cover
Contact Name
Dinia R Dwijayanti,
Contact Email
biotropika@gmail.com
Phone
+62341-575841
Journal Mail Official
biotropika@gmail.com
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA UB, Jalan Veteran, 65145, Malang, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Biotropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23027282     EISSN : 25498703     DOI : 10.21776/ub.biotropika.
Biotropika: Journal of Tropical Biology invites research articles, short communication, and reviews describing new findings/phenomena of biological sciences in tropical regions, specifically in the following subjects, but not limited to biotechnology, biodiversity, microbiology, botany, zoology, biosystematics, ecology, and environmental sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 3 (2019)" : 7 Documents clear
Identifikasi Jenis Ikan Mudskipper di Pantai Surabaya dan Sidoarjo Anisya Eka Juniar; Syefrina Rosyada; Ahnan Mahfudz Nur Sholihin; Dwi Anggorowati Rahayu
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2019.007.03.2

Abstract

Ikan Mudskipper termasuk dalam Famili Gobiidae yang beradaptasi terhadap dua habitat  berbeda. Keberadaan ikan ini sangat melimpah di alam, namun belum banyak masyarakat yang memperhatikan keberadaannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi spesies ikan Mudskipper yang ditemukan di Pantai Kenjeran, Tambak Mangrove Wonorejo, dan Tambak Sedati sehingga menjadi tambahan informasi terutama tentang aspek taksonomi dan ekologi sebagai dasar pengelolaan dan pemanfaatannya. Metode yang digunakan adalah survei melalui penyisiran lokasi-lokasi pengambilan sampel ikan Mudskipper di tiga lokasi berbeda dan identifikasi menggunakan karakter morfologi yaitu morfometrik, meristrik dan ciri diagnostik penentu spesies. Hasil penelitian ini ditemukan empat spesies ikan Mudskipper dari ketiga lokasi penelitian yaitu Boleophthalmus boddarti, Periopthalmus novemradiatus, Periopthalmus mallacensis, dan Periophthalmodon septemradiatus dengan ciri diagnostik bagian frenum yang berbeda di antara spesies, pola warna, jumlah jari-jari sirip dorsal pertama dan kedua serta 23 karakter morfometrik.
Aktivitas Antibakteri Nanoemulsi Minyak Lengkuas (Alpinia galanga L. Willd) dalam menghambat pertumbuhan Helicobacter pylori Yulianto Ade Prasetya; Khoirun Nisyak; Eviomitta Rizki Amanda
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2019.007.03.7

Abstract

Helicobacter pylori termasuk patogen opportunistik yang memiliki ciri berupa Gram negatif, flagela lopotrikus, tidak berkapsul, dan urease positif. Bakteri ini mampu menyebabkan gastritis, tukak lambung, dan kanker lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas nanoemulsi minyak lengkuas (Alpinia galanga L. Willd) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Helicobacter pylori. Nanoemulsi minyak lengkuas dibuat dengan bantuan magnetic stirer dan ultrasonikator kemudian dianalisa ukurannya dengan Particle Size Analyzer. Uji aktivitas terhadap H. pylori dilakukan dengan metode difusi sumuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nanoemulsi minyak lengkuas 1% (ukuran droplet 19.9 nm) mampu menghambat bakteri H.pylori dengan zona hambat sebesar 9,5 mm. Nanoemulsi minyak lengkuas dapat digunakan sebagai kandidat pengobatan infeksi lambung sehingga mampu mencegah karsinoma lambung.
Ethnobotanical Study of Plant in Historical-Religious Tourism Area and the Sacred Place at Sumenep, Madura Eva Kristinawati Putri; Ahmad Bashri
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2019.007.03.3

Abstract

An ethnobotanical study in the Sumenep regency of Madura island has been carried out by observing nine locations, including the historical-religious tourism area and sacred places. This article described plant diversity, use value associated with local knowledge, and socio-cultural value associated with local wisdom. Totally 35 respondents were interviewed consist of primary respondents from each research area and typical respondents. Totally 31 plant species were found in study sites, covering cultivated and socio-cultural plants. Plant diversity was related to role of the location where they took place. Sumenep Palace, the main tourism area located in the center of town, reached the highest diversity of two socio-cultural and 18 cultivated plants as its domestication efforts to attract visitors. Ficus benjamina had the highest socio-cultural values as a usual dwelling for spirits and used to place some offerings, accelerate fortune and specific occasions. The local wisdom of Sumenep people directly related to how these plants can provide benefits, such as Manilkara kauki and Morinda citrifolia which were valuable as socio-cultural plants and fruit trees at once. Ficus benjamina which were valuable as socio-cultural plants related to local wisdom indirectly.
Karakterisasi Fenotip dan Indeks Similaritas Isolat Actinomycetes yang Memiliki Kemampuan Antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Wahyu Nur Sulistyanto; Guntur Trimulyono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2019.007.03.4

Abstract

Eksplorasi kandidat mikrobia penghasil antibiotik semakin meningkat sebagai solusi banyaknya bakteri resisten terhadap antibiotik yang telah ada. Pada penelitian sebelumnya telah didapatkan empat isolat Actinomycetes yaitu ACB34a, ACB44c, ACB54c dan ACB55c yang memiliki kemampuan antibakteri, sehingga diperlukan identifikasi jenis isolate sampai tingkat Genus. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis isolat yang terpilih (ACB34a, ACB44c, ACB54c dan ACB55c) berdasarkan karakteristik fenotip, dan menentukan indeks similaritas antarisolatnya. Identifikasi isolat dilakukan menggunakan karakter fenotip yang meliputi morfologi, fisiologi, biokimia dan dilanjutkan pengolahan numerik. Analisis data secara deskriptif dan numerik menggunakan Clad97. Hasil penelitian menunjukkan dua isolat Actinomycetes (ACB34a dan ACB55c) memiliki kemiripan dengan Genus Actinomadura. Sedangkan dua isolate berikutnya, yaitu ACB44c dan ACB54c masing-masing mirip dengan Genus Nocardia dan Streptomyces. Nilai indeks similaritas antara isolat ACB34a dan ACB55c adalah 0,856, selanjutnya isolat ACB54c dan ACB44c memiliki kesamaan 0,788, dan isolat ACB55c dan ACB34a memiliki kesamaan sebesar 0,7788.
Studi Etnobotani Tumbuhan Obat Masyarakat Komunitas Hindu Desa Jagaraga, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat Ni Nengah Sri Eni; Kurniasih Sukenti; Muspiah Aida; Immy Suci Rohyani
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2019.007.03.5

Abstract

Masyarakat Hindu di Desa Jagaraga di Kabupaten Lombok Barat merupakan komunitas yang masih melakukan pengobatan tradisional menggunakan tumbuh-tumbuhan. Hal-hal terkait kearifan lokal pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan obat perlu digali sebelum tergeser oleh perubahan yang selalu dinamis di masyarakat, salah satunya melalui kajian etnobotani. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan obat dan manfaatnya, mengetahui signifikansi kultural jenis-jenis tumbuhan obat bagi masyarakat setempat, serta kearifan lokal masyarakat terkait pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan obat-obatan. Penelitian ini bersifat deskriptif eksploratif dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Analisis kuantitatif didasarkan atas perhitungan Reported Use (RU), Index of Cultural Significance (ICS), dan Fidelity Level (FL) masing-masing jenis tumbuhan obat. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan pemilihan narasumber berdasarkan metode purposive sampling dan snowball sampling. Penelitian dilakukan pada lima dusun yang merupakan komunitas Hindu di Desa Jagaraga, Lombok Barat. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 21 spesies yang tergolong dalam 17 famili dan 20 genus. Lima jenis dengan nilai IC) tertinggi berturut-turut adalah Jatropha curcas L., Curcuma longa L., Kaempferia galanga L., Allium cepa L., dan Musa paradisiaca L. Secara umum, terdapat berbagai nilai kearifan lokal masyarakat terkait dengan pemanfaatan, pengelolaan, dan pemeliharaan jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat, dimana hal ini berkontribusi pada kelestarian tumbuhan dan lingkungan di sekitar wilayah kajian.  
Keanekaragaman Moluska di Pantai Pasir Putih Lampung Selatan Gres Maretta; Nurhaida Widiani Hasan; Nella Indry Septiana
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2019.007.03.1

Abstract

Pantai Pasir Putih is an area with a variety of coastal substrates that store much diversity of Molluscs species. The diversity of Molluscs in the waters of Lampung is still little known, therefore research conducted at Pasir Putih Beach, South Lampung aims to determine the density and diversity of Molluscs, as well as to determine water quality. The sampling method used is line transect combined with the square method. Molluscs were found in 48 individuals from nine families (Cerithiidae, Neritidae, Throchidae, Conidae, Muricidae, Nassaridae, Columbariidae, Columbellidae, Buccinidae, and Mactridae). Based on the calculation of Molluscs density (10.33 Ind/m2; 5 Ind/m2; 0.67 Ind/m2.) The Shannon-Wiener Molluscs index on the Pasir Putih Beach was included in the low category (H value: 0 - 0.152). The results of the analysis of environmental factors show that the waters of the Pasir Putih Beach have not been polluted and are still good enough for Molluscs life.
Keterkaitan Aktivitas Manusia dengan Kualitas Ekosistem Perairan Pantai di Kepulauan Spermonde, Makasar, Sulawesi Selatan Catur Retnaningdyah; Luchman Hakim; Arina Mana Sikana; Rispah Hamzah
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2019.007.03.6

Abstract

Kepulauan Spermonde, Makassar Sulawesi Selatan terdiri dari ratusan pulau kecil dengan karakteristik yang bervariasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara kondisi lingkungan dan aktivitas manusia di pulau  dengan kualitas ekosistem perairan pantai berdasarkan parameter fisikokimia air serta keragaman biodiversitas khususnya makroalga dan echinodermata. Penelitian ex post facto ini dilakukan di Pulau Barrangcaddi, Badi, Barang Lompo, Bonebatang dan pulau Kodingarengkeke. Pemantauan kondisi lingkungan menggunakan indeks Naturalness sedangkan aktivitas manusia menggunakan indeks Hemeroby. Pengambilan sampel air, makroalga, dan echinodermata di setiap pulau dilakukan di 2 hingga 3 stasiun dengan membuat tiga (3) transek sabuk. Hasil analisis pemodelan struktural menggunakan PLS menunjukkan bahwa aktivitas manusia yang ada di Kepulauan Spermonde  telah berdampak pada pencemaran bahan organik dengan kadar BOD berkisar 25,39-29,81 mg/L.  Pencemaran ini selanjutnya telah memicu terjadinya eutrofikasi tercermin dari kadar nitrat yang telah melebih baku mutu untuk biota perairan (0,05-0,168 mg/L).  Eutrofikasi yang terjadi telah meningkatkan diversitas makroalga dan selanjutnya menurunkan diversitas Echinodermata. Berdasarkan nilai indeks diversitas Makroalga, perairan pantai di sekitar lima pulau yang diamati termasuk dalam kategori tercemar ringan sampai sedang (1.17-2.42), dan berdasarkan indeks diversitas Echinodermata sudah termasuk kategori tercemar berat (0,36-0,88). Sedangkan parameter kualitas air lain terutama pH, suhu, salinitas, kekeruhan, TP, H2S, minyak dan lemak, dan Pb telah memenuhi standar kualitas air untuk kebutuhan biota perairan berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51/2004.

Page 1 of 1 | Total Record : 7