cover
Contact Name
Zaffril Syam
Contact Email
zaffril.syam@uin-suska.ac.id
Phone
+6282385365000
Journal Mail Official
imam.hanafi@uin-suska.ac.id
Editorial Address
LPPM UIN SUSKA Riau Jl. H.R. Soebrantas KM. 15,5 Panam – Pekanbaru
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Toleransi: Media Ilmiah komunikasi Umat Beragama
ISSN : 20860315     EISSN : 24071595     DOI : https://doi.org/10.24014/trs.v12i2.13542
Core Subject : Religion,
Jurnal Toleransi mempublikasikan hasil-hasil penelitian, baik hasil kajian lapangan maupun kepustakaan. Fokus utama Jurnal Toleransi meliputi: Relasi antar dan intern umat beragama; Pluralisme; Multikulturalisme; Hubungan antar etnik.
Articles 210 Documents
Pola Hubungan Etnik Cina dengan Masyarakat Pribumi di Bengkalis Hasbullah Hasbullah
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 5, No 1 (2013): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v5i1.68

Abstract

Cohesion and national integration is a major challenge in the process of nation-state formation. The challenge was complicated because the Indonesian society is pluralistic, whether viewed horizontally or vertically. One of the unresolved issues in relation to the indigenous ethnic Chinese are confounding issues that led to the integration of the nation. The relationship between ethnic Chinese - native Bengkalis is quite good because of the cooperation mutualistis. However, this condition only occurs in sectors of the economy and not involve other parts are quite important in life. In these relationships also create stereotypes as a continuation of the colonial legacy that has placed the ethnic Chinese as the middle class. This led to jealousy of the indigenous groups mainly derived from economic inequality. This is a potential that can cause conflict if not handled seriously and carefully by various parties, especially in the era of reform, democracy and transparency.
MEMBANGUN TOLERANSI DI SEKOLAH; Sebuah Eksplorasi Nilai-Nialai Pendidikan Toleransi Tamsir Tamsir
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 10, No 1 (2018): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v10i1.5721

Abstract

Artikel ini membicarakan tentang bagaimana konsep toleransi dalam Islam, yaitu tasamuh, dapat diimplementasikan dalam pendidikan. Pendidikan sebagai sebuah sistem, sangat penting mengembangkan konsep ini, lebih-lebih kondisi bangsa Indonesia yang sangat pluralistik. Diantara upaya pengembangan nilainilai pendidikan toleran adalah Pertama, Belajar dalam perbedaan; Kedua, Membangun saling percaya; Ketiga, Memelihara saling pengertian; dan Keempat, Menjunjung tinggi sikap saling menghargai
PERAN FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA (FKUB) ' DALAM MENANGANI KONFLIK PENDIRIAN RUMAH IBADAH Ardiansyah Ardiansyah
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 4, No 1 (2012): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v4i1.1029

Abstract

Dialogue among people gets religion help to increase collaboration among its follower. Ala thus goes together we can uphold humanitarianism, justice, peace, and brotherhood Dialogue will settle competition, grind, dislike, creating harmony and keeps away life attitude that mutually destroys. This in the context, interfaith dialogue can be done in various form, as dialogue of life, social job dialogue, dialogue among monastik, dialogue for do 'a with (istighosah), and teologis's discussion dialogue
PENGUATAN PENDIDIKAN TOLERANSI SEJAK USIA DINI (Menanamkan Nilai-nilai Toleransi Dalam Pluralisme Beragama Pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Di Kabupaten Tulungagung Tahun 2010) Zaini Zaini
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 2, No 1 (2010): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v2i1.423

Abstract

Many analysts and observers mention of early "The Golden Age" of the young age is highly effective embedded multi-dimensional education golden times that never happen again on the same occasion throughout human lifetime. What education can be given to children by parents, mother, father and educator will help shape the character and personality of the children. Character and personality are formed on the education of children is fundamental education that the can color the whole nature and lifestyle before it can be influenced by factors other than friends, the environment and conditions in which the child located. The more mature the child will be more complex, also influence which appear later. so that value of awareness and the values of honesty, mutual respect, mutual respect, esprit de corps, mutual giving and helping the others with no view his of the status and color of her dress as a manifestation of the values of tolerance and instilled a decent strengthened since early Childhood
INTERAKSI KOMUNITAS MUSLIM DAN BUDHA DI KOTA PEKANBARU Khotimah Khotimah
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 10, No 2 (2018): Juli - Desember
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v10i2.7082

Abstract

Bentuk jalinan interaksi yang terjadi antara individu dan individu, individu dan kelompok, dan kelompok dan kelompok bersifat dinamis dan mempunyai pola tertentu. Apabila interaksi sosial tersebut diulang menurut pola yang sama dan bertahan untuk jangka waktu yang lama, akan terwujud hubungan sosial yang relatif mapan. Sebagaimana yang ada pada komunitas Muslim dan Budha di Kota Pekanbaru, khususnya di Kecamatan Senapelan terbangun pola interaksi yang sangat kondusif, yaitu pola Interaksi Individu dengan Kelompok dan interaksi kelompok dengan kelompok yang didasari oleh ikatan satu kesatuan wilayah serta di dukung oleh pemerintah setempat
MURJI’AH DALAM PERSPEKTIF THEOLOGIS Sariah Sariah
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 4, No 1 (2012): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v4i1.1034

Abstract

Aliran Murji’ah muncul berawal dari persoalan politik kemudian berkembang menjadi persoalan teologi. Aliran teologi ini netral dan memberi pengharapan terhadap pelaku dosa besar. Penamaan Murji’ah terkandung makna yang tersirat bahwa ajaran teoelogi ini menomor duakan amal perbuatan dari pada iman. Murji’ah dapat juga berarti; menta’khirkan penentuan sikap yang benar atau siapa yang salah dalam suatu pertikaian waktu antara Ali, Muawiyah, dan Khawarij. Menta’khirkan penentuan orang-orang yang dianggap telah berdosa apakah akan masuk neraka atau masuk surga. Kemudian juga menta’khirkan posisi Ali dalam komposisi kekhalifahan yang mengandung konsekuensi menta’khirkan derajat Ali setelah Abu Bakar, Umar dan Usman.Dalam aspek politik walaupun tidak spektakuler tetapi nampaknya juga melahirkan tipologi prilaku politiknya yang unik yang memunculkan juga pendapat beragam, dari tipe yang pasif, ada pula nampaknya prilaku adaptif diikuti dengan sikap feksibilitas dan loyalitas yang tentu tidak semuanya terekam dalam sejarah.
PERAN FKUB DAN PENDIRIAN RUMAH IBADAT DI KOTA PEKANBARU Erman Erman
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 2, No 1 (2010): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v2i1.428

Abstract

Religious conflicts tends to occur due radical-extreme and fundamental to the doctrine os subjective religious afilation. While external factors caused by attitude bedonitas and opportunity with the name of religion as a commodity interest. This attitude has made a prolonged humanitarian catastrophe. Disharmonitas these factors need to be reviewed in the relevance of religious relations in Indonesia. This is based on a framework of thinking, that one of the step to reduce conflicts was to determine this sources of the conflict itself, including the issue of the establishment of the synagogue, which authorized for the people of Religious Harmony forum
RITUAL KEMATIAN DALAM KOMUNITAS HINDU DI PEKANBAR: Sebuah Tranformasi dan Adaptasi Sumiati Sumiati; Khairiyah Khairiyah
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 11, No 1 (2019): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v11i1.8289

Abstract

Dalam keyakinan Agama Hindu, ritual kematian bermakna sebagai tahap pengembalian panca maha bhuta. Tujuan ini dicapai dengan menyelenggarakan ngaben, yakni adat kreamsi dengan rangakaian ritual tertentu. Akan tetapi, penyelenggaraan ngaben menjadi hal yang mustahil bagi komunitas Hindu di Pekanbaru baru mengingat banyaknya aspek dan syarat perngabenan yang sulit dipenuhi di wilayah yang jauh dari Bali, tempat asal tradisi ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dan yang menjadi pendukung adalah buku-buku yang ditulis oleh tokoh-tokoh Hindu, Seperti Pudja, I Ketut Purwa, Ida Ayu Putu Surayin, I Wayan Sujana, Yudha Triguna, dan buku-buku serta literatur lainnya. Penelitian ini menjelaskan bahwa komunitas Hindu mneyelanggarakan ritual kematian sebagai ritual yang ditujukan untuk para leluhur agar rohnya dapat diterima oleh Sang Hyang Widhi. Pilihan-pilihan kematian bagi komunitas Hindu meletakkan prioritas utama pada ritual ngaben. Adapun prosesi ngaben ini dimulai dari memandikan jenazah hingga pengabenan. Bagi Umat Hindu di Pekanbaru, pengabenanan dilakukan dengan cara baik jenazahnya dipulangkan langsung ke Bal untuk diritualkan maupun dengan menumpang di tempat kremasi agama Budha. Namun demikian, jika keadaan ini tidak memungkinkan, maka bisa dilakukan dengan cara mendem sawa/ mengebumikan (mengubur) jenazah. Ketika ritual-ritual telah selesai maka akan dilakukan kenduri tiga hari berturut-turut, kemudian dilakukan lagi pada hari ketujuh, hari keempat puluh, hari keseratus, hari keseribu, dan menggunakan sesajen-sesajen yang ditujukan bagi arwah yang telah meninggal. dari hasil penelitian tergambar proses adaptasi yang dilakukan komunitas Hindu di Pekanbaru dalam ritual kematian, mengingat situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk menyelenggarakan pengabenan sebagaimana halnya di Bali. adaptasi-adaptasi tersebut pada gilirannya mengahsilkan suatu transformasi dalam ritual kematian umat Hindu
FUNGSI SOSIOLOGIS AGAMA (STUDI PROFAN DAN SAKRAL MENURUT EMILE DURKHEIM) Kamiruddin Kamiruddin
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 3, No 2 (2011): Juli - Desember
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v3i2.1060

Abstract

Emile Durkheim, an intellectual that could not be released from social contec cultural that covered him. His emphasis in sain and social reform, then he it was considered occupied the important position in the development of sociology. The framework of his theory, more gave priority to the important meaning communitystructure, the interaction and the institution social-in understood thinking and the behaviour of humankind. He want to saw almost all the main change in humankind that is the problem of the law, morality, the profession, the family and the identity, science, art but also the religion, by using the social point of view. Durkheim, claimed without the existence of the community that give birth and formed all that, there was not any that will emerge in the life. As a sociology thinker, he carried out the analysis of relations between virile and the social structure. The Durkheim view about the religion was focussed on his claim that the religion was "something that very much was moral". The source of the religion was the community personally that will consider something that was sacral or profane. Durkheim found the characteristics was most basic from each religious belief not was located in "supernatural" elements, but was located in the concept about "that was sacred" [sacred], where both of them that is supernatural and that was sacred, had the basic difference, and has social function.
HADIS-HADIS NABI DALAM BERINTERAKSI DENGAN NON MUSLIM (Musalimun) Johar Arifin
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 2, No 2 (2010): Juli - Desember
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v2i2.433

Abstract

This paper contains an explanation of the rules of Shari'a perspective Hadith of the Prophet Muhammad in interacting with the non-Muslims in this discussion focused on the Musalimun groups namely those life side by side in peace and not hostile to Islam. This article tries to investigate how the Prophet interacts with group in terms of the Sunnah and the Sunnah qauliyah Fi'liyah, hoping to provide a positive contibution to the government, religious leaders, the scholars, traditional leader and Muslim in general

Page 8 of 21 | Total Record : 210