cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 214 Documents
PENGARUH PH PADA REDUKSI AU(III) MENJADI AU DALAM GEL METASILIKAT Radiansyah, Muhamad Agus; Khunur, Mohammad Misbah; Prananto, Yuniar Ponco
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (833.705 KB)

Abstract

Kristal tunggal emas dapat disintesis dengan metode gel metasilikat. Gel metasilikat memiliki beberapa kelebihan yaitu sederhana, mudah dilakukan pada suhu kamar dan memiliki kristalinitas yang lebih baik dibandingkan gel lainnya seperti agar, gelatin, lempung dan poliakrilamida. Kristalinitas gel metasilikat memiliki struktur tautan silang (Si-O-Si) yang mampu membentuk polimer dan memiliki rongga-rongga pada gel sebagai ruang yang kondusif untuk pertumbuhan kristal. Penelitian ini dilakukan untuk mensintesis kristal tunggal emas dalam gel metasilikat dan mengetahui pengaruh pH awal larutan gel terhadap kristal hasil sintesis. Hasil sintesis menunjukkan bahwa semakin tinggi pH larutan awal pembentukan gel, semakin besar massa kristal yang diperoleh. pH optimum larutan awal pembentukan gel adalah 5,5 dan efisiensi massa kristal hasil sintesis sebesar 29,78%.Kata kunci: gel metasilikat, kristal tunggal emas, pH
PENENTUAN KADAR IODIDA SECARA SPEKTROFOTOMETRI BERDASARKAN PEMBENTUKAN KOMPLEKS IOD-AMILUMMENGGUNAKAN OKSIDATOR PERSULFAT Nisa, Asdauna Zahrotun; Sulistyarti, Hermin; Atikah, atikah
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.97 KB)

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengkaji tentang penentuan kadar iodida menggunakan teknik spektrofotometri visible dengan menggunakan oksidator persulfat (S2O82-) berdasarkan pembentukan Iod-amilum yang berwarna biru ditentukan pada panjang gelombang 614 nm. Tahapan penelitian ini meliputi, penentuan waktu optimum, mengetahui pengaruh variasi konsentrasi I- dan pengaruh variasi konsentrasi S2O82- terhadap pembentukan kompleks Iod-amilum. Pembuatan kompleks Iod-amilum dapat dilakukan dengan mereaksikan I-dengan S2O82-, kemudian ditambah amilum 1%. Warna yang dihasilkan akan dianalisa secara spektrofotometri visible pada panjang gelombang 540 nm. Kadar iodida terkecil yang dapat diukur dengan menggunakan teknik spektrofotometri visible adalah 20,3 ppm dengan konsentrasi S2O82-100 ppm dan pada waktu 90 menit Kata kunci: iodida, kompleks iod-amilum, persulfat, spektrofotometri  AbstractThis study was to examine determination of iodide using persulfate visible spectrophotometry method based on complex formation of blue colour starch-iodine  determined at 540 nm wavelengths. Stages of the study include: determining the optimum time, determine the effect of concentration variations persulfate (S2O82-) and iodide (I2) on the iodine-starch complexes formation. Preparation of starch-iodide complex to do by reacting I-with S2O82- as an oxidator and starch as an indicator. The resulting color will be analyzed by visible spectrophotometry at a wavelength of 614 nm. Smallest iodide levels can be measured by spectrophotometric method at concentration  of  20.3 ppm and S2O82- 100 ppm and optimum time of 90 minutes. Keywords: iodide, iodine-amylum complex, persulfate, spectrophotometry
APLIKASI ELEKTRODA SELEKTIF ION SULFAT BERBASIS PIROPILIT UNTUK PENENTUAN SULFAT PADA MINUMAN Maulidah, Fajar Rizqy; Fardiyah, Qonitah; Atikah, atikah
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.385 KB)

Abstract

Beberapa metode telah dikembangkan untuk penentuan sulfat dalam suatu sampel. Pada penelitian ini telah dilakukan aplikasi elektroda selektif ion sulfat berbasis piropilit untuk menentukan sulfat pada minuman. Keberadaan sulfat pada minuman, khususnya pada jajanan es dapat ditentukan dengan metode potensiometri menggunakan ESI sulfat tipe kawat terlapis berbasis piropilit. Hasil penelitian ESI sulfat yang telah dibuat menunjukkan respon Nernstian terbaik pada kisaran konsentrasi 10-5 – 10-1 M atau setara dengan 0.96 – 9600 ppm sulfat. Mempunyai kepekaan rata-rata sebesar 29.7 mV/dekade dengan limit deteksi pengukuran 1.15 x 10-6 M atau setara dengan 0.1104 ppm sulfat. Pengaruh pH dan ion asing juga dipelajari dalam penelitian ini. Variabel penelitian ini meliputi pH larutan yang divariasi dari pH 3 – 10 dan ion asing yang digunakan adalah ion Cl- dan ion PO43- dengan konsentrasi  10-3 M menggunakan metode larutan tercampur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pH 7 ESI sulfat memberikan respon Nernstian terbaik. Adanya kehadiran ion asing ion Cl- dan ion PO43- tidak memberikan pengaruh terhadap kinerja ESI sulfat yang telah dibuat. Hal ini ditunjukkan dengan nilai koefisien selektivitas (Kij) yang kurang dari satu. Konsentrasi sulfat yang terukur dengan ESI sulfat berbasis piropilit sebesar 1,093 ppm sulfat (sampel es coklat) dan 1,459 ppm sulfat (sampel es melon) dimana konsentrasi tersebut masih dalam batas aman untuk dikonsumsi. (Ambang batas maksimal sulfat yang di perbolehkan dalam minuman sebesar 250 ppm, menurut SMCL). Kata kunci: faktor Nernst, ion asing, pH, potensiometri
PENGARUH KONSENTRASI SO42- TERHADAP DEGRADASI METHYL ORANGE MENGGUNAKAN FOTOKATALIS TIO2-BENTONIT Rohmawati, Lynna; Wardhani, Sri; Purwonugroho, Danar
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.614 KB)

Abstract

Penelitian ini mengkaji pengaruh anion sulfat (SO42-), lama penyinaran,dan jumlah fotokatalis terhadap degradasimethyl orange menggunakan fotokatalis TiO2-bentonit. Fotodegradasi methyl orange dilakukan dalam sebuah fotoreaktor yang dilengkapi dengan lampu UV merk Sankyo 10 watt λ 352 nm. Dua puluh lima mililiter larutan methyl orange 10 mg/L pH 4 ditambahkan 50 mg TiO2-bentonit dan 5 mL larutan SO42-dengan variasi konsentrasi 0, 1500, 3000, 4500, dan 6000 mg/L disinari lampu UV selama 20,30,40,50, dan 60 menit. Kajian pengaruh jumlah fotokalis dilakukan pada variasiTiO2-bentonit sebanyak 13, 25, 50, dan 75 mg. Konsentrasi methyl orangesetelah degradasi ditentukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 464 nm. Penambahan anion SO42- berpengaruh terhadap konstanta laju (k) degradasi dengan nilai kterbesar 0,0143 min-1pada konsentrasi SO42- optimum 3.000 mg/L. Fotodegradasi methyl orange menggunakan TiO2-bentonit semakin meningkat seiring dengan bertambahnya lama penyinaran dan jumlah TiO2-bentonit. Kata kunci: fotodegradasi, methyl orange, sulfat, TiO2-bentonit Penelitian ini mengkaji pengaruh anion sulfat (SO42-), lama penyinaran,dan jumlah fotokatalis terhadap degradasimethyl orange menggunakan fotokatalis TiO2-bentonit. Fotodegradasi methyl orange dilakukan dalam sebuah fotoreaktor yang dilengkapi dengan lampu UV merk Sankyo 10 watt λ 352 nm. Dua puluh lima mililiter larutan methyl orange 10 mg/L pH 4 ditambahkan 50 mg TiO2-bentonit dan 5 mL larutan SO42-dengan variasi konsentrasi 0, 1500, 3000, 4500, dan 6000 mg/L disinari lampu UV selama 20,30,40,50, dan 60 menit. Kajian pengaruh jumlah fotokalis dilakukan pada variasiTiO2-bentonit sebanyak 13, 25, 50, dan 75 mg. Konsentrasi methyl orangesetelah degradasi ditentukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 464 nm. Penambahan anion SO42- berpengaruh terhadap konstanta laju (k) degradasi dengan nilai kterbesar 0,0143 min-1pada konsentrasi SO42- optimum 3.000 mg/L. Fotodegradasi methyl orange menggunakan TiO2-bentonit semakin meningkat seiring dengan bertambahnya lama penyinaran dan jumlah TiO2-bentonit. Kata kunci: fotodegradasi, methyl orange, sulfat, TiO2-bentonit
OPTIMASI AMOBILISASI PEKTINASE DARI Bacillus subtilis MENGGUNAKAN KITOSAN-NATRIUM TRIPOLIFOSFAT Tantowidjojo, Vanessa Rachmani; Roosdiana, Anna; Prasetyawan, Sasangka
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.991 KB)

Abstract

Pektinase adalah enzim yang sangat potensial dalam industri pangan, sehingga perlu diamobilisasi agar dapat digunakan berulang dan mudah untuk dipisahkan dari produknya. Pektinase yang telah diisolasi dari Bacillus subtilis dimurnikan dengan menggunakan amonium sulfat dengan tingkat kejenuhan 20–60%. Pektinase diamobilisasi dengan metode penjebakan menggunakan matriks kitosan-natrium tripolifosfat. Pada penelitian ini ditentukan konsentrasi kitosan dan konsentrasi enzim optimum amobilisasi pektinase. Konsentrasi kitosan yang digunakan adalah 1; 1,5; 2; 2,5; dan 3% (w/v) dan konsentrasi enzim sebesar 0,943; 1,887; 2,830; 3,774; dan 4,717 mg/mL. Kadar protein enzim ditentukan dengan metode Biuret dan aktivitas enzim ditentukan dengan menghitung asam galakturonat yang dihasilkan dari hidrolisis pektin oleh sejumlah enzim per menit. Kadar protein pektinase bebas diperoleh sebesar 4,717 mg/mL dengan aktivitas sebesar 109,8 unit. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi kitosan optimum berada pada konsentrasi 2,5% sedangkan konsentrasi enzim optimum pada 1,887 mg/mL dengan aktivitas tertinggi sebesar 145,6 unit. Kata kunci : aktivitas, amobilisasi, Bacillus subtilis, kitosan-natrium tripolifosfat, pektinase
UPAYA PENUMBUHAN KRISTAL TUNGGAL KROMIUM(III) ASETILASETON DENGAN METODE GEL METASILIKAT Taufiq, Muhammad Arif; Khunur, Mohammad Misbah; Prananto, Yuniar Ponco
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.085 KB)

Abstract

Metoda gel merupakan salah satu metoda penumbuhan kristal tunggal garam sederhana maupun garam kompleks yang telah banyak dikembangkan. Upaya penumbuhan kristal tunggal kromium(III)-asetilaseton dalam gel metasilikat telah dilakukan dengan metoda tabung gelas tunggal dengan variasi pH gel metasilikat 5,0; 5,5 dan 6,0 dan rasio mol kromium(III):asetiaseton adalah 1:3. Sintesis dilakukan dengan menambahkan larutan supernatan CrCl3 dengan variasi konsentrasi 0,5 dan 0,75M ke atas gel metasilikat yang sebelumnya telah ditambahkan dengan asetilaseton. Reaksi dilakukan pada suhu kamar selama 28 hari. Karakterisasi tahap awal dilakukan dengan metoda spektrofotometri inframerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 28 haritidak terdapat kristal tunggal yang tumbuh dalam gel metasilikat pada setiap variasi pH dan konsentrasi supernatan. Diperkirakan dengan penambahan waktu tumbuh yang lebih lama, kristal yang diinginkan akan tumbuh di dalam gel. Kata kunci: kristal tunggal, gel metasilikat, kromium(III), asetilaseton
PENGARUH TEMPERATUR PENGGANTIAN PELARUT TERHADAP HIDROFOBISITAS AEROGEL SILIKA Nafikah, Fifi; Tjahjanto, Rachmat Triandi; Purwonugroho, Danar
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2081.159 KB)

Abstract

Aerogel silika telah disintesis dengan bahan dasar lumpur Lapindo. Sintesis aerogel silika dilakukan melalui beberapa tahapan yang diawali dengan mengekstrak silika yang ada dalam lumpur Lapindo kemudian endapan silika yang masih basah dicetak sehingga terbentuk gel silika. Gel silika selanjutnya direndam dalam metanol dan sebagai variasi adalah temperatur perendaman yakni pada temperatur ruang dan 50 oC, selanjutnya masing-masing gel dimodifikasi permukaannya dengan TMCS (trimethylchlorosilane) sebagai agen sililasi, kemudian  dikeringkan  pada tekanan ambien dengan temperatur 50 oC selama satu jam dan dilanjutkan pemanasan pada temperatur 200 oC selama satu jam. Aerogel silika yang diperoleh dikarakterisasi menggunakan spektrofotometer infra merah dan uji hidrofobisitas. Penggantian pelarut pada temperatur 50 oC menghasilkan aerogel yang lebih hidrofobik daripada aerogel yang diperoleh dari penggantian pelarut pada temperatur ruang berdasarkan spektra infra merah. Aerogel yang dihasilkan bersifat hidrofobik dan buram. Kata kunci: Aerogel silika, lumpur Lapindo, tekanan ambien, penggantian pelarut
PENENTUAN KADAR IODIDA SECARA SPEKTROFOTOMETRI BERDASARKAN PEMBENTUKAN KOMPLEKS AMILUM-IODIUM MENGGUNAKAN OKSIDATOR IODAT Febrianti, Sita; Sulistyarti, Hermin; Atikah, atikah
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.903 KB)

Abstract

Iodium adalah zat gizi esensial bagi tubuh. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium  (GAKI) merupakan salah satu masalah gizi yang menjadi faktor penghambat pembangunan sumber daya manusia karena dapat menyebabkan terganggunya perkembangan mental dan kecerdasan manusia. Penentuan iodida penting untuk mengetahui jumlah iodida dalam urin. Penentuan iodida dapat dilakukan dengan spektrofotometer metoda spektrofotometri sinar tampak dengan memanfaatkan metode kolorimetri yaitu dengan cara pembentukan kompleks amilum-iodium yang berwarna biru dan menyerap cahaya pada panjang gelombang 615 nm. Pembentukan kompleks amilum-iodium dapat dilakukan dengan cara mereaksikan I- dengan oksidator IO3- dalam suasana asam dengan indikator amilum. Warna yang dihasilkan akan dianalisa secara spektrofotometri sinar tampak. Pembentukan kompleks dilakukan dalam waktu optimum 6 menit dan dengan volume penambahan oksidator iodat 0,8 mL.Kata kunci: iodida, iodat, kompleks amilum-iodium, spektrofotometri
KOMBINASI OZONISASI, IRADIASI ULTRAVIOLET DAN ZEOLIT UNTUK DISINFEKSI AIR TANAH DAN PENENTUAN KONSENTRASI OZON DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VISIBLE Wahyudin, wahyudin; Tjahjanto, Rachmat Triandi; Wardhani, Sri
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.149 KB)

Abstract

Air yang layak minum harus memenuhi baku mutu air minum seperti yang tercantum dalam peraturan Menteri Kesehatan No. 492/MENKES/PER/IV/2010. Peraturan tersebut mensyaratkan tidak ada kandungan Coliform dan E. coli sedikitpun pada air minum, sedangkan syarat kimiawi dan fisika tidak boleh melebihi konsentrasi yang telah ditetapkan, sehingga dibutuhkan proses disinfeksi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya kosentrasi ozon hasil sintesis dengan metode penyerapan sinar ultraviolet oleh oksigen pada panjang gelombang 200-280 nm, dan efektivitas ozon hasil sintesis, iradiasi ultraviolet, dan zeolit untuk disinfeksi air tanah dengan waktu kontak 20, 40, dan 60 menit. Sampel air tanah yang digunakan adalah air tanah di daerah Ketawanggede RT 07/RW 02 Malang. Penelitian ini menggunakan oksigen yang dialirkan dengan debit 833,34 mL/menit secara kontinu dalam tabung quartz dengan daya lampu ultraviolet 15 watt. Berdasarkan penelitian, besarnya konsentrasi ozon hasil sintesis pada waktu 0, 20, 40, dan 60 menit adalah sebesar 0.000,38.37, 41.49, dan 50.56 mL/kL. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi besi, mangan, TDS, pH setelah disinfeksi mengalami penurunan. Sisa konsentrasi besi pada waktu kontak 20, 40, dan 60 menitdisinfeksisebesar 0.083,0.070, dan 0.045 mg/L. Mangan sebesar 0.044, 0.028, dan 0.04mg/L. TDS sebesar 401.2, 406.2, dan 388.8 mg/L. pH sebesar 7.85, 7.80, dan 7.70. Dan tidak terdapat bakteri E. coli pada air tanah. Kata kunci: Bakteri E. coli, Besi, Disinfeksi, Mangan, Ozon, pH, dan TDS
AMOBILISASI PEKTINASE DARI Bacillus subtilis MENGGUNAKAN MATRIKS PASIR LAUT YANG DIAKTIVASI NaOH Mufida, Fadillah; Roosdiana, Anna; Prasetyawan, Sasangka
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.779 KB)

Abstract

Pektinase hasil isolasi dari Bacillus subtilis mempunyai sifat termofilik. Pektinase perlu diamobilisasi agar dapat digunakan secara berulang. Amobilisasi pektinase dilakukan dengan metode adsorpsi fisik pada matriks pasir laut yang diaktivasi NaOH 0,0720 M. Pada penelitian ini ditentukan lama pengocokan dan konsentrasi pektinase optimum  amobilisasi pektinase. Lama pengocokan yang digunakan berkisar antara 1, 2, 3, 4 dan 5 jam dan konsentrasi enzim sebesar 0,943; 1,887; 2,830; 3,774 dan 4,717 mg/mL. Kadar protein diuji dengan metode Biuret dan aktivitas enzim ditentukan dari banyaknya asam galakturonat yang dihasilkan dari hidrolisis pektin oleh pektinase per menit. Kadar protein pektinase bebas diperoleh sebesar 4,717 mg/mL dengan aktivitas 109,8 unit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum pektinase amobil pada pasir dicapai pada lama pengocokan 3 jam dan konsentrasi pektinase 3,774 mg/mL dengan aktivitas 1007,7 unit dan jumlah enzim teradsorpsi pada pasir sebesar 111,6 mg/g pasir.Kata kunci: aktivitas, amobilisasi, Bacillus subtilis, pasir laut, pektinase.

Page 2 of 22 | Total Record : 214