cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Teknik dan Ilmu Komputer
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 290 Documents
Effect of Addition of Mixed Resin Gilsonite Asphalt Concrete Putuhena, Yosef; Wardaningrum, Anastasia; Elkarsa, Arutu; Suryatenggara, Lidya; Sebayang, Enma Mediawati
Teknik dan Ilmu Komputer Vol. 05 No. 19 Juli - September 2016
Publisher : Teknik dan Ilmu Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Perkerasan jalan merupakan bagian terpenting dalam desain pembuatan jalan sehingga perlu adanya inovasi formula baru untuk membuat jenis perkerasan yang berkualitas dan efisien dalam penggunaan material dan dapat meningkatkan mutu perkerasan tersebut. Saat ini banyak jalan di beberapa daerah yang rusak akibat material yang digunakan kurang diperhatikan sehingga mutu dari perkerasan tersebut menjadi kurang baik. Gilsonite resin mempunyai kandungan aspal yang tinggi (70,9%) apabila dibandingkan dengan bahan-bahan aditif lainnya. Selain itu, gilsonite resin juga mengandung maltene sebesar 27% dan minyak 2%. Untuk kandungan nitrogen, gilsonite resin juga mempunyai kadar yang lebih tinggi dibanding bahan yang lainnya, yaitu 3,2%. Dengan kadar aspal tersebut, selanjutnya dibuat benda uji dengan menambahkan gilsonite resin dengan berbagai variasi, yaitu 0%, 4%, 8%, dan 12%. Masing-masing kadar dibuat sebanyak tiga benda uji. Setelah itu, dilakukan analisis untuk menentukan kadar gilsonite resin optimum. Hasil perolehan kadar gilsonite resin optimum berdasarkan hasil uji tiap parameter Marshall yang memenuhi persyaratan, yaitu untuk berat jenis bulk adalah kadar 0-12%, VMA 0-12%, VFA 0-12%, stabilitas 0-12%, dan kelelehan 0-12%. Dari hasil pengujian tersebut, pemakaian gilsonite resin pada campuran beton aspal akan menurunkan nilai berat jenis bulk campuran aspal, menaikkan nilai VIM dan VMA, menurunkan nilai VFA, menaikkan nilai stabilitas, dan menurunkan kelelehan dari beton aspal. Kadar gilsonite resin 8% menghasilkan nilai stabilitas tertinggi, yaitu 1.902,85 kg. Terjadi peningkatan sebesar 22,06% dari nilai stabilitas jika tidak menggunakan gilsonite resin. Kata kunci: Gilsonite resin, stabilitas, agregat, hot mix.  Abstract The pavement is an important part in designing for the construction of roads, so that the need for innovation in the development of pavement. The aim is to create a new innovation so that it can become the new formulation to create a homogeneous quality and efficient for the use of the material and also can improve the quality of the pavement. This was evident when many roads in some areas are damaged by the material used with less attention to the quality of the pavement. Gilsonite resin itself has a high content of such asphalt, which is is 70.9% when compared with other additive materials. In addition Gilsonite resin also contains maltene oil by 27% and 2%. For nitrogen content Gilsonite resin also has higher levels than other materials, namely 3.2%. The asphalt content of the test specimen was made by adding Gilsonite resin with a variety of 0%, 4%, 8% and 12%. Each level is made into three specimens. Afterwards the analysis to determine the optimum levels of Gilsonite resin is carried out. The result of the acquisition of Gilsonite resin optimum levels based on test results for each parameter Marshall which meet the requirements for bulk specific gravity is a concentration of 0-12%, 0-12% VMA, VFA 0-12%, 0-12 stability and melting 0-12%. From the test results on the use of Gilsonite resin mix asphalt concrete will decrease the value of bulk density of asphalt mix, increase the value of VIM and VMA, lower the value of VFA, increase the value of stability, and lower the melting of asphalt concrete. Gilsonite resin content of 8% yield highest value stability 1902.85 kg. An increase of 22.06% from the value of stability is not using Gilsonite resin. Keywords: Gilsonite resin, stability, aggregate hot mix. 
MENENTUKAN SUHU OPERASI MESIN DRYER DENGAN METODE TAGUCHI UNTUK MENGURANGI JUMLAH BENANG BASAH PADA DIVISI YARN DYING DI PT MULIA KNITTING FACTORY Ginting, Meriastuti; Wijaya, Felix Surya
Teknik dan Ilmu Komputer vol. 2 no. 5 Januari-Maret 2013
Publisher : Teknik dan Ilmu Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPT Mulia Knitting Factory (PT KMF) adalah industri tekstil yang menghasilkan gulungan kain untuk pembuatan pakaian, selain pakaian sebagai produk utamanya. Terdapat dua jenis gulungan kain yang dihasilkan, yaitu gulungan kain polos dan gulungan kain bermotif. Ditemukan bahwa setelah proses pengeringan, masih terdapat gulungan kain basah. Hal ini terjadi karena operator tidak mendapatkan pelatihan, mesin pengering yang sudah tua, tingkat penyerapan bahan yang berbeda, dan suhu yang tidak tepat. PT MKF ingin menurunkan gulungan kain basah setelah proses pengeringan dengan meningkatkan kinerja mesin sehingga potensi kerugian dapat diminimalkan. Oleh karena itu, metode Taguchi digunakan untuk menentukan temperatur proses yang harus digunakan dalam proses pengeringan. Metode Taguchi memberikan temperatur dalam 100oC dan temperatur luar 96oC untuk benang putih, suhu dalam 103oC dan suhu luar 98oC untuk benang berwarna terang, dan suhu dalam 108oC dan suhu luar 103oC untuk benang berwarna gelap. Dengan menggunakan pengaturan suhu yang diperoleh menyebabkan jumlah benang basah menurun. Benang putih mengalami penurunan dari 20,2 chees hingga 10,999 chees, benang berwarna terang menurun dari 12 chees sampai 6,999 chees, dan benang berwarna gelap dari 25 chees hingga 10,833 chees. Kata kunci: peningkatan, Metode Taguchi, suhu proses, desain eksperimen  AbstractPT Mulia Knitting Factory (PT KMF) is a textile industry that produces cloth rolls for the manufacture of clothing in addition to  underwear as its main product. There are two kinds of cloth rolls produced: plain cloth rolls and patterned cloth rolls. After the drying process, wet cloth rolls were still found. The operator’s lack of training, the old drying machine, the different absorption level of materials, and the inappropriate temperature were estimated to be the causes. PT MKF wanted to decrease the wet cloth rolls after the drying process by improving the machine performance so that potential losses can be minimized. The Taguchi method is therefore appliedto determine the process temperature to be used in the drying process. Taguchi method resulted in100oC internal temperature and 96oC external temperature for white yarn,103oC internal temperature and 98oC external temperature for light colored yarn, and 108oC internal temperature and 103oC external temperature for dark colored yarn. Using the obtained temperature settings had decreased the numbers of wet yarns. The white yarn decreased from 20.2 chees to 10.999 chees,  the light colored yarn decreased from 12 chees to 6.999 chees, and the dark colored yarn from 25chees to 10.833 chees. Keywords: improvement, Taguchi Method, process temperature, desain of experiment
Analisis Pengujian S-Parameter pada Perangkat Duplexer dan Kabel Coaxial dengan Frekuensi 1.800 MHz Hutapea, Herwin; Santoso, Kukuh Aris
Teknik dan Ilmu Komputer VOL. 7 NO. 25 Januari-Maret 2018
Publisher : Teknik dan Ilmu Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSebuah jalur transmisi maupun rangkaian listrik dalam sebuah jaringan dapat berupa rangkaian resistor, sebuah rangkaian jalur transmisi ataupun terdiri dari rangkaian terintegrasi dengan kompleksitas yang lebih rumit. Rangkaian-rangkaian tersebut mengandung informasi tertentu yang dapat difungsikan sebagai pendukung perangkat lainnya dalam sebuah jaringan. Sebagai contoh sebuah duplexer, di dalam jaringan telekomunikasi difungsikan sebagai perangkat pendukung pada sebuah radio base station (BTS). Perangkat duplexer ini diandaikan sebagai kotak hitam, dimana rangkaian maupun cara kerja secara spesifikasi tidak diketahui. Duplexer adalah perangkat yang menghubungkan antara jalur antena dengan perangkat Carrier (perangkat yang memproses modulasi dan demodulasi). Untuk mengetahui parameter-parameter ataupun karakteristik dari kotak hitam tersebut, metode yang efektif digunakan adalah pengukuran dengan metode S-Parameter (scattering parameters). Perangkat yang akan diuji pada penelitian ini dibatasi terhadap satu produk saja dengan model dan desain yang sama, dengan frekuensi kerja 1.800 MHz.Kata Kunci: S-Parameter, Duplexer, transmission lineAbstrakA transmission line, as well as an electrical circuit in a network may consist of a series of resistors, a series of transmission lines or may be composed of a more complex integrated circuits. They are composed of certain information that functions as a support device for other devices in the network. For example, a duplexer, in a telecommunication network it functions as a support device on a radio base station (BTS). This duplexer device functions as the black box, in which its circuit and the function of its specifications are unknown. Duplexer is a device that connects antenna paths to carrier devices (devices that process modulation and demodulation). In order to discover the parameters or characteristics of the black box, measurement using S-Parameter method (scattering parameters) was an effective one. The device to be tested in this study is limited to one product that has the same model and design, and works at a frequency of 1800MHz.Keywords: transmission, duplexer, S-ParameterTanggal Terima Naskah : 05 Oktober 2017Tanggal Persetujuan Naskah : 20 November 2017
An Analysis of Construction Work and the Determination of Critical Path Using Critical Path Method (A Case Study of an Office Renovation at the Harvest Kemang) Thio, Andrey; Tannady, Hendy
Teknik dan Ilmu Komputer vol. 05 no. 18 April - Juni 2016
Publisher : Teknik dan Ilmu Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Abstrak Membuat suatu pekerjaan konstruksi yang berkualitas menjadi target bagi semua pelaksana konstruksi. Namun, pada kenyataanya, untuk membuat pekerjaan konstruksi berkualitas terdapat banyak kendala. Hal ini disebakan pekerjaan konstruksi memiliki tingkat kerumitan dan ragam yang sangat tinggi. Oleh karena itu, diperlukan sebuah sistem perencanaan dan pengendalian yang terstruktur dan berkualitas. Pada pekerjaan renovasi kantor Harvest Kemang 43 terdapat masalah. Masalah yang terjadi adalah keterlambatan proses penyelesaian pekerjaan. Menurut data, realisasi pekerjaan renovasi kantor Harvest selama 8 bulan 2 minggu dengan pengeluaran proyek sebesar Rp 1.349.840.000,-. Bila ditinjau pada perencanaan waktu penyelesain seharusnya 7 bulan dengan pengeluaran proyek sebesar Rp 1.246.199.000,-. Dari data keduanya terlihat selisih yang jauh antar waktu penyelesaian dan biaya yang dikeluarkan. Selisih tersebut terjadi karena manajemen puncak melaksanakan pekerjaan tidak berdasarkan metode ilmiah. Manajemen puncak hanya melaksanakan pekerjaan berdasarkan kondisi di lapangan. Paper ini mengulas pekerjaan renovasi kantor Harvest dengan menggunakan metode jalur kritis dengan melakukan pengambilan data berupa rekaman dan observasi di lapangan. Setelah dilakukan penelitian didapat waktu penyelesain selama 191 hari dengan jalur kritis sebanyak dua puluh pekerjaan. Bila pelaksana proyek dapat melaksanakan pekerjaan berdasarkan metode jalur kritis, maka diyakini masalah akibat keterlambatan pekerjaan dan selisih pengeluaran proyek dengan anggaran dapat diminimalkan. Kata Kunci: konstruksi, metode jalur kritis, kantor harvest.  Abstract Creating quality construction works had been a target for any contractors. However, in reality, producing quality construction involves many obstacles as construction works vary and require complex tasks including a structured and qualified planning and control system. A problem occurred at the renovation of the Harvest Kemang 43 office. The problem concerned with the tardiness of task completion. The record showed that the office renovation was completed in 8 months and 2 weeks with project expenditure amounting to Rp. 1.349.840.000;  whereas according to the budget and plan, it should be completed in 7 months with the expenditure of Rp Rp 1.246.199.000. The data showed a big difference between the actual time of completion and costs and those of the realization. The difference occured since the top management decided to carry out the work based on only the field conditions not on the scientific method. The author tried to review the Harvest office renovation works by using the critical path method and data collection in the form of recording and observations in the field. The research found that the time required to complete was 191 days involving twenty jobs of critical path. When implementing the project based on the critical path method, the problem of  delay and increased expenditure could be minimized.  Keywords: construction, critical path method, harvest’s office 
Measuring Reading Difficulty Using Lexile Framework And Gunning Fog Index Christanti, Viny; Naga, Dali S.; Benedicta, Cheria
Teknik dan Ilmu Komputer Vol. 06 No. 22 April - Juni 2017
Publisher : Teknik dan Ilmu Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article describes the development of readability measuring  tools for Indonesian Text by using Lexile Framework, Gunning Fog Index, and Cloze Test. Lexile Framework and Gunning Fog Index are used in English Text and are implemented to Indonesian Text. Lexile Framework measures the difficulty level of the text by using the text itself and other readings’ frequencies as reference parameters, while the Gunning Fog Index uses the text itself as parameter. Lexile  Framework is implemented to Indonesian by using a corpus of Indonesian, while the Gunning Fog Index is implemented to Indonesian by changing the rule in defining difficult words. The rule depends on the syllables of the words contained in the text with the addition of stemming process. Cloze Test is needed for comparing the measurement results. The result showed that the three methods of measurement have different values. Lexile logit requires some adjustments and a very large corpus, Gunning Fog Index needs improvement in stemming and cutting syllables, Cloze Test is needed on all readings and requires more respondents. Keywords: Taraf Sukar Bacaan, Lexile Framework, Gunning Fog Index, Cloze Test
Perancangan Antena Mikrostip Truncated Corner untuk Aplikasi LTE 2.300 MHz dengan Polarisasi Melingkar Alam, Syah; Wijaya, Hendrik
Teknik dan Ilmu Komputer Vol. 06 No. 24 Oktober - Desember 2017
Publisher : Teknik dan Ilmu Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jaringan Long Term Evolution (4G LTE) beroperasi pada frekuensi 2.300 MHz dan menggunakan gelombang radio untuk pemancaran dan penerimaan data sinyal. Untuk itu diperlukan antena sebagai transceiver gelombang tersebut. Antena mikrostrip adalah jenis antena yang sedang berkembang dan banyak digunakan untuk perangkat telekomunikasi modern, salah satunya untuk 4G LTE 2.300 MHz. Antena mikrostrip yang dirancang pada penelitian ini adalah satu elemen patch persegi panjang dengan teknik truncated corner pada dua tepi patch antena untuk menghasilkan polarisasi melingkar pada frekuensi 2.300 MHz – 2.400 MHz. Jenis substrat yang digunakan adalah FR4 Epoxy double layer dengan nilai Er = 4,3 dan ketebalan 1,6 mm. Teknik pencatuan yang digunakan pada perancangan antena adalah microstrip line feed. Hasil rancangan satu elemen truncated corner dapat menghasilkan polarisasi melingkar dengan nilai axial ratio ≤ 3 dB. Dari hasil simulasi diperoleh nilai axial ratio antena truncated corner sebesar 1,85. Hasil simulasi pada frekuensi tengah 2.300 MHz didapatkan return loss sebesar -25,79 dB dengan VSWR 1,11. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa metode truncated corner dapat menghasilkan polarisasi melingkar. Kata Kunci: Long Term Evolution, truncated corner, microstrip, axial ratio 
Harmonics Analysis on The Use of LED Lamp Istiono, Yoga; Sentosa, Julius; Hosea, Emmy
Teknik dan Ilmu Komputer Vol. 05 No. 20 Oktober - Desember 2016
Publisher : Teknik dan Ilmu Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Masalah harmonisa dalam sistem tenaga listrik semakin kompleks dengan bertambahnya penggunaan peralatan non linier (misal: lampu LED), dimana peralatan ini menghasilkan harmonisa pada gelombang tegangan dan arus. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran harmonisa dengan menggunakan alat ukur Power Analyzer Fluke 41B. Pengukuran diambil dari beberapa macam merk LED dengan daya listrik yang berbeda-beda. Pengujian dan pengukuran juga dilakukan dengan menggunakan alat peraga instalasi rumah tinggal. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa harmonisa yang ditimbulkan oleh lampu LED tidak sesuai dengan standar harmonisa yang berlaku, yakni ITHD melebihi 20%. Dengan menambahkan filter pasif, harmonisa yang ditimbulkan oleh lampu LED dapat diredam dan meningkatkan nilai power factor. Kata Kunci: lampu LED, harmonisa, filter pasif   Abstract Harmonics Problems in the power system are becoming more complex with the increasing use of non-linear devices, such as LED lights, in which the equipment produces harmonics in voltage and current waves. In this study, harmonic is measured using Fluke 41B Power Analyzer. Measurements were taken on different kinds of LED brands with different electric power. Tests and measurements were also performed using residential installation props. The results show that the harmonics generated by LED lamp does not comply with the applicable harmonics standards, i.e. with  ITHD exceeding by 20%. By adding a passive filter, the harmonics generated by the LED light can be suppressed, which in turn will improve the power factor value. Keywords: LED lights, harmonics, passive filter  
SISTEM INFORMASI KNOWLEDGE MANAGEMENT PADA PERGURUAN TINGGI STMIK WIDYA DHARMA PONTIANAK Saragih, Hoga; Darmanto, Tony; Reza, Boby; Setiyadi, Didik
Teknik dan Ilmu Komputer vol. 1 no. 4 Oktober-Desember 2012
Publisher : Teknik dan Ilmu Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKnowledge sharing merupakan salah satu hal yang penting di tingkat perusahaan, karena knowledge sharing merupakan pendekatan yang diperlukan untuk memfasilitasi pencatatan knowledge dan mendorong efektivitas dalam berbagi dengan rekan. Dengan adanya Knowledge Sharing akan terjadi percepatan pada Knowledge Transfer. Penerapan Knowledge Sharing dengan sebuah sistem berbasis web, diharapkan dapat menjadi  solusi dari  kebutuhan  organisasi. Tidak adanya kebijakan dan budaya para dosen untuk melaksanakan Knowledge Management (Knowledge Sharing) berbasis web, menyebabkan knowledge yang dimiliki oleh para dosen tidak dapat dibagi (sharing) dengan baik. Keadaan tersebut menyebabkan lambatnya transfer knowledge, baik di antara dosen sendiri maupun dosen dengan mahasiswa, terlebih lagi pada jangka panjang akan mengakibatkan hal yang tidak baik karena menyebabkan kemungkinan hilangnya knowledge itu sendiri. Penelitian ini menganalisis penerapan Knowledge Management berbasis Web untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di STMIK Widya Dharma. Kata Kunci: knowledge, knowledge management, knowledge sharing, knowledge transfer, perancangan web, penerapan knowledge management, UML  Abstract Knowledge sharing is one of important issues in a company because it is a required approach to facilitate knowledge recording and to improve the effectiveness of knowledge sharing among colleagues. Knowledge sharing accelarates the knowledge transfer. The application of knowledge sharing with the web based system is expected to be a solution for meeting the organization’s needs. The absence of policy and culture among the lecturers to carry out web based knowledge management results in knowledge sharing difficulties among the students and the faculty members in the long run. This research analyzes the web based knowledge management approach to accelerate the teaching and learning process quality at the STMIK Widya Dharma.    Keywords:             knowledge, knowledge management, knowledge sharing, knowledge transfer, web design, knowledge management application, UML
PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK DENGAN MENGGUNAKAN TANAH GAMBUT DAN TANAMAN AIR Nainggolan, Rizki; Pratama, Ardeneline Larayana; Lopang, Ita; Kusumawati, Elly
Teknik dan Ilmu Komputer VOL. 7 NO. 26 APRIL-JUNI 2018
Publisher : Teknik dan Ilmu Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencemaran sungai didominasi oleh air limbah rumah tangga. Secara fisik, limbah cair domestik memiliki karakteristik berbusa, keruh, berbau, dan berminyak. Sungai yang tercemar menurunkan kapasitas pengangkutan dan pemuatannya, yang membawa dampak negatif bagi kesehatan manusia dan lingkungan sekitar ekosistem. Penelitian ini membahas cara pengolahan limbah cair domestik, khususnya limbah cair grey water yang berasal dari kegiatan mencuci baju, mencuci piring, dan mandi. Penelitian ini menggunakan tanah gambut dan tanaman air sebagai bahan untuk mengolah air limbah domestik. Dengan menggunakan empat perlakuan, hasil pengujian yang dilakukan di laboratorium dibandingkan dengan baku mutu Permen LH No. 68 Tahun 2016. Perlakuan pertama dengan air limbah domestik, perlakuan kedua dengan menggunakan tanah gambut, perlakuan ketiga dengan tanaman air, perlakuan keempat dengan tanah gambut dan tanaman air. Hasil yang diperoleh pada perlakuan satu dan kedua belum memenuhi standar baku mutu, sedangkan perlakuan ketiga dan keempat memenuhi standar baku mutu. Pada pengolahan tanah gambut dapat menurunkan polutan COD dan BOD, sedangkan tanaman air dapat menurunkan polutan amoniak dan phospat.Kata kunci: air limbah rumah tangga, pengolahan air limbah, biotreatment, tanah gambut, tanaman air
Aluminium Foil Waste Minimization Strategy in Condensed Sweet Milk Packaging Process Uisng Lean Six Sigma Method (A Case Study of PT X) Saryatmo, M. Agung; Salomon, Lithrone Laricha; Dayana, Ribka
Teknik dan Ilmu Komputer vol. 05 no. 17 januari-maret 2016
Publisher : Teknik dan Ilmu Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Industri berkembang kian pesat dari tahun ke tahun seiring perkembangan jaman dan menawarkan sejumlah produknya yang tentu telah sesuai dengan kebutuhan konsumen yang memiliki kualitas terjamin, baik dari segi harga yaitu dengan menekan biaya produksi agar tidak membebani konsumen maupun dari segi produk sehingga mampu bersaing dengan produk pesaingnya. PT X adalah salah satu industri susu terbesar di Indonesia, yang salah satunya memproduksi  susu kental manis. Dalam memasarkan produknya tentu PT X menyadari adanya kekurangan karena pesaing pun semakin banyak di pasaran. Pada penelitian ini akan dibahas mengenai strategi untuk meminimasi pemborosan alumunium foil dengan menggunakan Lean Six Sigma. Lean Six Sigma didefinisikan sebagai suatu pendekatan sistemik dan sistematik untuk mengidentifikasi dan menghilangkan pemborosan (waste) melalui peningkatan terus-menerus secara radikal. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-November tahun 2014. Jenis data yang digunakan, yaitu data primer dan sekunder, yang bersumber dari wawancara dan observasi. Berdasarkan hasil pengolahan data didapat tingkat sigma sebesar 2.61 sigma dan % waste 3,6597222%. Berdasarkan hasil Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) ranking tertinggi berada pada scrap foil kosong dan isi. Setelah dilakukan implementasi pada proses pengemasan selama 10 hari didapat peningkatan nilai sigma sebesar 3.45 sigma dan penurunan % cacat menjadi  2,2486111%. Kata Kunci: Lean Six Sigma, Waste, Defects Per Million Objects, Failure Mode and Effects Analysis.  Abstract Industry grows more rapidly every year. It offers a number of products that meet the consumers’ needs and competitively ensures good quality of products and affordable price.  PT. X is one of the largest dairy industries in Indonesia, one of its products is sweetened condensed milk. The company realized the shortcomings of their product marketing. This study discussed the strategies to minimize the waste of aluminum foil using Lean Six Sigma, a systemic and systematic approach to identify and eliminate waste through a radical continuous improvement. The experiment was conducted from July to November 2014. The data were primary and secondary data from interviews and observations. The research finding showed the sigma level of 2.16 and the waste level of 3,6597222%. The results of FMEA (Failure Mode and Effects Analysis) suggested the highest rank was found in the filled and empty foil scrap. An increase of 3.45 sigma value and a decrease of 2,2486111% in defect were found after the implementation in the 10-day packaging process. Key Word: Lean Six Sigma, Waste, DPMO (Defects Per Million Objects), FMEA (Failure Mode and Effects Analysis).