cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ushuluddin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Ushuluddin (Online ISSN 2407-8247 | Print ISSN 1412-0909) adalah jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Jurnal Ushuluddin terbit pertama kali pada Bulan Desember 1998 dengan nama Jurnal Ushuluddin Cendikia. Pada tahun 2000 namanya berganti menjadi Jurnal Ushuluddin. Jurnal Ushuluddin memuat kajian-kajian dasar keislaman (islamic studies), baik dalam bentuk kajian kepustakaan maupun riset lapangan. Fokus utama Jurnal Ushuluddin meliputi aqidah, pemikiran Islam, filsafat agama, tasawuf, tafsir dan studi al-Qur'an, kajian Hadits, dan perbandingan agama. Jurnal ini diterbitkan dalam upaya mengkomunikasikan berbagai kajian yang terkait dengan Islam, baik klasik maupun kontemporer yang ditinjau dari berbagai perspektif. Dengan demikian, baik para sarjana Indonesia maupun sarjana asing yang fokus dengan kajian tersebut dapat memperkaya artikel yang dimuat dalam jurnal ini. Artikel yang masuk akan dinilai oleh peer-review, dan jika dipandang layak baru akan diterbitkan. Jurnal Ushuluddin diterbitkan dua kali dalam setahun, dan selalu menempatkan kajian Islam dan kajian tentang umat Islam sebagai fokus utama.
Arjuna Subject : -
Articles 288 Documents
Jihad Bunuh Diri Menurut Hadis Nabi SAW Adynata Adynata
Jurnal Ushuluddin Vol 20, No 2 (2013): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v20i2.927

Abstract

Pada zaman sekarang sering kita mendengar dan melihat di media massa banyaknya terjadi born bunuh diri, baik di tempat-tempat fasilitas umum seperti hotel, rumah ibadah, tempat pertemuan ataupun yang terjadi di daerah peperangan seperti di Palestina ketika perang antara tentara Israel dan Palestina. Para ulama telah mengkaji tentang hukum melakukan bom bunuh diri. Mereka berbeda pendapat tentang hukumnya; ada yang membolehkan dan ada pula yang melarang secara mutlak. Ayat-ayat al­ Quran dan hadis Rasulullah SAW yang terkait dengan persoalan ini, secara zahir tampak bertentangan. Dalam sebuah hadis Beliau melarang membunuh diri dengan cara apapun dan nanti di dalam neraka Jahannam pelakunya akan disiksa dengan cara yang dilakukannya ketika membunuh dirinya serta kekal di dalamnya. Sementara dalam Hadis yang lain disebutkan Rasulullah SAW menawarkan kepada satu orang sahabatnya untuk melawan musuh yang banyak yang diyakini akan membawa kematiannya pada perang Uhud sehingga terkesan sahabat tersebut mengorbankan dirinya. Hadis-hadis yang tampak bertentangan ini perlu dikaji lebih mendalam untuk ditemukan relevansinya dengan peristiswa born bunuh diri yang banyak terjadi sekarang. Penulis memahami bahwa bom bunuh diri pada prinsipnya diharamkan, tetapi jika dilakukan dalam kondisi terpaksa dalam medan peperangan untuk menyelamatkan pasukan dan menghindarkan bahaya yang lebih besar lagi maka boleh dilakukan asalkan atas perintah pemimpin perang. tetapi jika dilakukan tidak kondisi perang maka tidak boleh dilakukan dan termasuk sikap putus asa terhadap kemaksiatan yang terjadi
Hak Waris Anak Laki-laki dalam Al-Qur'an dan Hadis Zikri Darussamin
Jurnal Ushuluddin Vol 20, No 2 (2013): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v20i2.922

Abstract

Dari perspektif gender ahli waris dapat dibedakan kepada dua kelompok, yaitu; ahli waris laki-laki dan ahli waris perempuan . Ahli waris perempuan termasuk dalam kelompok zawil furudh, yaitu hak bagiannya dalam pewarisan sudah ditentukan secara pasti . Sementara hak kewarisan laki-laki, khususnya anak laki-laki dikelompokkan kedalam 'ashabat, yaitu ahli waris yang bagiannya tidak pasti. lsyarat tentang bagian yang akan diperoleh 'ashabat hanya terdapat dalam surat ai-Baqarah ayat 11 dan dalam hadis Rasulullah riwayat lbnu Abbas. Akan tetapi, ketika kedua nash tersebut diselaraskan telah menimbulkan diskusi panjang di kalangan ulama sejak masa sahabat dan sampai sekarangpun diskusi itu masih belum selesai
UNDERSTANDING LEVEL OF TABLIGH JAMAAT MEMBERS AT AN-NAHL Verse 125 (Case Study at Mosque of al-Falah II Jl. Sumatra Pekanbaru) Arni, Jani
Jurnal Ushuluddin Vol 23, No 1 (2015): Januari - Juni
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study studied the level of understanding of the Tabligh congregation members about the letter of al-Nahl verse 125 which contains about methods in preaching. Tabligh Jamaat is one group of Muslims who could be called active in proselytizing. They were proselytizing door to door or directly into the homes of Muslims to invite to goodness. Da’wah in the congregation sermons made by all members, because they think that the task of the mission is not only clerical duties. Al-Qur’an as a book of guidance has explained how the procedures or methods in carrying out da’wah. In Surat al-Nahl verse 125 explained that there are three methods of da’wah; bil hikmah, al-mau’izhah al-hasanah, and jadilhum billati hiya ahsan.From research conducted found that the level of understanding and practice of members of Tabligh congregation was very varied; some have a good understanding and practice, there are less in understanding the verses about methods of da’wah but its practices is good, as well as small part that have a poor understanding and its practice
TOLERANSI ANTARUMAT BERAGAMA: PERSPEKTIF ISLAM Jamrah, Suryan A.
Jurnal Ushuluddin Vol 23, No 2 (2015): Juli - Desember
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islam adalah agama wahyu yang diturunkan oleh Allah melalui Rasul-Nya, Muhammad SAW sebagai rahmat bagi alam semesta, rahmatan li al-‘alamin, dan berlaku secara universal sebagai petunjuk bagi manusia di seantero dunia, di Timur maupun di Barat, min masyariq al-ardhi ila magharibiha. Namun, agama wahyu yang bersifat universal ini tetap mengakui dan menerima kenyataan pluralitas agama di muka bumi, bahwa Allah memang telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan dan memilih agama yang disukai. Selanjutnya, sebagai rahmat bagi kehidupan semesta alam, Islam sudah barang tentu memiliki komitmen untuk menciptakan suasana kerukunan dan kedamaian bagi kehidupan bani insani. Maka, di samping istiqamah berpegang teguh kepada dan ketat memelihara kemurnian akidah tauhidiah di tengahtengah interaksi antarumat beragama, Islam menjadi pelopor toleransi, demi kerukunan dan kedamaian kehidupan manusia di muka bumi. Kekayaan akhlak toleransi Islam tersebut dapat ditelusuri dan mudah ditemukan dari dasar teologis atau akidah, dari aspek syariah dan mu‘amalah, dari etika dakwah, dan dari akhlak al-ukhuwah albasyariah atau persaudaraan universal. Akhlak toleransi Islam ini tidak sekedar khazanah teoretis, melainkan telah dipraktikkan secara historis oleh Rasulullah SAW dan oleh kaum muslimin dari generasi ke generasi, baik dalam tataran kehidupan sosial sehari-hari maupun dalam politik di suatu negeri
THE MEANING OF AL-QALB AND DISCLOSURE IN AL-QUR’AN Agustiar, Agustiar
Jurnal Ushuluddin Vol 23, No 2 (2015): Juli - Desember
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Human being equipped by God Almighty with a variety of gifts which enable them to carry a burden of duties. The gifts are power of the body, vitality and power al-qalb. Islam has made clear necessity of a proper functioning of al-qalb to think in order to develop knowledge. It will help people to carry caliphate duties on earth properly, under the guidance of al-Qur’an and al-Sunnah. One way to enhance thinking of al-qalb required by Islam is dzikir, therefore, someone will find peace of mind and feel close to God. Feeling close to God, a person’s soul will be controlled. Conversely, if a person is not functioning qalb for dzikir, so he will experience drought soul. In al-Qur’an, al-qalb may have some meanings; it refers to the context of verse that contains in it. Moreover, to present the meaning of al-qalb is not always disclosure with the word of al-qalb, but also often disclosure by using the word of al-fuad, al-lub, al-nafs and al-sadr.
STUDI HADIS-HADIS MUKHTALIF TENTANG MENGUMUMKAN KEMATIAN (AL-NA’Y) Adynata, Adynata
Jurnal Ushuluddin Vol 23, No 1 (2015): Januari - Juni
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hadis merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al-Quran. Dalam memahaminya diperlukan ilmu-ilmu tertentu agar tidak terjadi kekeliruan, sebab hadis-hadis tersebut kadang kala terlihat bertentangan satu sama lain, padahal jika hadis itu sahih bersumber dari Rasulullah SAW maka mustahil terjadi pertentangan padanya. Oleh karena itu, para ulama hadis mengkaji jenis hadis ini dan merumuskan metode penyelesaiannya dengan sebuah ilmu yaitu Ilmu Mukhtalif al-Hadis. Di antara permasalahan yang terjadi di sebagian masyarakat yang berkaitan dengan kesalahan memahami hadis mukhtalif adalah tentang mengumumkan kematian (al-na’y) antara hadis yang membolehkan dan melarang. Kedua versi hadis tentang mengumumkan kematian (al-na’y) tersebut terlihat bertentangan satu sama lain atau mukhtalif yang mesti dipahami berdasarkan metode Ilmu Mukhtalif al-Hadis. Pada hadis yang melarang al-na’y, Rasulullah SAW. menyebutkan alasan atau illat pelarangan itu, yakni tindakan mengumumkan kematian seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah. Sedangkan pada hadis yang membolehkan al-na’y di mana Rasulullah SAW. dan sahabatnya melakukannya tidak mengandung tata cara Jahiliyah, tetapi sebaliknya mengandung kemaslahatan yang banyak. Oleh karena itu, pelarangan al-na’y itu terkait dengan tata caranya, yaitu tata cara Jahiliyah, Berdasarkan kajian ini, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya kedua versi hadis tersebut tidaklah bertentangan
KELUAR DARI ALIENASI ALAM TERHADAP MANUSIA: Perspektif Teosofi Transenden Cinu, Surahman
Jurnal Ushuluddin Vol 23, No 2 (2015): Juli - Desember
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perspektif dialektika memaknai alam tidak mempunyai tujuan akhir dan tidak berusaha mencapai keadaan atau bentuk akhir (sempurna), tetapi memiliki kecenderungan sifat pada pengrusakan, interpretasi ini disebut dengan dialektika alam. Alam dan manusia dalam argumentasi teori teosofi transenden (kesatuan wujud) memiliki wujud yang nyata sebagai bentuk ketidaksempurnaan entitas tersebut, sehingga ketika ia tidak saling mengisi dan tidak saling bergantung, berjalan pada masing-masing egosentrisnya, maka ketidaksempurnaan dari keduanya makin nampak. Dengan demikian hak manusia sangat dibatasi oleh nilai intrinsik alam, demikian sebaliknya
PENAFSIRAN LAFAZ SAMAAWAATI DALAM AL-QUR’AN (KAJIAN TAFSIR TEMATIK OLEH PARA MUFASSIR) N, Mainizar.
Jurnal Ushuluddin Vol 23, No 2 (2015): Juli - Desember
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh pertanyaan-pertanyaan mahasiswa tentang lafaz samaawati dan keingin tahuan yang sangat besar dari peneliti untuk memahami dan mendalami makna dan tafsir ayat-ayat samaawati dalam al-Qur’an, guna memperkuat akidah peneliti khususnya dan pembaca sekalian pada umunya serta untuk menambah kecintaan kepada al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia di dunia dan akhirat. Masalah yang diteliti adalah apa saja konteks ayat-ayat samaawati di dalam al-Qur’an dan apa saja tafsir dan kandungan ayat-ayat samaawati dalam berbagai konteksnya di dalam al-Qur’an. Objek penelitian ini adalah ayat-ayat yang terdapat lafaz samaawati di dalam al-Qur’an. Ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki lafaz samaawati sebanyak 188 ayat dengan konteks yang sama dan yang berbeda. Ayat-ayat dengan konteks yang sama dikelompokkan menjadi 18 kelompok, sedangkan yang tidak sama (berbeda) sebanyak 51 ayat. Ayat-ayat yang diteliti hanya 60 ayat. Data yang terkumpul dianalisis dengan analisis konteks dan komparasi dalam kitab Tafsir al-Mishbah, Fi Zhilalil Qur’an, dan Ibnu Katsir.
KRITERIA SUNNAH TASYRI’IYAH YANG MESTI DIIKUTI Bay, Kaizal
Jurnal Ushuluddin Vol 23, No 1 (2015): Januari - Juni
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ulama sepakat bahwa Sunnah dengan sanad yang shahih memfaedahkan qath’i dan kebenarannya adalah hujjah (dalil) bagi kaum muslimin. Maka ia dipandang sebagai sumber tasyri’, dan sebagaimana halnya al-Qur’an wajib diikuti. Satu hal yang harus diyakini, pada umumnya Sunnah Rasul, baik yang berbentuk ucapan, perbuatan, dan ketetapannya mempunyai implikasi hukum yang mesti diikuti (Sunnah Tasyri’iyyah), dengan kriteria di antaranya seperti perbuatan Nabi Saw. dalam bentuk penyampaian risalah dan penjelasannya terhadap al-Qur’an tentang berbagai masalah yang masih bersifat umum dan mutlak. Beliau menjelaskan bentuk dan tata cara shalat, haji, dan lainya dalam kapasitasnya sebagai Rasul. Banyak ayat al-Qur’an yang memerintahkan untuk mengikuti Sunnah nabi Saw. itu dalam kehidupan. Adapun sebagian ulama menyepakati, ada sekian banyak Sunah yang tidak berimplikasi hukum yang tidak mesti diikuti (ghairu tasyri’iyyah), terutama yang berkaitan dengan beberapa persoalan keduniaan yang timbul dari hajat insani dalam kehidupan keseharian Nabi, seperti cara berpakaian, urusan pertanian dan lainnya, dan hukum mengikutinya hanya sebatas sunnah atau mubah. Istilah Sunnah ghairu tasyri’iyah masih diperdebatan (ada yang pro dan ada yang kontra) dan tidak dikenal pada masa salaf al-salih. Munculnya istilah Sunnah ghairu tasyri’iyah pada akhir abad 14 H, di antara pencetus Syekh Muhammad Syaltut
THE ROLE OF CIVIL RELIGION FORMING CIVIL SOCIETY THROUGH PRACTICING RELIGIOUS COMMENT Nst, Agus Salim
Jurnal Ushuluddin Vol 23, No 2 (2015): Juli - Desember
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Modern society requires the new symbol rituals development to create a solidarity in a pluralistic country such Indonesia. This is what sociologists called civil religion. Andrew Shauks stated that civil religion is not a true religion as existing religious practices; it did not compete with conventional traditions, but it is existing on it and break it bonds. The same idea also explained by Olaf Schuman that civil religion is not a religious source for someone where he gained his understanding of the identity and social obligations. It remains a resource is the existence of religion civil religion should not and could not be a substitute powerless religions. Civil religion is not like a religion and not a rival to the existing religions. Rather it part, it exist of religions and values and norms generated by them to ensure a life together that is sustainable and harmony in an pluralistic society situation to create society (civil society), an open society, egalitarian, and tolerant based on ethical values, moral transdental

Page 10 of 29 | Total Record : 288