cover
Contact Name
persona
Contact Email
jurnalpersona@untag-sby.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalpersona@untag-sby.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Persona: Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : 23015985     EISSN : 26155168     DOI : -
Persona: Jurnal Psikologi Indonesia is a peer-reviewed journal, published by Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Persona Journal was first published in 2012. At first this journal was published three times a year. Starting in 2017 this journal is only published twice a year, in June and December
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 8 No 1 (2019): Juni" : 10 Documents clear
Contingency Contracting Untuk Menurunkan Perilaku Tertidur Di Kelas Pada Anak Sleep Disorder Mahardhika, Nadia Felicia; Pudjiati, Sri Redatin Retno
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 1 (2019): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i1.2393

Abstract

AbstractNormal sleep patterns are very important for academic achievement and life of each child. This study aims to know the effect of Contingency Contracting to reduce sleep behavior in class and improve sleep patterns in children with Circadian-Rhythm Sleep Disorder. The study subjects were A, a boy aged 11 years, with ADHD-PI diagnosed with Circadian-Rhythm Sleep Disorder Delayed Sleep Phase Type. The design of this study uses multiple-baseline-across-behaviors design. Contingency contracting interventions are carried out using prompt techniques, fading, and economic tokens. The recording instrument used is sleep diary and behavior frequency recording sheet. The results of the study show that behavioral modification intervention programs carried out with contingency contracting have been shown to effectively reduce sleep behavor in the classroom in the morning and improve the pattern of nighttime sleep in children with Circadian-Rhythm Sleep Disorder.Keywords: sleep-disorder; circadian-rhythm; behavior modification; contingency contracting; prompt  AbstrakPola tidur yang normal sangatlah penting bagi prestasi akademik dan kehidupan setiap anak. Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh Contingency Contracting untuk menurunkan perilaku tertidur di kelas dan memperbaiki pola waktu tidur pada anak dengan Circadian-Rhythm Sleep Disorder. Subjek penelitian adalah A, anak laki-laki usia 11 tahun, dengan ADHD-PI didiagnosa mengalami Circadian-Rhythm Sleep Disorder Delayed Sleep Phase Type. Desain penelitian ini menggunakan multiple-baseline-across-behaviors design. Intervensi contingency contracting dilakukan menggunakan teknik prompt, fading, dan token ekonomi. Instrumen pencatatan yang digunakan adalah sleep diary dan lembar pencatatan frekuensi perilaku. Hasil dari penelitian menunjukkan program intervensi modifikasi perilaku yang dilakukan dengan contingency contracting terbukti efektif menurunkan perilaku tertidur di kelas pada pagi hari maupun memperbaiki pola waktu tidur malam hari pada anak dengan Circadian-Rhythm Sleep Disorder.Kata Kunci: sleep-disorder; circadian-rhythm; modifikasi perilaku; contingency contracting; prompt
Psychological Well-Being Warga Binaan Lapas Wanita Kelas IIA Sukamiskin Bandung Menjelang Pembebasan Karima, Dhuhita; Siswadi, Ahmad Gimmy Prathama; Abidin, Zainal
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 1 (2019): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i1.2378

Abstract

AbstractA good level psychological well-being is important for inmates’ prerelease to have a good function in their new surroundings and as a predictor of resilience. Women inmates who will be release can have psychologicall distress that have negative consequences to their level of psychological well-being. The aim of this research is to see psychological well-being in inmates’ during their prerelease. This is a descriptive and quantitative research using 42-item Ryff Psychological Well-Being Scale. The respondents were 33 inmates’ during their prerelease time in Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Sukamiskin Bandung (Women Prison in Sukamiskin Bandung) and were taken using accidental sampling in non-random sampling method. The data then were analyzed by using distribution of frequency in the percentations. The level of psychological well-being was divided into three categories: high, middle, and low psychological well-being, and the result of this research shows that most of the inmates’ have moderate level of psychological well-being. High scores were mostly found in positive relation to others dimension and low scores were mostly found in self-acceptance dimension.Keyword: prerelease, psychological well-being, inmates AbstrakPsychological well-being yang baik diperlukan warga binaan menjelang pembebasan agar dapat memaksimalkan potensi untuk beradaptasi di lingkungan masyarakat dan sebagai prediktor tingkat resiliensi. Berdasarkan fenomena yang terjadi, sebagian warga binaan wanita menjelang pembebasan merasakan tekanan psikologis yang berpengaruh negatif terhadap psychological well-being. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat psychological well being warga binaan menjelang masa pembebasan. Metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif menggunakan alat ukur 42-item Ryff Psychological Well-Being Scale. Jumlah sampel 33 warga binaan menjelang bebas di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Sukamiskin Bandung yang dipilih dengan metode non-random sampling melalui teknik accidental sampling. Analisis data berupa persentasi distribusi frekuensi. Hasil penelitian sebagian besar psychological well-being warga binaan menjelang pembebasan dalam kategori sedang. Skor dalam kategori tinggi paling banyak ditemukan pada dimensi hubungan positif dengan orang lain, sedangkan skor dalam kategori rendah paling banyak ditemukan pada dimensi penerimaan diri.Kata kunci: masa kebebasan, psychological well-being, warga binaan pemasyarakatan
Peranan Kecerdasan Emosional Pada Pemilihan Strategi Coping Pada Mahasiswa yang Bekerja Felix, Tommy; Marpaung, Winida; El Akmal, Mukhaira
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 1 (2019): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i1.2377

Abstract

 Abstract             Students who study while working must balance the demands of lectures and jobs at once. Individuals will make various efforts to master unpleasant demands, also known as coping strategies. On the other hand, emotional intelligence can influence the choice of someone's coping strategy, whether it tends to use problem-focused coping or emotion-focused coping. The aims of this study were to prove the relationship between emotional intelligence and coping strategy. The subjects of this study are 105 work-study computer science students of STMIK Mikroskil Medan selected by purposive sampling. Data was collected from scale to measure emotional intelligence and coping strategy. The analysis of data was performed by Pearson Product Moment Correlation with SPSS 19.00 for Windows. Result showed that there was a positive correlation between emotional intelligence and coping strategy. Another result showed that there was a positive correlation between emotional intelligence and problem-focused coping and emotion-focused coping.Keyword: emotional intelligence, coping strategy, problem-focused coping, emotion-focused coping  AbstrakMahasiwa yang kuliah sambil bekerja harus mengimbangi tuntutan perkuliahan dan pekerjaan sekaligus. Individu akan melakukan berbagai usaha untuk menguasai tuntutan yang tidak menyenangkan, atau yang dikenal dengan strategi coping. Pada sisi lain, kecerdasan emosional dapat memengaruhi pemilihan strategi coping seseorang, apakah cenderung menggunakan problem-focused coping atau emotion-focused coping. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dan strategi coping. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa program studi Teknik Informatika STMIK Mikroskil Medan yang kuliah sambil bekerja sebanyak 105 orang yang dipilih dengan metode purposive sampling. Data diperoleh melalui skala untuk mengukur strategi coping dan kecerdasan emosional. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pearson Product Moment Correlation dengan bantuan SPSS 19.00 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara kecerdasan emosional dan strategi coping. Hasil lainnya menunjukkan adanya hubungan positif antara kecerdasan emosional dengan problem-focused coping dan emotion-focused coping.Kata kunci: kecerdasan emosional, strategi coping, problem-focused coping, emotion-focused coping
Metode Behavioral Art Program untuk Meningkatkan Interaksi Sosial Anak dengan ASD Indriastuti, Niken Woro
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 1 (2019): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i1.2364

Abstract

AbstractAim of this study was to examine the effectiveness of Behavioral Art Program that developed by Cou, Lee, and Feng in order to improve interaction social skill children with Autism Spectrum Disorder (ASD) through self-presentation in autism service center. Participants of this study four children with ASD at third level who was selected through purposive sampling technique. Participants was divided in to two group based on their characteristic: children who tend to work in noisy situation and children who tend to work in calm condition. The intervention in this study was carried out 6 times divided into 3 sessions:  baseline, treatment, and non-treatment. The result showed that all participants improved their interaction social skill. Thus improvement was caused by their consistency attending the intervention program, their ability to understand, and the use of five step of presentation cards. Keywords: Behavioral Art Program, autism spectrum disorder, interaction social skill.   AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk melihat keefektivitasan Behavioral Art Program yang dikembangkan oleh Chou, Lee, dan Feng dalam meningkatkan kemampuan interaksi sosial anak dengan Autism Spectrum Disoder (ASD) melalui presentasi diri di Pusat Layanan Autis. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 4 orang yang diperoleh melalui teknik purposive sampling pada anak-anak ASD yang berada di level 3. Keempat anak dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar berdasarkan karakteristik anak, yakni anak yang bekerja dalam suasana ramai dan anak yang bekerja dalam suasana tenang. Intervensi dalam penelitian ini dilakukan sebanyak 6 kali yang terbagi menjadi 3 hal, yakni baseline, treatmen, dan non-treatmen. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa untuk keempat anak program ini mampu meningkatkan kemampuan interaksi sosial mereka. Hal ini dikarenakan setiap anak secara konsisten mengikuti sesi intervensi, pemahaman anak, dan penggunaan lima kartu sebagai langkah presentasi diri.Kata kunci: Behavioral Art Program, autism spectrum disorder, interaksi sosial.  
Persepsi Siswa Terhadap Instruksi Guru yang Mengembangkan Strategi Belajar Regulasi Diri Dwintasari, Yulinda; Kurniawati, Farida
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 1 (2019): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i1.2280

Abstract

Abstract Many studies highlighted the importance of self-regulation on academic achievement. Otherwise, not all students have the opportunity to develop their self-regulation optimally. As a result, knowing their perception of how the classroom instruction supports their self-regulation is essential. Search for qualitative studies on database electronic (Proquest, Sciencedirect, and Scopus) done. Selected studies were analyzed into the main findings. Discussion about how participant in the study perceive instruction based on the approach of Reigeluth and Carr Chelmann (2009) supported the use of self-regulation strategies. Seven studies were identified to be included. A study had middle school students as participants, while six other studies had college students. From those two levels of education, instructions that facilitated the use of self-regulation strategies are instruction problem, simulation, and discussion approach. Students perceived those approach as instructions that supported self-regulation because they had collaborative learning. Furthermore, students perceived by using technology and computer-based learning, they are helped to show their performance and easier to get feedback from friends and facilitators which facilitated the use of self-regulation strategies.Keywords: self-regulation, classroom instruction, students’ perception, qualitative studiesAbstrakBanyak studi telah menggarisbawahi pentingnya hubungan antara regulasi diri dan prestasi akademik. Namun demikian, tidak semua siswa dapat mengembangkan regulasi dirinya secara optimal. Oleh karena itu, perlu diketahui persepsi siswa akan instruksi kelas yang mendukung adanya regulasi diri. Pencarian studi kualitatif pada database elektronik (Proquest, Sciencedirect, dan Scopus) dilakukan. Studi terpilih dianalisis lebih dalam untuk dimasukan ke dalam hasil utama. Pembahasan diutamakan bagaimana partisipan dalam studi mempersepsikan instruksi berdasarkan pendekatan menurut Reigeluth dan Carr-Chelmann (2009) untuk mengedepankan penggunaan strategi regulasi diri. Terdapat tujuh studi yang membahas tentang persepsi siswa akan instruksi yang mendukung strategi regulasi diri. Satu diantaranya memiliki partisipan siswa SMP sementara enam lainnya merupakan mahasiswa. Dari kedua jenjang tersebut, instruksi yang dirasakan siswa dapat mempengaruhi penggunaan strategi regulasi diri adalah instruksi berdasarkan pendekatan masalah, simulasi, dan diskusi. Pada ketiga instruksi tersebut, siswa merasa terfasilitasi penggunaan strategi regulasi dirinya karena adanya pembelajaran yang kolaboratif. Selain itu, dalam mengembangkan regulasi diri, siswa merasa konteks pembelajaran berbasis teknologi dan komputer, dapat membantu mereka menunjukkan kemampuan dan mendapatkan umpan balik dari teman maupun fasilitator, yang mana hal tersebut penting untuk regulasi dirinya. Kata Kunci: regulasi diri, instruksi kelas, persepsi siswa, studi kualitatif
Studi Awal Atribusi dan Emosi Malu pada Remaja: Analisis Survey Kualitatif Budiarto, Yohanes
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 1 (2019): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i1.2105

Abstract

Abstract Shame is one of the functions of behavioral control in individuals. Since childhood, a child has been introduced to social norms and morality and the consequences of his violations. However, the consequences of violating norms and morals show two different results, namely: shame and guilt. Research on shame in the individualistic culture places more emphasis on the aspect of self-awareness, while the interdependent collective culture places more emphasis on the public aspect. This study used a qualitative survey approach involving 54 junior high school students (male=35; female=19), (M = 19.22, SD = 3.45)  in Banyumas District, Central Java. By using thematic analysis in qualitative survey method, the findings showed that the route of embarrassed emotional attribution subjects confirmed the internal and external attribution routes. The internal attribution route is characterized by the process of feeling guilty of an embarrassing event while the external route is characterized by a publicly known aspect. Keywords: shame, guilt, attribution  AbstrakRasa malu adalah salah satu fungsi kontrol perilaku pada individu. Sejak kecil, seorang anak telah diperkenalkan dengan norma-norma sosial dan moralitas dan konsekuensi dari pelanggarannya. Namun, konsekuensi dari pelanggaran norma dan moral menunjukkan dua hasil yang berbeda, yaitu: rasa malu dan rasa bersalah. Penelitian tentang rasa malu dalam budaya individualistis lebih menekankan pada aspek kesadaran diri, sedangkan budaya kolektif yang saling bergantung lebih menekankan pada aspek publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan survei kualitatif yang melibatkan 54 siswa SMP X (laki-laki=35; perempuan=19), (M = 19.22, SD = 3.45) di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Dengan menggunakan analisis tematik dalam metode survei kualitatif, temuan menunjukkan bahwa rute subjek atribusi emosional yang malu mengkonfirmasi rute atribusi internal dan eksternal. Rute atribusi internal ditandai mayoritas oleh proses pelanggaran etika dan sebagian kecil oleh perasaan bersalah atas peristiwa yang memalukan, sedangkan rute eksternal ditandai dengan aspek yang diketahui secara publik. Kata kunci: rasa malu, rasa bersalah, atribusi
Guided Imagery untuk Menurunkan Social Appearance Anxiety pada Wanita Dewasa Awal Obesitas Dharmariana, June Rodhian; Hamidah, Hamidah
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 1 (2019): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i1.2462

Abstract

Abstract Early adulthood is a period when individu face and should to be able to adjust changes, patterns of life and new hopes. Individu also have developmental tasks that must be completed and determine life in the period of further development. However, some early adult women have reported obesity which has an impact on social appearance anxiety. One form of therapy that can be used to reduce anxiety is guided imagery. This research is an experimental study with a single-group pretest / posttest design. The research subjects were 4 people who were determined through purposive sampling technique. Data collection was carried out using the social appearance anxiety scale compiled by Hart et al. (2008). This study used the non-parametric data analysis technique Wilcoxon signed-rank test. The analysis shows that guided imagery is not effective in reducing social appearance anxiety in early adult women who are significantly obese. Keywords: Guided Imagery, Social Appearance Anxiety, Early Adult Woman, Obesity. Abstrak Dewasa awal merupakan masa individu menghadapi dan dituntut mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan, pola kehidupan dan harapan baru. Individu juga memiliki tugas perkembangan yang harus diselesaikan dan menentukan kehidupan di masa perkembangan selanjutnya. Namun demikian beberapa wanita dewasa awal dilaporkan mengalami obesitas yang berdampak pada kecemasan berpenampilan sosial atau social appearance anxiety. Salah satu bentuk terapi yang dapat digunakan untuk menurunkan kecemasan adalah guided imagery. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain single-group pretest/posttest design. Subjek penelitian berjumlah 4 orang yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala social appearance anxiety yang disusun oleh Hart, dkk. (2008). Penelitian ini menggunakan teknik analisis data non-parametrik wilcoxon signed-rank test. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian guided imagery tidak efektif menurunkan social appearance anxiety pada wanita dewasa awal yang mengalami obesitas secara signifikan. Kata Kunci: Guided Imagery, Social Appearance Anxiety, Wanita Dewasa Awal, Obesitas.
Kecerdasan Spiritual dan Kebahagiaan Pada Narapidana Wanita Condinata, Frida; Elvinawanty, Rianda; Marpaung, Winida
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 1 (2019): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i1.1968

Abstract

Abstract                Happy life is everyone's hope, but happiness is influenced by many factors. This study aims to determine the relationship between spiritual intelligence and happiness. The subjects of this study were female inmates at the Class IIA Medan Women's Penitentiary of 186 people. The research data was obtained using a scale of spiritual intelligence and happiness. The data analysis used is Product Moment correlation through SPSS 18 for Windows. The results of data analysis showed a correlation coefficient of 0.664 and a significance value of 0.000 (p <0.05). This shows there is a positive relationship between spiritual intelligence and happiness. The results of this study indicate that the contribution given by the variable spiritual intelligence to happiness is 44.1 percent, the rest 55.9 percent is influenced by other factors not examined. It can be concluded that spiritual intelligence has a big influence on the happiness of female prisoners.Keywords: Happiness, Spiritual Intelligence  Abstrak                 Hidup bahagia adalah harapan semua orang, namun demikian kebahagiaan dipengaruhi oleh banyak faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan spiritual dengan kebahagiaan. Subjek penelitian ini adalah narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan sebanyak 186 orang. Data penelitian diperoleh menggunakan skala kecerdasan spiritual dan kebahagiaan. Analisis data yang digunakan adalah korelasi Product Moment melalui bantuan SPSS 18 for Windows. Hasil analisis data menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,664 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Ini menunjukkan ada hubungan positif antara kecerdasan spiritual dengan kebahagiaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sumbangan yang diberikan variabel kecerdasan spiritual terhadap kebahagiaan sebesar 44,1 persen, selebihnya 55,9 persen dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. Dapat disimpulkan kecerdasan spiritual memiliki pengaruh yang besar terhadap kebahagiaan narapidana wanita.Kata kunci: Kebahagiaan, Kecerdasan Spiritual
Efektivitas Stress Inoculation Training Untuk Menurunkan Stres Pada ODAPUS Ardelia, Natasha; Hartini, Nurul
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 1 (2019): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i1.2471

Abstract

AbstractLupus is a systemic chronic inflammatory disease that attacks connective tissue and characterized by changes in immunological responses. Lupus is experienced by women in early adulthood. These developmental tasks in early adulthood are not an easy thing to live for an Odapus woman, so they often cause stress. This study aims to determine the effectiveness of Stress Inoculation Training to reduce stress in Odapus. This study uses a single group pretest posttest design. Measurements were made twice, namely before (pretest) and after (posttest) with 4 rearch subjects who had expressed their willingness through informed consent. Data collection was carried out using a Perceived Stress Scale (PSS) with reliability 0.78. Data analyzed by Wilcoxon Signed Rank Test. The results of data analysis show that Asymp. Sig (2-tailed) is 0.066 (≥0.05) which means that there is no significant difference between the pretest and posttest scores, however the intervention of Stress Inoculation Training (SIT) has a significant effect on reducing anxiety (r = 0.64).Keywords: Stress Inoculation Training (SIT); Stress; Odapus. AbstrakLupus merupakan penyakit inflamasi kronik sistemik yang menyerang jaringan ikat dan ditandai dengan adanya perubahan respon imunologi. Lupus banyak dialami oleh wanita pada masa dewasa awal. Tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa awal ini bukanlah hal yang mudah untuk dijalani bagi seorang wanita Odapus, sehingga seringkali menyebabkan stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Stress Inoculation Training untuk menurunkan stres pada Odapus. Penelitian ini menggunakan desain single group pretest posttest design. Pengukuran dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) dengan subjek penelitian sebanyak 4 orang yang telah menyatakan kesediaannya melalui informed consent. Pengumpulan data dilakukan menggunakan alat ukur Perceived Stress Scale (PSS) dengan reliabilitas sebesar 0,78. Analisis data yang digunakan adalah Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil analisis data menunjukkan bahwa Asymp. Sig (2-tailed) adalah sebesar 0,066 (≥0,05) yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest, namun demikian intervensi Stress Inoculation Training (SIT) terbukti memiliki efek yang besar terhadap penurunan kecemasan (r=0.64).Kata Kunci: Stress Inoculation Training; Stres; Odapus; Lupus
Acceptance and Commitment Therapy Untuk Meningkatkan Acceptance of Illness Pasien Positif HIV Dewantoro, Dhanang; Kurniawan, Afif
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 1 (2019): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i1.2458

Abstract

 AbstractThe problem that arise in female patients who diagnosed with positive HIV is their adjustment in physical dan psychological health condition, also stigma from the environment. Acceptance of illness has a significant influence on change in the psychological condition of patient, including being used to the limitations and dependence on other people due to their illness. This study aims to see the effectiveness of Acceptance and Commitment Therapy (ACT) to increase acceptance of illness. This study used the one group pretest-posttest design involved three respondents who had signed an informed consent. Instrument of this study used Acceptance of Disease and Impairments Questionnaire (ADIQ) developed by Boer et al. (2014). Data obtained were analyzed using the non-parametric Wilcoxon statistical test. The results showed that the intervention using Acceptance and Commitment Therapy (ACT) therapy was not significant for increasing acceptance of illness in female patients diagnosed with HIV (p = 0.109). Even so there was an increase in acceptance of illness scores of female patients with Positive HIV.Keywords: Acceptance and Commitment Therapy (ACT), acceptance of illness, and female diagnosed with positive HIVAbstrakPermasalahan yang muncul pada pasien perempuan dengan diagnosis positif HIV adalah penyesuaian terhadap kondisi kesehatan fisik dan psikologis pribadi serta stigma dari lingkungan. Penerimaan terhadap penyakit (acceptance of illness) mempunyai pengaruh besar terhadap kondisi psikologis pasien, termasuk menjadi terbiasa dengan keterbatasan dan ketergantungan pada orang lain karena penyakit yang dimiliki.  Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas Acceptance and Commitment Therapy (ACT) untuk meningkatkan acceptance of illness. Penelitian ini menggunakan desain the one group pretest-posttest design untuk tiga subjek yang telah menandatangani informed consent. Pengumpulan data  penelitian menggunakan alat ukur Acceptance of Disease and Impairments Questionnaire (ADIQ) yang dikembangkan Boer dkk. (2014). Data penelitian dianalisis menggunakan uji statistik non-parametric Wilcoxon. Hasil analisis data statistik menunjukan bahwa intervensi menggunakan terapi Acceptance and Commitment Therapy (ACT) tidak signifikan untuk meningkatkan acceptance of illness pada pasien perempuan yang didiagnosis positif HIV (p=0.109). Meski demikian terjadi peningkatan skor acceptance of illness pasien perempuan dengan HIV Positif.Kata Kunci:Acceptance and Commitment Therapy (ACT), acceptance of illness dan Perempuan dengan diagnosis positif HIV

Page 1 of 1 | Total Record : 10