cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 214 Documents
PENGARUH PENAMBAHAN DOLOMIT TERHADAP KEKERASAN BAHAN BAKU PEMBUATAN KERAMIK DARI LUMPUR LAPINDO Hidayat, Rusdhi Nur; Tjahjanto, Rachmat Triandi; darjito, darjito
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.144 KB)

Abstract

IonNa+ dan K+ dihilangkan dari lumpur Lapindo dengan cara ekstraksi menggunakan variasi pelarut akuades dan air PDAM. Variasi pelarut akuades dan air PDAM digunakan saat pembuatan HCl  untuk melarutkan dolomit. Variasi pelarut yang digunakan adalah 5, 10 dan 15% b/v untuk masing-masing pelarut air PDAM dan akuades. Proses ekstraksi ion Na+ dan K+ dilakukan bersamaan dengan proses penambahan ion Ca(II) dan Mg(II) dari dolomit kedalam lumpur Lapindo. Dolomit dilarutkan ke dalam HCl dengan variasi pelarut akuades dan pelarut air PDAM sehingga menghasilkan variasi larutan dolomit dalam HCl (DDH) dengan pelarut akuades dan air PDAM. Adanya kandungan Mg(II) yang lebih besar dari pada Na+ dan K+ dapat membantu koagulasi koloid saat proses ekstraksi. Konsentrasi larutan dolomit dalam HCl (DDH) yang  memberikan hasil paling baik didapatkan pada konsentrasi 15% DDH pada pelarut air PDAM. Dari hasil analisa sebelum dan sesudah ekstraksi, logam Ca(II) bertambah sebesar 17898 ppm.
SINTESIS AEROGEL SILIKA DARI LUMPUR LAPINDO DENGAN PENAMBAHAN TRIMETILKLOROSILAN (TMCS) Zaemi, Haris; Tjahjanto, Rachmat Triandi; Darjito, Darjito
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.914 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari bagaimana cara sintesis aerogel silika dari lumpur Lapindo dengan metode pengeringan pada tekanan ruang. Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh rasio volume penambahan trimetilklorosilan (TMCS) sebagai agen pemodifikasi permukaan terhadap sifat fisik dan sifat kimia aerogel silika yang dihasilkan. Sintesis diawali dengan ekstraksi silika dari lumpur Lapindo yang sebelumnya telah dikalsinasi pada suhu 900 °C menggunakan NaOH 3 M. Hasil yang diperoleh berupa hidrogel silika, selanjutnya dicetak dan dikeringkan hingga didapat gel silika yang padat. Gel tersebut selanjutnya direndam dalam metanol dan campuran pelarut heksana:TMCS:metanol dengan rasio volume 1:1:1 masing-masing selama 24 jam. Kemudian gel dikeringkan pada suhu kamar selama 24 jam, suhu 50 °C selama dua jam, dan suhu 120 °C selama satu jam. Karakterisasi aerogel dilakukan dengan menganalisa morfologi aerogel, menganalisa gugus fungsi, menguji hidrofobitas, dan menguji sifat kelarutan. Semakin banyak penambahan TMCS maka volume pori semakin besar sehingga aerogel semakin rapuh. Analisa gugus fungsi menggunakan spektrofotometer IR menunjukkan bahwa permukaan aerogel silika berhasil dimodifikasi yaitu ditunjukkan adanya puncak pada bilangan gelombang 848,62; 1379,01; dan 2962,46 cm-1 yang menunjukkan adanya gugus Si-CH3. Rasio mol H2SiO3:TMCS yang menghasilkan sifat hidrofobitas pada aerogel adalah 1:0,82 dan 1:1,65. Kata kunci: aerogel silika, gel silika, lumpur Lapindo, pengeringan pada tekanan ruang, trimetilklosilan
PENGARUH pH DAN LAMA KONTAK PADA ADSORPSI Ca2+MENGGUNAKAN ADSORBEN KITIN TERFOSFORILASI DARI LIMBAH CANGKANG BEKICOT (Achatina Fulica) Setyawan, Frida Luthvita; Darjito, Darjito; Khunur, Mohammad Misbah
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.294 KB)

Abstract

ABSTRAK Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini mulai memanfaatkan kitin sebagai salah satu alternatif adsorben. Penggunaan kitin sebagai adsorben karena keberadaannya yang melimpah dan dapat diperbarui secara alamiah.Pada penelitian ini, kitin fosforilasi digunakan sebagai adsorben untuk menyerap Ca2+. Kitin diisolasi dari cangkang bekicot melalui proses demineralisasi dan deproteinasi. Kitin difosforilasi dengan asam fosfat dan natrium bifosfat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh pH dan lama kontak pada adsorben kitin terfosforilasi terhadap ion Ca2+. Proses adsorpsi Ca2+ dilakukan  dengan variasi pH 3, 4, 5, 6, 7, dan 8 serta variasi lama kontak 20, 40, 60, 80, 100, 120 menit.Hasil adsorpsi Ca2+ oleh kitin terfosforilasi dianalisis dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH optimum pada proses adsorpsi kitin adalah pH 5 dengan persen Ca2+ teradsorpsi 91,41% dan lama kontak saat optimum  diperoleh pada menit ke 60. Kata kunci: adsorpsi, cangkang bekicot, fosforilasi, kitin
OPTIMASI AMOBILISASI PEKTINASE DARI Bacillus subtilis MENGGUNAKAN Ca-ALGINAT-KITOSAN Siswanti, Chandra Ayu; Roosdiana, Anna; Sutrisno, Sutrisno
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.804 KB)

Abstract

Pektinase bebas tidak dapat digunakan lebih dari satu kali pemakaian, sehingga perlu dilakukan teknik amobilisasi agar dapat digunakan secara berulang. Penelitian ini mempelajari tentang kondisi optimum proses amobilisasi pektinase pada matriks Ca-alginat-kitosan. Pektinase diisolasi dari Bacillus subtilis, dimurnikan dengan metode pemurnian bertingkat menggunakan amonium sulfat fraksi 20–60% dan dilanjutkan dengan dialisis. Mikroenkapsulasi Ca-alginat-kitosan dibuat dengan mencampurkan pektinase pada variasi 0,943; 1,886; 2,83; 3,774; 4,717 mg/mL dengan Na-alginat pada variasi 1,5; 2; 2,5; 3; 3,5% (w/v) dan meneteskannya pada larutan CaCl2 0,15 M. Manik Ca-alginat selanjutnya disuspensikan pada kitosan 1,5% dan diteteskan pada larutan Na5P3O10 3%, sehingga terbentuk hibrid mikrokapsul Ca-alginat-kitosan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada konsentrasi optimum Na-alginat 3% (w/v) dan konsentrasi pektinase optimum 2,83 mg/mL dapat menjebak pektinase sebanyak 2,83 mg/gram Ca-alginat-kitosan dengan aktivitas sebesar 193,3 unit. Kata kunci: aktivitas, Bacillus subtilis, Ca-alginat-kitosan, pektinase
STUDI AWAL TENTANG PENUMBUHAN KRISTAL TUNGGAL KROMIUM(III)-DISIANAMIDA DALAM GEL METASILIKAT Suyono, Suyono; Khunur, Muhammad Misbah; Prananto, Yuniar Ponco
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.232 KB)

Abstract

ABSTRAK Pengaruh rasio mol dan pH dalam reaksi senyawa kompleks seringkali mempengaruhi komposisi dan sifat dari senyawa yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh rasio mol dan pH pada sintesis Cr(III)-disianamida (dca) dalam gel metasilikat dengan metoda tabung gelas tunggal dan karakterisasi senyawa hasil sintesis. Natrium metasilikat digunakan sebagai bahan gel metasilikat dan sintesis dilakukan pada variasi pH 5, 6, dan 7, sedangkan rasio mol Cr(III):dca yang digunakan yaitu 1:3 dan 1:4. Sintesis dilakukan pada suhu kamar selama 5 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi mol Cr(III):dca dan pH gel berpengaruh pada massa padatan Cr(III)-dca. Massa padatan Cr(III)-dca terbesar dihasilkan pada pH 6 pada setiap rasio. Pada rasio 1:4 diperoleh massa 0,0118 g > pH 7 dengan massa 0,0099 g > pH 5 dengan massa 0,013 g, sedangkan pada rasio 1: 3 diperoleh massa 0,0118 g > pH 7 dengan massa 0,0040 g > pH 5 dengan massa 0,0060 g. ukuran kristal yang diperoleh relatif kecil. Hasil analisa IR menunjukkan dca terikat pada sistem kristal, yaitu pada atom N di ujung dca (N≡C–N-–C≡N) dengan ditunjukan adanya pergeseran pada bilangan gelombang di sekitar 2200 – 2300 cm-1. Kata kunci: Cr (III), dca, Gel metasilikat, Inframerah
OPTIMASI AMOBILISASI PEKTINASE DARI Bacillus subtilis MENGGUNAKAN BENTONIT Rosmanansari, Novia Sintesa Dara; Roosdiana, Anna; Sutrisno, Sutrisno
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.094 KB)

Abstract

Pektinase merupakan salah satu jenis enzim yang mampu memecah senyawa pektin menjadi asam galakturonat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kondisi optimum amobilisasi pektinase dari Bacillus subtilis dengan menggunakan matriks bentonit. Penentuan kondisi optimum amobilisasi dilakukan pada variasi lama pengocokan 1–5 jam dan konsentrasi enzim pada variasi 943,4–4717 ppm menggunakan 0,1 g bentonit pada temperatur ruang, kemudian ditentukan protein yang teradsorpsi dan aktivitas pektinase amobil. Kadar protein sisa ditentukan dengan metode Biuret dan asam galakturonat yang dihasilkan ditentukan menggunakan reagen DNS (asam dinitrosalisilat). Aktivitas pektinase dihitung berdasarkan banyaknya galakturonat yang dihasilkan oleh kerja sejumlah enzim per menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum amobilisasi pektinase menggunakan matriks bentonit yang telah diaktivasi dengan HCl dicapai pada lama pengocokan 4 jam dengan konsentrasi awal pektinase 2830 ppm menghasilkan pektinase teradsorpsi sebesar 21,61 mg/g bentonit dan aktivitas 642,7 µg.g-1.menit-1. Kata kunci:aktivitas, amobilisasi, Bacillus subtilis, bentonit teraktivasi HCl, pektinase
pembuatn tes kit tiosianat berdasarkan pembentukan kompleks besi(III) tiosianat Dini, Putri; Sulistyarti, Hermin; Atikah, Atikah
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1208.82 KB)

Abstract

ABSTRAKTiosianat merupakan salah satu senyawa yang secara tidak langsung dapat menyebabkan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI). Penentuan tiosianat dapat dilakukan dengan tes kit, berdasarkan  metode kolorimetri yaitu dengan cara pembentukan kompleks berwarna merah Besi (III) tiosianat. Pembentukan kompleks Besi (III) tiosianat dapat dilakukan dengan cara mereaksikan tiosianat SCN- dengan ion Fe3+ dalam suasana asam. Warna yang dihasilkan akan dianalisa secara spektrofotometri visibel. Intensitas warna dari kompleks yang terbentuk dibuat sebagai komparator. Hasil penelitian menunjukkan waktu optimum pembentukan kompleks adalah 3 menit dan pH 2.Kata kunci: kompleks Besi(III) tiosianat, tes kit,tiosianatABSTRACTThiocyanate is a compound that can indirectly lead to Iodine Deficiency Disorders(IDD). Determination of thiocyanate to do with the test kit, based on the colorimetric method based on the formation of the red complex iron(III) thiocyanate. Complex formation of iron(III) thiocyanate can be done by reacting thiocyanate(SCN-) with Fe3+ ions under acidic conditions. The resulting color will be analyzed by visible spectrophotometry. Color intensity of the complex formed was madeas a comparator. The results showed the optimum time of the complex formation of 3 minutes and pH 2.Key words:iron(III) thiocyanate complex, tes kit, Thiocyanate
STUDI AWAL SINTESIS KRISTAL TUNGGAL Fe(III)-TARTRAT DARI Fe2O3 DALAM GEL METASILIKAT Grafist, Therra Raditya; Khunur, Mohammad Misbah; Prananto, Yuniar Ponco
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.156 KB)

Abstract

Kristal tunggal logam tartrat telah banyak disintesis dalam gel metasilikat dan menunjukkan berbagai sifat menarik seperti feroelektrik, dielektrik, piezoelektrik, dan karakteristik optik non-linier, namun untuk logam bervalensi tiga seperti Fe(III) belum banyak dilaporkan  Sintesis kristal tunggal Fe(III)-tartrat dari Fe2O3 dalam gel metasilikat yang dilakukan dengan metoda tabung gelas tunggal dengan variasi pH 3,0; 3,5; 4,0; dan 4,5 Sedangkan karakterisasi kristal hasil sintesis dilakukan dengan spektrofotmetri IR dan XRD. Sintesis dilakukan pada suhu kamar selama 15 hari dengan cara menambahkan larutan supernatan Fe2(SO4)3 yang dibuat dengan mereaksikan Fe2O3 dan H2SO4 ke atas gel metasilikat yang sebelumnya telah ditambahkan dengan larutan asam tartrat. Hasil penelitian menujukkan bahwa kristal tunggal Fe(III)-tartrat dalam gel metasilikat diperoleh pH optimum 3,5 dan rendemen 15,44%. Karakterisasi dengan spektrofotometri IR dan XRD mengindikasikan bahwa kristal hasil sintesis mengandung gugus tartrat. Kata kunci: Fe(III), Tartrat, Gel metasilikat, Kristal tunggal.
AKTIVITAS PROTEASE DAN GAMBARAN HISTOLOGI GINJAL TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) PASCA INDUKSI Cyclosporine-A Wati, Ira Perdana; Aulanni'am, Aulanni'am; Mahdi, Chanif
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.356 KB)

Abstract

Protease adalah enzim yang dapat menghidrolisis ikatan peptida pada protein. Aktivitas protease merupakan kemampuan enzim protease untuk memecah protein. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas protease dan gambaran histologi pada ginjal tikus (Rattus norvegicus) pasca induksi Cyclosporine-A (CsA). Ginjal yang digunakan berasal dari dua kelompok, yaitu kelompok tikus kontrol dan tikus induksi CsA dengan dosis 3 mg/kg per berat badan tikus. Aktivitas protease diukur untuk Spektrofototometri UV dan gambaran histologi dengan metode pewarnaan HE (Hematoksilin-Eosin). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata aktivitas protease tikus pasca induksi CsA meningkat yaitu 0,181±0,005 dan pasca induksi CsA 0,283±0,009 µmol/mL.menit. Pada gambaran histologi menunjukkan adanya perbedaan sel epitel antara tikus kontrol dan tikus induksi CsA. Inti sel pada tikus induksi CsA meruncing dibandingkan dengan tikus control karena mengalami fibrosis.
PENGARUH KONSENTRASI ION SULFAT (SO42-) TERHADAP DEGRADASI ZAT WARNA METHYL ORANGE MENGGUNAKAN FOTOKATALIS TIO2-ZEOLIT Pundisari, Seruni Swasti; Wardhani, Sri; Purwonugroho, Danar
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.895 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang degradasi methyl orange menggunakan fotokatalis TiO2-zeolit dengan penambahan ion SO42-. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan ion SO42-, lama penyinaran, dan jumlah fotokatalis TiO2-zeolit terhadap degradasi methyl orange. Dalam penelitian ini digunakan TiO2 jenis anatase. Larutan methyl orange 15 mg/L pH 2 sebanyak 25 mL ditambah dengan 50 mg TiO2-zeolit dan 5 mL larutan SO42- dengan konsentrasi 0, 1.500, 3.000, 4.500, dan  6.000 mg/L disinari dengan sinar UV selama 20, 40, 60, 80, dan 100 menit. Kajian pengaruh jumlah fotokatalis dilakukan dengan cara menyinari 25 mL larutan methyl orange 15 mg/L pH 2 ditambah 5 mL larutan SO42- 4.500 mg/L pada variasi fotokatalis TiO2-zeolit 13, 25, 50, dan 75 mg selama 100 menit. Konsentrasi methyl orange dalam larutan ditentukan menggunakan spektrofotometer UV Vis. Konsentrasi ion SO42- berpengaruh terhadap konstanta laju degradasi methyl orange dan kondisi optimum terjadi pada konsentrasi ion SO42- 4.500 mg/L dengan nilai k 0,0030 min-1. Degradasi methyl orange menggunakan TiO2-zeolit semakin meningkat dengan bertambahnya lama penyinaran dan jumlah fotokatalis.. Kata kunci:fotodegradasi, methyl orange, SO42-, TiO2-zeolit.

Page 3 of 22 | Total Record : 214