuk mengetahui bentuk toleransi pedagang lokal terhadap pedagang pendatang sehingga keduanya dapat berjualan pada satu lokasi yang sama. Aspek-aspek yang dapat mempengaruhi terbentuknya ruang aktivitas masing-masing pedagang diantaranya adalah aspek seting, pelaku, aktivitas dan waktu. Berdasarkan hasil analisis, aspek yang paling berpengaruh dalam membentuk ruang aktivitas pedagang adalah aspek seting yang terdiri dari elemen-elemen pembentuk ruang dagang baik secara tetap (fixed element), semi tetap (semifixed element), serta tidak tetap (non-fixed element) yang dibentuk oleh pedagang dalam melakukan aktivitas jual beli. Dimana pedagang lokal menggunakan los pedagang dengan elemen pembentuk ruang berjualan yang bersifat semi tetap (semifixed element), sedangkan pedagang pendatang menggunakan elemen pembentuk ruang bersifat tetap (fixed element) yang melingkup ruang kios permanen. Selain seting, bentuk toleransi lainnya yaitu berupa jenis komoditi yang dijual antar pedagang dapat berbeda antara kedua jenis pedagang.Kata kunci: ruang aktivitas, seting, pedagang, pasar tradisional
Integrasi Ruang Terbuka Publik Terhadap Pusat Perbelanjaan Adzikrikal Dwi Putra; Wulan Astrini; Indyah Martiningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (956.902 KB)

Abstract

Kurangnya ruang terbuka publik akibat persaingan lahan di perkotaan mengakibatkan berkurangnya aktivitas berkumpul bagi masyarakat, sehingga adanya pergeseran gaya hidup masyarakat yang awalnya mereka berkumpul di ruang terbuka publik, sekarang berpindah menuju pusat perbelanjaan modern. Hal ini memunculkan perkembangan desain pusat perbelanjaan yang diintegrasikan dengan ruang terbuka publik sebagai wadah berkumpul bagi masyarakat. Penelitian ini mengambil studi kasus Cihampelas Walk Bandung (Jawa Barat), Surabaya Town Square (Jawa Timur), dan The Park Solo (Jawa Tengah). Dimana ketiga pusat perbelanjaan tersebut mengintegrasikan ruang terbuka publik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk integrasi ruang terbuka publik terhadap pusat perbelanjaan, khususnya pada aspek sirkulasi, zoning aktivitas, dan visual ruang. Metode yang digunakan, yaitu metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode pengumpulan data menggunakan place-centered mapping dan person-centered mapping. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada aspek sirkulasi menggunakan pencapaian tersamar oleh retail yang disusun secara linier, sehingga pengunjung dapat melewati ruang-ruang retail yang memiliki bentuk sirkulasi dengan semi terbuka. Aspek zoning aktivitas akan membentuk zoning penerima, zoning koneksi, zoning penunjang (retail, area tempat duduk, taman), dan zoning multiuse. Aspek visual ruang akan didominasi oleh unsur ruang dan prinsip irama, sehingga visual ruang dapat memberikan kesatuan antara ruang terbuka publik dan pusat perbelanjaan.Kata Kunci: Integrasi, ruang terbuka publik, pusat perbelanjaan
Rekayasa Tata Cahaya Alami pada Ruang Kelas Sekolah Autis Laboratorium Universitas Negeri Malang Victoria Pratiwi Suyatno; Wulan Astrini; Wasiska Iyati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1408.661 KB)

Abstract

Ruang kelas merupakan tempat berlangsungnya proses belajar di mana mengajar antara guru dan murid saling berinteraksi dan berkomunikasi. Ruang kelas akan berfungsi maksimal apabila pengguna mendapat kenyamanan visual dengan tingkat pencahayaan alami sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pengguna. Standar nyaman pencahayaan alami pada ruang kelas Indonesia 250 lux. Anak penyandang autis merupakan anak yang mengalami disfungsi sensori, salah satunya pada sensori penglihatan. Terdapat klasifikasi anak penyandang autis disfungsi sensori, salah satunya hipersensori. Hipersensori merupakan anak autis sensitif terhadap cahaya terang, silau. Selain itu, anak penyandang autis sulit untuk berkonsentrasi dan mudah terdistraksi perhatiannya. Bukaan jendela dan pembayang matahari sangat mempengaruhi tingkat pencahayaan alami pada suatu ruang. Ruang kelas pada Sekolah Autis Laboratorium Universitas Negeri Malang setelah diukur menunjukkan beberapa kelas tidak mencapai standar atau terlalu gelap dan beberapa kelas melebihi standar atau terlalu terang. Posisi bukaan jendela yang sejajar dengan ketinggian anak menyebabkan pandangan anak mudah terdistraksi dan sulit berkonsentrasi. Hasil yang diharapkan rekomendasi desain untuk bukaan jendela dan pembayang matahari untuk mengatasi masalah pencahayaan alami pada ruang kelas sekolah tersebut. Metode yang digunakan untuk menghasilkan rekomendasi desain adalah metode simulasi eksperimental menggunakan software DIAlux 4.12 dengan analisis komparatif untuk meningkatkan kenyamanan visual.Kata Kunci: pencahayaan alami, autis, hipersensori, bukaan jendela, pembayang matahari
Revitalisasi Terminal Pondok Cabe di Tangerang Selatan dengan Pendekatan Sistem Sirkulasi Muhammad Salman Shofiyullah; Heru Sufianto; Indyah Martiningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1601.759 KB)

Abstract

menggunakan bus murah dan daya jangkaunya jauh. Maka tidak heran jika terminalbus sangat dipadati oleh masyarakat. Kepadatan tersebut memicu berbagaipermasalahan, salah satunya pada sistem sirkulasi. Hampir disetiap terminal bus diIndonesia, mempunyai permasalah di sistem sirkulasi, mulai dari tersendatnya jalurkendaraan, hingga sirkulasi silang antara kendaraan dan penumpang. Kerugian yangditimbulkan dari permasalahan tersebut beragam, dari pemborosan tenaga, waktu,biaya, bahkan nyawa. Maka, dalam sebuah desain terminal bus, hal yang pentingdiperhatikan adalah sistem sirkulasinya, kendaraan maupun penumpang. DiTangerang Selatan, pengguna bus sangat meningkat. Padatnya penduduk Tangerangyang rata rata bekerja di Jakarta, lebih cenderung memilih angkutan umum. PemkotDKI Jakarta dan Pemkot Tangerang Selatan, bekerja sama untuk merevitalisasi salahsatu terminal di Tangerang Selatan, yaitu Terminal Pondok Cabe yang sudah tidakoptimal fungsinya. Revitalisasi ini dibutuhkan akibat penggantian fungsi TerminalLebak Bulus menjadi Depo MRT Jakarta. Dalam studi ini penekanan dilakukan padaaspek sistem sirkulasi. Data kondisi eksisting tapak dikumpulkan dan diprediksikebutuhan kapasitasnya secara statistik. Sedangkan penjabaran analisa dilakukansecara deskriptif. Sistem sirkulasi menggunakan konsep elevated bridge yangdigunakan untuk menjamin keamanan dan keselamatan pengguna serta menjaminkelancaran sirkulasi kendaraan di dalam terminal.Kata kunci: Revitalisasi, terminal bus, Pondok cabe, sistem sirkulasi