cover
Contact Name
M. Agus Burhan
Contact Email
urbansocietysart@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
urbansocietysart@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Urban Society´s Arts
ISSN : 23552131     EISSN : 2355214X     DOI : -
Journal of Urban Society's Art ( Junal Seni masyarakat Urban) memuat hasil-hasil penelitian dan penciptaan seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat perkotaan yang memiliki struktur dan kultur yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Seni masyarakat urban merupakan manifestasi seni yang dihadirkan melalui media-media seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media rekam yang erat dengan problematika kehidupan yang terjadi dalam keseharian masyarakat, serta bisa menjadi simbol yang menarik dan menjadi elemenpenting yang menjadi ciri khas dari (1) pusat kota, (2) kawasan pinggiran kota, (3) kawasan permukiman, (4) sepanjang jalur yang menghubungkan antar lingkungan, (5) elemen yang membatasi dua kawasan yang berbeda, seperti jalan, sungai, jalan tol, dan gunung, (6) kawasan simpul atau strategis tempat bertemunya berbabgai aktivitas, seperti stasiun, jembatan, pasar, taman, dan ruang publik lain.
Arjuna Subject : -
Articles 171 Documents
The Struggle Never Ends (The Reflection on the History of Struggle between Socio-Political Groups in the Creation of Painting) M. Agus Burhan; Miftakhul Munir; Agatha Christi
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i1.6854

Abstract

This artistic research aims for the creation of contemporary painting. State of art issues of art creation consists of paintings, socio-political, social functions, and visual symbols. The creation goals are to create painting from the ideas of creation and aesthetics visual form, departing from socio-political history condition in the struggle among mass organizations and politic organizations in Indonesia. By utilizing practice-based research method, the researcher is united with the object being worked in an in and through appreciation, must also refer to published creation method, thus that it is not subjective and the explanation is detailed. David Campbell’s creation method is used as the reference, i.e., Preparation, concentration, incubation, illumination, and verification-production. The study results and art design are contemporary painting “Pertarungan tak Kunjung Usai” (The Struggle Never Ends). It portrays the reflection of ideology struggle and socio-political outlook of figures or among community groups. Subject matter shows two figures group who facing and opposing each other with allegory or symbol attributes, such as weaponries, normative books, bulls, and garudas. The setting is on a ruins or ship deck wreckage. The painting is shown in decorative-expressive style, within contemporary aesthetic artistic images. Penelitian artistik ini bertujuan untuk penciptaan karya seni lukis kontemporer. State of art permasalahan penciptaan karya meliputi seni lukis, sosial-politik, fungsi sosial, dan simbol visual. Tujuan penciptaannya menciptakan lukisan dari ide penciptaan dan bentuk visual yang estetik, dari fenomena kondisi sejarah sosial politik dalam pertarungan ormas dan orpol yang ada di Indonesia. Metodenya practice based research, peneliti menyatu dengan objek yang dikerjakan dalam penghayatan secara timbal balik (in and through), juga harus merujuk metode penciptaan terpublikasi, sehingga tidak subjektif dan pemaparannya rinci. Metode penciptaan David Campbell digunakan sebagai rujukan, yaitu preparation, concentration, incubation, illumination, verification-production. Hasil penelitian dan perancangan karya ini adalah karya seni lukis kontemporer "Pertarungan Tak Kunjung Usai". Menggambarkan refleksi pertarungan ideologi dan pandangan sosial politik dari figur-figur atau antarkelompok masyarakat. Subject matter menampilkan dua kelompok figur-figur yang berhadapan dan saling bertentangan dengan masing-masing atribut alegori atau simbolnya, seperti senjata, kitab normatif, banteng, dan garuda. Setingnya ada dalam reruntuhan bangunan atau potongan geladak kapal. Lukisan ini ditampilkan dalam gaya dekoratif ekspresif, dalam citra artistik estetika kontemporer.
Typological Analysis of Metalhead Community’s Logo as Visual Communication During Covid-19 Pandemic Sujud Puji Nur Rahmat; Shabri Bin Saad; Eli Irawati
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i1.7073

Abstract

Typology Analysis of Metalhead Community Logos as Visual Communication During the Covid-19 Pandemic. The Covid-19 pandemic brought many changes in terms of how to communicate within the community, namely Metalhead, both nationally and internationally by utilizing social media Facebook, Instagram, and so on through logos and graphic designs. The research problem is the tendency to use a logo which is the hallmark of the Metalhead group in terms of typography and function. Qualitative research methods with observational data collection, literature review, and documentation. The approach using typology studies includes typography and function. The findings from the results of the study show that the metalhead logo typology through digital posters has its own characteristics, in color selection, the dominant use of white in writing and the background tends to be dark in color, namely black, red, and other colors but not so dominating. Regarding letters, they tend to use unusual letters (design themselves) in writing band names. Event themes, schedules, venues, and sponsors tend to use fonts that are universally understood or still use conventional fonts in Microsoft Word. The function of the metalhead logo is to form a collective identity and communication among Metalheads and the wider community. Analisis Tipologi Logo Komunitas Metalhead sebagai Komunikasi Visual Selama Pandemik Covid-19. Masa pandemi Covid-19 membawa banyak perubahan dalam hal cara berkomunikasi di ranah komunitas yaitu Metalhead, baik secara nasional maupun internasional dengan memanfaatkan media sosial Facebook, Instagram, dan lain sebagainya lewat logo dan desain gambar. Permasalahan penelitian adalah kecenderungan penggunaan logo yang menjadi ciri khas kelompok Metalhead dalam ragam tipografi dan fungsi. Metode penelitian kualitatif dengan pengumpulan data secara observasi, kajian kepustakaan, dan dokumentasi. Pendekatan menggunakan studi tipologi mencakup tipografi dan fungsi. Temuan dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa tipologi logo Metalhead lewat poster digital memiliki kekhasan tersendiri, dalam pemilihan warna, dominan menggunakan warna putih dalam tulisan dan latar belakang cenderung berwarna gelap yaitu hitam, warna merah, dan warna lainnya tetapi tidak begitu mendominasi. Terkait huruf, cenderung menggunakan huruf yang tidak lazim (mendesain sendiri) dalam menuliskan nama band. Tema acara, jadwal, tempat, dan sponsor cenderung menggunakan huruf yang dapat dimengerti secara universal atau masih menggunakan huruf-huruf konvensional dalam Microsoft Word. Fungsi logo Metalhead sebagai pembentuk identitas kolektif dan komunikasi di antara sesama Metalhead serta masyarakat luas. 
Implementation of Deconstruction Method Ideas In The Contemporary Theatre of Pilihan Pembayun Yogyakarta Yudiaryani Yudiaryani; Hirwan Kuardhani; Silvia Anggreni Purba
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i1.6694

Abstract

The presence of contemporary theatre performing arts in Indonesia can not be separated from the history of theatrical performing arts in areas in Indonesia. “Contemporary” refers to the situation in space and time today and is a way of pointing to the development and change of theatre in these areas. Today’s performing arts are undergoing significant changes in their form and content. It was inspired by the discovery of science and technology and the dynamics of the world’s cultural ideas in the 20th century. Hans Thies Lehmann’s post-dramatic ideas around the 1980s in Europe, among others, inspired the emergence of new creativity studies internationally. Performing arts transformed itself from an ‘art performance’ into an intercultural and interdisciplinary performance of art by dismantling and rebuilding elements of its performances. The research theme is the development of science within art, while the research topic is the utilization of art theory to create works of art. The study aims to examine theories and deconstruction methods based on post-dramatic ideas that improve the quality of intercultural and gender theatre creation. The specific research target is to discover the benefits of deconstruction theory for creating contemporary theatre. The theatrical performance chosen in this study was The Pilihan Pembayun, a drama script by Hirwan Kuardhani and directed by Yudiaryani and Wahid Nurcahyono. Research methods use qualitative description methods. Qualitative methods look for the meaning behind data with interpretive and thorough analysis techniques. Data collection techniques with participant elevation, interviews, observations, field records, and documents will be used in the research. The research results obtained are the theoretical foundation for eliminating the negative aspects of intercultural and gender communication in the performing arts. Kehadiran seni pertunjukan teater kontemporer di Indonesia tidak lepas dari sejarah kehadiran seni pertunjukan di daerah-daerah  di Indonesia."Kontemporer" mengacu pada situasi dalam ruang dan waktu saat ini dan merupakan cara untuk menunjuk pada pengembangan dan perubahannya.  Seni pertunjukan saat ini sedang mengalami perubahan signifikan dalam bentuk dan konten. Hal tersebut terinspirasi oleh penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan dinamika ide-ide budaya dunia di abad ke-20. Ide-ide pasca-dramatik Hans Thies Lehmann sekitar tahun 1980-an di Eropa, antara lain,  mengilhami  munculnya studi kreativitas baru  secara internasional. Seni pertunjukan mengubah  dirinya dari 'pertunjukan seni' menjadi pertunjukan antarbudaya dan interdisipliner dengan membongkar dan membangun kembali elemen pertunjukannya. Tema penelitian adalah pengembangan sains dan teknologi dalam ranah seni, sedangkan topik penelitian adalah  pemanfaatan  teori seni untuk penciptaan karya  seni. Studi ini bertujuan untuk memeriksa teori dan metode dekonstruksi berdasarkan ide-ide pascadramatik yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas penciptaan teater antarbudaya dan gender. Pertunjukan teater yang dipilih dalam penelitian ini adalah Pilihan Pembayun, naskah Hirwan Kuardhani dan disutradarai oleh Yudiaryani dan Wahid Nurcahyono. Tujuan spesifik dari penelitian ini adalah untuk menemukan manfaat dari teori dekonstruksi untuk penciptaan teater kontemporer. Metode penelitian menggunakan metode deskripsi kualitatif. Metode kualitatif mencari makna di balik data dengan teknik analisis interpretatif dan menyeluruh. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, pengamatan, dan catatan lapangan, serta penggunaan dokumen. Hasil penelitian yang diperoleh adalah pemanfaatan teori sebagai dasar menghilangkan dampak negatif dari komunikasi antarbudaya dan gender dalam penciptaan pertunjukan kontemporer.
Protest Songs From Indonesia And Australia: A Musicological Comparison Kiernan Box; Greg Aronson
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i1.7146

Abstract

Protest music is both commercially viable and an important tool for shaping community awareness of socio-political issues. Indonesian and Australian artists have produced protest music which has stimulated significant effect upon community attitudes and behaviours. Socio-political issues can be described and examined in songs using various lyrical methods, including strategic use of characters and narrative. Iwan Fals is a Javanese singer-songwriter who frequently employs satire and parody in relation to weighty political issues. Cold Chisel, Midnight Oil and Paul Kelly are Australian rock artists who have used real-life events as the inspiration for protest songs, many of which are delivered with a confrontational mode of lyric and performance. Compared to Australian acts, Indonesian artists have faced greater risk to personal freedom by engaging in protest music; this may explain why Indonesian protest songs are often presented with more subtle characteristics. from the abstract or from the body of the text, or from the thesaurus of the discipline. Lagu Protes dari Indonesia dan Australia: Perbandingan Musikologi. Musik protes layak secara komersial dan peranti penting untuk membentuk kesadaran masyarakat tentang masalah sosial-politik. Seniman Indonesia dan Australia telah menghasilkan musik protes yang memberikan pengaruh signifikan terhadap sikap dan perilaku masyarakat. Isu sosial-politik dapat dideskripsikan dan dikaji dalam lagu dengan menggunakan berbagai metode lirik, termasuk penggunaan karakter dan narasi yang strategis. Iwan Fals adalah penyanyi-penulis lagu Jawa yang sering menggunakan sindiran dan parodi terkait dengan isu-isu politik yang berat. Cold Chisel, Midnight Oil, dan Paul Kelly adalah artis rock Australia yang telah menggunakan peristiwa kehidupan nyata sebagai inspirasi untuk lagu-lagu protes, banyak di antaranya dibawakan dengan gaya lirik dan penampilan yang konfrontatif. Dibandingkan dengan artis Australia, artis Indonesia menghadapi risiko yang lebih besar terhadap kebebasan pribadi dengan terlibat dalam musik protes; ini mungkin menjelaskan mengapa lagu-lagu protes Indonesia seringkali disajikan dengan ciri-ciri yang lebih halus. dari abstrak atau dari tubuh teks, atau dari tesaurus disiplin.
Ephemeral Architecture as Socio-spatial Practices in Bintaro’s Modern Market Public Space Dea Aulia Widyaevan
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i1.6107

Abstract

Ephemeral Architecture as Socio-spatial Practices in Bintaro’s Modern market Public Space. Ephemeral Architecture questions about the idea of permanence on the way we produce architecture. The term ephemeral defines as something temporary, interchangeable, and adaptive. Architecture’s vision should no longer has to be monumental or eternal, but it must be designed to became adaptive in uncertain conditions. This research offers new perspective on how architecture built from the event. The research methods, conducted in practices-based research through a series of workshop and forum group discussion in experimental architecture forum- Critical Context 3.0, 2019, conducted by LabTanya. The participants explore the notion of ephemerality on everyday design in modern market Bintaro, Jakarta by adopting phenomenology perspective in architecture. This phenomenology perspective transcribes in a way a phenomenon observes in term of body, gestures, movement in relation to time and social consent produced these momentarily space. The modern market (as a case study) gives context on how this place are became a melting point of several functions, time and places.  This research finds that there are several strategies on how the tenant are inhabiting the space in performative and temporals way to resolve the spatial limitations. Arsitektur Efemera sebagai Praktek Ruang Sosial Pada Ruang Publik Pasar Modern Bintaro. Arsitektur Efemera, mempertanyakan tentang gagasan keabadian dalam cara mendesain arsitektur. Istilah efemera atau sesaat, didefinisikan sebagai sesuatu yang sementara, selalu mengalami transformasi, dan adaptif. Visi arsitektur tidak lagi harus monumental atau abadi, tetapi harus dirancang untuk menjadi adaptif dalam kondisi konteks lingkungan yang dinamis. Penelitian ini menawarkan perspektif baru tentang bagaimana arsitektur dibangun dari sebuah peristiwa. Metode penelitian, berbasis praktik melalui serangkaian lokakarya dan forum diskusi yang digagas pada forum arsitektur eksperimental- Critical Context 3.0, 2019, oleh LabTanya, Jakarta. Para peserta mengeksplorasi gagasan arsitektur efemera/sesaat pada desain keseharian di pasar modern Bintaro, Jakarta melalui perspektif fenomenologi. Perspektif ini, menginvestigasi bagaimana tubuh, gerak dan waktu selalu berkaitan dengan konteks sosial suatu tempat.  Pasar modern (sebagai studi kasus) memberikan konteks bagaimana tempat ini merupakan titik lebur dari beberapa fungsi, kaya akan ruang-ruang sementara (spatio temporal).  Hasil penelitian ini menemukan beberapa strategi ruang adaptif, yang dilakukan oleh para penyewa pasar, dalam mengatasi keterbatasan ruang. 
The Transition of Dramaturgy During Pandemic: From Staging to Streaming Dede Pramayoza; Pandu Birowo
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i1.6697

Abstract

This study discusses the transition of performances dramaturgy during the Covid-19 pandemic from analog to digital formats, from live performances commonly called staging to mediated performances which can be called performance streaming. The aim of study is to understand the application of ‘dramaturgical tactics’; and the reasons. Applying the dramaturgical analysis method investigation is directed at the transformation process from the basic concept of the performance to the practice of its presentation. The research departs from the premise that a dramaturgical process, namely the pre-production, production, and presentation of performance is permanently connected by a dramaturgical awareness. The analysis was carried out: (1) the idea of streaming; (2) performance technique; and (3) the form of performance streaming. Research shows that the critical changes in dramaturgy during the pandemic were triggered by the necessity to shift the mode of performance from staging to streaming, resulting in three dramaturgical awareness about transition, namely: (1) medium: from analog to digital performance; (2) creativity: from performer to content creator; and (3) the spectatorship: from spectator to voyeur. Perubahan Dramaturgi di Masa Pandemi: Dari Pementasan ke Siaran. Artikel ini membahas perihal transisi dramaturgi pertunjukan di masa pandemi Covid-19 dari format analog ke format digital, dari moda pertunjukan langsung yang lazim dinamakan pementasan ke pertunjukan termediasi yang dapat dinamakan siaran pertunjukan. Tujuannya untuk memahami bentuk penerapan ‘siasat dramaturgi’ serta alasan di baliknya. Mengunakan metode analisis dramaturgis, berupa investigasi atas proses transformasi dari konsep dasar pertunjukan menuju praktik presentasinya, penelitian berangkat dengan premis bahwa suatu proses  dramaturgi, yakni tahap pra-produksi, produksi, dan presentasi pertunjukan selalu terhubung oleh satu kesadaran dramaturgis. Analisis dilakukan terhadap: (1) gagasan siaran pertunjukan; (2) teknik siaran pertunjukan; dan (3) bentuk siaran pertunjukan. Penelitian menunjukkan bahwa, perubahan penting dramaturgi di masa pandemi dipicu oleh suatu keharusan untuk memindahkan moda pertunjukan dari pementasan ke siaran, menghasilkan tiga kesadaran dramaturgis tentang peralihan, yakni: (1) medium: dari pementasan analog ke siaran digital; (2) kreativitas: dari penampil menjadi pembuat konten; dan (3) kepenontonan: dari spektator menjadi voyeur.
Iconography and Iconology of The Aksi Kamisan Photo (13-2-2014) by Fanny Octavianus Pamungkas Wahyu Setiyanto; Novan Jemmi Andrea; Agus Triyana
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i1.6017

Abstract

The presence of photography as a medium of communication has transformed into an art that not only perpetuates reality in images (visuals), but also poetic values and/or image language. Likewise, journalistic photography works are created not only based on existing moments or events, but are also influenced by views, skills, and other factors inherent in the photographer. The photographer has the right to place his philosophical aspects based on the importance of his secondary needs. The creation of photographic works is the result of the integration of the social, spiritual and cultural life of the photographer, in this context as was done by Fanny Octavianus who consistently documented the Aksi Kamisan by activists to demand that the government resolve cases of human rights violations. The consistency of the Aksi Kamisan becomes a strength that makes this action full of values that can be observed through the signs implied in every action they take. From this explanation, Fanny’s work on Aksi Kamisan is studied through factual and expressive visual signs, themes and concepts, and also looks for the symbolic value in Fanny’s work. In carrying out this excavation and search, the method of art history uses the Iconography and Iconology approach of Erwin Panofsky. As a result, this study found that there were various visual markers of the Aksi Kamisan photo that were factual and expressive. Factual markers can be observed from formal aspects, while expressional markers are obtained from motion effects created by controlling the camera using slow motion techniques. The symbolic values conveyed in this Aksi Kamisan photo are the era of openness in conveying people’s opinions directly to the government, which can be seen as a symbol of cultural openness in the reform era. Ikonografi dan Ikonologi Foto Aksi Kamisan (13-2-2014) Karya Fanny Octavianus. Kehadiran fotografi tidak saja mengabadikan realitas dalam gambar (visual), namun juga nilai puitis dan atau bahasa gambar. Begitu juga dengan karya fotografi jurnalistik yang tercipta tidak sekadar berdasarkan momen atau peristiwa, tetapi dipengaruhi oleh pandangan, kemampuan keterampilan, dan faktor lain yang melekat pada diri fotografernya. Fotografer berhak menempatkan aspek filosofisnya berdasarkan kepentingan kebutuhan sekundernya. Penciptaan karya foto merupakan hasil dari integrasi kehidupan sosial, spiritual dan kebudayaan si pemotret, dalam konteks ini seperti yang dilakukan oleh Fanny Octavianus yang konsisten mendokumentasikan Aksi Kamisan yang dilakukan para aktivis untuk menuntut pemerintah menuntaskan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Konsistensi aksi Kamisan menjadi sebuah kekuatan yang menjadikan aksi ini penuh dengan nilai yang dapat diamati melalui tanda-tanda tersirat dalam setiap aksi yang dilakukan. Dari pemaparan tersebut, karya Fanny tentang Aksi Kamisan dikaji melalui tanda-tanda visual yang bersifat faktual dan ekspresional, tema dan konsep, dan juga dicari nilai simbolik yang ada dalam karya Fanny tersebut. Dalam melakukan penggalian dan pencarianini menggunakan metode sejarah seni dengan pendekatan Ikonografi dan Ikonologi Erwin Panofsky. Hasilnya, penelitian ini menemukan adanya berbagai penanda visual foto Aksi Kamisan yang bersifat faktual dan ekpresional. Penanda faktual dapat diamati dari aspek-aspek formal, sedangkan penanda ekspresional didapat dari efek gerak yang diciptakan dengan pengendalian kamera menggunakan teknik slow motion. Nilai-nilai simbolik yang disampaikan dalam foto Aksi Kamisan ini adalah era keterbukaan dalam menyampaikan pendapat rakyat langsung kepada pemerintah bisa dipandang sebagai simbol keterbukaan kultur era reformasi.
Power Relations in the Design and Development of Karangwaru Riverside Yogyakarta-Indonesia – Women's Perspective Artbanu Wishnu Aji; Suastiwi Triatmodjo; Agus Burhan
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 2 (2022): October 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i2.9370

Abstract

The design and construction of riverbanks in Karangwaru is a community participation-based development program where stakeholders play a role in the preparation of development and its implementation. The involvement of women as one of the stakeholders is one of the positive efforts for gender equality programs. However, women's voices in percieving the results of such development have never been clearly explored. How women respond to the development process and how power relations are created in a built environment are yet to be revealed. This study aims to see how power relations are formed in the design and development of Karangwaru Riverside. Using the Foucauldian discourse analysis method, this study managed to find 7 (seven) constructs and discourses that surround them. The results show that women have only control over two discourses, namely ethical and social discourse. Desain dan pembangunan bantaran sungai di Karangwaru merupakan program pembangunan berbasis partisipasi masyarakat di mana pemangku kepentingan berperan dalam persiapan pembangunan dan pelaksanaannya. Keterlibatan perempuan sebagai salah satu pemangku kepentingan merupkan salah satu upaya positif bagi program penyetaraan gender dalam pembangunan. Meskipun demikian suara perempuan dalam melihat hasil pembangunan tersebut belum pernah dieksplorasi dengan jelas. Bagaimana perempuan menyikapi proses pembangunan dan bagaimana relasi kuasa yang tercipta dalam lingkungan terbangun masih belum terungkap. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana relasi kuasa yang terbentuk dalam desain dan pembangunan Karangwaru Riverside. Dengan menggunakan metode analisis diskursus Foucauldian, penelitian ini berhasil menemukan 7 (tujuh) konstruk dan diskursus yang melingkupinya. Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan hanya memiliki kontrol pada dua diskurus yaitu diskursus etika dan sosial. 
Education Park Concept on Green Open Space Planning through Historical and Cultural Approach Sri Maqfirah Asyuni; Ahmad Syarief Iskandar; Nuryani Nuryani; Edhy Rustan
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 2 (2022): October 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i2.8088

Abstract

Green Open Space Planning (RTH) for urban areas needs to support ecological functions, education facilities, and social interaction facilities for urban communities and regional identity. As green open spaces, Complex Elementary Park and Reading Park in Palopo, South Sulawesi have not yet fulfilled their functions and benefits optimally. The two parks that are located in the heritage area become a unique/distinctive potential to show the historical connotation of the location in its design. This study aims to provide landscape design recommendations by exploring the potential of the location through the historical and cultural approach of the Luwu Kingdom. The research was conducted using a descriptive qualitative method that refers to the landscape planning of Seymour M. Gold through the stages of preparation, inventory, analysis, synthesis, and planning. The results of this study resulted in an Education Park site plan that elaborated the physical and philosophical characteristic of three cultural heritages, namely the Datu Luwu Palace Complex, the Jami' Mosque, and the Post and Giro Office. Konsep Taman Edukasi pada Perencanaan Ruang Terbuka Hijau melalui Pendekatan Sejarah dan Budaya. Perencanaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kawasan Perkotaan perlu menunjang fungsi ekologis, wadah pendidikan, sarana interaksi sosial masyarakat urban dan identitas daerah. Sebagai RTH, Taman SD Kompleks dan Taman Baca di kota Palopo, Sulawesi Selatan belum menunjukkan terpenuhinya fungsi dan manfaatnya secara optimal. Kedua taman yang berada dalam kawasan heritage menjadi potensi khas/unik untuk menunjukkan historical connotation lokasi dalam desainnya. Penelitian ini bertujuan membuat rekomendasi desain lanskap dengan mengeksplorasi potensi lokasi melalui pendekatan sejarah dan budaya Kerajaan Luwu. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif deskriptif yang mengacu pada perencanaan lanskap Seymour M. Gold melalui tahapan persiapan, inventarisasi, analisis, sintesis dan perencanaan. Hasil penelitian ini menghasilkan siteplan Taman Edukasi yang mengelaborasi karakter fisik dan filosofis tiga cagar budaya yaitu Kompleks Istana Datu Luwu, Masjid Jami’ dan Kantor Pos dan Giro.
Exploring the Philosophy and Forms of Traditional Balinese Architecture at Badung Market I Kadek Pranajaya; I Nyoman Artayasa
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 2 (2022): October 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i2.6118

Abstract

After the fire disaster, Badung market was rebuilt by applying the values of Balinese  local wisdom. It was designed through an integrated synergy of regional arrangement within the Badung market, Kumbasari market, and the arrangement of the Tukad Badung to support the concept of a heritage city tour in Denpasar City. The philosophical concept used is tapak dara and padu raksa. The concept of values and architectural forms uses the Triangga, the Trimandala, the Sanga Mandala, and the Tri Hita Karana concepts. The forms of the entrance uses the bintang aring concept. It is combined with the kayon form as a symbol of balance, horizontal and vertical for human life. The concept of Balinese traditional architectural decoration uses bebadungan decorations. This research was with a qualitative exploratory method Researchers also found modernization towards more advanced changes with rational, effective, efficient, and economic principles. This is evidenced in the use ornaments made of Glass Reinforced Concrete, elevator facilities, and escalators. In addition, Badung market was designed to be more modern and universal with a children's play room, lactation room, emergency stairs, accessible toilets, and other facilities.Menjelajahi Filosofi dan Bentuk Arsitektur Tradisional Bali di Pasar Badung.  Pascabencana kebakaran, Pasar Badung dibangun dengan menerapkan nilai kearifan lokal Bali. Didesain melalui sinergitas penataan kawasan secara terpadu antara Pasar Badung, Pasar Kumbasari, dan penataan tukad Badung untuk menunjang konsep tur kota pusaka (heritage city tour) Kota Denpasar. Konsep filosofis yang digunakan adalah tapak dara sebagai simbol keseimbangan dan padu raksa sebagai makna stabilitas perputaran ekonomi masyarakat untuk peningkatan kesejahteraan. Konsep tata nilai dan bentuk bangunan menggunakan konsep triangga, trimandala, sanga mandala, dan tri hita karana. Bentuk pintu masuk pada bangunan utama menggunakan konsep bintang aring dengan bebatelan di kiri dan kanan. Bintang aring difilosofikan sebagai pintu yang bercahaya bagai bintang sehingga terlihat monumental, berestetika, dan menambah kesan oriental. Bintang aring dikombinasikan dengan bentuk kayon sebagai lambang keseimbangan, horisontal dan vertikal bagi kehidupan manusia. Konsep ragam hias arsitektur tradisional Bali menggunakan ragam hias bebadungan. Ragam hias ini didesain untuk menciptakan identitas jati diri Kota Denpasar. Peneliti juga menemukan kehidupan modernisasi dengan prinsip rasional, efektif, efisien, dan ekonomis. Hal ini dibuktikan pada penggunaan ornamen dari bahan Glass Reinforced Concrete (GRC), fasilitas elevator, dan eskalator. Selain itu Pasar Badung didesain lebih modern dan universal dengan adanya ruang bermain anak, ruang laktasi, tangga darurat, toilet aksesibel, dan fasilitas lainnya.