cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
SERTIFIKASI DAN “HOLOCAUST” SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.966 KB)

Abstract

Holocaust yang artinya prahara atau bencana besar saat ini  merupakan terminologi yang sangat populer di Arab, khususnya di Palestina. Serangan ?membabi-buta? yang dilakukan Israel di Gaza dan menewaskan ribuan manusia itulah yang disebut holocaust. Terminologi ini semakin populer ketika dikumandangkan secara berulang kali oleh televisi Al-Jazeera dan Al-Arabiya.          Di Indonesia, holocaust ada hubungannya dengan sertifikasi pendidik. Apakah hubungannya? Sejak tahun kemarin s/d sekarang proses sertifikasi yang melibatkan ratusan ribu guru dan dosen telah dan masih berlangsung. Puluhan ribu guru dan dosen bahkan telah menikmati kenaikan kesejahte-raan secara signifikan setelah mendapatkan sertifikat pendidik.          Permasalahannya, kalau kenaikan kesejahteraan puluhan ribu guru dan dosen yang telah menyita triliunan rupiah uang negara tersebut tidak diser-tai dengan semakin matapnya kinerja pendidikan maka terjadilah bencana besar di negeri ini. Holocaust!
PEMIMPIN DENGAN KEKUATAN LUAR BIASA Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

?Rahasia kehidupan adalah memberi? kata Anthony Robbins dalam bukunya yang berjudul Unlimited Power.  Sebagian besar orang hanya berpikir bagaimana cara menjadi pemimpin yang efektif. Kadangkala yang lebih penting, yaitu proses untuk menjadi pemimpin yang efektif dilewatkan. Hanya berpikir bagaimana cara mendapatkan bukan  berpikir bagaimana memberi. Salah seorang pimpinan peruguruan tinggi berkata kepada saya ?Pak Yanto anak buah saya sulit sekali untuk diajak kerja keras. Malas-malasan saja?. Tetapi ketika anak buahnya saya tanya, kenapa mereka tidak mau kerja keras mereka menjawab ?Bapak Pimpinan tidak pernah memperhatikan kami?. Pimpinan dan anak buahnya sama-sama berusaha untuk mendapatkan bukan memberi.           Jika Anda berkata kepada tanah ?Berilah kami tanaman. Berilah kami sayur-sayuran. Berilah kami padi. Maka tanah akan menjawab ?Maaf. Mungkin Anda keliru. Anda belum kenal dengan saya. Bahkan Anda belum pernah menyapa, apalagi memberikan sesuatu kepada kami. Seharusnya Anda menyirami kami, merawat kami dan menggemburkan kami, setelah itu barulah kami memberikan tanaman, sayur-sayuran, padi kepada anda?.  Dalam kepemimpinan juga berlaku seperti itu. Anda memang bisa mendapat gaji yang besar, membawahi anak buah yang banyak dan dapat mengelola perusahaan yang besar. Tetapi jika Anda hanya melakukan demi untuk diri Anda, maka Anda tidak betul-betul seorang pemimpin yang efektif. Anda tidak betul-betul berkuasa. Anda tidak betul-betul mengelola perusahaan besar, bahkan Anda tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Jika Anda berkeinginan menaiki tangga-tangga kesuksesan sendirian, maka Anda bisa jadi akan tergelincir tanpa ada yang menolong. Kebiasaan berpikir mendapatkan inilah yang telah mendarah daging dalam kehidupan kita. Memang kita harus mengubah paradigma berpikir mendapatkan menjadi memberi. Apalagi kalau kita memberi dengan ikhlas, maka akan menjadikan kita, Pemimpin yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. ?Tatkala Allah menciptakan bumi tetapi bumi tersebut selalu bergerak maka diletakkan di atasnya gunung sehingga tenang dan tidak bergerak lagi, sehingga Malaikat kagum dan berkata : Ya Allah apakah dari makhlukMu ada yang  lebih kuat daripada gunung?. Allah menjawab :?Ya, besi lebih kuat. Mereka bertanya lagi : Apakah yang lebih kuat daripada besi?. Allah menjawab : Ya, api lebih kuat. Mereka bertanya lagi : Apa ada dari makhlukMu yang lebih kuat daripada api?. Allah menjawab : Ya, air lebih kuat. Mereka bertanya lagi: Ya, Allah apa ada yang lebih kuat dan keras daripada air?. Allah menjawab : Ya, ada angin lebih kuat. Mereka bertanya lagi : Apakah ada yang lebih kuat daripada angin?. Allah menjawab : Ya, ada, anak Adam yang bershadaqah dengan tangan kanannya secara bersembunyi lebih kuat daripadanya.? Sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Anas Ibnu Malik.
SENTRALISASI DAN DESENTRALISASI EBTANAS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.411 KB)

Abstract

       Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita, Prof. Dr. Fuad Hassan baru-baru ini mengemukakan bahwa kemungkinan diselenggarakannya  desentralisasi Ebtanas untu tahun-tahun yang akan datang akan segera dikaji dan diteliti. Bahkan Bapak Presiden Soeharto sendiri sudah  memberikan lampu  hijau terhadap rencana pengkajian dan  penelitian tentang  kemungkinan penyelenggaraan ebtanas yang tidak terpusat ini.       Mendikbud selanjutnya memberikan penjelasan bahwa     peng-kajian  dan penelitian tentang penyelenggaraan Ebtanas  secara desentralisasi akan segera dilakukan  karena banyaknya keluhan masyarakat tentang pelaksanaan Ebtanas seperti yang selama ini diselenggarakan oleh pemerintah, dalam hal ini Depdikbud.       Ebtanas yang diselenggarakan sejak beberapa tahun     yang lalu antara lain dimaksudkan untuk meningkatkan dan     menyamakan kualitas pendidikan. Dengan Ebtanas diketahui     seberapa besar kemampuan masing-masing siswa dan sekolah di seluruh wilayah Nusantara ini dalam proses pendidikan yang kurikulumnya telah ditetapkan dan disamakan sebelumnya dari pusat.       Permasalahan kemudian muncul setiap hasil Ebtanas akan di-umumkan, dimana pada umumnya hasil Ebtanas adalah "jelek"  (baca: kurang memuaskan).  Baik secara langsung maupun tidak langsung hal ini telah menunjukkan demikian terbatasnya kemampuan siswa serta kualitas sekolah  pada umumnya.
BHP: KITA CONDONG KE INGGRIS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.034 KB)

Abstract

       Setelah melalui perjalanan panjang dan berliku, akhirnya Rancangan Undang-Undang (RUU) Badan Hukum Pendidikan (BHP) disahkan men-jadi Undang-Undang (UU). Hal itu terjadi dalam sidang paripurna DPR RI pada tanggal 17 Desember yang lalu.          Banyak reaksi atas disahkannya UU BHP tersebut. Ada yang setuju, ada pula yang tidak setuju; ada yang bersyukur akan tetapi ada pula yang menolak. Sejumlah mahasiswa yang ikut menghadiri sidang secara terang-terangan menolak disahkannya UU tersebut; mereka pun meneriakkan sikap penolakannya di ruang sidang sehingga membuat sidang para wakil rakyat yang terhormat tersebut menjadi ricuh.          Sikap seperti itu memang sudah diduga sebelumnya; ini ditengarai oleh banyaknya arganisasi masyarakat yang menyayangkan kesepakatan DPR dengan pemerintah beberapa hari sebelumnya untuk membawa RUU BHP untuk disahkan ke sidang paripurna DPR. Forum Rektor Indonesia (FRI), Perguruan Tamansiswa, dan Majelis Pendidikan Kristen (MPK) adalah sebagian dari organisasi masyarakat yang dimaksud.
MASALAH TANGGUNG JAWAB SEKOLAH DALAM RUUPN Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.101 KB)

Abstract

       Meskipun sudah cukup lama Rencana Undang Undang Pendidikan Nasional (RUUPN) dikomunikasikan kepada masyarakat luas,  khususnya yang berkecimpung secara langsung dalam dunia pendidikan,  akan tetapi pembicaraan tentang "kertas kerja" tersebut masih tetap hangat sampai saat ini. Bahkan semakin hari semakin hangat, karena berbagai diskusi, panel, seminar, pertemuan ilmiah, dsb, untuk membahas masalah tersebut semakin sering dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat.       Keadaan tersebut sebenarnya menjadi bukti betapa besar tanggung jawab masyarakat kita terhadap dunia pendidikan. Setidak-tidaknya mereka telah menganggap bahwa masalah pendidikan adalah masalah setiap orang. Bukan hanya masalah pemerintah, atau masalah segelintir kaum birokrat akademik saja.       Fenomena tersebut tentu sangat membanggakan kita, karena hal itu justeru menandakan semakin berkembang dan dewasanya bangsa kita dalam memikul tanggung jawab.       Konon salah satu ciri bangsa yang berkembang dan dewasa ialah bangsa yang mampu memikirkan nasibnya dalam perspektif pendek maupun panjang. Pendidikan secara langsung akan bersangkut paut dengan perspektif pendek maupun panjang suatu bangsa;  oleh karena itu bangsa yang merasa bertanggung jawab atas masalah-masalah pendidikan di negaranya dapat dikategorikan sebagai bangsa yang sudah berkembang dan dewasa.
KIAT SUKSES MENJADI ENTREPRENEUR BAGI ORANG BIASA (13) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.663 KB)

Abstract

Untuk memasarkan bimbingan pada tahap awal tersebut, selain mendatangi ke rumah siswa dengan membimbing mereka dengan senanghati tanpa biaya tambahan yang dapat menyentuh hati keluarga mereka, kami juga membagi brosur ke sekolah-sekolah. Kami hanya berharap, dari 100 brosur yang kami bagi, minimal 1 orang mendaftar bimbingan di tempat kami.  Ketika itu, bimbingan belajar kami masih kecil sehingga, ketika kami meminta ijin kepada Kepala Sekolah, beberapa Kepala Sekolah yang kami datangi menolak. Itulah nasib perusahaan yang belum punya reputasi, harus biasa menghadapi hal-hal seperti ini. Kesulitan itu akan menghasilkan kreatifitas yang luar biasa. Akhirnya kami berpikir, untuk bekerjasama dengan tukang parkir di sekolah.  Sebagian brosur kami masukkan ke dalam helm yang ada dalam sepeda motor atau bagian yang ada dalam sepeda motor dan sebagian kami bagi ketika mereka pulang dari sekolah dengan mencegat di pintu keluar. Strategi ini ternyata membuahkan hasil yang cukup luar biasa. Bimbingan belajar tersebut terus berkembang, akhirnya tempat yang kita sewa tersebut tidak mampu menampung siswa yang ikut bimbingan. ?Dik ruang sebelahnya juga boleh kamu kontrak? kata yang punya rumah. ?Iya Pak? jawab kami. Kemudian kami menyewa ruang yang terletak di sebelah utara dari ruang yang kami sebelumnya, tetapi letak ruangan tersebut tidak di tepi jalan. Meskipun sudah menambah ruang tetapi, tidak cukup juga dan berpikir untuk membuka cabang yang terletak di bagian timur kota Yogyakarta. Hal ini juga didorong dari beberapa siswa yang meminta untuk di buka cabang di wilayah timur kota Yogyakarta. ?Kawan-kawan saya sebetulnya mau ikut Mas, tetapi jauh kalau ke sini? kata mereka. Masalah utama untuk membuka cabang adalah tidak punya uang untuk membayar sewa gedung atau rumah. Meskipun yang ikut bimbingan cukup banyak, tetapi mereka membayar dengan biaya sangat murah, hanya Rp. 9.500,-. Dibalik kesulitan, selalu menimbulkan kreatifitas yang luar biasa. Sebuah ide mengalir begitu indah, yaitu menyewa geduang atau rumah tanpa menggunakan uang tunai. Pada saat kami membuka cabang di jalan Demangan Kidul nomor 92, yaitu rumah Bapak Sri Satoto. Kami membuka cabang dengan metode pembayaran di belakang. Kita mengatakan ?Pak kami akan sewa rumah Bapak selama satu tahun?. ?Silakan. Saya senang mahasiswa seperti Anda mempunyai kegiatan?, jawab Pak Sri Satoto sambil memuji kami. ?Kami akan membayar per bulan Pak?, kata kami. ?Tidak apa-apa?, jawab Pak Sri Satoto. ?Tetapi kami akan membayar mulai bulan depan Pak?. Pak Sri Satoto terdiam sejenak, kemudian berkata ?Ya. Tidak apa-apa?. Atas kebaikan Pak Sri Satoto tersebut kita dapat membuka cabang tanpa uang sepeserpun. Perjalan awal menggelindingkan bisnis itu mengajarkan beberapa pengalaman yang luar biasa. Kita tidak akan memperoleh kalau tidak pernah memualai bisnis atau melewati tahap ketiga. Banyak dari kita tidak memperoleh pelajaran dari tahap ketiga ini atau barangkali tidak mengambil pelajaran pada tahap ini,. Begitu menemukan kesulitan, langsung menyerah dan akhirnya bisnis yang digelindingkan berhenti. Mereka berhenti melangkah dan menyerah. Padahal kemungkinan hanya tinggal satu langkah saja untuk menuju tahap berikutnya. Tuhan mengajarkan kepada kita untuk selalu mengambil pelajaran bagi orang yang mempunyai akal seperti kita. Saya merasa mendapatkan ilmu dan pengalaman yang sangat luar biasa, mulai dari pengalalaman bahwa kesulitan itu dapat menghasilkan kreativitas yang luar biasa dan menggelindingkan bisnis itu dapat dilakukan tanpa menggunakan uang tunai. 
HAM, UUD 1945 DAN TAMANSISWA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.22 KB)

Abstract

       Baru-baru ini, tepatnya tanggal 29-30 Maret 1994, untuk yang kedelapan kalinya Tamansiswa menyelenggarakan Sarasehan Kebudayaan Tamansiswa Ke-8.  Sarasehan ini di-buka oleh Menhankam Edi Sudradjat dan dihadiri oleh para budayawan, seniman, pendidik, rektor,  kalangan politik, birokrat, konsultan, ilmuwan, dan sebagainya.  Nama-nama beken seperti  Karkono Kamajaya,  Eros Djarot, Christine Hakim, Bagong Kussudiardjo, Megawati, Nico Daryanto, Abu Hartono, Rustandi, Suprapto, Mathori Abdul Jalil, Aisyah Amini,Boerhanoeddin Lubis, Marsetio Danuseputro, Marzuki Darusman, R. Haryoseputra (Suara Karya),dsb, secara per-orangan berkumpul untuk mengadakan sharing opinion, know ledge and experience.           Di samping dapat berdiskusi secara "lepas" maka peserta seminar  dapat mendengarkan arahan langsung dari  Pak Edi Sudrajat selaku Menhankam serta berdialog dengan  nara sumber yang pakar pada bidangnya,antara lain dengan Pak Mochtar Kusuma-Atmadja mantan Menlu yang menjadi pe-ngamat politik,  A. Hamid Attamimi pakar hukum, T. Mulya Lubis Ketua Yayasan Pusat Studi HAM, dan sebagainya.          Pada sarasehan kebudayaan kali ini Tamansiswa se-ngaja mengambil tema yang cukup fundamental dan aktual, yaitu mengenai Hak Asasi Manusia, Demokrasi, hukum serta konstitusi ditinjau dari  wawasan kebangsaan Indonesia. Tema ini sengaja dikembangkan  mengingat akhir-akhir ini banyak orang berbicara mengenai HAM,  bahkan seolah-olah ada yang menganggap HAM sebagai "barang" baru yang hidup di Indonesia. Sedangkan pembicaraan HAM amat berkait de-ngan masalah demokrasi, hukum dan konstitusi.
BERSIAP-SIAP MEMILIH PTS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.504 KB)

Abstract

       Bersamaan dengan diumumkannya kelulusan siswa SMA beberapa waktu yang lalu maka dimulailah kompetisi antar perguruan tinggi swasta, PTS, dalam upayanya "menggaet" kandidat mahasiswa baru. Spanduk-spanduk yang terpampang di atas jalanan, leaflet dan brosur yang terdistribusi dari rumah ke rumah, serta iklan yang hampir setiap hari nongol di halaman koran dan majalah, yang kesemuanya bernada pengenalan program-program akademik perguruan tinggi nonpemerintah, di samping menunjukkan berlangsungnya kompetisi juga sekaligus memberikan pratanda mengenai relatif ketatnya kompetisi.          Sekarang ini terdapat sekitar 1.000 PTS di negara kita; berdasarkan catatan Depdikbud untuk tahun akademik 1990/1991 menunjuk pada angka 914  yang terdiri dari 221 universitas, 51 institut, 350 sekolah tinggi, 290 akade-mi, dan 2 politeknik. Jumlah ini dari waktu ke waktu me-ningkat terus; dan kesemuanya saling memperebutkan calon mahasiswa baru lulusan SMA dan sekolah menengah lainnya.          Secara empirik selama ini pemilihan PTS oleh para kandidatnya lebih ditentukan oleh dua kecenderungan; yaitu pemilihan yang dilakukan secara kompentatif dan pemi lihan atas dasar perilaku peer-group.
MENGUBAH KERUGIAN (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketika saya menyampaikan seminar di Balaikota yang diadakan oleh SKH Minggu Pagi, ada salah seorang yang bertanya. ?Pak Yanto. Saya berbisnis dalam bidang pakaian. Saya hanyalah pengusaha kecil, yang hanya mampu menggaji karyawan dengan gaji kecil. Saya berusaha mendidik karyawan saya dengan baik. Setelah mereka trampil, akhirnya keluar. Bahkan dia mendirikan perusahaan seperti perusahaan saya, sehingga ia menjadi pesaing baru kami. Saya sangat kecewa kepada karyawan tersebut. Kok tidak ada balas budi kepada saya. Bahkan memusuhi dan menyakitkan hati saya. Bagaimana Pak Yanto saya menyikapi hal ini dan bagaimana saya dapat mempertahankan karyawan saya meskipun gajinya kecil?? Pertanyaan seorang ibu tersebut sederhana, tetapi jawabannya tidaklah mudah, rumit, kompleks dan barangkali tidak memuaskan. Saya mencoba menjawab dengan memahami apa yang dikatakan, dimaksudkan dan dirasakan seorang ibu tersebut. Jawaban saya yang pertama ?Seandainya saya menjadi Ibu yang telah mendidik karyawan dengan baik. Setelah mereka trampil, akhirnya keluar. Bahkan dia mendirikan perusahaan seperti perusahaan Ibu, sehingga ia menjadi pesaing baru Ibu.. Tidak ada balas budi kepada Ibu, bahkan memusuhi dan menyakitkan hati Ibu. Sayapun seperti Ibu, juga sangat kecewa kepada karyawan tersebut. Tetapi Bu, kita mencoba untuk memandang dengan cara yang lain. Memandang dengan sikap mental positif. Kita mengatakan dalam hati kita, bahwa Saya telah mendidiknya dengan baik. Sekarang ia telah menjadi pengusaha baru. Semoga ini merupakan amalanku kepada Allah yang tidak pernah putus. Amalan ketika anak Adam meninggal dunia, telah putus semuanya kecuali tiga hal. Anak yang shaleh, amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat. Semoga yang saya lakukan terhadap karyawan saya tersebut termasuk amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat yang mendapatkan balasan dari Allah di akhirat kelak. Sekarang saya bangga dengan dia karena dia merupakan salah satu sarana saya untuk surga dari Allah. Sekarang dia akan saya jadikan anak saya lagi seperti dahulu. Bukan lagi permusuhan, tetapi hubungan kekeluargaan dan kerjasama, yang saling memajukan kedua perusahaan?. Kebanyakan dari kita, ketika disakiti dari rekan bisnis, mantan karyawan, maka yang kita lakukan adalah memusuhi, bahkan seaakan-akan pertarungan yang tidak pernah habis dan sangat melelahkan. Yang ada hanya sakit hati, demdam dan irihati. Ibarat Gladiator maka kita bertempur habis-habisan sampai titik darah penghabisan. Sebagian yang kalah mati, tetapi yang menangpun pingsan. Semuanya rugi, tidak ada satupun yang beruntung. Tetapi jika kita menyikapi dengan cara yang berbeda dengan mengambil sisi positif, maka kita akan memancarkan energi positif di sekitar kita., yang menjadikan lingkungan menjadi indah, akhirnya dapat mengubah kerugian tersebut menjadi keuntungan.     
ANGGARAN PENDIDIKAN DALAM RAPBN 1996/1997 Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.663 KB)

Abstract

       Sebuah tradisi politis  pidato presiden  di setiap awal tahun untuk menyampaikan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) senantiasa mendapat perhatian dari banyak kalangan; baik kalangan dalam maupun luar negeri.  Hal ini juga berlaku pada pidato Presiden Soeharto yang disampaikannya tanggal 4 Januari 1996 yang lalu untuk menyampaikan RAPBN Tahun 1996/1997 di depan Rapat Paripurna DPR kita.         Bagi banyak kalangan  RAPBN 1996/1997  mendapat  tanggapan yang positif.  Tercerminnya upaya-upaya mengurangi ketergantungan dari pihak "luar" dan naiknya nominal anggaran merupakan dua point penting yang secara akumulatif akan sangat menentukan keberhasilan pembangunan negara kita di masa mendatang;  setidak-tidaknya dalam periode tahun anggaran 1996/1997. Berkurangnya ketergantungan ter-hadap pihak luar tentu akan menaikkan kredibilitas pembangunan; sedangkan naiknya anggaran diharapkan mampu mempertinggi kuantitas pembangunan, dan sudah barang tentu dengan kualitasnya.       Seperti diketahui apabila dibandingkan dengan  APBN 1995/1996 yang baru saja berakhir,  yaitu sebesar 78,02 trilyun rupiah, maka RAPBN 1996/1997,sebesar 90,62 trilyun rupiah, mengalami kenaikan yang berarti; yaitu mencapai 16 persen lebih. Apabila kita bandingkan dengan tahun lalu  maka angka kenaikan tersebut ternyata lebih tinggi. Tahun lalu RAPBN 1995/1996 mencapai 78,02 trilyun rupiah, yang berarti nilai kenaikannya "hanya" 11 persen bila dibandingkan dengan APBN 1994/1995 yang besarnya 69,75 trilyun rupiah.       Bahwa RAPBN 1996/1997 akan mengalami kenaikan memang su-dah banyak diprediksi oleh para pengamat pembangunan dan ekonomi kita; akan tetapi tentang nilai kenaikannya yang mencapai di atas 16 persen memang tidak semua pengamat mampu memprediksikannya.

Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SURYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: MAJALAH PUSARA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH PUSARA 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue