cover
Contact Name
Dr. Evi Mu'afiah
Contact Email
muafiahevi@gmail.com
Phone
(0352) 481277
Journal Mail Official
-
Editorial Address
LPPM IAIN Ponorogo Jl. Pramuka No.156 Ponorogo
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam
ISSN : 19076371     EISSN : 25279254     DOI : -
Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam is a journal based on Islamic research published by Institute for Research and Community Services, State Islamic Institute of Ponorogo. This journal first published in 2007 to facilitate the publication of research, articles, and book review. The Journal issued biannually in June and December.
Articles 411 Documents
Ritual Di Makam Ageng Besari Tegalsari Jetis Ponorogo Djuhan, Muhammad Widda
Kodifikasia Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.188 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v5i1.756

Abstract

Fenomena  ziarah  makam  merupakan  tradisi  turun-temurun  dan sudah  berakar  kuat  di  kalangan  umat  Islam. Meskipun  muncul kritik  yang  mencurigai  praktek  semacam  itu  dapat  menodai tauhid,  tetapi  dalam  faktanya  kegiatan mengunjungi  makammakam tidak pernah pudar sama sekali bahkan cenderung makin ramai  terutama  setelah  terbukti  makin  ?keramat?-nya  makam yang diziarahi itu. Penelitian lapangan yang mengambil lokasi di makam Ki Ageng Besari Tegalsari Jetis di Ponorogo ini menyoroti bentuk-bentuk  keyakinan  dan  ritual  yang  dipraktekkan  para peziarah.Kenyataannya, kepercayaan peziarah memang sangatlah mengkeramatkan makam Ki Ageng Besari di Tegalsari. Meskipun demikian,  kepercayaan  tersebut  tidaklah  tunggal  karena  sangat tergantung  pada  pola  pikir,  pemahaman  keagamaan  dan  tradisi yang melingkupinya. Ada  tiga  tipologi  peziarah  makam  Ki  Ageng Besari yaitu: kepercayaan yang berbasis pada pola tradisional Islam, kepercayaan mistis yang berbasis pada tradisi, dan kepercayaan yang berdasar pada pemikiranrasional. Berbagai ragam kepercayaan ini menunjukkan bahwa kita tidak bisa membuat klaim-klaim sepihak kepada para peziarah makam.
PERSEPSI GURU MADRASAH IBTIDAIYAH TENTANG PENDIDIKAN SEKS BAGI ANAK ( Studi Kasus di MI Se-Kecamatan Mlarak) Wathoni, Kharisul
Kodifikasia Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.738 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v10i1.814

Abstract

Berita terkait pelecehan seksual terhadap anak di berbagai penjuru tanah air dari hari ke hari semakin menunjukkan perkembangan yang menghawatirkan. Dari semua itu yang paling mengejutkan adalah pelecehan seksual ini terjadi di sekolah yaitu sebuah institusi yang dianggap ?paling aman? bagi orang tua ?menitipkan? anak untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran. Namun alih-alih ingin mendapatkan pendidikan dan pengajaran justru anak-anak mereka mendapat perlakuan yang tidak senonoh yang dilakukan oleh orang seharusnya melindungi mereka dan menjadi pengganti orang tua mereka.Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)[1] mengungkapkan kasus kekerasan seksual di Indonesia menunjukan trend peningkatan. Berdasarkan pantauan KPAI, terjadi peningkatan 20 hingga 30 persen. Peningkatan itu signifikan dan membahayakan."Yang pasti, akses anak terhadap internet meningkat serta fasilitas yang mudah diperoleh ke anak masif," ujar Asrorun Niam kepada wartawan seusai jumpa pers 'Darurat pornografi dan kekerasan seksual terhadap anak di kantor KPAI, Jakarta Pusat.[2] Dari sini sini bisa dipahami trouble maker dari semua ini adalah terbukanya pintu pornografi[3] secara bebas.Menurut Aris Merdeka Sirait, Ketua Umum Komnas PA, lingkungan sekolah sebagai tempat merebaknya kekerasan seksual,  tidak lebih disumbang peranan guru di sekolah yang tidak menempatkan fungsinya dalam membangun emosional, karakter dan aklak di sekolah. Saat ini, aspek tersebut sulit ditemukan di lingkungan sekolah. Oleh sebab itu, sistem pendidikan di Indonesia perlu dibenahi mulai dari pola rekrutmen guru, karena sistem tidak hanya berkaitan dengan proses belajar mengajar, tetapi kedepan harus diimbangi dengan EQ. Peranan guru yang tidak maksimal di sekolah membuat dunia pendidikan kurang bisa memainkan peranannya dalam mencetak manusia Indonesia yang berkualitas.Fenomena di atas menggambarkan salah satu dimensi fakta abnormal tentang seks yang terjadi di kalangan anak maupun remaja, walaupun dalam konteks di atas anak lebih menjadi korban. Di sisi lain ada hal yang juga menjadi keprihatinan terkait remaja dan anak Jumlah kasus remaja atau ABG yang hamil di luar nikah belakangan ini semakin memprihatinkan kita. Betapa tidak, setiap tahun angka tersebut terus bertambah sejalan dengan semakin longgarnya nilai-nilai sosial, agama dan etika pergaulan di tengah masyarakat kita. Paling tidak pergaulan bebas yang kini banyak dianut oleh kaum remaja di tanah air, telah berkontribusi terhadap tingginya angka kasus-kasus aborsi di tanah air tercinta ini.Selain itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Maria Ulfa Anshori  pernah melakukan penelitian bersama Pusat Kajian Kesehatan Perempuan Universitas Indonesia (UI) soal aborsi pada 2003. Dari penelitian itu tercatat rata-rata terjadi 2 juta kasus aborsi per tahun. Lalu pada tahun berikutnya, 2004 penelitian yang sama menunjukkan kenaikan
SENGKETA KEPEMILIKAN HAK ATAS TANAH DI KABUPATEN PONOROGO Mahfiana, Layyin
Kodifikasia Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.782 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v7i1.780

Abstract

Fungsi dan manfaat tanah sangat penting bagi kehidupan manusia, hal ini dapat dilihat dari banyaknya sengketa tanah yang sejak dahulu telah menjadi realitas sosial dalam setiap masyarakat meskipun dalam bentuk dan identitasnya yang berbeda. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis sosiologis dengan analisa data menggunakan model interaktif.Hasil penelitian menunjukkan sengketa yang terjadi dimasyarakat bermacam­-macam antara sengketa warisan, hibah dan jual beli tanah; faktor­-faktor yang mengakibatkan terjadinya sengketa tanah secara umum di antaranya nilai ekonomis tinggi; kesadaran masyarakat meningkat; tanah tetap, penduduk ber tambah; kemiskinan. Penyelesai­an sengketa dalam masyarakat secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua macam cara yaitu melalui melalui pengadilan (litigasi) dan di luar pengadilan (non litigasi). Penyelesaian sengketa di luar pengadil­an yang sering dilakukan masyarakat meliputi melibatkan dua atau lebih pihak yang berkepentingan (negoisasi), proses penyelesaian sengketa di mana para pihak yang berselisih memanfaatkan bantuan pihak ketiga yang independen sebagai mediator (penengah) dan melibatkan lebih dari dua pihak yang tugasnya membantu pihak yang berperkara dengan cara mencari jalan keluar secara bersama (fasilitasi).
Analisis Strategi Fundraising Terhadap Peningkatan Pengelolaan Zis Pada Lembaga Amil Zakat Kabupaten Ponorogo Abidah, Atik
Kodifikasia Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.617 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v10i1.804

Abstract

Lahirnya lembaga-lembaga amil zakat, seharusnya mampu menjadi sebuah    harapan bagi para mustahiq, serta dapat terselesaikannya masalah kemiskinan   dan  pengangguran. Namun,  harapan   ini  tidak   akan   tercapai apabila Lembaga Amil Zakat tidak memiliki orientasi dalam pemanfaatan dana  zakat yang tersedia. Lembaga pengelolaan zakat dalam menghimpun dana ZIS dengan mengambil dana  zakat  baik secara  langsung  maupun tidak  langsung dari masyarakat. Cara-cara yang dilakukan saat ini umumnya meliputi pembukaan counter-counter penerimaan zakat, pemasangan iklan pada media massa, korespondensi,   kunjungan dari rumah ke rumah dan kontak dengan komunitas tertentu, dan masih banyak yang lainnya.Demikian hal-nya Lembaga-Lembaga Zakat yang ada di Kabupaten Ponorogo, yang dari tahun ke tahun semakin banyak, yang tentunya ini juga ada harapan besar bahwa, dana zis yang dikumpulkan semakin banyak. Lembaga-lembaga zakat yang ada di Kabupaten Ponorogo, mempunyai cara yang berbeda dalam melakukan pengumpulan zakat atau strategi fundraisingnya.Masalah dalam penelitian ini adalah (a) bagaimanakah   strategi fundraising pada Lembaga-lembaga Amil Zakat di Kabupaten Ponorogo dalam meningkatkan pengelolaan dana Zakat. (b) Bagaimana Dampak  Strategi Fundrising pada peningkatan  pengelolaan     Zakat   pada Lembaga-lembaga Amil Zakat di Kabupaten Ponorogo?.Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), dengan  menggunakan   jenis   penelitian   kualitatif, yaitu   jenis penelitian yang menghasilkan penemuan yang tidak dapat di capai dengan  menggunakan   prosedur   diskriptif   dengan   menggambarkan, fenomena   yang   terkait   pada   penelitian, fakta-fakta   dan   lain-lain.   Metode   kualitatif   adalah   prosedur   penelitian   yang   menghasilkan   data   deskriptif   berupa   kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang dapat di amati.[1] Penelitian ini menggunakan pendekatan komparatif, yaitu membandingkan tiap tahapan pengelolaan zakat pada 5 Lembaga Zakat yang ada di Ponorogo. Pendekatan Komparatif dilakukan dengan cara menggali persamaan dan perbedaan, kelebihan dan kekurangan[2]  hal ini diharapkan mampu menjelaskan secara objektif segala permasalahan dalam penelitian, yaitu bagaimana strategi fundrising dalam peningkatan pengelolaan ZIS pada Lembaga-Lembaga Amil Zakat yang ada di Kabupaten Ponorogo.Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Strategi Fundraising dalam peningkatan pengelolaan ZIS pada LAZ-LAZ di Kabupaten Ponorogo, dapat di simpulkan sebagai berikut: LAZ Nasional mampu mengumpulkan dana yang lebih banyak dibandingkan dengan LAZ Lokal, bahkan ada LAZ Lokal yang mengalami penurunan dalam pengumpulannya. Dari data yang telah tersaji, bahwa semua itu dipengaruhi oleh beberapa hal :Brand Image lembaga yang bagus, yang memang secara tidak langsung mempengaruhi, sedikit banyaknya dana/daya yang dikumpulkan.Amil Profesional, masih banyak lembaga zakat (lokal) yang hanya mengandalkan pengumpulan dana zakat dengan sistem kepengurusan yang ada, padahal yang masuk dalam jajaran pengurus adalah mereka yang sangat sibuk dan punya pekerjaan di luar, sehingga dalam penggalangan dananya, tidak bisa bersifat fulltime, bahkan ada yang pendapatan dana zakatnya menurun karena amilnya  tidak mau bekerja lagi karena upah yang diterima dianggap tidak cukup. Sedangkan laz yang sifatnya Nasional, mereka mempunyai tim khusus dalam penggalian dana, yang para amil ini direkrut dengan khusus, baik dari sisi managemen maupun sisi attitude nya, yang berbasis pesantren, sehingga tidak mengurangi kinerja para amil, bisa fulltime bekerja, meski hak upah mereka sesuai dengan aturan syara, yaitu tidak lebih dari 1/8 bagian.Sistem managemen yang bagus, baik dalam hal strategi fundraising, keuangan maupun kinerja, ternyata sangat berpengaruh dalam sebuah organisasi. Banyak lembaga zakat yang hanya bekerja sambilan, tanpa managemen, baik dalam konteks pengumpulan maupun pendistribusian, maka hasilnya juga tidak maksimal. Sedangkan lembaga zakat yang bekerja dengan managemen yang bagus, maka hasilnya pun bagus dan memuaskan bahkan tetap bisa eksis di tengah persaingan yang luar biasa dengan semakin banyaknya lembaga zakat, khususnya di wilayah Ponorogo.
UPAYA REFORMASI MATA KULIAH USHUL FIQH PADA PRODI MUAMALAH DALAM MENGHADAPI PERKEMBANGAN EKONOMI SYARI’AH Fu?adi, Rial
Kodifikasia Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.403 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v6i1.765

Abstract

Tulisan ini berusaha mengaplikasikan teori-teori ushul fiqh dalam bidang ekonomi Islam. Hal ini dilakukan karena melihat penting nya Ilmu Ushul Fiqh dalam memahami hukum-hukum syara? dan men jawab persoalan kontemporer di satu sisi, dan adanya persoalan baru yang terus menerus muncul, khususnya yang berkaitan dengan masalah ekonomi Islam di sisi lain. Teori-teori ushul fiqih yang urgen dalam mengembangkan hukum dan menjawab persoalan-persoalan kontemporer adalah teori-teori istinbath hukum, di antaranya adalah qiyas, istihsan, maslahah mursalah, sadduz zari?ah,  istishhab,  dan  uruf.  Kajian  tentang  hukum  syara?  dan  metode istinbath hukum, tidak hanya dapat diaplikasikan dalam masalah ibadah se bagaimana  umum nya  dalam  pembahasan-pembahasan  ushul  fiqih, namun dua kajian itu juga dapat diaplikasikan dalam masalah-masalah ekonomi Islam. Dengan demikian, sangat tepat, jika dalam perkuliahan ushul fiqih untuk program studi Mu?amalat dan Ekonomi Islam, teori-teori tersebut di aplikasikan dalam kasus-kasus ekonomi Islam agar mahasiswa lebih mudah memahaminya, dan memiliki dasar hukum yang kuat dalam memahami konsep-konsep ekonomi.
PENGELOLAAN ZAKAT OLEH NEGARA DAN SWASTA Studi Efektifitas dan Efisiensi Pengelolaan Zakat Oleh BAZ Dan LAZ Kota Madiun Abidah, Atik
Kodifikasia Vol 4, No 1 (2010)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.302 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v4i1.745

Abstract

Abstraks: Keberadaan lembaga zakat di Indonesia yang diakui oleh perundang-undangan ada dua, yaitu Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). BAZ adalah lembaga zakat yang dikelola oleh pemerintah, sedangkan LAZ adalah lembaga yang dikelola oleh masyarakat. Artikel ini merupakan merupakan hasil penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data digali langsung dari BAZ Kota Madiun dan LAZ dalam hal ini ada 2 lembaga, yaitu Lembaga Manajemen Infaq (LMI) dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Hasil penelitian BAZ lebih efektif dibanding LAZ, karena BAZ di bawah naungan Pemerintah Kota Madiun dan didukung dengan kebijakan dalam menjalankan progam kerjanya. Sedangkan pada LAZ (LMI dan BMH) karena sifatnya mandiri, maka segala sesuatunya akan efektif jika mereka bekerja keras, dan itulah yang selama ini dilakukan oleh LMI dan BMH, sehingga sampai saat ini mereka masih eksis.
MODEL MANAJEMEN MUTU PEMBELAJARAN ENTREPRENUERSHIP BERBASIS SISTEM NILAI Studi Analisis Kualitatif di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur Thoyib, Muhammad
Kodifikasia Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/kodifikasia.v8i1.791

Abstract

Realitas eksistensi pesantren itu semakin nyata pentingnya manakala melihat perkembangan pesantren di Indonesia saat ini, khususnya pesantren di wilayah Jawa Timur sebagai representasi ‘induk semang’ lahirnya pondok pesantren di nusantara yang semakin pesat. Namun di tengah arus globalisasi yang begitu pesat ini, justru kondisi sebagian besar pesantren di Indonesia mengalami degradasi kualitas pembelajaran yang luar biasa, bahkan banyak yang ‘gulung tikar’. Dalam konteks itulah, upaya mengembangkan model manajemen mutu pembelajaran entrepreneurship berbasis sistem nilai di sejumlah pesantren di Indonesia, menjadi sangat urgen sebagai upaya memunculkan prototipe ‘pesantren nusantara masa depan’ yang lebih kokoh akan tradisi keilmuan, dan kewirausahaan (entrepreneurship) sekaligus yang ditopang oleh nilai-nilai keilmuan, profesionalitas dan kepesantrenan yang integratif, sehingga ke depan mampu menjadi pondok pesantren yang lebih kompetitif dalam percaturan dunia pendidikan global. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa: (1). Sistem nilai yang dikembangkan oleh Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan dalam mendukung manajemen entreprenuershipnya mencakup 3 komponen yaitu: profesionalitas, keilmuan dan kepesantrenan; (2). Tingkat mutu pembelajaran entrepreneurshipnya dapat dikatakan sangat baik, karena didukung oleh nilai pembelajaran yang rata-rata tinggi dan stabil di antara para santri entreprenuernya, termasuk omzet 1.25 trilyun yang telah dihasilkannya; dan (3) Aplikasi model manajemen mutu pembelajaran entreprenuershipnya telah sesuai dengan prinsip manajemen mutu yang berbijak khususnya pada 3 aspek utama yaitu perencanaan mutu, pelaksanaan mutu dan evaluasi mutu pembelajaran entreprenuershipnya.
RESILIENSI KELUARGA PADA PASANGAN USIA PARUH BAYA Rohmah, Umi
Kodifikasia Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/kodifikasia.v9i1.797

Abstract

Usia paruh baya merupakan usia penuh tantangan sekaligus usia pencapaian puncak prestasi. Beberapa masalah yang dihadapi pasangan usia paruh baya seperti, pertengkaran suami istri, kenakalan anak, dan perdebatan siapa yang harus berperan di luar rumah seringkali mengakibatkan perceraian bagi pasangan yang tidak memiliki resiliensi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui peran pasangan usia paruh baya dalam meningkatkan resiliensi keluarga, dan (2) mengetahui faktor-faktor protektif yang mempengaruhi resiliensi keluarga pada pasangan usia paruh baya. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif dengan jenis penelitian Studi Kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara. Analisis datanya menggunakan langkah-langkah: (1) pengumpulan data (2) reduksi data, (3) penyajian data, dan (4) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah: (1) peran pasangan usia paruh baya dalam meningkatkan resiliensi keluarga adalah: a) bertanggungjawab atas ketenangan, keselamatan, dan kesejahteraan keluarga; b) mendidik anak dengan penuh rasa kasih sayang dan tanggung jawab; c) memberi kebebasan berpikir dan bertindak kepada istri sesuai dengan ajaran agama; dan d) penghubung intern keluarga dengan masyarakat atau dunia luar; (2) faktor-faktor protektif yang turut mempengaruhi peningkatan resiliensi keluarga adalah sebagai berikut: a). faktor internal, meliputi: pengamalan nilai-nilai agama, adanya komitmen, saling percaya, dan adanya komunikasi; dan b) faktor eksternal, meliputi: orang tua, santri, kepercayaan dari masyarakat, asisten rumah tangga, teman, dan kyai.
Formulasi Perjanjian Perkawinan Pasca Putusan MK No. 69/PUU-XIII/2015 Ngadimah, Mambaul
Kodifikasia Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/kodifikasia.v11i1.1139

Abstract

Perjanjian Perkawinan merupakansuatu persetujuan yang dibuat oleh calon suami istri sebelum atau pada saat perkawinan dilangsungkan untuk mengatur akibat-akibat perkawinan terhadap harta kekayaan. Namun, makna perjanjian perkawinan semakin longgar dengan adanya putusan MK No. 69/PUU-XIII/2015 pada tanggal 27 Oktober 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang Formulasi Perjanjian Perkawinan Pasca Putusan MK No. 69/PUU-XIII/2015 ditinjau dari Hukum Islam dan Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia.Penelitian ini menggunakan jenis penelitian pustaka dengan sifat penelitian deskriptif analitik dan pendekatan yuridis normatif. Pengumpulan data primer dilakukan dengan teknik dokumentasi dan teknik analisis data dari induktif ke deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1)Konsep perjanjian perkawinan dalam Hukum Islam merupakan perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalidzan), sedangkan dalam UU di Indonesia, perjanjian perkawinan dapat berupa taklik talak dan perjanjian yang lainnya., (2)Eksistensi perjanjian perkawinan pasca putusan MK No. 69/PUU-XIII/2015 merupakan langkah progresif, yaitu dalam rangka menjaga hak-hak asasi manusia dan hak-hak konstitusional warga negara.(3) Adanya formulasi hukum dalam perjanjian perkawinan pasca putusan MK sejalan dengan teori mashlahah mursalah karena merupakan upaya hukum untuk mengikuti perkembangan zaman, dengan syarat dasar pembentukannya memenuhi tiga hal yaitu kemashlahatan bersifat umum, hakiki dan tidak bertentangan dengan nash syar’i ataupun perundang-undangan yang berlaku.
Dampak Ketidakhadiran Ibu Sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) Terhadap Perkembangan Psikologis Remaja Amalia, Lia
Kodifikasia Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.219 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v5i1.752

Abstract

Abstrak: Bagi remaja yang memiliki ibu TKW, dinamika psikologis yang terjadi dalam  proses  perkembangan  ini  menjadi  hal  yang  menarik  karena ketidakhadiran  ibu  sebagai  salah  satu  tokoh  sentral  yang  biasanya memiliki peran besar dalam perkembangan sang anak. Hasil dari riset ini adalah: pertama,keempat subjek merasakan kesedihan saat ditinggalkan oleh sang ibu pada awalnya (saat masih anak-anak), namun berangsurangsur tiga subjek (H, P, dan D) bisa beradaptasi, hingga saat remaja dapat menerima keadaan tersebut. Hanya ada satu subjek (A) yang sampai saat ini masih terus merasa sedih dengan kepergian ibunya, hal ini ada kaitannya dengan ketidaktersedian figur attachment pengganti sang ibu dari keluarga. Kedua, tiga subjek (A, H, dan P)memiliki persepsi positif mengenai pekerjaan sang ibu sebagai TKW (pekerjaan mulia, halal,  sumber  keuangan,  pahlawan  keluarga,  dan  pahlawan  devisa) sedangkan satu subjek (D) menilai sebenarnya pekerjaan ibunya sebagai TKW kurang layak tetapi ini adalah pekerjaan yang halal. Ketiga, tiga subjek (H, P, dan D) menemukan figur attachment pengganti setelah kepergian sang ibu dari keluarga. Sedangkan subjek A tidak menemukan figur attachment pengganti ibu dari pihak keluarga sehingga ia mencari figur attachment dari luar keluarga (sahabat A beserta keluarganya). (d)  Self  esteem dipengaruhi  kuat  oleh  keharmonisan  keluarga.  Dari 4 subjek, hanya satu (P) yang merasa bahwa keluarganya harmonis meskipun ibu bekerja sebagai TKW. 3 subjek lainnya (A, H, dan D) menilai bahwa keluarga mereka tidak harmonis. Kondisi keluarga yang tidak harmonis tidak mendukung terbangunnya self-esteem yang positif sehingga bisa disimpulkan bahwa self-esteem dari aspek keluarga pada subjek A, H, dan D adalah negatif.

Page 9 of 42 | Total Record : 411