cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ketahanan Nasional
ISSN : 08539340     EISSN : 25279688     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 527 Documents
Sistem Militer Wahyono SK
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 5, No 2 (2000)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.23274

Abstract

Hampir seluruh sejarah hidup manusia di dunia sejak awal sampai sekarang berisi perang. Sebuah studi mengungkapkan bahwa dunia memang hampir tidak pernah bebas dari perang, sehingga keadaan damai hanya sebagian kecil saja dari masa panjang sejarah manusia (Quincy Wright, A Study of War, 1942 juga Will dan Ariel Durant, The Lessons of History, 1968). Bahkan seorang penulis mengatakan : "it has been an inseparable part of the evo­lution of mankind " (Efraim Karsh, The Causes of War, dalam Lawrence Freedman, War, 1994).Kaidah pertama dari Sun Tzu tentang perang berbunyi: " War is a matter of vital importance to the state, the province of life or death, the road to survival or ruin. It is mandatory that it be thoroughly studied " (Sun Tzu, The Art of War, terjemahan Samuel B. Griffith, 1963). Seratus tahun kemudian Thucydides dari Yunani mem­peringatkan perlunya mempelajari sejarah perang untuk rnencegah timbulnya kembali penyebab perang : "so that no one may ever have to seek the cause that led to the outbreak of so great a war " (Thucydides, The Pelo­ponnesian War, terjemahan Richard Crawley).
PENGATURAN RUANG UDARA DIATAS ALUR LAUT KEPULAUAN INDONESIA (ALKI) Ahmad Dirwan
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 16, No 3 (2011)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.12646

Abstract

Pengakuan internasional terhadap prinsip-prinsip Negara kepulauan yang sekian lama diperjuangkan oleh Bangsa Indonesia, telah menjadi kenyataan dengan disepakatinya hukum laut Internasional "United Nations Convention On The Law Of The Sea" (UNCLOS 1982), yang ditandatangani oleh 117 negara pada tanggal 10 Desember 1982, berarti suatu negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau lebih kepulauan dan dapat mencakup beberapa pulau. 'Kepulauan" berarti suatu gugusan pulau , termasuk bagian pulau, perairan di antaranya dan wujud alamiah yang hubungan satu sama lain demikian aratnya, sehingga pulau-pulau , perairan di antaranya dan wujud alamiah yang hubungan satu sama lain demikian eratnya, sehingga pulau-pulau, perairan dan wujud alamiah tersebut, merupakan suatu kesatuan geografi, ekonomi dan politik yang hakiki. Indonesia sebagai salah satu negara kepulauan, telah meratifikasi UNCLOS tersebut dengan UU nomor 17 tahun 1985 sebagai kelanjutan perwujudan dari konsep Doktrin Wawasan Nusantara yang merupakan satu kesatuan terhadap tanah, daratan dan perairan
Akses, Penggunaan Dan Faktor Penentu Pemanfaatan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Pada Kawasan Pertanian Komersial Untuk Mendukung Ketahanan Pangan Di Perdesaan Yogyakarta Subejo Subejo; Ratih Ineke Wati; Mesalia Kriska; Najmu Tsaqib Akhda; Ade Intan Kristian; Ani Dwi Wimatsari; Paksi Mei Penggalih
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 24, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.30270

Abstract

ABSTRACT Utilization of information and communication technologies (ICTs) had changed the diversity of agricultural extension and communication services which required alternatives for users of the services. Higher and better speed of information services was considerably recquired for supporting the sustainability of commercial farming business which in turn could facilitate the achievement of  high status of food resilience. The goals of research were: (1). Describing access and function of ICTs for agricultural community, (2). Describing pattern on the usage of ICTs for supporting agricultural activities, (3). Analyzing the determinant factors on the usage of ICTs for supporting agricultural activities. The research method used in the study was analytical descriptive with survey research technique. The sites of study were commercial farming areas in Yogyakarta namely Patuk Gunungkidul, Turi Sleman, Sanden Bantul and Panjatan Kulon Progo. Sample were selected by using simple random sampling method. Data had been collected by using structured questionnaire, observation and indepth interview. While data analysis had been done by using descriptive statistic and multiple regression. Study results showed that (1). Ownership of ICTs media in all of research sites was considerably high including conventional media and new media which both had high capability providing information and entertaninment, but the function on education was still considerably limited, (2). Utilization of ICTs for supporting agricultural activities was: conventional media (television and radio) for providing information on technical production, policy and marketing, while new media (handphone and smartphone) for providing information on technical production, policy, marketing and financial aspect, (3). Determinant factors on ownership of ICTs were age and social status, and (4). Determinant factors on the usage of ICTs for supporting agricultural activities were age and sex of farmers.ABSTRAK Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menyebabkan adanya perubahan keragaman (diversifikasi) layanan penyuluhan dan komunikasi pertanian yang memberi alternatif lebih baik bagi para pengguna layanan. Kecepatan layanan informasi sangat diperlukan untuk mendukung keberlanjutan pertanian komersial sehingga pada gilirannya dapat berkontribusi pada pencapaian ketahanan pangan yang tinggi. Tujuan penelitian adalah (1) Mengetahui akses dan fungsi TIK bagi masyarakat pertanian, (2) Mengetahui pola penggunaan TIK untuk pertanian oleh masyarakat  pertanian dan (3) Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan TIK untuk mendukung kegiatan pertanian. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan teknik penelitian survey. Lokasi penelitian adalah kawasan pertanian komersial di Yogyakarta yang mencakup Patuk Gunungkidul, Turi Sleman, Sanden Bantul dan Panjatan Kulon Progo. Sampel dipilih dengan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner terstruktur, observasi dan wawancara mendalam. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dan dan regresi berganda. Hasil studi menunjukkan bahwa (1). Kepemilikan media TIK di semua lokasi kajian cukup tinggi (media konvensional dan media baru) yang mampu melayani penyediaan informasi dan hiburan, namun fungsi edukasi masih sangat terbatas, (2). Penggunaan media TIK untuk mendukung kegiatan pertanian: media konvensional (televisi radio) untuk teknis produksi, kebijakan dan pemasaran, sedangkan media baru untuk untuk informasi teknis produksi, pemasaran, kebijakan dan 
Memaknai Kembali Ketahanan Pangan Armaidy Armawi
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 14, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22183

Abstract

Kemampuan pertanian Indonesia belum cukup men ggem- birakan karena masih terda pat ketergantungan pada pangan impor, sehingga tan pa perbaikan sistem yang menyeluruh maka pasar pangan Indonesia akan diincar oleh produsen luar negeri. Upaya memban gun kemandirian pan gan bagi Indonesia sangat sulit dan pasti akan menda pat tantangan dari ban yak produsen pangan luar negeri. Hal ini disebabkan apabila Indonesia mandiri di bidang pangan, maka akan hilanglah pasar yang besar bagi produk pan gan negara- negara eksportir. Indonesia telah lama dikenal sebagai negara agraris (mayoritas penduduknya bermata pencaharian seba- gai petani); ironisnya justru merupakan salah satu negara pengimpor beras yang cukup besar di dunia yaitu 2 juta ton/th, impor gula 1,6 juta ton/th nomor 2 terbesar di dunia, impor kedelai 1,1 juta ton/th, impor gandum 4,5 juta ton/ th, impor jagung 1,2 juta ton/th, impor ternak sapi 450.000 ekor/th. Data tersebut memperlihatkan beta pa besarnya pan gsa pasar pangan Indonesia, sehingga kondisi yang demikian akan menjadi incaran dan peluang pasar bagi produsen pangan dunia (Yudo Husodo, 2003).
Peranan Pbb Di Bidang Pemeliharaan Perdamaian Pascaperang Dingin: Reformasi, Restrukturisasi, Revitalisasi A Hasnan Habib
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 2, No 1 (1997)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.19164

Abstract

Pada tanggal 24 Oktober 1995, PBB memperingati hari jadinya yang ke-50 dengan mengadakan pertemuan terbesar dari para kepala negara/ pemerintahan negara-negara yang pernah terjadi dalam sejarah. Pada sidang yang khusus diadakan untuk itu, para pemimpin puncak itu menyampaikan pikiran dan harapannya selama waktu yang ditentukan, tetapi tidak ada satu pun fikiran yang merupakan terobosan ataupun mempunyai arti bersejarah besar bagi kehidupan damai dan sejahtera di permukaan bumi ini. Selesai berpidato, umumnya mereka melakukan agendanya masing-masing, tanpa meninggalkan bekas apa-apa bagi badan dunia itu. PBB tetap seperti se diakala, melakukan business as usual dengan menghadapi berbagai macam kendala, yang beberapa di antaranya berada di luar kemampuannya untuk mengatasinya. PBB tetap tanpa pegangan, baik mengenai bentuk maupun arah untuk memasuki abad ke­21 yang sudah di ambang pintu.
Strategi Pembangunan Infrasuktur Dalam Rangka Memperkuat Ketahanan Wilayah (Studi Kasus Di Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah) Agung Prasetyo
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 17, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22670

Abstract

yangkut hubungan timbal balik antara faktor ekonomi dan non ekonomi untuk dapat meningkatkan pendapatan nasional secara berkelanju tan (Kadiman, 2005:5). Salah satu faktor non ekonomi yang mendukung keberhasilan pembangunan, adalah infrastruktur.Kabupaten Cilacap merupakan kabupaten terluas Provinsi Jawa Ten gah, adanya pendapat bahwa terjadi ketimpangan pembangunan infrastruktur antara Cilacap bagian barat den gun timur yang tak seimbang men gakibatkan roda perekonomian di Cilacap bagian barat berjalan lebih lambat dibanding wilayah timur (Kompas.corn, 2011).Minimnya alokasi anggaran bidang infrastruktur, baik untukpemeliharaan, peningkatan kualitas dan pembangunan infrastruktur baru, ditenggarai sebagai salah faktor terpuruknya kondisi infrastruktur di Kabupaten Cilacap. Ham pir 90 persen Jalan Kabupaten di Kota Industri Cilacap rusak, bahkan dari sekitar 1.010 km panjang ruas jalan, lebih dari 50 persen kondisinya rusak parah, sedan gkan besaran alokasi yang disediakan APBD Cilacap tahun 2010 hanya satu persen atau sekitar Rp 10 miliar dari nilai APBD yang ada (Kompas.com, 2011).
Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Nasional Bidang Sosial Politik Saafroedin Bahar
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 7, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22080

Abstract

Pada dasarnya, konsep "paradigma" yang pertama kalinya dipopulerkan oleh Thomas Kuhn, berarti sebuah model berpikir dalam ilmu pengetahuan. Paradigma besar manfaatnya, oleh karena konsep ini mampu menyederhanakan dan menerangkan suatu kompleksitas fenomena menjadi seperangkat konsep dasar yang utuh. Paradigma tidaklah statis, karena ia bisa diubah jika paradigma yang ada tidak dapat lagi menerangkan kompleksitas fenomena yang hendak diterangkannya itu.
Peningkatan Peran Kepolisian Dalam Pemeliharaan Dan Pembinaan Keamanan Dalam Negeri Koesparmo Irsan
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 2, No 2 (1997)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.19173

Abstract

Permasalahan Kamtibmas, khususnya kriminalitas, mempunyai latar belakang yang luas dan kompleks serta senantiasa berkembang seirama dengan perkembangan kehidupan masyarakat. Meningkatnya laju pembangunan dewasa ini, selain telah berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat, ternyata telah berakibat samping­an yang negatif, yaitu tumbuhnya masalah-masalah sosial barn yang pada akhir­nya menjurus kepada bentuk-bentuk gangguan Kamtibmas dan kriminalitas.Sejalan dengan perkembangan pembangunan nasional tersebut, serta hasil dari intelektualisasi dan spesialisasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah pula dimanfaatkan dalam perbuatan kriminalitas-kriminalitas dewasa iniyang tidak hanya merupakan pelanggaran-pelanggaran peraturan pidana yang termuat dalam KUHP saja, tetapi juga berbagai perundangan-undangan di luar KUHP. Misalnya pelanggaran terhadap Undang-undang tentang tindak pidana ekonomi, merek, hak cipta, paten, wajib daftar perusahaan, perbankan, industri, pengelolaan lingkung­an hidup, ketenagakerjaan, perpajakan dan lain sebagainya.Dalam dunia kriminologi, kriminalitas yang erat dengan kehidupan ekonomi dan bisnis disebut sebagai corporate crime atau kejahatan korporasi. Kejahatan korporasi ini merupakan salah satu bentuk kejahatan berdimensi barn (the new dimension of crime). Bentuk kejahatan berdimensi lainnya dikenal dengan istilah white collar crime, computer crime, international crime dan lain sebagainya.Kejahatan korporasi pada saat ini bukan saja cenderung meningkat,. namun juga akibat yang ditimbulkananya dapat mengganggu program pemerintah di bidang ekonomi serta sistem ekonomi nasional yang bersendikan pasal 33 UUD 1945. Selain itu, pembuktian suatu kejahatan korporasi sangat sulit, bahkan seolah­olah kejahatan yang clilakukan itu bersembunyi di balik peraturan-peraturan yang berlaku.
Peranan Para Pemimpin Dan Patriot Bangsa Dalam Mem Pertahankan Kelang Sungan Hidup Bangsa Dan Negara Budisantoso Budisantoso
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 7, No 3 (2002)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.23180

Abstract

Pada tahun 2002 ini Republik Indonesia telah berusia hampir 57 tahun. Bila dibandingkan dengan usia manusia, dapat digolongkan usia tun yang telah memiliki kematangan (mature) dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Namun bila ditinjau dari umur negara-negara di dunia Negara Kesatuan Republik Indonesia masih dapat digolongkan anak­anak atau remafa. Anak-anak atau remaja dengan segala sifatnya yang belum "mature", serta niasih sering dihing­gapi penyakit anak seperti anak batuk, pilek, diarhea (mencret), dan terluka karena jatuh). Orang tun dan anaknya sendiri terus berupaya agar anak tersebut dapat pulih sehat kembali dari sakitnya, terus dibina dan dididik agar menjadi manusia dewasa yang sehat, kuat jasmani dan rohaninya
Distorsi Reformasi: Suatu Kajian Kritis Terhadap Proses Reformasi Moeljarto Tjokrowinoto
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 9, No 1 (2004)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22146

Abstract

Berakhirnya pemerintahan Presiden Soeharto pada bulan Mei 1998 telah membuka peluang bagi masyarakat dan bang-sa Indonesia untuk melaksanakan reformasi di dalam berbagai dimensi kehidupan nasionalnya, yang pada hakekatnya dimaksudkan utnuk menciptakan ethos baru, ethos yang akan menjadi konfigurasi dan referensi baru bagi masyarakat dan bangsa Indonesia di dalam perjalanan sejarahnya sepanjang millenium ini. Cakupan reformasi ini merentang mulai dare proses demokratisasi, penegakan hukum, otonomi dan desentralisasi, pelembagaan kepemerintahan yang baik, pemberdayaan masyarakat sipil, sampai ke perlindungan hak-hak azasi manusia. Namun secara implisit harus diakui bahwa reformasi yang tengah berjalan ini telah mengalami berbagai distorsi, sehingga menimbulkan "reformasi distortif (distorted reform). Proses reformasi yang tengah berlangsung agaknya juga telah mengalami impasse yang ditandai oleh adanya kesenjangan antara idealisme reformasi (das sollen) dan realisasi empiris reformasi (das seins) dengan berbagai manifestasinya. Dalam laporannya di Sidang Umum PBB pada tahun 1975 yang diberi judul What Now? Alternative Development 1, Dag HammarskjOld mengemukakan ten tang adanya kecenderungan terjadinya impasse pembangunan di banyak negara-negara di dunia ketiga sehingga mendemistifikasikan berbagai paradigma pembangunan yang selama ini menjadi acuan pembangunan di negara-negara tersebut. Analog dengan apa yang dikemukakan oleh Dag Hammarskjiild, pertanyaan yang sama agaknya dapat pula ditujukan pada proses reformasi di Indonesia: What Now? Alternative Reform? Pertanyaan ini perlu diajukan karena meskipun banyak kinerja positif reformasi yang telah diwujudkan, namun di era reformasi ini telah muncul pula berbagai pathologi baru atau persistensi dan intensifikasi pathologi lama yang mengindikasikan terjadinya kemunduran (set back) dari apa yang telah dicapai sebelumnya. Disamping itu, meskipun dimensi yang tercakup dalam proses reformasi cukup luas, namun kualitas pencapaiannya masih belum seperti apa yang kita harapkan bersama.

Filter by Year

1996 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 3 (2025) Vol 31, No 2 (2025) Vol 31, No 1 (2025) Vol 30, No 3 (2024) Vol 30, No 2 (2024) Vol 30, No 1 (2024) Vol 29, No 3 (2023) Vol 29, No 2 (2023) Vol 29, No 1 (2023) Vol 28, No 3 (2022) Vol 28, No 2 (2022) Vol 28, No 1 (2022) Vol 27, No 3 (2021) Vol 27, No 2 (2021) Vol 27, No 1 (2021) Vol 26, No 3 (2020) Vol 26, No 2 (2020) Vol 26, No 1 (2020) Vol 25, No 3 (2019) Vol 25, No 2 (2019) Vol 25, No 1 (2019) Vol 24, No 3 (2018) Vol 24, No 2 (2018) Vol 24, No 1 (2018) Vol 23, No 3 (2017) Vol 23, No 2 (2017) Vol 23, No 1 (2017) Vol 22, No 3 (2016) Vol 22, No 2 (2016) Vol 22, No 1 (2016) Vol 21, No 3 (2015) Vol 21, No 3 (2015) Vol 21, No 2 (2015) Vol 21, No 2 (2015) Vol 21, No 1 (2015) Vol 21, No 1 (2015) VOL. XXI, NO. 1 APRIL 2015 Vol 20, No 3 (2014) Vol 20, No 2 (2014) Vol 20, No 1 (2014) Vol. XX, No. 3, Desember 2014 VOL. XX, NO. 2, AGUSTUS 2014 VOL. XX, NO. 1, APRIL 2014 Vol 19, No 3 (2013) Vol 19, No 2 (2013) Vol 19, No 1 (2013) VOL. XIX, NO. 3, DESEMBER 2013 VOL. XIX, NO. 2, AGUSTUS 2013 VOL. XIX, NO. 1, APRIL 2013 Vol 17, No 3 (2012) Vol 17, No 2 (2012) Vol 17, No 1 (2012) Vol 16, No 3 (2011) Vol 16, No 2 (2011) Vol 16, No 1 (2011) Vol 15, No 3 (2010) Vol 15, No 2 (2010) Vol 15, No 1 (2010) Vol 14, No 3 (2009) Vol 14, No 2 (2009) Vol 14, No 1 (2009) Vol 13, No 3 (2008) Vol 13, No 2 (2008) Vol 13, No 1 (2008) Vol 12, No 3 (2007) Vol 12, No 2 (2007) Vol 12, No 1 (2007) Vol 11, No 3 (2006) Vol 11, No 2 (2006) Vol 11, No 1 (2006) Vol 10, No 3 (2005) Vol 10, No 2 (2005) Vol 10, No 1 (2005) Vol 9, No 3 (2004) Vol 9, No 2 (2004) Vol 9, No 1 (2004) Vol 8, No 3 (2003) Vol 8, No 2 (2003) Vol 8, No 1 (2003) Vol 7, No 3 (2002) Vol 7, No 2 (2002) Vol 7, No 1 (2002) Vol 6, No 3 (2001) Vol 6, No 2 (2001) Vol 6, No 1 (2001) Vol 5, No 3 (2000) Vol 5, No 2 (2000) Vol 5, No 1 (2000) Vol 4, No 3 (1999) Vol 4, No 2 (1999) Vol 4, No 1 (1999) Vol 3, No 3 (1998) Vol 3, No 2 (1998) Vol 3, No 1 (1998) Vol 2, No 3 (1997) Vol 2, No 2 (1997) Vol 2, No 1 (1997) Vol 1, No 1 (1996) More Issue