Articles
225 Documents
KONSERVASI MENARA SLEKO MENUJU LANSEKAP KAWASAN KOTA KUNO SEMARANG
R Siti Rukayah;
Muhammad Abdullah;
Annica Etenia
Jurnal Pengembangan Kota Vol 9, No 1: Juli 2021
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1790.797 KB)
|
DOI: 10.14710/jpk.9.1.13-25
Konservasi arsitektur dan kawasan bersejarah menjadi issu penting dalam pengembangan kota dewasa ini. Semarang memiliki Kawasan Kota Lama dengan Menara Sleko di Kawasan Sleko yang berfunsgi sebagai kawasan pelabuhan di era kolonial. Menara ini berfungsi sebagai menara pandang yang digunakan untuk memantau keadaan pelabuhan dan pedagang kecil, serta untuk istirahat para pedagang. Namun, karena kini tertutup oleh bangunan kumuh maka kemegahan bangunan Menara Sleko sebagai landmark pada kawasan Kota Kuno Semarang tak nampak lagi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguak keberadaan Menara Sleko sebagai bagian dari Kawasan Kota Lama Semarang. Penelitian ini menggunakan penggalian sejarah dari beberapa arsip kolonial berupa buku, peta dan foto untuk menguak keberadaan Menara Sleko sebagai bagian dari Kota Lama Semarang di masa lalu. Hasil penelitian menunjukan bahwa Menara Sleko merupakan satu kesatuan rancang kota dengan kota benteng yang kini dikenal dengan nama Kota Lama Semarang. Lokasinya menjadi lansekap kota tepi sungai sebagai tempat kapal berlabuh menuju kota lama dan pusat kota Semarang. Dengan menggunakan pendekatan sejarah sebagai alat analisa maka terkuak gambaran kota lama dengan bangunan menara sebagai landmark kota di masa lalu yang terintegrasi dengan lansekap sungai yang bisa digunakan sebagai guideline konservasi kawasan Kota Lama Semarang secara utuh.
IDENTIFIKASI KAPASITAS PENANGGULANGAN PADA KAWASAN INFORMAL PESISIR KOTA BANDAR LAMPUNG DALAM MENGHADAPI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM
Warid Zul Ilmi;
Adnin Musadri Asbi;
Tamaluddin Syam
Jurnal Pengembangan Kota Vol 8, No 2: Desember 2020
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (686.364 KB)
|
DOI: 10.14710/jpk.8.2.177-187
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik ketahanan dan kerentanan pada kawasan informal di Kelurahan Kota Karang dan Kelurahan Kangkung dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Perubahan iklim menjadi ancaman yang berisiko tinggi di masa depan, kejadian seperti banjir bandang, rob dan krisis air bersih akan terus memburuk pada area pesisir, dan masyarakat informal sebagai kelompok rentan akan sangat terdampak dengan hal tersebut. Metode pada pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode indeepht interview, literature review dan observasi. Metode analisis data yang digunakan berupa analisis deskriptif kualitatif. Menurut hasil analisis bahwa kawasan tersebut telah berupaya dalam menghadapi berbagai guncangan dan tekanan, serta memiliki karkateristik ketahanan sebagai kapasitas penanggulangan dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Namun itu semua belum mampu untuk mengatasi seluruh permasalahan yang ada.
IDENTITAS KEBERADAAN KAMPUNG LAMA BERDASARKAN TRADISI DAN KEBIASAAN DI KAMPUNG PURWODINATAN, SEMARANG
Rizani Violita;
Nany Yuliastuti
Jurnal Pengembangan Kota Vol 8, No 1: Juli 2020
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (693.41 KB)
|
DOI: 10.14710/jpk.8.1.1-11
Eksistensi kampung merupakan bentuk dari identitas kota. Pembangunan kota yang terus meningkat menyebabkan banyaknya kampung kota menghilang. Kampung Purwodinatan salah satu kampung lama yang berada di kawasan strategis yang dekat Kawasan Kota Lama, Pecinan dan Pasar Johar yang menjadikan kampung ini memiliki potensi beralihnya fungsi tempat tinggal menjadi lahan komersil. Selain itu, Kampung Purwodinatan juga rawan bencana banjir. Kampung ini terancam keberadaannya dan diperlukan kajian terhadap faktor yang mempengaruhi eksistensi agar tetap bertahan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif. Pendekatan kuantitatif ini digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang paling mempengaruhi eksistensi kampung kota. Dalam penelitian ini didapatkan bahwa faktor-faktor tersebut adalah tradisi dan kebiasaan, interaksi sosial, kualitas lingkungan permukiman, peran pemerintah dan ekonomi. Faktor yang mendapatkan skor tertinggi dan paling mempengaruhi eksistensi Kampung Purwodinatan adalah tradisi dan kebiasaan masyarakat, sedangkan faktor yang mendapatkan skor paling rendah adalah ekonomi masyarakat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap ilmu perencanaan wilayah dan kota khususnya mengenai eksistensi dan kebertahanan kampung kota.
KEMUNGKINAN PENERAPAN BERBAGI RUANG BERDASARKAN PERSEPSI PENGGUNA JALAN
Aisya Rahmania Putri;
Fanny Safitri;
M Nouval Irfandhia Wahid;
Imma Widyawati Agustin
Jurnal Pengembangan Kota Vol 8, No 2: Desember 2020
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1484.362 KB)
|
DOI: 10.14710/jpk.8.2.116-131
Jalan Sigura-gura sebagai salah satu ruas jalan strategis di Kota Malang yang menjadi penghubung menuju kawasan pendidikan, perdagangan dan jasa serta permukiman sehingga menjadi salah satu kawasan padat pergerakan. Penggunaan ruang jalan didominasi oleh pengguna kendaraan bermotor yang mengakibatkan ketidakamanan dan ketidaknyamanan bagi pengguna jalan lain seperti pejalan kaki dan pesepeda. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemungkinan penerapan berbagi ruang berdasarkan persepsi pengguna jalan. Berbagi ruang disini merupakan rekayasa lalu lintas dengan menghapuskan pembatas dan penanda fisik perbedaan jalur suatu ruang jalan. Penelitian ini menggunakan 6 tahapan yaitu: eksisting, tidy up, declutter, relocate, rethink, dan final. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pelayanan jalannya adalah C dan tingkat pelayanan simpangnya adalah E. Hal ini berarti bahwa arus kendaraan tidak stabil, kecepatan yang terkadang terhenti dan permintaan (volume) kendaraan yang sudah mendekati kapasitas. Tingkat pelayanan jalur pejalan kakinya adalah D, berarti hampir tidak tersedia ruang untuk bergerak. 80% pejalan kaki memberikan respon positif terhadap desain berbagi ruang.
WARGA BERDAYA SEBAGAI SUBPOLITIK DAN KAMPANYE JOGJA ASAT: PENOLAKAN PEMBANGUNAN HOTEL DAN APARTEMEN DI YOGYAKARTA
Saqib Fardan Ahmada;
S Susetiawan
Jurnal Pengembangan Kota Vol 9, No 1: Juli 2021
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (816.542 KB)
|
DOI: 10.14710/jpk.9.1.85-98
Artikel ini berangkat dari kampanye Jogja Asat yang digunakan oleh warga berdaya dalam melakukan penolakan hotel dan apartemen di Yogyakarta. Konsep subpolitik milik Ulrich Beck kemudian menjadi pilihan untuk menganalisis kasus tersebut. Dengan uraian di atas, penelitian ini mengajukan pertanyaan utama yaitu bagaimana proses warga berdaya sebagai fenomena subpolitik menolak atas pembangunan hotel dan apartemen di Yogyakarta melalui kampanye Jogja Asat. Proses penelitian dilakukan dengan metode kualitatif melalui pendekatan studi kasus dengan analisis deskriptif. Penelitian ini kemudian menunjukan bahwa warga berdaya merupakan bagian dari realitas subpolitik sebagaimana dijelaskan Ulrich Beck. Subpolitik di sini berangkat dari temuan bahwa warga berdaya bukan merupakan organisasi formal, melainkan sebuah koalisi warga yang juga terhubung dengan organisasi masyarakat sipil lain seperti Wahana Lingkingan Hidup (WALHI), Indonesia Visual Art Archive (IVAA), hingga Watchdoc. Melalui kampanye Jogja Asat, warga berdaya berusaha melakukan kontra narasi dari kemajuan pariwisata yang ada di Yogyakarta. Pada prosesnya, warga berdaya sebagai subpolitik aktivitasnya tidak hanya sekedar berkampanye tentang Jogja Asat saja. Warga berdaya juga turut memberdayakan masyarakat menuju kesadaran kritis terhadap lingkungan dan membangun jejaring dengan berbagai pihak yang mengalami keresahan akibat perkembangan hotel dan apartemen dalam industri pariwisata di Yogyakarta.
PARTICIPATION OF MALIOBORO’S PARKING ATTENDANTS RELOCATION IN RIGHT TO THE CITY PERSPECTIVE
Pinurba Parama Pratiyudha
Jurnal Pengembangan Kota Vol 8, No 1: Juli 2020
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (407.428 KB)
|
DOI: 10.14710/jpk.8.1.33-47
Right to the city become one of essential point in New Urban Agenda discussion, as the adoption of Sustainable Development Goals which includes point 11 on Sustainable Cities and Human Settlements. Right to the city is a concept which encloses political power, land ownership, and social justice within globalized cities which run into rapid change. Lefebvre describes the right to the city as people cry and demand a transformed and renewed urban life. Participation is seen as a basic right in the concept of the right to the city. This article drawing on a study case of relocation of Malioboro’s parking attendants. The relocation itself was one of the policies to revitalize tourism area along Malioboro street. In the process, there are some resistances from Malioboro’s parking attendants emerge as their concern on their sustainability after the relocation into the new place. Based on the field research, this article concludes that the process of participation that occurs does not meet up with parking attendants aspiration and the process is ruined by the government. Public participation is ineffective at the process and ruined as the government intervention in Malioboro parking attendants organization. The ineffectiveness of public participation is due to the logic of technocratic participation and the government's informal approach to some parking attendants.
THE CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) MODEL OF PT INDANA IN JODIPAN TOURISM VILLAGE ‘’KAMPUNG WARNA WARNI’’
Tiara Estu Amanda;
Tomi Agfianto
Jurnal Pengembangan Kota Vol 9, No 1: Juli 2021
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1685.031 KB)
|
DOI: 10.14710/jpk.9.1.26-35
The implementation of Corporate Social Responsibility (CSR) in Indonesia has not been fully implemented properly. It can see from the company's concern for the community and the environment affected by their business activities which are still considered exceptionally low. Meanwhile, the activities carried out are still philanthropic activities and do not pay attention to and fulfill the existing sustainability values. Therefore, it is essential to discuss the need for successful implementation models (best practices) in a company. One company that has succeeded in implementing CSR is PT INDANA in Kampung Warna-Warni (KWW) Jodipan Malang. GuysPro assisted this company in carrying out CSR in painting in a slum village, namely Jodipan. The impact of CSR implementation makes the village become a tourist attraction that tourist most visited when going to Malang City. This study discusses the CSR implementation model carried out by PT Indana and GuysPro in implementing this activity in Kampung Warna Warni (KWW) Jodipan, Malang. A descriptive-qualitative analysis is applied in interpreting the existing data. Meanwhile, data were obtained from field observations, in-depth interviews, and literature studies to support the research. The results obtained show that there are four stages in CSR activities carried out by PT INDANA. The four stages include the planning and implementation stages, the evaluation stage, and the reporting stage. The impact felt by the community from the CSR activities carried out is the emergence of the development of tourist attractions as a form of unexpected consequences, and the positive influence of the stakeholders involved can be felt. These stakeholders include PT INDANA, the GuysPro Group, the community, and the government as the regulator.
APPLICATION OF IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS (IPA) METHOD FOR GENDER BASED PUBLIC TRANSPORTATION PLANNING IN CORRIDOR I BUS RAPID TRANSIT SEMARANG CITY
Landung Esariti;
Kharunia Putri;
Hadi Wahyono
Jurnal Pengembangan Kota Vol 8, No 1: Juli 2020
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (927.608 KB)
|
DOI: 10.14710/jpk.8.1.58-66
Gender-based public transport planning ensures accommodation of user group preferences to minimize inequality and discrimination among passenger needs. In the practice of accessing BRT Corridor I in Semarang City, it was identified that there were 3 aspects that determined the gap, namely: security, comfort, and accessibility. Importance Performance Analysis is used to describe the level of access gap by comparing service performance provided with passenger expectations. Of 70 respondents answered, 53 women and 17 men, two findings can be concluded. First, it was found that the value of disparity in male and female user groups was equally negative (-) which meant that services received by users were less than expected, with greater levels of access gaps for female user groups compared to male user groups with the value of the gap in women is -0.67 and in men -0.52. This shows that the problem of inequality in the female user group is more urgent to be addressed to meet adequate transportation needs and minimize the access gap that occurs in the female user group. Second, the main priority needs for handling access gaps in the female user group include accessibility aspects and comfort aspects, while in the male user group only the accessibility aspect is concerned. The role and purpose of the movement conducted are two key factors in priority differentiation.
KAJIAN PERILAKU WISATAWAN DAN PKL DI LAPANGAN MERDEKA BENGKULU PADA FASE NORMAL BARU
Abdul Hamid Hakim
Jurnal Pengembangan Kota Vol 8, No 2: Desember 2020
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1203.072 KB)
|
DOI: 10.14710/jpk.8.2.188-199
Himbauan Pemerintah untuk melakukan aktifitas dengan menerapkan protokol kesehatan wajib dipatuhi oleh masyarakat untuk menghindari penyebaran wabah yang sangat cepat. Bengkulu sebagai salah satu provinsi di Indonesia menerapakan hal serupa, tetapi kenyataan yang terjadi di lapangan banyak masyarakat yang tidak mengindahkan himbau ini dengan tetap melakukan aktifitas seperti biasa, seperti berkumpul ditempat wisata salah satunya yaitu Koridor Lapangan Merdeka Bengkulu yang menjadi lokasi penelitian pada ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa perilaku masyarakat di Koridor Lapangan Merdeka Bengkulu sebagai ruang publik dalam mengahadapi masa normal baru. Metode pendekatan dalam penelitian ini adalah deskriptif evaluatif yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang apa yang terjadi, yang merupakan kondisi nyata mengenai keterlaksanaan rencana yang memerlukan evaluasi. Hasil menunjukan bahwa kawasan koridor Lapangan Merdeka Bengkulu sebagai salah satu magnet wisata di Kota Bengkulu, belum siap menjalankan protokol kesehatan selama masa pandemi dan kurangnya fasilitas yang dapat digunakan untuk pencegahan penyebaran infeksi virus corona khususnya di Kota Bengkulu.
PENGEMBANGAN JALUR PEJALAN KAKI DI KAWASAN TOD DUKUH ATAS JAKARTA
Anita Ratnasari Rakhmatulloh;
Diah Intan Kusumo Dewi
Jurnal Pengembangan Kota Vol 8, No 2: Desember 2020
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1300.509 KB)
|
DOI: 10.14710/jpk.8.2.132-141
Transit Oriented Development (TOD) merupakan salah satu konsep pengembangan transportasi berkelanjutan yang mempertimbangkan integrasi tinggi antar kawasan dan meningkatkan peluang pergerakan masyarakat kota. Dukuh Atas menjadi embrio pembanguan TOD di Indonesia dengan konsep walkable city dengan sistem road diet yang menekanakan kepada aspek lingkungan dan kenyamanan individu. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan variabel pengembangan jalur pejalan kaki yang dapat mempengaruhi frekuensi seseorang untuk berjalan di TOD Dukuh Atas dari aspek lingkungan maupun karakteristik individunya. Pengumpulan data karakteristik individu dilakukan dengan metode pengumpulan data primer menggunakan kusioner yang disebar secara acak ke 300 responden kawasan TOD Dukuh Atas Jakarta. Data karakteristik lingkungan didapatkan dengan pengumpulan data sekunder dan data spasial melalui citra satelit untuk melihat kondisi terkini. Analisis data menggunakan metode analisis deskriptif statistik dan regresi linier uji T parsial didapatkan hasil berupa pendapatan, maksud perjalanan, dan kepadatan permukiman dapat mempengaruhi frekuensi pejalan kaki di kawasan TOD Dukuh Atas Jakarta.