cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
MEMPERSOALKAN DUALISME PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.65 KB)

Abstract

       Sistem dualisme pengelolaan pendidikan dasar atau tepatnya Sekolah Dasar (SD)  kembali direaktualisasi dan disorot oleh para pengambil keputusan.  Baru-baru ini di dalam pertemuan antara Mendikbud dan staf dengan anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI perbincangan mengenai dualisme pengelolaan pendidikan dasar kembali muncul di permukaan. Efisiensi dan efektivitas sistemnya kembali didiskusikan.          Sesungguhnya pembicaraan mengenai sistem dualisme tersebut bukan pertama kalinya dilakukan; sejak beberapa tahun yang lalu, semenjak Pak Wardiman Djojonegoro belum memegang pucuk pimpinan departemen pendidikan, semenjak Peraturan Pemerintah (PP)  No.28/1990 tentang Pendidikan Dasar disusun,bahkan semenjak sebelum Undang-Undang (UU) No.2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional terbakukan, maka pembicaraan tentang dualisme pengelolaan pendidikan dasar sudah sering dilakukan.  Bahkan,  masalah dualisme ini menjadi semacam agenda klasik untuk pertemuan Mendik bud dengan anggota Komisi IX DPR RI; bermula dari perta-nyaan mengenai efisiensi dan efektivitas sistem kemudian berakhir dengan keinginan untuk mengakhiri sistem.          Tegasnya: secara historis pertanyaan dan keraguan mengenai efisiensi dan efektivitas sistem dualisme dalam pengelolaan pendidikan dasar serta keinginan untuk meng-akhiri sistem tersebut sudah muncul sejak lama. Meskipun demikian ternyata sampai saat ini sistem tersebut masih berjalan seperti biasa, tidak pernah ada perubahan sedi-kitpun,bahkan melalui peraturan tertentu sistem tersebut terasa makin dibakukan.
GLOBALISASI DAN KEMISKINAN Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Globalisasi dan pasar bebas memang diimajinasikan sebagai upaya meningkatkan efisiensi global. Perdagangan secara global membantu banyak negara untuk berkembang lebih cepat. Globalisasi juga membuat negara-negara berkembang mendapat akses pengetahuan yang tak dapat diperoleh sebelumnya. Globalisasi (yang biasanya dikaitkan dengan menerima gaya kapitalisme sejati, gaya Amerika) merupakan kemajuan negara-negara berkembang harus menerimanya, jika mereka ingin berkembang dan memerangi kemiskinan secara efektif. Tetapi bagi kebanyakan orang di negara-negara berkembang, globalisasi tidak membawa keuntungan ekonomi yang dijanjikan (Stiglitz, 2002:6). Globalisasi dalam praktiknya si lemah harus membiayai efisiensi dunia demi kesejahteraan si kuat. Selatan membiayai efisiensi global demi keuntungan dan kemajuan Utara. Kesenjangan yang semakin lebar antara yang kaya dan yang miskin telah memunculkan semakin banyak orang di Dunia Ketiga menjadi semakin miskin. Pada 1990, 2.718 miliar penduduk hidup dengan uang kurang dari $ 2 per hari, sedangkan pada 1998 jumlah penduduk miskin yang hidup dengan uang yang kurang dari $ 2 perhari diperkirakan 2.801 miliar. Hal ini terjadi berkenaan dengan peningkatan total pendapatan dunia secara aktual sebesar rata-rata 2,5% setiap tahunnya (Bank Dunia, 2000:29). Globalisasi belum berhasil mengurangi kemiskinan dan belum berhasil menjamin stabilitas. Krisis di Asia dan Amerika Latin telah mengancam perekonomian dan stabilitas negara-negara berkembang, bahkan krisis 1997 dan 1998 merupakan sebuah ancaman bagi seluruh perekonomian dunia. Bahkan krisis yang lebih besar terjadi sebelumnya. Krisis ekonomi, keuangan dan perbankan terbesar yang terjadi di Amerika Serikat pada 1930-an, yaitu 9.106 ditutup atau dibantu. Pada Tabel 1.1, ditunjukkan jumlah bank di Amerika Serikat yang ditutup atau dibantu (Federal Deposit Insurance Corp, 2004). Globalisasi dan pengenalan ekonomi pasar belum memberikan hasil-hasil yang dijanjikan di Rusia dan bagi kebanyakan perekonomian lain yang sedang melakukan transisi dari komunisme ke sistem ekonomi pasar. Namun sebaliknya sistem tersebut menghasilkan kemiskinan yang begitu besar (Stiglitz, 2002:7). Petras dan Velmeyer (2001) lebih tegas dari yang dikemukakan di atas, globalisasi adalah the new imperialism, dalam bentuknya sebagai the new system of global international capitalist class, yaitu TNCs (transnational corporations) yang saat ini mencapai jumlah 37.000), Bank Dunia, IMF, IFIs (international financial institutions sebagai the global financial network), G-7, TC (Trilateral Commission dan WEF (the World Economic Forum). Krisis pertengahan 1997 tersebut juga melanda Indonesia, bahkan Indonesia merupakan negara yang menderita paling parah. Pertumbuhan ekonomi yang tahun sebelumnya sekitar 7% per tahun merosot tajam sampai - 13,7% dan inflasi mencapai 77,6 % pada 1998 (Sabirin, 2003:45). Ternyata globalisasi bukan meningkatkan kesejahteraan, tetapi bagi dunia ketiga, globalisasi justru meningkatkan kemiskinan.
PEDULI AIDS MELALUI SEKOLAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.04 KB)

Abstract

       Belum lama ini Menteri Pendidikan Wardiman Djojonegoro telah menerima pendapat dan usulan tentang kemungkinan AIDS, Acquired Immuno Defficiency Syndrome (AIDS),  sebuah penyakit "modern" yang disebabkan oleh Human Immunodefficiency Virus (HIV),untuk dimasukkan dalam kurikulum sekolah.  Dengan dimasukkannya dalam kurikulum maka anak-anak kita yang masih menuntut ilmu di bangku sekolah lebih mudah mengenal AIDS secara ilmiah sehingga nantinya akan menjauhi penyakit yang sangat ditakuti itu.       Dengan tanpa meremehkan pendapat dan usulan tersebut,  secara bijaksana Pak Wardiman mengemukakan bahwa tidak mungkin AIDS dimasukkan di dalam paket kurikulum;  namun demikian bukan tidak mungkin materi AIDS dapat disampaikan melalui bidang-bidang studi yang relevan, misalnya saja melalui bidang studi Kesehatan.      Memang secara teknis tidaklah mungkin kurikulum yang sekarang ini berlaku di sekolah, SD,SLTP maupun SMU/SMK, disempurnakan dan apalagi diubah hanya karena adanya keinginan untuk memasukkan bidang studi AIDS di dalamnya.  Kurikulum 1994 yang sekarang ini diberlakukan di sekolah-sekolah kita masih tergolong baru dan belum ada evaluasi efektivitas pada kurikulum tersebut.  Secara metodologis penyempurnaan atau perubahan kurikulum baru dilaksanakan kalau sudah ada evaluasi efektivitas.       Meskipun demikian,  usulan tersebut  perlu dilihat dari kaca mata yang positif.  Setidak-tidaknya terdapat dua hal penting di balik usulan tersebut di atas;  yaitu pertama, adanya kekhawatiran yang mendalam terhadap generasi anak dan remaja ("sekolahan") kalau-kalau sampai terjangkiti AIDS yang dapat merusak masa depan diri dan bangsanya, dan kedua,  metoda penyampaian informasi dini mengenai AIDS pada generasi penerus kita.
TRAUMA AKADEMIK DALAM "SISTEM NEM" Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.849 KB)

Abstract

       Perburuan kursi belajar di SLTP, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, baik negeri maupun swasta telah dimulai sejak tanggal 22 Juni 1993 yang lalu.  Para lulusan SD, Sekolah Dasar, dan/atau orangtuanya dipersilakan memilih SLTP yang dianggap paling cocok dan paling banyak membe-rikan kemudahan belajar.  Tidak ada larangan sedikit pun bagi lulusan SD untuk melanjutkan studinya di SLTP, bah-kan untuk menyongsong dicanangkannya program wajib bela-jar SLTP tahun 1994 mendatang oleh pemerintah maka para lulusan SD justru dianjur-anjurkan untuk melanjutkan stu dinya di SLTP.          Bagaimana apabila sekolah-sekolah setempat tidak mampu menampung  lulusan SD yang ada?  Ini baru masalah! Memang sampai sekarang ini angka melanjutkan (continuity rate) SD-SLTP di negara kita masih berkisar pada angka 65%, artinya baru 65 dari setiap 100 lulusan SD yang da-pat ditampung di SLTP. Bagaimana dengan nasib 35 lulusan yang lainnya?  Ada yang bekerja, membantu orang tua, me-nganggur, dan entah apa lagi.         Meskipun angka melanjutkan SD-SLTP secara nasional masih jauh dari memadai akan tetapi di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan la-innya masalah tersebut tidak terlalu meresahkan. Umumnya jumlah kursi belajar di sekolah-sekolah setempat relatif cukup untuk menampung lulusan SD yang ada; masalahnya se karang adalah bagaimana memilih SLTP yang bermutu berka-itan dengan sistem seleksi yang diaplikasi.
PASAR UKAZ Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ukaz merupakan pasar kuno yang paling terkenal di Semenanjung Arabia. Nama tersebut diambil dari apa yang dikerjakan orang Arab di tempat tersebut, mereka  memamerkan prestasi dan nenek moyang mereka. Pasar tersebut tercatat untuk pertama kalinya pada 500 Sebelum Masehi. Pasar tersebut terletak diantara Thaif dan Mekah, tepatnya di kota Al-Athdia. Pasar terkenal diadakan bersamaan dengan pasar di Hadramaut. Pasar ini melebihi pasar lainnya, dalam kemegahan, hubungan dagang, manifestasi syair, kesukuan dan dikunjungi oleh suku Quraisy, Hawazin, Ghatafan, Aslam, Ahabish, Adl,  ad-Dish,  al-Haya dan al-Mustaliq. Diadakan pada 15-30 Dzu al-Qa’dah. Para pedagang membawa barang menggunakan onta atau keledai menuju pasar Ukaz. Barang dagangan yang dijual pedagang Badui antara lain permadani, tenda, bulu domba, tembikar, peralatan, perhiasan, parfum, hasil bumi dan rempah-rempah. Di pasar Ukaz juga diadakan berbagai pertunjukan baik syair maupun nyanyian. Para penyair dan penyanyi datang ke Ukaz untuk berpartisipasi dalam lomba syair dan nyanyian tersebut. Menurut arkeolog Saudi yang telah mempelajari daerah ini, memperkirakan pasar Ukaz berakhir sampai 760 Sesudah Masehi. Quraisy merupakan suku Arab yang terkenal, yang di dalamnya termasuk Nabi Muhammad s.a.w. mempunyai gagasan untuk mempunyai sebuah tempat orang Arab dapat berkumpul dan bersatu untuk melawan musuh. Mereka memilih tempat tersebut adalah Ukaz. Tempat tersebut merupakan pasar ketika para calon haji tiba di Mekah dan pergi selama empat bulan ke tempat tersebut. Orang Arab mempunyai bulan khusus yang selama itu disepakati oleh mereka untuk tidak menggunakan senjata atau memulai berperang. Terhadap mereka diberikan jaminan atas keselamatan di lingkungan kota tersebut untuk melakukan aktivitas dan berdagang. Sebagai perbandingan terhadap mal yang modern, Ukaz tidak hanya menawarkan barang untuk dijual, tetapi pengunjung mempunyai banyak hal untuk dikerjakan disamping berbelanja. Mereka masing-masing memperoleh tantangan untuk membuktikan siapa yang terbaik sebagai pembuat syair di Arab. Mereka membanggakan prestasi sukunya dan mereka juga mencoba menyelesaikan perselisihan dan pertentangan antar suku. Sejak pasar dibuka, banyak aktivitas budaya di pasar tersebut membantu memelihara dan melindungi bahasa Arab, membantu menghasilkan syair-syair yang baik dan mendorong para penyair untuk menghasilkan syair lebih banyak. Nabi Muhammad s.a.w. mengunjungi pasar sebanyak tujuh kali dan mencoba untuk menjelaskan kepada orang Arab tentang Islam dipasar tersebut. King Faisal ibn Abdul Aziz meminta kepada para ahli dan ilmuwan untuk mengidentifikasi lokasi dari Ukaz, dengan mencari kembali catatan kuno dan dokumen sejarah yang akhirnya diputuskan lokasinya di dekat Taif ditempat yang dikenal Al-Athdia. Setelah 1300 tahun, pasar tersebut dioperasikan kembali dan diresmikan oleh Gubernur Mekah, Pangeran Khalid Al-Faisal, putra Raja Faisal. Peristiwa tersebut berlangsung selama 7 hari, terjadi penjualan bermacam-macam barang dan bahan, baik tradisional maupun modern. Di tempat tersebut juga terdapat tulisan syair Arab kuna dalam emas dan diperuntukkan untuk pengunjung untuk melihatnya dan diramaikan oleh penyanyi Arab terkenal.
DERITA GURU DI TIMOR TIMUR Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.071 KB)

Abstract

       Baru-baru ini seseorang datang  menemui saya dengan membawa keluhan tentang keluarganya yang sudah beberapa tahun menjadi guru di Timor Timur.  Menurutnya, sudah bertahun-tahun sang guru tersebut telah banyak mengalami penderitaan yang tak terkira;  dari hal-hal yang menyangkut psikis,  misalnya hinaan dan ancaman dari orang tua apabila anaknya yang tidak rajin masuk sekolah tidak dinaikkelaskan, sampai hal-hal yang menyangkut fisik,  antara lain pelemparan dengan batu dan pemukulan.       Lebih daripada itu sekarang ini rumah satu-satunya yang ia miliki sebagai tempat berteduh dan berkumpul dengan keluarga telah diberi tanda khusus oleh penduduk setempat. Maksudnya kalau Timor Timur nantinya jadi melepaskan diri dari kedaulatan RI,  dan berdiri sendiri sebagai negara yang merdeka,  maka sang guru yang berasal dari luar Timor Timur itu harus angkat kaki.  Nah, pada saat itulah rumah sang guru tersebut akan dimiliki oleh penduduk yang lebih dulu memberi tanda khusus.       Kedatangan teman saya tadi  meminta saya  untuk menyampaikan keluhan kepada Menteri Pendidikan,  Juwono Sudarsono,  atau kepada Presiden Habibie, atau membawanya ke dalam rapat Badan Pertim-bangan Pendidikan Nasional (BPPN),  dengan harapan dapat dicarikan jalan keluarnya dengan segera.       Ketika saya tanyakan apakah masalah tersebut  sudah pernah dia-jukan kepada pimpinan departemen setempat, misalnya kepada penga-was, Kepala Kantor Pendidikan tingkat kecamatan atau Kepala Kanwil Depdikbud, atau kepada aparat keamanan setempat; mereka menyatakan setiap kejadian hampir selalu dilaporkannya. Namun demikian tak pernah mendapatkan jalan keluar yang memuaskan;  bahkan kalau fre-kuensi laporannya agak tinggi dirinya sering justru dianggap "rewel" atau bahkan diberi cap sebagai anak nakal.
PELAJAR BERKELAHI PERLU DIADILI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.528 KB)

Abstract

Jakarta "heboh"; puluhan bahkan ratusan pelajar terlibat secara langsung dalam suatu perkelahian massal. Mereka "beringas", sampai polisi yang akan menetralisasi suasana ikut menerima lemparan batu atas keberingasannya itu. Kaca-kaca jendela sekolah pecah, dan mobil polisi pun kabarnya tak luput dari sasaran perusakan. Peristiwa tak berbudaya ini pun ternyata cepat merembet di berbagai kota; Semarang, Gresik, Surabaya, dan entah di mana lagi. Benar-benar memprihatinkan! Itulah ilustrasi global tentang sudah kelewat-ba-tasnya kenakalan remaja, tepatnya kenakalan siswa. Lebih memprihatinkan lagi justru ada sementara pelajar yang bangga dapat ikut berkelahi, meskipun atas ulahnya ter-sebut banyak pihak lain yang dirugikan. Atas kenyataan tersebut wajarlah apabila kemudian Presiden Soeharto sempat menyatakan keprihatinannya; ba-gaimana mungkin para pelajar kandidat pemimpin bangsa di masa depan justru bangga melibatkan diri dalam peristiwa yang tak berbudaya. Dan, wajar pulalah apabila Mendikbud Fuad Hassan kemudian mengemukakan ketersetujuannya untuk membawa pelajar yang sering berkelahi ke pengadilan.
EFEKTIVITAS SISTEM MULTIDEPARTEMENTASI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.149 KB)

Abstract

       Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan undangan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Timur untuk memberikan presentasi serta masukan dalam seminar pendidikan yang konon sudah cukup lama direncanakan. Apabila kemudian saya juga mendapat undangan dan kesempatan "berbicara" dalam seminar pendidikan yang diselenggarakan oleh Bappeda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) barangkali ada unsur kebetulannya.         Membandingkan kondisi pendidikan antara DIY dengan Kalimantan Timur tentu ada manfaatnya karena di dalamnya akan kita dapati indikator-indikator yang kontroversial, yang justru perlu mendapatkan perhatian. Secara ringkas etos didik masyarakat Kalimantan Timur belumlah maksimal sedangkan di DIY masalah etos didik ini dapat dikatakan tidak masalah lagi. Di Kalimantan Timur sarana dan fasi-litas pendidikan serta pendidikan massa (mass education)  masih diperlukan;  sementara itu di DIY pendidikan massa justru menjadi masalah, terutama di pendidikan dasar.          Kalau di beberapa daerah, termasuk Kalimantan Ti-mur, saat ini tengah mengalami masalah dengan sedikitnya sekolah dan guru  maka DIY justru mengalami masalah de-ngan banyaknya sekolah dan guru.
SAATNYA, KOMPUTER MASUK SEKOLAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN PRIORITAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.045 KB)

Abstract

       Dewasa ini di sekeliling kita terasa makin penuh dengan produk elektronik yang mampu "mendobrak" dunia: komputer. "Si kotak pintar" ini rasanya memang semakin pintar menawarkan kelebihan yang dimilikinya; produktivitas, obyektivitas, serta akurasi kerja yang tinggi.       Kemampuannya yang teruji memang benar-benar mampu menarik minat untuk menggunakan jasanya, itulah sebabnya maka berbagai perusahaan kian gencar menyajikan komputer dengan segala jenis dan kapasitasnya. Berbagai "label" komputer terasa telah "menjajah" kita.       Memang harus diakui bahwa dunia saat ini tengah menanam ketergantungan yang semakin dalam terhadap hasil ramuan elektronik itu. Berbagai instansi, perkantoran, bahkan perorangan (terutama kaum profesionalis) semakin "tidak dapat bekerja" tanpa menggunakan jasa komputer.       Produk teknologi canggih itu memang memiliki satu kelebihan yang sangat utama; ialah akar-akarnya mampu menyelinap pada berbagai disiplin ilmu dan keterampilan, kedokteran, kesehatan, perikanan, kehutanan, teknologi, perminyakan, ruang angkasa, pertanian, ekonomi, hukum, mass-media, dsb. Pokoknya hampir seluruh disiplin ilmu dan keterampilan tidak terkecuali dunia pendidikan.
MODALNYA HADIAH Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Hadiah merupakan pemberian yang nilai biasanya tidak dapat diganti dengan kekedar uang. Hadiah dapat pula berarti persen atau kado. Bermacam-macam hadiah, mulai dari hadiah Nobel, hadiah olahraga, hadiah perpisahan, hadiah tahun baru, hadiah ulang tahun, hadiah tahun baru, hadiah sayembara, hadiah lebaran, hadiah hiburan dan berbagai macam hadiah yang lainnya. Anda dapat memulai bisnis dari hadiah tersebut. I Ketut Kasih dari Bali, memulai bisnis dari hadiah perpisahan dengan kawannya dari Australia. Hadiah berupa celana dari rekan asing setelah pulang ke negeri asalnya, itulah yang dilakukan I Ketut Kasih memulai bisnisnya. Celena berselancar memberi inspirasi awal bisnisnya, meskipun ia masih ragu-ragu. Ia menyeterika celana tersebut, kemudian menjiplaknya ke dalam koran bekas. Dengan potongan-potongan kain bekas, Ketut meminta tolong sekolahnya untuk dijahit dan dibuat celana berselancar seperti potongan koran bekas jiplakan dari celana berselancar.  “Senang celana jiplakannya dapat dipakai berselancar. Berarti saya mempunyai celana berselancar dua buah. Teman-temanpun lantas minta dibuatkan celana serupa. Rasanya bangga sekali” katanya mengenang masa lalunya. Sejak 1989, ia pemegang lisensi semua produk pakaian dan aksesori bagi peselancar bermerek Quicksilver, yang asalnya dari Melbourne, Australia. Merek tersebut diproduksi sejak 1969 untuk pasar Indonesia dan beberapa negara tetangga. Disamping itu ia juga menjadi pemilik perusahaan garmen lokal bermerek King Kong. Pada usia 17 tahun, ia telah mampu mengekspor 100 potong celana King Kong ke Jepang. Ketut mengambil bisnis pakaian berselancar bermerek, karena ia sendiri juga sebagai peselancar, sehingga ia mengetahui selera peselancar dan menyukai bisnis tersebut. Aksesori dari Quicksilver, berupa topi, dompet, tali jam tangan dan atribut lainnya. Harganya bervariasi antara Rp. 35.000,- sampai dengan        Rp. 430.000,- per unitnya. Merek Quicksilver sejajar dengan merek-merek Rip Curl, Stussy, Hot Tuna, Billabong dan merek-merek terkenal lainnya. Saat ini perusahaannya telah mempunyai 6 subkontraktor dan sekitar 150 karyawan.             Demikian pula ketika saya memulai bisnis untuk yang pertama kalinya. Saya memulai bisnis dari tas hadiah dari pertandingan olahraga, yaitu pertandingan catur. Tas ransel berwarna hijau, yang saya banggakan tersebut saya gunaan ketika Nenek saya mengajari saya bisnis. Ketika itu saya kelas 3 SD di Banjarsari Madiun, yaitu sebuah SD yang terletak di lembah Gunung Wilis.   SD yang membawa kenangan saya, merupakan SD tempat pertama kali saya dikenalkan pendidikan dasar. Sekolah sederhana itulah yang memberikan goresan hati pada saya yang tak pernah saya lupakan. Tas Rancel sebagai senjata ampuh saya pertama kali memulai bisnis, yaitu menjual kedondong.  I Ketut Casi dan saya memulai bisnis dari hadiah.

Page 74 of 160 | Total Record : 1592


Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN KOMPAS 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SURYA POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN JAWA POS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: MAJALAH PUSARA 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: MAJALAH PUSARA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue