cover
Contact Name
Anisa Anisa
Contact Email
anisa@ftumj.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.nalars@ftumj.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
NALARs
ISSN : 14123266     EISSN : 25496832     DOI : -
Core Subject : Engineering,
NALARs is an architecture journal which presents articles based on architectural research in micro, mezo and macro. Published articles cover all subjects as follow: architectural behaviour, space and place, traditional architecture, digital architecture, urban planning and urban design, building technology and building science.
Arjuna Subject : -
Articles 357 Documents
HUMANISME (KEMBALI) DALAM ARSITEKTUR Murni Rachmawati
NALARs Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.9.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Sebagai bagian dari dunia, arsitektur dihadapkan pada masalah-masalah dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mencari konteks yang tepat dari arsitektur dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kritiks dan argumentasi logika. Hasilnya mengacu pada pentingnya humanisme kembali pada arsitektur. Namun, konteks humanisme kontras terhadap humanisme yang disajikan pada arsitektur modern. Dalam arsitektur modern, humanisme menempatkan manusia sebagai subyek yang seharusnya melengkapi kebutuhan dan keinginan manusia. Kebutuhan humanisme adalah menempatkan manusia sebagai penentu seluruh kebijakan dalam melindungi alam, humanitarianisme dan juga teknologi untuk kebaikan manusia dan alam.  Kata Kunci: arsitektur, humanisme ABSTRACT. As part of the world, architecture also faced the problem of the world. This study is aimed to look for the fits context of architecture according to faced the problem. Methods of this study are criticism methods and logical argumentation. The result is referred to the importance of humanism back for architecture. But, that humanism context is contrast to the humanism that presented at modern architecture. In modern architecture, humanism placed man as subject that shall be accomplished all of man wish. Needed humanism is that place man as determining all policy in protects nature, humanitarianism and technology to the good man and good nature.   Key Word: Architecture, Humanism
KAJIAN CROWDING DI ANJUNGAN PENGANTAR (WAVING GALLERY) BANDARA INTERNASIONAL ADISUCIPTO YOGYAKARTA Wafirul Aqli
NALARs Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.15.2.109-120

Abstract

ABSTRAK. Crowding atau disebut juga dengan kesesakan merupakan kejadian di mana kuantitas populasi pengguna ruang yang tidak hanya manusia tapi juga benda dan non-benda melebihi dari apa yang suatu ruang bisa mewadahinya. Dipilihnya studi kasus waving gallery bandara internasional Adi Sucipto karena fenomena crowding berpotensi terjadi di ruang ini. Waving gallery tersebut memiliki luasan yang terbatas sementara fungsinya termasuk yang cukup penting bagi pengguna/ pengunjung bandara. Lebih lanjut kajian yang diangkat adalah bagaimana pola crowding yang terjadi dan perilaku keruangan apa saja yang dilakukan oleh user berkaitan dengan crowding tersebut. Sebagai kesimpulan terdapat kecenderungan bahwa crowding yang terjadi terlihat pada waktu siang hari di hari libur, yang dipicu dengan pertambahan pengunjung ke ruang tersebut dan membentuk zona-zona seperti zona orientasi, zona settled/ menetap, dan zona mobile/ berpindah-pindah, serta terjadi perilaku withdrawal untuk keluar dari kesesakan dan menempati zona kosong.Kata Kunci: Kesesakan, Anjungan Pengantar, Perilaku PenggunaABSTRACT. Crowding is a condition in which the quantity of the users, objects and non-objects excess of what a room could accomodate it. Waving gallery at Adi Sucipto International Airport has been conducted as a case study because the phenomenon of crowding could potentially occur within the area. The waving gallery has a limited area while the function is quite vital for the users/ visitors of the airport. Study conducted is how the crowding pattern occurs and what kind of spatial behavior is being done by the user associated with the crowding. As the conclusion, there is a tendency that the crowding occurs during the daytime on the holiday, which was triggered by the increase of visitors to the gallery and forming zones of orientation, settled and mobile/ nomadic, as well as the withdrawal behavior occurs to get out of distress situation and occupy the empty zone.Key Words: Crowding, Waving Gallery, Using Behavior
KONSEP PRIVASI RUMAH-RUMAH DI KOTA LAMA KUDUS Anisa Anisa
NALARs Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.10.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Manusia adalah makhluk sosial yang perlu berinteraksi dengan makhluk lain untuk keberlangsungan hidupnya. Tetapi manusia sebagai individu juga memerlukan privasi atau mengatur jarak personalnya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendapatkan gambaran tentang privasi pada rumah-rumah di Kota Lama Kudus; (2) Mengungkapkan konsep privasi pada rumah-rumah di Kota Lama Kudus. Dapat disimpulkan dari penelitian ini didapatkan bahwa konsep privasi khas pada rumah-rumah di Kota Lama Kudus pada intinya adalah kontrol interaksi yang bersifat profan (antar sesama manusia) dan sakral (manusia dengan Tuhannya). Konsep privasi ini terkait erat dengan faktor transendental keIslaman dan sebagian lain mendapat pengaruh dari konsep Jawa. Kata kunci : privasi, konsep, rumah ABSTRACT. Human beings are social creatures who need to interact with other creatures to survive. But human beings as individuals also need to set up a private space as well as personal space. This study is aimed to: (1) Obtain an overview of privacy of the houses in Kota Lama Kudus, (2) Disclose the concept of privacy in the houses in Kota Lama Kudus. It can be concluded from this study that it has been found that the concept of privacy typical of the houses in Kota Lama Kudus is its core which  is the control of interaction that are profane (among humans) and sacred (human with God). The concept of privacy is closely associated with Islamic transcendental factors and others are influenced by the concept of Java. Keywords: privacy, concept, house
FENOMENOLOGI ARSITEKTUR; KONSEP, SEJARAH DAN GAGASANNYA Undi Gunawan
NALARs Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.12.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Tulisan ini merupakan kajian singkat mengenai fenomenologi dalam teori arsitektur.Fenomenologi dikenal sebagai sebuah metode yang mempelajari bagaimana gejala arsitektur menjadi kesadaran yang bermakna.Tulisan ini bertujuan memahami peta pemahaman fenomenologi pada kajian filsafat dan fenomenologi pada kajian ilmu arsitektur.  Tulisan ini berusaha memberi orientasi bagaimana fenomenologi dipergunakan oleh beberapa teoritisi dan sejarawan arsitektur untuk menyusun pengetahuan dan pemahaman akan bentuk, ruang dan makna arsitektur terutama kaitannya dengan konsep tempat, ruang dan tubuh. Dengan mempelajari beberapa pemikiran kunci dari para pemikir, teoritisi dan sejarawan arsitektur yang menggunakan pendekatan fenomenologi, diharapkan tulisan ini dapat memberi arah pengembangan pendekatan ini. Kata Kunci: fenomenologi, teori arsitektur ABSTRACT. This article is an overview of the phenomenology in architectural theory. Phenomenology has been known as a method of studying how the tendency of architecture into meaningfull consciousness. This paper aims to understand the map of understanding the phenomenology of philosophy study and phenomenology of the architectural study. This article tries to give the orientation of how the phenomenology had been used by several theorists and historians of architecture to develop knowledge and understanding of shape,space and architectural meaning, particularly which related to the concept of place, space and body. By learning a few key ideas of thinkers, theorists and historians of architecture phenomenological approach, this paper is expected to give direction of development of this approach. Keywords: phenomenology, architectural theory
FALSAFAH TASAWUF ISLAM DALAM ARSITEKTUR TAMAN SUNYARAGI Sudarmawan Juwono
NALARs Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.14.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Taman Sunyaragi adalah salah satu warisan arsitektur yang dibangun pada masa kebudayaan Islam Cirebon. Arsitektur Sunyaragi merupakan mosaik yang menampilkan perpaduan antara berbagai elemen budaya Hindu Jawa, Arab Islam dan kebudayaan Cina. Pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini adalah konsep apa yang mendasari arsitektur tersebut? Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah sosial budaya dan semiotik untuk dapat menganalisis bentuk arsitektur yang ada.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsitektur Taman Sunyaragi didasarkan pada falsafah Islam tasawuf yang dikembangkan para Wali Songo di pulau Jawa. Falsafah tersebut menekankan adanya nilai-nilai simbolik, harmoni budaya dan penghayatan olah batin. ABSTRACT. Taman Sunyaragi  is one of the Indonesian architectural heritage that was built during the golden era of the Islamic culture in  Cirebon, West Java. The architecture of Sunyaragi is a mozaic architecture which presenting a combination of  many elements of the Javanese-Hindu, Arabic-Islamic and Chinese culture. The purposed question in this research is what are the basic concepts beyond the architectural aspect of Taman Sunyaragi? This study has used a semiotic approach in analyzing the existing architectural forms. The results has shown that the architecture of Taman Sunyaragi is based on the philosophy of Islamic Tasawuf (Sufism) that was taught and developed  by the “Wali Songo”  or the nine Islamic preacher in Java. The phylosophy has emphasized symbolic values, cultural harmony and trancendental meditation (that was commonly practiced by the sufis).  
ARSITEKTUR RUMAH ULU OGAN husnul hidayat
NALARs Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.17.2.129-134

Abstract

ABSTRAK. Rumah Ulu adalah rumah tradisional yang berada di daerah uluan Sumatera Selatan. Sebaran Rumah Ulu di daerah Pasemah, Semendo, Minanga, Lamban Tuha dan Ogan. Rumah Ulu adalah rumah panggung dengan bentuk dasar segi empat dan kemiringan atap yang curam. Rumah Ulu di daerah Ogan disebut Rumah Ulu Ogan dan bisa dijumpai di tepian sungai Ogan. Kondisinya kurang terawat dan sudah banyak mengalami perubahan bentuk maupun bahan konstruksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji arsitektur Rumah Ulu Ogan. Lokasi penelitian berada di permukiman Desa Mendala, Kecamatan Peninjauan Ogan Komering Ulu. Hasil identifikasi selanjutnya dianalisis untuk menentukan karakter arsitekturnya. Hasil penelitian menunjukkan, Rumah Ulu Ogan memiliki tampilan yang khas yang tidak dimiliki pada Rumah Ulu daerah lainnya, yaitu tiang-tiang tinggi yang menopang atap pada teras depan. Denah rumah bangunan inti berbentuk segi empat dengan tambahan ruang pada sisi kanan, kiri dan belakang serta beranda rumah ada di sebelah kiri. Tidak ada sekat yang permanen dalam rumah. Atap pada bangunan inti berbentuk pelana dengan kemiringan 55 derajat yang terhubung dengan atap tambahan di sekelilingnya, bubungan atap datar atau tidak melengkung dan memiliki tebeng layar yang tegak. Ada ornamen ukiran pada bagian atap dinding dan balok lantai yang menghadap ke depan rumah. Tata letak Rumah Ulu Ogan berpola linier yang berlapis, memanjang dan sejajar aliran sungai juga orientasi bangunan tidak selalu menuju ke sungai. Kata kunci: arsitektur, Rumah Ulu, Ogan ABSTRACT. Rumah Ulu is a traditional house located in Uluan area of South Sumatra. The distribution of Rumah Ulu in the area of Pasemah, Semendo, Minanga, Lamban Tuha and Ogan. Rumah Ulu is a stilt house with a rectangular base shape and a steep roof slope. Rumah Ulu in the Ogan area is called Rumah Ulu Ogan and can be found on the banks of the Ogan river. The conditions are lack of maintenance and have undergone much change in shape and construction materials. This research is aimed to study the architecture of Ogan's house. The research site is located in the Mendala village settlement, Sub-District of Ogan Komering Ulu District. Further identification results are analyzed to determine the character of the architecture. The result shows Rumah Ulu Ogan has a distinctive look that is not owned in the home of other areas, namely high poles that support the roof on the front porch. House structure of the rectangular core building with additional space on the right side, left and back and the porch of the house on the left. There is no permanent bulkhead in the house. The roof of the saddle-shaped core building with a 55-degree slope connected to an additional roof around it, a flat roof ridge or non-curved and has an upright sidewall. There are ornaments carved on the roof of the walls and floor beams that face the front of the house. The layout of Ogan's house is linearly patterned, elongated and parallel to the flow of the river also the orientation of the building does not always go to the river. Keywords: architecture, Rumah Ulu, Ogan
GARDEN CITY’: THE SUITABILITY OF ITS PRINCIPLES AS A MODEL TO THE CONTEMPORARY PLANNING Evalina Evalina; Husnus Sawab
NALARs Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.10.1.%p

Abstract

ABSTRACT. Garden City is an urban planning concept that adopted from of Ebenezer Howard who developed the idea of garden cities as a way towards a better and brighter civilization. This article discuss the Garden City concept as associated to planning evolution and describes the later changes in approach to planning better cities in current circumstances. Based on arguments from some experts and evidence derived from practice, Garden City is the novel idea that has a unique presentation because of its simplicity and range of details which consist of three main elements including decentralization, garden and city or in simple terms are location, physical design and community ownership. These days, while in some extent the Garden City idea is still attractive especially in terms of the idea of green design and social city model, the appropriateness of the Garden City idea to contemporary planning seems invalid. The Garden City concepts such as decentralization, low density, self-containment communities, new settlements and proportion of population to land are not anymore fit with current situation which is urban population growth rapidly imbalance with land availability.  Urban concept today tends to consider environmental approach in order to gain sustainable goals such as ‘compact city’ concept in planning the better city. The Garden City has a valuable contribution to evolution of urban and regional planning approach, but it is not entirely relevant to the contemporary planning approach.  Keywords: Garden City, Contemporary Planning ABSTRAK. Garden city adalah salah satu konsep perencanaan perkotaan yang diadopsi dari karya Ebenezer Howard yang mengembangkan ide ‘kota taman’ sebagai langkah menuju sebuah peradaban yang lebih baik. Tulisan ini mendiskusikan konsep Garden City terkait perkembangan perencanaan kota dan menjelaskan perubahan terkini dalam pendekatan perencanaan kota yang lebih baik. Berdasarkan pendapat beberapa ahli dan hasil penerapan yang pernah dilakukan, Garden city adalah sebuah konsep awal yang memiliki sebuah keunikan dikarenakan kesederhanaannya dan detil yang beragam. Konsep Garden city terdiri dari 3 (tiga) elemen utama, yaitu: desentralisasi, garden dan city atau dengan istilah lain adalah lokasi, desain fisik, dan kepemililkan masyarakat (community ownership). Konsep Garden City sampai saat ini cukup mendapat perhatian terkait dengan konsep green design dan social city model. Tetapi, beberapa konsep lainnya dari Garden City seperti, disentralisasi, tingkat kepadatan yang rendah, masyarakat mandiri, pemukiman baru, dan proporsi jumlah penduduk terhadap lahan tidak sesuai dengan situasi saat ini dimana pertumbuhan penduduk kota yang sangat cepat tidak seimbang dengan ketersediaan lahan. Konsep perkotaan masa kini cenderung mempertimbangkan pendekatan lingkungan untuk mencapai sustainable goals seperti, konsep compact city dalam merencanakan kota yang lebih baik. Konsep Garden City memiliki kontribusi yang bernilai terhadap perkembangan pendekatan perencanaan kota dan wilayah, tetapi tidak secara keseluruhannya relevan pada pendekatan perencanaan masa kini. Keywords: Kota Taman, Perencanaan masa kini
PENYEDIAAN PERUMAHAN DAN INFRASTRUKTUR DASAR DI LINGKUNGAN PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN (STUDI KASUS DI KOTA BANDUNG) Veronica Kusumawardhani; Surjono Hadi Sutjahjo; Indarti Komala Dewi
NALARs Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.15.1.13-24

Abstract

ABSTRAK. Bandung sebagai salah satu kota metropolitan yang berkembang di Indonesia tidak dapat menghindar dari masalah-masalah yang berkaitan dengan permukiman kumuh. Masalah permukiman kumuh biasanya dikarakteristikan dengan menurunnya kondisi lingkungan seperti masalah keterbatasan ketersediaan air tanah dan polusi. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkalkulasi kesenjangan sumber daya dalam hal kuantitas maupun kualitas air dan tanah, bagi masyarakat yang tinggal di daerah kumuh di Kota Bandung yang didasari pada standar pelayanan minimum dan standar kualitas lingkungan serta menentukan bentuk dari infrastruktur dasar seperti penyedia pengganti dari sumber daya alam air dan tanah yang paling tepat. Penelitian ini menetapkan tiga kelurahan yang mewakili tia tipologi kawasan kumuh yaitu, kumuh berat pada Kelurahan Tamansari, kumuh sedang pada Kelurahan Babakan Ciamis, dan kumuh ringan pada Kelurahan Cihargeulis.  Hasilnya menunjukkan bahwa kaitannya dengan kuantitas air pada ketiga kelurahan tersebut dipenuhi dari air tanah dan juga sumber PDAM. Hal ini mengingat bahwa ketersediaan tanah untuk perumahan pada ketiga kelurahan tersebut sudah mencukupi. Sementara bila dikaitkan dengan kualitas air pada ketiga kelurahan, nampaknya kualitas air dari PDAM memenuhi standar lingkungan namun kualitas air dari air tanah tidak memenuhi standar tersebut. Sehingga untuk kualitas tanah dengan mengacu pada Soil Quality Index dari BPS terlihat bahwa indeks kualitas tanah di Kelurahan Tamansari-lah yang paling rendah, dan di Kelurahan Cihargeulis-lah yang paling tinggi. Bentuk dari prioritas infrastruktur pada Kelurahan Tamansari untuk pengadaan air adalah melalui pipa dari PDAM atau pengolahan air permukaan tanah tingkat kelurahan, sementara untuk air buangan adalah MCK untuk “black water” dan instalasi pengolahan air buangan untuk “grey water”. Sementara itu untuk buangan padat adalah merupakan buangan bukan organik dan pengolahan kompos buangan organik serta dari buangan rumah berlantai banyak atau hunian vertikal. Bentuk dari  prioritas infrastruktur dari Kelurahan Babakan Ciamis untuk air adalah sama dengan Kelurahan Tamansari. Sementara itu pada Kelurahan Cihargeulis, prioritas infrastruktur untuk air adalah juga melalui pemipaan PDAM, dan untuk buangan air menggunakan instalasi pengolahan air buangan pada tingkat kota, untuk buangan padat adalah merupakan buangan bukan organik, pengolahan kompos buangan organik dan perumahan horizontal.  Kata Kunci: kumuh, sumber daya alam dan air, standar layanan minimum, standar lingkungan, insfrastruktur dasar permukiman  ABSTRACT. Bandung as one of the growing metropolitan in Indonesia did not escape from the problems of slums emerging. The problem of slums is characterized by such as a decrease in environmental conditions such as lack of raw water availability and pollution. Based oh those facts, this study aimed to calculate the resource gap in terms of quantity and quality of water and land, for people living in the slums in Bandung city based on minimum service standards and environment quality standards, and determining the form of basic infrastructure as a substitute provider of natural resources water and land that most appropriate. The study was conducted in three kelurahan which represent the three typologies of slums that are heavy is Kelurahan Tamansari, moderate is Kelurahan Babakan Ciamis, and light is Kelurahan Cihargeulis.   The results showed that in terms of quantity water in the three kelurahans are met from the ground water and piped water from PDAM.  As for the existing land for housing in the three kelurahans are sufficient. In terms of water quality in the three kelurahans is seen that the quality from PDAM have met the environment standards but the quality from ground water have not.  Then for soil quality with reference to Soil Quality Index of BPS was seen that the Land Quality Index in the Kelurahan Tamansari is the lowest, and Kelurahan Cihargeulis is the highest.  The shape of the priority infrastructure for Kelurahan Tamansari for water is piping from PDAM or local surface water treatment, for wastewater is MCK Communal for black water and local wastewater instalation treatment plant for grey water, for solid waste is anorganic waste bank and composting for organic waste, and multistorey housing.  The shape of the priority infrastructure for Kelurahan Babakan Ciamis for water is piping from PDAM, for wastewater is MCK Communal for black water and local wastewater instalation treatment plant for grey water, for solid waste is anorganic waste bank and composting for organic waste, and multistorey housing. The shape of the priority infrastructure for Kelurahan Cihargeulis for water is piping from PDAM, for wastewater is city level wastewater installation treatment, for solid waste is anorganic waste bank and composting for organic waste, landed housing Keywords: Slums, water and natural resources of land, minimum service standards, environmental standards, the basic infrastructure of the settlements
IDENTIFIKASI KEANEKARAGAMAN HAYATI RTH DI KOTA DEPOK Ray March Syahadat; Priambudi Trie Putra; Pitria Ramadanti; Daisy Radnawati; Siti Nurisjah
NALARs Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.17.1.29-38

Abstract

ABSTRAK. Pembangunan perkotaan tidak hanya harus terfokus pada lanskap binaan tetapi juga pada lanskap alami. Salah satu elemen lunak yang dianggap penting yaitu keberadaan ruang terbuka hijau (RTH). Pengembangan RTH di lanskap perkotaan selama ini umumnya lebih terfokus dalam mencapai tujuan mereduksi polutan, menciptakan kenyamanan termal, dan juga estetika. Sayangnya, masih banyak yang mengabaikan manfaat RTH dari sudut pandang konservasi khususnya flora dan fauna. Studi ini bertujuan untuk mendata keanekaragaman hayati di Kota Depok untuk menjadi acuan dalam mencapai pembangunan berkelanjutan (green development), sehingga kualitas lingkungan dapat ditingkatkan dan fungsional bukan hanya bagi manusia tetapi juga bagi flora dan fauna. Studi dilaksanakan di tiga lokasi dengan karakter yang berbeda yaitu Taman Lembah Gurame, Tahura Pancoran Mas, dan Jalan Juanda. Hasil yang diperoleh nilai keanekaragaman vegetasi berturut-turut berada pada Tahura Pancoran Mas (2,535), Taman Lembah Gurame (1,287), dan Jalan Juanda (0,967). RTH di Jalan Juanda merupakan RTH dengan nilai keanekaragaman vegetasi paling rendah. Rendahnya nilai keanekaragaman vegetasi berpengaruh langsung terhadap keberadaan fauna yang tidak ditemukan pada RTH Jalan Juanda. Studi ini juga berhasil mendata vegetasi-vegetasi penting pada tiap-tiap lokasi yang dapat memberikan informasi mengenai mampu tidaknya vegetasi tersebut beradaptasi dengan lingkungannya. Kata kunci: fauna, flora, konservasi, lanskap perkotaan, ruang terbuka hijau. ABSTRACT. Urban development should not only focus on the man-made landscape but also the natural landscape. One of the important natural landscape is the existence of green open space. Green open space development in urban landscape areas has generally been more focused on achieving the goal of reducing pollutants, creating thermal comfort, as well as aesthetics. Unfortunately, the benefits of green space from the conservation, especially for flora and fauna are still largely ignored. This study aims to record biodiversity in Depok City to become a reference in achieving sustainable development (green development), so that environmental quality can be improved and functional not only for human but also for flora and fauna. The study was conducted in three locations with different characters namely Taman Lembah Gurame, Tahura Pancoran Mas, and Jalan Juanda. The results obtained by the value of vegetation diversity are consecutively in Tahura Pancoran Mas (2,535), Lembah Gurame Park (1,287), and Jalan Juanda (0.967). Green open space on Jalan Juanda has the lowest value of vegetation diversity. The low value of vegetation diversity directly affects the presence of fauna because not found in the Jalan Juanda. This study also managed to record important vegetations in each location that can provide information for whether or not the vegetation well-adapted in its environment. Keywords: conservation, fauna, flora, green open space, urban landscape
Maksud dan Makna Feng Shui Bangunan Terhadap Keadaan Lingkungan Menurut Pandangan Teori Arsitektur Irwin Ramsyah
NALARs Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.8.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Feng shui adalah sebuah seni Tao dan keserasian ilmu hidup dengan lingkungan bagi kalangan masyarakat Cina. Ilmu Feng shui sudah ada sejak zaman 2200 sebelum Masehi yang diciptakan pertama kalinya oleh  Kaisar Cina bernama Fu Hsi.Dalam perkembangan kehidupan bangsa china, banyak mengalami perubahan perubahan yang datangnya dari pergantian dinasti, mencakup berbagai hal seperti perubahan politik dan kebijakan, membuat sejarah Feng Shui mengalami pasang surut. Akibatnya banyak ajaran ajaran feng shui telah hilang dan mengalami perubahan dan tidak lagi sesuai aslinya. Di sisi lainnya Feng shui yang di susun oleh Ahlinya di china pada dasarnya di susun menurut pengamatan ahli feng shui yang disesuaikan dengan keadaan  iklim atau keadaan alam di china itu sendiri. Namun Perkembangan zaman, rupanya feng shui juga di pakai oleh banyak kalangan di seluruh dunia,bukan hanya di china saja yang sudah barang tentu harus di susun kembali berdasarkan daerah setempat Perubahan alam yang berbeda sagat memperngaruhi juga prinsip prinsip ajaran feng shui Sehingga ajaran feng shui ini mengalami banyak pergeseran dari hakekat aslinya,dari ilmu seni mengatur hubungan manusia dengan alam hingga bergser menjadi sebuah keyakinan yang terkadang keliru cara memandangnya. Dalam tulisan ini disajikan beberapa pandangan cara melihat feng shui itu sendiri menurut kaca mata arsitektur untuk mencari makna dari sebagian kecil ajaran feng shui, bahwa sebenarnya feng shui itu mengajarkan tentang keseimbangan ruang antara pemakai dengan lingkungannya.Kata Kunci: Feng Shui, bangunan, lingkungan, arsitekturABSTRACT. Feng Shui is a Tao art and a harmony between life and environment for China community. Feng Shui has been delivered since 2200 BC which had been created firstly by China Emperor called Fu Hsi. By the development of China community, there are many changes from one dynasty to other, particularly in politic change and regulation. These changes had affected the history of Feng Shui, and shown that many matter of Feng Shui have been disappeared and changes from the original one. On the other hand, Feng Shui which has been formed by expertise in China, basically according to climate condition in China. Although, Feng Shui has been used by many parties within world, not only in China. This phenomena has shown that Feng Shui which has been delivered all over the world has been formed as well according to local climate condition. These changes have affected that there are many original principles within Feng Shui have been transformed. From an art to organize a relationship between human and nature, then have been transformed to a believe which sometime there are many mistakes if people have a wrong perspective. This paper will explore some perspectives how to see Feng Shui in architecture to define that the original Feng Shui is delivering a space harmony between human and environment.  Keywords: Feng Shui, building, environment, architecture  

Filter by Year

2009 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2026): NALARs Vol 25 No 1 Januari 2026 Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025 Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025 Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024 Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023 Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023 Vol 21, No 2 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 2 Juli 2022 Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022 Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021 Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021 Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020 Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020 Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019 Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019 Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018 Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018 Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017 Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 More Issue