cover
Contact Name
Yulianna Puspitasari
Contact Email
yulianna-puspitasari@fkh.unair.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
medvetj@journal.unair.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Media Kedokteran Hewan
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 02158930     EISSN : 2775975X     DOI : 10.20473/mkh.v32i1.2021.1-11
Core Subject : Health,
Media Kedokteran Hewan (p-ISSN: 0215-8930) (e-ISSN: 2775-975X) (established 1985) publishes all aspects of veterinary science and its related subjects. Media Kedokteran Hewan publishes periodically three times a year (January, May, and September). Media Kedokteran Hewan publishes original articles, review articles, and case studies in Indonesian or English, with an emphasis on novel information of excellent scientific and/or clinical quality, relevant to domestic animal species and biotechnology of veterinary medicine from researchers, lecturers, students, and other practitioners around Indonesia and worldwide.
Arjuna Subject : -
Articles 130 Documents
Pengaruh Wortel (Daucus carota), Jahe (Zingiber officinale Roscoe) dan Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) Terhadap Status Kesehatan Anak Kucing Sugata, Julius Mar'ie
Media Kedokteran Hewan Vol. 31 No. 3 (2020): Media Kedokteran Hewan
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mkh.v31i3.2020.130-136

Abstract

Anak kucing diklasifikasikan dalam tahapan pertumbuhan kehidupan dan memiliki kebutuhan energi dan protein yang tinggi. Saat memberi makan anak kucing disarankan menggunakan bahan yang sangat mudah dicerna dan berbagai nutrisi untuk membantu perkembangannya sehingga menghasilkan kucing dewasa yang sehat. Sistem pencernaan kucing bertanggung jawab untuk mencerna makanan dan menyerap nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Gastrointestinal adalah rumah bagi mikroflora, juga dikenal sebagai bakteri 'menguntungkan', yang berkontribusi pada kesehatan pencernaan dengan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan jika seimbang dan mendukung pemrosesan makanan dan nutrisi. Sistem pencernaan mencakup populasi sel sistem kekebalan yang padat, yang berarti saluran pencernaan kucing adalah salah satu tempat pertama sistem kekebalan menghadapi patogen potensial atau hal lain yang mungkin memerlukan tanggapan kekebalan.
Variasi Presipitasi Pelarut pada Ekstraksi RNA dengan Metode Trizole dan Pengaruh terhadap Kemurnian RNA Shaomianah, Siti
Media Kedokteran Hewan Vol. 31 No. 1 (2020): Media Kedokteran Hewan
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mkh.v31i1.2020.33-44

Abstract

ABSTRAKVirus dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk-nyamuk tersebut endemik di sebagian besar daerah vektor-vektor itu muncul memiliki empat serotipe yang berbeda secara antigenik. Empat serotipe virus dengue: DENV-1, DENV-2, DENV-3 dan DENV-4. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pelarut yang baik terhadap virus Dengue RNA Surabaya tipe-1 (DENV-1). Pelarut yang digunakan adalah Isopropanol, dimethyl sulfoxide, 96% ethanol, methanol, acetone-Methanol (1: 1), dimethyl formamide, dan akuades. RNA diisolasi dengan metode TRIzol. TRIzol (atau TRI Reagent) adalah larutan satu fasa dari fenol dan guanidinium isothiocyanate yang secara bersamaan melarutkan bahan biologis dan mendenaturasi protein. Hasil dari penilitian ini adalah didapatkan pelarut presipitasi RNA terbaik adalah aseton-metanol (1:1), karena campuran pelarut tersebut memiliki konstanta dielektrik terendah. Studi ini menunjukkan bahwa pelarut aseton-metanol (1:1) dapat digunakan sebagai pelarut presipitasi untuk mengisolasi RNA
Laporan Kasus: Spontaneous Chronic Corneal Epithelial Defects (SCCED) Pada Kucing Domestik Larasati, Annisa; Suradi, Aulia Azka; Aulia, Icha Yung; Virgiantari, Cheptien Winda; Nugroho, Hendra Setyo; Nurmaningdyah, Ajeng Aeka
Media Kedokteran Hewan Vol. 32 No. 1 (2021): Media Kedokteran Hewan
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mkh.v32i1.2021.19-28

Abstract

Spontaneous Chronic Corneal Epithelial Defects (SCCED) merupakan penyakit mata yang berasal dari corneal ulcer yang tidak mengalami perbaikan dan timbulnya lapisan epitel yang melapisi kornea. Dari gejala klinis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, kucing Belang diduga mengalami superficial corneal ulcer yang ditandai dengan adanya kekeruhan pada kornea dan diteguhkan dengan pemeriksaan penunjang berupa scimer tear test dan fluorecein test. Kucing Belang diberikan terapi obat berupa antibiotik topikal berupa gentamicin 0,3 % untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder dengan pemberian 3 x sehari sebanyak 1 tetes dan juga atropine 1% dengan pemberian 2 x sehari sebanyak 1 tetes. Hasil evaluasi pengobatan selama 1 minggu, kucing Belang tidak mengalami perubahan pada korneal ulcer tersebut, mata tampak masih keruh dan terlihat adanya pembuluh darah. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, maka frekuensi pemberian obat ditingkatkan yaitu gentamicin tetes diberikan 4 x sehari sebanyak 1 tetes dan atropine 1% diberikan 3 x sehari sebanyak 1 tetes. Setelah 1 minggu, kucing Belang tidak menunjukkan adanya perbaikan, namun mengalami pembentukan lapisan diatas lapisan kornea dan didapatkan diagnosa akhir bahwa kucing Belang mengalami SCCED.
Laporan Kasus: Corneal Ulcer karena Secondary Trauma Keratoconjuntivitis Sicca pada Kucing Setiyanto, Oman
Media Kedokteran Hewan Vol. 31 No. 2 (2020): Media Kedokteran Hewan
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mkh.v31i2.2020.85-96

Abstract

Berbagai penyakit mata yang pernah ditemukan pada kucing diantaranya seperti corneal ulcer. Metode pemeriksaan yaitu inspeksi mata keseluruhan, schirmer tear test (STT), dan fluorescein test. Hasil penekanan palpebrae didapat konsistensi mata kanan yang keras disertai discharge berlebih. Hasil pemeriksaan fluorescein test yaitu warna hijau paper strip masihmenempel pada mata meskipun sudah dibasuh menggunakan NaCl. Nilai STT mata kanan didapatkan 10 mm/menit dan mata kiri 8 mm/menit. Terapi yang diberikan adalah antiibiotik tetes mata levofloksacin diberikan 6 kali/hari sebanyak 1 tetes pada kedua mata. Pada mata kanan diberikan pilocarpin HCL 1% dan diteteskan hanya pada mata kanan satu tetes sebanyak 6 kali/hari, dengan pemberian 10 menit sebelum pemberian antibiotik tetes. Tetes mata Hydroxypropyl methylcellulose diberikan sebanyak 6 kali/hari. Terapi dilakukan sampai minggu ke-3 dan mendapatkan respon kesembuhan yang baik yaitu sudah tidak terlihat chemosis dan membran niktitan, produksi discharge mata berkurang, sudah terdapat respon palpebrae pada mata kiri namun pada mata kanan hanya ada sedikit, namun kornea masih terlihat keruh bilateral. ukuran bola mata kanan mengecil. Hasil STT setelah pengobatan menunjukkan pada mata kanan adalah 15 mm dan mata kiri 14.5 mm.
Diagnosa dan Observasi Terapi Infestasi Ektoparasit Notoedres cati Penyebab Penyakit Scabiosis pada Kucing Peliharaan Yudhana, Aditya
Media Kedokteran Hewan Vol. 32 No. 2 (2021): Media Kedokteran Hewan
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mkh.v32i2.2021.70-78

Abstract

Scabiosis merupakan penyakit parasitik yang paling sering terjadi pada kucing peliharaan. Penyebab scabiosis pada kucing palin dominan adalah ektoparasit tungau Notoedres cati. Jumlah kasus scabiosis pada kucing peliharaan di Indonesia masih terbilang tinggi sehingga diperlukan pendekatan diagnosa yang tepat dan pengendalian yang komprehensif. Laporan kasus ini bertujuan untuk menginvestigasi aspek diagnose dan terapi kasus scabiosis pada kucing peliharaan sekaligus laporan pertama di dari wilayah Banyuwangi, Jawa Timur. Berdasarkan pemeriksaan gejala klinis dan skin scraping dapat dikonfirmasi bahwa diagnosa untuk pasien kucing adalah positif scabiosis akibat infestasi tungau Notoedres cati. Tindakan terapi yang dilakukan adalah dengan obat injeksi ivermektin yang dikombinasikan dengan terapi topical menggunakan sulfur sebagai anti parasitik. Hasil kombinasi terapi yang diperoleh dengan menggunakan injeksi ivermectin dan sulfur secara topikal, dapat dikonfirmasi proses perkembangan yang signifikan, ditandai dengan adanya perbaikan lesi kulit atau terjadi proses keratolisis pada bagian yang mengalami lesi khas scabiosis yaitu hiperkeratosis. Laporan kasus ini dapat bermanfaat bagi para dokter hewan praktisi dalam menentukan diagnosa dan terapi scabiosis pada kucing. Selain itu, informasi ilmiah pada laporan kasus juga berfungsi sebagai edukasi kepada para pemilik hewan peliharaan terkait dengan pentingnya manajemen perawatan dan pencegahan penyakit yang berpotensi zoonosis.
Laporan Kasus: Penanganan Korneal Squestrum pada Kucing Domestic Short Hair Pambudi, Ganang Rilo
Media Kedokteran Hewan Vol. 31 No. 3 (2020): Media Kedokteran Hewan
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mkh.v31i3.2020.137-145

Abstract

Korneal squestrum merupakan suatu keadaan yang terjadi pada kornea yang telah mengalami kornea ulser dalam kurun waktu yang panjang/kronis. Kornea merupakan struktur pada mata bagian depan yang memiliki warna transparan dan tersusun atas outer epitelium, middle stroma dan inner endothelium. Pemeriksaan dasar yang dilakukan pada pasien adalah menace, dazzle dan pupillary reflex. Sedangkan pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah schiemer tear test dan fluorescein test. Hasil pemeriksaan dasar menunjukkan hasil yang positif tanpa adanya gangguan penglihatan. Sedangkan hasil fluorescein test menunjukkan hasil positif kornea ulser dengan adanya pendaran warna hijau. Terapi dilakukan dengan memberikan antibiotik (cendo genta 0,3%) s.6.d.d selama 2 minggu. Respon possitif ditunjukkan oleh pasien dengan hasil fluorescein test negatif pasca 2 minggu pengobatan. Akan tetapi, masih terdapat jaringan-jaringan berwarna putih kecoklatan yang menutupi permukaan korneal. Terapi dilanjutkan dengan memberikan cendoxitrol s.2.d.d selama 2 minggu. Respon yang diberikan pasien kurang baik, jaringan berubah menjadi kecoklatan atau disebut dengan korneal squestrum. 
Case Report Leucocytozoonosis pada Kalkun (Meleagris gallopavo) Yesica, Reza
Media Kedokteran Hewan Vol. 31 No. 1 (2020): Media Kedokteran Hewan
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mkh.v31i1.2020.45-51

Abstract

ABSTRAKLeucocytozoon adalah parasite genus protozoa yang termasuk dalam filum Apicomplexa yang menginfeksi species unggas. Leucocytozoonosis merupakan salah satu penyakit yang masih sering muncul pada ayam. Angka kematian pada ayam pedaging bisa mencapai 40%. Meskipun kasus penyakit ini lebih banyak ditemukan di peternakan ayam pedaging, bukan berarti ayam petelur dan kalkun dapat lolos dari infeksi parasit ini. Kasus Leucocytozoonosis pada ayam petelur dan kalkun jarang terjadi, namun jika Leucocytozoonosis menyerang, angka kematian bisa mencapai 30%. Hal tersebut juga menyebabkan peningkatan nilai FCR (Feed Conversion Ratio) dan penurunan produksi telur. Dalam penelitian ini diambil sampel darah dari kalkun betina berumur 2 tahun. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kalkun terinfeksi protozoa Leucocytozoon sp. Pengobatan pada unggas dapat dilakukan dengan pemberian chloroquine, trimethoprim, sulphaquinoxaline, dan primaquine serta menjaga kebersihan kandang.
Gagal ginjal kronis pada Kucing Domestik Rambut Pendek Mardasella, Arnes
Media Kedokteran Hewan Vol. 32 No. 1 (2021): Media Kedokteran Hewan
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mkh.v32i1.2021.29-39

Abstract

Gagal ginjal kronis adalah gangguan fungsi ginjal yang progresif dan irreversible. Pada kondisi ini ginjal gagal mempertahankan fungsi metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit, sehingga menyebabkan uremia. Seekor kucing domestik jantan berumur ±3 tahun dengan bobot 2,15 Kg diperiksa dengan keluhan letargi, bulu kotor dan kusam, bersin, dehidrasi, poliuri, polidipsi, membrana mukosa pucat, anoreksia serta ulserasi mulut. Pemeriksaan hematology menunjukkan hasil anemia, leukositosis, neutrofilia, trombositopenia, limfopenia, peningkatan nilai MCV, penurunan nilai MCHC. Pemeriksaan kimia darah menunjukkan hasil peningkatan kreatinin dan BUN. Pemeriksaan natif ditemukan adanya telur cacing. Hewan didiagnosa gagal ginjal kronis. Penanganan pada kasus ini diberikan terapi antibiotik Claneksi dan antibiotik Doxycycline, mukolitik Fluimucil, antianemik hematodin, obat antiparasit (Praziquantel, Pyrantel pamoat), serta supementasi tambahan berupa imboost, madu, minyak ikan serta pakan renal. Pada post terapi hewan terlihat membaik, gagal ginjal kronis tidak dapat disembuhkan sehingga diperlukan manajemen pengobatan dan diet yang tepat untuk dapat memperbaiki kualitas hidup dan memperpanjang hidup hewan.
Pengawasan dan Tata Laksana Pemeriksaan Kesehatan Ternak Sapi Di Pasar Hewan Babat Dan Tikung Kabupaten Lamongan Al Aziz, Moh. Abdur Rosid
Media Kedokteran Hewan Vol. 31 No. 2 (2020): Media Kedokteran Hewan
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mkh.v31i2.2020.97-105

Abstract

Pengawasan dan pemeriksaan kesehatan ternak sangat penting dilakukan di pasar hewan, sebagai upaya pencegahan penyebaran penyakit dan kerugian pada peternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengawasan dan tata laksana pemeriksaan kesehatan ternak sapi di pasar hewan. Pasar hewan Babat dan Tikung merupakan unit pelaksana teknis yang dikelola oleh Perusahaan Umum Daerah Kabupaten Lamongan yang memiliki sarana penunjang antara lain timbangan ternak, pusat kesehatan hewan, administrasi, dan sistem transportasi. Pengambilan data dilakukan secara observatif dengan melakukan pengamatan di kedua lokasi pasar pada bulan Februari – Maret 2020. Ternak sapi yang dipasarkan pada hari operasional pasar berjumlah 200 sampai 500 ekor. Berdasarkan data formulir lalu lintas ternak yang didapat melalui kontrol keliling yang dilakukan oleh dokter hewan menunjukkan bahwa sapi yang dipasarkan dalam keadaan sehat. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pengawasan dan pemeriksaan kesehatan ternak di pasar hewan Babat dan Tikung belum dilakukan secara optimal karena hanya dilakukan melalui kontrol keliling tanpa menggunakan alat-alat pendukung seperti stetoskop dan termometer. 
Pengaruh Endosulfan terhadap Perubahan Histopatologi Hepar Mencit (Mus musculus) Wardhani, Hana Cipka Pramuda
Media Kedokteran Hewan Vol. 31 No. 1 (2020): Media Kedokteran Hewan
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mkh.v31i1.2020.1-10

Abstract

ABSTRAKOrgan yang paling banyak terkontaminasi oleh paparan adalah hati, karena fungsinya sebagai adetoksifikator. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan histopatologi hati mencit (Mus musculus) akibat Endosulfan. Hewan percobaan yaitu 20 ekor mencit jantan dengan berat badan 20 gram. Paparan per-oral menggunakan Endosulfanon dengan dosis tunggal setiap perlakuan. Setelah 7 hari adaptasi, perlakuan kelompok pada hari kedelapan sebanyak 1cc per oral dengan dosis sebagai berikut: P1 6,25mg/kg berat badan/1cc/oral, P2 12,5mg/kg berat badan/1cc/oral dan P3 25mg/kg berat badan/1cc/oral. Pada hari kesepuluh dilakukan nekropsi untuk pengambilan hati mencit dan pembuatan mikro slide. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan undian. Sel hati yang mengalami inflamasi, degenerasi, dan nekrosis dihitung dengan sistem skoring. Hasil penilaian dianalisis oleh Kruska-Wallis. Jika hasil menunjukkan P <0,05 (berbeda nyata) maka dilanjutkan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Endosulfan berpengaruh terhadap perubahan histopatologi hati mencit. Dosis tertinggi 25mg/kg berat badan dapat menyebabkan keracunan dan kematian. Dosis terendah 6,25mg/kg berat badan dapat menyebabkan inflamasi, degenerasi, dan nekrosis secara histopatologi pada hati mencit. Dosis yang lebih tinggi diberikan untuk mendapatkan tingkatan yang semakin parah pada perubahan patologisnya.

Page 2 of 13 | Total Record : 130