cover
Contact Name
Maizuddin
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
substantia.adm@gmail.com
Editorial Address
Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
ISSN : -     EISSN : 23561955     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Substantia is a journal published by the Ushuluddin Faculty and Religious Studies of the State Islamic University (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia. The scope of Substantia is articles of research, ideas, in the field of Ushuluddin sciences (Aqeedah, Philosophy, Islamic Thought, Interpretation of Hadith, Comparative Religion, Sociology of Religion and Sufism).
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 26 No. 1 (2024)" : 10 Documents clear
Spiritualitas dan Kewirausahaan: Eksplorasi Peran Praktik Tasawuf dalam Kesuksesan Usaha Priyanto, Aris; Mahdafi, M. Reza; Saputri, Mita Mahda
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.21897

Abstract

This article explores the impact of Tasawuf (Islamic mysticism) practices on entrepreneurial success, focusing specifically on jeans entrepreneurs in Wonopringgo, Pekalongan District. This study adopts a qualitative approach with a Tasawuf Akhlaki framework to understand how spiritual values influence business behaviors. The subjects of the research include three entrepreneurs, with data collected through observation, in-depth interviews, and documentation. Descriptive analysis reveals that the continuity of worship practices, particularly prayer, significantly contributes to developing entrepreneurs who are resilient and have integrity. The findings affirm that entrepreneurs who are consistent in their worship practices tend to experience better business stability and growth. This study confirms that integrating Tasawuf in entrepreneurship not only enriches the personal dimensions of entrepreneurs but also yields a competitive advantage. These conclusions suggest the importance of considering spiritual factors in modern business development strategies.Abstrak: engan fokus khusus pada pengusaha celana jeans di Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka tasawuf akhlaki untuk memahami bagaimana nilai-nilai spiritual mempengaruhi perilaku bisnis. Subjek penelitian meliputi tiga pengusaha, dengan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis deskriptif menunjukkan bahwa keberlanjutan praktik ibadah, khususnya shalat, secara signifikan berkontribusi pada pembentukan karakter pengusaha yang resilien dan berintegritas. Hasil ini menegaskan bahwa pengusaha yang konsisten dalam praktik ibadahnya cenderung mengalami stabilitas dan pertumbuhan bisnis yang lebih baik. Studi ini mengkonfirmasi bahwa integrasi tasawuf dalam kewirausahaan tidak hanya memperkaya dimensi pribadi pengusaha tetapi juga menghasilkan keuntungan kompetitif. Kesimpulan ini menyarankan pentingnya mempertimbangkan faktor spiritual dalam strategi pengembangan bisnis modern.
Pembelajaran Qiraat di Era Digital: Telaah Maqra’ah Qur’aniyyah Online Himmad, Gumaa Ahmed; Mokhtar, Ahmad Baha' Bin; Hidayatil, Rifqi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.21938

Abstract

Maqra’ah, traditionally, has served as a cornerstone for Quranic education, aimed at preserving and transmitting the teachings of the Quran across generations within the Islamic community. Initially centered on face-to-face interactions, Maqra’ah has experienced a paradigm shift with the advent of modern technology, manifesting in the form of online Maqra’ah. This innovative model breaks down geographical and temporal barriers, connecting teachers and students globally. Despite its significant potential, this study identifies that the adoption of online Maqra’ah, especially those focused on Qiraat learning, remains relatively underexplored. Consequently, this research aims to describe various online Maqra’ah platforms offering Qiraat learning programs, utilizing a literature study method. The findings reveal a diversity of Quranic Maqra’ah offering Qiraat education programs in contemporary times. The emergence of online Maqra’ah serves as an effective step in preserving the knowledge of Qiraat, which has become somewhat alienated among the Muslim community in recent decades. The advent of online Maqra’ah presents a new alternative, facilitating students in deepening their Qiraat studies and potentially serving as an effective and flexible learning method..Abstract: Maqra’ah, secara tradisional, merupakan pusat pembelajaran Al-Quran yang bertujuan untuk mempertahankan dan menyampaikan pengajaran Al-Quran dari generasi ke generasi dalam komunitas Islam. Maqra’ah yang pada awalnya berfokus pada interaksi tatap muka, telah mengalami pergeseran dengan pemanfaatan teknologi modern yang berupa maqra’ah online. Model inovatif ini memecahkan batasan geografis dan waktu, menghubungkan guru dan murid dalam lingkup global. Meskipun potensinya yang besar, penelitian ini mengidentifikasi bahwa adopsi maqra’ah online, khususnya yang fokus pada pembelajaran ilmu qiraat, masih belum begitu populer. Oleh karena itu kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan berbagai platform maqra’ah online yang menyediakan pembelajaran ilmu qiraat dengan metode studi kepustakaan. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa terdapat berbagai macam maqra’ah Al-Quran yang menawarkan program pembelajaran ilmu qiraat di zaman sekarang. Munculnya maqra’ah online telah menjadi sebagai satu langkah efektif dalam melestarikan ilmu qiraat yang sudah terasa asing dalam kalangan umat Islam sejak beberapa dekade terakhir. Kehadiran maqra’ah online telah menjadi alternatif baru yang dapat memudahkan para pelajar mendalami studi qiraat dan berpotensi menjadi metode pembelajaran yang efektif dan fleksibel. 
Studi Kitab Tafsir Tanwir Al-Miqbas Min Tafsir Ibni ‘Abbas oleh Al-Fairuzabadi Hikmah, Farisa Aliyatul; Dahliana, Yeti; Nirwana, Andri; Suharjianto, Suharjianto; Azizah, Alfiyatul; Rha’in, Ainur
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.22695

Abstract

Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibni ‘Abbas by Al-Fairuzabadi is a classical tafsir (Quranic exegesis) that compiles the interpretative methodology of Ibnu ‘Abbas and offers a unique perspective in tafsir studies. This study aims to deepen understanding of the interpretative methodology in "Tanwir al-Miqbas," detailing how Ibnu ‘Abbas interpreted the Quran as compiled by Al-Fairuzabadi. Utilizing a qualitative approach and bibliographic research, this study relies on primary and secondary data sources for a descriptive analysis of Al-Fairuzabadi’s biography, interpretative methodology, as well as the strengths and weaknesses of "Tanwir al-Miqbas" tafsir. It reveals that this exegesis emphasizes a global (ijmali) explanation of Quranic verses using popular and accessible language, incorporating narrations of Ibnu ‘Abbas in interpretation. Although considered a tafsir bil ma'tsur, it exhibits broader exploration on certain verses. "Tanwir al-Miqbas" presents an important perspective in tafsir studies, merging ijmali and linguistic interpretative methodologies that directly refer to Prophet Muhammad. Despite questions regarding the validity of its sanad (chain of transmission), this work remains a significant contribution to Quranic exegesis literature.Abstract: Kitab Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibni ‘Abbas karya Al-Fairuzabadi merupakan salah satu tafsir klasik yang menghimpun metodologi penafsiran Ibnu ‘Abbas dan menawarkan perspektif unik dalam studi tafsir. Kajian ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang metodologi penafsiran dalam Tanwir al-Miqbas, menguraikan cara Ibnu ‘Abbas menafsirkan Al-Quran yang dikompilasi oleh Al-Fairuzabadi. Menggunakan pendekatan kualitatif dan penelitian kepustakaan, penelitian ini mengandalkan sumber data primer dan sekunder untuk analisis deskriptif tentang biografi Al-Fairuzabadi, metodologi penafsiran, serta kelebihan dan kekurangan tafsir Tanwir al-Miqbas. Kajian ini menunjukkan bahwa kitab tafsir ini menekankan penjelasan global (ijmali) ayat-ayat Al-Quran menggunakan bahasa yang populer dan mudah dipahami, menggabungkan riwayat Ibnu ‘Abbas dalam penafsiran. Meski dianggap sebagai tafsir bil ma'tsur, terdapat eksplorasi lebih luas pada ayat tertentu. Kitab Tanwir al-Miqbas menawarkan perspektif penting dalam studi tafsir, menggabungkan metodologi penafsiran ijmali dan linguistik yang merujuk langsung kepada Nabi Muhammad SAW. Meskipun ada pertanyaan mengenai validitas sanad, karya ini tetap berkontribusi signifikan dalam literatur tafsir Al-Quran
Syukur sebagai Pencegah Insecure Perspektif Abu Hamid Al-Ghazali Hakim, Lukman; Baaly, Ali Sajjad; Yamani, Abu Bakar
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.22711

Abstract

In the contemporary era characterized by rapid technological advancements, humans encounter both conveniences and challenges, one of which is the emergence of feelings of insecurity. This study aims to explore the feeling of insecurity and its relationship with the concept of gratitude within Sufism, from the perspective of Abu Hamid Al-Ghazali, as a preventative strategy. Employing a qualitative methodology with a descriptive-analytical approach, this research reveals that gratitude can serve as an effective mechanism to mitigate feelings of insecurity. According to Al-Ghazali, gratitude comprises three hierarchical components: knowledge, spiritual state, and action. The findings indicate that the internalization and practice of these components can act as preventative measures against insecurity. In terms of knowledge, individuals are required to acknowledge and believe that everything originates from Allah, which stimulates positive thinking and happiness towards Allah and oneself. This belief and love for Allah lead to an intrinsic desire to perform good deeds, indirectly alleviating feelings of insecurity.Abstrak: Di era modern yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi, manusia menghadapi berbagai kemudahan sekaligus tantangan, salah satunya adalah munculnya perasaan tidak aman atau insecure. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perasaan insecure dan hubungannya dengan konsep syukur dalam sufisme, berdasarkan perspektif Abu Hamid Al-Ghazali, sebagai strategi preventif. Menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis, studi ini mengungkapkan bahwa syukur dapat menjadi mekanisme efektif untuk mengatasi perasaan insecure. Menurut Al-Ghazali, syukur terdiri dari tiga komponen hierarkis: pengetahuan (ilmu), kondisi spiritual (hal), dan tindakan (amal). Penelitian ini menunjukkan bahwa proses internalisasi dan praktik dari ketiga komponen ini dapat berfungsi sebagai langkah preventif terhadap insecure. Dalam aspek ilmu, diwajibkan bagi individu untuk mengakui dan percaya bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, yang menstimulasi pemikiran positif dan rasa bahagia terhadap Allah dan diri sendiri. Kepercayaan dan cinta kepada Allah mengarah pada keinginan intrinsik untuk berbuat baik, secara tidak langsung menekan perasaan insecure. 
Qira’at Al-Qur’an: Genealogi Kemunculan dan Perbedaan Bacaan Masruroh, Maulidati; Syuhada, Aswadi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.22807

Abstract

The study of Qira'at (Quranic recitations) holds a crucial position in the scholarly discourse on the Quran, focusing on the theoretical aspects of accurately reciting its verses. The Quran is characterized by its extensive variety of recitations, historically rooted in the teachings of Prophet Muhammad. This diversity often leads to confusion and skepticism among the public regarding the authenticity of the Quranic readings. This article aims to explore the genealogy of the variations in Qira'at, including their origins, contributing factors, and the wisdom behind these variations. Our research indicates that the emergence of different Qira'ats is attributed to both internal and external factors: internally, the Prophet's request to Allah for additional variations in recitation, as evidenced by numerous narratives on the revelation of the seven Ahruf (modes of recitation), and externally, the perspectives of orientalists such as Arthur Jeffery, Theodore Noldeke, and Ignaz Goldziher, who argue that these variations arose due to the absence of vowel and consonant markings in the original text. The benefits of Qira'at diversity include reinforcing Islamic unity, facilitating easier and more accessible recitation across various dialects, and highlighting the miraculous nature of the Quran and Allah’s favor towards the followers of Prophet Muhammad SAW.Abstrak: Ilmu Qira'at adalah bidang studi penting dalam disiplin ilmiah Al-Quran, fokusnya adalah pada teori dan praktik membaca ayat-ayat Al-Quran secara akurat. Al-Quran dikenal memiliki beragam variasi bacaan, yang berakar dari pengajaran Nabi Muhammad SAW. Variasi ini sering kali menimbulkan kebingungan dan skeptisisme terhadap autentisitas bacaan Al-Quran di kalangan masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk membahas genealogi perbedaan qira'at, mencakup asal-usul, faktor penyebab, dan manfaat dari variasi qira'at tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa perbedaan qira'at muncul dari dua faktor utama: faktor internal, seperti permintaan Nabi kepada Allah untuk menambah variasi dalam cara bacaan yang dibuktikan dengan banyaknya riwayat tentang sab’ah al-qira’at, dan faktor eksternal, termasuk pandangan orientalis seperti Arthur Jeffery, Theodore Noldeke, dan Ignaz Goldziher yang berargumen bahwa perbedaan tersebut timbul karena ketiadaan tanda vokal dan konsonan pada teks asli. Manfaat dari variasi qira'at ini termasuk memperkuat kesatuan umat Islam, memudahkan pembacaan dengan berbagai dialek, serta menegaskan keajaiban Al-Quran dan keistimewaan umat Nabi Muhammad SAW.  
Pemaknaan Hadis-Hadis tentang Zuhud di Media Sosial: Studi Kasus Akun Instagram Aa Gym Bakar, Abu; Manik, Zulfirman
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.23009

Abstract

In the digital era, social media plays a crucial role as a platform for disseminating various interpretations, including interpretations of hadiths about asceticism (zuhud). This study aims to analyze how hadiths on asceticism are constructed on social media, specifically through the Instagram account of Aa Gym. The methodology employed is qualitative research with a content analysis approach, where data were collected from posts on Aa Gym's Instagram account. Through the process of determining objects, creating categories, and analysis units, this study found that Aa Gym constructs interpretations of hadiths about asceticism by emphasizing the aspect of spirituality in drawing closer to Allah SWT, adopting a life stance that is not attached to worldly matters, and leading a simple and unexaggerated life. Furthermore, the research reveals that such interpretations are conveyed in a simple, easy-to-understand language that resonates emotionally with the audience, as evidenced by the number of positive comments on social media.Abstrak: Dalam era digital, media sosial berperan penting sebagai platform untuk menyebarkan berbagai pemaknaan, termasuk pemaknaan hadis tentang zuhud. Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana hadis-hadis tentang zuhud dikonstruksi dalam media sosial, khususnya melalui akun Instagram Aa Gym. Metodologi yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis isi, dimana data diambil dari postingan akun Instagram Aa Gym. Melalui proses menentukan objek, pembuatan kategori, dan unit analisis, studi ini menemukan bahwa Aa Gym mengonstruksi pemaknaan hadis tentang zuhud dengan menekankan pada aspek spiritualitas dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, sikap hidup yang tidak terpaut pada duniawi, dan kehidupan yang sederhana serta tidak berlebihan. Lebih lanjut, penelitian ini mengungkap bahwa konstruksi pemaknaan tersebut disampaikan dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dan mampu menyentuh hati audiens, seperti terlihat dari jumlah komentar positif di media sosial.
Kesehatan dan Sunnah: Analisis Konsumsi Semangka dan Kurma Dalam Hadis Nabi Muhammad Saw Prasetyo, Iman Darmawan; Nuh Siregar, Muhammad
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.23022

Abstract

This article aims to examines the consumption of watermelon and dates as recommended in the Hadith, exploring the nutritional content and potential health benefits of both fruits. The study aims to understand how these recommendations can be implemented in daily life to enhance overall well-being. The methodology employed is qualitative descriptive research with a critical analysis paradigm, based on a literature review. The primary sources for this research are Kutub at-Tis’ah and relevant secondary literature. The authenticity and health implications of the Hadith are validated through classical takhrij method analysis. The findings suggest that watermelon and dates, both rich in nutrients, offer various health benefits including improved hydration, blood pressure management, and reduced risk of chronic diseases. The Hadith not only reveals Prophet Muhammad SAW's healthy eating practices but also provides a balanced dietary guideline that aligns with contemporary health knowledge. Integrating the teachings of the Hadith on watermelon and dates into modern dietary practices enables Muslims to achieve optimal nutritional balance and enhance their overall health quality.Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsumsi semangka dan kurma yang direkomendasikan dalam Hadis, dengan mengeksplorasi kandungan nutrisi dan potensi manfaat kesehatan dari kedua buah tersebut. Tujuan kajian ini adalah untuk memahami bagaimana rekomendasi ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna meningkatkan kesejahteraan umum. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan paradigma analisis kritis, berdasarkan studi literatur. Sumber utama penelitian ini adalah Kutub at-Tis’ah dan literatur sekunder yang relevan. Analisis sanad hadis dilakukan menggunakan metode takhrij klasik untuk memvalidasi keautentikan dan implikasi kesehatan dari hadis tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa semangka dan kurma, keduanya kaya akan nutrisi, menawarkan berbagai manfaat kesehatan seperti peningkatan hidrasi, manajemen tekanan darah, dan pengurangan risiko penyakit kronis. Hadis ini tidak hanya mengungkap praktik makan sehat Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menyajikan panduan diet yang seimbang yang relevan dengan pengetahuan kesehatan kontemporer. Integrasi ajaran hadis tentang semangka dan kurma dalam praktik diet modern memungkinkan umat Islam untuk mencapai keseimbangan gizi yang optimal dan meningkatkan kualitas kesehatan secara keseluruhan.
Ismail Raji Al-Faruqi: The Islamization of Sciences and Its Philosophy IT, Suraiya
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.23423

Abstract

Islam is a way of life that provides guidance and direction to Muslims in all aspects. However, the separation between religion and secularism has become a reality, leading to various issues. The lack of knowledge about Islam and illiteracy has made the faith of Muslims emotional and intolerant in religious matters. Conversely, young graduates from secular institutions possess deep scientific knowledge but lack understanding of religious issues, creating tension between modern and religious groups, which ultimately causes social, political, and economic instability. This article aims to analyze Al Faruqi's ideas and thoughts on the Islamization of Knowledge and how this approach can address the conflict between contemporary science and Islamic principles, as well as strengthen the unity and development of the Muslim community. This research employs a qualitative method with a textual analysis approach to Al Faruqi's works. The primary data sources consist of Al Faruqi's writings on the Islamization of Knowledge and secondary literature discussing his thoughts. The data analysis technique involves examining the arguments put forth by Al Faruqi and assessing their relevance and application in the modern context. The research finds that Al Faruqi presents several important arguments, one of which is that contemporary sciences lack objectivity and are not entirely scientific because humans cannot be neutral or value-free. He argues that Allah created humans with the gift of Al’aql (mind and reasoning) and senses to influence and be influenced. Only when these sciences adopt divine principles and an ummatic approach can they be applied universally. Al Faruqi's approach to the Islamization of Knowledge offers a solution to address the conflict between modern and religious groups by emphasizing the integration of scientific knowledge with Islamic principles. This not only enhances understanding and tolerance within the Muslim community but also has the potential to strengthen the social, political, and economic stability of Muslims as a whole. 
Masyarakat Nelayan dalam Merawat Multikulturalisme Liata, Nofal; Alawiyah, Tuti; Natasya, Zahwa
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.25442

Abstract

This study explores the concept of multiculturalism within the fisherman community of Pusong Village, Lhokseumawe, Aceh Province. Here, multiculturalism naturally emerges among low-income and fisherman populations, not upheld by the educated members of the society. This research aims to identify how multiculturalism is maintained in a village that has historically grown on the outskirts of Lhokseumawe since the beginning of Indonesia's independence. The focus is on understanding the existing social relationship patterns, exploring the multicultural understanding developed by the community, and investigating why the majority of the fisherman community accepts a diversity of ethnicities and religions in their village. A qualitative descriptive methodology was employed, with data gathered through field observations, in-depth interviews, and relevant literature analysis. The findings reveal that the sustenance of multiculturalism in Pusong Village is supported by communal empathy, active roles of community leaders as models of socialization, high social concern, social interactions transcending individual backgrounds, and strong adherence to local norms and rules. Multiculturalism in Pusong Village organically evolves, significantly influenced by the economic and social dynamics associated with the village's position as a port and market area. This study demonstrates how ethnic and religious diversity in Pusong Village can serve as an exemplar of how diversity can promote social harmony and enhance communal welfare.Abstrak: Penelitian ini menggali konsep multikulturalisme dalam komunitas nelayan di Desa Pusong, Lhokseumawe, Provinsi Aceh. Dalam studi ini, multikulturalisme muncul secara alami di kalangan masyarakat berpendapatan rendah dan buruh nelayan, bukan dikawal oleh warga berpendidikan. Fokus penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bagaimana multikulturalisme dipertahankan di desa yang secara historis tumbuh di pinggiran kota Lhokseumawe sejak awal kemerdekaan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pola hubungan sosial yang ada, menggali pemahaman multikultural yang dibangun oleh masyarakat, dan menjelajahi alasan penerimaan ragam etnis dan agama oleh mayoritas masyarakat nelayan di desa tersebut. Metodologi yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan analisis literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeliharaan multikulturalisme di Desa Pusong didukung oleh empati antar komunal, peran aktif tokoh masyarakat sebagai model sosialisasi, kepedulian sosial yang tinggi, interaksi sosial yang melampaui latar belakang individu, dan pengikatan kuat pada norma serta aturan lokal. Multikulturalisme di Desa Pusong berkembang secara organik, terutama dipengaruhi oleh dinamika ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan posisi desa sebagai area pelabuhan dan pasar. Penelitian ini mengungkapkan bahwa adaptasi dan toleransi yang terjadi di Desa Pusong dapat menjadi contoh bagaimana diversitas etnis dan agama dapat mempromosikan harmoni sosial dan meningkatkan kesejahteraan komunal.  
Keterlibatan Pemerintah dalam Pengamalan Beragama di Banda Aceh Nurlaila, Nurlaila
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.25534

Abstract

This study explores the phenomena of objectification and scientification in religious life in Indonesia, focusing specifically on the province of Aceh, where Islamic Sharia is fully implemented. Building on Kuntowijoyo's insights into the transformation of the Indonesian Muslim community, this research employs a phenomenological approach to understand the perceptions of the Banda Aceh community regarding governmental involvement in religious regulation. Data were collected using qualitative methods, including in-depth interviews with diverse community groups. The findings reveal that the majority of the Aceh community supports the implementation of Islamic Sharia, which has become an integral part of their daily lives. However, criticisms from young intellectuals have been identified, highlighting potential issues in the Sharia application that may sideline minority rights and divert attention from crucial social issues such as poverty and unemployment. These results provide a critical perspective on the discourse surrounding the implementation of Islamic Sharia in Aceh and its social and political implications.Abstrak: Penelitian ini meneliti bagaimana objektifikasi dan ilmu mempengaruhi praktik keagamaan dengan fokus khusus pada provinsi Aceh yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh. Berlandaskan pandangan Kuntowijoyo tentang transformasi masyarakat Islam Indonesia, studi ini menggunakan pendekatan fenomenologis untuk memahami persepsi masyarakat Banda Aceh terhadap keterlibatan pemerintah dalam regulasi keagamaan. Data dikumpulkan melalui metode kualitatif, mencakup wawancara mendalam dengan berbagai kelompok masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Aceh mendukung penerapan syariat Islam, yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Namun, teridentifikasi pula kritik dari pemikir muda yang menyoroti penerapan syariat yang berpotensi mengesampingkan hak-hak minoritas serta mengalihkan fokus dari isu sosial penting seperti kemiskinan dan pengangguran. Temuan ini menambahkan perspektif kritis terhadap diskursus tentang penerapan syariat Islam di Aceh, serta implikasi sosial dan politik yang menyertainya.

Page 1 of 1 | Total Record : 10