cover
Contact Name
M. Agus Burhan
Contact Email
urbansocietysart@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
urbansocietysart@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Urban Society´s Arts
ISSN : 23552131     EISSN : 2355214X     DOI : -
Journal of Urban Society's Art ( Junal Seni masyarakat Urban) memuat hasil-hasil penelitian dan penciptaan seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat perkotaan yang memiliki struktur dan kultur yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Seni masyarakat urban merupakan manifestasi seni yang dihadirkan melalui media-media seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media rekam yang erat dengan problematika kehidupan yang terjadi dalam keseharian masyarakat, serta bisa menjadi simbol yang menarik dan menjadi elemenpenting yang menjadi ciri khas dari (1) pusat kota, (2) kawasan pinggiran kota, (3) kawasan permukiman, (4) sepanjang jalur yang menghubungkan antar lingkungan, (5) elemen yang membatasi dua kawasan yang berbeda, seperti jalan, sungai, jalan tol, dan gunung, (6) kawasan simpul atau strategis tempat bertemunya berbabgai aktivitas, seperti stasiun, jembatan, pasar, taman, dan ruang publik lain.
Arjuna Subject : -
Articles 171 Documents
Social-Engaged Art in Indonesia: Many in One, Nurturing Diversity & Inclusion Ika Yuliana; Dominique Lämmli
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 2 (2022): October 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i2.8106

Abstract

This research describes three socially engaged art practices of three collectives, Gubuak Kopi (Solok, West Sumatera), Festival Film Bahari (Cirebon, West Java) and Forum Sudut Pandang (Palu, Central Sulawesi), which were located in rural-urban area in Indonesia. The practices of these collectives that are established after 2010 were then read along the concept of Bhinneka Tunggal Ika. This research method is guided by the question: How did “many, but one” emerge in the practice of social arts and who benefits from it? The narratives were built by centralizing the perspectives of art practitioners on their motivations and aims, instead of analyzing certain case studies. The method of this paper is interview and desk review. Based on the research observations, the researchers  try to provide a perspective on how cultural promotion programs have an impact on community movements outside the big cities. Seni Berpenampilan Sosial di Indonesia: Ragam dalam Satu, Memelihara Kebhinekaan & Inklusi. Penelitian ini mendeskripsikan tiga praktik seni yang terlibat secara sosial dari tiga kolektif yakni Gubuak Kopi (Solok, Sumatera Barat), Festival Film Bahari (Cirebon, Jawa Barat) and Forum Sudut Pandang (Palu, Sulawesi Tengah) yang berada di daerah rural-urban di Indonesia. Tiga praktik dari kolektif yang muncul setelah 2010 ini kemudian dibaca dalam kaitannya dengan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Penelitian ini dipandu dengan pertanyaan: bagaimana “banyak namun satu” muncul dalam praktik seni yang terlibat secara sosial di Indonesia, dan siapa yang diuntungkan oleh praktik ini? Narasi dibangun dengan memusatkan perhatian pada perspektif praktisi seni atas motivasi dan tujuan berkaryanya, alih-alih menganalisis studi kasus tertentu. Metode penelitian yang diterapkan adalah wawancara dan studi pustaka. Berdasarkan hasil observasi, peneliti menawarkan pandangan akan bagaimana program pemajuan kebudayaan memberikan pengaruh pada pergerakan komunitas di luar kota-kota besar.
Adaptation of Pramoedya Ananta Toer's Novel Arok Dedes into Concept Art Baskoro Suryo Banindro; Asnar . Zacky; Rikhana Widya Ardilla
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 2 (2022): October 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i2.8362

Abstract

This research aims to obtain the creation of exploration resulting from the adaptation of the narrative text to the visual book novel Arok Dedes. The method used in this research is applied research, which is to apply basic research for practical purposes, in this case, the design of concept art. Data is collected and compiled by studying libraries related to concept art from textbooks and virtual libraries. The result of this study is that the adaptation of text narrative to visual in concept art requires a comprehensive exploration of starting to develop the concept of space transfer, visual reference, character study, and good mood board. Through the results of this study, it is expected that the exploration of the concept of designing text adaptation to visual concept art can be studied and used as a guide for illustrators who are interested in becoming concept artists, game artists, and character art visualizers. Adaptasi Novel Arok Dedes Karya Pramoedya Ananta Toer dalam Concept Art. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsep penciptaan eksplorasi hasil adaptasi narasi teks ke visual novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian terapan, yakni mengaplikasikan penelitian dasar untuk keperluan praktis dalam hal ini perancangan seni konsep (concept art). Data dikumpulkan dan dikompilasi melalui studi pustaka terkait seni konsep baik dari buku maupun pustaka digital. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa adaptasi narasi teks ke visual dalam seni konsep memerlukan eksplorasi yang komprehensif mulai dari menyusun konsep alih wahana, referensi visual, studi karakter dan mood board yang tepat. Melalui hasil penelitian ini diharapkan eksplorasi konsep perancangan adaptasi teks ke visual seni konsepdapat dipelajari dan digunakan sebagai panduan bagi ilustrator yang tertarik untuk menjadi seniman konsep, seniman gim (game artist) dan pengrajin karakter visual (visualizer art character).
Adaptation and Representation of Narcissistic Desires of Calon Arang's Text in Bali Koes Yuliadi
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 2 (2022): October 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i2.6486

Abstract

Rangda and Barong appear a lot in performing art, paintings, and tattoos in Bali.  The sacred rituals involving the two creatures always attract attention—likewise forms of performances and crafts for tourists.  Historically the existence of Rangda and Barong started from the text of Calon Arang, which initially came from the island of Java in Indonesia.  This fact shows how the Balinese people attach themselves to myths and then develop them in creative works.  The relationship between the narrative text and visualization will be the material to see what desires are behind their consciousness and unconsciousness in understanding the Calon Arang.  There is an antagonistic offer on the characterizations and the creative process that perceives Calon Arang's story. The process of studying the object uses a qualitative method. In a time, observe and be directly involved in the Rangda and Barong ceremonies, see these figures' performances, visit markets and art galleries, and interview Balinese artists and cultural figures.  This process concludes that the continuous adaptation process based on the Calon Arang text involves the spiritual and creative power of the Balinese people as part of their narcissistic and analytic desires. Rangda and Barong always provide new phenomena in creative works with antagonistic ideas. Analyzing this data is very important to understand the concepts created, outcomes, and the spirituality of the interwoven in the development of Balinese art. Adaptasi dan Representasi Hasrat Narsis Teks Calon Arang di Bali. Rangda dan Barong merupakan figur yang sering terlihat pada pertunjukan seni, lukisan, dan tato di Bali. Agenda ritual sakral yang melibatkan keduanya selalu menarik perhatian. Demikian juga ketika ia muncul dalam bentuk pertunjukan dan kerajinan untuk wisatawan. Secara historis keberadaan Rangda dan Barong tidak bisa dilepaskan dari teks Calon Arang yang pada walnya berasal dari Pulau Jawa di Indonesia. Kenyaaan ini menunjukkan bagaimana keterikatan masyarakat Bali dengan mitos dan kemudian mengembangkannya dalam karya kreatif. Relasi teks naratif dan visualisasnya akan menjadi bahan untuk melihat hasrat apa yang ada di balik kesadaran dan ketidaksadaran mereka dalam menghayati Calon Arang. Terlihat adanya tawaran antagonistik pada penokohan dan proses kretif yang merpersepsi cerita Calon Arang. Proses pengkajian objek di atas menggunakan metode kualitatif.  Selain mengamati dan terlibat langsung dalam upacara Rangda dan Barong, melihat pertunjukan yang melibatkan figur tersebut, mengunjungi pasar dan galeri seni, juga wawancara dengan beberapa seniman dan budayawan Bali. Proses ini memberikan simpulan bahwa proses adaptasi yang berkenajutan berdasar teks Calon Arang melibatkan daya spiritual dan kreatif masyarakat Bali sebagai bagian dari hasrat narsistik dan anaklitik. Rangda dan Barong selalu memberikan fenomena baru dalam karya kreatif dengan berbagai gagasan yang antagonistik. Menganalisis data ini sangat menarik untuk memahami gagasan penciptaan, keberlanjutan karya, dan jalinan spiritualitas dalam perkembangan seni Bali hingga saat ini.
Vertical Video Trends Among Amateur Digital Platform Users as an Alternative for Film Production Retno Mustikawati; Ghalif Putra Sadewa; Muhammad Alvin Fadholi
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 2 (2022): October 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i2.7949

Abstract

The Vertical Video Syndrome expression adequately represents the spread of the production process and projection of amateur digital content in vertical format. For smartphone users, the vertical is the king. All components of digital life make users subconsciously hold their phones vertically on various occasions. Penetration after penetration is carried out, from flexibility and artificial intelligence, to private viewing rooms that move dynamically. As a new starting point in quite an extended period, the vertical video gives birth to a glimmer of hope in a film atmosphere that seems exclusive and rigid. However, problems have arisen as user demands have increased and smartphones have become sociocultural necessity over the last decade. With a vertical screen, people are used to spending time watching video shows, including recording all their activities. Because of that, there is a big challenge for filmmakers to see the opportunities that exist. The vertical format creates a narrow, elongated reading space. The camera movement, which used to use action from left to right, now switches from top to bottom. Subjects in vertical formats are also forced to submit to limited reading space. In conventional films, close-ups can isolate the field of view while at the same time emphasizing facial expressions. But not vertically because it will bring out a different density; what arises is not a close-up but a big close-up and even an extreme close-up. As a result, this gives motivation and a different meaning visually. It would be a lie if this didn't fall into the challenges to be solved. The field of view gets more complicated. The vertical concept encourages creators to get out of the conventional mindset. Likewise, with the actors involved, the vertical format provides a more challenging exploration of expressions and gestures. This research uses qualitative methods in collecting data and utilizes a lot of current literature. The research results are in the form of knowledge and recommendations regarding the packaging and distribution of film production in a vertical format. Tren Video Vertikal di Antara Pengguna Platform Digital Amatir sebagai Alternatif Produksi Film. Sindrom Video Vertikal, ungkapan itu cukup mewakili merebaknya proses produksi dan proyeksi konten digital amatir berformat vertikal. Bagi pengguna smartphone, vertikal adalah raja. Seluruh komponen kehidupan digital membuat pengguna secara alam bawah sadar memegang telepon secara vertikal dalam beragam kesempatan. Penetrasi demi penetrasi dilakukan, fleksibilitas, kecerdasan buatan, hingga ruang tonton privasi yang bergerak dinamis. Sebagai titik pijak baru dalam kurun waktu yang cukup panjang, video vertikal melahirkan secercah harapan dalam suasana perfilman yang terkesan eksklusif dan kaku. Namun, persoalan pun muncul, di kala tuntunan pengguna semakin tinggi dan smartphone menjadi kebutuhan sosiokultural sejak satu dekade terakhir. Dengan layar vertikal, orang terbiasa menghabiskan waktu untuk menonton tayangan video termasuk merekam segala aktivitasnya. Karena itulah, muncul tantangan besar bagi pembuat film guna melihat peluang yang ada. Format vertikal mencipta ruang baca yang menyempit memanjang. Memindahkan pergerakan kamera yang terbiasa memanfaatkan pergerakan dari kiri ke kanan, kini beralih dari atas ke bawah. Subjek pada format vertikalpun dipaksa untuk tunduk pada ruang baca yang terbatas. Pada film konvensional, close-up sudah mampu mengisolasi ruang pandang sekaligus mempertegas ekspresi wajah. Namun tidak pada vertikal karena akan memunculkan kepadatan yang berbeda, yang timbul bukan close-up melainkan big close-up bahkan extreme close-up. Alhasil ini memberi motivasi dan makna yang berbeda secara visual. Suatu kebohongan jika ini tidak masuk dalam kategori tantangan yang harus dipecahkan. Ruang pandang menjadi sedikit lebih rumit. Konsep vertikal benar-benar mendorong kreator untuk keluar dari pola pikir konvensional. Begitu pula dengan aktor yang terlibat, format vertikal memberikan tantangan eksplorasi yang lebih pada ekspresi dan gerak tubuh. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dalam mengumpulkan data dan memanfaatkan banyak literatur saat ini. Hasil penelitian berupa pengetahuan dan rekomendasi tentang pengemasan dan distribusi produksi film dalam format vertikal.
The Human Soul as a Symbolic Message in Contemporary Arts in Malaysia: A Study of Daud Rahim’s Works Issarezal Ismail; Ishak Ramli; Mohd Daud Abdul Rahim; Erry Arham Azmi
Journal of Urban Society's Arts Vol 10, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v10i1.9493

Abstract

The objectives of this study are to describe the structure of the message and to interpret the meaning of the use of symbols which are the core of a message in the context of the soul through Daud Rahim’s series of paintings entitled “Jiwa” (2013). This study was carried out to approach, understand, and at the same time explain the human soul as a symbolic message in contemporary art in Malaysia concerning aspects of the structure, content, and function of messages from a number of works produced by Daud Rahim. An art study methodology that focuses on an in-depth and comprehensive explanatory system has been used based on an analysis model that has been developed from a relevant conceptual framework which is Human Spirit as a Symbolic Message in Fine Art. The results of the analysis show that the signs and symbols of Daud Rahim’s works want to express the symbolic message of a human phenomenon involving modern humans who are unable to control their passions, so they become egocentric figures who are obsessed and greedy with the material world so that it is difficult to activate feelings of love and affection. affection and slowly erodes the social relations around him. In conclusion, visual artwork is a nonverbal communication tool or media created by artists to convey messages to others regarding issues or problems of humanity, society, and culture, which are repackaged through the use of certain signs and symbols. Jiwa Manusia sebagai Pesan Simbolik dalam Seni Rupa Kontemporer di Malaysia: Kajian terhadap Karya-karya Daud Rahim. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur pesan dan memaknai penggunaan simbol-simbol yang menjadi inti pesan dalam konteks jiwa melalui lukisan seri Daud Rahim berjudul “Jiwa” (2013). Penelitian ini dilaksanakan untuk mendekati, memahami, dan sekaligus menjelaskan jiwa manusia sebagai pesan simbolik dalam seni rupa kontemporer di Malaysia menyangkut aspek-aspek struktur, isi, dan fungsi pesan dari sejumlah karya yang dihasilkan oleh Daud Rahim. Metodologi kajian seni memfokuskan pada sistem penjelasan yang bersifat mendalam dan menyeluruh telah digunakan berdasarkan pada model analisis yang telah dibangun dari konsep-konsep yang relevan yaitu kerangka konseptual spiritual manusia sebagai pesan simbolik dalam seni rupa. Hasil analisis menunjukkan bahwa tanda dan simbol dari karya-karya Daud Rahim mengungkapkan pesan simbolik dari sebuah fenomena kemanusiaan yang melibatkan manusia modern yang tidak mampu mengawal hawa nafsu sehingga menjadi sosok-sosok egosentris yang obsesif dan rakus dengan dunia material sehingga sulit mengaktifkan perasaan kasih dan sayang sehingga secara perlahan-lahan mengikis hubungan sosial di sekelilingnya. Kesimpulannya, karya seni visual ialah alat atau media komunikasi non-lisan yang diciptakan oleh seniman untuk menyampaikan pesan kepada orang lain mengenai isu atau masalah kemanusiaan, masyarakat, dan budaya yang dibentuk semula melalui penggunaan tanda dan simbol tertentu.  
The Meaning of Gendhing Kodhok Ngorek in the Panggih Procession of a Traditional Javanese Wedding Ceremony Suyoto Suyoto; Aris Setiawan
Journal of Urban Society's Arts Vol 10, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v10i1.8472

Abstract

This article aims to understand the meaning of Gending Kodok Ngorek, as the music that accompanies wedding rituals (Panggih) in Java. The data were collected through observation, a literature review, and interviews. The problem was addressed using Clifford Geertz’s cultural interpretive concept, which argues that cultural facts exist in the mind (as knowledge), are manifested in models, and determine behaviour and action in life, and Yasraf Amir Pilliang’s semiotics of culture, which describes how meaning is formed through media and signs. The research concludes that the panggih ceremony, a procession in which the bride and bridegroom come together, can be interpreted philosophically, socially, and symbolically. Based on the musical pitches used, philosophically understood as a marker of a husband and wife who are making love. Its masculine character is manifested in the panunggul alit pitch (1), which symbolizes a male frog, while its feminine character is manifested in pitch nem (6), which symbolizes a female frog. Etymologically, Kodhok Ngorek means singing frog, of course in the water. Water is understood as a symbol of fertility, as a sign of the hope that the husband and wife will soon be blessed with offspring. Makna Gendhing Kodhok Ngorek Dalam Prosesi Panggih Upacara Pernikahan Adat Jawa. Artikel ini bertujuan untuk memahami Gending Kodok Ngorek sebagai musik pengiring upacara pernikahan (Panggih) di Jawa. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, studi literatur, dan wawancara. Masalah tersebut dianalisis dengan menggunakan konsep interpretasi budaya Clifford Geertz, yang berpendapat bahwa fakta budaya ada dalam pikiran (sebagai pengetahuan), diwujudkan dalam model, dan menentukan perilaku dan tindakan dalam kehidupan, dan semiotika budaya Yasraf Amir Pilliang, yang menggambarkan bagaimana makna dibentuk melalui media dan tanda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upacara panggih, sebuah prosesi di mana kedua mempelai bertemu, dapat dimaknai secara filosofis, sosial, dan simbolis. Berdasarkan nada musik yang digunakan, secara filosofis dipahami sebagai penanda kedua sejoli yang sedang bercinta. Sifat maskulinnya diwujudkan dalam nada panunggul alit (1) yang melambangkan katak jantan, sedangkan sifat femininnya diwujudkan dalam nada nem (6) yang melambangkan katak betina. Secara etimologi Kodhok Ngorèk berarti katak bernyanyi, sudah barang tentu di dalam air. Air dipahami sebagai simbol kesuburan, sebagai penanda harapan agar pasangan sejoli segera dikaruniai keturunan.
Legal Protection of the Exclusive Rights of Painting Works Lindawati Putri Widharta; Elvira Fitriyani Pakpahan; Tommy Leonard; Teguh Prasetyo
Journal of Urban Society's Arts Vol 10, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v10i1.8058

Abstract

The purpose of this study is to examine how artists’ exclusive rights are protected by law. The empirical legal method was used for the research. The study found that if a law or regulation regulates the protection of a creation’s exclusive rights, it is certain that there will also be legal remedies for violations of the problem of using other people’s creations without permission. These legal remedies can be taken in either litigation or non-litigation. If the effort is made through litigation, namely by filing a lawsuit to the commercial court or can be prosecuted criminally, this is already included in the Copyright Law, or by a resolving. In light of the conversation above with respect to legitimate security of the select privileges of makers of compositions, the public authority ought to have the option to make sense of additional explicitly in the items in the Intellectual property Regulation in regards to canvases that poor person has been made sense of top to bottom, and there ought to be more effort to the public so that individuals are all the more endlessly figure out the presence of lawful security for work or creation. Perlindungan Hukum Hak Eksklusif Karya Lukis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana hak eksklusif seniman dilindungi oleh hukum. Metode hukum empiris digunakan untuk penelitian ini. Kajian ini menemukan bahwa jika suatu peraturan perundang-undangan mengatur tentang perlindungan terhadap hak eksklusif suatu ciptaan, maka dapat dipastikan juga akan ada upaya hukum atas pelanggaran terhadap masalah penggunaan ciptaan orang lain tanpa izin. Upaya hukum ini dapat ditempuh baik secara litigasi maupun non litigasi. Apabila upaya tersebut dilakukan melalui litigasi, yaitu dengan mengajukan gugatan ke pengadilan niaga atau dapat dituntut secara pidana, hal tersebut sudah termasuk dalam Undang-Undang Hak Cipta, atau dengan cara penyelesaian. Sehubungan dengan percakapan di atas sehubungan dengan keamanan yang sah dari hak pilih pembuat komposisi, otoritas publik harus memiliki pilihan untuk menjelaskan secara lebih eksplisit dalam item dalam Peraturan Kekayaan Intelektual tentang kanvas yang dibuat oleh orang miskin. dimaklumi dari atas ke bawah, dan harus ada upaya yang lebih kepada masyarakat agar setiap individu semakin mengetahui adanya jaminan hukum atas suatu karya atau ciptaan. 
Black Struggles in I Can’t Breathe by H.E.R.: A Multimodal Discourse Analysis Zahara Almira Ramadhan; Marti Fauziah Ariastuti
Journal of Urban Society's Arts Vol 10, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v10i1.8694

Abstract

The death of George Floyd’s in May 2020 has raised the popularity of the phrase “I can’t breathe” as a statement against racism. This phrase inspired musician H.E.R., to write a song called I Can’t Breathe, which raises the issue of not only police brutality but also racism against black people in general. The objective of this study is to analyze the ideological structures and visual components in the song and examine how these aspects contribute to the Black Lives Matter movement. The lyrics and music video will be analyzed using multimodal discourse analysis. The findings of the lyrics and video analysis indicate that white superiority and violence towards black people are the root cause of the continuing protests against black racism. By using multimodal discourse analysis, this study establishes a strong connection between I Can’t Breathe and Black Lives Matter. The song serves as a protest aligning with the Black Lives Matter movement. The context behind the racial issues and the values of the movement in tackling the issues are conveyed clearly through the ideological structures and visual components of the song. Perjuangan Kulit Hitam dalam Lagu I Can’t Breathe karya H.E.R.: Analisis Wacana Multimodal. Kematian George Floyd pada bulan Mei 2020 menimbulkan popularitas atas frasa “I can’t breathe” sebagai pertentangan rasisme. Frasa ini menginspirasi H.E.R., seorang musisi, untuk menulis lagu berjudul I Can’t Breathe, yang tidak  hanya berbicara tentang isu kekerasan polisi, tetapi juga rasisme terhadap kulit hitam secara keseluruhan. Tujuan dari penilitian ini adalah untuk menganalisis struktur ideologi dan komponen visual dalam lagu tersebut, dan mengamati apakah gerakan Black Lives Matter didukung oleh aspek-aspek tersebut. Lirik dan video klip lagu  ini akan dianalisis menggunakan analisis wacana multimodal. Berdasarkan analisis lirik dan video, ditemukan adanya indikasi bahwa dominasi dan kekerasan yang dilakukan orang kulit putih terhadap kulit hitam adalah masalah utama dari protes sosial yang ada. Dengan menggunakan analisis wacana multimodal, penelitian ini mendefinisikan hubungan yang kuat antara lagu I Can’t Breathe dengan gerakan Black Lives Matter. Lagu ini berperan sebagai sebuah protes yang mendukung Black Lives Matter. Konteks dari isu rasisme dan juga nilai-nilai sosial dari gerakan Black Lives Matter disampaikan dengan jelas melalui struktur ideologi dan komponen visual lagu tersebut.
Semiotics of “Top Gun: Maverick” Film as an Inspiration for Indonesia to Rise up from the Covid-19 Pandemic Ririt Yuniar; Diah Fitria Ningrum; Imania Rahmah; Ainun N. S. I. P. Sy Saad
Journal of Urban Society's Arts Vol 10, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v10i1.9070

Abstract

Leadership, integrity, and dedication can be a foundation in teamwork. Even integrity is very much needed to achieve a bigger vision and mission to defeat a common enemy. It takes a corps spirit or a sharing the same fate so that the chemistry in a work team becomes more solid. Semiotic analysis of the film Top Gun: Maverick can be appointed as a communicative art study to convey filmmakers’ messages to audiences. Qualitative methods with a construction representation perspective emphasize semiotics and discourse approaches more. The film Top Gun: Maverick as the object material is analyzed in a structured manner from the characterizations, film scenario, or story content in the scene, soundtrack, and cinematography. Cinematography in the film has its definition as a layered meaning. This presents the relationship between the visual signs in the film so that it can create a multi-layer entity. The construction of leadership values and moral messages here illustrates the importance of the spirit of war against a common enemy, shown from various places that can inspire efforts to recover conditions who are also struggling to face a common enemy in the era of the Covid 19 pandemic. During the Covid 19 pandemic, the common enemy took the form of the Coronavirus. which is also a threat to the entire nation and society. This requires an effective and efficient handling strategy. This film continues to inspire the creation of further works to make films the frontline in changing mindsets as an effort to develop human resources as viewers. It is hoped that Indonesian cinema will be able to use leadership strategies as a fundamental factor in realizing the efforts of individuals who have integrity. Semiotika Film TOP GUN: Maverick sebagai Inspirasi Indonesia Bangkit dari Pandemi Covid-19. Kepemimpinan, integritas, dan dedikasi dapat menjadi landasan dalam kerja sama tim. Bahkan integritas sangat dibutuhkan untuk mencapai visi dan misi yang lebih besar untuk mengalahkan musuh bersama. Dibutuhkan corps spirit atau berbagi nasib yang sama agar chemistry dalam sebuah tim kerja semakin solid. Analisis semiotika film Top Gun: Maverick dapat diangkat sebagai kajian seni komunikatif untuk menyampaikan pesan pembuat film kepada penonton. Metode kualitatif dengan perspektif representasi konstruksi lebih menekankan pendekatan semiotika dan wacana. Film Top Gun: Maverick sebagai bahan objek dianalisis secara terstruktur mulai dari penokohan, skenario film, atau isi cerita dalam adegan, soundtrack, dan sinematografi. Sinematografi dalam film memiliki  pengertian  yang berlapis-lapis. Hal ini menghadirkan hubungan antara tanda-tanda visual dalam film sehingga dapat menciptakan entitas yang berlapis-lapis. Konstruksi nilai kepemimpinan dan pesan moral di sini menggambarkan pentingnya semangat perang melawan musuh bersama, terlihat dari berbagai tempat yang dapat menginspirasi upaya pemulihan kondisi yang juga sedang berjuang menghadapi musuh bersama  di era pandemi Covid-19. Selama pandemi Covid-19, musuh  bersama  berupa virus corona. yang juga merupakan ancaman bagi seluruh bangsa dan masyarakat. Hal ini membutuhkan strategi penanganan yang efektif dan efisien. Film ini terus menginspirasi penciptaan karya-karya selanjutnya untuk menjadikan film sebagai garda terdepan dalam mengubah pola pikir sebagai upaya mengembangkan sumber daya manusia sebagai penonton. Sinema Indonesia diharapkan mampu menggunakan strategi kepemimpinan sebagai faktor fundamental dalam mewujudkan upaya individu yang berintegritas.
Analysis of Timbre in Melodic Arrangements of Popular Minang Songs Using a Spectrum Analyzer Robby Ferdian; Irdhan Epria Darma Putra; Hengki Armez Hidayat; Ressy Fitria; Revellame Revellame; Roald Marck J.
Journal of Urban Society's Arts Vol 10, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v10i1.9357

Abstract

Timbre is one of the main elements considered in musical arrangements, including contemporary Minang pop songs which have undergone significant development due to improvements in recording studio quality and increasingly qualified human resources. This study aims to describe the instrumentation and examine the characteristics of timbre in melodic instruments used in contemporary Minang pop song arrangements. Ableton Live 10 and Izotope Insight 2 software were used to analyze the audio spectrum produced by melodic instruments in recent Minang song arrangements. The results of audio processing using spectrum analyzer show that three main timbres of Minang songs are circulating and viral on social media: Acoustic Guitar, Bansi, and Overdrive Guitar. The first two instruments typically fill the melody line in the Intro, Interlude, and Coda, while the third instrument acts as a melody carrier in the transition part of the song. The instrumentation used in Minang song arrangements consists of acoustic instruments, specifically  Yamaha  guitars with Fishman Preamps, VST Instruments Sampletank2, and Real eight guitars. In this study, only two timbres were analyzed using the application: Acoustic Guitar and Bansi. The software analysis reveals that the two melodic timbres have unique characteristics formed by different overtone series formulas, with Acoustic Guitar having approximately 15 overtone pieces and Bansi having 8. Based on the results generated by the audio analysis application Izotope Insight 2, the timbre of guitar and bansi in contemporary Minang pop songs exhibit two unique characteristics. The guitar demonstrates a rich character with a significant number of overtone series at high frequencies. On the other hand, bansi tends to have a smooth and soft character due to its less dominant frequency points at each interval and lower amplitudes. Analisis Timbre pada Aransemen Melodik Lagu Minang Populer Menggunakan Spectrum Analyzer. Timbre merupakan salah satu elemen utama yang menjadi sorotan dalam menciptakan sebuah aransemen musik, begitupun dalam lagu pop Minang kontemporer yang telah mengalami perkembangan signifikan karena adanya peningkatan kualitas studio rekaman dan sumber daya manusia yang semakin berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan instrumen dan mengeksplorasi karakteristik timbre pada instrumen melodi yang digunakan dalam aransemen lagu pop Minang kontemporer. Penelitian ini menggunakan perangkat lunak Ableton Live 10 dan Izotope Insight 2 untuk menganalisis spektrum audio yang dihasilkan oleh instrumen melodi dalam aransemen lagu Minang terbaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga timbre utama yang menjadi populer dalam lagu-lagu Minang masa kini yaitu: Gitar Akustik, Bansi, dan Gitar Overdrive. Dua instrumen pertama biasanya mengisi garis melodi pada Intro, Interlude, dan Coda, sedangkan instrumen ketiga berfungsi sebagai pembawa melodi pada bagian transisi lagu atau fill in. Instrumen yang digunakan dalam aransemen lagu Minang terdiri dari instrumen akustik berupa gitar dengan merk Yamaha dengan preamp Fishman, VST Instruments Sampletank2, dan gitar Real 8. Dalam penelitian ini, hanya dua timbre yang dianalisis menggunakan perangkat lunak yaitu: Gitar Akustik dan Bansi. Analisis perangkat lunak tersebut mengungkapkan bahwa dua timbre melodi memiliki karakteristik yang unik yang dibentuk oleh formula seri overtone yang berbeda, dengan Gitar Akustik memiliki sekitar 15 bagian overtone Series dan Bansi memiliki 8 Overtone Series. Berdasarkan sinyal audio yang dihasilkan oleh aplikasi, timbre melodi lagu Minang populer ditandai oleh gitar dengan warna  yang kaya dan Bansi dengan warna yang lembut dan halus. Selain itu, semua audio yang diperoleh dari sumber memiliki kualitas yang sangat baik.Timbre is one of the main elements considered in musical arrangements, including contemporary Minang pop songs which have undergone significant development due to improvements in recording studio quality and increasingly qualified human resources. This study aims to describe the instrumentation and examine the characteristics of timbre in melodic instruments used in contemporary Minang pop song arrangements. Ableton Live 10 and Izotope Insight 2 software were used to analyze the audio spectrum produced by melodic instruments in recent Minang song arrangements. The results of audio processing using spectrum analyzer show that three main timbres of Minang songs are circulating and viral on social media: Acoustic Guitar, Bansi, and Overdrive Guitar. The first two instruments typically fill the melody line in the Intro, Interlude, and Coda, while the third instrument acts as a melody carrier in the transition part of the song. The instrumentation used in Minang song arrangements consists of acoustic instruments, specifically  Yamaha  guitars with Fishman Preamps, VST Instruments Sampletank2, and Real eight guitars. In this study, only two timbres were analyzed using the application: Acoustic Guitar and Bansi. The software analysis reveals that the two melodic timbres have unique characteristics formed by different overtone series formulas, with Acoustic Guitar having approximately 15 overtone pieces and Bansi having 8. Based on the results generated by the audio analysis application Izotope Insight 2, the timbre of guitar and bansi in contemporary Minang pop songs exhibit two unique characteristics. The guitar demonstrates a rich character with a significant number of overtone series at high frequencies. On the other hand, bansi tends to have a smooth and soft character due to its less dominant frequency points at each interval and lower amplitudes.