cover
Contact Name
STT Jaffray
Contact Email
sttjaffraymakassar@yahoo.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
sttjaffraymakassar@yahoo.co.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Penerbitan Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Jalan Gunung Merapi No. 103 Makassar, 90114
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Jaffray
ISSN : 18299474     EISSN : 24074047     DOI : -
Jurnal Jaffray adalah jurnal peer-review dan membuka akses yang berfokus pada mempromosikan teologi dan praktik pelayanan yang dihasilkan dari teologi dasar, pendidikan Kristen dan penelitian pastoral untuk mengintegrasikan penelitian dalam semua aspek sumber daya Alkitab. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, review, dan juga laporan kasus yang menarik. Review singkat yang berisi perkembangan teologi, tafsiran biblika dan pendidikan teologi yang terbaru dan mutakhir dapat dipublikasi dalam jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 458 Documents
Analisis Pengaruh Nyanyian Jemaat Terhadap Kualitas Ibadah Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Bukit Zaitun Makassar Rohani Siahaan
Jurnal Jaffray Vol 11, No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v11i2.82

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui, sejauh mana nyanyian jemaatmemengaruhi kualitas penyembahan umat dalam ibadah Gereja Protestan diIndonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Bukit Zaitun Makassar. Bagaimana umatmenyikapi nyanyian jemaat sebagai suatu liturgi, erat hubungannya untukmeningkatkan kualitas ibadah penyembahan umat di gereja protestan tradisionalseperti GPIB.Metode penelitian kualitatif dengan studi kasus. Data dikumpulkan secarainduktif melalui observasi kepada jemaat yang terdiri dari para pelayan musik(organis, kantoria, paduan suara), jemaat awam secara random untuk kemudiandianalisis..Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa jemaat tidak sepenuhnya tahu,kenal, dan sadar akan hakikat nyanyian dalam ibadah. Jemaat banyak tidakmemahami hubungan nyanyian dengan liturgi berlandaskan muatan teologia Alkitab,dan tradisi, sehingga jemaat cenderung bersikap acuh tak acuh dalam meresponnyanyian, begitupun pada saat menyanyikannya. Perbedaan pendapat di antarajemaat tentang penggunaan istilah penyembahan yang kurang dikenal dan tidak biasadi kalangan protestan tradisional – kata penyembahan sering dimaknai sebagaisebuah ritual khusus dalam liturgi ibadah kaum kharismatik – sehingga menjadipenghambat dalam memahami nyanyian sebagai sarana penyembahan dalam liturgi.
Ulasan Buku: Bagaimana Aku Dapat Meminta Allah untuk Kesembuhan Fisik?: Panduan Alkitabiah Daniel Ronda
Jurnal Jaffray Vol 13, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v13i1.118

Abstract

Review by Daniel Ronda Kesehatan adalah hal yang berharga dari umat manusia saat ini, dan sakit adalah masalah yang besar bagi umat manusia. Sampai saat ini dunia kesehatan dan pengobatan telah mencapai dalam tahap yang mutakhir, tapi tetap saja masih tidak mampu mengatasi masalah penyakit yang rupanya juga semakin berkembang dan kompleks. Tidak sedikit yang putus asa karenanya, bahkan sekalipun berada dalam perawatan rumah sakit yang terbaik sekalipun. Akhirnya, dipahami dan dipercayai ada satu pribadi yang dapat melakukan intervensi terhadap masalah kesehatan fisik manusia, yaitu Tuhan sendiri. Ada catatan yang menarik dalam buku ini, di mana 86 persen orang Amerika percaya kepada kesembuhan ilahi, 75 persen dokter percaya bahwa doa dapat membuat pasien memiliki kehidupan yang lebih baik dan banyak keluarga dokter percaya yaitu 99 persen percaya bahwa praktik keagamaan menjadi elemen penting dalam proses kesembuhan yang sakit (hal. 9). Catatan ini menjadikan buku ini layak untuk dibaca lebih lanjut. Buku ini berisi kajian biblika tentang kesembuhan ilahi dan bukti bahwa pengobatan modern mengakui peran doa dalam kesembuhan. Walaupun demikian, tidak sedikit jemaat Kristen yang sudah membaca Alkitab dan menghadiri ibadah gereja dan bahkan mendengarkan khotbah karya dan sabda Yesus tentang kesembuhan tetap belum mengerti bagaimana dapat menerima kesembuhan dari Tuhan. Pertanyaan yang diajukan adalah: darimana dan bagaimana memulai doa kesembuhan? Selanjutnya, apa yang harus dibuat bila tidak ada perubahan atau tidak ada jawaban? Apakah orang Kristen perlu pakai kata-kata seperti “mantra” atau syarat khusus untuk doa dapat didengar? Semua pertanyaan tentang doa kesembuhan fisik ada dalam buku ini, sehingga buku ini layak menjadi sebuah buku panduan pastoral bagi mereka yang melakukan pelayanan jemaat, di mana perjumpaan dengan orang sakit pasti akan terjadi. Di buku ini juga berisi bukan hanya pembuktian kebenaran Alkitab tentang kesembuhan ilahi, tapi buku ini menjadi buku pedoman yang berisi langkah-langkah secara menyeluruh, serta beberapa nasehat yang diperlukan dalam berkomunikasi dengan Allah untuk menerima kesembuhan fisik.  Jadi buku ini berisi banyak pembuktian dari Alkitab tentang kesembuhan ilahi, kemudian diakhiri dengan pertanyaan-pertanyaan refleksi pada akhir bab, juga beberapa contoh doa tentang bagaimana seseorang berdoa untuk mendapatkan kesembuhan fisik.  Secara garis besar buku ini terdiri dari tiga bagian, di mana bagian pertama membahas tentang apa yang dibuat sebelum berdoa untuk kesembuhan? Kedua, apa yang harus dibuat selama berdoa untuk kesembuhan? Dan ketiga, apa yang kita buat setelah berdoa untuk kesembuhan. Buku ini sungguh menarik karena akhirnya atau puncaknya adalah menuntun seseorang untuk dekat kepada Yesus, sang sumber kesembuhan. Pertanyaan yang paling krusial tentunya adalah apakah seseorang pasti sembuh jika didoakan dan bagaimana jika orang tersebut tidak sembuh? David Smith dengan lugas memberikan penjelasan yang akurat (hal. 222-3). Baginya kesembuhan adalah kedaulatan Allah sendiri, sehingga tidak layak mempertanyakan iman dan ketaatan seseorang yang sakit jika kesembuhan tidak terjadi. Kesembuhan adalah kedaulatan Tuhan dan Ia memiliki hak untuk menyembuhkan, melewati proses, atau melewati pengobatan dan bahkan menyempurnakannya ketika seseorang meninggal dan masuk sorga. Pertanyaan yang tidak kalah pentingnya adalah jika Tuhan berdaulat, untuk apa gereja melakukan pelayanan doa untuk kesembuhan orang sakit dengan bersungguh-sungguh? Saya rasa David Smith berhasil memberikan penjelasan tentang arti pelayanan kesembuhan bagi kesaksian pelayanan gereja (hal. 223). Di sini gereja harus melakukan pelayanan ini untuk membuktikan Tuhan ada dan hidup, dan bahwa Dia berkuasa sehingga dapat menjadi kesaksian bagi dunia. Buku ini dapat saya simpulkan sebagai buku yang berisi kajian akademis biblika tentang kesembuhan ilahi dan pada saat yang sama diberikan penjelasan sederhana untuk menjadi panduan dalam pelayanan pastoral gereja. Tiap pemimpin gereja yang pasti berhadapan dengan pelayanan mendoakan orang sakit, patut menyediakan waktu khusus untuk membaca dan meneliti buku ini kembali. Tidak ada pelayanan yang lebih efektif bila kombinasi antara praktika dan keyakinan berpada menjadi satu sehingga kesaksian gereja dapat jauh lebih luas jangakuannya.
Etika dalam Pendidikan: Kajian Etis tentang Krisis Moral Berdampak Pada Pendidikan Maidiantius Tanyid
Jurnal Jaffray Vol 12, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v12i2.13

Abstract

AbstrakEtika pendidikan berdasarkan pada sebuah kajian nyata bahwa manusia harusmelakukan sesuatu dalam tindakan yang beretika, termasuk di dalamnyaproses belajar mengajar dalam dunia pendidikan. Ada kesenjangan yang terjadisekarang bahwa antara penanaman nilai-nilai yang baik dan benar di sekolahpada proses pendidikan, namun di masyarakat sebagai lapangan pendidikantempat mempraktikkan pendidikan tidak memberikan nilai-nilai etika yangbenar sebagai dasar yang mendidik. Kondisi ini akan terus terjadi dari generasike generasi dan pengaruhnya terus berlangsung dan menghasilkan kerusakanmoral bagi generasi selanjutnya, termasuk juga di dalamnya pendidik. Karenaitu, untuk mengatasi krisis moral dalam dunia pendidikan, maka secara internalharus diterapkan model pendidikan berkarakter yang berbasis padafirmanTuhan.Kata-kata kunci: etika, pendidikan, karakterEducational ethics is founded upon the observation that when a person doessomething it must be done in an ethical manner, including that which is donethrough the educational process in the educational context. There is adiscrepancy which now occurs between the schools, where good and rightvalues are plantedthrough the educational process, and the community, as aneducational context, a place that teaches,which does not give ethical valuesthat are correct as a foundation which teaches. This condition will continue tohappen from generation to generation and its influence will be direct and willresult in moral breakdown for the succeeding generations, including theeducator. Because of this, in order to overcome the moral crisis in theeducational world, a model of character education which is based upon God’sword needs to be implemented internally.Keywords: ethics, education, character
Model Penginjilan dalam Yohanes 4:4-42 dan Implementasinya pada Masa Kini Stefany John Risna Abrahamsz; Petronella Tuhumury
Jurnal Jaffray Vol 10, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v10i2.55

Abstract

Sesuai dengan permasalahan yang ada, maka tujuan penulisan karya ilmiah iniadalah: Pertama, untuk mengetahui model penginjilan dalam Yohanes 4:4-42 dapatditerapkan. Kedua, untuk mengetahui implementasi model penginjilan pada masa kini.Adapun metode penulisan yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah iniuntuk mendapatkan data yang diperlukan adalah: Metode yang dipakai oleh penulisdalam penelitian ini adalah metode hermeneutik Alkitab, yaitu metode penelitiankepustakaan (library research) terhadap berbagai sumber data atau naskah-naskahyang mendukung serta memiliki korelasi dengan judul, di mana Alkitab merupakansumber utama serta menggunakan metode eksigesis yang disusun secara deskriptifuntuk mencapai sasaran dan tujuan penulisan.Berdasarkan uraian penulis dalam penulisan karya ilmiah tentang modelpenginjilan dalam Yohanes 4:4-42 dan implementasinya pada masa kini, maka penulisdapat menarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama, penginjilan adalah tugas utamabagi setiap gereja dan orang percaya secara pribadi yang telah menerima keselamatandari Allah. Kedua, penginjilan adalah wujud kasih orang percaya kepada Allah dankepada sesama manusia. Ketiga, penginjilan adalah pekerjaan yang mulia, sebabmembawa setiap manusia mengenali akan dosanya lalu bertobat menerima Yesussebagai juruselamat, dan percaya dengan sungguh bahwa di dalam Yesus adakeselamatan, pengharapan dan kepastian hidup yang kekal. Keempat, Penginjilanmerupakan pelayanan yang memiliki kekuatan Kuasa Allah, dan hal ini hanya dapatdilakukan oleh Roh Kudus (Lukas 24:49). Kelima, Sebelum memulai pemberitaanInjil terlebih dahulu haruslah menerima kuasa Roh Kudus. Keenam, Penginjil harusmengalami perjumpaan dengan Kristus terlebih dahulu sebelum menjadi saksi bagiKristus dan menjadi berkat bagi hidup sesama.
Pembinaan Kerohanian Gereja Bethel Tabernakel dalam Konteks Kebudayaan Toraja Yonatan Sumarto; Peter Anggu
Jurnal Jaffray Vol 8, No 1 (2010): April 2010
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v8i1.39

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan mengembangkan pola pikir para hambaTuhan yang melayani di Tana Toraja mengenai keberadaan dan fungsinya di tengah-tengah masyarakatToraja yang masih terikat pada adat dan kebudayaannya. Manfaat lain dari tulisan ini adalah sebagaisuatu acuan dan tuntunan praktis bagi para hamba Tuhan dalam GBT khususnya yang melayani di TanaToraja, untuk mendiskusikan lebih lanjut tentang cara memanfaatkan kebudayaan suku Toraja, agardapat menemukan suatu cara yang lebih efektif untuk pembinaan rohani GBT pada masa sekarang danyang akan datang.Sejalan dengan permasalahan dan tujuan penulisan ini, penulis mengadakan penelitian yangdifokuskan pada konteks kebudayaan Toraja, untuk mengetahui dan mengkontekstualisasikan elemenelemenyang positif dalam kebudayaan suku Toraja untuk pembinaan kerohanian GBT di Tana Toraja.Pengumpulan data dilakukan dengan dengan metode analisis, yaitu mengadakan observasi dan interviewserta studi literatur pada perpustakaan.Hasil penelitian menggambarkan bahwa ternyata di dalam berbagai kebudayaan suku Torajaterdapat unsur-unsur kebudayaan yang dapat dikontekstualisasikan untuk pembinaan rohani GBTkarena bersifat netral terhadap iman Kristen, tetapi ada pula yang tidak dapat dikontekstualisasikankarena bertolak belakang dengan iman Kristen. Kebudayaan yang dapat dikontekstualisasikan, sepertikonsep penyembahan kepada Puang Matua dan kepada tiga oknum Allah, upacara rambu tuka’ ,upacara rampanan kapa’, pemali-pemali (larangan), tongkonan, sikap gotong-royong, dansaling memberi. Kebudayaan yang tidak dapat dikontekstualisasikan, seperti penyembahan kepadabanyak dewa dan kepada arwah nenek moyang, kurban kepada orang mati, patung sebagai penggantiorang mati (tau-tau), upacara rambu solo’ , ma’badong. Namun, hal ini tidak lepas dari masalahmasalahkarena iman percayanya kepada Yesus Kristus. Tetapi sebagai gereja/orang Kristen yangsungguh-sungguh berpegang teguh pada Firman Allah, tidak akan gentar menghadapi semuanya itu,bahkan semakin memiliki iman Kristiani yang kokoh.
Konsep Persatuan Dengan Kematian Dan Kebangkitan Kristus Berdasarkan Roma 6:1-14 Hanny Frederik
Jurnal Jaffray Vol 13, No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v13i2.179

Abstract

Persatuan orang percaya dengan Kristus adalah doktrin yang merupakan pemikiran kunci dalam ajaran Tuhan bahkan sangat penting bagi teologi Paulus sehingga seorang penafsir, James S. Stewart menyebutnya sebagai “inti dari agama Paulus.” Menurut hasil uraian tentang konsep persatuan dengan kematian dan kebangkitan Kristus berdasarkan Roma 6:1-14, maka penulis menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: Pertama, orang percaya telah dipersatukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus melalui baptisan, yang berarti ia turut serta mengalami peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Kristus dalam sejarah, yakni penyaliban, kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus. Kedua, persatuan dengan kematian dan kebangkitan Kristus mengakibatkan berlalunya ciptaan lama, yaitu kematian manusia lama sebagai status atau kedudukan seseorang dalam persekutuannya dengan Adam. Kematian Kristus adalah kematian bagi dosa, karena itu dalam persatuan dengan kematian Kristus, orang percaya juga telah mati bagi dosa. Ketiga, persatuan dengan kematian dan kebangkitan Kristus menghasilkan ciptaan baru, yaitu kehidupan baru sebagai status atau kedudukan orang percaya dalam persekutuan dengan Kristus. Keempat, kehidupan yang berpadanan dengan status baru orang percaya dalam Kristus adalah kehidupan dalam pengudusan yang meliputi hidup dalam pertobatan dan hidup untuk melayani Allah.The unity of the believer with Christ is a doctrine which is a key thought in the teaching of Jesus, moreover it is very important for Paul’s theology such that one commentator, James S. Stewart, delineates it as the “Man in Christ: The Vital Elements of St. Paul’s Religion.” Based upon the results of an analysis about the concept of unity in the death and resurrection of Christ based upon Romans 6: 1-14, the author draws several conclusions as follows: First, believers have been made one with the death and resurrection of Christ through baptism, which means the believer participates in the events which were historically experienced by Christ, that is, the crucifixion, death, burial, and resurrection of Christ. Second, unity with the death and resurrection of Christ causes the passing of the old creation; the death of the old man as the status or position of a person regarding their relationship to Adam. The death of Christ is a death to sin, because in the unity with the death of Christ, a believer has also died to sin.  Third, unity with the death and resurrection of Christ produces a new creation, that is, a new life, with the status or position of a believer regarding their relationship to Christ. Fourth, a life which is in harmony with the new status of a believer in Christ is a life in the process of sanctification, which encompasses living in repentance and living to serve God.
Analisis Pengaruh Gaya Kepemimpinan Dosen Terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar Ivan Th.J Weismann
Jurnal Jaffray Vol 11, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v11i1.75

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh antara gayakepemimpinan dosen terhadap motivasi belajar mahasiswa Sekolah Tinggi TheologiaJaffray Makassar.Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 50 responden dari 391mahasiswa. Teknik pengumpulan data ialah melalui angket. Metode analisis datayang digunakan adalah analisis regresi linier berganda.Adapun hasil penelitian ini ialah Pada tingkat kematangan mahasiswa yangmampu dan mau (M4), tidak ada hubungan yang signifikan antara gayakepemimpinan delegasi (G4) dosen terhadap motivasi belajar mahasiswa. Padatingkat kematangan mahasiswa yang mampu tetapi tidak mau (M3), terdapathubungan yang signifikan antara gaya kepemimpinan partisipasi (G3) dosen terhadapmotivasi belajar mahasiswa. Pada tingkat kematangan mahasiswa (M2) yang tidakmampu tetapi mau, tidak ada hubungan yang signifikan antara gaya kepemimpinankonsultasi (G2) dosen terhadap motivasi belajar mahasiswa. Pada tingkatkematangan mahasiswa yang tidak mampu dan tidak mau (M1), terdapat hubunganyang signifikan antara gaya kepemimpinan instruksi (G1) dosen terhadap motivasibelajar mahasiswa.
Ulasan Buku: Whatever Happened To Worship A Call To True Worship Hengki Wijaya
Jurnal Jaffray Vol 15, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v15i1.241

Abstract

Penyembahan yang sejati adalah penyembahan yang ditujukan hanya kepada Allah semata. Hal itu adalah tujuan orang percaya terlahir di dunia ini adalah menyembah Allah dengan sikap rendah hati dan perasaan takut dan gentar kepada Allah sebagai suatu sikap penghormatan kepada Allah. Penyembahan kepada Allah yang benar adalah cara yang dihunakan Allah untuk mewujudkan kehendak-Nya. Allah berinisiatif untuk menebus manusia dari dosa supaya Allah yang kudus dapat disembah oleh manusia yang berdosa yang sudah menjadi pemenang. Gereja menyembah Allah untuk memuliakan diri-Nya. Orang percaya menyembah Allah kapan saja dan di mana saja sebab Roh Allah tinggal di dalam hati kita untuk menuntun orang percaya seirama dengan kesenangan dan kehendak-Nya. Tujuan Allah menciptakan kita di muka bumi seperti di dalam Surga adalah untuk menyembah Allah di dalam Yesus Kristus.
Makna Kata Ekklesia Berdasarkan Matius 16:18 Dan Implementasinya Dalam Kehidupan Orang Percaya Masa Kini Firman Christian; Robi Panggarra
Jurnal Jaffray Vol 9, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v9i2.97

Abstract

Sesuai dengan permasalahan yang ada, maka tujuan penulisan karya ilmiah iniadalah: Pertama, untuk menganalisis dan menafsirkan makna dari kata ekklesiaberdasarkan konsep kitab Matius 16:18. Kedua, untuk membahas bagaimanamengimplementasikan kata ekklesia dalam kekristenan masa kini.Metode penelitian yang digunakan penulis di antaranya adalah: Pertama, Metodeanalisis kitab dalam hal ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang mencakupteologi eksegesis dan kajian Alkitab untuk memahami teks yang sesuai dengan konsep yangada di dalam Matius 16:18. Penulis tidak melakukan penelitian lapangan, tetapi hanyamenggunakan metode penelitian literatur (library research). Kedua, Komparasi, yaitumengadakan perbandingan-perbandingan untuk melihat kesamaan atau perbedaan teks yangberkaitan dengan objek penelitian (kata ekklesia).Berdasarkan hasil uraian penulis dalam karya ilmiah tentang makna kata ekklesiaberdasarkan Matius 16:18 dan implementasinya dalam kehidupan orang percaya masa kini,maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama, gereja adalahpersekutuan orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus yang adalah Mesias. Olehsebab itu gereja harus hidup berdasarkan firman Tuhan dan pengakuan iman yang benar.Kedua, masih banyak orang percaya yang belum menyadari bahwa dirinya adalah anggotaekklesia dan memilih untuk menjalani pertumbuhannya secara pribadi dan terpisah dariorang-orang percaya lainnya. Ketiga, gereja juga merupakan sidang yang dipimpin olehKristus yang mempedulikan kepentingan kotanya, tidak hanya dalam aspek rohani tetapijuga gereja dapat berperan dalam aspek sosial, ekonomi dan kesehatan. Gereja akanmembawa dampak positif dan kehadirannya akan dirasakan dan diterima baik
Diutus Untuk Menghasilkan umat yang Kudus:Eksposisi Yesaya 6:1-13 Peniel C.D. Maiaweng
Jurnal Jaffray Vol 12, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v12i1.30

Abstract

Pengutusan Yesaya sebagai nabi dimulai dengan perjumpaannya denganTuhan. Dalam perjumpaannya dengan Tuhan, Yesaya mengakui kenajisan dirinya,dan ia pun dikuduskan oleh TUHAN melalui pelayanan para seraf. Setelahdikuduskan, ia siap menerima pengutusan yang dinyatakan kepadanya.Pengutusan nabi Yesaya bukan untuk menghasilkan pertobatan seluruhbangsa, tetapi menghasilkan umat yang mengeraskan hati dan tertutup terhadap halhalrohani, kemerosotan rohaninya semakin meningkat, dan bahkan sebagian besarumat Yehuda dibinasakan. Ia yang diutus oleh TUHAN balatentara yang kudus,tetapi dalam pelayanannya, ia tidak disenangi oleh umat dan para pemimpin Yehuda.Ini menunjukkan bahwa pengutusan Yesaya bukan untuk menghasilkan banyakpetobat baru, tetapi sekelompok kecil orang kudus.Bercermin kepada panggilan nabi Yesaya, mungkin ada di antara para hambaTuhan yang dipanggil oleh Allah dengan memiliki karakter pelayanan seperti yangdimiliki oleh Yesaya. Hal yang harus dipercaya adalah ia dipanggil dengan jaminanpenyertaan. Pembelanya adalah TUHAN balatentara. Penjaminnya adalah Rajayang bertakhta. Penyedianya adalah Tuhan yang memiliki segalanya.Keberhasilan pelayanan dalam konteks pengutusan Yesaya bukan dilihat dariberapa banyak jumlah umat yang dihasilkan dan bukan pula pada besarnyapenghasilan yang diterima, tetapi menghasilkan umat yang kudus. Untuk itu, yangterpenting untuk diperlihara adalah hidup dalam kekudusan dan melayani untukmenghasilkan umat yang kudus, sehingga walaupun sedikit jumlah umat yangdilayani, tetapi mereka adalah umat yang berkenan kepada Allah. Allah yangmenyatakan diri kepada hamba-Nya dan umat-Nya adalah Allah yang maha kudus.Sebagai Allah yang kudus, maka segala sifat dan apa pun yang dimiliki-Nya adalahkudus, termasuk hamba-Nya dan umat-Nya. Bersekutu dengan Tuhan yang kudusadalah prioritas utama dalam penyembahan, kekudusan harus menjadi prioritas diri,dan menghasilkan umat yang kudus harus menjadi prioritas dalam pelayanan.

Filter by Year

2003 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 21, No 2 (2023): October 2023 Vol 21, No 1 (2023): April 2023 Vol 20, No 2 (2022): October 2022 Vol 20, No 1 (2022): April 2022 Vol 19, No 2 (2021): October 2021 Vol 19, No 1 (2021): April 2021 Vol 18, No 1 (2020): Jurnal Jaffray 18, no. 1 April 2020 Vol 18, No 2 (2020): October 2020 Vol 18, No 1 (2020): April 2020 Vol 17, No 1 (2019): Jurnal Jaffray Volume 17, no. 1 April 2019 Vol 17, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 17, No 1 (2019): April 2019 Vol 16, No 1 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 1 April 2018 Vol 16, No 1 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 1 April 2018 Vol 16, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 16, No 1 (2018): April 2018 Vol 15, No 2 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No. 2 Oktober 2017 Vol 15, No 2 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No. 2 Oktober 2017 Vol 15, No 1 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No.1 April 2017 Vol 15, No 1 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No.1 April 2017 Vol 15, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 15, No 1 (2017): April 2017 Vol 14, No 2 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 2 (Oktober 2016) Vol 14, No 2 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 2 (Oktober 2016) Vol 14, No 1 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 1, April 2016 Vol 14, No 1 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 1, April 2016 Vol 14, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 14, No 1 (2016): April 2016 Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 2 Oktober 2015 Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13, No. 2 Oktober 2015 Vol 13, No 1 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 1 April 2015 Vol 13, No 1 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 1 April 2015 Vol 13, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 13, No 1 (2015): April 2015 Vol 12, No 2 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 2 Oktober 2014 Vol 12, No 2 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 2 Oktober 2014 Vol 12, No 1 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 1 April 2014 Vol 12, No 1 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 1 April 2014 Vol 12, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 12, No 1 (2014): April 2014 Vol 11, No 2 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 2 Oktober 2013 Vol 11, No 2 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 2 Oktober 2013 Vol 11, No 1 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 1 April 2013 Vol 11, No 1 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 1 April 2013 Vol 11, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 11, No 1 (2013): April 2013 Vol 10, No 2 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 2 Oktober 2012 Vol 10, No 1 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 1 April 2012 Vol 10, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 10, No 1 (2012): April 2012 Vol 10, No 2 (2012): Vol 10, No 1 (2012): Vol 9, No 2 (2011): Jurnal Jaffray Volume 9 No. 2 Oktober 2011 Vol 9, No 1 (2011): Jurnal Jaffray Volume 9 No. 1 April 2011 Vol 9, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 9, No 1 (2011): April 2011 Vol 9, No 2 (2011): Vol 9, No 1 (2011): Vol 8, No 2 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 2 Oktober 2010 Vol 8, No 2 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 2 Oktober 2010 Vol 8, No 1 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 1 April 2010 Vol 8, No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 8, No 1 (2010): April 2010 Vol 7, No 2 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 2 Oktober 2009 Vol 7, No 2 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 2 Oktober 2009 Vol 7, No 1 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 1 April 2009 Vol 7, No 1 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 1 April 2009 Vol 7, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 7, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2008): Jurnal Jaffray Volume 6, No. 2, Oktober 2008 Vol 6, No 2 (2008): Jurnal Jaffray Volume 6, No. 2, Oktober 2008 Vol 6, No 2 (2008): Oktober 2008 Vol 5, No 1 (2007): Jurnal Jaffray Volume 5, No. 1 Desember 2007 Vol 5, No 1 (2007): Jurnal Jaffray Volume 5, No. 1 Desember 2007 Vol 4, No 1 (2006): Jurnal Jaffray Volume 4, No. 1, Juni 2006 Vol 4, No 1 (2006): Jurnal Jaffray Volume 4, No. 1, Juni 2006 Vol 3, No 1 (2005): Jurnal Jaffray Volume 3, No. 1, Juni 2005 Vol 3, No 1 (2005): Jurnal Jaffray Volume 3, No. 1, Juni 2005 Vol 2, No 2 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 2 Desember 2004 Vol 2, No 2 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 2 Desember 2004 Vol 2, No 1 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 1 Juni 2004 Vol 2, No 1 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 1 Juni 2004 Vol 1, No 1 (2003): Jurnal Jaffray Volume 1, No. 1, Juni 2003 Vol 1, No 1 (2003): Jurnal Jaffray Volume 1, No. 1, Juni 2003 More Issue