Articles
16 Documents
Search results for
, issue
"1988: HARIAN SUARA KARYA"
:
16 Documents
clear
PEMERATAAN PENDIDIKAN DASAR DAN TINGGI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (121.384 KB)
      Barangkali kita masih ingat bahwa pada awal tahun 60-an yang lalu ada seorang penulis dari Perancis, J.J. Servan Schreiber (1963), yang mereproduksi karya tulisnya yang sangat terkenal "Le Defit Americain". Di dalam buku ini Schreiber melukiskan betapa hebatnya kemajuan yang dicapai oleh bangsa Amerika (maksudnya Amerika Seri kat / AS) pada waktu itu. Kemajuan teknologi yang serba canggih, pertumbuhan industri yang serba cepat, perkembangan ekonomi yang relatif melaju seolah-olah telah men dudukkan AS beberapa tingkat lebih tinggi dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain mana pun di dunia ini.      Kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh negara-negara di Benua Eropa pada periode sebelumnya seolah-olah telah "ditelan" habis oleh AS, sehingga menempatkan AS sebagai "ancaman" serius bagi negara-negara Eropa dalam berkompetisi menguasai teknologi dan informasi.      Beberapa tahun kemudian, atau tepatnya pada pertengahan tahun 70-an, seorang ilmuwan dari Amerika Serikat sendiri, Ezra F. Vogel (1975), menulis sebuah buku yang sangat "meyakinkan" yang berjudul "Japan is Number One". Di dalam buku ini Vogel memuji-muji kemajuan yang telah dicapai oleh bangsa Jepang, dan selanjutnya mengisyaratkan bahwa Jepang merupakan "ancaman" serius bagi AS dan bangsa-bangsa lain di dunia ini dalam berkompetisi menguasai teknologi dan informasi.
MASALAH SEKOLAH BIBIT UNGGUL
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (108.002 KB)
      Pada peringatan Harkitnas beberapa waktu lalu yang diselenggarakan di Pendopo Agung Tamansiswa Yogyakarta,tempat yang memiliki nilai sejarah pendidikan itu, seorang menteri kita telah menawarkan gagasannya yang cukup menarik dan mengundang respon dari berbagai kalangan masyarakat. Menteri Pertahanan dan Keamanan RI, L.B Moerdani mengemukakan gagasannya sekaligus "menantang" Tamansiswa untuk menyelenggarakan lembaga pendidikan umum tingkat menengah atas yang disebut Perguruan Taman Madya Taruna Nusantara (PTMTN). Lembaga pendidikan ini, yang kemudian dimediamassakan sebagai "sekolah bibit unggul" disiapkan untuk mencetak calon-calon pemimpin di masa depan.      Dengan lembaga tersebut nampak ada keinginan dari Pak Benny untuk mencetak "bibit unggul" sebagai pemimpin bangsa di masa mendatang, khususnya pada era tigapuluh tahunan yang akan datang. Diakui atau tidak gagasan akademik tersebut memang sangat menarik, dan lebih menarik lagi ketika gagasan tersebut dicetuskan oleh seorang Menhankam seperti Pak Benny yang tentunya lebih banyak mengutak-utik "senjata" dari pada mengurus masalah-masalah pendidikan dan persekolahan di negeri ini. Maka tidaklah mustahil kalau saat ini gagasan pendirian PTMTN tersebut menjadi semacam "isu nasional" yang mengundang respon dari pelbagai pihak.      Terbukti, sampai saat ini tanggapan dari berbagai kalangan masyarakat terhadap gagasan akademik tersebut masih cukup gencar; dari yang bernada sependapat sampai yang sebaliknya.
MEMBANGUN POLITEKNIK DI INDONESIA BAGIAN TIMUR
Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (97.485 KB)
      Salah satu kompleksitas utama yang dihadapi oleh negara-negara berkembang di dunia ini adalah bagaimana memajukan bangsa dan negara melalui pemasyarakatan teknologi tanpa "mengejutkan" masyarakat terhadap penerapan teknologi itu sendiri.      Di berbagai negara telah dapat dibuktikan bahwa aspek sosial teknologi ternyata justru berkembang lebih kompleks diban-ding aspek teknologinya itu sendiri. Keadaan ini disebabkan oleh kultur masyarakat setempat yang kurang siap menerima kehadiran teknologi secara spontan. Oleh karena itu kalau teknologi dipaksakan kehadirannya pada masyarakat tersebut maka timbullah kejutan-kejutan yang mengakibatkan munculnya gejala disharmoni sosial.      Dalam posisi seperti tersebut di atas maka aspek sosial teknologi akan berkembang menjadi lebih kompleks dibanding aspek teknologinya itu sendiri. Indonesia kiranya merupakan salah satu negara yang belum dapat lepas dari kompleksitas ini.      Untuk menciptakan keseimbangan antara aspek sosial tekno-logi dengan aspek teknologinya itu sendiri maka politeknik menjadi salah satu alternatif. Kehadiran politeknik diharapkan mampu memasyarakatkan teknologi tanpa "mengejutkan" masyarakat. Melalui pendidikan teknologi pada politeknik akan diciptakan tenaga-tenaga terampil tingkat tinggi (high skilled worker) yang potensial guna membangun negara. Jadi dengan demikian maka, diharapkan, kemajuan negara dan bangsa dapat diwujudkan tanpa adanya disharmoni sosial yang menyertainya.
SKEMA KETENAGAKERJAAN DI INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (117.705 KB)
      Ada berita duka dari "kota buaya" Surabaya; yaitu sekitar meninggalnya beberapa orang pencari kerja secara "bersamaan" waktunya pada saat mereka berdesak-desakan untuk mengadu nasib memanfaatkan peluang kerja yang ada.      Sangat sempitnya peluang kerja yang tersedia pada satu pihak, dan sangat banyaknya para pencari kerja pada pihak yang lainnya telah menciptakan situasi dan kondisi sedemikian rupa sehingga para pencari kerja tersebut "rela" mempertaruhkan nyawanya untuk mengadu nasib guna memanfaatkan peluang kerja yang tersedia.      Peristiwa dan keadaan tersebut tentu saja sangat memprihatinkan; untuk tidak mengangkatnya sebagai sebuah keprihatinan nasional, karena sesungguhnya hal tersebut lebih merupakan "potret mini" tentang skema ketenagakerjaan di Indonesia.      Oleh karena itu kalau Presiden Soeharto dan Menaker Drs. Cosmas Batubara menyatakan keprihatinannya atas musibah itu, maka mungkin saja di balik keprihatinannya tersebut juga terkandung keprihatinan yang lain, yaitu tentang betapa masih sangat kompleksnya masalah ketenagakerjaan di negara kita. Kompleksitas permasalahan yang belum pernah dapat terselesaikan secara sempurna.
MEWASPADAI BERJANGKITNYA PENYAKIT AIDS (1)
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (125.995 KB)
Data yang berhasil didokumentir oleh dr. Kabul Rachman, seorang ahli penyakit kulit dan kelamin dari Undip Semarang, menyebutkan bahwa sampai September 1985 di Amerika telah ditemukan 12.932 kasus yang 6.81 diantaranya meninggal dunia. Sedangkan per 16 Maret 1987 di USA ditemukan 35.397 kasus, di Perancis 1.221 kasus, di Afrika 2.80 kaus, dan di Asia "baru" 103 kaus. (ada yang melaporkan pada tahun 1979) ini, setidak-tidak-nya kini telah "menyerang" lebih dari 40 negara di seluruh benua dari Amerika sampai Asia. Dan, kini telah terbukti bahwa penyakit yang cukup "menakutkan" tersebut telah sampai di negara kita. Barangkali tidak sekedar "berwisata", akan tetapi penyakit ini kelihatannya ingin "menetap" pula di negara kita.      Sementara itu seorang internis dari Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam UNS Surakarta, dr. Guntur Hermawan, mengacu tulisan nicholas P. dalam "Immune Competencein maitian Living in New York 1983" menginformasikan bahwa sekitar 40% penderita AIDS meninggal dengan cepat. Angka kematian dalam 2 tahun lebih dari 70%, dan setiap hari dilaporkan 5 kasus baru pada "Centre of Communicable Diseases Control" di Atlanta.      Dokter H. Prastowo Mardjikoen, seorang Ginikolog dari UGM Yogyakarta, mempunyai catatan tersendiri.Sampai Agustus 1986 sebanyak 71 negara telah melaporkan sekitar 29.000 kasus AIDS, dan WHO sekarang ini memperkirakan ada sekitar 100.000 penderita AIDS di seluruh dunia. Dan khusus di Amerika Serikat sendiri menjelang tahun 1991 nanti diramal akan ditemui lebih dari 270.000 penderita.
MENIMBANG EFEKTIVITAS MULTIDEPARTEMENTASI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (104.692 KB)
      Barangkali kejadiannya hanyalah secara kebetulan saja. Setelah di Jawa Barat terjadi kasus "Emen-Ganda" yang sempat menyita perhatian berbagai kalangan, khususnya kalangan pendidik, kini muncul kasus baru yang tidak kalah menariknya yakni kasus "Rahmat".      Secara kebetulan saja orang yang terlibat secara langsung dalam kasus tersebut- Emen, Ganda serta Rahmat ketiganya merupakan pelaku didik di SD, Sekolah Dasar. Juga secara kebetulan kasus tersebut munculnya di daerah propinsi yang sama. Dan mungkin secara kebetulan pula kalau dibalik kasus tersebut terdapat hal-hal yang bersifat "aneh" untuk ukuran masyarakat kita; lepas dari sah atau tidaknya "keanehan" tersebut.      Yang kiranya belum "kebetulan" ialah: kalau kasus Emen-Ganda sekarang ini sudah bisa diselesaikan secara musyawarah dan mufakat (?), sementara itu kasus "Rahmat" sedang menapaki medan. Ibarat pelari marathon, kalau Emen dan Ganda sudah memasuki garis "finish" maka Rahmat baru saja meninggalkan garis "start".      Emen dan Ganda dua pelaku didik di SD yang pernah ditu-runkan pangkat atau jabatannya serta dimutasikan tempat kerjanya kini sudah cukup lega. Meskipun pemutasian tempat kerja ternyata tidak bisa dihindari, namun mereka masih cukup beruntung karena masalah penurunan pangkat atau jabatan akhirnya dapat "dianulir".
NEM SEBAGAI DASAR SELEKSI:KELEBIHAN DAN KEKURANGANNYA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (109.989 KB)
      Pada pergantian abad ke 19 dan 20 seorang ilmuwan Barat, Louis William Stern (1871-1938) berhasil menciptakan teori konvergensi yang merupakan gabungan dari teori nativismenya Schoppenhauer dengan Empiris-nya John Locke. Menurut teori konvergensi-nya Stern, pengembangan diri seseorang sangat ditentukan oleh dua faktor sekaligus ; ialah "pembawaan" dan "pengalaman".      Teori tersebut sampai sekarang diacu oleh hampir seluruh pendidik di seluruh dunia; baik di negara-negara yang sudah maju maupun di negara-negara yang sedang berkembang; tak terkecuali Indonesia.      Itulah sebabnya maka para pakar pendidikan telah meyakini dengan sepenuh hati bahwa keberhasilan belajar seorang siswa/mahasiswa ditentukan oleh dua faktor sekaligus; ialah faktor input dan faktor proses. Yang pertama lebih menunjuk pada "pembawaan", dan yang kedua lebih menunjuk pada "pengalaman".      Implikasinya: apabila dalam dunia pendidikan kita sering ditemui diskusi atau polemik tentang efektivitas sistem penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi, baik PTN maupun PTS, sesungguhnya itu tidak lebih dari manifestasi keinginan masyarakat agar lembaga pendidikan tersebut mempunyai input yang benar-benar berkualitas, karena input ini memiliki posisi yang sangat strategis untuk mencapai keberhasilan belajar yang maksimal.
BANYAK KURSI KOSONG, GEJALA APA INI?
Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (98.58 KB)
      Salah satu faktor kausal yang telah mengakibatkan perguru-an tinggi menjadi sebuah "simbol elite": terletak pada sulitnya menembus dinding lembaga pendidikan formal yang tertinggi itu sendiri. Hanya para kandidat yang benar-benar memiliki kemampuan akademik tinggi yang mampu menembus dinding perguruan tinggi tersebut.      Hanya sedikit dari banyak orang yang memiliki persyaratan kemampuan akademik tersebut di atas. Akhirnya perguruan tinggi menjadi sebuah "simbol elite": elite akademik.      Di negara kita sulitnya menembus dinding perguruan tinggi memang tidak terbantahkan lagi adanya. Angka statistik kita menunjukkan data baru sekitar 45% lulusan SMTA yang dapat ditampung pada perguruan tinggi; masing-masing 35% ditampung pada program gelar (degree), serta 10% pada program bukan gelar (non degree).      Keadaan tersebut menunjukkan betapa masih sangat terbatasnya daya tampung perguruan tinggi di negara kita di satu pihak, dan sulitnya menembus dinding perguruan tinggi itu sendiri pada pihak yang lain.
BEKAL KETERAMPILAN LULUSAN SD
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (102.588 KB)
      Kurikulum sekolah dasar saat ini nampaknya mulai mendapat sorotan. Setelah dalam beberapa waktu para pakar dan pengamat pendidikan kita memusatkan perhatiannya pada kurikulum sekolah menengah dan pendidikan tinggi, khususnya IKIP, maka kurikulum sekolah dasar yang dalam beberapa waktu dianggap "establih" (dalam konotasi relatif) maka saat ini mulai mendapat giliran untuk disorot.      Deputi Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Prof. Dr. Harsono Wiryosumartono, ketika didengar pendapatnya oleh FKP DPR untuk menghimpun masukan pembahasan RUU Pendidikan Nasional beberapa waktu yang lalu mengatakan bahwa penyusunan kurikulum Sekolah Dasar (SD) sudah harus memperhitungkan pemberian bekal keterampilan kepada lulusan SD untuk bekerja.      Mata pelajaran yang diberikan pada tingkat pendidikan SD tersebut seharusnya lebih condong pada berbagai mata pelajaran yang praktis, bukan mata pelajaran yang merupakan persiapan untuk memasuki pendidikan tinggi, apalagi universitas.      Garis logika yang diambil oleh pakar tersebut ada lah bahwa lulusan SD tidak memperoleh bekal keterampilan yang cukup dari sekolahnya untuk bekerja, pada hal sekitar 50% dari penduduk yang masuk SD tidak dapat langsung melanjutkan studinya, melainkan terjun langsung ke dunia kerja. Akibatnya mereka menjadi canggung untuk memasuki lapangan kerja pada pos-pos yang ada.
EMPAT ALTERNATIF YANG DAPAT DITEMPUH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (125.904 KB)
      Kondisi pendidikan menengah di Indonesia dilukiskan oleh TPP SMTP dan SMTA saat ini yang masih berkisar pada angka 58% dan 34%. Pada sisi yang lain daya tampung sekolah terhadap jumlah lulusan jenjang pendidikan dibawahnya untuk SMTP dan SMTA berturut-turut berkisar pada angka 63% dan 82%.      Untuk tahun akademik 1987/88 sebanyak 6.687.000 dari 11.537.000 penduduk berusia pendidikan menengah per tama, 13 s/d 15 tahun, sudah dapat ditampung di sekolah. Pada sisi yang lain sebanyak 3.655.000 dari 10.745.000 penduduk usia pendidikan menengah atas, 16 s/d 18 tahun, sudah dapat ditampung di sekolah. Jadi, TPP untuk jenjang SMTP dan SMTA masing-masing adalah 58% dan 34%. Ini merupakan pencapaian TPP yang maksimal selama beberapa tahun yang terakhir ini. Periksa Tabel 3 dan Tabel 4!      Daya tampung sekolah menengah pun sampai sekarang ini belum mampu mencapai titik yang maksimal. Pada tahun 1987/88 seluruh SMTP di Indonesia hanya mampu menampung 2.377.000 siswa baru dari sebanyak 3.786.500 lulusan SD pada tahun ajaran sebelumnya. Hal ini berarti bahwa daya tampung pendidikan menengah pertama di negara kita masih berkisar pada angka 63%.      Sementara itu pada tahun yang sama seluruh SMTA di Indonesia hanya mampu menampung 1.397.000 siswa baru dari sebanyak 1.703.000 lulusan SMTP pada tahun ajaran sebelumnya. Hal ini berarti bahwa daya tampung pendidikan menengah atas di negara kita masih berkisar pada ang ka 82%.