cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
LIMA "WARNING" BAGI TPI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.344 KB)

Abstract

       Pada tanggal 23 Januari 1991 satu tahun yang lalu Presiden Soeharto berkenan meresmikan lahirnya Televisi Pendidikan Indonesia (TPI); itu berarti bahwa hari ini TPI telah genap berusia satu tahun. Satu tahun yang lalu pula di harian ini saya menulis tentang kerinduan bangsa kita untuk mempunyai program pengajaran nonkonvensional melalui televisi guna memperluas jangkauan pelayanan pendidikan bagi rakyat banyak (Supriyoko, "Selamat Datang Televisi Pendidikan", Suara Karya: 23/01/91).          Dalam usianya yang baru setahun ini ternyata TPI begitu banyak mendapatkan  kritik, saran, bahkan sinisme dari masyarakat. Apabila teman-teman TPI sempat mengiden tifikasi maka akan menemukan berbagai kritik yang sangat konstruktif, akan tetapi tentu banyak pula kritik yang destruktif. Tidak apa-apa; berbagai kritik, saran, serta sinisme itu justru menunjukkan begitu besarnya kecintaan dan harapan masyarakat yang ditujukan pada TPI.  Hal ini sekaligus membuktikan pula bahwa kerinduan atas hadirnya TPI di tengah-tengah masyarakat memang benar-benar telah diendapkan sejak lama; paling tidak semenjak akhir tahun 60-an ketika Depdikbud mulai aktif mengadakan penelitian atau studi kelayakan tentang kemungkinan dikembangkannya sistem pengajaran bermedia (mediated instruction).          Mengapa masyarakat kita cukup gencar melayangkan kritik dan saran terhadap TPI? Banyak hal yang menyebabkannya; antara lain adanya keinginan masyarakat agar TPI dapat meningkatkan profesionalitas segenap jajarannya.
TAWARAN INOVASI YANG BERVARIASI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.552 KB)

Abstract

       Baru-baru ini, atau tepatnya tanggal 30 dan 31 Januari 1995, di Yogyakarta telah diselenggarakan presentasi pada final Lomba Inovasi Teknologi Mahasiswa (LITM).  Lomba ilmiah ini diikuti oleh kelompok mahasiswa se Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY); baik mahasiswa PTN maupun PTS.  Lomba yang dimaksudkan untuk merangsang berkembangnya inovasi di bidang teknologi ini diikuti oleh sebanyak 20 kelompok mahasiswa dari berbagai PTN dan PTS yang dinyatakan "lolos" oleh tim evaluasi.          Di Yogyakarta lomba semacam itu bukan untuk pertama kalinya karena pada tahun ini pelaksanaan LITM sudah terhitung yang ketujuh kalinya.  Lomba tersebut dilaksanakan secara akademis,  yaitu dengan cara memberikan kesempatan (waktu) dan stimulan dana bagi para mahasiswa untuk melakukan penelitian (research) di bawah bimbing-an seorang dosen untuk selanjutnya mempresentasi hasilnya di dalam forum ilmiah. Dalam forum ini mereka diuji sejauh mana pelaksanaan atas ide inovatifnya dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah.          Para mahasiswa sebagai peserta lomba diberi kebebasan untuk mengembangkan gagasan inovatifnya;  sedangkan gagasan inovatifnya boleh yang sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari, tetapi tidak harus demikian adanya. 
MENGANALISIS TANGGUNG JAWAB SEKOLAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.38 KB)

Abstract

       Hubungan antara sekolah dengan dunia kerja dewasa ini menjadi topik pembicaraan lagi. Dalam kerja perkenal lan dengan Komisi IX DPR RI baru-baru ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  Prof. Dr. Fuad Hasan mengemukakan bahwa tak mungkin sekolah dapat menjamin pekerjaan bagi para lulusannya.       "Bagaimana mungkin kalau memilih sekolah saja tidak diurus oleh sekolah kok memilih lapangan pekerjaan harus diurus oleh sekolah.Persepsi ini perlu diluruskan, sebab sangat membebani para guru dan pendidik, lebih-lebih bila sekolah dianggap menghasilkan penganggur", demikian apa yang dikemukakan oleh Mendikbud dalam pertemuan tersebut (Kompas 13/11/87).       Adalah sebuah mission impossible apabila sekolah harus bertanggung jawab terhadap para lulusannya yang tidak memperoleh pekerjaan dalam artian tugas untuk mencarikan pekerjaan menjadi tanggung jawab Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.  Demikian kira-kira inti materi yang dikemukakan oleh beliau.       Lebih lanjut Mendikbud menyodorkan ilustrasi, apabila seseorang mengetahui bahwa lulusan dari pabrik itu bakal meng-anggur maka yang bersangkutan tidak perlu lagi masuk pabrik itu. Contoh lainnya diberikan, kini banyak SMEA diberbagai tempat, meskipun lulusannya tidak bisa bekerja setempat, arus peminat terus datang juga. Kalau nantinya mereka tidak mendapat pekerjaan masakan Departemen P dan K harus bertanggung jawab.
MENULISKAN MUAMALAH YANG TIDAK TUNAI Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.563 KB)

Abstract

Allah menganjurkan untuk menuliskan apabila bermuamalah (berjual beli, berutang piutang, sewa menyewa dan sebagainya) tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan. Tetapi jika semua transaksi dilakukan dengan segera dari tangan ke tangan, maka tidak perlu mencatatnya. Transaksi yang tidak secara tunai disebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 282 : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya dan janganlah ia mengurangi sedikitpun dari hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu. Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamujalankan di antara kamu maka tak tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli dan janganlah penulis dan saksi saling menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah mengajarmu dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Aturan dalam Al Qur’an itu membuat aturan bisnis menjadi indah dan dengan bisnis yang beretika tersebut, insya Allah kita akan mendapat keuntungan besar seperti yang dijanjikan Allah, baik keuntungan dunia maupun di akhirat yang berupa surga yang mengalir sungai di bawahnya.  
BEBAN PENDIDIKAN SEMBILAN NEGARA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.752 KB)

Abstract

         Selama tiga hari berturut-turut, 10 s/d 12 Maret 2008, para menteri dan pakar pendidikan dari sembilan negara anggota E-9 mengadakan pertemuan di Denpasar Bali, “E-9 Ministerial Review Meeting on Education For All”. Adapun kesembilan negara yang dimaksud ialah Bangladesh, Brazilia, China, India, Indonesia, Meksiko, Mesir, Nigeria, dan Pakistan. Kriteria sembilan negara sebagai peserta adalah negara yang jumlah penduduknya sangat tinggi; puluhan hingga ratusan juta jiwa.          Pertemuan seperti itu sesungguhnya bukan pertama kalinya dilakukan karena sudah beberapa kali dilaksanakan; misalnya tahun 2006 bertempat di Monterey, Meksiko; tahun 2003 di Kairo, Mesir; tahun 2001 di Beijng, China; tahun 2000 di Recife, Brazilia, dan sebagainya. Dalam pertemuan di Bali kali ini delegasi Indonesia langsung dipimpin oleh Pak Bambang Sudibyo selaku menteri pendidikan nasional.          Para delegasi dari sembilan negara angggota E-9 umumnya antusias mengikuti acara pertemuan internasional tersebut karena topik yang dibahas selalu saja disesuaikan dengan isu-isu pendidikan yang aktual di negaranya masing-masing; meskipun isu-isu tersebut terkadang sifatnya “permanen” karena sulitnya mensolusi permasalahan didalamnya. Isu buta aksara misal-nya; sejak pertama kali pertemuan tersebut dilaksanakan, yaitu tahun 1993 di New Delhi, India, maka sampai sekarang pun masalah tersebut tidak pernah dapat dituntaskan.
MASYARAKAT SEMI INDUSTRI KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.288 KB)

Abstract

       Ada banyak sebutan bagi masyarakat yang tergolong sudah maju, antara lain ialah masyarakat industri, masyarakat modern, masyarakat global, mayarakat informasi, masyarakat teknologi, dan masih banyak sebutan spesifik yang lainnya. Dalam hubungannya dengan keterkaitan antar bidang studi dan antar disiplin maka sebutan masyarakat industri (industrial society) lebih banyak digunakan.  Para pakar ilmu sosial dan kaum akademisi pada umumnya sepakat menggunakan istilah ini, masyarakat industri, untuk kelompok masyarakat yang sudah maju di berbagai dimensi sekaligus; sosial,budaya, politik, ekonomi, teknologi dan pendidikan.          Banyak ciri-ciri masyarakat industri;  antara lain adalah memiliki orientasi teknologi yang tinggi (technology oriented),  telah sanggup  menguasai informasi, memiliki kemampuan ekonomi yang memadai, serta berpendidikan. Para sosiolog dan budayawan menambahkan ciri-ciri masyarakat maju adalah masyarakat yang telah memiliki struktur dan sistem sosial yang handal serta berbudaya.          Mengacu referensi para sosiolog dan budayawan tersebut maka otomatisasi masyarakat di negara industri sebagai masyarakat industri kiranya perlu didiskusikan kembali. Mari kita mengambil sampel pada masyarakat Amerika Serikat (AS) misalnya. Bahwa AS merupakan negara industri tidak terdebatkan lagi;  secara otomatis masyarakatnya memiliki orientasi teknologi yang tinggi, menguasai informasi, punya kemampuan ekonomi yang memadai, dan pendidikannya relatif tinggi. Semua ini dapat dilihat dari indikasi produk teknologi, GNP, income per kapita, pemakaian teknologi informasi, dan parrtisipasi pendidikan masyarakat. Kalau demikian apakah masyarakat AS termasuk dalam masyarakat industri? Nanti dulu!
GAJI DAN RASIONALISASI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.843 KB)

Abstract

       Isu yang paling aktual sesaat setelah disampaikannya  keterangan pemerintah tentang  Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Ne-gara (RAPBN) dalam beberapa tahun terakhir ini adalah soal kenaikan gaji bagi para Pegawai Negeri Sipil (PNS). Naik gaji atau tidak; inilah berita yang paling ditunggu oleh para PNS.  Bahkan masyarakat non-PNS pun ikut berhasrat mendengarkan berita ini karena bagaimanapun secara empirik kenaikan gaji PNS berpengaruh pada perilaku ekonomi masyarakat kita umumnya.       Rutinitas tahunan itu pun kini tengah berlangsung.  Sesaat setelah Presiden Soeharto selesai menyampaikan naskah RAPBN di hadapan Sidang Paripurna DPR pada tanggal 6 Januari 1997 yang lalu maka pembicaraan mengenai kemungkinan adanya kenaikan gaji bagi PNS menjadi hangat.  Bahkan saat ini sedang hangat-hangatnya pembicara-an mengenai kenaikan gaji PNS.       Kenaikan anggaran yang besarnya diatas 11 persen ternyata telah memacu para analis untuk menghitung-hitung berapa besarnya kenaik-an gaji PNS yang paling mungkin. Seperti kita ketahui bersama bahwa untuk pertama kalinya RAPBN kita bernilai di atas 100 trilyun rupiah; atau tepatnya RAPBN 1997/1998 bernilai 101,1 trilyun rupiah. Angka ini mengalami kenaikan di atas 11 persen kalau dibandingkan dengan APBN 1996/1997 senilai 90,6 trilyun rupiah yang sedang berjalan ini. Kenaikan inilah yang menimbulkan analisis dan spekulasi mengenai kemungkinan naiknya gaji bagi PNS.       Apalagi dalam pidatonya  secara eksplisit Presiden Soeharto  me-nyatakan bahwa setiap kali merencanakan pengeluaran negara untuk gaji pegawai maka dengan sendirinya dipertimbangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kesejahteraan pegawai negeri kita. Dari kalimat ini sepertinya Presiden Soeharto memang sengaja membuka kemungkinan akan naiknya gaji PNS.
SMA PLUS MEMOTONG BENANG MERAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN PRIORITAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.016 KB)

Abstract

       Tidak dapat dipungkiri lagi lulusan SMTA (Sekolah Menegah Tingkat Atas) yang tidak terkendali bukan saja memprihatinkan, akan tetapi saat ini sudah masuk pada fase mencemaskan. Mencemaskan bagi pemerintah, bagi birokrat akademis, bagi penyelenggara pendidikan, bagi orang tua siswa, bagi siswa yang bersangkutan dan bagi masyarakat.       Pada tahun 1983/1984 terdapat sekitar 429.000 lulusan, satu tahun berikutnya 1984/1985 jumlah ini kian meningkat menjadi 512.000 lulusan. Dan pada tahun ajaran 1985/1986 saat ini terdapat sekitar 635.000 lulusan, dan tahun depan diperkirakan SMTA akan memproduksi lulusan sebanyak 800.000 orang. Jumlah ini sangat kecil bila dibandingkan dengan keseluruhan penduduk negara kita, akan tetapi berbalik menjadi jumlah yang sangat besar bila diban-dingkan dengan daya tampung perguruan tinggi.       Deretan angka tersebut di atas ternyata didominasi oleh lulusan SMTA Umum, atau SMA. Sedikit sekali jumlah lulusan SMTA Kejuruan di dalamnya apabila dikomparasikan dengan jumlah lulusan sekolah umum.  Seperti diketahui tingkat partisipasi SMTA Kejuruan di negara kita masih menunjukkan angka yang sangat rendah, hanya 0,5%. Artinya dari setiap 200 penduduk usia SMTA (15-18 th) hanya ada satu orang siswa sekolah kejuruan.       Demikian banyaknya lulusan MA inilah yang akhirnya menimbulkan kecemasan.  Meneruskan studi sangat sulit karena terbatasnya daya tampung perguruan tinggi, sementara itu untuk memasuki dunia kerja sama sulitnya karena tidak mempunyai disiplin keterampilan yang kualitatif.
CARA BERPIKIR PEMIMPIN YANG SUKSES Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari hasil wawancara terhadap 50 pemimpin, Roger Martin menemukan cara berpikir pemimpin yang sukses, yaitu berpikir integratif yang dimuat dalam Harvard Business Review, Juni 2007. Berpikir integratif menurut Roger Martin meliputi empat langkah. Pertama, pemimpin tradisional hanya berfokus pada gambaran yang nyata dan masih berkaitan. Dalam organisasi fungsional, masing-masing fungsi hanya berpikir fungsinya, misalnya bagian pemasaran hanya berpikir pemasaran, bagian keungan hanya berpikir keuangan, bagian sumberdaya manusia hanya berpikir manusia dan bagian operasi berpikir operasi serta lebih banyak menggunakan data kuantitatif. Sebaliknya pemimpin yang berpikir integratif pada saat menentukan masalah yang penting, mereka sangat menonjol, mereka mampu berpikir di luar hal yang kadang-kadang kurang nyata tetapi merupakan faktor-faktor yang masih berkaitan dan berpikir lintas fungsi serta menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif. Bill Gates yang menyatakan bahwa sistem operasinya akan ada di setiap kantor dan di setiap rumah yang ada jendelanya merupakan cara berpikir pada tahapan pertama. Kedua, pemimpin tradisional hanya mempertimbangkan satu cara hubungan linier antar variabel. Sebaliknya pemimpin yang berpikir integratif mempertimbangkan hubungan yang berbagai macam dan hubungan yang non linier antar variabel. Larry Page dan Sergey Brain dari Google mencoba untuk mendapatkan keuntungan dengan tidak langsung dengan konsumen pengguna Google, tetapi berpikir non linier yaitu mdapat keuntungan dari non pengguna Google atau dengan pemasang iklan di Google. Ketiga, pemimpin tradisional memecahkan masalah dengan membagi ke dalam bagian-bagian dan menyelesaikan masalah tersebut secara terpisah atau secara berurutan. Sedangkan pemimpin yang berpikir integratif melihat masalah secara keseluruhan dan melihat bagaimana bagian satu dengan bagian lain berhubungan secara bersama-sama dan bagaimana keputusan mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Charles Schwab berpikir bahwa nasabah bank tidak sekedar sebagai penabung, tetapi juga sebagai investor. Keempat, pemimpin tradisional membuat pilihan-pilihan dan memilih dari pilihan terbaik yang tersedia. Sebaliknya pemimpin yang berpikir integratif mampu memecahkan ketegangan secara kreatif dengan menggunakan ide yang berlawanan dan alternatif baru, sehingga membuahkan hasil yang inovatif. Michael Dell, CEO Dell Computer berpikir integratif ketika membuat inventori Dell Computer mempunyai kecepatan 5 atau 6 kali dibanding pesaingnya Compaq dan memutuskan untuk menjual komputer secara online, yang akhirnya membuat Dell Computer menjadi penjual komputer pribadi nomor satu di dunia. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang menggunakn empat tahapan berpikir integratif tersebut dilandasi dengan landasan spiritual yang kokoh, sehingga menghasilkan keputusan yang syarat dengan makna yang membawa kesejahteraan bagi manusia dunia dan akhirat. Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian salah satu pemimpin yang berpikir integratif dengan landasan spiritual bahwa dunia tanpa kemiskinan.
TENTANG SISTEM GANDA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.844 KB)

Abstract

       Pada hari Selasa 22 Maret 1994 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Wardiman Djojonegoro menyempatkan diri berkunjung ke Yogyakarta untuk melantik pengurus Wahana Konsultasi Pendidikan (WKP); suatu organisasi nonpolitis dan nonkomersial yang menghimpun potensi masyarakat guna membantu mensukseskan pembangunan nasional, khususnya di bidang pendidikan, industri, dan ketenagakerjaan. Dalam acara pelantikan ini  juga akan dilakukan  dialog antara Mendikbud dengan  kalangan dunia kerja dan dunia sekolah mengenai upaya memdekatkan jarak antara dunia pendidikan dengan dunia kerja melalui magang atau sistem ganda.          Kalau kita boleh memberikan evaluasi, kiranya Pak Wardiman memang termasuk Mendikbud  (dari sekian Mendik-bud yang pernah ada)  yang secara gencar dan bersungguh-sungguh ingin mendekatkan jarak  antara dunia pendidikan dengan dunia kerja.Konsep "link and match" yang berulang kali diaktualisasi dan ditawarkan oleh beliau sebenarnya sari-patinya adalah upaya pendekatan dua dunia itu.          Apakah pendekatan jarak antara  dunia pendidikan dengan dunia kerja tersebut memang merupakan misi khusus (special mission)  yang diemban oleh Mendikbud dalam ka-pasitasnya sebagai pembantu presiden?  Boleh jadi memang ya! Saya sendiri mulai merasakan hal ini ketika mendapat kesempatan bertatap muka dengan Presiden Soeharto menje-lang kabinet yang sekarang ini dibentuk. Waktu itu Bapak Soeharto memberi isyarat bahwa nantinya pendidikan tidak boleh (lagi) menghasilkan pengangguran,  oleh karena itupendidikan harus dekat dengan dunia kerja.Boleh jadi Pak Wardiman diberi tugas khusus mengenai hal ini.

Page 22 of 160 | Total Record : 1592


Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN KOMPAS 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SURYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH PUSARA 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue