cover
Contact Name
M. Agus Burhan
Contact Email
urbansocietysart@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
urbansocietysart@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Urban Society´s Arts
ISSN : 23552131     EISSN : 2355214X     DOI : -
Journal of Urban Society's Art ( Junal Seni masyarakat Urban) memuat hasil-hasil penelitian dan penciptaan seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat perkotaan yang memiliki struktur dan kultur yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Seni masyarakat urban merupakan manifestasi seni yang dihadirkan melalui media-media seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media rekam yang erat dengan problematika kehidupan yang terjadi dalam keseharian masyarakat, serta bisa menjadi simbol yang menarik dan menjadi elemenpenting yang menjadi ciri khas dari (1) pusat kota, (2) kawasan pinggiran kota, (3) kawasan permukiman, (4) sepanjang jalur yang menghubungkan antar lingkungan, (5) elemen yang membatasi dua kawasan yang berbeda, seperti jalan, sungai, jalan tol, dan gunung, (6) kawasan simpul atau strategis tempat bertemunya berbabgai aktivitas, seperti stasiun, jembatan, pasar, taman, dan ruang publik lain.
Arjuna Subject : -
Articles 171 Documents
Fungi as an Art Medium: The Study of the Art Medium of Philip Ross and Syaiful Aulia Garibaldi Satrio Hari Wicaksono; Budi Irawanto; Agung Hujatnika
Journal of Urban Society's Arts Vol 10, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v10i1.6793

Abstract

This research aims to read the creative process carried out by bio-art artists who use fungi as a medium of character, namely Phillip Ross and Syaiful ‘Tepu’ Garibaldi and explore the potential values in their nature. New media art became an essential umbrella for non-conventional art genres related to other disciplines, such as ecology- based art, kinetic art, video art, bio-art, etc. An interdisciplinary approach that is   no longer related to a single system but a synergy between fields of science to solve increasingly complex social and environmental problems. As a new genre, bio-art synergy art and science involving organic creation components. The use of animals, viruses, fungi, and plants is the differentiator that marks the formation of bio-art works. Research methods will be conducted with methodological approaches to art history, anthropology, and semiotics. The unusual process of fungi formation used as a medium of art and ecological issues became a powerful narrative that both artists generally raised. The synergy between art, science, and technology in the creation process is a new reference in the method of art creation, especially bio-art so that  the process of fungi formation that is not commonly used as a medium of art and ecological issues related to it as a powerful narrative that the two artists generally raise becomes the main subject of study. Jamur sebagai Media Seni: Kajian Media Seni Philip Ross dan Syaiful Aulia Garibaldi. Penelitian ini bertujuan untuk membaca proses kreatif yang dilakukan oleh seniman bio-art yang memanfaatkan fungi sebagai media kekaryaannya, yaitu Phillip Ross dan Syaiful ‘Tepu’ Garibaldi serta menggali potensi nilai-nilai yang ada dalam kekaryaannya.Seni media baru menjadi payung penting untuk genre seni non- konvensional yang terkait dengan disiplin ilmu lain, seperti seni berbasis ekologi, seni kinetik, seni video, bio-art, dll. Pendekatan interdisipliner yang tidak lagi terkait dengan pendekatan tunggal tetapi sinergi antara bidang sains untuk memecahkan masalah sosial dan lingkungan yang semakin kompleks. Sebagai genre baru, bio-art adalah sinergi antara seni dan sains yang melibatkan komponen penciptaan organik. Penggunaan hewan, virus, jamur, dan tumbuhan adalah pembeda yang menandai pembentukan karya bio-seni. Metode penelitian akan dilakukan dengan pendekatan metodologi sejarah seni, antropologi, dan semiotika. Proses pembentukan fungi yang tak lazim digunakan sebagai media seni dan isu-isu ekologi yang berkaitan dengannya, menjadi narasi besar yang secara umum diangkat oleh kedua seniman tersebut. Sinergi antara seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi dalam proses penciptaan adalah referensi baru dalam metode penciptaan seni, terutama bio-art, sehingga proses pembentukan fungi yang tak lazim digunakan sebagai media seni dan isu-isu ekologi yang berkaitan dengannya sebagai narasi besar yang secara umum diangkat oleh kedua seniman tersebut, menjadi pokok kajian utamanya.
Viewing Body Memory Awareness as Self-Reflection Pratama, I Putu Oka Surya
Journal of Urban Society's Arts Vol 11, No 2 (2024): October 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v11i2.11658

Abstract

The process of self-control abilities contained in a person requires an important role in interaction with other people and the environment in order to form a mature self-control process. This is necessary because researchers try to apply body reflexes to self-control to find an emotional identity that gives rise to awareness, processes a person’s physical, psychological and behavioral traits, in other words a series of processes that shape one’s identity. Demonstrate full awareness of the impact of every action taken to achieve balance and calm in self-control without strong external control. Researchers try to apply the concept of Balinese culture, namely Sad Ripu. The harmony referred to here is the relationship between the elements in a practice. Based on the main Sad Ripu (six enemies) that exist within humans themselves. Researchers try to present it as an entertainment space in the art of dance. Proses kemampuan pengendalian diri yang terdapat pada seseorang memerlukan peranan penting interaksi dengan orang lain dan lingkungannya agar membentuk proses pengendalian diri yang matang, hal tersebut dibutuhkan karena peneliti mencoba menerapkan refleks tubuh pada sebuah pengendalian diri untuk mencari sebuah jati diri terhadap emosional yang memunculkan sebuah kesadaran, proses fisik, psikologis, dan perilaku seseorang, dengan kata lain serangkaian proses yang membentuk jati diri. Memperlihatkan kesadaran penuh akan dampak dari setiap tindakan yang diambil untuk mencapai keseimbangan dan kedamaian dalam pengendalian diri tanpa kendali eksternal yang kuat. Peneliti mencoba menerapkan konsep kebudayaan Bali yakni Sad ripu. Keselarasan yang dimaksud disini adalah bagaimana hubungan antara unsur-unsur yang ada pada sebuah laku. Berdasarkan dari Sad Ripu (enam musuh) utama yang ada di dalam diri manusia itu sendiri. Peneliti mencoba menghadirkan sebagai ruang pertunjukan dalam seni tari.
Concept (間) MA: Philosophical Identification and Analysis in Animated Films Howl’s Moving Castle (2004) Yudhanto, Sigied Himawan; Setyawan, Alfan
Journal of Urban Society's Arts Vol 11, No 2 (2024): October 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v11i2.12423

Abstract

In the context of Japanese film, MA is an important concept to highlight because of its great influence on filmmaking and audience experience. In the visual arts, “MA” can be interpreted as “space” or “interval”; MA can also be said to be the core of aesthetic principles. The purpose of this study is to find and identify the philosophical aspects of the concept of MA in the scenes found in the animated film Howl’s Moving Castle (2004) to gain an understanding of visual aesthetics as well as to understand how the concept of MA works and is used in the visual aesthetics of Ghibli animated films. The research methodology on the concept of MA involves a multidimensional approach that includes visual language methods, literature study, and content analysis, as well as a combination of theories on emptiness and tensegrity structure. The analysis shows that the number of scenes containing MA factors is 17 scenes; the total scenes in the movie are about 2,301 scenes, with the assumption that each scene averages 3 seconds. The 17 scenes only take up a portion of 0.73%, a relatively flat number; then, if we take the duration of time for each scene, a value shows the total scene that contains MA factors is 333 Seconds or 5.55 minutes while the total duration of the Howl’s Moving Castle animated film is 01:55:05 minutes or about 6,905 seconds the MA transition scene is 4.8% of the total film. The research can provide an in-depth insight into the use of MA in the context of animated films, where it can provide an understanding of how seemingly simple visual elements, such as empty space, can have a strong impact on the audience’s experience and level of engagement, or understanding of the story and characters. Dalam konteks film Jepang, MA merupakan konsep yang penting disorot karena pengaruhnya yang besar terhadap pembuatan film dan pengalaman penonton. “MA” dapat diartikan sebagai “ruang” atau “interval”, yang juga sebagai inti dari prinsip estetika. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari dan mengidentifikasi aspek filosofis, konsep MA pada scene yang terdapat pada film animasi Howl’s Moving Castle (2004) untuk mendapatkan pemahaman tentang estetika visual sekaligus untuk memahami bagaimana konsep MA bekerja dan digunakan dalam estetika visual film-film animasi Ghibli. Metodologi penelitian tentang konsep MA melibatkan pendekatan multidimensi yang mencakup metode bahasa visual, studi literatur dan analisis konten, serta kombinasi teori tentang emptiness dan tensegrity structure. Analisis menunjukan banyaknya scene yang mengandung MA factor adalah 17 scene, total scene dalam film ada sekitar 2,301 scene dengan durasi rata-rata setiap scene sebesar 3 detik. 17 scene tersebut hanya memakan porsi sebesar 0.73 %, dengan total scene yang terdapat MA faktor sebanyak 333 Second atau 5.55 menit sedangkan total dari durasi film animasi Howl’s Moving Castle sebanyak 01:55:05 menit atau sekitar 6,905 detik maka scene transisi MA sebesar 4.8 % dari total keseluruhan film. Penelitian ini dapat memberikan wawasan mendalam tentang penggunaan MA dalam konteks film animasi, dimana hal tersebut dapat memberikan pemahaman bagaimana elemen-elemen visual yang tampak sederhana, seperti ruang kosong, dapat memberikan dampak yang kuat terhadap pengalaman penonton dan tingkat keterlibatan, atau pemahaman penonton terhadap cerita dan karakter.
Impact Permeability Study Transition from Residential Function to Educational Function in Dalem Mangkubumen, Yogyakarta Adianti, Istiana; Ikaputra, Ikaputra; Rahmi, Dwita Hadi
Journal of Urban Society's Arts Vol 11, No 2 (2024): October 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v11i2.12268

Abstract

Dalem Mangkubumen, is a residential house specifically for nobles in the Yogyakarta Sultanate. Dalem Mangkubumen itself was built as the home of the crown prince Sri Sultan Hamengku Buwono VI. It cannot be denied that Mangkubumen has the largest land area and grandeur like Karton Yogyakarta. It was built in 1876 and still stands today. Since its founding until now, its function has changed, it was built as a residence and then changed to an educational function. This change in function has an impact on changes in building use and building additions to meet their needs. This qualitative research examines how permeable the spatial layout is when it functions as a residence and changes to an educational function. Using data that has been written down, both old maps and previous articles, as well as direct observations in the field, the latest map modifications and a list of spatial changes have been obtained. These data are used to see changes and assess permeability. The level of permeability and changes in permeability in the zones within Mangkubumen can be seen. Dalem Mangkubumen, merupakan rumah hunian dikhususkan untuk bangsawan di lingkungan kasultanan Yogyakarta. Dalem Mangkubumen sendiri dibangun sebagai rumah putra mahkota Sri Sultan Hamengku Buwono VI. Tidak dipungkiri Dalem Mangkubumen, memiliki luas lahan yang paling besar dan kemegahan seperti Karton Yogyakarta. Dibangun pada tahun 1876 dan dan masih berdiri hingga saat ini. Semenjak berdiri hingga saat ini mengalami perubahan fungsi, dibangun sebagai hunian kemudian beralih menjadi fungsi pendidikan. Perubahan fungsi tersebut, berdampak pada perubahan penggunaan bangunan dan penambahan bangunan guna memenuhi kebutuhan. Penelitian secara kualitatif ini, mengkaji seberapa permeabilitas tata ruang saat berfungsi sebagai hunian dan berubah menjadi fungsi pendidikan. Menggunakan data yang pernah dituliskan baik peta lama maupun artikel terdahulu serta amatan langsung dilapangan, didapatkan modifikasi peta terbaru dan daftar perubahan ruang. Data-data tersebut digunakan untuk melihat perubahannya dan mengkaji permeabilitasnya. Terlihat tingkatan permeabilitas maupun perubahan permeabilitas dalam zona-zona yang terdapat di Dalem Mangkubumen.
Characteristics of Cultural Production of Youtube Podcast of Horror Genre in Relevance with the Construction of the Consumer Society Rokhani, Umilia
Journal of Urban Society's Arts Vol 11, No 2 (2024): October 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v11i2.11083

Abstract

The emergence of the horror genre YouTube Podcast during the Covid-19 pandemic is related to restrictions on people’s movement, both in the production process and in enjoying the results of the production. For this reason, characteristics of cultural production emerged during the pandemic through horror podcasts on YouTube which also influenced the construction of consumer society. This is important to study in the world of the arts industry because these two orders, the production order and the consumption order, correlate with each other to shape the meaning of society. Baudrillard argued that consumption of commodities is not only seen at the level of their function, but also the relationship of meaning between the commodity and the sign it produces. Consumption looks more at the context of the existence of society itself so that it is said to be a growth society because it has the ability to produce both prosperity and poverty. The netnographic method is used to examine the relationship between the two orders so as to form meaning as a social phenomenon. The characteristics of horror genre podcasts are that they are produced with simple production, a limited number of personnel, delivered orally with distinctive characteristics, and have a production strategy that causes the audience to always wait for the next production result. The concept of horror which is used as a genre choice in podcasts is rooted in the local wisdom of podcast fans so that even though the label of modern society is attached to the activity of enjoying horror podcasts, the roots of local wisdom always color and bind the memories of the viewers to return to their identity through local wisdom. Kemunculan Podcast YouTube bergenre horror pada masa pandemi Covid-19 terkait dengan pembatasan ruang gerak masyarakat, baik proses produksi maupun penikmatan hasil produksi. Untuk itu, muncul karakteristik produksi kultural pada masa pandemi melalui podcast horror di YouTube yang juga mempengaruhi konstruksi masyarakat konsumennya. Hal ini penting untuk dikaji dalam dunia industri seni karena kedua tatanan tersebut, tatanan produksi dan tatanan konsumsi, saling berkorelasi membentuk permaknaan atas masyarakatnya. Baudrillard mengemukakan bahwa konsumsi atas komoditas tidak sekadar dilihat pada tataran fungsinya, tetapi relasi makna antara komoditas dan tanda yang dimunculkannya. Pengonsumsian lebih melihat pada konteks eksistensi masyarakat itu sendiri sehingga dikatakan sebagai masyarakat pertumbuhan karena memiliki kemampuan untuk memproduksi kemakmuran sekaligus kemiskinan. Digunakan metode netnografi untuk menelaah relasi kedua tatanan itu sehingga membentuk permaknaan sebagai suatu fenomena sosial. Karakteristik podcast bergenre horror diproduksi dengan produksi sederhana, jumlah personil terbatas, disampaikan secara lisan dengan karakteristik yang khas, memiliki strategi produksi yang menyebabkan penikmatnya senantiasa menanti hasil produksi berikutnya. Konsep horror yang dijadikan pilihan genre dalam podcast mengakar pada local kearifan dari penikmat podcast sehingga sekalipun label masyarakat modern melekat dalam aktivitas menikmati podcast horror, tetapi akar kearifan lokal senantiasa mewarnai dan mengikat ingatan para penikmat untuk kembali pada jati diri melalui kearifan lokal tersebut.
An Anthropomorphic Analysis of Iwan Fals’ Tikus- Tikus Kantor and Pink Floyd’s Dogs Box, Kiernan
Journal of Urban Society's Arts Vol 11, No 2 (2024): October 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v11i2.12592

Abstract

Animal-based imagery, including anthropomorphism and zoomorphism, has been a common literary device since ancient times. Contemporary writers of popular song, such as The Beatles, have been particularly frequent exponents of animal-based imagery. This imagery has several uses: it enables subtle or oblique representations of challenging or controversial issues, as well as creating potent, often surreal, imagery which enhances the lyrical quality of the song. Anthropomorphism may take several different forms: comparison (in which animals are compared to humans in instinct and behaviour), cognition (in which animals express human-like thoughts or language), and material conduct (in which animals engage in humanoid actions, including the use of human accessories and technologies). Iwan Fals is a Javanese singer/songwriter renowned for writing songs that address socio-political issues in Indonesia, including topics such as corruption and inequality. Pink Floyd were an English rock band whose songs often explored similar socio-political issues. Both artists have used animal-based imagery in their socio-political songs. Fals’ Tikus-Tikus Kantor may be described as anthropomorphic, whilst Pink Floyd’s Dogs may be interpreted as zoomorphic. Citraan berbasis hewan, termasuk antropomorfisme dan zoomorfisme, telah menjadi perangkat sastra umum sejak zaman kuno. Penulis lagu populer kontemporer, seperti The Beatles, telah menjadi eksponen citraan berbasis hewan yang sangat sering. Citraan ini memiliki beberapa kegunaan: memungkinkan representasi halus atau tidak langsung dari isu-isu yang menantang atau kontroversial, serta menciptakan citraan yang kuat, sering kali surealis, yang meningkatkan kualitas lirik lagu. Antropomorfisme dapat mengambil beberapa bentuk yang berbeda: perbandingan (di mana hewan dibandingkan dengan manusia dalam naluri dan perilaku), kognisi (di mana hewan mengekspresikan pikiran atau bahasa seperti manusia), dan perilaku material (di mana hewan terlibat dalam tindakan humanoid, termasuk penggunaan aksesori dan teknologi manusia). Iwan Fals adalah penyanyi/penulis lagu Jawa yang terkenal karena menulis lagu- lagu yang membahas isu-isu sosial-politik di Indonesia, termasuk topik-topik seperti korupsi dan ketidaksetaraan. Pink Floyd adalah band rock Inggris yang lagu-lagunya sering mengeksplorasi isu-isu sosial-politik yang serupa. Kedua artis tersebut telah menggunakan citraan berbasis hewan dalam lagu-lagu sosial-politik mereka. Tikus- Tikus Kantor karya Fals dapat dideskripsikan sebagai antropomorfik, sedangkan Dogs karya Pink Floyd dapat diinterpretasikan sebagai zoomorfik.
Virtual Reality Video as An Exhibition Design Idea in Response to The Covid Pandemic Ranangsari, Kosalalita Anggiyumna; Marianto, Martinus Dwi; Dayani, Elin Siska
Journal of Urban Society's Arts Vol 11, No 2 (2024): October 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v11i2.11663

Abstract

Although the Covid-19 pandemic is still occurring in Indonesia in 2021, it does not become an obstacle for the artist to continue to innovate both creating and exhibiting their work. One of the innovations in organizing art activities is to switch the format from physical exhibitions to virtual exhibitions during the pandemic. The creation of the 360 video-based virtual exhibition “Estetika Sanggit” using 3D animation as a response to the pandemic is based on the concept of User-Centered Design. This research uses a descriptive-qualitative method with a phenomenological approach. The use of this methodology is to discuss the designer’s subjective experience in integrating multiplatform technology (3D animation, 360° video, and Virtual Reality) in designing a virtual exhibition that is “friendly” to visitors. The results of this research show that the designer succeeded in creating a 360° video virtual exhibition that greatly facilitates users in accessing and enjoying the virtual exhibition as if enjoying a physical exhibition. This is evident in the presentation of the virtual exhibition and is obtained from the positive impressions of visitors to this virtual video. These positive impressions demonstrate IDE Studio’s success in designing products that meet user needs. Meskipun pandemi Covid-19 masih terjadi di Indonesia pada tahun 2021, tidak menjadi penghambat bagi seniman untuk terus berinovasi baik berkarya maupun memamerkan hasil karyanya. Salah satu inovasi dalam menyelenggarakan kegiatan kesenian adalah beralih formatnya pameran fisik ke pameran virtual di masa pandemi. Penciptaan pameran virtual “Estetika Sanggit” berbasis video 360 dengan menggunakan animasi 3D sebagai respon menghadapi pandemi didasarkan pada konsep User-Centered Design. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penggunaan metodologi ini untuk membahas pengalaman subjektif desainer dalam mengintegrasikan teknologi multiplatform (3D animation, 360° video, dan Virtual Reality) pada perancangan pameran virtual yang “ramah” terhadap pengunjung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa desainer berhasil menciptakan pameran virtual video 360 yang sangat memudahkan pengguna dalam mengakses serta menikmati pameran virtual tersebut layaknya menikmati pameran fisik. Hal ini tampak pada sajian pameran virtualnya dan didapatkan dari kesan positif para pengunjung video virtual ini. Kesan positif tersebut menunjukkan keberhasilan IDE Studio dalam merancang produk yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.
“Ajeg Bali” and Preserving the Balinese Lontar in Dukuh Penaban, Bali Hapsari, Prima Dona
Journal of Urban Society's Arts Vol 11, No 2 (2024): October 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v11i2.13862

Abstract

The necessity to comprehend lontar manuscripts arises from the imperative to preserve the ancestral values of the Balinese people embedded within this medium. The investigation of the lontar manuscript social movement, aimed at cultural preservation within religious rites and as a framework for daily existence (smerti), remains underexplored. This is evidenced by the situation in the Dukuh Penaban Traditional Village, Karangasem, Bali, where few Balinese Hindus have minor thought for which lontar manuscripts are just the sacred things, and possess the ability to read and write lontar manuscripts in Balinese. This represents a novel contribution aimed at addressing a research vacuum that has not been explored by scholars in Indonesia, where an understanding of the social movement, integral to Hindu cultural and religious rites, is necessary. The research necessitates an examination of the Dukuh Penaban Traditional Village community’s response to the legitimacy of the Bali Provincial Government and the preservation initiatives for lontar manuscripts, which have been transmitted through generations. It will reinforce the values of life and the teachings of AJAWERA, ultimately enhancing the character and awareness of the Balinese populace regarding the significance of preserving their esteemed culture. This phenomenon prompts research inquiries on how “Ajeg Bali”, a Balinese society’s discourse to combat globalization, is implemented through cultural preservation actions in the Dukuh Penaban Traditional Village, Karangasem, Bali. This qualitative descriptive research employs an ethnographic methodology, utilizing observation, in-depth interviews, and documentation for data gathering. The research site is Dukuh Penaban Traditional Village, Karangasem Regency, Bali Province. The research participants comprised ten individuals, specifically the Bendesa of Dukuh Penaban Traditional Village, the apparatus of Dukuh Penaban Traditional Village, the Coordinator and members of the Balinese Language Care Alliance of Karangasem Regency, members of the Bebasan Lontar group (readers of lontar manuscripts) from Dukuh Penaban, and Penedun (writers and translators of lontar manuscripts).“Ajeg Bali” and Preserving the Balinese Lontar in Dukuh Penaban, Bali. Munculnya kebutuhan untuk mengetahui dan memahami naskah lontar adalah untuk menyelamatkan nilai-nilai adat warisan leluhur masyarakat Bali yang terkandung dalam media lontar. Riset mengenai gerakan sosial naskah lontar sebagai upaya preservasi budaya sebagai bagian dari ritual keagamaan dan sebagai pedoman kehidupan sehari-hari (smerti) belum banyak dikaji. Hal itu didukung dari fenomena yang ada di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, Bali bahwa naskah lontar hanya sebagai benda sakral saja dan belum banyak masyarakat Hindu Bali yang bisa membaca dan menulis naskah lontar dalam Bahasa Bali. Hal ini sekaligus merupakan kebaruan dan digunakan untuk mengisi celah riset yang belum pernah diteliti oleh peneliti di Indonesia, di mana perlu adanya pemahaman akan gerakansosial yang sekaligus menjadi bagian ritual budaya dan agama Hindu. Riset ini perlu untuk diteliti terkait respons masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban pada legitimasi Pemerintah Daerah Propinsi Bali serta usaha preservasi naskah lontar yang dimiliki secara turun temurun yang akan menguatkan nilai-nilai hidup dan ajaran AJAWERA yang berdampak pada peningkatan karakter dan kesadaran masyarakat Bali akan pentingnya melakukan pelestarian budaya mereka yang adiluhung. Fenomena tersebut memberi pertanyaan penelitian bagaimana “Ajeg Bali” memberikan wacana masyarakat Bali untuk melawan globalisasi dengan implementasi melalui gerakan sosial pelestarian budaya di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, Bali. Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan pendekatan etnigrafi, dengan metode penelitian yaitu observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk pengumpulan data. Lokasi riset adalah Desa Adat Dukuh Penaban, Kabupaten Karangasem, Propinsi Bali. Informan riset berjumlah 10 orang, yaitu Bendesa Desa Adat Dukuh Penaban, Perangkat Desa Adat Dukuh Penaban, Koordinator dan Anggota Aliansi Peduli Bahasa Bali Kabupaten Karangasem, anggota kelompok Bebasan Lontar (pembaca naskah lontar) Dukuh Penaban, dan Penedun (penulis dan penterjemah naskah lontar).
“Fattened by Friendship” of the Papuan Sawi Tribe: Creative Process and Analysis Leunupun, Sepnath Yambres; Untung, Rachel Mediana; Soesila, Poedji
Journal of Urban Society's Arts Vol 12, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v12i1.14668

Abstract

“Fattened with Friendship” is the title for the creation of a musical work in the story of Tarop Tim (Child of Peace) of the Sawi Tribe. The creation of this musical work is an effort to contribute to the treasury of Indonesian musical compositions that elevate the cultural values of the Sawi tribe of Papua. The method of music composition creativity applies practice-led research in four creative stages, namely preparation, incubation, illumination and verification. The creation of this new composition elevates the culture of the Papuan Sawi tribe innovatively in melody, rhythm, and other musical elements. The instruments used are string quartet (violin 1-2, alto violin and violoncello), piano, synth, percusion and local Papuan instruments (tifa and pikon). The creation of this musical work aims to be enjoyed by the wider community, especially the younger generation, and to inspire young composers to raise the archipelago’s musical idioms as the foundation of the main creative ideas. “Fattened with Friendship” Suku Sawi Papua: Proses Kreatif dan Analisis. “Fattened with Friendship” merupakan judul dari penciptaan karya musik yang mengangkat kisah Tarop Tim (Anak Damai) dari Suku Sawi. Penciptaan karya musik ini merupakan upaya untuk memberikan kontribusi terhadap khazanah komposisi musik Indonesia yang mengangkat nilai-nilai budaya suku Sawi Papua. Metode penciptaan komposisi musik ini menggunakan metode penelitian yang berbasis praktik dengan empat tahapan kreatif, yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Penciptaan komposisi baru ini mengangkat budaya suku Sawi Papua secara inovatif dalam melodi, ritme, dan elemen musik lainnya. Instrumen yang digunakan adalah string quartet (biola 1-2, biola alto, dan biola cello), piano, synth, perkusi, dan alat musik lokal Papua (tifa dan pikon). Penciptaan karya musik ini bertujuan agar dapat dinikmati oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda, dan menginspirasi komposer muda untuk mengangkat idiom-idiom musik nusantara sebagai landasan ide kreatif utama.
“Wening”: Towards a Contemplation of Javanese Women’s Self-Identity in The Painting of Dyan Anggraini Rais through an Art Criticism Approach Handayani, Ayu Puji; Marianto, Martinus Dwi
Journal of Urban Society's Arts Vol 11, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v11i1.11080

Abstract

This article discusses the artwork of Indonesian Woman Artist Dyan Anggraini Rais in The International Art Exhibition Dewantara Triennale 2023 #2 “Social Engagement & Sustainability at Jogja Gallery entitled “wening” as a medium for contemplation of the form of representation of Javanese Women’s self-identity through the Art Criticism approach as a form of appreciation and evaluation of the artwork through reading the interpretation of the visual semiotic code on the artwork. It is found that the Contemplation of Javanese Women’s Self Identity in Wening painting represents the character of Javanese Women’s identity which is seen as a meek figure, good character, nrima, manut, not messing around, but also firm and principled. This is visualized in the symbolization of the meaning of Dewi Sekartaji’s mask. These values have also been exemplified by Kartini’s struggle through women’s emancipation to demand justice for women through the realm of the public sector, especially in the field of education. These noble values should remain inherent and become a living representation for women in contemporary times, where at this time it is very possible for women’s accessibility to be able to enter the public sector to express themselves and build their identity through the various potentials that exist in women to continue to develop and be appreciated. The artwork “Wening” by Dyan Anggraini Rais is a form of self-reflection needed by each individual in this era, especially women, to get to know themselves better and realize the social construction that has shaped them so far. Artikel ini membahas karya seni lukis Perupa Perempuan Indonesia Dyan Anggraini Rais dalam Pameran Seni Rupa Internasional Dewantara Triennale 2023 #2 “Social Engangement & Sustainability di Jogja Gallery yang berjudul “wening” sebagai media perenungan bentuk representasi identitas diri Perempuan Jawa dengan menggunakan pendekatan Kritik Seni (Art Criticism) sebagai bentuk apresiasi dan evaluasi terhadap karya seni tersebut dengan cara membaca pemaknaan terhadap kode semiotika visual pada karya seni lukis tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kontemplasi Identitas Diri Perempuan Jawa dalam lukisan Wening merepresentasikan karakter jati diri perempuan Jawa yang dipandang sebagai sosok yang lemah lembut, berbudi pekerti luhur, nrima, manut, tidak main-main, namun juga tegas dan berprinsip. Hal ini divisualisasikan dalam simbolisasi makna topeng Dewi Sekartaji. Nilai-nilai tersebut juga telah dicontohkan oleh perjuangan Kartini melalui emansipasi wanita untuk menuntut keadilan bagi kaum perempuan melalui ranah sektor publik, khususnya di bidang pendidikan. Karya seni “Wening” karya Dyan Anggraini Rais merupakan salah satu bentuk refleksi diri yang dibutuhkan oleh setiap individu di era ini, khususnya perempuan, untuk lebih mengenal dirinya sendiri dan menyadari konstruksi sosial yang telah membentuk dirinya selama ini.