cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ketahanan Nasional
ISSN : 08539340     EISSN : 25279688     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 527 Documents
indonesia, pbb dan hak asasi manusia internasional1 Desra Percaya
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 8, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22969

Abstract

Perkembangan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari situasi perkembangan politik dalam negeri dan situasi politik internasional yang berlaku pada masa itu. Oleh karena itu, faktor-faktor subjektif dan objektif seperti kepentingan nasional, sejarah nasional dan lingkungan eksternal turut mempengaruhi upaya pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. Dalam kaitan ini, kondisi dan dinamika yang terjadi di Indonesia dan perkembangan yang terjadi di dunia internasional telah dan akan terus mempengaruhi bagaimana Indonesia meletakkan isu HAM sebagai kebijakan politik dan sekaligus mereali­sasikan serta rnenghormati hak-hak tersebut.
Mewaspadai Dan Menyikap iGlobalisasi Wahyono S K
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 12, No 1 (2007)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22117

Abstract

Pada akhir tahun 1970-an ada dun fenomena yang menonjol, yaitu pertama, adanya kernajuan teknologi informasi dan komunikasi yang dapat menjangkau sernua titik di muka bumi, yang kedua, adanya kejenuhan ekonomi dalam negeri Negara-negara besar sehingga membutuhkan ekspansi ke pasar dunia.Fenomena pertama telah menzbuat dunia seperti tanpa jarak dan menjadi lebih terbuka sehingga terjadi globalisasi informasi. Sedangkan fenomena kedua dengan dukungan infrastuktur transportasi laut global telah menggerakkan ekonomi Negara-negara besar yang terbatas ruang geraknya di dalam negeri untuk menyerbu pasar dunia dengan mentaksakan adanya pasar bebas dan perdagangan bebas, sehingga akhirnya terjadi globalisasi ekonomi.
LIBERALISASI DAN STRATEGI KEAMANAN EKONOMI NASIONAL PENGALAMAN DARI JEPANG Nanang Pamuji dan Armaidy Armawi
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 3, No 2 (1998)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.11688

Abstract

Globalisasi dan liberalisasi ekonomi dunia, sebuah gejala yang oleh sebagian teoritasi dianggap memiliki dampak positif, kini mulai dicurigai sebagai bentuk"imperalisasi baru" dari negara maju untuk memotong kreatifitas dan daya saing negara berkembang dalam peraturan politik ekonomi international. Bentuk perlawanan terhadap upaya liberalisasi dapat bemacam-macam: dari membangun koalisi internasional (seperti yang dilakukan kelompok 77), menolak rajim liberalisasi ekonomi (negra-negra sosialisasi yang isoasionis, sepertti Korea Utara dan Kuba), atau dengan memanfaatkan berbagai peluang (loopholes) dari rajim liberalisasi tersebut, agar dapat menekan seoptimal mungkin dampak negatif liberalisasi terhadap sektor domestik.Dalam konteks tersebut, Jepang merupakan negara yang telah "teruji" kemampuanya untuk mempertahankan diri dari "serangan" liberalisasi tersebut. Tulisan ini merupakan suatu studi kasus untuk memperlihatkan bagaimana suatu ekonomi nasional dapat bertahan dari tekanan rejim internasional (atau tekanan dari negara lain yang lebih kuat) agar melakukan liberalisasi ekonomi. Tujuan tulisan ini adalah mengembangkan suatu studi empirik dalam rangka membangun strategi"ketahanan dan keamanan ekonomi nasional".    
Daulat-Rakyat Versus Daulat-Pasar Sri Edi Swasono
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 9, No 3 (2004)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22155

Abstract

Globalisasi, sebagai sempalan doktrin globalisme yang mulia, ternyata merupakan paham liberalisme baru untuk menjadi topeng bagi pasar-bebas, yang justru mengabaikan cita-cita globalisme ramah untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan mondial. Namun mungkin mulai ada semacam ada titik-balik, berkat adanya kesadaran baru, bahwa tahun lalu PBB mulai menggariskan "Delapan Tujuan Milenium" (Eight Millennium Development Goals/MDGs) yang mulai kurang menaruh kepercayaan pada mekanisme pasar-bebas. Implisit tersirat bahwa intervensi dan perencanaan oleh negara untuk mencapai delapan MDGs itu mulai diperlukan.
Persepsi Pemuda Tentang Keistimewaan Yogyakarta Bagi Ketahanan Politik Wilayah (Studi Pada Pengurus Karang Taruna Kabupaten Bantul Pariode 2014-2019) Muhammad Pranasik Faihaan
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 21, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.15661

Abstract

AbstractThe goals in this research were to knew the youth perceptions about the privilege of Yogyakarta for regional political resilience of Yogyakarta Special Region. The purpose of this study was to answered the research questions: regarding the condition Karang Taruna Bantul at district level and how the youth perceptions  about the privilege of Yogyakarta Special Region of Yogyakarta political resilience. This research was a field (field study research) using descriptive research method. The researcher did the collection of data using observation, in-depth interviews, and collection of documentation associated with the subject  and  object of research.The youth people  as a board of Karang Taruna Bantul supported, agreed and ready  to carried out the determination of the Sultan and Pakualam as governor. The impact of the youth's perception of the status of Yogyakarta privilege could be seen with the program  which many did several activities related to the privilege of Yogyakarta. Other support that was done by inserting a distinctive agenda in programs such as coming to socialized the laws and regulations derivative of privilege to the general public. The deferences of the youth perceptions was look at the opinion about Sultan Hamengku Buwono X succession. Allthough, There were diferent perceptions about The perceptions, The Regional political resilience in Yogyakarta Special Region remained relatively resilient to the legitimacy of the people of Yogyakarta and the central government.ABSTRAK Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi pemuda tentang keistimewaan Yogyakarta dan implikasinya bagi ketahanan politik Daerah Istimewaan Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field study research) dengan menggunakan metode penelitian diskriptif (descriptive research). Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara mendalam, dan pengumpulan berbagai dokumentasi yang terkait dengan subjek maupun objek penelitian..Dampak dari persepsi pemuda terhadap status keistimewaan Yogyakarta bisa dilihat dengan program kerja Karang Taruna Kabupaten Bantul yang banyak melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan agenda keistimewan Yogyakarta. Pemuda yang duduk sebagai pengurus Karang Taruna Kabupaten Bantul mendukung, setuju dan siap melaksanakan penetapan Sri Sultan dan Pakualam sebagai gubernur. Dukungan lain yakni dilakukan dengan memasukkan agenda keistimewaan dalam program-program Karang Taruna Kabupaten Bantul seperti ikut mensosialisasikan UU serta peraturan turunan tentang keistimewaan kepada masyarakat luas. Perbedaan persepsi pemuda terihat jelas pada pandangan tentang suksesi kepemimpinan pasca Sri Sultan Hamengku Buwono X. Meskipun terjadi perbedaan persepsi tentang ketahanan politik wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta tetap relatif tangguh dengan adanya legitimasi dari rakyat Yogyakarta dan pemerintah pusat
Peningkatan Kinerja Pt. Kereta Api Indonesia Pada Pelayanan Keamanan Dan Keselamatan Publik Dalam Rangka K1etahanan Nasional Max Ruland
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 14, No 3 (2009)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22303

Abstract

Tantangan PT. Kereta Api Indonesia untuk mewujudkan dan memberikan keamanan clan keselamatan kepada pemakai jasa moda kereta api sangatlah besar. Beberapa tantangan yang penulis rumuskan terkait dengan faktor eksternal ter- sebut meliputi sebagaimana uraian di bawah mi.Tantangan pertama yaitu keterpaduan den gan moda lain. Salah satu permasalahan kurang berkembangnya pelayanan kereta api saat ini, bahkan cenderung men galami penurunan clan juga sudah tidak beroperasi lagi seperti di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Lampung, serta angkutan ba- rang di Pulau Jawa, adalah disebabkan kurang terpadunya jaringan, simpul bongkar muat/stasiun mau pun keteivaduan pelayanan, seperti pola kedatangan dan keberangkatan. Sebagaimana kita ketahui bersama, lokasi stasiun dan jaringan kereta api ham pir semua belum berubah dan ber- tambah sejak zaman penjajahan Hindia Belanda, sedangkan pembangunan prasarana transportasi jalan (jalan dan ter- minal), transportasi laut (pelabuhan) clan transportasi udara (bandara) terus berkembang, tetapi tidak terpadu den gan prasarana kereta api. Hal ini disebabkan oleh pen gembangan sarana dan prasarana transportasi di Indonesia tampaknya berjalan sendiri-sendiri karena instarzsi yang menangartinya berbeda, sebagai con toh prasarana jalan oleh Departemen Pekerjaan Umum sedan gkan KA oleh Departemen Perhu- bungan; nampalcnya koordinasi perencanaan hanya sebatas rapat, sedan gkan aplikasinya berjalan sendiri-sendiri
Sebuah Kajian Awal Ten- Tang Keterkaitan Pasukan Paramiliter Dan Militer, Dengan Faham Militerisme Dan Fasisme Di Indonesia Saafroedin Bahar
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 6, No 1 (2001)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22025

Abstract

Sebagai suatu institusi dapat dikatakan bahwa jajaran militer Indonesia berasal dari satuan-satuan paramiliter yang tumbuh secara spontan di kalangan pemuda militan setelah beredarnya berita ten tang proklamasi kemerdekaan medio bulan Agustus 1945. Kenyataan tersebut mungkin berasal dari keragu-raguan pendiri negara untuk secara langsung membentuk Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara, walaupun hal itu sudah tercantum resmi dalam pasal 10 UUD 1945. Kenyataan tersebut juga berdampak pada citra diri, doktrin, kebijakan, strategi, taktik, dan teknik militer yang mereka kembangkan kemudian. Setidak-tidaknya secara teori, militer Indonesia tidak pernah dirancang untuk beroperasi penuh sebagai institusi militer yang profesional. Kaitan dengan pecan pasukan paramiliter dan masyarakat selalu menjadi pertimbangan. Keragu­raguan tersebut mungkin berkait dengan dua faktor penyebab.
Implementasi Model Pembelajaran Pilot Project Citizen Berbasis Nasionalisme Pada Pendidikan Kevvarganegaraan Demi Mewujudkan Karakter Peserta Didik Rima Vien Permata Anita Trisiana2
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 17, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22697

Abstract

Peru bahan masyarakat berjalan begitu cepat, dan sistem sosialpun mengalami perubahan yang cukup sign ifikan. Dilematika perubahan sosial tersebut mempengaruhi perubahan individu, dan berdampak pula terhadap bidang kehidu pan yang lainnya. Salah satunya bidang pendidikanpun tidak bisa terlepas dari dampak perubahan sosial tersebut. Hal ini akan berpengaruh juga terhadap pembentukan dan pengembangan karakter peserta didik. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai salah satu mata ajar yang berbasis nilai akan menjadi salah satu alternatif dalam mengembangkan karakter peserta didik. Perubahan sosial dalam masyarakat dapat juga berdampak terhadap pergeseran nilai - nilai nasionalisme yang dapat menganggu internalisasi nilai sebagaimana yang diusung dalam mata ajar pendidikan kewarganegaraan di sekolah. Oleh karena itu perlu adanya pengembangan model pembelajaran dalam Pendidikan Kewarganegaraan yang berbasis nasionalisme di sekolah demi mezvujudkan karakter peserta didik, dalam hal ini model pembelajaran yang akan dikembangkan adalah pilot project citizen
Etika Teknik Terapan T Jacob
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 11, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22108

Abstract

Pada waktu soul pendidikan dan penelitian etika didedahkan di Universitas Gadjah Mada pada awal tahun 1980an, yang mencakup segala fakultas dan disiplin, tidak hanya kedokteran, hukum dan jurnalistik saja, banyak yang acuh tak acuh, bahkan skeptis dan hostile, terutama dikalangan teknik dan ekonomi. Demikian juga saya alami di Surakarta, Semarang, Jakarta dan Surabaya. Profesi kedokteran ketika itu lebih memperhatikan kode etik dan baru kemudian, dengan perkembangan bioteknologi, orang memperhatikan bioetika, ditambah dengan perkembangan transpianstasi dan teknologi reproduksi. Hukum merupakan lahan yang kurang subur sampai sekarang untuk menyemai dan menanam kode etik . jurnalistik tampaknya sulit merumuskan dan menerapkan kode etik dalam jurnalistik elektronik. Etika teknik (engineering) dan teknologi keras terhambat oleh jarak antara dirinya dan manusia yang merasakan dampaknya, lebih-lebih dalam teknik energi nuklear dan teknologi persenjataan. Masih ada juga yang men yangka, bahwa ilmu alamiah dan teknologi itu bebas nilai serta antara teknik dan budaya tidak terdapat hubungan yang erat.
Ketahanan Nasional Dan Panetika T Jacob
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 2, No 3 (1997)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.11639

Abstract

Panetika (penetics) adalah ilmu yang mempelajari derita, istilah ini berasal dari peneti, yang dalam bahasa Pali berarti derita. Yang menjadi pusat perhatian penetika adalah penderitaan yang ditimbulkan manusia terhadap hean serta lingkungan, dan sebaliknyaiapun dirundungi derita oleh hewan dan lingkungan, dan sebaliknya iapun dirundung derita oleh hewan dan lingkungan . Tetapi yang menjadi tema utama penetika adalah pertukaran derita antara manusia yang timbul atau sengaja ditimbulkan dalam interaksinya, baik pada peringkat individu, keluarga, kelompok, bangsa dan aliansi bangsa. Ada kecenderungan derita yang ditimbulkan makin besar sekarang, seiring dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, jumlah interaksi manusia yang makin intensif, serta jumlah penduduk dunia dan jumlah negara yang bertambah banyak. Makin banyak derita yang ditimpakan oleh manusia pada kutup seberang. Berkurangnya hewan pemangsa liar sekarang meninggalkan lowongan yang lalu diisi oleh manusia, sehingga interaksi interspesifik beralih ke interaksi intraspesifik, yang tidak kurang mengandung kekerasa.Penimpaan derita terhadap sesama setua sejarah manusia, hanya skala, kedahsyatan, kecepatan, kekerapan dan modusnya yang berubah. Penderitaan kadang-kadang di pakai untuk menakut-nakuti dan memaksa orang patuh pada peraturan dan pemimpin. Macchiavelli menganggap seorang pemimpin lebih baik ditakuri dari pada dicintai, agar kekuasaanya lebih lestari. Gubernur Jendral Inggris di India, Lord Ellenborough, menakut-nakuti rakyat Afghanistan untuk mengembalikan wibawa Inggeris, dengan menyerbu Kabul dan Istalif pada tahun 1842 dan menghancurkannya. Pengungsi yang lari ke hutan kertau (mserbei) dikejar, lalu semua lelaki dewasa dibunuh dan yang perempuan diperkosa.

Filter by Year

1996 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 3 (2025) Vol 31, No 2 (2025) Vol 31, No 1 (2025) Vol 30, No 3 (2024) Vol 30, No 2 (2024) Vol 30, No 1 (2024) Vol 29, No 3 (2023) Vol 29, No 2 (2023) Vol 29, No 1 (2023) Vol 28, No 3 (2022) Vol 28, No 2 (2022) Vol 28, No 1 (2022) Vol 27, No 3 (2021) Vol 27, No 2 (2021) Vol 27, No 1 (2021) Vol 26, No 3 (2020) Vol 26, No 2 (2020) Vol 26, No 1 (2020) Vol 25, No 3 (2019) Vol 25, No 2 (2019) Vol 25, No 1 (2019) Vol 24, No 3 (2018) Vol 24, No 2 (2018) Vol 24, No 1 (2018) Vol 23, No 3 (2017) Vol 23, No 2 (2017) Vol 23, No 1 (2017) Vol 22, No 3 (2016) Vol 22, No 2 (2016) Vol 22, No 1 (2016) Vol 21, No 3 (2015) Vol 21, No 3 (2015) Vol 21, No 2 (2015) Vol 21, No 2 (2015) Vol 21, No 1 (2015) Vol 21, No 1 (2015) VOL. XXI, NO. 1 APRIL 2015 Vol 20, No 3 (2014) Vol 20, No 2 (2014) Vol 20, No 1 (2014) Vol. XX, No. 3, Desember 2014 VOL. XX, NO. 2, AGUSTUS 2014 VOL. XX, NO. 1, APRIL 2014 Vol 19, No 3 (2013) Vol 19, No 2 (2013) Vol 19, No 1 (2013) VOL. XIX, NO. 3, DESEMBER 2013 VOL. XIX, NO. 2, AGUSTUS 2013 VOL. XIX, NO. 1, APRIL 2013 Vol 17, No 3 (2012) Vol 17, No 2 (2012) Vol 17, No 1 (2012) Vol 16, No 3 (2011) Vol 16, No 2 (2011) Vol 16, No 1 (2011) Vol 15, No 3 (2010) Vol 15, No 2 (2010) Vol 15, No 1 (2010) Vol 14, No 3 (2009) Vol 14, No 2 (2009) Vol 14, No 1 (2009) Vol 13, No 3 (2008) Vol 13, No 2 (2008) Vol 13, No 1 (2008) Vol 12, No 3 (2007) Vol 12, No 2 (2007) Vol 12, No 1 (2007) Vol 11, No 3 (2006) Vol 11, No 2 (2006) Vol 11, No 1 (2006) Vol 10, No 3 (2005) Vol 10, No 2 (2005) Vol 10, No 1 (2005) Vol 9, No 3 (2004) Vol 9, No 2 (2004) Vol 9, No 1 (2004) Vol 8, No 3 (2003) Vol 8, No 2 (2003) Vol 8, No 1 (2003) Vol 7, No 3 (2002) Vol 7, No 2 (2002) Vol 7, No 1 (2002) Vol 6, No 3 (2001) Vol 6, No 2 (2001) Vol 6, No 1 (2001) Vol 5, No 3 (2000) Vol 5, No 2 (2000) Vol 5, No 1 (2000) Vol 4, No 3 (1999) Vol 4, No 2 (1999) Vol 4, No 1 (1999) Vol 3, No 3 (1998) Vol 3, No 2 (1998) Vol 3, No 1 (1998) Vol 2, No 3 (1997) Vol 2, No 2 (1997) Vol 2, No 1 (1997) Vol 1, No 1 (1996) More Issue