cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,492 Documents
The Comparison of Financing and System Work Duration Modular Construction With Conventional Construction Systems : (Case Study: Rspp Extension Modular Simprug) Hijjral Hamdani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol. 10 No. 3 (2022)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RSPP Extension Modular Simprug is one of the Covid-19 emergency health infrastructure in Indonesia which was built with a volumetric type modular construction system produced by PT. Wika Building. This modular construction system has various advantages, for example, shorter work duration, relatively cheaper costs compared to conventional construction with savings of up to 40%. Therefore, the purpose of this study is to understand in detail about the volumetric modular used so that a comparison can be made between these two construction systems in terms of the duration of work and the financing required between modular construction and conventional construction. This study uses a descriptive method to explain the modular construction of the study object and a comparative method to compare the two construction systems. From the results of the analysis, it was found that modular construction is indeed faster in duration of work than conventional and also cheaper in terms of cost, although it has not yet reached 40% in terms of cost savings.
Pemilihan Material Sebagai Proteksi Pasif Kebakaran pada Bangunan UMKM Kerupuk Nyamleng di Malang Novelia Mega Atenta Sembiring Meliala; Ary Dedy Putranto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol. 10 No. 3 (2022)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecelakaan kebakaran merupakan hal yang dapat terjadi kapanpun dan dimanapun, hingga kasus kebakaran di Kota Malang tercatat meningkat. Banyak yang menjadi penyebab terjadinya kebakaran, namun terdapat beberapa bangunan industri yang memang perlu menggunakan api dalam proses produksinya. Bangunan industri seperti UMKM yang mengandalkan tempat tinggal yang seadanya sebagai tempat produksi membuat bangunan industri tidak dipersiapkan jika adanya kemungkinan terjadinya kecelakaan kebakaran. Penggunaan pemilihan material yang tepat sangat bermanfaat bagi keselamatan para penghuni didalam bangunan tersebut karena pada dasarnya tidak ada material yang benar-benar dapat menahan api, yang ada hanyalah material yang mampu menahan dengan waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri dari kebakaran.
Pengaruh Elemen Arsitektur Jawa Terhadap Kinerja Lingkungan Termal pada Bangunan Pawon Garden Parung Harits Ahmad Fasa; Agung Murti Nugroho
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol. 10 No. 4 (2022): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arsitektur vernakular Jawa saat ini terus menurun keberadaannya, Pawon Garden merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk menekan kepunahan melalui konservasi eks-situ dengan cara translokasi. Namun bangunan yang ditranslokasi dapat mengalami perubahan pada elemennya sehingga mampu berpengaruh terhadap kinerja kenyamanan lingkungan termal. Penelitian ini bertujuan untuk memahami elemen-elemen arsitektur Jawa pembentuk lingkungan termal dan sejauh mana bangunan mampu memenuhi lingkungan termal yang nyaman pada Pawon Garden, Parung. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode desktiptif dengan pendekatan kualitatif melalui kajian amatan visual dan pengukuran lapangan yang kemudian dibandingkan dengan standar kenyamanan yang ada. Hasil dari penelitian pada keempat rumah Jawa di Pawon Garden memiliki kinerja lingkungan termal yang sudah baik dilihat dari nilai rata-rata suhu udara keempat rumah sebesar 27,2oC masih berada pada ambang batas suhu netral, hasil nilai ini dapat dipengaruhi oleh unsur kriteria desain bioklimatik seperti luas bukaan, kecukupan vegetasi, dan aliran angin di dalam bangunan. Kata kunci: Kenyamanan lingkungan termal, vernakular Jawa, bioklimatik
Pengaruh Selubung Bangunan Terhadap Kinerja Lingkungan Termal Pada Arsitektur Vernakular Buton: (Studi Kasus: Rumah Malige) Muhammad Mukrin Yusharsyah Muirun
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol. 10 No. 4 (2022): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arsitektur vernakular Buton saat ini terus menurun keberadaannya. Istana Malige merupakan salah satu arsitektur vernakular Buton yang sangat dipertahankan sampai saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh elemen-elemen selubung bangunan terhadapikinerja lingkungan termalipada arsitektur vernakular Buton. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode desktiptif dengan pendekatan kualitatif melalui kajian amatan visual dan pengukuran lapangan yang kemudian dijabarkan dan dibandingkan dengan standar kenyamanan yang ada. Hasil dari penelitian ini pada rumah Malige memiliki kinerja lingkungan termal yang sudah baik yang dapat dipengaruhi oleh beberapa factor seperti orientasi bangunan, selubung dinding, selubung lantai bangunan, serta bukaan pada setiap lantai.
Peran Kosmologi Hindu Terhadap Pola Ruang Permukiman Desa Adat Tunjuk Tabanan Ni Putu Tenesya Mutiara Oktamaya Laksmi; Jenny Ernawati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol. 10 No. 4 (2022): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Adat Tunjuk adalah salah satu desa tradisional yang ada pada Kabupaten Tabanan dengan kekentalan adat budaya yang mengiringi segala bentuk kegiatan masyarakatnya. Desa ini memiliki keunikan pada jumlah Pura Kahyangan Tiga dan fungsi-fungsi lain pada desa yang berbeda dengan desa tradisional lainnya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan metode deskriptif eksploratif dengan tujuan mengetahui konsep Kosmologi Hindu dan faktor pendukung yang menjadi landasan dan mempengaruhi terbentuknya pola ruang desa. Dari data yang diperoleh menyimpulkan bahwa konsep Kosmologi Hindu berpengaruh dalam terbentuknya pola ruang desa terutama konsep Tri Angga dan Tri Hita Karana. Konsep Tri Angga membagi zona dan fungsi-fungsi bangunan yang ada pada desa menjadi tiga bagian (Utama Angga, Madya Angga, dan Nista Angga) dan konsepsi Tri Hita Karana (Palemahan, Pawongan, dan Parahyangan) yang juga merupakan konsep dasar hidup umat Hindu. Ditemukan adanya faktor-faktor lain yang mendukung terbentuknya pola desa seperti faktor-faktor yang ada dalam teori ekistik. Kata kunci: Kosmologi Hindu, Pola Ruang Desa, Teori Ekistik
Kajian Visibilitas Signage Sebagai Bagian Dari Wayfinding System Pada Mal Raditya Nugraha Akbar Saleh; Tito Haripradianto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol. 10 No. 4 (2022): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kualitas signage sebagai bagian dari sistem wayfinding pada mal, dalam upaya untuk mempelajari dan mengembangkan kualitas wayfindng. Visibiliti merupakan komponen penting pada wayfinding dan sangat berhubungan dengan bagaimana tampilan, lokasi dan kondisi sekitar signage di letakan. Pada area mal yang luas dan dengan memiliki fungsi yang beragam membuat bangunan ini selalu ramai dikunjungi, dengan banyaknya tujuan dalam satu bangunan tersebut diperlukanya pengarah jalan yang mudah untuk terlihat tanpa menganggu kenyamanan pengunjung. Dari hasil penelitian ditemukan pada bangunan Mall Olympic Garden kota Malang 92% signage directional memiliki kualitas visibiliti yang ideal dengan beberapa masalah kecil yang masih dapat dikembangkan lagi. Sedangkan 8% sisanya memiliki kualitas visibiliti yang kurang ideal.
Relasi, Ruang, Waktu dan Tipologi Bedawang nala Made Aries Hartadijaya; Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol. 10 No. 4 (2022): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Relasi, Ruang, Waktu dan Tipologi Bedawang nala Made Aries Hartadijaya1 dan Susilo Kusdiwanggo2 1 Mahasiswa Program Sarjana Arsitektur, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya 2 Dosen Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya Alamat Email penulis: arieshartadi@student.ub.ac.id; kusdiwanggo@ub.ac.id ABSTRAK Arsitektur memiliki relasi fisik dan metafisik berbentuk artefak, konsep dan olahan fungsi berupa ruang. Bedawang nala merupakan entitas yang hadir dalam setiap kehidupan masyarakat Hindu ditemukan pada padmasana dan bade, sarana upacara ngaben. Realitas konsep padma digunakan untuk persembahyangan, digunakan juga aktivitas ritual kematian. Secara harafiah, bedawang nala adalah makhluk mitologi dalam kosmologi alam semesta, wahana sebuah Mandhara Giri. Realitas dalam kehidupan nyata dikaitkan dengan tragedi bencana alam vulkanik, gempa dan tsunami. Bedawang nala bukan sekedar ornamen, berada di dalam bangunan suci, juga hadir bersama entitas profan. Puncak gunung Mandhara Giri merupakan swah-loka diwujudkan sebagai realitas rong atau stana dan bedawang nala merupakan representasi bhur-loka. Puncak Mandhara Giri dipercaya oleh masyarakat Bali sebagai ruang terhadap entitas metafisik. Bedawang nala berorientasi kepada manifestasi Tuhan yang digunakan di dalam upacara kematian. Masyarakat Bali mengenal konsep rwabhinneda, selain tri-hitakarana dan tri-loka. Melihat konsep rwabhinneda sebagai bentuk paradoks pada entitas bedawang nala. Bagaimana relasi bedawang nala sebagai kosmologi ruang dengan eksistensi rwabhinneda pada realitas sekala-niskala. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebenaran bedawang nala dalam lingkup arsitektur. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan paradigma induktif dan strategi etnografi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, bedawang nala merupakan reaktualisasi kosmogoni, mempersyaratkan kehadiran rwa-rwabhinneda, dan membentuk syarat mutlak pada realitas fisik. Kata Kunci : bedawang nala, rwabhinneda, sekala-niskala, paradoks, kosmogoni. ABSTRACT Architecture has physical and metaphysical relations in the form of artifacts, concepts and processed functions in the form of space. Bedawang nala is an entity that is present in every life of the Hindu community and is found in padmasana and bade, the means of the cremation ceremony. The reality of the padma is used for prayers, also used for death ritual activities. Literally, Bedawang Nala is a mythological creature in the cosmology of the universe, a vehicle for a Mandhara Giri. Reality in real life is associated with the tragedy of volcanic natural disasters, earthquakes and tsunamis. Bedawang nala is not just an ornament, it is in a sacred building, it is also present with profane entities. The peak of Mount Mandhara Giri is swah-loka embodied as the reality of rong or stana and Bedawang Nala is a representation of bhur-loka. The peak of Mandhara Giri is believed by the Balinese as a space for metaphysical entities. Bedawang nala is oriented towards the manifestation of God which is used in death ceremonies. Balinese people know the concept of rwabhinneda, apart from tri-hitakarana and tri-loka. Seeing the concept of rwabhinneda as a form of paradox in the bedawang nala entity. How is the relation, Bedawang Nala as cosmology of space with the existence of rwabhinneda in scale-niskala ? This study aims to identify the truth of Bedawang Nala in the scope of architecture. This research was conducted qualitatively with an inductive paradigm and an ethnographic strategy. The results of this study indicate that bedawang nala is a cosmogonic re-actualization, requiring the presence of rwa-rwabhinneda, and forming absolute requirements for physical reality. Keywords : bedawang nala, rwabhinneda, sekala-niskala, paradox, cosmogony.
Evaluasi Pasca Huni Aspek Fungsional pada SLBN 7 Jakarta Berdasarkan Kebutuhan Penyandang Tunagrahita Maulida Afifah Nur Azizzah; Indyah Martiningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol. 10 No. 4 (2022): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting SLBN 7 Jakarta terkait dengan kebutuhan peserta didik ABK tunagrahita melalui Evaluasi Pasca Huni level investigatif pada aspek fungsional untuk peningkatan bangunan SLBN 7 Jakarta dan bangunan lainnya dengan fungsi sejenis. Penelitian dilakukan dengan membandingkan eksisting unit amatan elemen interior terhadap kriteria yang dibuat berdasarkan studi literatur dan peraturan pemerintah secara kualitatif dan analisis deskriptif evaluatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi eksisting elemen interior dalam ruang pembelajaran SLBN 7 Jakarta cukup sesuai dengan kriteria kuantitatif berdasarkan peraturan yang berlaku, namun perbandingan kondisi eksisting dengan kriteria kualitatif berdasarkan rekomendasi desain ruang kelas bagi ABK tunagrahita masih banyak yang tidak sesuai dan memerlukan peningkatan.
Hubungan Elemen Arsitektural Terhadap Pembentukan Soundscape Balai Kota Tangerang Oliver Hartanto; Wasiska Iyati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol. 10 No. 4 (2022): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang Ruang terbuka publik di Balai Kota Tangerang di pusat kota memberikan pengalaman ruang yang indah dan sesuai dengan budaya setempat. Ini tidak hanya terlihat, tapi juga terdengar. Elemen arsitektural memainkan peran dalam membentuk soundscape di wilayah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana elemen arsitektural membentuk soundscape di ruang terbuka publik Balai Kota Tangerang. Metode yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif, termasuk studi literatur, observasi lapangan, kuesioner, dan wawancara. Suara di Ruang terbuka publik Balai Kota Tangerang dipengaruhi oleh aktivitas di dalam ruang terbuka publik itu sendiri. Sebagian elemen arsitektural yang membentuk soundscape hanya bertujuan memberi kesan estetis pada aspek visual, sementara yang lain memiliki peran sebagai filter atau barrier. Ada peluang untuk meningkatkan dinamika yang baik dan saling menguntungkan dari sudut pandang audial agar terkoneksi dengan elemen visual dan meningkatkan Enabled Outcome menjadi sangat tinggi. Kata kunci: soundscape, elemen arsitektural, ruang terbuka publik
Pola Aktivitas Pemanfaatan Ruang pada Taman Blambangan Banyuwangi Donie Marta Setyawan; Damayanti Asikin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol. 10 No. 4 (2022): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan masyarakat terhadap ruang terbuka publik semakin meningkat dari tahun ke tahun. Taman Blambangan Banyuwangi merupakan salah satu ruang terbuka publik yang memiliki berbagai fasilitas ruang yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Fasilitas yang ada berupa jalur pedestrian, lapangan, tempat duduk, area parkir, area pedagang kaki lima dan sarana olahraga. Berbagai aktivitas dapat dilakukan pada Taman Blambangan tersebut, namun dalam pemanfaatanya masih sering kali ditemukan aktivitas pada ruang-ruang tertentu yang tidak sesuai dengan fungsinya. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pola aktivitas pemanfaatan ruang pada Taman Blambangan Banyuwangi dengan mengunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengamatan dilakukan pada Taman Blambangan berdasarkan waktu pemanfaatan masyarakat. Metode place-centered mapping digunakan untuk mengolah hasil pengamatan menjadi bentuk sketsa diagramatik yang dapat memberikan gambaran aktivitas dan intensitas pengguna pada ruang yang ada pada Taman Blambangan. Hasil dari poses analisis dan sintesis menunjukan pola aktivitas pemanfaatan ruang berupa aktivitas olahraga, duduk, bermain, parkir, jual-beli dan makan. Jenis pelaku, jenis aktivitas dan kondisi eksisting pada Taman Blambangan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan pola aktivitas pemanfaatan ruang.