cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012)
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 2 (2007): MADUROLOGI 2" : 8 Documents clear
REVITALISASI NILAI LUHUR TRADISI LOKAL MADURA Edi Susanto, Edi Susanto
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 12, No 2 (2007): MADUROLOGI 2
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Kuatnya arus modernisasi telah menyebabkan kearifan lokal menjadi tereliminasi dan tergantikan oleh grand narrative, yang hingga batas tertentu menyebabkan manusia tercerabut dari akar tradisinya, sehingga mengalami krisis jati diri dan keterputusan budaya. Tulisan ini berusaha menunjukkan pentingnya revitalisasi tradisi lokal kemaduraan sebagai usaha awal menemukan mata rantai tradisi yang mulai tergerus dominasi dan hegemoni modernisasi. Dengan melakukan revitalisasi, diharapkan akan dapat ditampilkan kembali jati diri kemaduraan yang khas, yakni wajah keberislaman ala Madura, yang sudah barang tentu tidak dapat dilepaskan dari mainstream keislaman normatif.   Kata kunci: revitalisasi, Tradisi lokal, Kearifan lokal Madura  
DIMENSI EPISTEMOLOGIS TRADISI RITUAL SAMMAN DALAM MASYARAKAT MADURA (Telaah dalam Perspektif Epistemologi ‘Abd al-Jabbar) Hidayat, Ainurrahman
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 12, No 2 (2007): MADUROLOGI 2
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Artikel ini berusaha semaksimal mungkin merefleksikan dimensi epistemologis tradisi ritual samman, sebagai tradisi budaya masyarakat Madura, dalam perspektif ‘Abd al-Jabbar. Hasil refleksi menunjukkan bahwa tradisi ritual samman dalam masyarakat Madura merupakan salah satu media latihan mencapai ekstase religius menuju Sang Khalik. Semua itu dilakukan dalam rangka terciptanya ketenangan batin, ketenteraman, rasa aman, dan kesejahteraan hidup. Seluruh prosesi tradisi ritual samman terdiri dari lima babak yang meliputi aspek gerakan, bacaan, dan formasi berupa pusat orbit lingkaran. Simbol-simbol dalam tradisi ritual samman terdiri dari simbol tarian sakral, pusat orbit lingkaran, huruf serta simbol Allah dan Muhammad. Dimensi epistemologis tradisi ritual samman merupakan pengetahuan yang dimiliki masyarakat Madura tentang tradisi ritual samman sebagai hasil dialektika antara unsur obyektif berupa fakta-empiris-sensual dan fakta-akal-budi-rasional yang bersifat korespondensi, dan unsur subyektif berupa ketenangan jiwa dalam meyakini kebenaran tradisi ritual samman yang bersifat koherensi dengan ajaran Islam. Kata kunci: samman, epistemologi, korespondensi, dan koherensi
ROKAT BHUJU’ VIS-À-VIS KOMPOLAN (Metamorfosis Elit Madura Pasca Keruntuhan Orde Baru) Halik, Fathol
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 12, No 2 (2007): MADUROLOGI 2
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Tulisan ini berpijak pada asumsi bahwa perubahan sosial tidak selalu diiringi dengan perubahan pemimpin. Pada komunitas yang telah mapan, perubahan pemimpin bukan merupakan hal yang utama dalam relasi sosial, terutama dalam tradisi masyarakat pedesaan di Madura, seperti fenomena relasi sosial antar elit bhuju’ Juruan di Batuputih Sumenep. Yang menarik dalam tradisi bhuju’ Juruan adalah rokat bhuju’. Sebuah tradisi yang berkenaan dengan aktivitas seni, hiburan, dan sosial-“keagamaan” berupa pembacaan matera, kejungan, ataupun mamaca. Rokat bhuju’ dilakukan oleh masyarakat yang “kurang mengerti agama”, reng ledha’, reng gunung bhato kalettak, tandha’, bhajingan (blater), dan orang awam atau abangan. Tradisi ini dilakukan dengan pemujaan terhadap makam orang sakti dengan mengetengahkan sesaji, buah-buahan ataupun beras yang diletakkan di altar pemakaman sebagai bagian dari ritual sebagian masyarakat Madura. Realitas ini seakan paradoksal dengan masyarakat Madura yang taat beragama. Bagi masyarakat Madura rokat bhuju’ berbeda dengan kompolan. Suatu aktivitas keagamaan yang digelar dengan mengundang orang lain, tetangga, famili ataupun jemaah masjid untuk berdoa, seperti pembacaan tahlil, yasiin, barzanji, al-Qur’an, ataupun ceramah agama. Kompolan bukan ansich spiritual, ada pula kebutuhan psikologis, jaringan sosiologis antar manusia, kebutuhan sosialisasi, aktualisasi dan kebersamaan melalui tradisi keagamaan. Motif sosial dan keagamaan menjadi bagian penting dari tradisi kompolan. Tradisi kompolan juga memunculkan tokoh lokal dan pengikut (follower) dari kalangan santri, keyae, orang haji (agamis). Sehingga media yang digunakan pun berbeda. Hadrah, dhiba’, samroh, Cinta Rasul, tongtong, qasidah digunakan dalam kompolan, sementara lodrok, tandha’, saronen, bhajang oreng, orkes, tayub identik dengan rokat bhuju’. Bagi kalangan agamawan (santri, kyai dan ulama’) rokat bhuju’ harus dirubah. Sebagian tokoh Madura menghendaki pergantian aktivitas-ritual dalam kegiatan tersebut, berupa “budaya tandingan”, budaya yang baru. Rokat bhuju’ yang dilaksanakan untuk memperingati peninggalan, tradisi, serta jasa tokoh/orang sakti yang telah meninggal hendak dirubah menjadi aktivitas keagamaan. Hal itu dimaksudkan supaya pengikut (followers) rokat bhuju’ insyaf, atau kembali kepada jalan Allah. Meskipun tidak terjadi pergantian pemimpin, namun dalam konteks ini telah terjadi proses metamorfosis, dimana tokoh tidak lagi berasal dari kalangan luar rokat bhuju’. Akan tetapi, berasal dari keturunan tokoh perintis rokat bhuju’ sendiri dengan lebih mengedepankan kegiatan keagamaan dan rokat berganti menjadi kompolan. Strategi ini merupakan hasil pendekatan pada tokoh melalui keturunan/anak-anak yang bersekolah di pesantren di Madura.   Kata kunci: rokat bhuju’, kompolan, keyae, metamorfosis
CROSS MARRIAGE (Sebuah Model Pembauran Budaya Antar Komunitas Cina, Arab, India, Jawa dan Madura di Sumenep Kota) Masyhur Abadi, Masyhur Abadi
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 12, No 2 (2007): MADUROLOGI 2
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Kekayaan budaya Sumenep kota merupakan hasil prosess difusi ,akulturasi, dan asimilasi yang berlangsung dalam kurun waktu yang lama dan berkelanjutan dari berbagai kebudayaaan yang berasal dari berbagai komunitas ras/etnis yang mendiami kota kuno ini. Proses pembauran budaya ini berjalan secara alamiah sebagai konsekuensi wajar dari interaksi antar komunitas dalam memenuhi kebutuhan dan harapan hidup mereka. Dalam pembauran panjang yang menghasilkan masyarakat multikultural ini, budaya Sumenep muncul dengan suatu karakteristik unik sebagai suatu entitas kebudayaan Sumenep. Unsur-unsur budaya non-Sumenep/Madura tetap terlihat, tetapi sebagai sebuah entitas kebudayaan ia telah menjadi budaya  kahas Sumenep, Perkawinan silang (cross marriage) merupakan salah satu lembaga yang menjadi faktor berjalannya proses pembauran multi etnis/ras berjalan secara alamiah dengan intensitas yang tinggi dan total. Hal ini menghasilkan suatu pembauran budaya yang berkualitas dalam berbagai ranah kehidupan: bahasa, arsitektur, model pergaulan,masakan, kesenian  dan juga piranti-piranti lainnya yang diperlukan dalam memenuhi hajat hidup masyarakat seperti alat transportasi laut, pertanian, dan perabot rumah tangga; dan yang terlebih penting memberikan pengalaman aktual bagaimana menjalani hidup dalam banyak warna. Kata kunci: pembauran, perkawinan silang, asimilasi, akulturasi, alamiah
KYAI DAN BLATER (Elite Lokal dalam Masyarakat Madura) Kosim, Mohammad Kosim
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 12, No 2 (2007): MADUROLOGI 2
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mohammad Kosim (Penulis adalah dosen tetap pada Jurusan Tarbiyah STAIN Pamekasan dan peserta program Doktor Studi Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya)   Abstrak: Kyai dan blater merupakan dua elite lokal dalam kehidupan sosial politik masyarakat Madura. Kyai merupakan elite utama. Pengaruh kyai cukup beragam tergantung pada asal usul genealogis (keturu­nan), kedalaman ilmu agama yang dimiliki, kepribadian, kesetiaan menyantuni umat, dan faktor pendukung lainnya. Sedangkan pengaruh blater banyak ditentukan oleh kekuatan/ketangkasan adu fisik, keberanian, kepribadian, kemenangannya dalam setiap pertarungan, dan faktor pendukung lainnya. Kyai dan blater hidup di “dunia” berbeda, keduanya memiliki sumber kekuasaan dan pengaruh berbe­da, namun keduanya bisa membangun “relasi”. Tulisan berikut—dengan segala keterbatasannya—akan mengkaji fenomina kyai dan blater sebagai kelompok elite (non-governing elite) dalam kehidupan sosial politik di Madura. Kajiannya berkisar pada; peran yang dimainkan kyai dan blater, asal usul munculnya peranan kyai dan blater, dan relasi antar keduanya. Kata kunci: kyai, blater, elite, Madura  
KEKUASAAN JURAGAN DAN KIAI DI MADURA Imam Zamroni, Imam Zamroni
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 12, No 2 (2007): MADUROLOGI 2
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

(Penulis adalah alumni program Magister Studi Sosiologi Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta)     Abstrak: Tulisan ini berusaha untuk melihat kekuasaan dan pengaruh sosial yang ditimbulkan antara juragan dan kiai dalam perkembangan paling mutakhir. Keduanya—juragan dan kiai—mempunyai sumber kekuasaan yang berbeda yang berimplikasi pada keragaman desain gerakan politik untuk merebut kekuasaan. Berdasarkan pada kompleksitas bangunan kekuasaan yang dimiliki oleh elite, maka Madura memiliki karakter masyarakat yang unik sekaligus spesifik, jika dibandingkan dengan masyarakat Jawa pada umumnya. Oleh karena itulah, dalam konteks kekuasaan, kajian tentang juragan dan kiai menjadi penting adanya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang berusaha memahami makna di balik fenomena sosial yang muncul ke permukaan secara holistik. Teknik penggalian data menggunakan AN KIobservasi partisipasi (participant observation) dan wawancara mendalam (indept interview) Kata kunci: kekuasaan, politik, budaya
CAROK VS HUKUM PIDANA INDONESIA (Proses Transformasi Budaya Madura Kedalam Sistem Hukum Indonesia) Erie Hariyanto, Erie Hariyanto
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 12, No 2 (2007): MADUROLOGI 2
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Erie Hariyanto (penulis adalah pengampu matakuliah Hukum Pidana jurusan Syariah STAIN Pamekasan, Alumni Magister Hukum Universitas Islam Malang) Abstrak: Carok berada dipersimpangan jalan antara tradisi yang harus dilakukan demi membela harga diri dan carok sebagai suatu bentuk kejahatan dengan kekerasan yang sangat meresahkan masyarakat, sekaligus tindakan yang tidak akan dibenarkan oleh negara karena tergolong tindakan main hakim sendiri (eigenrichting). Apabila terjadi pertentangan antara hukum negara (State Law) dengan hukum yang ada dalam suatu masyarakat (Folk Law), selama kebudayaan (Tradisi) tidak bertentangan dengan hukum positif Indonesia maka maka pelaksanaannya bisa diteruskan dan dilestarikan. Bagaimana dengan Carok, dalam tulisan ini akan diungkap kaitannya dengan sosiologi hokum dan  perkembangan masyarakat madura dewasa ini. Kata kunci: carok, Hukum Pidana, Budaya Madura
ANALISIS STRATIFIKASI SOSIAL SEBAGAI SUMBER KONFLIK ANTAR ETNIK DI KALIMANTAN BARAT Al Humaidy, Mohammad Ali
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 12, No 2 (2007): MADUROLOGI 2
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mohammad Ali Al Humaidy (Penulis adalah dosen tetap pada Jurusan Syari’ah  STAIN Pamekasan dan Alumni program Magister Ilmu Sosiologi di Universtias Indonesia Jakarta)       Abstrak: Secara sederhana, tulisan ini akan menganalisa penyebab atau sumber terjadinya konflik antar etnik di Kalimantan Barat, yang terfokus kepada tingkatan stratifikasi sosial. Penulis berasumsi bahwa perbedaan stratifikasi sosial yang kemudian terbentuk sistem pranata sosial (The System of Class Stratifications) mempunyai dampak sosial (konflik antar etnis). Pranata sosial dalam aspek ideologi, agama, ekonomi, politik, bahasa, pendidikan, budaya dan norma-norma sosial lainnya, secara teoritik akan menimbulkan gesekan sosial dan pandangan stereotype etnik yang rentan muncul benih-benih konflik bila dalam realitas sosial menampakkan sifat egois dan fanatisme yang nilai-nilai etnisitas. Benih-benih konflik bersifat laten, apalagi bila ditopang dengan harapan untuk menguasai dan mempertahankan power-privilage-prestige. Disinilah timbul pergolakan sosial antara masyarakat “pribumi” dengan pendatang ataupun sesama etnis. Demikian pula munculnya pertentangan antara kelompok yang ingin menguasai dan mempertahankan power-privilage-prestige dengan kelompok yang ingin merebutnya.Bagi penulis ini sebuah ironi yang perlu kita kaji dan mencari alternatif pemecahan. Ini penting karena menyangkut hak usaha dan hidup manusia yang bagian dari hak asasi manusia, sehingga dengan kejadian konflik etnik di bumi nusantara ini, muncul resolusi konflik sebagai usaha untuk membangun masyarakat pluralis tanpa kekerasan.  Alhasil, sebagai masyarakat akademisi mempunyai amanat untuk memberikan sumbangsih pemikiran agar konflik yang bermuansa SARA dapat dikurangi atau bahkan mungkin ditiadakan. Sebuah tantangan untuk mengkaji teori sosiologi khususnya teori (korelasi) stratifikasi sosial dengan konflik sosial. Kata kunci: stratifikasi sosial, etnik, madura, dayak

Page 1 of 1 | Total Record : 8