cover
Contact Name
Dinia R Dwijayanti,
Contact Email
biotropika@gmail.com
Phone
+62341-575841
Journal Mail Official
biotropika@gmail.com
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA UB, Jalan Veteran, 65145, Malang, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Biotropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23027282     EISSN : 25498703     DOI : 10.21776/ub.biotropika.
Biotropika: Journal of Tropical Biology invites research articles, short communication, and reviews describing new findings/phenomena of biological sciences in tropical regions, specifically in the following subjects, but not limited to biotechnology, biodiversity, microbiology, botany, zoology, biosystematics, ecology, and environmental sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 554 Documents
Karakteristik Pemanfaatan Pohon oleh Jalak Bali (Leucopsar Rothschildi) di Taman Nasional Bali Barat Wilayah SPTN III, Buleleng, Bali Nirmala Ayu Aryanti; Reyza Hermawan Wicaksono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2018.006.01.1

Abstract

Leucopsar rothschildi (Jalak Bali) is an endemic bird species that only be found in the forests of the western of Bali Island. Wild catching and declining forest are the main factors of the declining population. The National Park of West Bali is the last bastion. The habit of living for activity and nesting in the trees make the importance of tree stand to be preserved. Therefore, this study was conducted to analyze the utilization's characteristics of trees by the birds in their original habitat in SPTN III West Bali National Park. The method used was concentration count to observe the characteristics utilization of trees and canopy. Behavior in their natural habitat was observed using Ad Libitum method. Data analysis was conducted by calculating percentage in each part of the usage of canopy and behavior type. The use of the canopy of trees in SPTN III of Labuhan Lalang TNBB by the birds for Tanjung Gelap was more frequent in the upper canopy (TA) section, in Labuhan Lalang more often in the middle canopy (TT) and the middle side canopy (TTt). Frequently activity in the canopy of SPTN III Labuhan Lalang by the birds was social activity.
Konstruksi Protein Transcription Activator-Like Effector (TALE) 1 dan 2 dengan Target Sekuen DNA strain HPV Tipe 16 dan 18 Agatha Mia Puspitasari; Nashi Widodo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker serviks dapat disebabkan oleh infeksi virus HPV tipe 16 dan 18 namun dapat dihindari dengan melakukan deteksi awal atau screening pada wanita. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain protein Transcription Activator-Like Effector (TALE) sebagai detektor dari HPV 16 dan 18 dengan cara mencari sekuen target DNA HPV 16 dan 18 beserta konstruksi protein TALE tersebut. Metode yang dilakukan adalah analisa sekuen target HPV 16 dan 18 dengan software MEGA, konstruksi protein TALE pada plasmid pSB1C3, PCR, Golden Gate Cloning, dan elektroforesis. TALE yang dikonstruksi adalah 2 macam protein TALE, yaitu TALE 1 dan TALE 2, yang memiliki susunan basa DNA yang berbeda. Konstruksi TALE dilakukan dengan Golden Gate Cloning menggunakan GATE Assembly Kit. Sekuen target DNA diperoleh dari hasil alignment software MEGA yang terdiri dari 14 bp pada masing-masing TALE dengan Timin (T) pada ujung-ujung sekuen. Kemudian konstruksi TALE diperoleh dari tim Freiburg yang memiliki 6 bagian yang dapat mengkode protein TALE. Hasil yang didapatkan dari konstruksi adalah pita DNA sebesar 3kbp pada gel agarosa melalui elektroforesis.   Kata kunci: HPV 16,  HPV 18,  kloning, TALE 1, TALE 2
Studi Ekstrak Metanol Biji Mahoni (Swietenia mahagoni) terhadap SOD Serum Tikus Putih (Rattus novergicus) Pasca Induksi MLD-STZ Deasy Luandayanti; Muhaimin Rifa'i; Aulanni'am Aulanni'am
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 6 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu gejala yang timbul pada seseorang dimana keadaan hiperglikemia (kadar gula yang tinggi) yang kronik dengan disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal. Salah satu tumbuhan yang digunakan masyarakat untuk pengobatan DM adalah mahoni (Swietenia mahagoni). Bagian yang digunakan dari tumbuhan tersebut adalah bijinya. Namun mekanisme ekstrak metanol biji mahoni belum banyak diketahui. Pada penelitian ini menggunakan tikus model DM dengan induksi MLD-STZ. Tikus dikelompokkan dalam 5 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kontrol positif, dan  kelompok DM dengan terapi 100, 250 dan 400 mg/KgBB. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pengekstrakan biji mahoni, induksi DM dengan injeksi MLD-STZ secara intraperitonial dan uji aktivitas SOD serum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  nilai SOD serum yang didapatkan berdasarkan kelompok, yaitu 98,99; 61,12; 70,05; 79,29 dan 84,49 unit/ml. Pemberian terapi ekstrak metanol biji mahoni pada tikus model DM mampu menaikkan aktivitas SOD. Kata Kunci : diabetes mellitus (DM), SOD (superoksida dismutase), STZ (streptozotocin)
Efektivitas Pupuk Organik Cair dari Eceng Gondok (Eichornia crassipes (Mart), Solm) untuk Pertumbuhan dan Kecerahan Warna Merah Daun Aglaonema ‘Lipstik’ Ervinda Yuliatin; Yanti Puspita Sari; Medi Hendra
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2018.006.01.6

Abstract

Aglaonema “Lipstik” merupakan Aglaonema hibrida yang memiliki corak warna merah atau merah muda pada tepi daun sehingga diberi nama lipstik. Keunikan dan variasi warna daunnya, Aglaonema “Lipstik” dimanfaatkan sebagai penghias ruangan seperti ruang tamu, kantor dan hotel. Selain karena indah, tanaman ini mampu menyerap polusi udara di dalam ruangan. Sehingga banyak pecinta tanaman hias membudidayakannya. Dalam prosesnya, diperlukan perawatan agar memperoleh daun yang indah dengan menggunakan pupuk. Eceng gondong (Eichornia crassieps) dapat diolah menjadi pupuk organik cair (POC) karena memiliki kandungan unsur organik yang dapat digunakan untuk pertumbuhan tanaman. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui respon pertumbuhan Aglaonema “Lipstik” yang diberi pupuk organik cair eceng gondok. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari empat konsentrasi perlakuan POC (0 ppm, 1,5 ppm, 3 ppm dan 4,5 ppm) dalam enam kali pengulangan. Parameter pengamatan meliputi pertambahan jumlah daun, pertambahan tinggi tanaman, luas daun dan warna daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa POC eceng gondok tidak berpengaruh terhadap beberapa parameter yaitu pertambahan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan warna hijau daun. Sedangkan pada parameter penambahan kecerahan warna merah daun berpengaruh signifikan pada konsentrasi 4,5 ppm sebesar 3,5%.
Growth of Pioneer Grasses in Monoculture and Polyculture Systems of Hydroseeding Applied in a Coal Mining Tailing from the South Kalimantan Amalia Fadhila Rahma; Endang Arisoesilaningsih
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT   The aims of this research were to compare germination of local and pioneer grasses seeds sown in garden soil and hydroseeding mulch. Furthermore, we also observed growth, density and coverage of the grasses planted in monoculture or polyculture systems applied in a post coal mining tailing from the South Kalimantan. Species used were Eleusine indica (L.), Paspalum conjugatum P.J.Bergius, Sporobolus indicus (L.) R.Br. and Eulalia amaura (Buese) Ohwi. Thirty two seeds of each grass were sown on a garden soil and mulch of hydroseeding to observe rate and time of germination. The seds of each species (in monoculture treatment) and composited species (in polyculture treeatment) were then mixed with mulch and spreaded above the coal mining tailing put in plastic pot. Each treatment were replicated 3 to 5 times. The observed variables were the time and rate of germination, density, maximum length of leave blade, plant height and coverage, root/shoot length ratio. Data were analyzed descriptively and statistically using one way Anova, Brown Forsythe or t tests, cluster and biplot analysis. Results of research showed that seeds of all pioneer grasses sown in monoculture germinated in both media, garden soil and hydroseeding mulch. Otherwise, E. indica and E. amaura seeds were less germinated in polyculture system. In monoculture system, germination rate of seeds sown on the  soil was higher, moreover seeds rapidly germinated rather than those of hydroseeding mulch. Density, growth and coverage of monoculture grass tent higher than polyculture ones. Root system of all species developed well in the mining tailing, therefore its grew longer than their shoot. Key word : Coal mining tailing, germination, hydroseeding, pioneer grasses
Keragaman Morfologi Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) KR 11 Mutan EMS (Ethyl Methanesulfonate) berdasarkan Panduan Karakterisasi Kenaf Rikza Hakin; Estri Laras Arumingtyas
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) merupakan salah satu sumber serat yang cukup potensial untuk dimanfaatkan secara optimal. Peningkatan pemanfaatan tanaman kenaf dapat dilakukan dengan menghasilkan varietas baru kenaf, salah satunya menggunakan EMS. Tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui keragaman tanaman kenaf hasil mutasi EMS berdasarkan Panduan Karakterisasi Kenaf yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian. Penelitian dilakukan menggunakan 6 genotip berbeda, yaitu satu control (KR 11) dan lima genotip mutan EMS. Metode yang digunakan ialah melakukan pengamatan pada karakter morfologi yang meliputi karakter kualitatif dan kuantitatif dari karakter daun, bunga maupun karakter batang. Pengamatan karakter daun dilakukan pada saat tanaman berbunga pertama, karakter pembungaan diamati pada saat tanaman mengalami umur berbunga 50% serta karakter batang diamati pada saat panen. Hasil pengamatan kemudian disesuaikan dengan character state yang ditentukan dari Panduan Karakterisasi Kenaf dan dianalisis menggunakan software Clad97. Berdasarkan panduan tersebut, mutan yang memiliki keragaman paling rendah terhadap KR 11 ialah genotip mutan mutan 1 dengan nilai similaritas sebesar 94.4% sedangkan mutan dengan keragaman paling tinggi ditunjukkan oleh genotip mutan 4 dengan nilai similaritas sebesar 67.5%.
Efek Pelaparan dan Akumulasi Polifosfat terhadap Biopresipitasi Uranium pada Bacillus cereus A66 Bernadetta Octavia; Triwibowo Yuwono; Agus Taftazani
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2018.006.02.05

Abstract

Pelaparan dan akumulasi polifosfat pada bakteri diduga dapat meningkatkan biopresipitasi uranium. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek pelaparan dan akumulasi polifosfat terhadap peningkatan biopresipitasi uranium pada Bacillus cereus A66. Pada penelitian ini B. cereus A66 ditumbuhkan terlebih dahulu (prakultur) dalam Tryptone Glucose Yeast Extract (TGY), pada suhu ruang (± 28ºC) hingga fase logaritmik (± 16 jam). Pada perlakuan pertama, prakultur B. cereus A66 diberi perlakuan pelaparan fosfat dalam medium P-free, selanjutnya dipindahkan ke medium P-uptake untuk akumulasi fosfat. Untuk mengamati biopresipitasi uranium, sel bakteri dipindahkan ke dalam larutan uranium 1 mM. Pada perlakuan kedua, prakultur B. cereus A66 langsung dipindahkan ke dalam larutan uranium tanpa fase pelaparan dan akumulasi polifosfat. Sedangkan pada perlakuan ketiga,  B. cereus A66 tanpa fase pelaparan dikultur dalam medium P-uptake kemudian dipindahkan ke larutan uranium. Pada perlakuan keempat, B. cereus A66 dikondisikan dengan pelaparan fosfat dalam medium P-free, diikuti dengan pemindahan ke dalam larutan uranium. Perlakuan kedua, ketiga dan keempat dirancang untuk mengkonfirmasi efek perlakuan pertama dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa B. cereus A66 yang mengalami pelaparan fosfat dapat mengakumulasi fosfat delapan kali lebih banyak ketika dipindahkan ke medium P-uptake, dibandingkan dengan B. cereus A66 yang tidak mengalami pelaparan fosfat. Selain itu, B. cereus A66 yang mengakumulasi lebih banyak fosfat juga menunjukkan peningkatan biopresipitasi uranium sebesar 1,5 kali lebih banyak dibandingkan dengan B. cereus A66 yang tidak mengalami pelaparan fosfat. Fenomena ini diyakini digerakkan oleh metabolisme polifosfat yang dikontrol oleh aktivitas gen PPK dan PPX. Secara keseluruhan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin banyak polifosfat terakumulasi dalam sel, semakin meningkat respon biopresipitasi uranium dalam hal jumlah uranium yang diambil dari larutan dan efisiensi waktu pengambilannya. Strategi ini dapat dikembangkan lebih lanjut untuk bioremediasi air dan tanah yang terkontaminasi uranium.
Keragaman Serangga Musuh Alami Kutu Sisik Lepidosaphes beckii Pada Jeruk Keprok Dan Jeruk Manis Redy Alviantono; Amin Setyo Leksono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Serangan hama dapat menurunkan nilai ekonomi jeruk. Salah satu hama penting yang menyerang jeruk adalah kutu sisik Lepidosaphes beckii. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jenis dan keanekaragaman serangga musuh alami yang berasosiasi dengan kutu sisik Lepidosaphes beckii pada tanaman jeruk keprok dan jeruk manis. Penelitian dilakukan dengan cara pengamatan langsung, pengambilan sampel dan identifikasi. Data dianalisis untuk menentukan nilai indeks keanekaragaman, indeks kesamaan (IBC) dan indeks dominansi. Serangga musuh alami yang ditemukan meliputi kelompok predator Famili Coccinellidae (Chilocorus, Symnus dan Harmonia) dan Formicidae, serta kelompok parasitoid Famili Trichogrammatidae (Trichogramma) dan Aphelinidae (Aphytis dan Encarsia). Nilai IBC untuk kedua komunitas adalah 0,93. Nilai tersebut menunjukkan secara umum kerapatan semua jenis serangga musuh alami kutu sisik pada kedua komunitas adalah sama. Berdasarkan nilai indeks Shannon-Wiener, keanekaragaman jenis serangga musuh alami pada kedua lokasi tergolong rendah dan tidak terdapat perbedaan pada kedua jenis jeruk (jeruk keprok 1,5387 dan jeruk manis 1,5542). Formicidae merupakan serangga yang paling banyak ditemukan di kedua lokasi. Kelimpahan Formicidae yang lebih tinggi daripada kelimpahan serangga lain disebabkan karena bersifat polifaga dan memiliki struktur sosial populasi yang terorganisasi dengan baik. Kata Kunci : keanekaragaman, Lepidosaphes beckii, serangga musuh alami
Diversitas dan Uji Potensi Bakteri Kitinolitik dari Limbah Udang Imanda Nurul Setia; Suharjono Suharjono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Proses pengolahan udang dari industri akan menghasilkan limbah cair dan padat sebanyak 30 – 75 % dari berat udang. Limbah udang mengandung 20 – 60 % kitin sehingga dapat menjadi sumber bakteri kitinolitik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui diversitas bakteri kitinolitik dan mengetahui potensi bakteri yang memiliki aktivitas kitinolitik yang tinggi pada limbah udang. Tahapan penelitian meliputi isolasi bakteri pada media CCA (Colloidal Chitin Agar), penghitungan diversitas bakteri kitinolitik, dan seleksi isolat berdasarkan indeks kitinolitik. Diversitas bakteri kitinolitik dihitung menggunakan indeks diversitas Simpson. Penelitian uji potensi kitinolitik menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali ulangan. Data indeks kitinolitik dianalisis menggunakan analisis ragam dilanjutkan uji Games-Howell (α = 0,05). Indeks diversitas limbah padat lebih tinggi (0,646) daripada limbah cair (0,213). Dua dari 18 isolat yaitu isolat PBK 2 (berasal dari limbah cair) dan SA 1.2 (berasal dari limbah padat) memiliki indeks kitinolitik tertinggi yaitu secara berturut-turut sebesar 2,069 dan 2,084. Kata kunci : bakteri kitinolitik, limbah cair, limbah padat, kitin, udang ABSTRACT Shrimp processing from industrial activity produce solid waste and wastewater 30 – 75 % from shrimp weight. Shrimp waste contains 20 – 60 % chitin and possible to be source of chitinolytic bacteria. The objectives of this research was to observe diversity of chitinolytic bacteria and to analyze potency of bacteria which have high activity of chitin degradation in shrimp waste. The research consist of isolation of bacteria using Colloidal Chitin Agar (CCA) medium, quantification of chitinolytic bacteria diversity, and screening of bacteria based on chitinolytic index. Diversity of chitinolytic bacteria quantified with Simpson diversity index. Chitinase assay carried out according Complete Randomized Design with three replications. Diameter of clear zone data was analyzed using analysis of variance continued with Games-Howel test (α = 0.05). Diversity index of solid waste more higher (0.646) than wastewater (0.213). Only two of eighteen isolates of chitinolytic bacteria (PBK 2 and SA 1.2 isolates) showed highest chitinolytic index. Key words: chitinolytic bacteria, chitin, shrimp, waste
Evaluation of water quality due to human activities in the Sumber Awan spring and its chanel, Singosari Malang Raden Ayu Shufairaa' Habiebah; Catur Retnaningdyah
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aims of this research was to determine the profile of water quality based on physico-chemical properties of water, water quality index, and to determine the influence of various human activities on water quality in the Sumber Awan Spring and its Channel, Singosari Malang. Water quality evaluation is done in the spring and six locations of the spring channel after passing through agricultural activities, public toilets and human settlements with the distance of each location approximately 200 m. Physico-chemical parameters of water were observed include turbidity, pH, DO, permanganate, TSS, nitrate, ammonium, and BOD. The monitoring data is used to perform the analysis of water quality profiles using ANOVA, cluster analysis based on Bray-Curtis similarity index and biplot as well as water quality indices include Prati's implicit Index of Pollution. The results showed that human activities that occur in the channel of Sumber Awan such as agriculture, human settlements and public toilets have been affected the water quality in this spring channel. It can be seen from the decreasing of water quality from upstream to downstream. Values of pH, ammonium, permanganate, TSS and nitrate fulfilled the quality standards for class I, DO for class II, BOD for class II-IV, based on Government Regulation No. 82/2001 and turbidity value based on WHO only station one fulfilled the quality standards. Based on Prati’s index calculations the water quality was categorized in acceptable (station 1-6) and slightly polluted (station 7). Keywords : Malang, physico-chemical water quality, Sumber Awan