cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
ITB DI BELANTARA INTERNET Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

       Setelah berhasil meraih satu kursi terhormat dalam jajaran perguruan tinggi (PT) kelas dunia (world university) versi Times yang bermarkas di Inggris akhir tahun lalu, kini Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung lagi-lagi berhasil menduduki “kursi empuk” PT terbaik dunia versi Centro de Información y Documentación (CINDOC) yang bermarkas di Spanyol. Sebagai catatan publikasi Times dan CINDOC memiliki kredibilitas tinggi di mata masyarakat pendidikan dunia.          Seperti diketahui dalam daftar 400 PT terbaik dunia versi Times, “Top 400 Universities : World University Rankings 2007” (November 2007), hanya ada tiga PT Indonesia yang berada didalamnya; masing-masing ialah UGM Yogyakarta di ranking ke-360, ITB Bandung ke-369, dan UI Jakarta di ranking ke-395.          Sekarang ini, dari 1.000 PT terbaik versi CINDOC dalam “Top 1.000 Universities in The World” (Januari, 2008), ternyata hanya ada dua PT di Indonesia yang masuk didalamnya; masing-masing UGM Yogyakarta di ranking ke-734 dan ITB Bandung di ranking ke-844. Karena untuk menentukan ranking tersebut didasarkan pada aksesabilitas dan visibilitas pendidikan melalui internet pada PT yang bersangkutan dalam berkomuni-kasi akademis melalui web (website), maka peringkat PT terbaik di dunia versi CINDOC ini dinamakan dengan “Webometrics Ranking of World Universities”.
MEMBANGUN KEBANGGAAN UNIVERSITAS TERBUKA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.751 KB)

Abstract

       Hari ini sepuluh tahun yang lalu, atau tepatnya pada 4 September 1984, telah lahir "bayi" mungil di bumi pertiwi ini yang selanjutnya dinamakan dengan Universitas Terbuka (UT).  Kelahiran "bayi" yang mungil ini memang sudah lama kita rindukan,  setidak-tidaknya sejak awal tahun 70-an pada saat UNESCO memberi rekomendasi akademik tentang kemungkinan dikembangkannya  sistem pendidikan "berjarak" (distance learning) atau banyak yang menyebutnya sebagai pendidikan jarak jauh untuk menjawab tantangan pendidikan di negara kita.          Dalam acara pembukaan UT waktu itu secara resmi  Presiden RI Soeharto menegaskan bahwa Universitas Terbuka merupakan jawaban yang tepat untuk meratakan kesempatan mendapatkan pelayanan pen-didikan tinggi dalam kondisi dan situasi kehidupan masyarakat yang senantiasa berkembang terus.  Di samping itu beliau juga menyatakan bahwa UT juga merupakan jawaban tepat untuk memberi pelayanan pendidikan tinggi di tengah-tengah masyarakat kita yang berdomisili di negara kepulauan yang sangat luas.          Apa yang ditegaskan oleh Presiden RI Soeharto saat itu kiranya sangat tepat dan relevan mengingat salah satu tujuan utama didirikan-nya UT ialah meningkatkan daya tampung pendidikan tinggi. Dengan meningkatnya daya tampung ini maka kebutuhan lulusan pendidikan tinggi untuk pembangunan bangsa dan negara dapat dipenuhi; setidak-tidaknya meningkat baik jumlah maupun mutunya. Seperti kita ketahui latar belakang didirikannya UT adalah ditemuinya kenyataan bahwa setiap tahun jumlah permintaan masyarakat untuk menjadi mahasiswa selalu lebih besar dari peningkatan daya tampung perguruan tinggi,  sekalipun pemerintah bersama-sama dengan masyarakat (swasta) telah berusaha keras untuk meningkatkan daya tampung.
PERTIMBANGAN KEBIJAKAN KAMPANYE DI KAMPUS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.974 KB)

Abstract

       Baru-baru ini rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Muladi, membuat kebijakan untuk tidak mengijinkan kampusnya dijadikan ajang kampanye dalam bentuk apapun.  Kebijakan ini dimaksud agar supaya persatuan dan kesatuan benar-benar tercermin di kampus Undip sekaligus untuk menghindari hal-hal yang bersifat disintegratif. Apapun risikonya Pak Muladi tetap akan menolak keras kampanye di kampus Undip menjelang Pemilu tahun ini.       Kebijakan Pak Muladi tersebut tak urung menimbulkan berbagai tanggapan, baik dari intern maupun dari ekstern Undip. Beberapa ma-hasiswa aktivis kampus menyatakan kurang sependapat dengan adanya kebijakan tersebut.  Beberapa aktivis mahasiswa tersebut menyatakan bahwa sudah saatnya kampus dijadikan ajang kampanye; dalam hal ini yang dibidik adalah dataran intelektual,  bukan dataran emosionalnya. Apalagi dalam masa Pemilu yang akan datang maka kampanye "hura-hura" harus dihindari dan selanjutnya dikembangkan kampanye yang bersifat dialogis.  Kampus harus berani memelopori penyelenggaraan kampanye yang bersifat dialogis tersebut.       Kalau kita runut sejarah  sesungguhnya apa yang dinyatakan oleh Pak Muladi tersebut bukan merupakan hal yang baru karena beberapa tahun yang lalu konon telah ada kesepakatan tidak tertulis antar rektor PTN untuk tidak mengijinkan kampusnya sebagai ajang berkampanye politik dari organisasi peserta Pemilu apapun.  Kesepakatan ini selanjutnya diikuti oleh beberapa PTS.      Meski pernyataan Pak Muladi tersebut bukan merupakan hal baru tetapi tetap saja mengundang perhatian. Mengapa? Anjuran dilakukan-nya kampanye dialogis ada yang mengkonotasikan sebagai kampanye yang dimulai di kampus. Lebih daripada itu bahkan seorang rektor universitas di Yogyakarta secara terbuka menyatakan ketersetujuannya untuk menjadikan kampusnya sebagai ajang kampanye politik.
STRATEGI MASUK PTS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.687 KB)

Abstract

       Dalam beberapa tahun terakhir ini ketidakseimbangan antara jumlah lulusan SMTA terhadap daya tampung perguruan tinggi masih merupakan ciri khas utama dalam sistem pendidikan di negara kita. Seperti diketahui lulusan SMTA pada umumnya berkeinginan untuk melanjutkan studinya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, PTN atau PTS.       Begitu besarnya ratio kuantitatif antara jumlah lulusan SMTA yang menjadi "calon mahasiswa" terhadap daya tampung perguruan tinggi menuntut setiap calon untuk pandai memasang strategi masuk PTN maupun PTS.       Mengandalkan motivasi saja nampaknya sangat mustahil untuk dapat meraih kursi kuliah yang didambakan, demikian pula halnya dengan hanya mengandalkan faktor-faktor ekonomis maupun sosial. Sedangkan mengandalkan kepandaian (intelektual) semata nampaknya juga terlalu riskan mengingat faktor "luck" masih sangat sering berbicara dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru.       Hal tersebut secara obyektif dapat kita amati, bahkan dapat diteliti. Mahasiswa yang diterima di perguruan tinggi (PTN atau PTS) belum tentu memiliki "aikyu" yang lebih berliyan bila dibandingkan dengan calon mahasiswa yang gagal.
STRATEGI MERANCANG KEMASAN (2) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemasan juga harus mempunyai daya tarik emosional (elegan, prestis, keceriaan, lucu, nostalgia, menarik dan sebagainya) melalui penggunaan warna, bentuk, material kemasan dan perlengkapan lainnya. Dalam memroses informasi dan memilih berbagai alternatif produk, kita dapat mengelompokkan konsumen menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah konsumen yang memroses informasi dan memilih berbagai alternatif produk dengan rasional, sangat menggunakan akal sehat, sistematis dan beralasan. Golongan kedua merupakan konsumen yang sebaliknya, yaitu konsumen yang menggunakan emosi dalam upaya meraih kegembiraan, fantasi dan perasaan. Dengan demikian, bila konsumen membuat keputusan berdasarkan pada tujuan misalnya mendapat produk terbaik atau membuat pilihan yang hati-hati, maka kemasan harus menyediakan informasi yang nyata yang memadahi untuk memfasilitasi pilihan konsumen. Sedangkan bila produk dibuat karena kesenangan atau hobi, fantasi dan menyentuh perasaan, maka kemasan harus berisi syarat kandungan emosional untuk mengaktifkan perilaku pembelian. Bahkan beberapa produk melakukan kombinasi antara rasional dan emosional. Kemasan yang melakukan kobinasi rasional dan emosional secara simultan menarik bagi akal sehat dan kebutuhan simbolis konsumen. Kemasan Nyam Nyam menggunakan daya tarik emosi dengan menampilkan kemasan berbentuk kepala anak harimau yang bergembira karena sedang makan Nyam Nyam dan dihiasi pelangi di sebelahnya. Ada bentuk kepala anak harimau yang berwarna merah, hijau, kuning dan sebagainya, sehingga menarik bagi anak kecil. Kemasan mi sedap juga menggunakan daya tarik kombinasi dengan menampilkan kemasan plastik berwarna merah, kuning untuk mi kuah rasa ayam bawang, berwarna merah dan hijau sedikit kuning untuk mi kuah rasa soto dan berwarna merah dan kuning dan ada sedikit hijau untuk mi kuah rasa kari ayam. Ketiga kemasan tersebut ada tulisan Mi Sedaap Instant dan tulisan halal serta terdapat gambar mi yang telah dihidangkan serta asap yang keluar dari mi tersebut dengan tulisan ‘Jelas Terasa Sedapnya’, sehingga orang tertarik untuk membeli. Meskipun demikian beberapa kemasan menggunakan daya tarik emosi berupa tarik seks, pada hal tidak ada hubungannya dengan seks. Kemasan seperti ini akan mendapat tanggapan negatif, bahkan menurut Eric Schulz merupakan salah satu dosa periklanan. Kemasan dengan daya tarik seks cenderung dihindari oleh orang tua yang mempunyai anak kecil, yang berakibat produk dengan kemasan sepert itu tidak dibeli. Lebih darti itu kemasan dengan daya tarik seks sering kali melanggar etika atau melanggar tuntunan agama. Terbukti kemasan dengan daya tarik seks kurang berhasil dalam penjualan dibanding kemasan dengan daya tarik yang lainnya. Barangkali tidak diberkahi oleh Tuhan.
BUDAYA "ANTI SERIUS" DI TELEVISI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.845 KB)

Abstract

       Ini ada cerita dari lapangan.  Ketika teman-teman Pusat Teknologi Komunikasi (Pustekkom) Depdikbud Jakarta berkumpul di suatu tempat untuk menseleksi naskah tele-visi pendidikan yang layak untuk diaudio-visualkan, baik dari segi materi (subject matter)  maupun dari segi tek-nologi pembuatannya (media), beberapa diantaranya sempat mengeluh tentang betapa sulitnya membuat program-program sekolah atau paket-paket pendidikan yang menarik untuk ditayangkan di layar televisi.          Seperti diketahui Pustekkom  merupakan salah satu lembaga milik Depdikbud  yang dikoordinasi langsung oleh Balitbang,  yang salah satu fungsinya adalah memproduksi paket-paket siaran untuk ditayangkan di TPI maupun TVRI.          Pada dasarnya membuat film-film yang mendidik itu tidak mudah, sedangkan membuat program yang menarik juga tak gampang;  namun demikian lebih tidak mudah dan lebih tidak gampang lagi membuat  program-program audio-visual yang mendidik sekaligus menarik.
PILIHAN PASCA UMPTN, UNIVERSITAS TERBUKA DAN PTS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.885 KB)

Abstract

       Hasil Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) baru saja diumumkan tanggal 31 Juli 1993 yang lalu seba-gaimana yang telah direncanakan sebelumnya.  UMPTN tahun ini berhasil meloloskan 61.396 peserta yang terdiri dari 33.786 peserta bidang studi IPS dan 27.610 peserta untuk bidang studi IPA. Seperti tahun-tahun yang lalu di dalam hal jumlah maka peserta IPS senantiasa lebih dominan.         Dengan adanya kebijakan pemerintah untuk sementara tidak mendirikan PTN baru dalam beberapa tahun terakhir ini, terkecuali menambah beberapa jurusan maupunprogram studi yang dianggap perlu, maka daya serap PTN boleh di-katakan tidak mengalami perubahan yang berarti. Di dalam beberapa tahun terakhir ini daya serap PTN terhadap para lulusan sekolah menengah berkisar pada angka  60.000 s/d 70.000 untuk setiap tahunnya; kalau pun jumlahnya keluar dari interval tersebut, seperti tahun lalu sedikit di a-tas angka 70.000, maka angka deviasinya tidaklah tinggi.          Tahun ini peserta UMPTN mencapai 422.696 kandidat dan yang lolos hanya 61.396 kandidat; artinya untuk bisa menembus  dinding PTN maka setiap kandidat harus sanggup menyisihkan lima atau enam kandidat yang lainnya.
BISNIS BANGSA MINEA Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerajaan yang pertama di Arab selatan adalah Minea, yang diperkirakan ada dari sejak 1200 Sebelum Masehi sampai 650 SM.  Bangsa Minea wilayah utamanya mencakup daerah oase sungai yang luas membentang ke barat-laut Ma’rib, yang sejak periode Islam dikenal dengan sebutan Al Jawf. Minea dalam bahasa Arab Al-Ma’iiniyyuun atau Ma’iin atau diucapkan Ma’in yangberarti mata air. Dalam Injil disebut Ma’on atau Me’un atau Me’in. Nama yang bertahan hingga kini adalah Ma’an, terletak di sebelah utara Petra, yang merupakan koloni penting di jalur perdagangan utara. Di dekat Tabuk dan Al-Ula, tulisan-tulisan Minea membuktikan keberadaan koloni tersebut yang berfungsi sebagai gudang penyimpanan dan pos penghubung.   Kerajaan Minea ibukotanya Qarnawu atau Qarnaw yang kemudian oleh ahli geografi Arab pertengahan disebut Sayhad. Ibukota orang Minea, Qarnaw, yang dikunjungi Halevy pada 1870,  adalah yang kini disebut kota Ma’in yang terletak di sebelah selatan al Jawf, timur-laut Sana’a. Kota metropolis keagamaan, Yatsil, yang juga berada di sebelah selatan al-Jawf, kini disebut kota Baraqish, terletak disebelah bara-laut Ma’rib. Orang-orang Minea berbahasa sama dengan orang-orang Saba’, dengan sedikit perbedaan dialek. Beberapa tulisan yang disebut tulisan Minea meliputi dukumen kerajaan orang-orang Qataban dan sejumlah kecil teks Hadramaut. Ukiran yang ditemukan pada reruntuhan kuil di al-Hazm, ibu kota provinsi al-Jawf, menggambarkan wadah yang tergantung mungkin sesajen anggur, antelop, dan hewan-hewan kurban lainnya, ular yang dianggap sebagai simbol Tuhan, gadis-gadis penari yang juga menjadi pelayan di kuil, serta burung unta yang dikurung di dalam taman suci.             Perdagangan untama yang dilakukan oleh orang Minea adalah perdagangan rempah-rempah, kemenyan (frankincense) dan myrrh.   Pada akhir abad ke-4 SM sampai abad ke-2 SM, orang Minea memonopoli jalur perdagangan utama tersebut, mulai dari jalur Arab Selatan sampai melintasi Mediterania yang oleh kafilah dagang ditempuh dalam waktu dua bulan, sudah merupakan waktu yang baik. Untuk melindungi jalur ini, bangsa Minea membangun koloni sampai ke barat-laut Arabia, yaitu oase Dedan. Konfrontasi antara Saba’ dan Ma’in untuk mengendalikan rute perdagangan franincense dijelaskan dalam sebuah prasasti yang menggambarkan sebuah peperangan antara Media dan Mesir yang mungkin sebuah referensi penaklukan dilakukan Mesir oleh   Artaxeres III Okhos pada 343 SM. Dalam prasasti tersebut dua pemimpin komunitas Minea dari Dedan menyatakan rasa terima kasihnya atas perlidungan pada rute kafilah antara Ma’in dan Nagran terhadap serangan bangsa Saba’. Dalam prasasti tersebut juga dinyatakan tentang komunikasi orang Minea dengan Mesir, Gazza, Ionia, Sidon, Ammon, dan Moab Yatrib (kemudian dikenal dengan Madinah). Orang Mesir menceritakan tentang orang Minea, bahwa mereka menghantarkan parfum ke sebuah candi milik orang Mesir.  Di Delos, Yunani dengan dua candinya Apollo dan Artemis, dua altar orang Menia berdiri tegak dan di Romawi,orang Romawi berbicara mengenai franincense Minea, karena franincense merupakan produk orang Minea yang diminta oleh orang Romawi.
MEREVISI UNDANG-UNDANG PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.01 KB)

Abstract

       Seandainya RM Soewardi Soerjaningrat, yang kemudian berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara, masih hidup maka hari ini beliau tepat berusia 110 tahun.  Lahir pada tanggal 2 Mei 1889 dari keluarga Pakualaman Yogyakarta;  beliau berkiprah di dalam dunia politik dan jurnalistik sebelum akhirnya memutuskan untuk mengabdikan diri dan menghabiskan hidupnya di dunia pendidikan.        Karena pengabdiannya yang luar biasa di dalam membangun  dan memajukan pendidikan nasional maka beliau diangkat menjadi Pahla-wan Pendikan Nasional. Pas sudah! Jangan lupa bahwa konsep-konsep pendidikan nasional yang kita kembangkan sekarang ini banyak yang lahir atas pemikiran cemerlang Ki Hadjar. Wajarlah kalau beliau juga sering kita sebut sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia; bah-kan Presiden Soekarno sahabatnya dalam perjuangan pernah menyebut Ki Hadjar dengan tiga predikat sekaligus; yaitu Tokoh Politik, Tokoh Kebudayaan dan Tokoh Pendidikan.       Ketika Ki Hadjar wafat  maka tanggal kelahirannya, 2 Mei,  dija-dikan sebagai Hari Pendidikan Nasional yang senantiasa kita peringati pada setiap tahunnya.  Banyak momentum pendidikan nasional yang lahirnya ditepatkan pada tanggal yang "baik" tersebut; salah satunya adalah momentum lahirnya Undang-Undang (UU)  No.2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.  Jadi hari ini, undang-undang pendidikan kita sudah genap sepuluh tahun atau satu dasa warsa.       Problematika kita sekarang adalah; apakah secara umum undang-undang pendidikan kita yang sudah berusia sepuluh tahun itu masih relevan dijadikan pedoman bagi penyelenggaraan pendidikan di negara kita.  Ataukah,  undang-undang pendidikan kita sudah mulai tertinggal oleh lajunya kemajuan jaman.
TPI DALAM SIKLUS KEBIJAKAN PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.441 KB)

Abstract

Secara historik berbagai alternatif inovatif pada bidang pendidikan senantiasa dieksperimentasikan di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Alternatif inovatif ini meliputi upaya untuk menciptakan pendekatan baru dalam bidang pengajaran; yaitu suatu pendekatan untuk menciptakan metode nonkonvensional dalam menyampaikan bekal atau materi pengajaran kepada anak didik. "Salah satu di antara usaha inovatif tersebut adalah penggunaan siaran (broadcasting) dalam pendidikan. Telah lama diidentifikasikan bahwa broadcasting memiliki potensi yang hebat kalau penggunaannya teratur dan tera-rah. Sudah masanya kini kita menjelajahi kemungkinan dan potensi broadcasting itu di dalam dunia pendidikan kita". Demikian dikemukakan oleh Menteri P dan K di hadapan para peserta "Lokakarya Siaran Radio Pendidikan" tanggal 3 Januari 1972, sebagai bagian dari tonggak-tonggak era kebangkitan pengajaran bermedia di Indonesia. Beberapa tahun sebelum Menteri P dan K memberikanamanatnya tersebut sebenarnya upaya-upaya untuk mencipta kan alternatif inovatif sudah dilakukan; setidak-tidak-nya dengan diberikannya lampu hijau terhadap rekomendasi pakar media Wilbur Schramm di dalam salah satu karyanya bertitel "The New Media : Memo to Educational Planners", (1965). Dalam karyanya tersebut Schramm sebagai "bapak media" mengemukakan kemungkinan dilaksanakannya inovasi pendidikan dengan memanfaatkan jasa media, termasuk pula di antaranya media radio dan televisi.

Page 76 of 160 | Total Record : 1592


Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN KOMPAS 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SURYA POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SURYA POS 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN WAWASAN 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: MAJALAH PUSARA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue